JIka Anak Kandung Sendiri saja Mau dan Tega Disembelih Demi EGO, apalagi terhadap Orang Lain

SENI SOSIAL

Ada Beda antara Godaan Setan dan Cobaan Tuhan, namun Sama-Sama Berupa Bisikan Gaib

Menyembelih dan Mengorbankan Anak, Bukanlah Cinta, namun EGO

Question: Mengapa orangtua bisa begitu egoisnya kepada anak kandung sendiri? Apakah hanya anak, yang bisa durhaka?

Hidup adalah Perjalanan Mendidik Diri Kita Sendiri, Mengikis Sifat dan Pola Pikir Irasional

SENI PIKIR & TULIS

Akibat Cara Berpikir yang Irasional, Kita Memandang yang Tidak Penting sebagai Penting, dan yang Berharga sebagai Tidak Berharga

Kita Tidak Terlahir dalam Kondisi Rasional, Namun Irasional

Masih jelas dalam ingatan penulis, ketika penulis masih seorang bocah kecil yang bodoh, banyak sekali barang-barang yang penulis “bocah” lekati label sebagai “barang milik aku”, lalu melekat erat terhadapnya sedemikian rupa hingga menyerupai “posesif” yang agresif sifatnya. Ketika barang “milik aku” itu rusak karena suatu hal terutama kerusakan mana diakibatkan oleh perbuatan orang lain, penulis “bocah” menjadi ngambek, marah, hingga mengamuk, seolah-olah ada anggota tubuh penulis yang telah dilukai dan disakiti. Memiliki barang, ibarat membuat diri kita menjadi ringkih dan riskan, ketika barang tersebut rusak atau dirusak oleh orang lain, kita merasa seperti ada anggota tubuh kita yang terluka sehingga kita merasakan sakit dan menderita. Orang-orang yang memiliki banyak kepemilikan tanah tersebar di berbagai kota dan daerah, ketika terdapat satu saja objek tanah miliknya diserobot oleh pihak lain, maka ia akan merasa seolah ada bagian dari tubuhnya yang telah diamputasi, dicuri darinya, dan terluka berdarah.

Sesama Pendosa / Penjahat Biasanya Saling Kompromistis

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi

Question: Mengapa ada orang, yang mengakunya orang baik, tapi kok suka marah-marah?

Kiat Membentengi Diri dari Modus MANIPULASI PIKIRAN

SENI PIKIR & TULIS

Seni Berdiri di atas Kaki dan Pikiran Sendiri

Dunia ini Tidak Pernah Kekurangan para Penipu dan Penjahat

Manipulasi pikiran, kerap kita jumpai dalam keseharian, masif sifatnya, intrusif, terselubung ataupun yang eksplisit modusnya, kita sadari maupun tidak kita sadari telah menjadi sasaran manipulasi, serta kasat mata maupun tidak kasat mata. Manipulasi pikiran yang terselubung, penetrasinya berupa memberikan umpan berupa iming-iming agar lawan bicara termakan harapan semu. Sementara itu manipulasi pikiran yang eksplisit biasanya dilakukan dengan membuat lawan bicara merasa ketakutan lewat bentuk-bentuk ancaman, intimidasi, atau sejenisnya.

Dunia ini Tidak Pernah Kekurangan PLONCO Siswa / Mahasiswa, namun Miskin TELADAN

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra

Plonco Siswa / Mahasiswa, Tidak Berfaedah, mengapa masih Dibudayakan pada Lingkungan Akademik seperti Sekolahan maupun Kampus?

Question: Sebetulnya hal semacam per-plonco-an terhadap siswa maupun mahasiswa di sekolah dan di kampus, apakah ada manfaatnya dan hal positifnya, sehingga dari dulu hingga kini masih saja ada praktik plonco baik di sekolah maupun di kampus yang mana para siswa senior menjadikan plonco sebagai ajang balas-dendam serta pamer kekuasaan akibat relasi yang timpang antara senior dan junior? Mengapa juga pihak sekolah atau kampus, membiarkan praktik primitif kurang beradap semacam itu terus berlangsung?

Tidak Mengenal Manusia maka Tidak Sayang, namun Makin Mengenal maka Semakin Mengerikan

SENI PIKIR & TULIS

Manusia adalah Makhluk (yang) IRASIONAL, Tidak Logis dan Pintar-Pintar (namun) Bodoh

Umat Manusia Tidak Seindah yang Kita Bayangkan maupun Harapkan. Ini Dunia Nyata, bukan Dunia Dongeng yang Manis dan Ideal

Pepatah pernah berpesan, “tidak mengenal, maka tidak sayang”. Anekdot klise tersebut ada benarnya, namun sayangnya tidak betul-betul lengkap, mengingat terdapat ekor kalimat yang selengkapnya berbunyi, “..., namun semakin kita mengenal manusia, semakin kita merasa ‘ngeri’!” Mengapa kita patut merasa sebentuk “kengerian” ketika kita semakin mengenal hati dan isi atau cara berpikir seorang manusia? Semata karena kita semakin tahu “wajah asli” seseorang yang selama ini hidup berdampingan dengan kita, semakin kita tahu mengenai kekotoran batin yang dapat dimiliki dan dilekati oleh umat manusia, dan betapa manusia adalah “makhluk yang irasional” disamping penuh dengan “persona” (topeng)—manusia adalah “makhluk irasional”.

Bila HAUS DARAH disebut sebagai CINTA DAMAI, maka yang disebut sebagai ANTI KEDAMAIAN seperti apakah?

SENI JIWA

Pertanyaan bagi para Muslim, Mohon Klarifikasi dan Dijawab

Jika sedang Ibadah saja, seperti Itu Sikap para Muslim terhadap Orang Lain, (maka) bagaimana ketika Mereka Tidak sedang Beribadah?

Sering penulis bertanya kepada para kalangan Muslim, yang beribadah dengan praktik penggunaan speaker pengeras suara eksternal yang mereka pasang di Masjid, menyerupai “polusi suara” yang merampas ketenangan hidup maupun istirahat umat agama lain yang juga punya hak untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing tanpa saling mengganggu, maka bagaimana ketika mereka tidak sedang beribadah dan tidak sedang berbusana “agamais”, perampasan semacam apa yang akan mereka lakukan? Ketika para Muslim mengatas-namakan Agama Islam untuk berbuat apapun semau mereka, sebagai legitimasi atau justifikasi perbuatan apapun yang mereka perbuat, maka bagaimana dengan gaya hidup para Muslim tersebut ketika tidak sedang ber-“agamais”?

3 Faktor Relasi yang Ideal antar Manusia

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Jangan Paksakan Diri maupun Keadaan, dan Jangan Bersikap Seolah-Olah Tiada Orang yang Lebih Layak dan Lebih Tepat untuk menjadi Pilihan Kita

Question: Yang disebut dengan relasi atau hubungan antar manusia yang sehat, positif, dan berfaedah, seperti apa bentuk dan contohnya?

Apakah hanya Anak yang dapat Durhaka? Apakah Orangtua tidak dapat Durhaka kepada Anak?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Masing-Masing Peran dan status Memiliki Tanggung-Jawabnya Sendiri

Question: Apakah hanya anak yang “memonopoli” kata “durhaka”? Bagaimana dengan banyak orangtua di luar sana, yang justru mengabaikan dan menelantarkan anak, atau bahkan membuat anak tersiksa hidupnya dan terjerumuskan oleh teladan buruk orangtuanya? Itu ibarat dua pasal “maut” untuk anak, berikut : Pasal Pertama, orangtua selalu benar dan anak selalu salah. Pasal Kedua, jika orangtua salah atau keliru, (maka) rujuk aturan dalam Pasal Pertama. Jadilah, orangtua lebih cenderung bersikap arogan (sewenang-wenang atau cenderung bersikap seenaknya) terhadap anak kandungnya sendiri sekalipun.

Orang Baik untuk Dihargai, Dilindungi, dan Dilestarikan, bukan untuk Dijadikan Sasaran dan Mangsa Empuk, agar Tidak Punah

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Orang Suci pun Sesekali Perlu Menunjukkan TARING TAJAM-nya agar Tidak Dijadikan Objek BULLYING Tangan-Tangan Nakal

Hanya seorang Pengecut, yang Menjadikan Orang-Orang Baik sebagai MANGSA EMPUK

Question: Jika Agama Buddha memang adalah agama yang baik dan suci, mengapa para umatnya masih bisa marah dan galak kepada orang lain?

Tuhan Mencobai Manusia? Untuk Anak Sendiri Kok, Dicoba-Coba?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Neraka sebagai Tugu / Monumen KEGAGALAN Proses Penciptaan Umat Manusia oleh Tuhan

Question: Disebutkan bahwa Tuhan dengan rencananya sedang mencobai manusia lewat segala kuasanya, seperti bencana alam ataupun segala derita lainnya, agar manusia manjadi kuat ditempa cobaan dan demi memuliakan manusia. Apakah memang logis, segala derita maupun kenikmatan hidup ini adalah pemberian maupun cobaan dari Tuhan?

Bukankah hanya PENDOSA, yang Membutuhkan PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA?

SENI PIKIR & TULIS

Pertanyaan bagi para Muslim, Ujian bagi Iman sang umat ataukah Iman para Umat tersebut yang sedang Mencobai Tuhan?

Bukankah Tuhan semestinya Tuhanis, dan Tuhanis lebih Luhur daripada Sekadar Humanis?

Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengajukan pertanyaan mendasar kepada para Muslim, dan menunggu jawabannya. Seorang ustad, pada ceramahnya baik di Masjid maupun pada media massa seperti radio, televisi, dsb, menyampaikan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia (yang dikultuskan dan menjadi saingan terberat bagi Tuhan yang disembah para Muslim), sebagai “rasul Tuhan” juga sekaligus orang yang baik, suci, mulia, luhur, dan menjadi suri tauladan para Muslim, bahkan oleh ibu-ibu pengajian disebut sebagai “kekasih Tuhan”.

Tampil Beda, Siapa Takut? Jadilah seorang PELAWAN ARUS

HERY SHIETRA, Tampil Beda, Siapa Takut? Jadilah seorang PELAWAN ARUS

Banyak diantara kita,

Yang terlena dan berlarut-larut dalam kegembiraan maupun kesenangan yang ditawarkan oleh hidup,

Sekalipun mereka tahu dan menyadari bahwa itu hanya temporer saja sifatnya,

Sebelum kemudian menjerat kita dalam kemelekatan,

Tetap saja mereka senang dibodohi oleh kehidupan,

AGAMA LANGIT Versus AGAMA BUMI

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Agama DOSA Vs. Agama SUCI dan Agama KSATRIA

Question: Ada yang menyebut-nyebut istilah agama langit dan agama bumi, memang apa maksudnya dan bila ada bedanya maka seperti apa contohnya?

KRITIK, Demi Kepentingan Siapakah?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Bangsa yang ANTIKRITIK, Pendosa yang Berdelusi sebagai Suciwan

Question: Mengapa rata-rata orang Indonesia begitu anti terhadap kritik maupun teguran, bahkan terhadap protes dari korban mereka?

Apakah Rekayasa Genetika Melanggar Etika dan Kode Etik Ilmuan?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Apakah Mungkin, Sesuatu dapat Terjadi Tanpa Seizin, Kuasa, maupun Rencana Tuhan? Jika ADA, artinya Tuhan TIDAK Maha Kuasa

Question: Semisal ada peneliti yang buat penemuan ataupun teknologi biomolekuler canggih, yang dapat merancang seseorang calon bayi untuk memeiliki genetik tertentu dan tidak memiliki genetik tertentu lainnya, termasuk isu perihal “cloning”, maka apakah sebenarnya itu melanggar kode etik atau semacam etika manusia? Bukakah itu sama artinya melawan kehendak Tuhan? Bukankah itu sama artinya mencoba mendahului kekuasaan Tuhan sang pencipta?

Nilai 100 apakah Hanya Milik Tuhan? Apakah Salah, Manusia Berjuang mencapai Kesempurnaan?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Yang Buruk / Tidak Sempurna, mengapa Dipertahankan dan Dilestarikan, bahkan Dibanggakan, alih-alih Ditabukan?

Apakah Kesempurnaan hanya Monopoli Tuhan? JIka Manusia Tidak Bisa dan Tidak Boleh Sempurna, artinya Manusia Tidak Mungkin Ciptaan Tuhan dan Tidak dapat Bersatu dengan Tuhan

Question: Guru di sekolah maupun dosen di kampus, sering berkata, nilai ujian 100 itu hanya boleh untuk Tuhan, hanya Tuhan yang sempurna. Kalau begitu, untuk apa kita belajar moralitas agar memiliki watak yang luhur, dan kini kita cukupkan saja berbangga diri pada cacat-cela karakter kita sebagai alibi ketika berbuat salah ataupun sebagai alasan pembenar maupun alasan pemaaf untuk berkelit dari tanggung-jawab? Lantas, apa bedanya kita dengan hewan, yang hanya bisa menyerah pasrah pada keadaan dirinya tanpa daya dan tanpa akal budi, tidak boleh dan tidak dapat berjuang untuk menjadi lebih baik dan mencapai kesempurnaan?

SALAH ALAMAT Jika Korban Mempertanyakan Nasibnya kepada Tuhan

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Mengapa banyak orang bilang bahwa dunia ini tidak adil? Rasanya sudah letih juga bosan, mengeluhkan ketidakadilan dunia ini kepada Tuhan saat berdoa, sama sekali tidak ada perubahan ke arah perbaikan.

MENJERIT adalah HAK ASASI KORBAN

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Terkadang lucu, ketika kita disakiti oleh seseorang, masyarakat kita justru cenderung turut menghakimi kita (korban) ketika berteriak dan menjerit protes penuh kesakitan, sebagai “tidak sopan”, “sudah gila”, “tidak waras”, dan kata-kata menyudutkan lainnya seolah-olah belum cukup luka jiwa yang diderita korban. Memangnya ada orang yang kesakitan karena disakiti, lalu menjerit dengan cara yang sopan dan santun? Memangnya yang menyakiti kita, perilakunya itu sudah “sopan”?

Jika mendapatkan atau menghadapi kejadian yang sangat melukai rasa keadilan dan nurani demikian, apa yang dapat kita lakukan, atau setidaknya dapat kita katakan sebagai tanggapan agar tidak terus-menerus di-diskredit secara tidak patut oleh masyarakat kita yang suka sembarangan menilai, berkomentar, maupun menghakimi?

Apakah Salah dan Egois, Memilih menjadi Bahagia dan Hidup Berbahagia?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Bahagia dan Membangun Hidup yang Bahagia, adalah HAK ASASI MANUSIA

Kebahagiaan Bukanlah Sumber Kejahatan, Kurangnya Kebahagiaan justru menjadi Sumber Kejahatan

Question: Pernah ada yang bertanya kepada saya, apa keinginan terbesar saya? Saya jawab, saya ingin bahagia, happy, ingin punya hidup yang juga membahagiakan. Namun si penanya kemudian menghakimi saya, dengan tudingan sebagai seseorang yang egois. Apakah memilih untuk bahagia dan menjadi bahagia atau berjuang membangun hidup yang penuh kebahagiaan, adalah egois? Lantas, kita harus jawab apa ketika ditanya seperti itu, ingin hidup yang menderita, atau menderita tidak dan bahagia pun tidak? Jangan-jangan yang bertanya itu sendiri pun tidak tahu apa yang diinginkan olehnya. Jika begitu, mengapa juga masih menghakimi orang lain atas hidup milik saya sendiri dan saya sendiri pula yang paling berhak memutuskan hidup saya?

KODE ETIK MANUSIA, Hargai dan Hormati Profesi Orang lain jika Profesi Anda Sendiri ingin Dihargai dan Dihormati

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Question: Ada yang namanya Kode Etik Jurnalistik bagi kalangan profesi pers, Kode Etik Tenaga Medik bagi tenaga kesehatan, maupun Kode Etik profesi-profesi lainnya. Menjadi mengherankan, ketika umur umat manusia sudah sama tuanya dengan usia Planet Bumi ini, namun belum juga ada semacam Kode Etik Manusia bagi kita yang mengaku sebagai seorang manusia ataupun sebagai seorang warga suatu bangsa.

Ataukah memang bangsa kita selama ini tidak merasa membutuhkan hal semacam Kode Etik untuk hidup berbangsa dan bernegara, sebagai sesama umat manusia? Jika deklarasi semacam Hak Asasi Manusia dicetuskan lembaga persatuan bangsa-bangsa dan diakui oleh seluruh dunia, maka mengapa deklarasi semacam Kode Etik Manusia seolah dinomorduakan atau bahkan dipandang sepele dan “sebelah mata”?

Kiat Cara Menghadapi Preman Pelaku Aksi Premanisme

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

OTOT Tidak Memiliki OTAK untuk Berpikir ataupun untuk Diajak Berpikir, Itulah Preman

Question: Apakah ada tips, untuk bisa melindungi diri dari preman yang banyak berkeliaran di luar sana?

Bagaimana dan seperti apakah Ibadah dalam Buddhisme?

SENI JIWA

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

OVADA PATIMOKkHA, Itulah Ibadah dalam Buddhisme

Question: Bila dalam Agama Buddha, Apa yang menjadi ritual maupun ibadah para umat Buddhis?

PRINSIP EMAS, Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita ingin Diperlakukan

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita ingin Diperlakukan, dan Jangan Perlakukan Orang Lain sebagaimana Kita pun Tidak ingin Diperlakukan

Question: Seseorang merasa senang dan gembira ketika melakukan aktivitas yang menimbulkan suara berisik seperti mengemudikan kendaraan motor dengan knalpot bersuara keras, bermain petasan, memutar musik lewat sound system secara keras-keras, sekalipun tidak semua orang menyukainya atau malah terganggu. Begitupula kesenangan yang menimbulkan polusi udara, dan sebagainya. Ada pepatah bilang, perlakukan pihak lain seperti ketika kita ingin diperlakukan. Bukankah justru itu jadi masalah, karena selera atau preferensi setiap orang saling berbeda-beda satu sama lainnya?

Ketika Tuhan Menyelesaikan Setiap Masalah Kemanusiaan dengan KEKERASAN FISIK, maka bagaimana Sikap Umat-Nya?

SENI SOSIAL

Seri Artikel Sosiologi : Anda Bertanya, Shietra Menjawab

KULTUR BANGSA BELUM BERADAB, MASIH BIADAB : MENYELESAIKAN SEGALA MASALAH DENGAN KEKERASAN FISIK

Question: Mengapa orang Indonesia, menakutkan? Bahkan untuk sekadar menegur perilaku anggota masyarakat kita ketika mereka berbuat keliru kepada diri kita ataupun kepada orang lain, kita menjadi takut dan lebih takut? Mengapa pelakunya justru bisa lebih galak daripada korban mereka, ketika korban menyatakan keberatan diperlakukan tidak patut demikian?

Siapakah yang Lebih Bahagia, Singa ataukah seekor Kelinci?

SENI PIKIR & TULIS

Seni Hidup Bahagia, Minimalisir Keinginan Berlebihan dan Lepaskan Kemelekatan

Minim, Sederhana, dan Hening itu Indah, Simple is Beautiful! Keheningan adalah Suara yang Terindah, di Mata Orang-Orang yang Memiliki Kecukupan Hati!

Mari kita sedikit berfalsafah ria, meski tanpa perlu mengerutkan kening. Penulis buka dengan pertanyaan favorit penulis : Bila Anda dapat menerka dan menduga, manakah yang akan Anda pikir serta asumsikan sebagai hewan yang lebih bahagia dalam hidupnya, seekor harimau / singa sang karnivora ataukah seekor kelinci sang herbivora? Banyak orang, yang meremehkan pertanyaan falsafah demikian, bahkan menganggapnya sebagai pertanyaan “konyol”. Sejatinya, bila kita memahami betul makna dibaliknya, praktis kita akan memperoleh “insight” yang akan banyak menolong dan membantu dalam kehidupan kita yang penuh beban suka dan duka ini.

Hery Shietra, Ciri dan Watak Orang Jenius

Metode ilmu psikologi klasik yang mencoba mengukur nilai skor IQ (intellectual quotient, kecerdasan intelektual) seseorang berdasarkan “tes IQ”, merupakan teknik konvensional yang ketinggalan zaman serta belum tentu akurat adanya, bahkan patut diragukan. Terdapat metode lain untuk mengetahui seseorang sebagai “jenius” atau tidaknya, berdasarkan karakter atau watak hingga kebiasaan yang mereka tampilkan dikeseharian hidup mereka (traits). Dari berbagai literatur yang mencoba menguraikan ciri-ciri orang jenius, ada sebagian diantaranya yang akurat namun juga ada sebagian diantaranya yang hanya berupa mitos.

Ketika Agama Mempromosikan dan Mengkampanyekan Perceraian Kerukunan antar Umat Beragama, Dibiarkan dan Dilestarikan oleh Negara yang secara Sengaja Abai

SENI PIKIR & TULIS

Ketika masih Minoritas, PLAY INNOCENT yang Menuntut Diberi Toleransi dan Menikmati Kebebasan Beragama dan Beribadah. Namun, ketika Mereka telah menjadi Mayoritas, justru Membumi-Hanguskan Toleransi antar Umat Beragama yang Dahulu Mereka Nikmati dan Tuntut untuk Diberikan. Pola yang Sama Selalu Berulang, Peta Sejarah

Bahaya Dibalik STANDAR GANDA, Standar Berganda yang Sarat Konflik Kepentingan

Hukum tumpul ke mayoritas, dan hukum tajam ke minoritas, itulah cerminan budaya beragama di Indonesia serta dalam praktiknya yang kian hari kian mengkhawatirkan karena menampilkan wajah intoleran. Hampir setiap kali pemuka agama / penceramah agama Islam berceramah di Masjid, lengkap dengan pengeras suara eksternal sehingga “saksi telinga”-nya bukan hanya penulis seorang, bahkan juga suara pembacaan ayat-ayat kitab agama mereka menyeruak masuk ke dalam toilet kediaman rumah-rumah warga termasuk memenuhi tong sampah, selama bertahun-tahun lamanya, selalu saja mengumbar ujaran kebencian dan penuh permusuhan (hate speech) dengan menyebut-nyebut nama Yahudi dan Nasrani secara tidak hormat dan tidak patut. Gaibnya, tidak satupun dari mereka yang dipenjara sebagai pelaku penistaan agama, namun jangan tanya bila terjadi yang sebaliknya.

Sayangi Bumi ini, agar Alam Semesta Menyayangi Kita

SENI PIKIR & TULIS

Manusia adalah Makhluk PENYAMPAH Penghasil SAMPAH

Bila Tidak mau Melestarikan, Setidaknya Tidak Merusak Alam. Hanya Manusia Sampah yang hanya Mampu Menghasilkan Sampah

Kita hidup dari kebaikan hati planet bernama Bumi ini. Mulai dari air bersih, udara bersih, sumber pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, maupun protein hewani dan nabati. Sumber papan dan sandang kita pun, diperoleh dari alam. Pepatah suku India menyebutkan, kita bukan mewariskan alam ini kepada anak dan cucu (generasi penerus), namun kita saat kini sedang meminjamnya dari mereka. Kebaikan hati, seyogianya dibalas dengan kebaikan hati, bukan justru “membalas air susu dengan air tuba” semacam pengrusakan, eksploitasi yang tidak ramah lingkungan, pencemaran, hingga praktik “menyampah”. Planet tempat kita lahir dan tumbuh serta dibesarkan ini, ibarat orangtua kita, “Mother Earth”. Janganlah, menjadi “anak” yang “durhaka”, dengan sikap maupun sifat “tidak tahu balas budi”.

Antara Agama dan Prinsip EGALITER / MERITOKRASI

SENI PIKIR & TULIS

Agama yang Merendahkan Martabat Manusia dan Pujian yang (Sejatinya) Menista Tuhan yang Mereka Sembah Itu Sendiri

Penjajahan oleh Agama atas Manusia, Agama untuk Manusia ataukah Manusia untuk Agama?

Buddhisme bukanlah agama bagi para “peminta-minta”, sehingga tidak menjadikan para siswa Sang Buddha sebagai seorang pengemis yang mengemis-ngemis ataupun memohon-mohon—akan tetapi sebagai bak seorang penanam atau seorang petani, sehingga bila hendak atau menginginkan untuk memetik buah padi maka harus mau merepotkan diri serta menyingsingkan lengan baju berletih-letih banjir peluh turun ke sawah untuk menanam dan memupuk serta merawatnya dengan penuh kesabaran sebelum tiba masa panen. Itulah sebabnya, para siswa dari Sang Buddha adalah para pekerja keras serta bukanlah seorang pemalas yang merendahkan martabatnya sendiri dengan menjadi seorang “pengemis” (serta “penjilat” ala “lip services”).

Apakah EQ Identik dengan Banyak Teman?

SENI PIKIR & TULIS

EQ, Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient), Bermakna Kemampuan Berempati

EQ Tidak Ada Hubungan dengan Kecerdasan Bersosialisasi maupun Kecerdasan Berpolitik dan Beroganisasi

Apakah EQ artinya ialah “banyak teman”? Itulah pertanyaan klasik sekaligus simbolik yang mewakili fenomena kerapnya stigma secara keliru dialamatkan kepada sebagian diantara masyarakat kita yang tergolong sebagai kalangan atau kaum “introvert”, yang memang dasariahnya ialah mengarahkan energi mental secara sentripetal, bertolak-belakang dengan golongan kaum ekstrovert yang mengarahkan energi mental mereka secara sentrifugal, yakni kepada dunia di luar diri mereka.

Jangan Takut Hidup MENJOMBLO

SENI PIKIR & TULIS

Dari Keluarga menjelma Orang Asing, Fenomena Sosial yang Jamak dan Lumrah

Baru-baru ini penulis menjumpai sebuah pemandangan yang ironis namun cukup menggugah dan memberi inspirasi “insight” sebagaimana buahnya ialah berupa artikel menarik yang sedang para pembaca simak dalam kesempatan berharga ini. Pada suatu hari, tetangga pada kediaman penulis “dikunjungi” oleh anaknya yang telah menikah, anak mana dilahirkan dan diasuh, didik, hingga tumbuh besar selama puluhan tahun pada rumahnya tersebut, hingga akhirnya sang anak menikah dan membangun rumah-tangga sendiri di kediamannya sendiri bersama istri dan anaknya yang masih balita.

Cuci Uang Semudah Mendermakan Recehan

SENI PIKIR & TULIS

Cuci Uang dalam Rangka Cuci Dosa secara Berjemaah

Disebutkan, bahwa bunga dari suatu hubungan hukum pinjam-meminjam sejumlah dana, kredit, pembiayaan, atau apapun itu sebutannya, adalah “riba”, dimana “riba” merupakan “haram”, dan “haram” adalah terlarang untuk dimakan. Namun, dari realita di lapangan, kerap kita jumpai kaum Muslim yang justru bekerja di lembaga-lembaga keuangan perbankan non-syariah, yang artinya sumber gaji mereka ialah dana “haram” dari bunga yang harus dibayarkan oleh nasabah peminjam (debitor) perbankan tempat mereka bekerja dan mencari nafkah. Bagaimana dengan bank syariah, apakah lebih bersih dan humanis? Jusuf Hamka, tokoh Muslim nasional, menyebutkan bahwa “bank syariah lebih kejam daripada bank konvensional”.

Kiat Membangun Rumah Tangga yang Awet dan Langgeng

SENI PIKIR & TULIS

Kesiap-Sediaan Menikahi Calon Nenek-Nenek dan Kakek-Kakek

Tidak sedikit terjadi fenomena di tengah masyarakat, pada mulanya sepasang calon suami dan istri memutuskan untuk menikah dan membangun rumah-tangga. Ketika sang calon istri melihat postur tubuh calon suaminya tampak tampan dan bertubuh atletis bahkan juga produktif mencetak berbagai prestasi, maupun ketika sang calon suami melihat paras sang calon istri yang tampak cantik dan semampai, mereka pun saling menyatakan komitmen untuk membangun hubungan pernikahan sebagai suami-istri. Namun, perihal kecantikan wajah maupun bentuk tubuh, tidak akan berlangsung permanen.

Makna MANUSIA (yang) DUNGU

SENI PIKIR & TULIS

KEKELIRUTAHUAN, Keliru dalam Memahami, Tahu namun KELIRU, itulah Kekotoran Batin yang Menggelapkan Pandangan Mata Seseorang

RUGI dianggap sebagai UNTUNG, dan yang MENGUNTUNGKAN dipandang sebagai KERUGIAN, suatu KEKELIRUTAHUAN

Baru-baru ini saat ulasan ini penulis susun, penulis membeli barang-barang belanjaan di sebuah minimarket, dan terdapat produk yang penulis bawa pulang ternyata belum masuk dalam “struk belanjaan” akibat “gagal scan” oleh pihak kasir yang lalai. Penulis dapat saja pulang membawa serta “bonus” sebagai oleh-oleh dari minimarket, sebagaimana insting “hewani” hasil olah otak reptil yang bekerja di kepala penulis. Namun, penulis adalah seorang makhluk hidup bernama “manusia”, yang sudah semestinya berperilaku dengan mengedepankan akal-budi, tidak dapat menuruti semua kehendak hati dan impuls—mawas diri, artinya mengawasi perilaku dan pikiran diri sendiri secara awas atau penuh kesadaran.

Akar Penyebab Kejahatan dan Kriminalitas, Cara Berpikir IRASIONAL

LEGAL OPINION

Kedepankan AKAL SEHAT MILIK ORANG SEHAT, alih-alih AKAL SAKIT MILIK ORANG SAKIT

Question: Secara sosiologi maupun antropologi, sebenarnya apa yang menjadi akar penyebab kejahatan sehingga dapat dan kerap dilakukan oleh banyak manusia, sesama warga, sesama anak bangsa, bahkan oleh sesama anggota keluarga, dan sebagainya? Semisal, mengapa pergaulan dan pertemanan, cenderung ke arah negatif, pengaruh negatif, hingga merusak?

Contoh, pengedar obat-obatan terlarang dilarang mempromosikan produk narkot!k yang mereka produksi, edarkan, dan jual, karenanya ruang geraknya untuk berpromosi telah terminimalisir sedemikian rupa. Namun, mengapa prevalensi angka pemakai aktif zat adiktif terlarang tersebut tumbuh subur sepanjang tahun di Indonesia, tanpa tren menurun? Tentu, semua itu akibat faktor pengaruh lingkungan dan pergaulan. Akan tetapi, tetap belum menjawab pertanyaan utamanya, apa yang mendasari fenomena “anomali sosial” demikian?

Bangsa yang Gemar Merampas Hak Orang Lain

SENI PIKIR & TULIS

Kultur Egoistik & Tidak Takut Dosa, namun Agamais dan Mengaku ber-Tuhan

Bangga dapat Merapas Hak Warga Lain, alih-alih Merasa Malu dan Takut Dosa, namun Berbusana Agamais dan Rajin Beribadah

Salah seorang klien yang kini berdomisili dan menetap di luar negeri, pernah bercerita, sebuah kisah pengalaman pribadinya yang inspiratif dan cukup menarik untuk disimak, menuturkan bahwa dirinya pernah mengemudikan kendaraan bermotor roda empat di Jakarta, Indonesia, dikarenakan lalu-lintas padat, seorang polisi mengarahkan pengemudi untuk memasuki lajur yang selama ini hanya diperuntukkan khusus bagi bus (transportasi umum). Sang klien pun menuruti arahan polisi berseragam, yang berwenang mengatur serta mengarahkan di jalanan, dengan melajukan kendaraan yang dikemudi olehnya ke dalam lajur khusus bus.

Keberanian untuk Menjalankan Hidup Kita Sendiri. Lebih Baik Disakiti oleh Orang Lain, daripada Membiarkan Diri kita Menyakiti Diri Sendiri

SENI PIKIR & TULIS

Lebih Baik Disakiti oleh Orang Lain, daripada dengan Konyolnya Membiarkan Diri Kita Menderita Sakit maupun Terluka akibat Lalai terlebih Bersikap Bodoh Disebabkan Ketakutan atau ketika Mencoba Berkelit dari Rasa Takut terhadap Ancaman Orang Lain

Bila Kita Disakiti atau Dilukai oleh Orang Lain, Kita bisa Menuntut Tanggung-Jawab dari Mereka. Namun bila Kita Sakit ataupun Terluka akibat Sikap Abai dan Lalai Kita, terlebih Menjebloskan Diri akibat Dikuasai Rasa Takut, Kita bisa Menuntut Siapa untuk Dimintakan Tanggung-Jawab?

Jangan pernah membuat keputusan atas dasar ketakutan, karena itu pasti merugikan kepentingan dan kebaikan diri kita sendiri. Konon, masyarakat Indonesia disebut-sebut sebagai masyarakat yang gemar berdana dan pemurah (“murah hati” serta gemar mengulurkan tangan untuk menolong). Faktanya, untuk hal-hal yang sederhana yang ada di depan mata, seperti bersikap sabar terhadap warga maupun pengguna jalan lainnya, “sumbu” masyarakat kita di Indonesia sungguh pendek dan mudah tersulut—sedikit-sedikit “main kekerasan fisik”, seolah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan sengketa tanpa perlu bersengketa.

Waktu yang Tepat, Orang yang Tepat, dan Kata-Kata yang Tepat

SENI PIKIR & TULIS

Mengumbar Ajaran Suci kepada yang Tidak Mampu Menghargai Ajaran Suci, sama artinya menjadikan Sampah Ajaran Suci tersebut bak Sampah yang Berceceran di Jalan dan di Tong Sampah

Ajahn Mun (Acariya Man), seorang bhikkhu tradisi hutan di Thailand yang bersama Ajahn Sao menghidupkan kembali budaya bhikkhu yang hidup dan berlatih di dalam hutan rimba (duthangga), akan bungkam seribu bahasa ketika mendapati bahwa lawan bicaranya tidak menaruh sikap respek terhadap Dhamma. Sehingga, ketika orang tersebut sekalipun mengajukan pertanyaan perihal Dhamma, Ajahn Mun tidak akan menanggapi ataupun memberikan jawaban sepatah kata pun, bungkam seribu bahasa, karena Ajahn Mun mengetahui dan dapat membaca pikiran orang lain, bahwa pertanyaan diajukan namun yang bersangkutan tidak membuka kedua telinganya untuk mendengarkan jawaban, alias bertanya namun menutup telinga dari jawaban pihak yang ditanya, hanya akan membuat Dhamma dilecehkan.

Cara dan Kiat Memiliki Pelanggan Setia, Pahami PSIKOLOGI KONSUMEN

SENI PIKIR & TULIS

Investasi Jangka Panjang Pelaku Usaha, Rawat dan Jaga Pelanggan Anda lewat Pelayanan yang RAMAH dan SABAR

Terkadang, bukan soal produk barang atau jasa yang dijual oleh suatu pelaku usaha (penyedia barang maupun jasa) yang menjadi faktor penentu ada atau tidaknya minat masyarakat ataupun calon konsumen untuk memutuskan menjadi pelanggan atau tidaknya—namun pendekatan, cara menyajikan, serta pelayanan dan ketulusan dalam melayani semisal keramahan dan kesabaran. Ulasan ini disusun dari perspektif konsumen, dimana bila para pembaca merupakan seorang pelaku usaha penyedia barang ataupun jasa, bahasan dalam kesempatan ini menjadi sangat penting untuk disimak karena faedahnya aplikatif untuk diaplikasikan.