Dogma PENGHAPUSAN DOSA adalah Sabotase terhadap Hak Korban yang Menuntut Keadilan
BIla Nabinya saja Tidak Bermoral (Kecanduan Dogma Penghapusan Dosa), maka
Bagaimana dengan Moral Umat Pengikutnya? Mustahil Pengikut Lebih Bermoral
daripada Tokoh Junjungan-Panutannya
Question : Bukankah sungguh mengherankan, nabinya orang islam setiap harinya kecanduan-berat ritual penghapusan dosa, akan tetapi para umat muslim terutama ibu-ibu pengajian, menyanjungnya setinggi langit sebagai manusia paling baik, paling sempurna, paling lurus, paling baik, paling mulia, paling jujur, paling benar, dan paling suci?
Brief
Answer : Mereka sepatutnya
bertanya kepada diri mereka sendiri, nabi yang mereka junjung dan jadikan panutan,
apakah memiliki MORALITAS YANG LEBIH TINGGI maupun KEBIJAKSANAAN YANG LEBIH
TINGGI? Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, mengapa para bijaksanawan
memuji dan mengagungkan teladan hidup maupun ajaran Sang Buddha:
“Kemudian, Udāyin, para siswaKu menghargaiKu karena
pengetahuan dan penglihatanKu yang mulia sebagai berikut: ‘Ketika Petapa Gotama
mengatakan “Aku mengetahui,” Beliau sungguh mengetahui; ketika Beliau
mengatakan “Aku melihat,” Beliau sungguh melihat. Petapa Gotama mengajarkan
Dhamma melalui pengetahuan langsung bukan tanpa pengetahuan langsung; Beliau
mengajarkan Dhamma dengan landasan yang kuat, bukan tanpa landasan yang kuat;
Beliau mengajarkan Dhamma dengan sikap yang meyakinkan, bukan dengan sikap yang
tidak meyakinkan.’
“Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para
siswaKu jalan untuk mengembangkan empat jenis usaha benar. Di sini seorang
bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi jahat
yang tidak bermanfaat yang belum muncul, dan ia berusaha, membangkitkan
kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk
meninggalkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang telah muncul … Ia
membangkitkan kemauan untuk memunculkan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang
belum muncul … Ia membangkitkan kemauan untuk mempertahankan kelangsungan,
ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan
atas kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Dan dengan
demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan
pengetahuan langsung.
“Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk
mengembangkan lima indria. Di sini [12] seorang bhikkhu mengembangkan indria
keyakinan, yang menuntun menuju kedamaian, menuntun menuju pencerahan. Ia
mengembangkan indria kegigihan … indria perhatian … indria konsentrasi … indria
kebijaksanaan, yang menuntun menuju kedamaian, menuntun menuju pencerahan. Dan
dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan
kesempurnaan pengetahuan langsung.”
PEMBAHASAN:
Ketika seseorang melakukan ritual KORUP yang “too good to be true”
bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, maka sejatinya ia telah
melanggar asas nemo judex in causa sua (tidak seorangpun dapat menjadi
hakim bagi perkaranya sendiri). Umat agama samawi berbuat dosa seperti berbagai
kejahatan, namun mereka sendiri pula yang berupaya menyabotase perkara
dosa-dosanya lewat dogma korup yang membuat mereka menjelma “KORUPTOR DOSA”
dimana dosa-dosa pun mereka korupsi.
Dogma KORUP agama samawi berupa iming-iming “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins), mengakibatkan melemahnya penegakan hukum akibat ketiadaan daya
paksa (coercive power), termasuk mendegradasi hukum syariat-islam yang
diusung oleh umat agama islam itu sendiri. “BUAT DOSA, SIAPA TAKUT? ADA
PENGHAPUSAN DOSA! MERUGI TIDAK MENIKMATI CANDU PENGHAPUSAN DOSA YANG ADIKTIF!”
Mereka tidak mau menyadari, bahwa antara “berbuat DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”
dan “PENGHAPUSAN DOSA” ialah saling bundling bagai sikat-gigi dan pasta-gigi
yang saling komplomenter tanpa dapat dipisahkan.
Tidak pernah dogma agama-agama samawi menerapkan prinsip victim-centered
justice atau berorientasi pada perlindungan korban. Mengakibatkan kalangan
korban yang mengadu / melaporkan kejadian jahat yang menimpanya kepada Allah,
hanya bisa gigit-jari, karena Allah justru merampas hak-hak korban atas
keadilan dengan menghapus dosa-dosa para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”—alias Allah lebih PRO kepada PENDOSA / PENJAHAT. Si dungu tersebut tidak
mau menyadari, bahwa mereka pun tidak terkecuali dapat menjadi atau dijadikan korban
oleh sesama kaumnya sendiri.
Kita seharusnya hanya menjadikan orang yang lebih mulia dan lebih
bermoral daripada kita, sebagai teladan dan junjungan. Selengkapnya dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 77 ~
Mahāsakuludāyi
Sutta: Khotbah Panjang kepada Sakuludāyin
[1] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.
2. Pada saat itu sejumlah para pengembara terkenal sedang menetap di
Taman Suaka Merak, taman para pengembara – yaitu, Annabhāra, Varadhara, dan
Pengembara Sakuludāyin, serta para pengembara terkenal lainnya.
3. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi menuju Rājagaha untuk menerima dana
makanan. Kemudian Beliau berpikir: “Masih terlalu pagi untuk pergi menerima
dana makanan di Rājagaha. Bagaimana jika Aku mendatangi Pengembara Sakuludāyin
di Taman Suaka Merak, taman para pengembara.”
4. Kemudian Sang Bhagavā pergi menuju Taman Suaka Merak, taman
pengembara. Pada saat itu Pengembara Sakuludāyin sedang duduk bersama dengan
sejumlah besar para pengembara yang sangat gaduh, ribut dan berisik
membicarakan berbagai jenis pembicaraan tanpa arah. Seperti pembicaraan tentang
raja-raja, para perampok, para menteri, bala tentara, bahaya, peperangan,
makanan, minuman, pakaian, tempat tidur, kalung bunga, wangi-wangian, sanak
saudara, kendaraan, desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota-kota, negeri-negeri,
para perempuan, para pahlawan, jalan-jalan, sumur, orang mati, hal-hal remeh,
asal-mula dunia, asal-mula lautan, apakah hal-hal adalah seperti ini atau tidak
seperti ini. Kemudian Pengembara Sakuludāyin dari jauh melihat kedatangan Sang
Bhagavā. Melihat Beliau, ia menenangkan kelompoknya sebagai berikut: “Tuan-tuan,
diamlah, jangan berisik. Telah datang Petapa Gotama. Yang Mulia ini menyukai
ketenangan dan menghargai ketenangan. Mungkin jika Beliau melihat kelompok kita
yang tenang, maka Beliau akan berpikir untuk bergabung dengan kita.” Kemudian para
pengembara itu menjadi diam.
[Komentar : Tiracchānakathā, penerjemah
menerjemahkannya sebagai “pembicaraan tanpa arah”. Banyak penerjemah
menerjemahkan kata ini sebagai “percakapan binatang.” Akan tetapi, tiracchāna
secara literal berarti “berjalan secara horizontal,” dan walaupun kata ini
digunakan sebagai sebutan bagi binatang, namun Kitab Komentar menjelaskan bahwa
dalam konteks sekarang ini berarti percakapan yang berjalan “secara horizontal”
atau “tegak lurus” terhadap jalan menuju alam surga atau kebebasan.]
5. Sang Bhagavā mendatangi Petapa Sakuludāyin yang berkata kepadanya:
“Silakan Sang Bhagavā datang! Selamat datang Sang Bhagavā! Telah lama sejak
Sang Bhagavā berkesempatan datang ke sini. Silahkan Sang Bhagavā duduk; tempat
duduk telah tersedia.”
Sang Bhagavā duduk di tempat duduk yang telah dipersiapkan, dan
Pengembara Sakuludāyin mengambil bangku rendah dan duduk di satu sisi. Ketika
ia telah duduk, Sang Bhagavā bertanya kepadanya: “Untuk mendiskusikan apakah kalian
duduk bersama di sini saat ini, Udāyin? Dan apakah diskusi kalian yang
terhenti?”
6. “Yang Mulia, biarkanlah diskusi yang karenanya kami duduk bersama di
sini. Sang Bhagavā dapat mendengarkannya nanti. Belakangan ini, Yang Mulia,
ketika para petapa dan brahmana dari berbagai sekte berkumpul bersama dan duduk
bersama dalam aula perdebatan, topik berikut ini muncul: ‘Suatu keuntungan bagi
penduduk Anga dan Magadha, suatu keuntungan besar bagi penduduk Anga dan
Magadha bahwa para petapa dan brahmana ini, para pemimpin sekte, pemimpin kelompok,
para guru dari kelompok-kelompok, pendiri sekte yang terkenal dan termasyhur
yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci, telah datang untuk
melewatkan musim hujan di Rājagaha. Ada Pūraṇa Kassapa ini, pemimpin sekte, pemimpin kelompok, guru dari suatu
kelompok, pendiri suatu sekte yang terkenal dan termasyhur yang dianggap oleh
banyak orang sebagai orang suci: ia telah datang untuk melewatkan musim hujan
di Rājagaha. Ada juga Makkhali Gosāla ini … Ajita Kesakambalin ini … Pakudha
Kaccāyana ini … Sañjaya Belaṭṭhiputta ini … Nigaṇṭha Nātaputta ini, pemimpin sekte, pemimpin kelompok, guru dari suatu
kelompok, [3] pendiri suatu sekte yang terkenal dan termasyhur yang dianggap
oleh banyak orang sebagai orang suci: ia juga telah datang untuk melewatkan musim
hujan di Rājagaha. Juga ada Petapa Gotama ini, pemimpin sekte, pemimpin
kelompok, guru dari suatu kelompok, pendiri suatu sekte yang terkenal dan
termasyhur yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci: Beliau juga
telah datang untuk melewatkan musim hujan di Rājagaha. Sekarang di antara para
petapa dan brahmana mulia ini, para pemimpin sekte ini … yang dianggap oleh
banyak orang sebagai orang suci, siapakah yang dihormati, dihargai, dipuja, dan
dimuliakan oleh para siswanya? Dan bagaimanakah, dengan menghormati dan menghargainya,
apakah mereka hidup dengan bergantung padanya?’
“Kemudian beberapa orang berkata sebagai berikut: ‘Pūraṇa Kassapa ini adalah pemimpin suatu kelompok … dianggap oleh banyak orang
sebagai orang suci, tetapi ia tidak dihormati, tidak dihargai, tidak dipuja,
dan tidak dimuliakan oleh para siswanya, juga para siswanya tidak hidup dengan
bergantung padanya, dengan tidak menghormati dan tidak menghargainya. Suatu ketika
Pūraṇa Kassapa sedang mengajarkan Dhamma kepada sekelompok beberapa ratus
pengikut. Kemudian seorang siswa tertentu membuat keributan sebagai berikut:
“Tuan-tuan, jangan mengajukan pertanyaan ini kepada Pūraṇa Kassapa. Ia tidak mengetahui hal itu. Kami mengetahuinya. Tanyakanlah
kepada kami pertanyaan itu. Kami akan menjawabnya untuk kalian, tuan-tuan.” Yang
terjadi adalah Pūraṇa Kassapa tidak memperoleh cara, walaupun ia
melambaikan tangannya dan berteriak: “Diamlah, tuan-tuan, jangan berisik,
tuan-tuan. Mereka tidak bertanya kepada kalian. Mereka bertanya kepada kami.
Kami akan menjawab mereka.” Sesungguhnya, banyak para siswanya meninggalkannya
setelah membantah doktrinnya sebagai berikut: “Engkau tidak memahami Dhamma dan
Disiplin ini. Aku memahami Dhamma dan Disiplin ini. Bagaimana mungkin engkau memahami
Dhamma dan Disiplin ini? Jalanmu salah. Jalanku benar. Aku konsisten. Engkau
tidak konsisten. Apa yang seharusnya engkau katakan lebih dulu, engkau katakan belakangan.
Apa yang seharusnya engkau katakan belakangan, engkau katakan lebih dulu. Apa
yang telah engkau pikirkan dengan begitu saksama telah diputar-balikkan.
Doktrinmu telah dibantah. Engkau terbukti salah. Pergi dan belajarlah lebih
baik lagi, atau bebaskanlah dirimu dari kekusutan jika engkau mampu!”
Demikianlah Pūraṇa Kassapa tidak dihormati, tidak dihargai, tidak
dipuja, dan tidak dimuliakan oleh para siswanya, juga para siswanya tidak hidup
dengan bergantung padanya, dengan tidak menghormati dan tidak menghargainya. Sesungguhnya
ia dicemooh dengan cemoohan yang ditujukan pada Dhammanya.’ [4]
“Dan beberapa berkata sebagai berikut: ‘Makkhali Gosāla ini … Ajita
Kesakambalin ini … Pakudha Kaccāyana ini … Sañjaya Belaṭṭhiputta ini … Nigaṇṭha Nātaputta ini, pemimpin sekte … [tetapi ia] tidak
dihormati, tidak dihargai, tidak dipuja, dan tidak dimuliakan oleh para
siswanya, juga para siswanya tidak hidup dengan bergantung padanya, dengan
tidak menghormati dan tidak menghargainya. Sesungguhnya ia dicemooh dengan cemoohan
yang ditujukan pada Dhammanya.’
“Dan beberapa berkata sebagai berikut: ‘Petapa Gotama ini adalah pemimpin
sekte, pemimpin kelompok, guru dari suatu kelompok, pendiri suatu sekte yang
terkenal dan termasyhur yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci. Ia
dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh para siswaNya, dan para siswaNya
hidup dengan bergantung padaNya, dengan menghormati dan menghargaiNya. Suatu
ketika Petapa Gotama sedang mengajarkan Dhamma kepada sekelompok beberapa ratus
pengikut. Kemudian seorang siswa tertentu berdehem. Kemudian salah satu
temannya dalam kehidupan suci menyentuhnya dengan lututnya [untuk
mengisyaratkan]: [5] “Diamlah, Yang Mulia, jangan berisik; Sang Bhagavā, Sang
Guru, sedang membabarkan Dhamma.” Ketika Petapa Gotama sedang membabarkan
Dhamma kepada sekelompok beberapa ratus pengikut, pada saat itu tidak ada suara
batuk atau suara mendehem dari para siswaNya. Karena
pada saat itu kelompok besar itu menanti dengan pengharapan: “Mari kita
mendengarkan Dhamma yang akan diajarkan oleh Sang Bhagavā.” Seperti halnya
seseorang di persimpangan jalan memeras madu murni dan sekelompok besar orang
menanti dengan pengharapan, demikian pula, ketika Petapa Gotama sedang
membabarkan Dhamma kepada sekelompok beberapa ratus pengikut, pada saat itu
tidak ada suara batuk atau suara mendehem dari para siswaNya. Karena pada saat
itu kelompok besar itu menanti dengan pengharapan: “Mari kita mendengarkan
Dhamma yang akan diajarkan oleh Sang Bhagavā.” Dan bahkan para siswa yang berselisih dengan
teman-temannya dalam kehidupan suci dan meninggalkan latihan dan kembali ke
kehidupan rendah – mereka bahkan memuji Sang Guru dan Dhamma dan Saṅgha; mereka menyalahkan diri sendiri bukan menyalahkan orang lain, dengan
mengatakan: “Kami tidak beruntung, kami memiliki jasa yang tidak mencukupi;
karena walaupun kami telah meninggalkan keduniawian untuk menjalani kehidupan
tanpa rumah dalam Dhamma yang telah dinyatakan dengan sempurna demikian, namun
kami tidak mampu menjalani kehidupan yang murni dan sempurna selama sisa hidup
kami.” Setelah menjadi palayan vihara atau umat awam, mereka menerima dan
menjalankan lima peraturan. Demikianlah Petapa Gotama dihormati, dihargai, dipuja,
dan dimuliakan oleh para siswaNya, dan para siswaNya hidup dengan bergantung
padaNya, dengan menghormati dan menghargaiNya.’”
7. “Tetapi,
Udāyin, berapa banyakkah kualitas yang engkau lihat dalam diriKu yang karenanya
para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup
dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu?”
8. “Yang Mulia, aku melihat lima kualitas dalam diri Sang Bhagavā yang
karenanya para siswaNya menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanNya, dan
hidup dengan bergantung padaNya, dengan menghormati dan menghargaiNya. Apakah
lima ini? Pertama, Yang Mulia, Sang Bhagavā makan sedikit dan memuji makan
sedikit; ini kulihat sebagai kualitas pertama dari Sang Bhagavā yang karenanya
para siswaNya menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanNya, dan hidup
dengan bergantung padaNya, dengan menghormati dan menghargaiNya. [6] Kemudian,
Yang Mulia, Sang Bhagavā puas dengan segala jenis jubah dan memuji kepuasan
atas segala jenis jubah; ini kulihat sebagai kualitas ke dua Sang Bhagavā … Kemudian,
Yang Mulia, Sang Bhagavā puas dengan segala jenis makanan dan memuji kepuasan
atas segala jenis makanan; ini kulihat sebagai kualitas ke tiga Sang Bhagavā …
Sang Bhagavā puas dengan segala jenis tempat tinggal dan memuji kepuasan atas
segala jenis tempat tinggal; ini kulihat sebagai kualitas ke empat Sang Bhagavā
… Kemudian, Yang Mulia, Sang Bhagavā terasing dan memuji keterasingan; ini
kulihat sebagai kualitas ke lima Sang Bhagavā … Yang Mulia, ini adalah lima
kualitas yang kulihat dalam diri Sang Bhagavā yang karenanya para siswaNya menghormati,
menghargai, memuja, dan memuliakanNya, dan hidup dengan bergantung padaNya,
dengan menghormati dan menghargaiNya.”
9. “Misalkan,
Udāyin, para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan
hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu, dengan pikiran:
‘Petapa Gotama makan sedikit dan memuji makan sedikit.’ Sekarang ada
siswa-siswaKu yang hidup dari secangkir atau setengah cangkir makanan, sebanyak
sebutir buah bilva atau setengah butir buah bilva, [7] sementara Aku kadang-kadang
memakan semangkuk penuh atau bahkan lebih. Jadi jika siswa-siswaKu
menghormatiKu … dengan pikiran: ‘Petapa Gotama makan sedikit dan memuji makan
sedikit,’ maka siswa-siswaKu itu yang hidup dari secangkir makanan … seharusnya
tidak menghormati, tidak menghargai, tidak memuja, dan tidak memuliakanKu, dan
juga hidup dengan tidak bergantung padaKu, dengan tidak menghormati dan tidak
menghargaiKu.
“Misalkan,
Udāyin, para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan
hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu, dengan pikiran:
‘Petapa Gotama puas dengan segala jenis jubah dan memuji kepuasan atas segala
jenis jubah.’ Sekarang ada siswa-siswaKu yang adalah pemakai jubah dari kain
buangan, pemakai jubah kasar; mereka mengumpulkan potongan kain dari tanah pekuburan,
dari tumpukan sampah, atau dari toko-toko, mereka membuatnya menjadi jubah
bertambalan. Tetapi Aku kadang-kadang mengenakan jubah yang dipersembahkan oleh
para perumah-tangga, jubah yang begitu halus sehingga sebagai perbandingan,
bulu labu menjadi terasa kasar. Jadi jika siswa-siswaKu menghormatiKu … dengan
pikiran: ‘Petapa Gotama puas dengan segala jenis jubah dan memuji kepuasan atas
segala jenis jubah,’ maka siswa-siswaKu yang adalah pemakai jubah dari kain
buangan, pemakai jubah kasar … seharusnya tidak menghormati, tidak menghargai,
tidak memuja, dan tidak memuliakanKu, dan juga hidup dengan tidak bergantung
padaKu, dengan tidak menghormati dan tidak menghargaiKu.
“Misalkan,
Udāyin, para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan
hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu, dengan pikiran:
‘Petapa Gotama puas dengan segala jenis makanan dan memuji kepuasan atas segala
jenis makanan.’ Sekarang ada siswa-siswaKu yang adalah pemakan dana makanan
yang dipersembahkan, yang berjalan menerima dana makanan dari rumah ke rumah
tanpa terputus, yang bergembira dalam mengumpulkan dana makanan mereka; ketika
mereka memasuki rumah-rumah itu mereka bahkan tidak akan menerima jika diundang
untuk duduk. Tetapi Aku kadang-kadang makan pada undangan makan yang terdiri
dari nasi pilihan [8] dan banyak kuah dan kari. Jadi jika siswa-siswaKu
menghormatiKu … dengan pikiran: ‘Petapa Gotama puas dengan segala jenis makanan
dan memuji kepuasan atas segala jenis makanan,’ maka siswa-siswaKu yang adalah
pemakan dana makanan yang dipersembahkan … seharusnya tidak menghormati, tidak menghargai,
tidak memuja, dan tidak memuliakanKu, dan juga hidup dengan tidak bergantung
padaKu, dengan tidak menghormati dan tidak menghargaiKu.
“Misalkan,
Udāyin, para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan
hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu, dengan pikiran:
‘Petapa Gotama puas dengan segala jenis tempat tinggal dan memuji kepuasan atas
segala jenis tempat tinggal.’ Sekarang ada siswa-siswaKu yang menetap di
bawah-bawah pohon dan yang menetap di ruang terbuka, yang tidak menggunakan
atap selama delapan bulan [dalam setahun]. Sementara Aku kadang-kadang menetap
di rumah besar berkubah yang diplester bagian dalam dan luarnya, terlindung
dari angin, diamankan dengan pasak pintu, dengan jendela berpenutup. Jadi jika
siswa-siswaKu menghormatiKu … dengan pikiran: ‘Petapa Gotama puas dengan segala
jenis tempat tinggal dan memuji kepuasan atas segala jenis tempat tinggal,’
maka siswa-siswaKu yang menetap di bawah-bawah pohon dan yang menetap di ruang
terbuka … seharusnya tidak menghormati, tidak menghargai, tidak memuja, dan
tidak memuliakanKu, dan juga hidup dengan tidak bergantung padaKu, dengan tidak
menghormati dan tidak menghargaiKu.
“Misalkan,
Udāyin, para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan
hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu, dengan pikiran:
‘Petapa Gotama terasing dan memuji keterasingan.’ Sekarang ada siswa-siswaKu
yang menetap di hutan, yang bertempat tinggal di tempat terpencil, yang
bertempat tinggal di hutan-belantara terpencil dan kembali ke tengah-tengah Saṅgha sekali setiap
setengah bulan untuk membacakan Pātimokkha. Tetapi Aku kadang-kadang menetap
dengan dikelilingi oleh para bhikkhu dan bhikkhunī, oleh para umat awam
laki-laki dan perempuan, oleh raja-raja dan para menteri raja, oleh anggota sekte
lain dan para siswa mereka. Jadi jika siswa-siswaKu menghormatiKu … dengan
pikiran: ‘Petapa Gotama terasing dan memuji keterasingan,’ [9] maka
siswa-siswaKu yang menetap di hutan … seharusnya tidak menghormati, tidak
menghargai, tidak memuja, dan tidak memuliakanKu, dan juga hidup dengan tidak bergantung
padaKu, dengan tidak menghormati dan tidak menghargaiKu. Demikianlah, Udāyin,
adalah bukan karena kelima kualitas ini maka para siswaKu menghormati,
menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung padaKu,
dengan menghormati dan menghargaiKu.
10. “Akan
tetapi, Udāyin, ada lima kualitas yang karenanya para siswaKu menghormati,
menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung padaKu,
dengan menghormati dan menghargaiKu. Apakah lima ini?
(I. MORALITAS
YANG LEBIH TINGGI)
11. “Di
sini, Udāyin, para siswaKu menghargaiKu karena moralitas yang lebih tinggi
sebagai berikut: ‘Petapa Gotama adalah bermoral, Beliau memiliki kelompok
moralitas tertinggi.’ Ini adalah kualitas pertama yang karenanya para siswaKu
menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung
padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu.
(II. PENGETAHUAN
DAN PENGLIHATAN)
12. “Kemudian,
Udāyin, para siswaKu menghargaiKu karena pengetahuan dan penglihatanKu yang
mulia sebagai berikut: ‘Ketika Petapa Gotama mengatakan “Aku mengetahui,”
Beliau sungguh mengetahui; ketika Beliau mengatakan “Aku melihat,” Beliau
sungguh melihat. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma melalui pengetahuan langsung
bukan tanpa pengetahuan langsung; Beliau mengajarkan Dhamma dengan landasan
yang kuat, bukan tanpa landasan yang kuat; Beliau mengajarkan Dhamma dengan
sikap yang meyakinkan, bukan dengan sikap yang tidak meyakinkan.’ Ini adalah
kualitas ke dua yang karenanya [10] para siswaKu menghormatiKu …
(III. KEBIJAKSANAAN
YANG LEBIH TINGGI)
13. “Kemudian,
Udāyin, para siswaKu menghargaiKu karena kebijaksanaan yang lebih tinggi
sebagai berikut: ‘Petapa Gotama adalah seorang bijaksana, Beliau memiliki
kelompok kebijaksanaan tertinggi. Tidaklah mungkin bahwa Beliau tidak meramalkan
implikasi dari suatu pernyataan atau bahwa Beliau tidak mampu membantah dengan
logis doktrin-doktrin orang lain yang ada sekarang.’ Bagaimana menurutmu,
Udāyin? Akankah para siswaKu, setelah mengetahui dan melihat demikian, datang dan
mencelaKu?” – “Tidak,
Yang Mulia.” – “Aku
tidak mengharapkan instruksi dari para siswaKu; adalah para siswaKu yang
senantiasa mengharapkan instruksi dariKu. Ini adalah kualitas ke tiga yang
karenanya para siswaKu menghormatiKu …
[Kitab Komentar : Anāgataṁ vādapathaṁ, implikasi dari suatu pernyataan. Bhikkhu Ñāṇamoli menerjemahkan “konsekuensi logis di masa depan
dari suatu pernyataan.” Maknanya sepertinya adalah bahwa Sang Buddha memahami
segala implikasi yang tidak diungkapkan dari doktrin-doktrinNya juga
doktrin-doktrin lawanNya.]
(IV. EMPAT
KEBENARAN MULIA)
14. “Kemudian,
Udāyin, ketika para siswaKu mengalami penderitaan dan menjadi korban
penderitaan, mangsa bagi penderitaan, mereka mendatangiKu dan bertanya tentang kebenaran
mulia penderitaan. Karena ditanya, Aku menjelaskan kepada mereka tentang
kebenaran mulia penderitaan, dan Aku memuaskan pikiran mereka dengan
penjelasanKu. Mereka bertanya tentang kebenaran mulia asal mula penderitaan … tentang
kebenaran mulia lenyapnya penderitaan … tentang kebenaran mulia jalan menuju
lenyapnya penderitaan. Karena ditanya, Aku menjelaskan kepada mereka tentang
kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan, dan aku memuaskan pikiran
mereka dengan penjelasanKu. Ini adalah kualitas ke empat [11] yang karenanya
para siswaKu menghormatiKu …
[Komentar : Mengutip Majjhima Nikāya sutta ke-141,
Saccavibhanga Sutta, Sang Buddha membabarkan:
20. “Dan apakah, Teman-teman, kelima kelompok unsur
kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan, secara singkat, adalah
penderitaan? Yaitu: kelompok unsur bentuk materi yang terpengaruh oleh
kemelekatan, kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan,
kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan, kelompok unsur
bentukan-bentukan [kehendak] yang terpengaruh oleh kemelekatan, dan kelompok
unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan. Ini adalah kelima kelompok
unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan, secara singkat, adalah
penderitaan. Ini disebut kebenaran
mulia penderitaan.
21. “Dan apakah, Teman-teman, kebenaran mulia
asal-mula penderitaan? Adalah ketagihan, yang membawa penjelmaan baru, yang
disertai dengan kesenangan dan nafsu, dan kesenangan dalam ini dan itu; yaitu,
ketagihan pada kenikmatan indria, ketagihan pada penjelmaan [kelahiran-kembali],
ketagihan pada tanpa-penjelmaan. Ini disebut kebenaran
mulia asal-mula penderitaan.
22. “Dan apakah, Teman-teman, kebenaran mulia
lenyapnya penderitaan? Adalah peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya, berhentinya,
lepasnya, membiarkan, dan menolak ketagihan yang sama ini. Ini disebut kebenaran mulia
lenyapnya penderitaan.
23. “Dan apakah, Teman-teman, kebenaran mulia jalan
menuju lenyapnya penderitaan? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar,
kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar,
perhatian benar, dan konsentrasi benar.”]
(V. JALAN
UNTUK MENGEMBANGKAN KONDISI-KONDISI BERMANFAAT)
(1. Empat
Landasan Perhatian)
15. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan
empat landasan perhatian. Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan
jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah
menyingkirkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia. Ia berdiam dengan merenungkan
perasaan sebagai perasaan … Ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai
pikiran … Ia berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek
pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan
ketamakan dan kesedihan terhadap dunia. Dan dengan hal ini banyak siswaKu
berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
[Kitab Komentar : Perihal “empat landasan perhatian”,
dijelaskan secara lengkap dalam Majjhima Nikāya 10. ketujuh kelompok pertama
“kondisi-kondisi yang bermanfaat” (paragraf nomor ke-15—21) membentuk
ketiga-puluh-tujuh bantuan menuju pencerahan (bodhipakkhiyā dhammā).
Abhiññavosānapāramippatta, mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung. Kitab Komentar menjelaskan sebagai pencapaian Kearahantaan. Ini
mungkin adalah makna satu-satunya dari kata pārami dalam keempat Nikāya.
Dalam literatur Theravāda belakangan, dimulai mungkin dari karya-karya seperti
Buddhavaṁsa, kata ini bermakna kualitas sempurna yang harus dipenuhi oleh seorang
Bodhisatta dalam banyak kehidupan untuk mencapai Kebuddhaan. Dalam konteks
tersebut bersesuaian dengan pāramitā dari literatur Mahāyāna, walaupun
daftar kualitasnya hanya bersesuaian sebagian.]
(2. Empat
Jenis Usaha Benar)
16.
“Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk
mengembangkan empat jenis usaha benar. Di sini seorang bhikkhu membangkitkan
kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat
yang belum muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan
pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk meninggalkan
kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang telah muncul … Ia
membangkitkan kemauan untuk memunculkan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang
belum muncul … Ia membangkitkan kemauan untuk mempertahankan kelangsungan,
ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan
atas kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Dan dengan demikian
banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung.
(3. Empat
Landasan Kekuatan Batin)
17. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan
empat landasan kekuatan batin. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan landasan kekuatan
batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari kemauan dan usaha penuh
tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi
yang muncul dari kegigihan dan usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan
batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari [kemurnian] pikiran dan
usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam
konsentrasi yang muncul dari penyelidikan dan usaha penuh tekad. Dan dengan demikian
banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung.
(4. Lima
Indria)
18. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan lima
indria. Di sini [12] seorang bhikkhu mengembangkan indria keyakinan, yang menuntun
menuju kedamaian, menuntun menuju pencerahan. Ia mengembangkan indria kegigihan
… indria perhatian … indria konsentrasi … indria kebijaksanaan, yang menuntun
menuju kedamaian, menuntun menuju pencerahan. Dan dengan demikian banyak
siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung.
(5. Lima
Kekuatan)
19. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan lima
kekuatan. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan kekuatan keyakinan, yang menuntun
menuju kedamaian, menuntun menuju pencerahan. Ia mengembangkan kekuatan
kegigihan … kekuatan perhatian … kekuatan konsentrasi … kekuatan kebijaksanaan,
yang menuntun menuju kedamaian, menuntun menuju pencerahan. Dan dengan demikian
banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung.
(6. Tujuh
Faktor Penerangan Sempurna)
20. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan
tujuh faktor penerangan sempurna. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan faktor penerangan
sempurna perhatian, yang didukung oleh keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya,
dan berakibat dalam pelepasan. Ia mengembangkan faktor penerangan sempurna penyelidikan-kondisi-kondisi
… faktor penerangan sempurna kegigihan … faktor penerangan sempurna sukacita …
faktor penerangan sempurna ketenangan … faktor penerangan sempurna konsentrasi
… faktor penerangan sempurna keseimbangan, yang didukung oleh keterasingan,
kebosanan, dan lenyapnya, dan berakibat dalam pelepasan. Dan dengan demikian
banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung.
(7. Jalan
Mulia Berunsur Delapan)
21. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan
Jalan Mulia Berunsur Delapan. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan pandangan benar,
kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar,
perhatian benar, dan konsentrasi benar. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam
setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
(8. Delapan
Kebebasan)
22. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan
delapan kebebasan ini. Dengan memiliki bentuk materi, seseorang melihat bentuk-bentuk:
ini adalah kebebasan pertama. Tidak melihat bentuk secara internal, ia melihat
bentuk secara eksternal: ini adalah kebebasan ke dua. Ia bertekad hanya pada
yang indah: ini adalah kebebasan ke tiga. [13] Dengan sepenuhnya melampaui
persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian
pada persepsi keberagaman, manyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ ia masuk
dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas: ini adalah kebebasan ke empat.
Dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa
‘kesadaran adalah tanpa batas,’ ia masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran
tanpa batas: ini adalah kebebasan ke lima. Dengan sepenuhnya melampaui landasan
kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ ia masuk dan berdiam
dalam landasan kekosongan: ini adalah kebebasan ke enam. Dengan sepenuhnya
melampaui landasan kekosongan, ia masuk dan berdiam dalam landasan bukan
persepsi juga bukan bukan-persepsi: ini adalah kebebasan ke tujuh. Dengan sepenuhnya
melampaui landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia masuk dan
berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan: ini adalah kebebasan ke delapan.
Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan
kesempurnaan pengetahuan langsung.
[Kitab Komentar menjelaskan pembebasan (vimokkha)
di sini sebagai bermakna pikiran yang sepenuhnya (tetapi sementara) terbebas
dari kondisi-kondisi yang berlawanan dan sepenuhnya (tetapi sementara)
terbebaskan melalui kesenangan dalam objek. Pembebasan pertama adalah
pencapaian empat jhāna menggunakan suatu kasiṇa (baca paragraf nomor
ke-24) yang diturunkan dari objek warna dalam tubuh diri sendiri; ke dua adalah
pencapaian jhāna-jhāna menggunakan kasiṇa yang diturunkan dari
objek eksternal; ke tiga dapat dipahami sebagai pencapaian jhāna-jhāna
melalui kasiṇa warna yang sangat murni dan indah atau empat brahmavihāra.
Pembebasan selanjutnya adalah pencapaian tanpa materi dan pencapaian lenyapnya.]
(9. Delapan
Landasan Transenden)
23. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan
untuk mengembangkan delapan landasan transenden. Dengan membayangkan bentuk
secara internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal, terbatas, cantik
dan buruk; dengan melampauinya, ia melihat sebagai berikut: ‘Aku mengetahui,
aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden pertama. Dengan membayangkan
bentuk secara internal, ia melihat bentuk secara eksternal, tanpa batas, cantik
dan buruk; dengan melampauinya, ia melihat sebagai berikut: ‘Aku mengetahui,
aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden ke dua. Dengan tidak membayangkan
bentuk secara internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal, terbatas,
cantik dan buruk; dengan melampauinya, ia melihat sebagai berikut: ‘Aku mengetahui,
aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden ke tiga. Dengan tidak membayangkan
bentuk secara internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal, tanpa batas,
cantik dan buruk; dengan melampauinya, ia melihat sebagai berikut: ‘Aku
mengetahui, aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden ke empat. Dengan tidak
membayangkan bentuk secara internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal,
biru, berwarna biru, berpenampilan biru, berkilau biru. Seperti halnya sekuntum
bunga rami, yang biru, berwarna biru, berpenampilan biru, berkilau biru, atau
hanya seperti kain Benares yang dihaluskan kedua sisinya, yang biru, berwarna
biru, berpenampilan biru, berkilau biru; demikian pula, dengan tidak
membayangkan bentuk secara internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal
… berkilau biru; dengan melampauinya, ia melihat sebagai berikut: ‘Aku mengetahui,
aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden [14] ke lima. Dengan tidak
membayangkan bentuk secara internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal,
kuning, berwarna kuning, berpenampilan kuning, berkilau kuning. Seperti halnya sekuntum
bunga kaṇṇikāra, yang kuning, berwarna kuning, berpenampilan
kuning, berkilau kuning atau hanya seperti kain Benares yang dihaluskan kedua
sisinya, yang kuning, berwarna kuning, berpenampilan kuning, berkilau kuning;
demikian pula, dengan tidak membayangkan bentuk secara internal, seseorang melihat
bentuk secara eksternal … berkilau kuning; dengan melampauinya, ia melihat
sebagai berikut: ‘Aku mengetahui, aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden
ke enam. Dengan tidak membayangkan bentuk secara internal, seseorang melihat
bentuk secara eksternal, merah, berwarna merah, berpenampilan merah, berkilau
merah. Seperti halnya sekuntum bunga sepatu, yang merah, berwarna merah,
berpenampilan merah, berkilau merah, atau hanya seperti kain Benares yang
dihaluskan kedua sisinya, yang merah, berwarna merah, berpenampilan merah,
berkilau merah; demikian pula, dengan tidak membayangkan bentuk secara
internal, seseorang melihat bentuk secara eksternal … berkilau merah; dengan
melampauinya, ia melihat sebagai berikut: ‘Aku mengetahui, aku melihat.’ Ini
adalah landasan transenden ke tujuh. Dengan tidak membayangkan bentuk secara internal,
seseorang melihat bentuk secara eksternal, putih, berwarna putih, berpenampilan
putih, berkilau putih. Seperti halnya bintang pagi, yang putih, berwarna putih,
berpenampilan putih, berkilau putih, atau hanya seperti kain Benares yang dihaluskan
kedua sisinya, yang putih, berwarna putih, berpenampilan putih, berkilau putih;
demikian pula, dengan tidak membayangkan bentuk secara internal, seseorang
melihat bentuk secara eksternal … berkilau putih; dengan melampauinya, ia melihat
sebagai berikut: ‘Aku mengetahui, aku melihat.’ Ini adalah landasan transenden
ke delapan. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai
pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa disebut
landasan-landasan transenden (abhibhūyatana) karena melampaui (abhibhavati,
mengatasi) kondisi-kondisi berlawanan dan objek-objeknya, melampaui
kondisi-kondisi berlawanan dengan penerapan penawar yang sesuai, melampaui
objek-objeknya melalui munculnya pengetahuan.
Perihal “landasan transenden pertama”, meditator
melakukan pekerjaan persiapan atas suatu bentuk internal – misalnya, mata yang
biru untuk kasiṇa-biru, kulit untuk kasiṇa-kuning,
darah untuk kasiṇa-merah, gigi untuk kasiṇa-putih –
tetapi gambaran konsentrasi (nimitta) muncul secara eksternal.
“Melampaui” bentuk-bentuk adalah pencapaian absorpsi bersama dengan munculnya
gambaran. Persepsi “aku mengetahui, aku melihat” adalah perhatian (ābhoga)
yang muncul setelah ia keluar dari pencapaian itu, bukan di dalam pencapaian.
Landasan transenden ke dua berbeda dengan yang pertama hanya pada perluasan
gambaran dari terbatas menjadi dimensi tanpa batas.
Landasan ke tiga dan ke empat melibatkan pekerjaan
persiapan yang dilakukan atas suatu bentuk eksternal dan munculnya gambaran
secara eksternal. Landasan ke lima hingga ke delapan berbeda dengan yang ke
tiga dan ke empat dalam hal kemurnian dan kecemerlangan yang lebih tinggi pada
warna-warnanya.]
(10. Sepuluh
Kasiṇa)
24. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan
untuk mengembangkan sepuluh landasan kasiṇa. Seseorang merenungkan kasiṇa-tanah ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tidak terbagi dan tidak
terukur. Yang lainnya merenungkan kasiṇa-air … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-api … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-udara … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-biru … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-kuning … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-merah … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-putih … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-ruang … Yang lainnya merenungkan kasiṇa-kesadaran [15] ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tidak terbagi dan
tidak terukur. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai
pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
[Kitab Komentar : Kasiṇa adalah suatu objek
meditasi yang diturunkan dari suatu alat fisik yang memberikan dukungan untuk
memperoleh gambaran visual dalam batin. Demikianlah, misalnya, sebuah piringan
yang terbuat dari tanah liat dapat digunakan sebagai objek permulaan untuk melatih
kasiṇa-tanah, semangkuk air
untuk melatih kasiṇa-air. kasiṇa-kasiṇa dijelaskan secara terperinci dalam Visuddhimagga
IV dan V. Akan tetapi, di sana, kasiṇa-ruang dibatasi pada ruang terbatas, dan kasiṇa-kesadaran digantikan
dengan kasiṇa-cahaya.]
(11. Empat
Jhāna)
25. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan
empat jhāna. Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing
dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam
jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia membuat
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam,
mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang
tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu.
Bagaikan seorang petugas pemandian atau murid petugas pemandian menumpuk bubuk
mandi dalam baskom logam dan, secara perlahan memerciknya dengan air, meremasnya
hingga kelembaban membasahi bola bubuk mandi tersebut, membasahinya, dan
meliputinya di dalam dan di luar, namun bola itu sendiri tidak meneteskan air;
demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak
ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang
muncul dari keterasingan itu.
[Kitab Komentar : Perumpamaan bagi jhāna-jhāna
“sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan” ini juga muncul dalam
Majjhima Nikāya 39, seperti juga perumpamaan bagi ketiga jenis terakhir
pengetahuan pada paragraf nomor ke 34—36.]
26. “Kemudian,
dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk
dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan
pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ia membuat sukacita dan kenikmatan
yang muncul dari konsentrasi itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi
tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita
dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Bagaikan sebuah danau yang airnya
berasal dari mata air di dasarnya dan tidak ada aliran masuk dari timur, barat,
utara, atau selatan, [16] dan tidak ditambah dari waktu ke waktu dengan curahan
hujan, kemudian mata air sejuk memenuhi danau itu dan membuat air sejuk itu
membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi seluruh danau itu, sehingga tidak
ada bagian danau itu yang tidak terliputi oleh air sejuk itu; demikian pula,
seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi
itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian
dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi.
27. “Kemudian,
dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan
penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani,
ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia
memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh
perhatian.’ Ia membuat kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu basah,
merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya
yang tidak terliputi oleh kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu. Bagaikan,
dalam sebuah kolam seroja biru atau merah atau putih, beberapa seroja tumbuh
dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam,
mengisi, dan meliputi seroja-seroja itu dari pucuk hingga ke akarnya; demikian
pula, seorang bhikkhu, membuat kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu
basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya
yang tidak terliputi oleh kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu.
28. “Kemudian,
dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya
atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
ke empat, yang memiliki bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan dan kemurnian
perhatian karena keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan
pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang
tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Bagaikan seorang yang duduk
dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian
dari tubuhnya [278] yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikianlah,
seorang bhikkhu duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan
cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya [17] yang tidak terliputi oleh
pikiran yang murni dan cerah itu. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam
setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
(12. Pengetahuan
Pandangan Terang)
29. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk memahami sebagai
berikut: ‘Jasmaniku ini, yang terbuat dari bentuk materi, terdiri dari empat
unsur utama, dihasilkan oleh ibu dan ayah, dan dibangun dari nasi dan bubur,
tunduk pada ketidak-kekalan, menjadi tua dan usang, tunduk pada kemusnahan dan
kehancuran, dan kesadaranku ini didukung oleh jasmani ini dan terikat dengan
jasmani ini.’ Misalkan terdapat sebuah permata beryl yang indah sebening air yang
Pāling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang,
memiliki segala kualitas baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah,
putih, atau cokelat menembus mengikatnya. Kemudian seseorang yang
berpenglihatan baik, memegangnya dengan tangannya, mengamatinya sebagai berikut:
‘Ini adalah permata beryl yang indah sebening air yang Pāling jernih,
bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang, memiliki segala
kualitas baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau
cokelat menembus mengikatnya.’ Demikian pula, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu
jalan untuk memahami sebagai berikut: ‘Jasmaniku ini … tunduk pada
ketidak-kekalan, menjadi tua dan usang, tunduk pada kemusnahan dan kehancuran,
dan kesadaranku ini didukung oleh jasmani ini dan terikat dengan jasmani ini.’
Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan
kesempurnaan pengetahuan langsung.
[Kitab Komentar : Paragraf nomor ke-29—36
menggambarkan delapan variasi dari pengetahuan yang lebih tinggi yang dalam
Sāmaññaphala Sutta, disebutkan sebagai buah pertapaan yang tinggi.]
(13. Jasmani
Ciptaan-Pikiran)
30. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk menciptakan dari
jasmani ini suatu jasmani lain yang memiliki bentuk, ciptaan-pikiran, lengkap
dengan segala bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan indria-indrianya. Bagaikan
seseorang yang mencabut sebatang buluh dari pelepahnya dan berpikir sebagai
berikut: ‘Ini adalah pelepah, ini adalah buluh; pelepah adalah satu hal, buluh
adalah hal lainnya; adalah dari pelepah ini buluh itu dicabut’; atau bagaikan seseorang
mencabut sebatang pedang dari sarungnya dan berpikir sebagai berikut: ‘Ini
adalah pedang, ini adalah sarungnya; pedang adalah satu hal, sarungnya adalah
hal lainnya; adalah dari sarung ini pedang itu dicabut’; [18] atau bagaikan
seseorang menguliti seekor ular dari kulitnya dan berpikir sebagai berikut:
‘Ini adalah ular, ini adalah kulitnya; ular adalah satu hal, kulitnya adalah
hal lainnya; adalah dari kulit ini ular itu dikuliti.’ Demikian pula, Aku telah
menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk menciptakan dari jasmani ini suatu
jasmani lain yang memiliki bentuk, ciptaan-pikiran, lengkap dengan segala
bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan indria-indrianya. Dan dengan demikian banyak
siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan
langsung.
(14. Jenis-jenis
Kekuatan Batin)
31. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengerahkan
berbagai jenis kekuatan batin: dari satu, mereka menjadi banyak; dari banyak,
mereka menjadi satu; mereka muncul dan lenyap; mereka bepergian tanpa rintangan
menembus dinding, menembus tembok, menembus gunung, seolah-olah menembus ruang
kosong; mereka menyelam masuk dan keluar dari tanah seolah-olah di air; mereka berjalan
di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; dengan duduk bersila,
mereka bepergian di angkasa bagaikan burung-burung; dengan tangannya mereka
menyentuh bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; mereka mengerahkan kekuatan
jasmani hingga sejauh alam-Brahma. Bagaikan seorang pengrajin tembikar yang
terampil atau muridnya dapat membuat dan membentuk tanah liat yang dipersiapkan
dengan baik menjadi berbagai bentuk kendi yang ia inginkan; atau bagaikan seorang
pengrajin gading terampil atau muridnya dapat membuat atau membentuk gading
yang dipersiapkan dengan baik menjadi berbagai karya seni gading yang ia
inginkan; atau bagaikan seorang pengrajin emas yang terampil atau muridnya
dapat membuat dan membentuk emas yang dipersiapkan dengan baik menjadi segala
jenis karya seni emas yang ia inginkan; demikian pula, Aku telah menyatakan
kepada para siswaKu jalan untuk mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin …
[19] … mereka mengerahkan kekuatan jasmani hingga sejauh alam-Brahma. Dan dengan
demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan
pengetahuan langsung.
(15. Unsur
Telinga Dewa)
32. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan unsur
telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, mereka mendengar kedua jenis
suara, suara surgawi dan manusia, suara yang jauh maupun dekat. Bagaikan
seorang peniup trompet yang terampil dapat membuat tiupannya terdengar di empat
penjuru tanpa kesulitan; demikian pula, Aku telah menyatakan kepada para
siswaKu jalan yang mana dengan unsur telinga dewa … jauh maupun dekat. Dan dengan
demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan
pengetahuan langsung.
(16. Memahami
pikiran makhluk-makhluk lain)
33. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk memahami pikiran
makhluk-makhluk lain, orang-orang lain, setelah melingkupi pikiran makhluk lain
dengan pikiran mereka sendiri. Mereka memahami pikiran yang terpengaruh nafsu
sebagai terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai
tidak terpengaruh nafsu; mereka memahami pikiran yang terpengaruh kebencian
sebagai terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian
sebagai tidak terpengaruh kebencian; mereka memahami pikiran yang terpengaruh
delusi sebagai terpengaruh delusi dan pikiran yang tidak terpengaruh delusi
sebagai tidak terpengaruh delusi; mereka memahami pikiran yang mengerut sebagai
mengerut dan pikiran yang kacau sebagai kacau; mereka memahami pikiran luhur
sebagai luhur dan pikiran tidak luhur sebagai tidak luhur; mereka memahami
pikiran yang terbatas sebagai terbatas dan pikiran tidak terbatas sebagai tidak
terbatas; mereka memahami pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi dan
pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi; mereka memahami
pikiran yang terbebaskan sebagai terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan
sebagai tidak terbebaskan. Bagaikan seorang laki-laki atau perempuan – muda,
belia, dan menyukai hiasan – ketika melihat bayangan wajahnya di sebuah cermin
yang bersih cemerlang atau dalam semangkuk air jernih, akan mengetahui jika
terdapat noda sebagai berikut: ‘Ada noda,’ [20] atau akan mengetahui jika tidak
ada noda sebagai berikut: ‘Tidak ada noda’; demikian pula, Aku telah menyatakan
kepada para siswaKu jalan untuk memahami … pikiran yang tidak terbebaskan
sebagai tidak terbebaskan. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah
mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
(17. Mengingat
Kehidupan Lampau)
34. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengingat banyak
kehidupan lampau mereka, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran,
empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga
puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran,
seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak
kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di
sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku
seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur
kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di
tempat lain; dan di sana aku bernama itu … dan meninggal dunia dari sana, aku
muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia
mengingat banyak kehidupan lampau. Bagaikan seseorang yang pergi dari desa
tempat tinggalnya ke desa lain dan kemudian kembali lagi ke desanya, ia
berpikir: ‘Aku pergi dari desaku ke desa itu, dan di sana aku berdiri demikian,
duduk demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian; dan dari desa itu
aku pergi ke desa lain, dan di sana [21] aku berdiri demikian … berdiam diri
demikian; dan dari desa itu aku kembali lagi ke desaku.’ Demikian pula, Aku
telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengingat banyak kehidupan
lampau mereka. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai
pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
(18. Mata
Dewa)
35. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan
mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, mereka melihat makhluk-makhluk
meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya
dan miskin. Mereka memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan
perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak
pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam
kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku
baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan
benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang baik,
bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui
manusia, mereka melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali,
hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, mereka memahami bagaimana
makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka. Bagaikan terdapat dua
rumah dengan pintu-pintu dan seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di
antara kedua rumah itu melihat orang-orang masuk dan keluar dari rumah itu silih
berganti, demikian pula, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang
mana dengan mata-dewa … Mereka memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam
setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung. [22]
(19. Hancurnya
Noda-Noda)
35. “Kemudian,
Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan
menembusnya untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, mereka di
sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan
melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda. Bagaikan
terdapat sebuah danau pada sebuah ceruk di gunung, bersih, jernih, dan tidak
terganggu, sehingga seseorang dengan penglihatan yang baik yang berdiri di tepinya
dapat melihat kerang, kerikil, dan koral, dan juga kawanan ikan yang berenang
ke sana-sini dan beristirahat, ia berpikir: ‘Danau ini bersih, jernih, dan
tidak terganggu, dan terdapat kerang, kerikil, dan koral ini, dan juga kawanan
ikan yang berenang ke sana-sini dan beristirahat.’ Demikian pula, Aku telah menyatakan
kepada para siswaKu jalan yang mana dengan menembusnya untuk diri mereka
sendiri dengan pengetahuan langsung, mereka di sini dan saat ini masuk dan
berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa
noda dengan hancurnya noda-noda. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam
setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
37. “Ini, Udāyin, adalah kualitas ke lima yang karenanya para siswaKu
menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung
padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu.
38. “Ini, Udāyin, adalah lima kualitas yang karenanya para siswaKu
menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung
padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Pengembara Udāyin merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang
Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, alih-alih diajarkan agar membangkitkan
kemauan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat
yang belum muncul, maupun agar membangkitkan kemauan untuk meninggalkan
kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang telah muncul, ataupun memberi
motivasi agar membangkitkan kemauan untuk memunculkan kondisi-kondisi yang
bermanfaat yang belum muncul, berikut inilah candu-beracun yang diberikan kepada
umat agama samawi, sekalipun orang berakal-sehat akan menyadari iming-iming demikian
adalah “too good to be true”—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan akal-sehat serta pikiran-jernih disamping nurani Anda sendiri,
apakah sang “nabi rasul Allah” memiliki apa yang disebut “indria kebijaksanaan”
yang menuntun menuju kedamaian dan menuntun menuju pencerahan ataukah
sebaliknya, pendosa-berat yang hendak menceramahi para pendosawan lainnya
sehingga menyerupai “orang buta” yang hendak menuntun “para butawan” lainnya,
dimana neraka pun dipandang sebagai surga dan berduyun-duyun mereka terperosok
masuk ke dalamnya dengan rasa bangga dan senang—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]