Bergantung dan Mengandalkan Yesus? Yesus bahkan Tidak dapat Menolong dan Menyelamatkan Diri Sendiri
“Berbuat Baik Artinya, Tidak Merugikan Orang Lain DAN
TIDAK MERUGIKAN DIRI SENDIRI.”
[Sabda Sang Buddha]
Ada seorang netizen, yang membuat komentar dengan
kutipan sebagai berikut pada sebuah platform digital:
About the christian symbol itself, the CROSS….
When i was a teenager, while hanging out with my
much older cousins, someone mentioned a book (or magazine) he read the other
day about the CROSS.
The article asked, what if jesus was killed by a firing squad, would the
RIFLE become the christian symbol? or
the bullet itself. imagine all those churches with RIFLES atop those steeples.
i’ve already started questioning the bible stories
years before. but this particular idea just made me realize how idiotic the
religion was.
Why glorify your deity’s means of execution?
Lalu penulis membuat tanggapan terhadap yang
bersangkutan:
Good question, same as Abraham kill Ishaq, his son. At
that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR!
Let me add one more question : He
(jesus) can not help himself. So, why we think he can save us?
Terdapat umat kristiani yang tampaknya mencoba
menjadi “pahlawan kesiangan” dengan berupaya membela yesus, dengan menyatakan
bahwa yesus adalah “God” (Tuhan) yang berkorban untuk menolong manusia.
Tanggapan penulis kemudian : “Jesus is God? Are you CRAZY? I’m talking about
jesus who CAN NOT HELP HIMSELF.”
Bila masih ada umat nasrani yang “keras kepala”,
maka inilah tanggapan berikutnya dari penulis : “Buddha said : ‘Being good
means, not hurt others nor ourselve.’”—Berbuat baik artinya, tidak merugikan orang lain juga
tidak merugikan diri sendiri. Artinya pula, yesus tidak sedang berbuat baik
kepada siapapun, karena ia tidak menghargai hidupnya sendiri, sehingga tidak
mungkin mampu menghargai kehidupan para umatnya.
“Dosa warisan”? Lantas, “harta warisan” dari Adam
dan Hawa, dikemanakan, di-KORUP oleh yesus?
“Domba yang hilang” dan “semua hewan diciptakan
untuk dimakan oleh manusia”? Jika domba-domba tersebut kemudian diketemukan,
maka apakah yang akan dilakukan oleh yesus, memanggang ataukah menggorengnya?
Bila masih ada juga orang-orang dungu yang
mencoba membela sang “nabi yang lahir di kandang ternak dan tewas mengenaskan
hanya mengenakan celana dalam”, maka kisah metafora berikut yang menjadi
pemuncaknya : [penulis kutip kisahnya berdasarkan ingatan atas sebuah buku
berisi humor saat masih berusia muda]
Seorang pemuda memasuki sebuah hutan belantara, dan
takjub atas indah serta lebatnya hutan tersebut. Mendadak, muncul seekor singa mengergap
sang pemuda.
Akan tetapi yang membuat sang pemuda lebih takjub
lagi, singa tersebut kemudian berpose dengan tubuh berlutut, dan tangan
mengatup seperti hendak berdoa.
“Astaga, saya berjumpa dengan singa yang soleh!”
pekik sang pemuda.
Tiba-tiba sang singa menjawab, sembari tetap
memejamkan mata, “Ya, sebagai singa yang baik, tidak lupa berdoa
sebelum makan.”
Ada sebuah keluarga nasrani—keluarga paman dari
penulis—yang pernah mencoba mengintimidasi penulis, yakni bersikap “agamais”
berupa “ritual berdoa sebelum makan”, yang isi doanya “terimakasih
Tuhan-Yesus, atas pemberian makanannya, bla bla bla...”—seolah hendak
berkata, “kamu tidak tahu terimakasih kepada Tuhan atas pemberiannya.” Yesus
adalah Tuhan? Untuk apa juga mengemis-ngemis pada yesus bila kami diajarkan
oleh Sang Buddha untuk menanam sendiri apa yang kemudian akan kami petik dan
nikmati alias “mau merepotkan diri”?
Umat agama nasrani merupakan kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan kaum paling
pengecut yang bersikap pengecut dengan tidak berani bertanggung-jawab atas
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Mereka, melarikan diri dari
konsekuensi atas perbuatannya sendiri, alias “berani berbuat, namun tidak
berani bertanggung-jawab”.
Dogma “penebusan dosa”, menjadi bukti bahwa agama
nasrani / kristiani / protestan / katolik merupakan “Agama DOSA” yang bersumber
dari “Kitab DOSA”, alih-alih “Agama SUCI” yang bersumber dari “Kitab SUCI”.
Karena, lawan kata dari “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” ialah
“TANGGUNG-JAWAB”. Tetap saja, umat agama samawi merasa sebagai kaum paling
superior yang memonopoli alam surgawi—sekalipun sejatinya merupakan kasta
paling rendah, paling tercela, serta paling hina, yang telah divonis hidup
serta matinya sebagai “PENDOSA PECANDU PENEBUSAN DOSA”.
Ideologi “penebusan dosa”, sungguh serupa dengan
“minta maaf dulu, baru kemudian bebas berbuat kejahatan sebanyak apapun”. Ini
dan itu, disebut dosa. Ini dan itu, dilarang Tuhan. Namun, muaranya ialah
lagi-lagi dan lagi-lagi “penebusan dosa” sehingga mabuk serta kecanduan
“penebusan dosa”. Alhasil, umat agama nasrani sama sekali tidak takut berbuat
jahat dengan merugikan, menyakiti, maupun melukai pihak lainnya sembari yakin
seyakin-yakinnya masuk surga sembari “business as usual” (memproduksi
segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa).
Dalam berbagai kesempatan di berbagai tempat,
inilah yang selalu diucapkan oleh dua orang nasrani ketika mereka saling berbincang-bincang
: “Umat agama Buddha, baik-baik sih orangnya. Tapi karena mereka tidak
meyakini / beriman kepada yesus-kristus, mereka masuk neraka.” Berikut
inilah, ibadahnya Buddhisme, yang membuat para nasrani patut merasa inferior
serta malu (jika masih “tahu malu” dan urat-malunya belum putus), karena mereka
jelas-jelas “bukan orang baik-baik”:
Ovada Patimokkha
Sabbapāpassa akaraṇaṃ
Kusalassa upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo anūpaghāto,
pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ, pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte ca āyogo, etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek
bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”,
begitulah sabda Para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak
menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal
makan, berdiam di tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan
batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada
183-184-185, Syair Gatha.]
Orang baik dan orang suci, tidak butuh ritual dan
tidak mengandalkan ritual. Umat agama nasrani merupakan orang-orang dungu yang
kotor, yang bergantung serta mengantungkan nasibnya pada spekulasi yang bernama
“ritual”, bukan pada faktor perbuatan nyata. Seakan mampu memprediksi masa
depan serta mengantisipasi pandangan keliru yang menguasai pikiran para umat
agama samawi demikian, mari kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta
Press, dengan kutipan sebagai berikut:
176 (10) Cunda
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang
Bhagavā sedang menetap di Pāvā di hutan mangga milik Cunda, putra pandai besi.
Kemudian Cunda, putra pandai besi, mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada
Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
[Kitab Komentar : Adalah Cunda
ini yang memberikan makanan terakhir kepada Sang Buddha.]
“Cunda, ritual pemurnian siapakah yang lebih engkau
sukai?”
[Catatan Bhikkhu Bodhi : Soceyyāni.
Maknanya tidak seketika jelas. Soceyya biasanya berarti “kemurnian,
pemurnian,” tetapi dari konteksnya tampaknya merujuk pada sejenis ritual.]
“Bhante, aku lebih menyukai ritual pemurnian yang
ditetapkan oleh para brahmana dari barat yang membawa-bawa kendi air, mengenakan
kalung bunga dari tanaman air, merawat api suci, dan merendam diri mereka di
dalam air.”
“Dan bagaimanakah, Cunda, para brahmana dari barat
itu menetapkan ritual pemurnian mereka?”
“Di sini, Bhante, para brahmana dari barat menyuruh
seorang siswa sebagai berikut: ‘Ayolah, teman, setelah bangun pagi, engkau
harus menepuk tanah dari tempat tidurmu. Jika engkau tidak menepuk tanah, maka
engkau harus menepuk kotoran sapi yang basah. Jika engkau tidak menepuk kotoran
sapi yang basah, maka engkau harus menepuk rumput hijau. Jika engkau tidak menepuk
rumput hijau, maka engkau harus merawat api suci. Jika engkau tidak merawat api
suci, maka engkau harus memberikan salam hormat kepada matahari. Jika engkau
tidak memberikan salam hormat kepada matahari, maka engkau harus merendam dirimu
di air tiga kali termasuk malam hari.’ Dengan cara inilah para brahmana dari
barat menetapkan ritual pemurnian mereka. Inilah ritual pemurnian mereka yang
lebih kusukai.”
“Cunda, pemurnian dalam disiplin Yang Mulia sangat berbeda dengan
ritual pemurnian yang ditetapkan oleh para brahmana dari barat yang membawa-bawa kendi air,
mengenakan kalung bunga dari tanaman air, merawat api suci, dan merendam diri
mereka di dalam air.” [264]
“Tetapi bagaimanakah, Bhante, pemurnian itu
terjadi di dalam disiplin Yang Mulia? Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan
Dhamma kepadaku sedemikian yang menjelaskan bagaimana pemurnian itu terjadi
dalam disiplin Yang Mulia.”
“Kalau begitu, Cunda, dengarkan dan perhatikanlah
dengan seksama. Aku akan berbicara.”
“Baik, Bhante,” Cunda, putra pandai besi, menjawab.
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Ketidak-murnian melalui jasmani, Cunda, ada tiga.
Ketidak-murnian melalui ucapan ada empat. Ketidak-murnian melalui pikiran ada
tiga.
“Dan bagaimanakah, Cunda, ketidak-murnian
melalui jasmani yang ada tiga itu?
(1) “Di sini, seseorang membunuh. Ia adalah
pembunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan kekerasan, tanpa belas kasih
pada makhluk-makhluk hidup.
(2) “Ia mengambil apa yang tidak diberikan. Ia
mencuri kekayaan dan harta milik orang lain di desa atau hutan.
(3) “Ia melakukan hubungan seksual yang salah. Ia
melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu
mereka, oleh ayah mereka, oleh ibu dan ayah, saudara, saudari, atau kerabat
mereka; yang dilindungi oleh Dhamma mereka; yang memiliki suami; yang
pelanggarannya menuntut adanya hukuman; atau bahkan dengan seorang yang telah bertunangan.
[Kitab Komentar : Empat
terakhir merujuk berturut-turut pada: (1) seorang perempuan yang dilindungi
oleh sesama pengikut religius, (2) seorang yang telah menikah atau bahkan yang
telah diserahkan kepada seorang suami sejak lahir atau sejak kanak-kanak, (3)
seorang yang mana hubungan seksual dengannya akan dikenai hukuman, dan (4)
seorang gadis yang telah dikalungi bunga oleh seorang laki-laki sebagai tanda pertunangan.]
“Dengan cara inilah ketidak-murnian jasmani itu ada
tiga.
“Dan bagaimanakah, Cunda, ketidak-murnian
ucapan yang ada empat itu?
(4) “Di sini, seseorang berbohong. Jika ia dipanggil
untuk menghadap suatu dewan, menghadap suatu kumpulan, menghadap sanak
saudaranya, menghadap serikat kerja, atau menghadap persidangan, dan ditanyai
sebagai saksi sebagai berikut: ‘Jadi, tuan, katakanlah apa yang engkau
ketahui,’ kemudian, tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’ atau mengetahui,
ia mengatakan, ‘aku tidak tahu; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat,’
atau melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat.’ Demikianlah [265] ia dengan
sengaja mengucapkan kebohongan demi dirinya sendiri, atau demi orang lain, atau
demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi.
(5) “Ia mengucapkan kata-kata yang memecah-belah.
Setelah mendengar sesuatu di sini, ia mengulanginya di tempat lain untuk memecah-belah
[orang-orang itu] dari orang-orang ini; atau setelah mendengar sesuatu di
tempat lain, ia mengulanginya kepada orang-orang ini untuk memecah-belah
[mereka] dari orang-orang itu. Demikianlah ia adalah seorang yang memecah-belah
mereka yang bersatu, seorang pembuat perpecahan, seorang yang menikmati
kelompok-kelompok, bergembira dalam kelompok-kelompok, bersenang dalam kelompok-kelompok,
seorang pengucap kata-kata yang menciptakan kelompok-kelompok.
(6) “Ia berkata-kata kasar. Ia mengucapkan kata-kata
yang kasar, keras, menyakitkan bagi orang lain, menghina orang lain, berbatasan
dengan kemarahan, tidak kondusif bagi konsentrasi.
(7) “Ia menikmati bergosip. Ia berbicara pada saat
yang tidak tepat, mengucapkan dusta, mengatakan apa yang tidak bermanfaat,
mengucapkan apa yang bertentangan dengan Dhamma dan disiplin; dan pada saat
yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak bernilai, tidak logis,
melantur, dan tidak bermanfaat.
“Dengan cara inilah ketidak-murnian ucapan itu ada
empat.
“Dan bagaimanakah, Cunda, ketidak-murnian
pikiran yang ada tiga itu?
(8) “Di sini, seseorang penuh kerinduan. Ia
merindukan kekayaan dan harta orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang
dimiliki orang lain menjadi milikku!’
(9) “Ia memiliki pikiran berniat buruk dan kehendak
membenci sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini dibunuh, dibantai, dipotong,
dihancurkan, atau dibinasakan!’
(10) “Ia menganut pandangan salah, dan memiliki
perspektif keliru sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dikorbankan,
tidak ada yang dipersembahkan; tidak ada buah atau akibat dari perbuatan
baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak ada ibu,
tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan;
tidak ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang berperilaku baik dan
praktik yang benar yang, setelah merealisasikan dunia ini dan dunia lain untuk diri
mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, kemudian mengajarkannya kepada
orang lain.’
“Dengan cara inilah ketidak-murnian pikiran itu ada
tiga. [266]
“Ini, Cunda, adalah sepuluh jalan kamma tidak bermanfaat. Jika seseorang melibatkan
diri dalam sepuluh jalan kamma tidak bermanfaat ini, maka, jika ia bangun pagi
dan menepuk tanah dari tempat tidurnya, ia tidak murni, dan jika ia tidak
menepuk tanah, ia tidak murni. Jika ia menepuk kotoran sapi yang basah, ia
tidak murni, dan jika ia tidak menepuk kotoran sapi yang basah, ia tidak murni.
Jika ia menepuk rumput hijau, ia tidak murni, dan jika ia tidak menepuk rumput
hijau, ia tidak murni. Jika ia merawat api suci, ia tidak murni, dan jika ia
tidak merawat api suci, ia tidak murni. Jika ia memberi salam hormat kepada
matahari, ia tidak murni, dan jika ia tidak memberi salah hormat kepada
matahari, ia tidak murni. Jika ia merendam dirinya dalam air tiga kali termasuk
malam hari, ia tidak murni, jika ia tidak merendam dirinya dalam air tiga kali
termasuk malam hari, ia tidak murni. Karena alasan apakah? Karena kesepuluh jalan kamma tidak
bermanfaat ini sendiri adalah tidak murni dan mengotori. Adalah karena
orang-orang melibatkan diri dalam kesepuluh kamma tidak bermanfaat ini maka
neraka, alam binatang, alam hantu menderita, dan alam tujuan kelahiran buruk lainnya
menjadi terlihat.
“Kemurnian melalui jasmani, Cunda, ada tiga.
Kemurnian melalui ucapan ada empat. Kemurnian melalui pikiran ada tiga.
“Dan bagaimanakah, Cunda, kemurnian
melalui jasmani yang ada tiga itu?
(1) “Di sini, Cunda, setelah meninggalkan membunuh,
ia menghindari membunuh. Dengan tongkat pemukul dan senjata dikesampingkan,
berhati-hati dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas-kasih kepada semua
makhluk hidup.
(2) “Setelah meninggalkan mengambil apa yang tidak
diberikan, ia menghindari mengambil apa yang tidak diberikan. Ia tidak mencuri
kekayaan dan harta orang lain di desa atau di dalam hutan.
(3) “Setelah meninggalkan hubungan seksual yang
salah, ia menghindari hubungan seksual yang salah. Ia tidak melakukan hubungan
seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu mereka, oleh ayah
mereka, oleh ibu dan ayah, saudara, saudari, atau kerabat mereka; yang
dilindungi oleh Dhamma mereka; yang memiliki suami; yang pelanggarannya
menuntut adanya hukuman; [267] atau bahkan dengan seorang yang telah bertunangan.
“Dengan cara inilah kemurnian jasmani itu ada tiga.
“Dan bagaimanakah, Cunda, kemurnian
ucapan yang ada empat itu?
(4) “Di sini, seseorang, setelah meninggalkan
kebohongan, menghindari kebohongan. Jika ia dipanggil untuk menghadap suatu dewan,
menghadap suatu kumpulan, menghadap sanak saudaranya, menghadap serikat kerja,
atau menghadap persidangan, dan ditanyai sebagai saksi sebagai berikut: ‘Jadi, tuan,
katakanlah apa yang engkau ketahui,’ kemudian, tidak mengetahui, ia mengatakan,
‘aku tidak tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu’; tidak melihat, ia
mengatakan, ‘aku tidak melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat.’
Demikianlah ia tidak dengan sengaja mengucapkan kebohongan demi dirinya
sendiri, atau demi orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi.
(5) “Setelah meninggalkan ucapan memecah-belah, ia menghindari
ucapan memecah-belah. Setelah mendengar sesuatu di sini, ia tidak mengulanginya
di tempat lain untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini; atau
setelah mendengar sesuatu di tempat lain, ia tidak mengulanginya kepada
orang-orang ini untuk memecah-belah [mereka] dari orang-orang itu.
Demikianlah ia adalah seorang yang menyatukan mereka
yang terpecah-belah, seorang penganjur persatuan, yang menikmati kerukunan,
bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam kerukunan, seorang pengucap
kata-kata yang memajukan kerukunan.
(6) “Setelah meninggalkan ucapan kasar; ia
menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di
telinga, memikat, kata-kata yang masuk ke dalam hati, kata-kata yang sopan yang
disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang.
(7) “Setelah meninggalkan gosip, ia menghindari
gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang sesuai fakta,
mengatakan apa yang bermanfaat, berbicara tentang Dhamma dan disiplin; pada
waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, logis, singkat,
dan bermanfaat.
“Dengan cara inilah kemurnian ucapan itu ada empat.
“Dan bagaimanakah, Cunda, kemurnian
pikiran yang ada tiga itu?
(8) “Di sini, seseorang tanpa kerinduan. Ia tidak
merindukan kekayaan dan harta orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang
dimiliki orang lain menjadi milikku!’
(9) “Ia berniat baik dan kehendaknya bebas dari
kebencian sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini hidup berbahagia, bebas dari
permusuhan, kesengsaraan, dan kecemasan!’
(10) “Ia menganut pandangan benar [268] dan memiliki
perspektif benar sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang dikorbankan,
ada yang dipersembahkan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk;
ada dunia ini dan ada dunia lain; ada ibu dan ayah; ada makhluk-makhluk yang
terlahir kembali secara spontan; ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang
berperilaku baik dan praktik yang benar yang, setelah merealisasikan dunia ini
dan dunia lain untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung,
kemudian mengajarkannya kepada orang lain.’
“Dengan cara inilah kemurnian pikiran itu ada tiga.
“Ini, Cunda, adalah sepuluh jalan kamma bermanfaat. Jika seseorang melibatkan
diri dalam sepuluh jalan kamma bermanfaat ini, maka, jika ia bangun pagi dan
menepuk tanah dari tempat tidurnya, ia murni, dan jika ia tidak menepuk tanah,
ia murni. Jika ia menepuk kotoran sapi yang basah, ia murni, dan jika ia
tidak menepuk kotoran sapi yang basah, ia murni. Jika ia menepuk rumput hijau,
ia murni, dan jika ia tidak menepuk rumput hijau, ia murni. Jika ia merawat api
suci, ia murni, dan jika ia tidak merawat api suci, ia murni. Jika ia memberi
salam hormat kepada matahari, ia murni, dan jika ia tidak memberi salah hormat
kepada matahari, ia murni. Jika ia merendam dirinya dalam air tiga kali
termasuk malam hari, ia murni, jika ia tidak merendam dirinya dalam air tiga kali
termasuk malam hari, ia murni. Karena alasan apakah? Karena kesepuluh jalan kamma
bermanfaat ini sendiri adalah murni dan memurnikan. Adalah karena orang-orang
melibatkan diri dalam kesepuluh kamma bermanfaat ini maka para deva, manusia,
dan alam tujuan kelahiran baik lainnya menjadi terlihat.”
Ketika hal ini dikatakan, Cunda, putra pandai besar,
berkata kepada Sang Bhagavā:
“Bagus sekali, Bhante! Bagus sekali, Bhante! Sang Bhagavā
telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa
yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada
seseorang yang tersesat, atau memegang pelita di dalam kegelapan agar mereka
yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung
pada Sang Bhagavā, pada Dhamma, dan pada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Sang Bhagavā
menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini
hingga seumur hidup.” [269]