Para dewa,
Memiliki mata-dewa,
Dapat melihat segala sesuatu
yang terjadi di dunia manusia,
Perbuatan-perbuatan jahat oleh
sesama manusia,
Maupun perbuatan-perbuatan jahat
oleh roh jahat terhadap umat manusia,
Perbuatan-perbuatan yang terang-terangan,
Maupun perbuatan-perbuatan yang
tersembunyi.
Namun,
Para makhluk dewata tersebut,
Membiarkan segala jenis kejahatan terjadi,
Dan berlangsung selama bertahun-tahun,
Hingga berabad-abad lamanya.
Dengan telinga-dewa,
Para makhluk dewata dapat mendengar,
Segala jenis jeritan seorang manusia
yang menderita,
Jeritan manusia yang terluka,
Jeritan manusia yang tersakiti,
Jerita manusia yang memohon
pertolongan,
Teraniaya oleh sesama manusia-manusia
lainnya,
Maupun oleh roh-roh jahat yang mendapat
kesenangan dengan mencelakai umat manusia,
Selama bertahun-tahun,
Hingga berabad-abad lamanya.
Seorang manusia yang lemah,
Dibiarkan tidak berdaya,
Seorang diri menghadapi sesama manusia-manusia
jahat,
Seorang diri menghadapi roh-roh
jahat yang sakti,
Tidak kasat mata,
Dan mampu menembus tembok
beton.
Bagaikan seekor anak ayam,
Menghadapi sekawanan serigala
beringas.
Orang-orang jahat,
Roh-roh jahat,
Lengkap dengan segala sifat jahat
dan keji mereka,
Adalah ciptaan Tuhan.
Mereka berbuat kejahatan,
Atas seizin dan sepengetahuan Tuhan.
Tiada yang dapat terjadi,
Tanpa seizin Tuhan.
Orang-orang jahat berbuat
kejahatan terhadap sesama manusia,
Roh-roh jahat mencelakai umat
manusia yang tidak berdaya,
Dibiarkan,
Tanpa dicegah oleh Tuhan,
Tanpa juga dihentikan oleh Tuhan.
Jeritan manusia yang tidak
berdaya,
Diabaikan,
Ditelantarkan.
Betapa sebatang karanya,
Seorang umat manusia yang tidak
berdaya.
Hidup ibarat “di ujung tanduk”,
Jurang dimana-mana.
Alhasil,
Orang-orang jahat merajalela,
Beserta dengan roh-roh jahat
yang sakti yang turut merajelala,
Menguasai dunia manusia,
Di genggaman tangan mereka,
Bagaikan “raja-raja”,
Yang bebas bertindak
sesuka-hati,
Tanpa penindakan,
Tanpa aturan,
Tanpa hukum,
Tanpa perlindungan,
Tanpa konsekuensi,
Serta tiada tempat bagi kita
untuk mengadu ataupun berlindung.
Keadilan dan kepastian,
Tampak seperti hal semu,
Tidak terjangkau oleh tangan
kecil seorang manusia yang tidak berdaya.
Yang terjadi,
Semata pembiaran,
Pengabaian,
Penelantaran.
Pada akhirnya,
Kita hanya dapat mengandalkan
diri kita sendiri.
Oleh diri kita sendiri,
Kita mengulurkan tangan bagi
diri kita sendiri,
Tersedia bagi diri kita
sendrii,
Hadir bagi kita sendiri,
Serta dapat diandalkan oleh
diri kita sendiri.
Diri kita sendirilah,
Yang satu-satunya paling dapat diandalkan
di dunia ini.
Jangan pernah mengharap kepada
orang lain,
Juga tidak perlu membuang waktu
berharap uluran tangan,
Dari para makhluk dewata yang
lebih sibuk bersenang-senang di alam surgawi,
Tanpa perlu lagi berharap pada
Tuhan,
Sang Pencipta dan Pemelihara
Makhluk-Makhluk Jahat tersebut,
Sang “Maha Buta-Tuli”.
Mereka buta dan tuli terhadap perbuatan-perbuatan
jahat makhluk jahat,
Maka mereka pun buta dan tuli
terhadap perbuatan-perbuatan baik seseorang yang baik.
Cukup andalkan diri kita sendiri,
Dan cukup jadikan diri kita
sendiri sebagai andalan satu-satunya.
Kita hanya akan berakhir pada
kekecewaan terhadap diri kita sendiri,
Bila kita masih terus-menerus
berdelusi mengharapkan belas-kasihan para makhluk dewata,
Maupun bila kita masih secara
membuta mengharap uluran-tangan Tuhan,
Tuhan mana yang telah
menciptakan dan melestarikan makhluk-makhluk jahat tersebut.
Kita tidak akan pernah lagi
mengalami kekecewaan yang begitu mendalam kepada kehidupan,
Ketika kita menanggalkan delusi
harapan-semu demikian,
Dengan menjadikan diri kita
sendiri,
Sebagai satu-satunya andalan
untuk dapat kita andalkan.
Dengan demikian,
Kita mengambil keberanian dan tanggung-jawab
penuh atas hidup kita sendiri,
Atas mana depan kita sendiri,
Atas nasib hidup kita sendiri,
Suka dan duka kita sendiri,
Duka untuk kita hadapi seorang
diri,
Dan suka menjadi hak tunggal
diri kita sendiri,
Tanpa lagi mengemis-ngemis kepada
pihak manapun,
Tanpa lagi merendahkan martabat
kita sendiri,
Dan tanpa berhutang kepada pihak
siapapun.
Jadikan diri kita sendiri
memiliki kemampuan untuk kita andalkan.
Itulah nasehat terbaik untuk
menjalani kehidupan.
Bergantung atau mengandalkan
pihak eksternal,
Sama artinya kita sedang menyia-nyiakan
potensi diri kita sendiri.
Karena pada akhirnya,
Hampir selalu kita hanya dapat
mengandalkan diri kita sendiri.
Selama ini demikian,
Dan akan selalu demikian.
Dengan hanya mengandalkan diri
kita sendiri,
Kita tidak lagi menaruh harapan
kepada makhluk dewata,
Maka tiada lagi kekecewaan
muncul terhadap makhluk dewata,
Karena kita tidak lagi membuang-buang
waktu memohon pertolongan dari para makhluk dewata.
Hanya dengan mengandalkan diri
kita sendiri,
Kita tidak lagi berharap kepada
nurani Tuhan,
Membiarkan Tuhan dengan
kebutaan dan ketuliannya,
Dimana kita tidak lagi memiliki
kekecewaan apapun terhadap Tuhan yang sudah kita lupakan eksistensinya,
Ada ataupun tiadanya Tuhan,
Kita hanya milik diri kita sendiri
seorang.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
