Ketika Setan Berhasil Menggoda Manusia, artinya Allah Tidak Benar-Benar
Maha Kuasa
Setan Lebih Berkuasa daripada Allah, Buktinya Puluhan Nabi Rasul Allah GAGAL TOTAL MEMBUAT PUNAH SATUPUN KEJAHATAN PALING PRIMITIF DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA
Umat Agama Samawi (PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA) adalah Pelanggan Tetap
“Setan Penggoda” yang Selalu Berhasil Digoda serta Tergoda Memproduksi Segudang
Dosa dan Maksiat
Question: Diceritakan bahwa setan menggodai manusia, atau
seperti ular menggoda Adam dan Hawa sehingga memakan “buah terlarang”. Pertanyaannya,
mengapa Allah hanya mendiamkan setan dan si ular dengan bebas dan leluasa untuk
tempo waktu yang panjang menggodai manusia? Bila setan dan si ular berhasil
menggoda manusia, bukankah itu artinya sesuatu bisa terjadi diluar kehendak
maupun rencana dan diluar kuasa Allah? Bukankah katanya, Allah “Maha Tahu”? Buat
apa juga Allah menciptakan “ranjau darat” semacam “buah terlarang”?
Bukankah Allah juga, yang menciptakan rasa penasaran dalam diri Adam dan Hawa?
Bila dosa sifatnya diteruskan atau diwariskan kepada keturunan selanjutnya (dosa
warisan), maka kemana semua jasa-jasa baik Adam dan Hawa (harta warisan)? Mengapa
pula Allah membiarkan si setan dan si ular berkeliaran mencari mangsa untuk
digoda, bahkan terkesan dilestarikan dan dipelihara oleh Allah? Mengapa dogma-dogma
agama samawi justru lebih banyak melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak
terjawab alih-alih menjawab pertanyaan hidup?
Saya telah sampai pada satu puncak kecurigaan, bahwa Allah itu sendirilah yang memang tidak menghendaki kepunahan kejahatan-kejahatan yang sudah dikenal sejak zaman prasejarah umat manusia, mulai dari pencurian, membunuh, merampok, memerkosa, menipu, menggelapkan, dan kejahatan lain sebagainya. Tujuan Allah melestarikan dosa maupun maksiat, hanya satu, yakni agar umat manusia menjelma “pecandu pengampunan / penebusan dosa” dimana harga yang harus mereka bayarkan ialah jiwa yang digadaikan menjadi budak sembah-sujud Allah, seolah Allah sirna dari dunia ini bila tidak disembah.
Brief
Answer: Semakin seseorang
terperosok dan terpuruk ke jurang dosa dan maksiat, artinya yang bersangkutan
memiliki banyak waktu bergaul dengan setan-setan penggoda, dimana kesibukannya
ialah berbuat dosa dan bermaksiat. Justru itulah “umpan” yang dipasang oleh Allah,
semata agar umat manusia memakan dan termakan oleh godaan setan, dan menjelma
zombie penyembah Allah yang mabuk serta kecanduan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN /
PENEBUSAN DOSA”. Baik itu “buah terlarang” ataupun dosa dan maksiat, sejatinya
ialah modus operandi Allah dalam menjajah, mengeksploitasi, dan memperbudak umat
manusia. Bila tidak ada diciptakan “buah terlarang”, maka apakah yang bisa
digoda oleh setan maupun “si ular”? Justru baik Allah dan setan bersama-sama butuh
“buah terlarang” tersebut, “buah terlarang-buah terlarang” mana tetap dibiarkan
lestari tanpa pernah ada kata “punah”, karena Allah yang meng-kehendakinya. Apa
bedanya dengan membiarkan Adam maupun Hawa dipatuk oleh “ular berbisa” sekalipun
tidak pernah ada “buah terlarang”? Sehingga di sini, siapakah yang sebetulnya telah
lalai dan mengabaikan tanggung-jawabnya? Tanyakanlah pula, “Siapa yang telah menciptakan
buah terlarang ini?”
PEMBAHASAN:
Perenungan terdahsyat yang diperkenalkan oleh Buddhisme, ialah paradigma “tidak
punya waktu sejentikan jari sekalian bagi setan”, sebagaimana khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
73 (3) Perenungan pada Kematian (1)
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Nādika di aula bata. Di
sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: [317] “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, perenungan
pada kematian, ketika dikembangkan dan dilatih, adalah berbuah dan bermanfaat
besar, memuncak dalam tanpa-kematian, dengan tanpa-kematian sebagai kesempurnaannya. Tetapi apakah kalian, para bhikkhu, mengembangkan
perenungan pada kematian?”
(1) Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu berkata kepada Sang
Bhagavā: “Bhante, aku mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama sehari semalam sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku
berhasil sejauh itu!’ Adalah dengan cara ini aku mengembangkan perenungan pada
kematian.”
(2) Seorang bhikkhu lainnya berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama sehari sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil
sejauh itu!’ Adalah dengan cara ini aku mengembangkan perenungan pada
kematian.”
(3) Seorang bhikkhu lainnya berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama setengah hari sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku
berhasil sejauh itu!’ Adalah dengan cara ini aku mengembangkan perenungan pada
kematian.”
(4) Seorang bhikkhu lainnya lagi berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama waktu yang diperlukan untuk satu kali makan sehingga aku dapat menekuni
ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’ Adalah dengan cara ini aku
mengembangkan perenungan pada kematian.”
(5) Seorang bhikkhu lainnya lagi berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, [318] Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat
hidup selama waktu yang diperlukan untuk setengah kali makan sehingga aku dapat
menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’ Adalah dengan cara
ini aku mengembangkan perenungan pada kematian.”
(6) Seorang bhikkhu lainnya lagi berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama waktu yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan empat atau lima suapan
makanan, sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil
sejauh itu!’ Adalah dengan cara ini aku mengembangkan perenungan pada kematian.”
(7) Seorang bhikkhu lainnya lagi berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama waktu yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan satu suapan makanan,
sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’
Adalah dengan cara ini aku mengembangkan perenungan pada kematian.”
(8) Seorang bhikkhu lainnya lagi berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku juga,
Bhante, mengembangkan perenungan pada kematian.”
“Tetapi bagaimanakah, bhikkhu, engkau mengembangkan perenungan pada
kematian?”
“Di sini, Bhante, aku berpikir sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup
selama waktu yang diperlukan untuk mengembuskan napas setelah menarik napas,
atau untuk menarik napas setelah mengembuskan napas, sehingga aku dapat
menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’ Adalah dengan cara
ini aku mengembangkan perenungan pada kematian.”
[Kitab Komentar : Makna implisitnya, ialah tidak
memberi ruang jeda waktu sedetik pun bagi “setan penggoda”.]
Ketika hal ini dikatakan, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu itu: “Para
bhikkhu, (1) bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai
berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama sehari semalam sehingga aku dapat
menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’; dan (2) bhikkhu
yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: [319] ‘Semoga aku
dapat hidup selama ari sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku
berhasil sejauh itu!’; dan (3) bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada
kematian sebagai berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama setengah hari sehingga
aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’; dan (4)
bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga
aku dapat hidup selama waktu yang diperlukan untuk satu kali makan sehingga aku
dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’; dan (5)
bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga
aku dapat hidup selama waktu yang diperlukan untuk setengah kali makan sehingga
aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’; dan (6)
bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai berikut: ‘Semoga
aku dapat hidup selama waktu yang diperlukan untuk mengunyah dan menelan empat
atau lima suapan makanan, sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang Bhagavā. Dan
aku berhasil sejauh itu!’: mereka
ini disebut para bhikkhu yang berdiam dengan lengah. Mereka mengembangkan perenungan pada kematian
dengan lambat demi hancurnya noda-noda.
[Kitab Komentar : Perenungan “besok mungkin kita akan
meninggal dunia”, artinya menyisakan ruang “hari ini setan penggoda masih memiliki
peluang untuk datang menggoda”.]
“Tetapi (7) bhikkhu yang mengembangkan perenungan pada kematian sebagai
berikut: ‘Semoga aku dapat hidup selama waktu yang diperlukan untuk mengunyah
dan menelan satu suapan makanan, sehingga aku dapat menekuni ajaran Sang
Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’; dan (8) bhikkhu yang mengembangkan
perenungan pada kematian sebagai berikut: Semoga aku dapat hidup selama waktu
yang diperlukan untuk mengembuskan napas setelah menarik napas, atau untuk
menarik napas setelah mengembuskan napas, sehingga aku dapat menekuni ajaran
Sang Bhagavā. Dan aku berhasil sejauh itu!’: mereka ini disebut para bhikkhu
yang berdiam
dengan tekun. Mereka
mengembangkan perenungan pada kematian dengan giat demi hancurnya noda-noda.
“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan berdiam
dengan tekun, kami akan mengembangkan perenungan pada kematian dengan giat demi
hancurnya noda-noda.’
Demikianlah kalian harus berlatih.” [320]
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]