"Kami tidak mengenali apapun yang berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan mengevaluasi; tetapi kami mengenali sesuatu yang berharga dalam pujian dan celaan kepada orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang bijaksana, cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan mengevaluasi." [Raja Pasenadi dari Kosala]
Question : Bukankah mengherankan orang-orang muslim yang merasa begitu bangga menjadi mualaf (semula nonmuslim yang kemudian memeluk agama islam). Semestinya mereka merasa malu, karena secara tidak langsung mereka seolah hendak berkata kepada dunia : “Dulunya saya bukanlah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’, sekarang saya adalah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’.” Orang yang waras dan berakal-sehat, akan merasa senang dan gembira bila terjadi “upgrade” dalam dirinya. Akan tetapi itu orang-orang yang mualaf, justru senang karena men-“downgrade” diri mereka dari semula bukan “pecandu ideologi KORUP” menjelma “mabuk-berat dogma PENGHAPUSAN DOSA”.

