Selera dan Tujuan Hidup yang Dangkal, Kerdil, Hina, serta Tercela Kaum Umat Agama Samawi
Question : Ini dan itu, disebut haram. Ini dan itu, disebut dilarang. Ini dan itu, disebut najis. Ini dan itu, disebut berhala. Ini dan itu, disebut dibenci Allah. Tapi, mengapa umat agama samawi justru mabuk dan kecanduan dogma korup semacam “pengampunan ataupun penebusan dosa” yang notabene hanya dibutuhkan oleh kalangan koruptor-dosa, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi? Selera dan tujuan mereka pun sangatlah dangkal, yakni disamping menikmati dogma korup, juga berfantasi bahwa kenikmatan-surgawi tidak ubahnya kenikmatan-duniawi berupa bersetubuhan atau bersengggama dengan puluhan bidadari. Bukankah lucu serta ironi, babi disebut “haram”; namun dogma korup semacam pengampunan ataupun penghapusan maupun penebusan dosa, disebut “halal lifestyle”?
Brief
Answer : Jelas dan nyata, bahwa
selera serta tujuan umat agama samawi begitu dangkal, rendah, tercela, serta
memprihatinkan, dimana mereka semata mengejar “kenikmatan indria”, dimana
bahkan “kenikmatan surgawi” pun digambarkan tidak ubahnya “kenikmatan duniawi”
berupa bersenggama atau bersetubuh. Kontras dengan dogma-dogma dangkal dan
korup dibalik agama samawi, Sang Buddha menunjukkan jalan menuju kebahagiaan
pelepasan keduniawian, kebahagiaan keterasingan, kebahagiaan kedamaian,
kebahagiaan pencerahan—jenis kenikmatan ini harus dikejar, patut dikembangkan, layak
dilatih, dan bahwa jenis kenikmatan ini seharusnya tidak ditakuti, karena menghasilkan
kebahagiaan dari meninggalkan kenikmatan indria, karena menghasilkan
kebahagiaan yang muncul dari keterasingan dari keramaian dan dari kekotoran, karena
kebahagiaannya adalah bertujuan untuk menenangkan kekotoran, dan karena
kebahagiaannya adalah bertujuan untuk mencapai pencerahan.
Terbelenggu,
bukan tidak terbelenggu, itulah vonis hidup dan matinya umat agama samawi,
yakni terbelenggu sebagai “PENDOSA PENGECUT PENJILAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”.
Terbelenggu bukan hanya terhadap utas-utas kenikmatan indria, namun juga
terbelenggu oleh sikap KORUP dan PENGECUT, dimana dosa-dosa pun dikorupsi tanpa
bersedia untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
Sebaliknya, Sang Buddha memberitahukan kepada para siswa-Nya untuk meninggalkan
sifat-sifat curang dan korup demikian, Sang Buddha memberitahukan kepada kita untuk
melepaskannya—dengan demikian, betapa banyaknya kondisi tidak bermanfaat yang
telah disingkirkan oleh Sang Buddha dari kami para siswa Beliau.
PEMBAHASAN:
Pendosa
namun hendak menggurui dan berceramah perihal hidup mulia, luhur, suci, agung,
serta bersih dan lurus, itu ibarat orang buta yang hendak menuntun para butawan
lainnya. Itulah nasib kalangan umat agama samawi, neraka pun dipandang sebagai
surga, dan berbondong-bondong mereka terperosok ke dalam jurang gelap tersebut.
Mereka berdelusi sebagai kaum paling superior yang berhak menghakimi kaum
lainnya, sekalipun mereka sendiri gagal untuk mengendalikan diri mereka
sendiri. Terhadap dosa dan maksiat, mereka demikian kompromistik. Akan tetapi terhadap
kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran—sekalipun ketika umat
agama samawi masih berupa minoritas di Nusantara pada abad ke-15, mereka
menikmati toleransi yang diberikan oleh nenek-moyang Bangsa Nusantara yang mayoritasnya
beragama Buddha. Ironisnya, ketika kini umat agama samawi menjelma mayoritas, mereka
hendak memberangus toleransi yang semula dahulu mereka nikmati.
Selera
dan tujuan hidup kaum umat agama samawi, sangatlah dangkal, kerdil, serta rendahan.
Kontras dengan itu, adapun pencapaian serta tujuan hidup siswa Sang Buddha, melampaui
semua hal yang dikenal oleh umat agama samawi, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~SUTTA
66~
Laṭukikopama Sutta : Perumpamaan
Burung Puyuh
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di negeri orang-orang Anguttarāpa di mana terdapat
sebuah pemukiman bernama Āpaṇa.
2. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Āpaṇa untuk menerima dana makanan. Ketika Beliau telah menerima dana makanan
di Āpaṇa dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau pergi ke
suatu hutan untuk melewatkan hari. Setelah memasuki hutan, Beliau duduk di bawah
sebatang pohon untuk melewatkan hari.
3. Pada pagi hari itu, Yang Mulia Udāyin merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia juga pergi ke Āpaṇa untuk menerima dana makanan. Ketika ia telah menerima dana makanan di
Āpaṇa dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan ia pergi ke hutan
yang sama untuk melewatkan hari. Setelah memasuki hutan, ia duduk di bawah
sebatang pohon untuk melewatkan hari.
4. Kemudian, sewaktu Yang Mulia Udāyin sedang sendirian dalam meditasi,
buah pikiran berikut ini muncul dalam pikirannya: “Betapa banyaknya
kondisi menyakitkan yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā dari kami! Betapa
banyaknya kondisi menyenangkan yang telah dibawa oleh Sang Bhagavā untuk kami!
Betapa banyaknya kondisi tidak bermanfaat yang telah disingkirkan oleh Sang
Bhagavā dari kami! Betapa banyaknya kondisi bermanfaat yang telah dibawa oleh
Sang Bhagavā untuk kami!”
5. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Udāyin bangkit dari
meditasinya, pergi menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau,
ia duduk di satu sisi [448] dan berkata kepada Beliau:
6. “Di sini, Yang Mulia, sewaktu aku sedang sendirian dalam meditasi,
buah pikiran berikut ini muncul dalam pikiranku: ‘Betapa banyaknya kondisi
menyakitkan yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā dari kami! … Betapa
banyaknya kondisi bermanfaat yang telah dibawa oleh Sang Bhagavā untuk kami!’
Yang Mulia, sebelumnya kami terbiasa makan di malam hari, di pagi hari, dan sepanjang
siang hari di luar waktu selayaknya. Kemudian ada suatu kejadian ketika
Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: ‘Para bhikkhu,
tinggalkanlah makan di siang hari, yang adalah di luar waktu yang selayaknya.’
Yang Mulia, aku kecewa dan sedih, dengan pikiran: ‘Para perumahtangga yang
berkeyakinan memberikan berbagai jenis makanan kepada kami selama siang hari di
luar waktu selayaknya, namun Sang Bhagavā memberitahukan kepada kami untuk meninggalkannya,
Yang Sempurna memberitahukan kepada kami untuk melepaskannya.’ Demi
cinta kasih dan penghormatan kepada Sang Bhagavā, dan karena malu dan takut
akan pelanggaran, kami meninggalkan makan di siang hari, yang di luar waktu
selayaknya.
[Kitab Komentar : Dari paragraf di atas dan paragraf
berikutnya, sepertinya Sang Buddha membatasi waktu makan yang diperbolehkan
bagi para bhikkhu dalam dua tahap berturut-turut, pertama melarang hanya makan
sore dan memperbolehkan makan malam. Akan tetapi, dalam kisah latar belakang
dalam Vinaya dari Pāc 37 (Vinaya Pitaka iv.85) tidak disebutkan larangan
berturut-turut ini. Sebaliknya, teks sepertinya menganggapnya sebagai suatu
pengetahuan umum bahwa para bhikkhu tidak boleh mengonsumsi makanan setelah
lewat tengah hari, dan ini menunjukkan bahwa Sang Buddha menetapkan peraturan
yang melarang makan tidak pada waktunya dengan satu kelompok pernyataan yang
berlaku untuk semua makanan setelah lewat tengah hari.]
“Kemudian kami hanya makan di malam hari dan di pagi hari. Kemudian ada
suatu kejadian ketika Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:
‘Para bhikkhu, tinggalkanlah makan di malam hari, yang adalah di luar waktu yang
selayaknya.’ Yang Mulia, aku kecewa dan sedih, dengan pikiran: ‘Sang Bhagavā
memberitahukan kami untuk meninggalkan makan dua kali kami yang lebih mewah,
Yang Sempurna memberitahukan kami agar meninggalkannya.’ Suatu ketika, Yang
Mulia, seseorang telah memperoleh sop di siang hari dan ia berkata:
‘Sisihkanlah itu dan kita akan memakannya bersama pada malam hari.’ [Hampir]
semua makanan dipersiapkan pada malam hari, sedikit pada siang hari. Demi cinta
kasih dan penghormatan kepada Sang Bhagavā, dan karena malu dan takut akan
pelanggaran, kami meninggalkan makan di malam hari, yang di luar waktu
selayaknya.
“Pernah terjadi, Yang Mulia, para bhikkhu itu mengembara untuk menerima
dana di malam hari yang gelap gulita telah terperosok ke lubang kakus, jatuh ke
saluran air kotor, menabrak semak berduri, dan menabrak sapi yang sedang
tertidur; mereka telah bertemu dengan para penjahat yang telah melakukan kejahatan
dan yang sedang merencanakan kejahatan, dan mereka digoda secara seksual oleh
perempuan-perempuan. Suatu ketika, Yang Mulia, aku sedang berjalan untuk
menerima dana makanan di malam yang gelap gulita. Seorang perempuan yang sedang
mencuci panci melihatku melalui cahaya kilat halilintar dan ia berteriak
ketakutan: ‘Kasihanilah aku, setan telah datang padaku!’ Aku memberitahunya:
‘Saudari, aku bukan setan, aku adalah seorang bhikkhu [449] yang sedang mengumpulkan
dana makanan.’ – ‘Maka, engkau adalah seorang bhikkhu yang ibu dan ayahnya
telah mati! Lebih baik, bhikkhu, engkau membelah perutmu dengan pisau daging
yang tajam daripada berkeliaran mencari dana makanan demi perutmu di malam yang
gelap gulita ini!’ Yang
Mulia, ketika aku teringat hal itu aku berpikir: ‘Betapa banyaknya kondisi
menyakitkan yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā dari kami! Betapa banyaknya
kondisi menyenangkan yang telah dibawa oleh Sang Bhagavā untuk kami! Betapa
banyaknya kondisi tidak bermanfaat yang telah disingkirkan oleh Sang Bhagavā
dari kami! Betapa banyaknya kondisi bermanfaat yang telah dibawa oleh Sang Bhagavā
untuk kami!’”
[Kitab Komentar : Ucapan “Maka, engkau adalah
seorang bhikkhu yang ibu dan ayahnya telah mati!” ini adalah dalam bentuk
yang sepertinya percakapan Pāli. Kitab Komentar menjelaskan: jika ibu dan ayah
seseorang masih hidup, mereka akan memberikan berbagai makanan kepada putera
mereka dan memberikan tempat untuk tidur, dan dengan demikian ia tidak perlu
berkeliling mencari makanan di malam hari.]
7. “Demikian pula, Udāyin, terdapat
orang-orang sesat di sini yang, ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini,’
mengatakan: ‘Apalah hal kecil dan remeh seperti ini? Petapa ini terlalu
cerewet!’ Dan mereka tidak meninggalkan hal itu dan mereka menunjukkan sikap
tidak sopan terhadapKu serta terhadap para bhikkhu lain yang menyukai latihan.
Bagi mereka hal itu menjadi tali pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan
menjadi gandar yang tebal.
8. “Misalkan, Udāyin, seekor burung puyuh terjebak oleh tanaman rambat
kering dan karenanya dapat mengakibatkan luka, tertangkap, atau kematian.
Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tanaman rambat kering yang menjebak
burung puyuh itu yang dapat mengakibatkan luka, tertangkap, atau kematian, baginya adalah tali
pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.’ Apakah ia berkata dengan
benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Karena bagi burung puyuh itu tanaman rambat kering
yang mengikatnya dan dapat mengakibatkan luka, tertangkap, atau kematian,
baginya adalah tali pengikat yang kuat, kokoh, tidak lapuk dan gandar yang
tebal.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat orang-orang sesat di sini yang, ketika
Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ ... tidak meninggalkan hal itu dan mereka
menunjukkan sikap tidak sopan terhadapKu serta terhadap para bhikkhu lain yang
menyukai latihan. Bagi mereka hal itu menjadi tali pengikat yang kuat, kokoh,
tidak lapuk dan menjadi gandar yang tebal.
9. “Udāyin, terdapat
anggota keluarga tertentu di sini yang, [450] ketika Aku mengatakan:
‘Tinggalkan ini,’ mengatakan: ‘Apalah hal kecil dan remeh seperti ini yang
harus ditinggalkan, Sang Bhagavā memberitahukan kepada kita untuk meninggalkan,
Yang Sempurna memberitahukan kepada kita untuk melepaskan.’ Namun mereka
meninggalkannya dan tidak memperlihatkan sikap tidak sopan terhadapKu atau
terhadap para bhikkhu lain yang menyukai latihan. Setelah meninggalkannya,
mereka hidup dengan nyaman, tenang, hidup dari pemberian orang lain, dengan
pikiran [terasing] seperti rusa liar. Bagi mereka hal tersebut menjadi tali
pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.
10. “Misalkan, Udāyin, seekor gajah besar dengan gading sepanjang tiang
kereta, dewasa dalam posturnya, dari keturunan yang baik, dan terbiasa dalam
pertempuran, terikat dengan tali kulit yang kuat, tetapi hanya dengan sedikit
menggerakkan badannya ia dapat memutuskan dan menghancurkan tali itu dan kemudian
pergi ke manapun yang ia sukai. Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tali kulit yang kuat
itu yang mengikat gajah besar itu ... baginya adalah tali pengikat yang kuat,
kokoh, tidak lapuk dan gandar yang tebal.’ Apakah ia berkata dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Tali kulit yang kuat itu yang mengikat gajah besar
itu, yang hanya dengan sedikit menggerakkan badannya ia dapat memutuskan dan
menghancurkan tali itu dan kemudian pergi ke manapun yang ia sukai, baginya
adalah tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.”
“Demikian
pula, Udāyin, terdapat anggota keluarga tertentu di sini yang, ketika Aku
mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ … meninggalkannya dan tidak memperlihatkan sikap
tidak sopan terhadapKu atau terhadap para bhikkhu lain yang menyukai latihan.
Setelah meninggalkannya, mereka hidup dengan nyaman, tenang, hidup dari
pemberian orang lain, dengan pikiran [terasing] seperti rusa liar. Bagi mereka
hal tersebut menjadi tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.
11. “Misalkan, Udāyin, ada seseorang yang miskin, melarat, tidak punya
uang, dan ia memiliki sebuah pondok bobrok yang terbuka bagi burung-burung
gagak, bukan jenis terbaik, dan satu ranjang kayu, bukan jenis terbaik, [451]
dan beberapa biji-bijian dan benih labu dalam pot, bukan jenis terbaik, dan
seorang istri yang kurus, bukan jenis terbaik. Ia melihat seorang bhikkhu di halaman
vihara sedang duduk di bawah keteduhan sebatang pohon, tangan dan kakinya
tercuci bersih setelah memakan makanan lezat, menekuni pikiran yang lebih
tinggi. Ia mungkin berpikir: ‘Betapa menyenangkannya kondisi petapa itu! Betapa
sehatnya kondisi petapa itu! Seandainya aku dapat mencukur rambut dan
janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah!’ Tetapi karena tidak mampu meninggalkan
sebuah pondok bobrok yang terbuka bagi burung-burung gagak, bukan jenis
terbaik, dan satu ranjang kayu, bukan jenis terbaik, dan beberapa biji-bijian
dan benih labu dalam pot, bukan jenis terbaik, dan istrinya yang kurus, bukan
jenis terbaik, maka ia tidak mampu mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan
jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah. Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tali yang mengikat
orang itu sehingga ia tidak dapat meninggalkan sebuah pondok bobrok … dan
istrinya yang kurus, bukan jenis terbaik, maka ia tidak mampu mencukur rambut
dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah – baginya adalah adalah tali
pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.’ Apakah orang itu berkata
dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Tali yang mengikat orang itu sehingga ia tidak dapat
meninggalkan sebuah pondok bobrok … dan istrinya yang kurus, bukan jenis
terbaik, maka ia tidak mampu mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah
kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah – baginya hal-hal tersebut adalah tali pengikat yang kuat,
kokoh, tidak lapuk dan gandar yang tebal.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat orang-orang sesat di sini yang, ketika
Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ ... tidak meninggalkan hal itu dan mereka
menunjukkan sikap tidak sopan terhadapKu serta terhadap para bhikkhu lain yang
menyukai latihan. Bagi mereka hal itu menjadi tali pengikat yang kuat, kokoh,
tidak lapuk dan menjadi gandar yang tebal.
12. “Misalkan, Udāyin, ada seorang perumah-tangga kaya atau putera
perumah-tangga kaya, [452] dengan banyak harta dan kekayaan, dengan banyak
batangan emas, banyak lumbung, banyak ladang, banyak tanah, banyak istri, dan
banyak budak laki-laki dan perempuan. Ia melihat seorang bhikkhu di halaman vihara
sedang duduk di bawah keteduhan sebatang pohon, tangan dan kakinya tercuci
bersih setelah memakan makanan lezat, menekuni pikiran yang lebih tinggi. Ia
mungkin berpikir: ‘Betapa menyenangkannya kondisi petapa itu! Betapa sehatnya kondisi
petapa itu! Seandainya aku dapat mencukur rambut dan janggutku, mengenakan
jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah!’ Dan karena mampu meninggalkan banyak batangan
emasnya, banyak lumbungnya, banyak ladangnya, banyak tanahnya, banyak istrinya,
dan banyak budaknya laki-laki dan perempuan, maka ia mampu mencukur rambut dan janggutnya,
mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Sekarang misalkan seseorang berkata: ‘Tali yang mengikat
orang itu sehingga ia dapat meninggalkan batangan emasnya … banyak budaknya
laki-laki dan perempuan, dan mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah
kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah – baginya hal-hal tersebut adalah tali pengikat yang
kuat, kokoh, tidak lapuk dan gandar yang tebal.’ Apakah orang itu berkata
dengan benar?”
“Tidak, Yang Mulia. Tali yang mengikat orang itu sehingga ia dapat
meninggalkan batangan emasnya … banyak budaknya laki-laki dan perempuan, dan
mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah – baginya
hal-hal tersebut adalah tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.”
“Demikian pula, Udāyin, terdapat anggota keluarga tertentu di sini yang,
ketika Aku mengatakan: ‘Tinggalkan ini’ … meninggalkannya dan tidak
memperlihatkan sikap tidak sopan terhadapku atau terhadap para bhikkhu lain
yang menyukai latihan. [453] Setelah meninggalkannya, mereka hidup dengan nyaman,
tenang, hidup dari pemberian orang lain, dengan pikiran [terasing] seperti rusa
liar. Bagi mereka hal tersebut menjadi tali pengikat yang lunak, lemah, lapuk
dan tanpa inti.
13. “Udāyin, terdapat empat jenis orang yang ada di dunia ini. Apakah
empat ini?
[Kitab Komentar : Sang Buddha mengangkat ajaran ini
untuk menganalisa orang yang meninggalkan apa yang telah diberitahukan untuk
ditinggalkan (sebagaimana dimaksud pada paragraf nomor ke-9, yakni mereka yang
memandang dan menjadikan keduniawian sebagai “tali pengikat yang lunak, lemah,
lapuk dan tanpa inti”) ke dalam empat jenis individu berbeda.]
14. “Di sini, Udāyin, seseorang
mempraktikkan jalan untuk meninggalkan perolehan, untuk melepaskan perolehan. Ketika ia mempraktikkan jalan itu, ingatan dan
kehendak yang berhubungan dengan perolehan menyerangnya. Ia menerimanya; ia
tidak meninggalkannya, tidak melenyapkannya, tidak menyingkirkannya, dan tidak
memusnahkannya. Orang demikian Kusebut terbelenggu, bukan tidak terbelenggu.
Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui keberagaman tertentu dari indria-indra dalam
diri orang ini.
[Kitab Komentar : Upadhi, “melepaskan
perolehan”. Kitab Komentar mengemas: Untuk meninggalkan empat jenis upadhi
– kelompok-kelompok unsur kehidupan, kekotoran-kekotoran, bentukan-bentukan
kehendak, dan utas-utas kenikmatan indria (khandh’upadhi kiles’upadhi
abhisankhār’upadhi kāmaguṇ’upadhi).]
15. “Di sini, Udāyin, seseorang mempraktikkan jalan untuk meninggalkan
perolehan, untuk melepaskan perolehan. Ketika ia mempraktikkan jalan itu,
ingatan dan kehendak yang berhubungan dengan perolehan menyerangnya. Ia tidak menerimanya;
ia meninggalkannya, melenyapkannya, menyingkirkannya, dan memusnahkannya. Orang
demikian juga Kusebut terbelenggu, bukan tidak terbelenggu. Mengapakah? Karena
Aku telah mengetahui keberagaman tertentu dari indria-indria dalam diri orang
ini.
[Kitab Komentar : Orang biasa, pemasuk-arus,
yang-kembali-sekali, yang-tidak-kembali dapat termasuk dalam kelompok pertama (sebagaimana
pada paragraf nomor ke-14), yang-tidak-kembali karena ketagihan pada penjelmaan
(kelahiran-kembali) masih ada dalam dirinya dan dengan demikian kadang-kadang
ia dapat menikmati pikiran-pikiran kenikmatan duniawi. Empat yang sama dapat
digolongkan dalam kelompok ke dua (sebagaimana pada paragraf nomor ke-15),
orang biasa karena ia mungkin dapat menekan kekotoran yang telah muncul,
membangkitkan kegigihan, mengembangkan pandangan terang, dan melenyapkan
kekotoran dengan mencapai jalan lokuttara.]
16. “Di sini, Udāyin, seseorang
mempraktikkan jalan untuk meninggalkan perolehan, untuk melepaskan perolehan.
Ketika ia mempraktikkan jalan itu, ingatan dan kehendak yang berhubungan dengan
perolehan kadang-kadang menyerangnya karena lemahnya perhatian. Perhatiannya
mungkin lambat muncul, tetapi ia dengan cepat meninggalkannya, melenyapkannya,
menyingkirkannya, dan memusnahkannya. Seperti halnya seseorang meneteskan dua atau tiga tetes air di atas
lempengan besi yang dipanaskan sepanjang hari, jatuhnya tetesan air itu mungkin
lambat namun air itu akan dengan cepat menguap dan lenyap. Demikian pula, di
sini seseorang mempraktikkan jalan … Perhatiannya mungkin lambat muncul, tetapi
ia dengan cepat meninggalkannya, melenyapkannya, menyingkirkannya, dan
memusnahkannya. Orang demikian juga Kusebut terbelenggu, bukan tidak
terbelenggu. [454] Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui keberagaman tertentu
dari indria-indria dalam diri orang ini.
[Kitab Komentar : Jenis orang yang disebutkan di
atas, yang memiliki kewaspadaan pada kecondongan pikirannya sendiri, dibedakan
dengan jenis sebelumnya hanya oleh kelambanannya dalam membangkitkan perhatian
untuk meninggalkan kekotoran yang telah muncul.]
17. “Di sini, Udāyin, seseorang,
setelah memahami bahwa perolehan adalah akar penderitaan, melepaskan dirinya
dari perolehan dan terbebaskan dalam hancurnya perolehan. Orang demikian
Kusebut tidak terbelenggu, bukan terbelenggu. Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui
keberagaman tertentu dari indria-indria dalam diri orang ini.
[Kitab Komentar : Orang yang dimaksud tersebut
adalah seorang Arahant, yang telah melenyapkan segala belenggu, tanpa
menyisakan kekotoran-batin yang paling laten sekalipun.]
18. “Ada,
Udāyin, lima utas kenikmatan indria. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Bau-bauan yang dikenali oleh hidung yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Rasa kecapan yang dikenali oleh lidah yang
diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan
indria, dan merangsang nafsu. Objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan
yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan
indria.
19. “Sekarang, Udāyin, kenikmatan dan kegembiraan yang muncul dengan
bergantung pada kelima utas kenikmatan indria ini disebut kenikmatan indria –
kenikmatan yang kotor, kenikmatan yang kasar, kenikmatan yang tidak mulia. Aku katakan bahwa jenis
kenikmatan ini tidak boleh dikejar, bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh
dikembangkan, bahwa jenis kenikmatan ini tidak boleh dilatih, bahwa jenis
kenikmatan ini seharusnya ditakuti.
20. “Di sini, Udāyin, dengan
cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, seorang bhikkhu
masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan. Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan
keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Dengan meluruhnya
sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan
penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, seorang bhikkhu
masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia
mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki
keseimbangan dan penuh perhatian.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan
kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki
bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena
keseimbangan.
21. “Ini
disebut kebahagiaan pelepasan keduniawian, kebahagiaan keterasingan,
kebahagiaan kedamaian, kebahagiaan pencerahan. Aku katakan bahwa jenis kenikmatan ini harus dikejar,
bahwa jenis kenikmatan ini harus dikembangkan, bahwa jenis kenikmatan ini harus
dilatih, bahwa jenis kenikmatan ini seharusnya tidak ditakuti.
[Kitab Komentar : Terkait kalimat “kebahagiaan
pelepasan keduniawian, kebahagiaan keterasingan, kebahagiaan kedamaian,
kebahagiaan pencerahan” dalam paragraf di atas, Bhikkhu Bodhi berbeda
dengan Bhikkhu Ñāṇamoli dalam menerjemahkan sukha sebagai
“kebahagiaan” dan bukan sebagai “kenikmatan” untuk menghindari frasa-frasa yang
terdengar janggal yang dapat diakibatkan dari konsistensi yang kaku. Kitab
Komentar menjelaskan jhāna-jhāna sebagai nekkhammasukha karena menghasilkan
kebahagiaan dari meninggalkan kenikmatan indria; sebagai pavivekasukha
karena menghasilkan kebahagiaan yang muncul dari keterasingan dari keramaian
dan dari kekotoran; sebagai upasamasukha karena kebahagiaannya
adalah bertujuan untuk menenangkan kekotoran; dan sebagai sambodhasukha karena kebahagiaannya
adalah bertujuan untuk mencapai pencerahan. Jhāna-jhāna itu sendiri, tentu
saja, bukanlah kondisi-kondisi pencerahan.]
22. “Di sini, Udāyin, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria,
terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Sekarang
ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang dapat mengganggu. Dan apakah di sana
yang menjadi bagian dari yang dapat mengganggu? Awal pikiran dan kelangsungan
pikiran yang belum lenyap di sana, itu adalah apa yang menjadi bagian dari yang
dapat mengganggu.
[Kitab Komentar : Semua kondisi pikiran di bawah jhāna
ke empat dikelompokkan sebagai “yang dapat mengganggu” (iñjita). Jhāna
ke empat dan semua kondisi yang lebih tinggi disebut “yang tidak mengganggu” (aniñjita).
Āneñja (BBS); ānañja (PTS). Ini adalah istilah teknis untuk pencapaian-pencapaian
meditatif dari jhāna ke empat melalui empat pencapaian tanpa materi.
Tetapi karena dua pencapaian tanpa materi yang tertinggi dibahas secara
terpisah, sepertinya bahwa dalam sutta ini hanya jhāna ke empat dan dua
pencapaian tanpa materi yang lebih rendah yang dimaksudkan sebagai “ketanpa-gangguan.”]
23. “Di sini, Udāyin, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki
keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Sekarang
ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang dapat mengganggu. Dan apakah di sana
yang menjadi bagian dari yang dapat mengganggu? Sukacita dan kenikmatan yang
belum lenyap di sana, itu adalah apa yang menjadi bagian dari yang dapat
mengganggu.
24. “Di sini, Udāyin, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam
dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan
kenikmatan pada jasmani, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga,
yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang
menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Sekarang ini, Aku
katakan, adalah bagian dari yang dapat mengganggu. Dan apakah di sana yang
menjadi bagian dari yang dapat mengganggu? [455] Kenikmatan keseimbangan yang
belum lenyap di sana, itu adalah apa yang menjadi bagian dari yang dapat
mengganggu.
25. “Di sini, Udāyin, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan
dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu
masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki
bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena
keseimbangan. Sekarang ini, Aku katakan, adalah bagian dari yang tidak
mengganggu.
26. “Di sini, Udāyin, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria,
terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam jhāna pertama … Itu, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah,
Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
[Kitab Komentar :Perihal frasa “belum cukup”, tidaklah
selayaknya untuk melekatinya dengan ketagihan, dan seseorang seharusnya tidak
berhenti pada titik ini, dan beranjak melampauinya.]
27. “Di sini, Udāyin, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Itu
melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah, Aku
katakan; lampauilah, Aku
katakan. Dan apakah yang melampauinya?
28. “Di sini, Udāyin, dengan meluruhnya sukacita ... seorang bhikkhu
masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga ... Itu melampaui sebelumnya. Tetapi
itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah,
Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
29. “Di sini, Udāyin, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan ...
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat ... Itu melampaui
sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah, Aku
katakan; lampauilah, Aku
katakan. Dan apakah yang melampauinya?
30. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria,
dengan tanpa perhatian pada persepsi keberagaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah
tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa
batas. Itu
melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah,
Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
31. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran
adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran
tanpa batas. Itu
melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah,
Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan apakah yang melampauinya?
32. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada
apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Itu melampaui sebelumnya. Tetapi itu juga, Aku katakan,
belum cukup. Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku katakan. Dan
apakah yang melampauinya?
33. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. [456] Itu melampaui sebelumnya. Tetapi itu
juga, Aku katakan, belum cukup. Tinggalkanlah, Aku katakan; lampauilah, Aku
katakan. Dan apakah yang melampauinya?
34. “Di sini, Udāyin, dengan
sepenuhnya melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan. Itu melampaui sebelumnya. Demikianlah Aku
mengatakan tentang meninggalkan bahkan landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi.
Apakah engkau melihat, Udāyin, belenggu apapun, kecil atau besar, yang
pelepasannya tidak Aku katakan?”
[Kitab Komentar : Lenyapnya persepsi dan perasaan
bukan hanya sekedar satu pencapaian yang lebih tinggi dalam skala konsentrasi,
melainkan di sini menyiratkan pengembangan pandangan-terang penuh yang membawa
menuju puncaknya dalam Kearahantaan.]
“Tidak, Yang Mulia.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Udāyin merasa
puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi para
umatnya dibiasakan mengonsumsi dogma-dogma korup semacam “PENGHAPUSAN /
PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” sehingga itu menjadi tali pengikat yang kuat,
kokoh, tidak lapuk dan menjadi gandar yang tebal. Dogma korup mana
mempromosikan sifat tidak bertanggung-jawab alih-alih mengkampanyekan gaya
hidup higienis dari dosa maupun maksiat. Seseorang masih dapat berbuat keliru,
namun mengapa alih-alih berani tampil untuk bertanggung-jawab sehingga
korbannya tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban dari sang pelaku,
justru sibuk “cuci tangan” dan “cuci dosa” disamping “cuci uang” (zakat berupa “recehan”
untuk membersihkan harta hasil korupsi ataupun menipu)?—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” yang diklaim oleh kalangan muslim
sebagai manusia yang paling baik dan mulia, adalah terasing dari kenikmatan
indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ataukah sebaliknya,
terjerumus dalam kenikmatan indria—kenikmatan yang kotor, kenikmatan yang
kasar, kenikmatan yang tidak mulia?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]