Ada seseorang,
Orang biasa,
Ketika ditanya,
“Kamu takut?”
Ia menjawab,
“Tidak.”
Ia tetap bersikap tenang,
Dan menghadapi apa yang harus ia hadapi.
Ada seseorang,
Orang biasa,
Ketika ditanya,
“Kamu takut?”
Ia menjawab,
“Tidak.”
Ia tetap bersikap tenang,
Dan menghadapi apa yang harus ia hadapi.
Terhindari dari Perbuatan ataupun Tidak Berbuat yang Akan Kita Sesali Sendiri di Kemudian Hari, Itulah Pertolongan Dhamma dan Manfaat Berlindung kepada Dhamma
Question : Orang muslim sering bilang, “Hanya kepadanya-lah, Allah, kami meminta pertolongan.” Bukankah itu konyol, mengingat para muslim yang mengadu atau melapor kepada Allah karena dijadikan korban kejahatan, semisal disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh para muslim lainnya, lantas pelakunya dimasukkan ke surga oleh Allah, alih-alih dilempar ke neraka, semata karena sang pelaku kejahatan dihapus dosa-dosanya oleh Allah karena rajin solat, dosa setahun dihapuskan karena puasa ramadhan meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan disamping ajang minta dihormati, juga dosa-dosa sebelumnya dihapus setelah umroh atau haji ke Mekkah di Arab Saudi. Pertanyaannya, meminta pertolongan semacam apakah, yang dimaksudkan oleh para muslim tersebut, pertolongan bagi korban kejahatan ataukah justru pertolongan bagi penjahat-pendosa pelaku kejahatan?
Para Muslim akan Terlahir-Kembali di “Alam SELANGKANGAN”, Alam yang Lebih Rendah daripada Alam Hewan
Question : Para muslim belum mati saja, sudah selingkuh dengan tergila-gila bermimpi dan mengimpikan bersetubuh dengan puluhan bidadari di surga. Itu surga ataukah rumah bord!l tempat pelacuran? Bila mau mencari tempat “lokalisasi”, mengapa mencarinya ke alam surga, bukankah di dunia manusia juga banyak? Mengapa kenikmatan surgawi justru digambarkan sebagai kenikmatan duniawi, seperti persetubuhan tubuh fisik yang kasar?
Korupsi adalah Sifat Kekanak-Kanakan, seolah Tumpukan Harta dan Kekayaan akan Mereka Bawa Mati
Question : Pernah terjadi, saya salah menghitung tagihan lalu klien memberi teguran. Ternyata benar, saya salah menghitung tagihan yang saya tagihankan kepada klien. Sebagai responnya, saya ucapkan terimakasih banyak kepada pihak klien, karena telah menegur saya, sehingga saya “TERHINDAR DARI KORUPSI”. Tapi mengapa ya, orang Indonesia yang rata-rata muslim dan rajin ibadah, justru merasa tersinggung atau bahkan sampai marah ketika ditegur saat mereka mencoba memeras maupun menyalah-gunakan wewenangnya agar kita tidak dipersulit oleh mereka, seolah mereka bekerja tidak digaji dari pajak yang dibayar oleh masyarakat?
Buddhisme, Tidak hanya Bermula ataupun Berakhir pada Keyakinan, namun juga Menyelidiki
Agama Samawi, Bermula dan Berakhir Semata hanya kepada Satu Hal, yakni Keyakinan
Membuta—TANPA MENYELIDIKI
“Aku Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah”? Pembual yang Mewarisi Bualan para
Pembual Sebelumnya, Generasi Demi Generasi
Question : Ketika ada agama yang membuat klaim, bahwa hanya dogma atau agamanya yang benar, ajaran agama yang lainnya adalah salah. Masalahnya, semua agama membuat klaim serupa. Mustahil ada dua “kebenaran” yang saling kontradiktif satu sama lainnya, alias dua “kebenaran” yang saling tidak sejalan dan saling bertabrakan atau tumpang-tindih satu sama lainnya, tidak linear juga tidak konvergen. Maka, bagaimana cara mengenali manakah kebenaran yang sejati?
Para dewa,
Memiliki mata-dewa,
Dapat melihat segala sesuatu
yang terjadi di dunia manusia,
Perbuatan-perbuatan jahat oleh
sesama manusia,
Maupun perbuatan-perbuatan jahat
oleh roh jahat terhadap umat manusia,
Perbuatan-perbuatan yang terang-terangan,
Maupun perbuatan-perbuatan yang
tersembunyi.
Namun,
Para makhluk dewata tersebut,
Membiarkan segala jenis kejahatan terjadi,
MULUT-BESAR para Muslim yang Notabene PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA, “KORUPTOR DOSA” yang Hendak Menceramahi Kaum Lain tentang Hidup Jujur, Bersih, dan Lurus?
Delusi Kaum Muslim yang Paling Delusif, Bangga Memamerkan Bobrok-Moral
“KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih Merasa Malu dan Tabu Bersikap PENGECUT
yang Tidak Berani Mengambil Tanggung-Jawab / Konsekuensi Atas
Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri
Question : Banyak umat muslim, yang mengklaim dengan penuh kebanggaan, bahwa norma agama mereka, yakni islam, lebih tinggi derajatnya daripada norma hukum. Adapun sepengetahuan saya ialah, dogma-dogma agama islam menghalalkan segala jenis kejahatan (dosa-dosa) maupun maksiat, karena meski “ini dan itu disebut haram”, “ini dan itu disebut dilarang”, “ini dan itu disebut dosa”, akan tetapi kemudian dinegasikan sendiri oleh dogma agama islam itu sendiri lewat iming-iming korup semacam “pengampunan dosa”, “dosa-dosa setahun dihapuskan lewat puasa-ramadhan (meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan)”, “dosa-dosa sebelumnya dihapuskan bila berangkat umroh / haji ke Mekkah”.
Buddhisme : Berbuat Satu Buah Kejahatan adalah Terlampau Banyak dan
Berbuat Seribu Kebaikan ialah Terlampau Sedikit—Ada “HUKUM KARMA”!
Agama Samawi-Abrahamik : Berbuat Satu Buah Kebajikan ialah Terlampau Banyak dan Berbuat Seribu Kejahatan adalah Terlampau Sedikit—Ada “PENGHAPUSAN DOSA”!
Sejauh, Selebar, dan Sedalam apakah Perbedaan / Disparitas antara Agama
Buddha dan Agama Samawi-Abrahamik?
Question : Dalam agama samawi, ini dan itu disebut “haram”, ini dan itu disebut “dosa”, ini dan itu disebut “dilarang Tuhan”. Tapi, ujung-ujungnya, dinegasikan oleh dogma agama samawi itu sendiri yang mengajarkan ritual “penghapusan dosa”, sehingga alhasil apapun menjadi “halal hukumnya” dalam agama samawi, dan tidak heran bila umat pengikutnya kemudian diberitakan menjadi koruptor ataupun penjahat-busuk-tercela. Buat apa mengharam-haramkan segala sesuatunya, bila pada muaranya mabuk dan kecanduan “penghapusan dosa”, selain sekadar delusi rasa superior yang semu dan konyol. Bagaimana dengan di agama Buddha, apakah konsisten ada sesuatu yang seharusnya dihindari dan apa yang seharusnya dilakukan?
Berbuat Dosa Sebelum Kemudian Mabuk dan Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA, merupakan Bentuk Watak KEKANAK-KANAKAN Paling Ekstrem dan Lebih Kekanakan daripada Anak-anak Taman Kanak-Kanak
Question : Bukankah hanya seorang anak-anak, yang berpikir bahwa berbohong bisa menyelesaikan masalahnya dan seolah ia tidak pernah melakukan kesalahan? Bukankah hanya anak-anak yang belum dewasa, yang tidak punya kemauan maupun keberanian untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya sendiri?
Sang Buddha Menjinakkan Manusia TANPA KEKERASAN, sementara Nabi Rasul Allah Menaklukkan Manusia Lewat PEDANG dan PERTUMPAHAN DARAH
Question : Mencermati fakta bahwa nabinya umat islam memiliki pedang, senjata tajam, ayat-ayat dalam alquran yang penuh “pertumpahan darah”, maupun dari Kitab Jawa Dharmo Ghandul, kita jadi tahu bahwa islam disebarkan lewat kekerasan, ancaman senjata tajam, pembunuhan berdarah, pertumpahan darah dimana anak kandung sendiri disembelih semata demi memuaskan nafsu-ego sang bapak yang ingin bersetubuh dengan puluhan bidadari di surga (kisah Ibrahim menyembelih Ismail yang dijadikan teladan oleh para muslim), serta kebencian dan permusuhan. Bagaimana pandangan Buddhisme, tentang ajaran yang justru mengkampanyekan dan melestarikan kekerasan dalam penyebaran suatu ideologi?
Kasta Nabi dan Kasta Umat dalam Agama Samawi Bersifat DILAHIRKAN, Bukan
Dicapai Lewat Usaha Meritokrasi Egaliter
Diskriminasi yang Dilahirkan Bukan Lagi Sekadar Melahirkan Diskriminasi,
Ketidakadilan Agama Samawi
Seseorang menjadi Mulia, karena Perbuatan dan Perjuangannya, bukan karena Kelahiran, Itulah Ajaran Sang Buddha
Question : Alasan mengapa saya tidak cocok, bahkan alergi, terhadap agama samawi, karena ada yang dilahirkan sebagai nabi dan ada yang dilahirkan sebagai umat-pengikut atau orang biasa. Itu adalah diskriminasi yang dilahirkan. Itu sama seperti mereka hendak berkata bahwa bila ada seserang diberi kasta sebagai kasta budak, maka budak dilahirkan ataupun melahirkan budak, tanpa bisa dibebaskan dari perbudakan generasi demi generasi. Bila ada kasta bangsawan, maka bisa jadi ia memang bangsawan sejak dilahirkan dan karena dilahirkan di tengah keluarga bangsawan, namun apakah ia selamanya stagnan, tidak bisa merosot-menurun ataupun menapak ke tingkat derajat yang lebih tinggi? Sama seperti orang miskin, mungkin ia terlahir miskin, namun apakah artinya ia akan miskin selamanya? Itu menegasikan peran perjuangan. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah Buddha juga dilahirkan sifatnya?
Makna KORUPSI MORAL, Moral pun Dikorupsi
Question : Yang dimaksud dengan “korupsi moral”, itu artinya seperti apakah?
Miskin-Keringnya Ajaran Agama Samawi : Haram Hukumnya Mempertanyakan dan Memakai Otak untuk Berpikir Kritis
Question : Yang namanya junjungan atau teladan, harusnya lebih baik standar-moralnya ketimbang yang menjadi pengikut atau umat. Tapi di islam berbeda, nabi yang para muslim junjung, justru lebih mabok, lebih tergila-gila, lebih demam, dan lebih kecanduan “pengampunan dosa” daripada para umatnya. Artinya, nabi para muslim itu dosa-dosanya lebih menggunung daripada dosa-dosa para muslim yang menjadi pengikutnya. Sebenarnya para muslim itu hendak meneladani kebusukan-moral sang nabi, ataukah apa? Bukankah menjadi tidak mengherankan, bila kemudian kita menemukan kabar berita maupun realita keseharian dimana para muslim yang melakukan aksi kejahatan maupun korupsi?
Peng-Kurban-an Ibrahim / Abraham terhadap Putera Tunggalnya, Ismail / Ishaq, Pengorbanan PENUH PERTUMPAHAN DARAH
Question: Di dalam agama samawi-abrahamik, Ibrahim mengkurbankan nyawa hidup anak kandungnya untuk disembelih, Ismail. Namun, Ibrahim tidak bersedia mengkurbankan harta miliknya yang terbesar, yakni nyawanya sendiri untuk disembelih, karena Ibrahim telah dibutakan oleh EGO yang tergila-gila oleh mimpi bersenang-senang dan bersetubuh dengan puluhan bidadari di sorga. Jika Sang Buddha, apakah wujud pengorbanannya, apakah ada kisah hidup Sang Buddha yang relevan dengan kisah kurban-mengkurbankan anak kandung?
Ngakunya Agama “CINTA DAMAI”, tapi Isi Ajarannya “BUNUH”, “PERANGI”, “PENGGAL”, “PANCUNG”, “TUMPAHKAN DARAH”
Question: Bila ajaran semacam berikut ini disebut “cinta dsmai”, maka yang disebut ajaran “teror!s” akan seperti apakah wujudnya? Hadist Tirmidzi No. 2533 : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”
Menikmati dan Mencandu “PENGHAPUSAN DOSA” artinya Menikmati serta Kecanduan “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”
Membenci Tanpa Alasan, semata karena Diharuskan demikian oleh Kitab Agama
Samawi, Ciri Agama KEBENCIAN
Question: Dari penilaian saya secara jujur dan objektif,
hukum karma atau hukum sebab-akibat, merupakan sistem merit egaliter yang
paling adil dan paling ideal. Pertanyaannya, mengapa banyak orang yang justru
memilih menjadi umat nonBuddhis? Kita ambil contoh lainnya, Ibrahim menyembelih
Ismail, anak kandungnya, disebutkan oleh umat agama samawi sebagai bentuk
pengorbankan-diri, yakni mengorbankan apa yang paling dikasihi oleh Ibrahim.
Itu penilaian orang yang buta nuraninya.
Yang paling dicintai oleh Ibrahim, ialah nyawa hidupnya sendiri, bukan nyawa sang anak. Bila betul Ibrahim hendak berkurban dan mengorbankan apa yang PALING IA CINTAI, maka semestinya ia mengorbankan nyawanya sendiri demi menebus nyawa sang anak, bukan sebaliknya, mengorbankan nyawa sang anak demi kesenangan sang ayah yang ingin bersetubuh dengan bidadari di surga. Alih-alih memilih masuk neraka demi menyelamatkan sang anak, Ibrahim yang tergila-gila ingin bersenang-senang dengan bidadari di surga, secara sadar memilih untuk mengorbankan apa yang TIDAK LEBIH PENTING dari nyawa maupun EGO dirinya sendiri, yakni nyawa milik sang anak.
Nabi Rasul Allah merupakan Pecandu-Berat Dogma KORUP “PENGHAPUSAN DOSA”
Question: Di agama-agama samawi, level tingkatan para umat pemeluknya ialah mulai dari “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 1”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 2”, “Pendosa Penjilat Pecandu Penghapusan Dosa Level 3”, dan seterusnya, yakni kadar mabuk dan kecanduan sang umat yang semakin tebal kekotoran batin, kejahatan-kejahatan, serta kemelekatannya terhadap dogma iming-iming “Penghapusan Dosa”. Singkatnya, semakin mereka mendalami agama samawi, semakin tergila-gila yang bersangkutan terhadap dogma korup tersebut, bagaikan hal memabukkan yang adiktif, pemabuk-ringan yang menjelma pemabuk kelas berat. Bagaimana dengan di Agama Buddha, kabarnya ada yang unik dalam Agama Buddha, yakni semacam tingkatan level kultivasi kesucian?
Mualaf artinya MENJERUMUSKAN DIRI Menjelma KORUPTOR DOSA dimana Dosa-Dosa pun
Dikorupsi—Kesempurnaan Penuh dari Tingkatan si Dungu
Mualaf Identik dengan Kaum Hina yang PEMALAS dan PENGECUT, Begitu PEMALAS untuk Menanam Benih-Benih Karma Baik untuk Dipetik Sendiri di Masa Depan serta Begitu PENGECUT untuk Bertanggung-Jawab Atas Perbuatan-perbuatan Buruk Mereka di Masa Lampau
Terdapat sebuah kisah, dimana seorang muslim dengan nada yang membanggakan agamanya dan seolah merupakan kaum yang paling superior, bertanya kepada seorang umat Buddhist, dengan cuplikan dialog singkat berikut:
Allah adalah Impoten, Bukan “Maha Kuasa”
Kita adalah KORBAN KELAHIRAN, PENUAAN, dan KEMATIAN (PENJELMAAN). Kita
Semua merupakan Kurbannya Tuhan Sang Pencipta
Question: Banyak sekali kontradiktif dalam dogma-dogma agama samawi. Anehnya, mereka, para umat agama samawi, tampak begitu dungu, memakannya begitu saja tanpa dipertanyakan, sekalipun dogma-dogmanya satu sama lain saling kontradiktif. Kita ambil contoh dogma agama samawi yang menyatakan bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak dan kuasa Allah, dimana bahkan mereka mengklaim bahwa detak jantung kita setiap detiknya pun diatur oleh Allah. Kalau memang begitu adanya, mengapa orang-orang yang dituduh mencuri atau berzina, harus dihukum oleh manusia lainnya (oleh sesama manusia) dengan dipotong tangan atau dirajam, alih-alih Allah sendiri yang lewat kuasanya membuat mereka jatuh sakit karena stroke atau penghasilannya menjadi berkurang sebagai hukumannya?
Keberuntungan pun Sifatnya DITANAM, bukan Diminta ataupun Diberikan juga Bukan Jatuh dari Langit Tanpa Adanya Sebab yang Mendahului
Beruntung adalah Akibat, Bukan Sebab. Sebabnya ialah Menanam Kebaikan
Question: Dalam perspektif dogma agama samawi, kelebihan dan kekurangan seseorang sifatnya ialah pemberian dari langit, Tuhan, suatu “taken for granted” yang tidak dapat kita tolak juga tidak kita minta. Begitupula menjadi kaya atau miskin, cantik maupun tidak rupawan, lamban dalam kemampuan berpikir maupun cerdas-jenius, ataupun yang punya kecenderungan berpikir jahat maupun yang pola berpikirnya baik-altruistik, kesemua itu adalah “nasib” yang sudah ditakdirkan dari sananya tanpa dapat kita pilih. Bahkan kita sendiri tidak pernah memilih ataupun meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Bagaimana dengan pandangan dalam Buddhisme?
Tidak Perlu Terobsesi untuk Memberikan Pelajaran bagi Sang Pelaku Kejahatan, Efek Jera bagi Sang Pelaku akan Hadir secara Sendirinya, karena Ciri-Ciri Seseorang akan Menentukan Nasib Hidupnya
Bersikap seperti Iblis, Nasibnya ialah Nasib yang Sama dengan yang Dialami
Iblis. Bersikap seperti Setan, Nasibnya Tidak Ubahnya Nasib yang Dihadapi Setan.
Bersikap seperti Hewan, Nasibnya Sama seperti Seekor Hewan
Question: Ada orang jahat, yang jahatnya bagaikan iblis atau manusia-setan. Dilaporkan ke polisi pun, tidak membuahkan hasil, tidak tersentuh hukum ataupun dihukum tetap kembali mengulangi perbuatannya menjadi seorang residivis. Kita, sebagai korban, harus bersikap seperti apa lagi? Bila tidak ada yang menghukum orang jahat semacam itu, nanti bagaimana bila mereka merajalela sehingga korban-korbannya akan lebih banyak dan kembali berjatuhan?
Pikiran Sempit, Picik, dan Naif, Bukan Diakibatkan Jarang Berkomunikasi dengan Orang Lain
Question: Sering saya mengamati, seseorang yang perilaku kesehariannya begitu jahat, namun ia aktif dan suka berbincang-bincang dengan orang lain. Telah ternyata aktif berkomunikasi dengan orang lain, tidak identik dengan mencerahkan dan tercerahkan; pikirannya tetap saja sempit dan tidak terbuka. Apakah artinya seorang pendiam maupun para kaum introvert, sukar tercerahkan semata karena jarang berkomunikasi dengan orang lain? Tengok saja kaum koruptor, jejaring pergaulan dan koneksinya begitu luas, suka bersilahturami, namun tetap saja korupsi, bahkan korupsi berjemaah.
Kebebasan Tidak Identik dengan Sifat Positif. Hanya Kebebasan-Benar yang Positif Sifatnya, sementara Kebebasan-Salah adalah Negatif
Mabuk dan Kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”. Alih-alih Padam, Kekotoran-Batin
justru Kian Membara dan Menyala-Besar, Kekotoran mana Bersarang dan Lestari
dalam Diri, Mencengkeram-Erat si Dungu
Question: Terkadang, bahkan seringkali terjadi, saat kesadaran saya menyadari bahwa “kondisi yang ada tidak sempurna adanya” atau “kondisi yang ada jauh dari kata ‘ideal’”, mendadak tubuh dan pikiran saya menjadi “beku-lumpuh” (freeze-paralyze). Apakah itu hanya dialami oleh saya seorang?
Ritual “Pengampunan Dosa”, Melekat pada Kekotoran Batin dan Memeliharanya, Produktif Melakukan “Dosa-dosa untuk Dihapuskan”
Question: Umat muslim setiap harinya kecanduan ritual “pengampunan dosa”. Setiap tahunnya, mereka mabuk pesta-pora ritual “konsumsi meningkat namun dosa-dosa setahun dihapuskan”. Ketika matinya pun, doa sanak-keluarga sang almarhum pendosawan ialah “semoga dosa-dosa almarhum diampuni oleh Allah”. Mengapa tidak pernah sekalipun, mereka memikirkan kepentingan korban dan mendoakan kalangan korban-korban mereka, ataupun lebih sibuk untuk mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri yang telah pernah atau masih sedang menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya?
Mengapa Umat Muslim “HAUS DARAH” (Suka Menyelesaikan Setiap Masalah dengan Kekerasan Fisik)? Ajaran Islam yang “HAUS PERTUMPAHAN DARAH” adalah Akar Muasal Penyebabnya
Semua Muslim adalah “Juru Sembelih Halal”, HALAL MENUMPAHKAN DARAH
NONMUSLIM dan MERAMPAS HARTA MEREKA
Mereka yang Melakukan Pembunuhan dan Mereka yang Menghindari Pembunuhan,
Nasibnya akan Berbeda. Ciri-Ciri Hidup Seseorang, Menentukan Nasib Hidupnya.
Question: Selalu saya merasa bahwa islam adalah agama primitif bagi orang-orang primitif, baik otak maupun budayanya. Para muslim beralibi, hewan diciptakan oleh Allah untuk dimakan oleh manusia. Kalau begitu, mengapa hewan-hewan ternak tersebut tidak disiksa saja sebelum disembelih, toh hanya objek “pemuas nafsu manusia”? Apakah hewan-hewan malang tersebut di alam baka harus berkata kepada yang menyembelih mereka, “Terus, kami harus bilang ‘terimakasih’ gitu, karena kami tidak disiksa seumur hidup sampai mati tua di kandang, namun harta terbesar kami, yakni NYAWA kami, dirampas lewat disembelih?”
Seseorang yang pandai bicara,
Namun sampah,
Tetap saja orang sampah.
Seseorang yang serba kikuk,
Namun mulia,
Tetap saja orang yang mulia.
Nabi Rasul Allah Mabuk dan Kecanduan PENGAMPUNAN DOSA-DOSA, namun para Muslim Menyebut sang Nabi sebagai Manusia Paling Sempurna
Question: Itu para muslim yang setiap harinya kecanduan “pengampunan dosa”, motivasinya apa saat setiap harinya mereka ritual doa untuk memohon “pengampunan dosa”, apakah dilandasi oleh niat baik ataukah niat buruk?
Allah hanyalah Sekecil Kutu di Hadapan Buddha
Allah yang Butuh Manusia—Bukan Sebaliknya—karenanya Allah Mengobral Sorga
bagi PENDOSAWAN dengan Iming-Iming PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, Demi Punya
Umat dan Disembah
Question: Seseorang yang soliter, tidak butuh validasi dari orang lain, karenanya mereka yang berjiwa soliter tidak merasa butuh pengakuan maupun dukungan dari orang lain untuk melanjutkan dan menjalankan hidupnya. Mereka juga tidak butuh izin maupun pendapat dari orang lain. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka berani untuk “tidak disukai” serta tidak merendahkan dirinya sendiri di hadapan pihak eksternal. Dengan perspektif yang sama, ketika Allah menjadi murka karena tidak disembah, yesus memasukkan ke neraka umat manusia semata karena tidak mengakui dirinya, maka pertanyaan relevannya ialah : Siapa yang sedang membutuh siapa, Allah atau yesus yang butuh umat, ataukah sebaliknya manusia yang butuh Allah maupun yesus?
Babi, Haram. PENGAMPUNAN DOSA, HALAL?!
Hanya Orang Kerdil yang Menyembah “Tuhan yang Kerdil” Bernama Allah
Question: Apakah layak dan patut, kita menghormat kepada sosok semacam Allah yang justru lebih memihak kepada penjahat (pendosa) dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut? Apakah juga layak dan patut, Allah menuntut dihormati sekalipun sikapnya ialah lebih PRO terhadap pendosa dengan menghapus dosa-dosa para pendosa, dan disaat bersamaan merampas hak kalangan korban atas keadilan? Mengapa kita harus menyembah dan berlindung kepada tiran semacam itu?
Tidak Ada “Tuhan” yang lebih Dungu, daripada yang Memberikan Surga kepada PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA
Manusia Sampah, Tempatnya di Tong Sampah, bukan di Surga—kecuali “Surga”
merupakan Tong Sampah dimana para PENDOSA Dijejali Masuk bak Ikan Sarden
Question: Mengapa harus jadi orang baik, bila jadi orang jahat saja ternyata banyak yang bisa hidup panjang umur, sukses, beruntung, kebal hukum, makmur, tidak kunjung celaka, serta dimasukkan ke surga setelah matinya lewat rituan pengampunan dosa?
Kelahiran Kembali adalah Dukkha dan Tidak Terlahir Kembali adalah Kebahagiaan, Atas Alasan apakah?
Bila Anda Benar-Benar Mencintai Putera dan Puteri Anda, maka Jangan Pernah
Lahirkan Seorang pun dari Mereka, Calon Anak-Anak Anda
Question: Bila setiap hari, setiap tahunnya, bahkan sampai akhir hayatnya, isi doanya ialah minta dihapus dosa-dosanya, maka bukankah itu adalah sebuah pola (pattern), yakni pola pertanda tidak jera dan tidak pernah kapok kembali melakukan dosa-dosa serupa sejak dahulu kala hingga seterusnya?
Jenis Hiburan yang Dungu bagi Orang Dungu : Dogma PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bagi PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA bernama Umat Agama Samawi
Biarlah Saya Terasing dari Allah yang Lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU
PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA, dan Biarkanlah Saya Memurnikan Diri
dengan “Melawan Arus”, Melawan “Kehendak Allah”
Untuk Apa juga Kita Bangga dan Mau Dirahmati atau Diberkahi oleh “Tuhan
yang Lebih PRO terhadap PENJAHAT / PENDOSA”?
Question: Apakah tidak ada yang mempertanyakan atau setidaknya merasa heran dan janggal, kita sadar bahwa hidup adalah duka (pain atau suffer). Namun mengapa mereka selalu dengan percaya diri merasa bahwa orang lain akan merasa senang ketika mereka berkata “God bless you”, seolah-olah kita akan memilih untuk pernah dilahirkan ke dunia ini bila boleh memilih?
Khotbah Sang Buddha tentang “TANPA DURI”
Dogma KORUP Semacam PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA adalah DURI
bagi Jalan Kesucian yang Penuh Pengendalian Diri maupun DURI bagi Jiwa Ksatria
yang Penuh Tanggung-Jawab
Question: Agama islam mengatakan bahwa manusia terlahir ibarat selembar kain yang putih bersih alias murni. Namun mengapa nabi rasul allah junjungan para muslim, beranjak pada usia dewasanya justru menjelma pendosa pecandu pengampunan dosa dan mabuk pada adiksi pengampunan dosa, alih-alih semakin tua semakin bijaksana? Bukankah antara “berbuat dosa-dosa untuk dihapuskan” dan “pengampunan dosa” sifatnya saling bundling alias komplomenter satu sama lainnya tanpa dapat dipisahkan?
Perbedaan antara EGO dan Welas-Asih
Question: Bagaimanakah ciri-ciri orang yang memiliki belas-kasih atau welas-asih?
Pandai dan Gemar Mengomentari dan Meng-kritik maupun
Mencela Orang Lain, Belum Tentu dan Bukan Jaminan yang Bersangkutan Lebih Baik
Perialkunya
Lebih Baik Terampil dan Terlatih dalam Kewaspadaan (Mawas-Diri) daripada Sibuk Mengomentari dan Mencela Pihak Lain
Dalam usia yang telah hampir mencapai separuh abad lamanya lahir dan tumbuh besar di Indonesia, kerapkali penulis jumpai fenomena sosial dimana anggota masyarakat kita begitu pandai dan gemar mengomentari, menggurui, mencerca, menghardik, meng-kritik, mencela, menghakimi, serta meng-kritisi pihak lain, akan tetapi telah ternyata diri yang bersangkutan senantiasa memelihara “standar ganda”, yakni : orang lain tidak boleh demikian, namun dirinya sendiri boleh demikian. Alhasil, penulis cenderung untuk tidak menanggapi apapun orang-orang yang bersikap kritis terhadap orang lain—karena belum tentu yang bersangkutan berbeda sikap dan sifatnya dari orang lain yang ia cela, kritik, serta hakimi.
Nasib Korban, Tanpa Kepastian dimana Keadilan Terasa Demikian Tidak Terjangkau
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang Terbit Tahun 2025
lebih PRO terhadap Terdakwa, Kabar Gembira bagi Pelaku Kejahatan dan Kabar Duka
bagi Kalangan Korban
Question: Ada hal “mengganjalkan” yang cukup membuat kami bingung saat dipikirkan sebanyak apapun, yakni pihak Jaksa atau Penuntut Umum (JPU) tidak boleh mengajukan upaya hukum Kasasi ke Mahkamah Agung terhadap Terdakwa yang diputus “bebas” atau “diberikan pe-maaf-an” oleh hakim di pengadilan. Pertanyaannya, bukankah disini juga ada kepentingan kami selaku Korban-Pelapor, dimana pihak Kejaksaan mendakwa dan menuntut dalam rangka mewakili kepentingan pihak Korban? Mengapa terkesan ada hak yang berdisparitas atau diskriminasi antara kepentingan Korban dan kepentingan seorang Terdakwa, serta dimanakah letak “equality before the law”-nya? Yang terlebih janggal, bila Korban tidak memaafkan (perbuatan) sang pelaku, atas dasar hak apakah hakim di pengadilan melakukan “fetakompli” terhadap hak prerogatif Korban untuk memaafkan atau tidaknya pihak Terdakwa yang nyata-nyata telah terbukti bersalah sebagaimana dirinci dalam dakwaan JPU?
Semua orang sanggup mengikuti
arus,
Namun tidak semua orang sanggup
melawan arus.
Semua orang sanggup “tabrak
lari”,
Namun tidak semua orang sanggup
bertanggung-jawab.
Semua orang sanggup berbuat
jahat,
Namun tidak semua orang sanggup berbuat kebaikan.
Kaum Muslim, Ibarat Buruk Wajah (tapi) Cermin (yang) Dibelah
Standar Ganda Kaum Muslim yang Serba Mau Menang Sendiri
Question: Saya sering mengamati, betapa kaum muslim maunya “menang sendiri” secara membuta, parsial, serta berstandar-ganda. Kaum muslim beralibi, bahwa Israel membuat serangan-balasan secara tidak proporsional. Pertanyaannya, Israel adalah negara yang teritori luas tanahnya sangat amat kecil, lalu dikeroyok oleh Hamas, Iran, dan Yaman, dan sejak dahulu kala berita mewartakan kabar bahwa Israel yang diserang terlebih dahulu oleh mereka lewat rudal peledak. Bagaimana mungkin, negara dengan teritori kecil, disebut membuat serangan-balasan secara tidak proposional terhadap negara-negara yang mengeroyokinya? Menabuh genderang peperangan, salah siapa jika yang kemudian “babak-belur” ialah si penabuh genderang perang? Mereka tidak mau belajar dengan selalu mengulangi hal serupa, seolah menyerang negara orang lain ialah “iseng-iseng berhadiah” tanpa kosekuensi apapun, lalu “cengeng” dengan bermain “playing victim”.
Jangan Bersikap seolah-olah Tidak Bisa Hidup Tanpa menjadi PENGECUT (PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA)
KORUPTOR DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi, AGAMA DOSA
Question: Mengapa saya merasa, bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia adalah berwatak pesimistik, terlihat dari doa-doa dan ritual mereka yang secara vulgar, bahkan mempromosikannya tanpa rasa malu ataupun tabu lewat pengeras suara ke publik luas, yang terkesan “tidak bisa hidup tanpa mencandu dan mabuk pengampunan dosa”? Apakah tidak bisa, kita hidup secara bertanggung-jawab dan berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan kita sendiri, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk, juga baik perbuatan yang kecil maupun yang besar?
Kasta PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior Dimana Ini dan Itu Diharamkan namun Ideologi KORUP justru DIhalalkan
Dosa-Dosa pun Dikorupsi, Ideologi KORUP Bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN
/ PENEBUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA”
Question: Mengapa di Buddhis, aturan larangan bagi umatnya longgar sekali, hanya ada lima buah larangan (pancasila)?