Kita Bisa Bertekad dan Membuat Tekad untuk Pengondisian Kelahiran Kita Berikutnya

Karena Ada KEMATIAN, maka Ada KELAHIRAN

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Question: Banyak sekali kejahatan dan pelaku kejahatan di republik ini, sementara itu polisi tidak bisa diandalkan, lebih sering mengabaikan dan menelantarkan aduan ataupun laporan korban dan masyarakat. Apakah dimungkinkan menurut hukum tumimbal lahir, untuk bertekad agar saya dikehidupan berikutnya, saat meninggal dunia dan terlahirkan kembali, diri saya ini bisa rebirt atau reborn sebagai seorang penegak hukum yang benar-benar dapat diandalkan oleh masyarakat untuk memberantas kejahatan?

Pejalan Kaki Vs. Banteng dan Kuda BESI (Pengendara Mobil dan Motor)

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Question: Tidak mudah menjadi seorang pejalan kaki di negeri ini (Indonesia), kondisi jalan umumnya tidak layak dan tidak manusiawi (tidak pejalan kaki “friendly”). Ketika mendapati kondisi berat jalanan seperti adanya lubang ataupun ranting-ranting terjuntai di pinggir jalan ataupun atap-atap rumah di sisi kiri jalan yang pendek tingginya sehingga berpotensi melukai mata kami sebagai pejalan kaki yang berpostur tubuh tinggi, yang terpaksa dalam beberapa kesempatan karenanya harus bergeser ke bahu jalan agak ke tengah, pengendara kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat seketika mengklakson saya, bahkan tidak jarang memaki atau menatap ganas kepada saya selaku pejalan kaki.

Mereka bersikap seolah pejalan kaki menghalangi jalan mereka dan menjadi kasta paling rendah yang tidak berhak atas jalan (milik) umum. Namun tidak lama kemudian, tidak jauh dari ruas jalan yang sama, saya berjalan persis di sisi kiri bahu jalan, akan tetapi masih juga diklakson oleh pengedara dari arah belakang. Pejalan kaki sungguh-sungguh menjadi kalangan minoritas di republik (Indonesia) ini, mungkin karena trauma menjadi pejalan kaki yang selalu lemah jika menghadapi kuda atau banteng besi.

Jika pejalan kaki hendak memaki atau meneriaki mereka, pejalan kaki yang dipandang “tidak waras”, sementara itu mereka seenaknya dapat mengklaksoni seorang pejalan kaki dengan begitu kerasnya tanpa rasa malu ataupun bersalah, untuk mengintimidasi ataupun meminta didahulukan oleh pejalan kaki. Semestinya mereka merasa malu, namun dasarnya bangsa yang memang tidak punya rasa malu, bahkan justru meminta didahulukan oleh pejalan kaki.

Semestinya memberi jalan, bukan justru merampas hak pejalan kaki. Bagaimana kata-kata yang tepat dapat seorang pejalan kaki utarakan kepada mereka, bila mereka masih juga menuding pejalan kaki sebagai pengganggu ataupun penghalang jalan mereka? Karena jalan (milik) umum (selama ini) didominasi pengendara kendaraan bermotor, maka mereka berdelusi bahwa jalan umum adalah jalan milik mereka, para pengendara, bukan jalan milik pejalan kaki. Bukankan itu tidak logis serta tidak etis? Mengapa bangsa yang katanya tekun dan rajin beribadah ini, bahkan tidak tahu apa itu “etika berkendara”? Jangankan bersikap Tuhanis kepada Tuhan, bersikap humanis kepada sesama manusia pun mereka gagal.

Brief Answer: Pejalan kaki juga dapat bersikap diktator di jalan umum, ketika jumlah pejalan kakinya ialah lebih dari satu orang, biasanya berupa berjalan bersisian di kanan dan di kiri, bukan di depan dan di belakang, sehingga kerap memakan badan jalan dan menghalangi pengguna jalan lainnya, budaya mana telah ternyata bukan hanya monopoli Warga Negara Indonesia, warga asing pun punya tendensi atau kebiasaan serupa—itulah cerminan “power tends to corrupt”, mengingat jumlah orang lebih dari satu orang sudah merupakan “power” itu sendiri dan cenderung disalah-gunakan. Tidak terkecuali seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor (“power”), baik roda dua maupun roda empat, kerap mengundang godaan berupa tendensi untuk bersikap sewenang-wenang di jalanan terhadap pihak yang lebih lemah dan paling lemah, yakni terhadap pejalan kaki.

Memang tidak mudah menjadi seorang pejalan kaki di Indonesia, kondisi jalan maupun infrastruktur yang tidak mendukung disamping tidak manusiawi, dimana pemerintah seolah lebih memerhatikan sarana dan prasarana bagi pengendara kendaraan bermotor, dan masih juga mentolerir pedagang kaki lima yang merambah trotoar dengan mengatas-namakan toleran terhadap usaha mikro, namun disaat bersamaan tidak toleran terhadap pejalan kaki.

Konon, orang-orang dengan tingkat intelijensi tinggi yang kerap disebut dijuluki “jenius”, adalah orang-orang yang menyukai akfitivas berjalan kaki dalam kegiatannya sehari-hari ketimbang berkendara, meski mereka memiliki kendaraan pribadi yang lebih banyak menghuni garasi. Bagaimana negeri ini mau mengasuh dan membesarkan seorang warga yang notabene bisa jadi “jenius”, bila di negeri ini kondisi jalan umumnya tidak ramah terhadap mereka, para pejalan kaki tersebut? Untuk menilai bangsa, penuh atau miskinnya warga yang tergolong “jenius”, maka lihatlah kondisi jalan umum ataupun jalan raya kita, jamak atau jarangnya pejalan kaki.

Berikut tips kalimat yang dapat diutarakan oleh kalangan pejalan kaki ketika dilecehkan oleh para pengendara kendaraan bermotor yang saling “bersinggungan” atau berkonflik dengan pejalan kaki sebagai sesama pengguna jalan, terutama ketika para kalangan pengendara kendaraan bermotor tersebut justru menyalahkan pihak pejalan kaki yang “malang” (karena harus menghadapi teriknya sinar mataharai yang menyengat, serangga yang mengancam, tebaran debu dan asap knalpot kendaraan bermotor, genangan air pada lubang jalan, jalan yang tidak rata dan penuh lubang, guyuran hujan, ranting-ranting yang menjuntai, atap perumahan yang terkadang sangat rendah, dsb):

“Jangan arogan. Jika (Anda) berani, berjalan kaki-lah, jangan naik kendaraan bermotor. Hanya pengecut yang beraninya naik kendaraan bermotor.

“Yang selama ini zalim, ialah pengendara kendaraan bermotor, bukan sebaliknya. Yang suka mengebut dan parkir sembarangan, adalah kalian, para pengendara. Namun yang selama ini selalu mengalah, adalah pejalan kaki.

“Kalian itu, para pengendara, begitu sabar ketika menemukan kendaraan yang parkir di bahu ataupun di badan jalan. Tapi sikap kalian kepada pejalan kaki, kalian klakson keras-keras dan arogan. Otak kalian taruh di mana sih, lebih bersabar terhadap benda mati daripada terhadap pejalan kaki (manusia)?”

PEMBAHASAN:

Kekuasaan maupun kekuatan, cenderung menggoda untuk disalah-gunakan, dimana pola yang sama selalu berulang, sepanjang zaman, baik penguasa negara maupun rakyat jelata sesama sipil. Mengendarai kendaraan bermotor, cenderung membuat pengendaranya bertendensi untuk menjadi arogan di jalan umum, menyalah-gunakan “bumper besi” kendaraan yang dikendarainya yang berpotensi melukai terutama terhadap warga yang lemah seperti pejalan kaki. Mengendarai kendaraan, adalah faktor kekuatan dan kekuasaan itu sendiri. Karenanya, “power” dalam pengejawantahannya di keseharian, bisa berupa faktor kekuatan dan kekuasaan karena memiliki sumber daya akses terhadap modal, menaiki dan mengemudikan kendaraan, dua orang yang berjalan kaki, kerap “tends to corrupt”. Apa yang diutarakan oleh Lord Acton bahwa, “Power tends to corrupt. Absolute power, corrupt absolutely”, selalu bersifat relevan dan aktual, bukan sekadar mitos ataupun pernyataan klise tanpa makna.

Secara pribadi, penulis pun merupakan seorang pejalan kaki yang aktif berjalan kaki dalam setiap keperluan saat berada di luar rumah, dan memang turut merasakan lewat pengalaman pribadi secara langsung betapa infrastruktur jalanan yang sangat amat tidak ramah dan tidak bersahabat terhadap kalangan pejalan kaki di Indonesia, terutama ibukota Jakarta yang notabene megapolitan, ditambah oleh faktor ketidak-disiplinan warga yang kerap memarkir kendaraan dengan merampas hak pejalan kaki atas trotoar maupun bahu jalan, pejalan kaki yang “berebut” ruang trotoar dengan “pedagang kaki lima” yang menggelar lapak dagangan secara merampas hak pejalan kaki, terlebih menghadapi manusia-manusia yang berkekuasaan dan berkekuatan karena mengendarai “banteng / kuda besi”.

Alhasil, pejalan kaki secara “de facto” memang merupakan “kasta” yang tersisihkan dan kurang mendapat perhatian pemerintah, semata karena merupakan kalangan “minoritas”—atau dipaksa dan terpaksa menjadi “minoritas”. Mengenai betapa “zolim”-nya pengendara kendaraan bermotor, dimana pejalan kaki selalu diposisikan sebagai “kasta rendahan” yang harus mengais-rais ruas jalan umum di Indonesia, dimana juga pejalan kaki yang kerap dipaksa dan terpaksa mengalah dari “ego” para pengendara yang merasa berhak memonopoli ruas jalan umum, kejadian berikut merupakan pengalaman pribadi penulis yang penulis alami dan jumpai pada ruas jalan manapun pada berbagai kota di Indonesia, entah ruas jalan yang sepi maupun ramai, sejak dahulu kala, saat kini, maupun tampaknya juga akan mengalami pola senada dimasa yang akan datang.

Ketika entah itu pengendara sepeda roda dua maupun sepeda motor melaju secara melawan arus, selalu saja 100% kejadiannya ialah penulis yang berjalan di sisi (paling) kiri jalan, sisi mana menjadi hak dari penulis, pengendara tersebut tidak mau mengalah, dan tetap melajukan “banteng besinya” dengan resiko penulis akan ditabrak dan tertabrak “bumper besi” sehingga berpotensi terluka, bilamana penulis tidak menghindarinya dengan bergeser agak ke badan jalan, dengan resiko terkena tabrak kendaraan yang melaju dari arah belakang—sekalipun para pengendara tersebut menyadari, bahwa penulis tidak memiliki mata indera penglihatan di belakang kepala, namun akibat “ego”, sang pengendara yang melaju secara melawan arus sekalipun dapat melihat arus lalu-lintas di belakang penulis, tetap tidak mau mengalah dan merampas hak pejalan kaki atas sisi kiri jalan (mengorbankan bahkan mengancam keselamatan pejalan kaki selaku pengguna jalan yang tertib), dan tetap melajukan kendaraannya secara melawan tanpa mengurangi laju kecepatan, tanpa rasa malu terhadap korban (pejalan kaki) maupun tanpa rasa takut (pada hukum karma). Mereka tidak takut melukai pejalan kaki (manusia), namun takut terhadap tilang elektronik berupa denda.

Bangsa “agamais”, namun dalam keseharian begitu produktif mencetak dosa. Buat dosa, siapa takut? Ada “penghapusan / pengampunan dosa” (aboliton of sins), agar tidak “mubazir”. Itulah yang terjadi, suatu fenomena sosial, ketika bangsa yang masih primitif—alias belum beradab—diberi kekuasaan dan keleluasaan mengendarai kendaraan bermotor, dapat dipastikan “tends to corrupt”. Kejadian begitu ini, pola yang sama selalu terulang menjelma budaya, dimana hampir selalu penulis jumpai, sedikitnya satu kali peristiwa setiap kali penulis berjalan kaki di luar rumah, pada ruas jalan umum manapun, yang menjadi cerminan betapa ironis serta memprihatinkannya perilaku yang diterima kalangan pejalan kaki oleh sikap arogansi pengendara kendaraan bermotor yang “irasional”.

Sudah dari bertahun-tahun lampau penulis dapati dan alami, bahkan juga kembali penulis alami pada pagi hari ini, peristiwa mana sudah tidak terhitung lagi jumlahnya penulis hadapi, ketika penulis berjalan kaki di sisi kiri jalan, pengendara entah pengendara roda dua maupun roda empat, mengklaksoni penulis tanpa sikap kompromi ataupun toleran, sekalipun kondisi jalanan begitu berat bagi penulis selaku pejalan kaki, tidak rata dan ditambah rerantingan tumbuhan yang tumbuh tidak terpangkas maupun atap-atap rumah yang pendek di pinggir jalan, namun tidak jauh di depan, hanya berselang beberapa ratus meter jauhnya, sang pengendara yang sama “mendadak bersabar”, “mendadak alim”, “mendadak penyabar”, dengan tidak mengklaksoni baik itu sepeda motor maupun mobil yang diparkir di bahu jalan atau bahkan memakan separuh dari badan jalan, dan dengan sabar menghentikan lajunya, menunggu adanya kesempatan untuk merayap ke lajur jalan seberang untuk bisa melintas.

Penulis adalah “makhluk hidup”, dimana kondisi pejalan kaki dan jalanan yang tidak ramah terhadap pejalan kaki sudah begitu menyukarkan para pejalan kaki, sehingga adalah momen tepat bagi pengendara untuk bersikap sabar dan toleran terhadap pejalan kaki, dimana para pengendara tersebut cukup duduk manis dan dapat sampai pada tujuan dengan cepat, bahkan masih pula menikmati subsidi bahan bakar dari pemerintah, tidak mengalami resiko tersengat serangga, ranting tanaman, maupun sinar terik mentari yang membakar, guyuran hujan, cipratan genangan air oleh kendaraan yang melintas, asap knalpot yang menyembur (terutama motor roda dua yang memakai knalpot “racing”), polusi udara, terserempet dan terluka, berjumpa “mad dog”, berpapasan dengan preman, maupun resiko-resiko lainnya.

Sementara itu, kendaraan yang dalam kondisi diparkir ialah “benda mati”, namun para pengendara yang melintas telah ternyata lebih bersikap toleran dan penyabar menghadapi benda mati daripada ketika mereka berhadapan dengan seorang manusia pejalan kaki yang sudah malang kondisinya, masih juga di-“bully” oleh arogansi penyalah-gunaan klakson kendaraan bermotor secara tidak bertanggung-jawab. Itukah yang disebut sebagai intelek, logis, berakal sehat, bertanggung-jawab, “agamais”, etis, sopan, santun, bertata-krama, Ketimuran, ataukah memang budaya khas Bangsa “Made in Indonesia”? Lagi-lagi, penjelasannya ialah “power tends to corrupt”. Bangsa Indonesia ialah bangsa yang bahkan belum siap untuk menggunakan alat-alat semacam “banteng besi”, karena tingkat peradabannya sama sekali masih belum memadai.

Perbuatan baik yang paling mendasar, bukanlah seperti berdana koin “recehan” ke kotak amal, namun kemauan untuk “bersikap sabar”. Bila seseorang tidak mampu bersikap bersabar, maka jangan harap ia mampu dan mau berbuat kebajikan yang lebih tinggi, seperti jiwa altruistik, berwelas asih, jiwa rela berkorban, berdonasi (namun bukan “recehan”), memaafkan, mengulurkan tangan untuk menolong, merawat, maupun berkegiatan sosial lainnya yang mana pada pokoknya ialah kerelaan berkorban, kerelaan mengalah, kerelaan bersabar, kerelaan memberikan.

Jangankan diharapkan sebagai bangsa yang gemar berdana—seperti disebut-sebut sejumlah media yang mengatas-namakan berdasarkan survei yang menyebutkan “Indonesia sebagai bangsa paling murah hati dan paling gemar berdana”—janganlah jauh-jauh mengklaim sebagai bangsa yang pemurah dan pemaaf, dimana faktanya untuk bersabar terhadap manusia (makhluk hidup) bernama “pejalan kaki” sekalipun, mereka telah ternyata gagal dan lebih bersabar terhadap benda mati semacam kendaraan yang diparkir / terparkir di pinggir maupun di badan jalan. Sama sekali tidak lucu, tidak logis, serta tidak patut untuk terus-menerus dilestarikan.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Appreciating Life and Being Happy, is a Must. Menghargai HIdup dan Berbahagia, adalah Keharusan

HERY SHIETRA Appreciating Life and Being Happy, is a Must. Menghargai HIdup dan Berbahagia, adalah Keharusan

Having wise close people,

And sincerely love us,

It is a valuable condition,

We should be grateful and appreciate,

And maintain such positive relationships,

So that it doesn’t become extinct.

Jangan Bersikap Seolah-Olah Hanya Anda yang Berat dan Letih Mencari Uang

SEBELUM MEMINTA DIMAKLUMI, MAKLUMI DAHULU ORANG LAIN

Pada suatu pagi menjelang siang, saat hendak memasuki rumah untuk mengambil air, di depan gerbang kediaman penulis, melintas seorang bapak yang memikul tikar jualannya yang ia jajakan sepanjang jalan dengan berjalan kaki—“kerja keras”, alih-alih “kerja cerdas”, dimana yang bersangkutan bisa saja meminjam modal usaha untuk membeli sepeda dalam rangka berjualan tikar tanpa harus memikul tikar dagangannya.

The Paradox of Freedom, Responsibility, and Self-Control. Paradoks tentang Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Pengendalian Diri

HERY SHIETRA, The Paradox of Freedom, Responsibility, and Self-Control. Paradoks tentang Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Pengendalian Diri

For whose benefit and good,

Those freedom,

Responsibility,

And self-control?

When freedom,

Tend to lead us astray,

So we need to learn about self-control.

Gado-Gado Carina Bojong indah, HARAM (BERACUN & JOROK TIDAK DICUCI, BUMBUNYA PESTISIDA PLUS KUMAN PENYAKIT)

Gado-Gado Carina, Bojong Indah, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Bumbunya PESTISIDA, TOXIC! BERACUN! Halal ataukah Haram?

Gado-Gado Carina Menjual RACUN untuk Dimakan Konsumennya yang Bayar Mahal!

Gado-Gado Carina JUAL MAHAL NAMUN JUSTRU MERUSAK DAN MENCELAKAI KESEHATAN DAN KESELAMATAN KONSUMENNYA, DURHAKA, PENDOSA, JAHAT!

Hargai serta Optimalkan Potensi dan Bakat Diri Kita Sendiri, dengan Tetap Berwelas-Kasih terhadap Kekurangan dan Kelemahan Diri Kita

SENI SOSIAL

Berfokus pada Kelebihan dan Keunggulan Diri alih-alih Berjibaku pada Kekurangan dan Kelemahan

Prestasi-Prestasi yang Dimiliki Orang-Orang Besar, mampu Menutupi Berbagai Kekurangan Dirinya. Karenanya, Optimalkanlah Berbagai Keunggulan, Bakat, dan Potensi Diri Kita—alih-alih Bergelut dan Berjibaku pada Kelemahan Diri Kita

Question: Sebagai angkatan kerja yang tergolong masih sangat muda, mengapa saya merasa adanya ketidak-cocokan dengan berbagai pemilik perusahaan tempat saya mengajukan lamaran kerja? Mereka lebih banyak mencoba menggali kelemahan-kelemahan dan kekurangan saya ketimbang lebih ingin mengetahui maupun mengeksplorasi apa yang menjadi keunggulan dan kelebihan-kelebihan saya. Apa hanya saya sendiri saja yang “aneh” dengan perasaan semacam ini, atau memang lazim adanya dijumpai orang-orang seusia saya?

Agama Islam juga Mengenal Sistem Kasta Penggolongan Masyarakat

SENI SOSIAL

Agama Islam Mengenal dan Melestarikan Sistem KASTA, Kasta Pendosa-Penjilat, Kasta Kafir, dan Kasta Budak Seksuil

Question: Apakah ada agama lain diluar Agama Hindu, yang juga mengenal pembagian kelompok strata sosial masyarakatnya ke dalam segregasi semacam sistem kasta seperti pengotak-kotakan kaum di India yang masih berlangsung hingga dewasa ini?

TAMU yang Wajib Tunduk, Patuh, serta Menghormati Aturan Milik TUAN RUMAH, Bukan Sebaliknya. Kasus PENIPUAN Johnsen Tannato

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Johnsen Tannato, Gembel Sinting PENIPU yang Tidak Mau Bayar SEPESER PUN namun Mengklaim Dirinya sebagai Konsumen yang Merasa Berhak Meminta Dilayani oleh Profesi Konsultan yang ia PERKOSA dan PERBUDAK

Question: Ketika menghadapi orang-orang “irasional” dan “arogan” (orang-orang yang “sukar”) yang suka memaksakan kehendaknya sendiri dan tidak bersikap profesional, tidak mampu menghormati ataupun menghargai profesi orang lain maupun tuan rumah ketika bertandang, sebaiknya apa yang perlu kita utarakan agar sikap irasional mereka tidak semakin menjadi-jadi dan merongrong serta meresahkan pemilik rumah ataupun pemilik usaha?

JIka Anak Kandung Sendiri saja Mau dan Tega Disembelih Demi EGO, apalagi terhadap Orang Lain

SENI SOSIAL

Ada Beda antara Godaan Setan dan Cobaan Tuhan, namun Sama-Sama Berupa Bisikan Gaib

Menyembelih dan Mengorbankan Anak, Bukanlah Cinta, namun EGO

Question: Mengapa orangtua bisa begitu egoisnya kepada anak kandung sendiri? Apakah hanya anak, yang bisa durhaka?

Hidup adalah Perjalanan Mendidik Diri Kita Sendiri, Mengikis Sifat dan Pola Pikir Irasional

SENI PIKIR & TULIS

Akibat Cara Berpikir yang Irasional, Kita Memandang yang Tidak Penting sebagai Penting, dan yang Berharga sebagai Tidak Berharga

Kita Tidak Terlahir dalam Kondisi Rasional, Namun Irasional

Masih jelas dalam ingatan penulis, ketika penulis masih seorang bocah kecil yang bodoh, banyak sekali barang-barang yang penulis “bocah” lekati label sebagai “barang milik aku”, lalu melekat erat terhadapnya sedemikian rupa hingga menyerupai “posesif” yang agresif sifatnya. Ketika barang “milik aku” itu rusak karena suatu hal terutama kerusakan mana diakibatkan oleh perbuatan orang lain, penulis “bocah” menjadi ngambek, marah, hingga mengamuk, seolah-olah ada anggota tubuh penulis yang telah dilukai dan disakiti. Memiliki barang, ibarat membuat diri kita menjadi ringkih dan riskan, ketika barang tersebut rusak atau dirusak oleh orang lain, kita merasa seperti ada anggota tubuh kita yang terluka sehingga kita merasakan sakit dan menderita. Orang-orang yang memiliki banyak kepemilikan tanah tersebar di berbagai kota dan daerah, ketika terdapat satu saja objek tanah miliknya diserobot oleh pihak lain, maka ia akan merasa seolah ada bagian dari tubuhnya yang telah diamputasi, dicuri darinya, dan terluka berdarah.

Sesama Pendosa / Penjahat Biasanya Saling Kompromistis

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Question: Mengapa ada orang, yang mengakunya orang baik, tapi kok suka marah-marah?

Kiat Membentengi Diri dari Modus MANIPULASI PIKIRAN

SENI PIKIR & TULIS

Seni Berdiri di atas Kaki dan Pikiran Sendiri

Dunia ini Tidak Pernah Kekurangan para Penipu dan Penjahat

Manipulasi pikiran, kerap kita jumpai dalam keseharian, masif sifatnya, intrusif, terselubung ataupun yang eksplisit modusnya, kita sadari maupun tidak kita sadari telah menjadi sasaran manipulasi, serta kasat mata maupun tidak kasat mata. Manipulasi pikiran yang terselubung, penetrasinya berupa memberikan umpan berupa iming-iming agar lawan bicara termakan harapan semu. Sementara itu manipulasi pikiran yang eksplisit biasanya dilakukan dengan membuat lawan bicara merasa ketakutan lewat bentuk-bentuk ancaman, intimidasi, atau sejenisnya.

Dunia ini Tidak Pernah Kekurangan PLONCO Siswa / Mahasiswa, namun Miskin TELADAN

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Plonco Siswa / Mahasiswa, Tidak Berfaedah, mengapa masih Dibudayakan pada Lingkungan Akademik seperti Sekolahan maupun Kampus?

Question: Sebetulnya hal semacam per-plonco-an terhadap siswa maupun mahasiswa di sekolah dan di kampus, apakah ada manfaatnya dan hal positifnya, sehingga dari dulu hingga kini masih saja ada praktik plonco baik di sekolah maupun di kampus yang mana para siswa senior menjadikan plonco sebagai ajang balas-dendam serta pamer kekuasaan akibat relasi yang timpang antara senior dan junior? Mengapa juga pihak sekolah atau kampus, membiarkan praktik primitif kurang beradap semacam itu terus berlangsung?

Tidak Mengenal Manusia maka Tidak Sayang, namun Makin Mengenal maka Semakin Mengerikan

SENI PIKIR & TULIS

Manusia adalah Makhluk (yang) IRASIONAL, Tidak Logis dan Pintar-Pintar (namun) Bodoh

Umat Manusia Tidak Seindah yang Kita Bayangkan maupun Harapkan. Ini Dunia Nyata, bukan Dunia Dongeng yang Manis dan Ideal

Pepatah pernah berpesan, “tidak mengenal, maka tidak sayang”. Anekdot klise tersebut ada benarnya, namun sayangnya tidak betul-betul lengkap, mengingat terdapat ekor kalimat yang selengkapnya berbunyi, “..., namun semakin kita mengenal manusia, semakin kita merasa ‘ngeri’!” Mengapa kita patut merasa sebentuk “kengerian” ketika kita semakin mengenal hati dan isi atau cara berpikir seorang manusia? Semata karena kita semakin tahu “wajah asli” seseorang yang selama ini hidup berdampingan dengan kita, semakin kita tahu mengenai kekotoran batin yang dapat dimiliki dan dilekati oleh umat manusia, dan betapa manusia adalah “makhluk yang irasional” disamping penuh dengan “persona” (topeng)—manusia adalah “makhluk irasional”.

Bila HAUS DARAH disebut sebagai CINTA DAMAI, maka yang disebut sebagai ANTI KEDAMAIAN seperti apakah?

SENI JIWA

Pertanyaan bagi para Muslim, Mohon Klarifikasi dan Dijawab

Jika sedang Ibadah saja, seperti Itu Sikap para Muslim terhadap Orang Lain, (maka) bagaimana ketika Mereka Tidak sedang Beribadah?

Sering penulis bertanya kepada para kalangan Muslim, yang beribadah dengan praktik penggunaan speaker pengeras suara eksternal yang mereka pasang di Masjid, menyerupai “polusi suara” yang merampas ketenangan hidup maupun istirahat umat agama lain yang juga punya hak untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing tanpa saling mengganggu, maka bagaimana ketika mereka tidak sedang beribadah dan tidak sedang berbusana “agamais”, perampasan semacam apa yang akan mereka lakukan? Ketika para Muslim mengatas-namakan Agama Islam untuk berbuat apapun semau mereka, sebagai legitimasi atau justifikasi perbuatan apapun yang mereka perbuat, maka bagaimana dengan gaya hidup para Muslim tersebut ketika tidak sedang ber-“agamais”?

3 Faktor Relasi yang Ideal antar Manusia

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Jangan Paksakan Diri maupun Keadaan, dan Jangan Bersikap Seolah-Olah Tiada Orang yang Lebih Layak dan Lebih Tepat untuk menjadi Pilihan Kita

Question: Yang disebut dengan relasi atau hubungan antar manusia yang sehat, positif, dan berfaedah, seperti apa bentuk dan contohnya?

Apakah hanya Anak yang dapat Durhaka? Apakah Orangtua tidak dapat Durhaka kepada Anak?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Masing-Masing Peran dan status Memiliki Tanggung-Jawabnya Sendiri

Question: Apakah hanya anak yang “memonopoli” kata “durhaka”? Bagaimana dengan banyak orangtua di luar sana, yang justru mengabaikan dan menelantarkan anak, atau bahkan membuat anak tersiksa hidupnya dan terjerumuskan oleh teladan buruk orangtuanya? Itu ibarat dua pasal “maut” untuk anak, berikut : Pasal Pertama, orangtua selalu benar dan anak selalu salah. Pasal Kedua, jika orangtua salah atau keliru, (maka) rujuk aturan dalam Pasal Pertama. Jadilah, orangtua lebih cenderung bersikap arogan (sewenang-wenang atau cenderung bersikap seenaknya) terhadap anak kandungnya sendiri sekalipun.

Orang Baik untuk Dihargai, Dilindungi, dan Dilestarikan, bukan untuk Dijadikan Sasaran dan Mangsa Empuk, agar Tidak Punah

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Orang Suci pun Sesekali Perlu Menunjukkan TARING TAJAM-nya agar Tidak Dijadikan Objek BULLYING Tangan-Tangan Nakal

Hanya seorang Pengecut, yang Menjadikan Orang-Orang Baik sebagai MANGSA EMPUK

Question: Jika Agama Buddha memang adalah agama yang baik dan suci, mengapa para umatnya masih bisa marah dan galak kepada orang lain?

Tuhan Mencobai Manusia? Untuk Anak Sendiri Kok, Dicoba-Coba?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Neraka sebagai Tugu / Monumen KEGAGALAN Proses Penciptaan Umat Manusia oleh Tuhan

Question: Disebutkan bahwa Tuhan dengan rencananya sedang mencobai manusia lewat segala kuasanya, seperti bencana alam ataupun segala derita lainnya, agar manusia manjadi kuat ditempa cobaan dan demi memuliakan manusia. Apakah memang logis, segala derita maupun kenikmatan hidup ini adalah pemberian maupun cobaan dari Tuhan?

Bukankah hanya PENDOSA, yang Membutuhkan PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA?

SENI PIKIR & TULIS

Pertanyaan bagi para Muslim, Ujian bagi Iman sang umat ataukah Iman para Umat tersebut yang sedang Mencobai Tuhan?

Bukankah Tuhan semestinya Tuhanis, dan Tuhanis lebih Luhur daripada Sekadar Humanis?

Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengajukan pertanyaan mendasar kepada para Muslim, dan menunggu jawabannya. Seorang ustad, pada ceramahnya baik di Masjid maupun pada media massa seperti radio, televisi, dsb, menyampaikan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia (yang dikultuskan dan menjadi saingan terberat bagi Tuhan yang disembah para Muslim), sebagai “rasul Tuhan” juga sekaligus orang yang baik, suci, mulia, luhur, dan menjadi suri tauladan para Muslim, bahkan oleh ibu-ibu pengajian disebut sebagai “kekasih Tuhan”.

Tampil Beda, Siapa Takut? Jadilah seorang PELAWAN ARUS

HERY SHIETRA, Tampil Beda, Siapa Takut? Jadilah seorang PELAWAN ARUS

Banyak diantara kita,

Yang terlena dan berlarut-larut dalam kegembiraan maupun kesenangan yang ditawarkan oleh hidup,

Sekalipun mereka tahu dan menyadari bahwa itu hanya temporer saja sifatnya,

Sebelum kemudian menjerat kita dalam kemelekatan,

Tetap saja mereka senang dibodohi oleh kehidupan,

AGAMA LANGIT Versus AGAMA BUMI

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Agama DOSA Vs. Agama SUCI dan Agama KSATRIA

Question: Ada yang menyebut-nyebut istilah agama langit dan agama bumi, memang apa maksudnya dan bila ada bedanya maka seperti apa contohnya?

KRITIK, Demi Kepentingan Siapakah?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Bangsa yang ANTIKRITIK, Pendosa yang Berdelusi sebagai Suciwan

Question: Mengapa rata-rata orang Indonesia begitu anti terhadap kritik maupun teguran, bahkan terhadap protes dari korban mereka?

Apakah Rekayasa Genetika Melanggar Etika dan Kode Etik Ilmuan?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Apakah Mungkin, Sesuatu dapat Terjadi Tanpa Seizin, Kuasa, maupun Rencana Tuhan? Jika ADA, artinya Tuhan TIDAK Maha Kuasa

Question: Semisal ada peneliti yang buat penemuan ataupun teknologi biomolekuler canggih, yang dapat merancang seseorang calon bayi untuk memeiliki genetik tertentu dan tidak memiliki genetik tertentu lainnya, termasuk isu perihal “cloning”, maka apakah sebenarnya itu melanggar kode etik atau semacam etika manusia? Bukakah itu sama artinya melawan kehendak Tuhan? Bukankah itu sama artinya mencoba mendahului kekuasaan Tuhan sang pencipta?

Nilai 100 apakah Hanya Milik Tuhan? Apakah Salah, Manusia Berjuang mencapai Kesempurnaan?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Yang Buruk / Tidak Sempurna, mengapa Dipertahankan dan Dilestarikan, bahkan Dibanggakan, alih-alih Ditabukan?

Apakah Kesempurnaan hanya Monopoli Tuhan? JIka Manusia Tidak Bisa dan Tidak Boleh Sempurna, artinya Manusia Tidak Mungkin Ciptaan Tuhan dan Tidak dapat Bersatu dengan Tuhan

Question: Guru di sekolah maupun dosen di kampus, sering berkata, nilai ujian 100 itu hanya boleh untuk Tuhan, hanya Tuhan yang sempurna. Kalau begitu, untuk apa kita belajar moralitas agar memiliki watak yang luhur, dan kini kita cukupkan saja berbangga diri pada cacat-cela karakter kita sebagai alibi ketika berbuat salah ataupun sebagai alasan pembenar maupun alasan pemaaf untuk berkelit dari tanggung-jawab? Lantas, apa bedanya kita dengan hewan, yang hanya bisa menyerah pasrah pada keadaan dirinya tanpa daya dan tanpa akal budi, tidak boleh dan tidak dapat berjuang untuk menjadi lebih baik dan mencapai kesempurnaan?

SALAH ALAMAT Jika Korban Mempertanyakan Nasibnya kepada Tuhan

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Mengapa banyak orang bilang bahwa dunia ini tidak adil? Rasanya sudah letih juga bosan, mengeluhkan ketidakadilan dunia ini kepada Tuhan saat berdoa, sama sekali tidak ada perubahan ke arah perbaikan.

MENJERIT adalah HAK ASASI KORBAN

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Terkadang lucu, ketika kita disakiti oleh seseorang, masyarakat kita justru cenderung turut menghakimi kita (korban) ketika berteriak dan menjerit protes penuh kesakitan, sebagai “tidak sopan”, “sudah gila”, “tidak waras”, dan kata-kata menyudutkan lainnya seolah-olah belum cukup luka jiwa yang diderita korban. Memangnya ada orang yang kesakitan karena disakiti, lalu menjerit dengan cara yang sopan dan santun? Memangnya yang menyakiti kita, perilakunya itu sudah “sopan”?

Jika mendapatkan atau menghadapi kejadian yang sangat melukai rasa keadilan dan nurani demikian, apa yang dapat kita lakukan, atau setidaknya dapat kita katakan sebagai tanggapan agar tidak terus-menerus di-diskredit secara tidak patut oleh masyarakat kita yang suka sembarangan menilai, berkomentar, maupun menghakimi?

Apakah Salah dan Egois, Memilih menjadi Bahagia dan Hidup Berbahagia?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Bahagia dan Membangun Hidup yang Bahagia, adalah HAK ASASI MANUSIA

Kebahagiaan Bukanlah Sumber Kejahatan, Kurangnya Kebahagiaan justru menjadi Sumber Kejahatan

Question: Pernah ada yang bertanya kepada saya, apa keinginan terbesar saya? Saya jawab, saya ingin bahagia, happy, ingin punya hidup yang juga membahagiakan. Namun si penanya kemudian menghakimi saya, dengan tudingan sebagai seseorang yang egois. Apakah memilih untuk bahagia dan menjadi bahagia atau berjuang membangun hidup yang penuh kebahagiaan, adalah egois? Lantas, kita harus jawab apa ketika ditanya seperti itu, ingin hidup yang menderita, atau menderita tidak dan bahagia pun tidak? Jangan-jangan yang bertanya itu sendiri pun tidak tahu apa yang diinginkan olehnya. Jika begitu, mengapa juga masih menghakimi orang lain atas hidup milik saya sendiri dan saya sendiri pula yang paling berhak memutuskan hidup saya?

KODE ETIK MANUSIA, Hargai dan Hormati Profesi Orang lain jika Profesi Anda Sendiri ingin Dihargai dan Dihormati

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Ada yang namanya Kode Etik Jurnalistik bagi kalangan profesi pers, Kode Etik Tenaga Medik bagi tenaga kesehatan, maupun Kode Etik profesi-profesi lainnya. Menjadi mengherankan, ketika umur umat manusia sudah sama tuanya dengan usia Planet Bumi ini, namun belum juga ada semacam Kode Etik Manusia bagi kita yang mengaku sebagai seorang manusia ataupun sebagai seorang warga suatu bangsa.

Ataukah memang bangsa kita selama ini tidak merasa membutuhkan hal semacam Kode Etik untuk hidup berbangsa dan bernegara, sebagai sesama umat manusia? Jika deklarasi semacam Hak Asasi Manusia dicetuskan lembaga persatuan bangsa-bangsa dan diakui oleh seluruh dunia, maka mengapa deklarasi semacam Kode Etik Manusia seolah dinomorduakan atau bahkan dipandang sepele dan “sebelah mata”?

Kiat Cara Menghadapi Preman Pelaku Aksi Premanisme

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

OTOT Tidak Memiliki OTAK untuk Berpikir ataupun untuk Diajak Berpikir, Itulah Preman

Question: Apakah ada tips, untuk bisa melindungi diri dari preman yang banyak berkeliaran di luar sana?

Bagaimana dan seperti apakah Ibadah dalam Buddhisme?

SENI JIWA

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

OVADA PATIMOKkHA, Itulah Ibadah dalam Buddhisme

Question: Bila dalam Agama Buddha, Apa yang menjadi ritual maupun ibadah para umat Buddhis?

PRINSIP EMAS, Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita ingin Diperlakukan

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita ingin Diperlakukan, dan Jangan Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita pun Tidak ingin Diperlakukan

Question: Seseorang merasa senang dan gembira ketika melakukan aktivitas yang menimbulkan suara berisik seperti mengemudikan kendaraan motor dengan knalpot bersuara keras, bermain petasan, memutar musik lewat sound system secara keras-keras, sekalipun tidak semua orang menyukainya atau malah terganggu. Begitupula kesenangan yang menimbulkan polusi udara, dan sebagainya. Ada pepatah bilang, perlakukan pihak lain seperti ketika kita ingin diperlakukan. Bukankah justru itu jadi masalah, karena selera atau preferensi setiap orang saling berbeda-beda satu sama lainnya?

Ketika Tuhan Menyelesaikan Setiap Masalah Kemanusiaan dengan KEKERASAN FISIK, maka bagaimana Sikap Umat-Nya?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

KULTUR BANGSA BELUM BERADAB, MASIH BIADAB : MENYELESAIKAN SEGALA MASALAH DENGAN KEKERASAN FISIK

Question: Mengapa orang Indonesia, menakutkan? Bahkan untuk sekadar menegur perilaku anggota masyarakat kita ketika mereka berbuat keliru kepada diri kita ataupun kepada orang lain, kita menjadi takut dan lebih takut? Mengapa pelakunya justru bisa lebih galak daripada korban mereka, ketika korban menyatakan keberatan diperlakukan tidak patut demikian?