Konyolnya Umat Agama Samawi, Iman yang (justru) Melemahkan Daya Otak untuk Berpikir Rasional

Bergantung dan Mengandalkan Yesus? Yesus bahkan Tidak dapat Menolong dan Menyelamatkan Diri Sendiri

“Berbuat Baik Artinya, Tidak Merugikan Orang Lain DAN TIDAK MERUGIKAN DIRI SENDIRI.” [Sabda Sang Buddha]

Ada seorang netizen, yang membuat komentar dengan kutipan sebagai berikut pada sebuah platform digital:

About the christian symbol itself, the CROSS….

When i was a teenager, while hanging out with my much older cousins, someone mentioned a book (or magazine) he read the other day about the CROSS.

The article asked, what if jesus was killed by a firing squad, would the RIFLE become the christian symbol?  or the bullet itself. imagine all those churches with RIFLES atop those steeples.

i’ve already started questioning the bible stories years before. but this particular idea just made me realize how idiotic the religion was.

Why glorify your deity’s means of execution?

Lalu penulis membuat tanggapan terhadap yang bersangkutan:

Good question, same as Abraham kill Ishaq, his son. At that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR!

Let me add one more question : He (jesus) can not help himself. So, why we think he can save us?

Terdapat umat kristiani yang tampaknya mencoba menjadi “pahlawan kesiangan” dengan berupaya membela yesus, dengan menyatakan bahwa yesus adalah “God” (Tuhan) yang berkorban untuk menolong manusia. Tanggapan penulis kemudian : “Jesus is God? Are you CRAZY? I’m talking about jesus who CAN NOT HELP HIMSELF.”

Bila masih ada umat nasrani yang “keras kepala”, maka inilah tanggapan berikutnya dari penulis : “Buddha said : ‘Being good means, not hurt others nor ourselve.’”—Berbuat baik artinya, tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri sendiri. Artinya pula, yesus tidak sedang berbuat baik kepada siapapun, karena ia tidak menghargai hidupnya sendiri, sehingga tidak mungkin mampu menghargai kehidupan para umatnya.

“Dosa warisan”? Lantas, “harta warisan” dari Adam dan Hawa, dikemanakan, di-KORUP oleh yesus?

“Domba yang hilang” dan “semua hewan diciptakan untuk dimakan oleh manusia”? Jika domba-domba tersebut kemudian diketemukan, maka apakah yang akan dilakukan oleh yesus, memanggang ataukah menggorengnya?

Bila masih ada juga orang-orang dungu yang mencoba membela sang “nabi yang lahir di kandang ternak dan tewas mengenaskan hanya mengenakan celana dalam”, maka kisah metafora berikut yang menjadi pemuncaknya : [penulis kutip kisahnya berdasarkan ingatan atas sebuah buku berisi humor saat masih berusia muda]

Seorang pemuda memasuki sebuah hutan belantara, dan takjub atas indah serta lebatnya hutan tersebut. Mendadak, muncul seekor singa mengergap sang pemuda.

Akan tetapi yang membuat sang pemuda lebih takjub lagi, singa tersebut kemudian berpose dengan tubuh berlutut, dan tangan mengatup seperti hendak berdoa.

Astaga, saya berjumpa dengan singa yang soleh!” pekik sang pemuda.

Tiba-tiba sang singa menjawab, sembari tetap memejamkan mata, “Ya, sebagai singa yang baik, tidak lupa berdoa sebelum makan.

Ada sebuah keluarga nasrani—keluarga paman dari penulis—yang pernah mencoba mengintimidasi penulis, yakni bersikap “agamais” berupa “ritual berdoa sebelum makan”, yang isi doanya “terimakasih Tuhan-Yesus, atas pemberian makanannya, bla bla bla...”—seolah hendak berkata, “kamu tidak tahu terimakasih kepada Tuhan atas pemberiannya.” Yesus adalah Tuhan? Untuk apa juga mengemis-ngemis pada yesus bila kami diajarkan oleh Sang Buddha untuk menanam sendiri apa yang kemudian akan kami petik dan nikmati alias “mau merepotkan diri”?

Umat agama nasrani merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan kaum paling pengecut yang bersikap pengecut dengan tidak berani bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Mereka, melarikan diri dari konsekuensi atas perbuatannya sendiri, alias “berani berbuat, namun tidak berani bertanggung-jawab”.

Dogma “penebusan dosa”, menjadi bukti bahwa agama nasrani / kristiani / protestan / katolik merupakan “Agama DOSA” yang bersumber dari “Kitab DOSA”, alih-alih “Agama SUCI” yang bersumber dari “Kitab SUCI”. Karena, lawan kata dari “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” ialah “TANGGUNG-JAWAB”. Tetap saja, umat agama samawi merasa sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi—sekalipun sejatinya merupakan kasta paling rendah, paling tercela, serta paling hina, yang telah divonis hidup serta matinya sebagai “PENDOSA PECANDU PENEBUSAN DOSA”.

Ideologi “penebusan dosa”, sungguh serupa dengan “minta maaf dulu, baru kemudian bebas berbuat kejahatan sebanyak apapun”. Ini dan itu, disebut dosa. Ini dan itu, dilarang Tuhan. Namun, muaranya ialah lagi-lagi dan lagi-lagi “penebusan dosa” sehingga mabuk serta kecanduan “penebusan dosa”. Alhasil, umat agama nasrani sama sekali tidak takut berbuat jahat dengan merugikan, menyakiti, maupun melukai pihak lainnya sembari yakin seyakin-yakinnya masuk surga sembari “business as usual” (memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa).

Dalam berbagai kesempatan di berbagai tempat, inilah yang selalu diucapkan oleh dua orang nasrani ketika mereka saling berbincang-bincang : “Umat agama Buddha, baik-baik sih orangnya. Tapi karena mereka tidak meyakini / beriman kepada yesus-kristus, mereka masuk neraka.” Berikut inilah, ibadahnya Buddhisme, yang membuat para nasrani patut merasa inferior serta malu (jika masih “tahu malu” dan urat-malunya belum putus), karena mereka jelas-jelas “bukan orang baik-baik”:

Ovada Patimokkha

Sabbapāpassa akaraa

Kusalassa upasampadā

Sacittapariyodapana

Eta buddhāna sāsana.

Khantī parama tapo titikkhā

Nibbāa parama vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samao hoti para vihehayanto.

Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca savaro

Mattaññutā ca bhattasmi, pantañca sayanāsana

Adhicitte ca āyogo, eta buddhāna sāsana.

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,

senantiasa mengembangkan kebajikan

dan membersihkan batin;

inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.

“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para Buddha.

Dia yang masih menyakiti orang lain

sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,

memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi

serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]

Orang baik dan orang suci, tidak butuh ritual dan tidak mengandalkan ritual. Umat agama nasrani merupakan orang-orang dungu yang kotor, yang bergantung serta mengantungkan nasibnya pada spekulasi yang bernama “ritual”, bukan pada faktor perbuatan nyata. Seakan mampu memprediksi masa depan serta mengantisipasi pandangan keliru yang menguasai pikiran para umat agama samawi demikian, mari kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

176 (10) Cunda

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Pāvā di hutan mangga milik Cunda, putra pandai besi. Kemudian Cunda, putra pandai besi, mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

[Kitab Komentar : Adalah Cunda ini yang memberikan makanan terakhir kepada Sang Buddha.]

“Cunda, ritual pemurnian siapakah yang lebih engkau sukai?”

[Catatan Bhikkhu Bodhi : Soceyyāni. Maknanya tidak seketika jelas. Soceyya biasanya berarti “kemurnian, pemurnian,” tetapi dari konteksnya tampaknya merujuk pada sejenis ritual.]

“Bhante, aku lebih menyukai ritual pemurnian yang ditetapkan oleh para brahmana dari barat yang membawa-bawa kendi air, mengenakan kalung bunga dari tanaman air, merawat api suci, dan merendam diri mereka di dalam air.”

“Dan bagaimanakah, Cunda, para brahmana dari barat itu menetapkan ritual pemurnian mereka?”

“Di sini, Bhante, para brahmana dari barat menyuruh seorang siswa sebagai berikut: ‘Ayolah, teman, setelah bangun pagi, engkau harus menepuk tanah dari tempat tidurmu. Jika engkau tidak menepuk tanah, maka engkau harus menepuk kotoran sapi yang basah. Jika engkau tidak menepuk kotoran sapi yang basah, maka engkau harus menepuk rumput hijau. Jika engkau tidak menepuk rumput hijau, maka engkau harus merawat api suci. Jika engkau tidak merawat api suci, maka engkau harus memberikan salam hormat kepada matahari. Jika engkau tidak memberikan salam hormat kepada matahari, maka engkau harus merendam dirimu di air tiga kali termasuk malam hari.’ Dengan cara inilah para brahmana dari barat menetapkan ritual pemurnian mereka. Inilah ritual pemurnian mereka yang lebih kusukai.”

“Cunda, pemurnian dalam disiplin Yang Mulia sangat berbeda dengan ritual pemurnian yang ditetapkan oleh para brahmana dari barat yang membawa-bawa kendi air, mengenakan kalung bunga dari tanaman air, merawat api suci, dan merendam diri mereka di dalam air.” [264]

“Tetapi bagaimanakah, Bhante, pemurnian itu terjadi di dalam disiplin Yang Mulia? Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian yang menjelaskan bagaimana pemurnian itu terjadi dalam disiplin Yang Mulia.”

“Kalau begitu, Cunda, dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” Cunda, putra pandai besi, menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Ketidak-murnian melalui jasmani, Cunda, ada tiga. Ketidak-murnian melalui ucapan ada empat. Ketidak-murnian melalui pikiran ada tiga.

“Dan bagaimanakah, Cunda, ketidak-murnian melalui jasmani yang ada tiga itu?

(1) “Di sini, seseorang membunuh. Ia adalah pembunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan kekerasan, tanpa belas kasih pada makhluk-makhluk hidup.

(2) “Ia mengambil apa yang tidak diberikan. Ia mencuri kekayaan dan harta milik orang lain di desa atau hutan.

(3) “Ia melakukan hubungan seksual yang salah. Ia melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu mereka, oleh ayah mereka, oleh ibu dan ayah, saudara, saudari, atau kerabat mereka; yang dilindungi oleh Dhamma mereka; yang memiliki suami; yang pelanggarannya menuntut adanya hukuman; atau bahkan dengan seorang yang telah bertunangan.

[Kitab Komentar : Empat terakhir merujuk berturut-turut pada: (1) seorang perempuan yang dilindungi oleh sesama pengikut religius, (2) seorang yang telah menikah atau bahkan yang telah diserahkan kepada seorang suami sejak lahir atau sejak kanak-kanak, (3) seorang yang mana hubungan seksual dengannya akan dikenai hukuman, dan (4) seorang gadis yang telah dikalungi bunga oleh seorang laki-laki sebagai tanda pertunangan.]

“Dengan cara inilah ketidak-murnian jasmani itu ada tiga.

“Dan bagaimanakah, Cunda, ketidak-murnian ucapan yang ada empat itu?

(4) “Di sini, seseorang berbohong. Jika ia dipanggil untuk menghadap suatu dewan, menghadap suatu kumpulan, menghadap sanak saudaranya, menghadap serikat kerja, atau menghadap persidangan, dan ditanyai sebagai saksi sebagai berikut: ‘Jadi, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’ kemudian, tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat.’ Demikianlah [265] ia dengan sengaja mengucapkan kebohongan demi dirinya sendiri, atau demi orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi.

(5) “Ia mengucapkan kata-kata yang memecah-belah. Setelah mendengar sesuatu di sini, ia mengulanginya di tempat lain untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini; atau setelah mendengar sesuatu di tempat lain, ia mengulanginya kepada orang-orang ini untuk memecah-belah [mereka] dari orang-orang itu. Demikianlah ia adalah seorang yang memecah-belah mereka yang bersatu, seorang pembuat perpecahan, seorang yang menikmati kelompok-kelompok, bergembira dalam kelompok-kelompok, bersenang dalam kelompok-kelompok, seorang pengucap kata-kata yang menciptakan kelompok-kelompok.

(6) “Ia berkata-kata kasar. Ia mengucapkan kata-kata yang kasar, keras, menyakitkan bagi orang lain, menghina orang lain, berbatasan dengan kemarahan, tidak kondusif bagi konsentrasi.

(7) “Ia menikmati bergosip. Ia berbicara pada saat yang tidak tepat, mengucapkan dusta, mengatakan apa yang tidak bermanfaat, mengucapkan apa yang bertentangan dengan Dhamma dan disiplin; dan pada saat yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak bernilai, tidak logis, melantur, dan tidak bermanfaat.

“Dengan cara inilah ketidak-murnian ucapan itu ada empat.

“Dan bagaimanakah, Cunda, ketidak-murnian pikiran yang ada tiga itu?

(8) “Di sini, seseorang penuh kerinduan. Ia merindukan kekayaan dan harta orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang dimiliki orang lain menjadi milikku!’

(9) “Ia memiliki pikiran berniat buruk dan kehendak membenci sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini dibunuh, dibantai, dipotong, dihancurkan, atau dibinasakan!’

(10) “Ia menganut pandangan salah, dan memiliki perspektif keliru sebagai berikut: ‘Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang dikorbankan, tidak ada yang dipersembahkan; tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; tidak ada dunia ini, tidak ada dunia lain; tidak ada ibu, tidak ada ayah; tidak ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; tidak ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang berperilaku baik dan praktik yang benar yang, setelah merealisasikan dunia ini dan dunia lain untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, kemudian mengajarkannya kepada orang lain.’

“Dengan cara inilah ketidak-murnian pikiran itu ada tiga. [266]

“Ini, Cunda, adalah sepuluh jalan kamma tidak bermanfaat. Jika seseorang melibatkan diri dalam sepuluh jalan kamma tidak bermanfaat ini, maka, jika ia bangun pagi dan menepuk tanah dari tempat tidurnya, ia tidak murni, dan jika ia tidak menepuk tanah, ia tidak murni. Jika ia menepuk kotoran sapi yang basah, ia tidak murni, dan jika ia tidak menepuk kotoran sapi yang basah, ia tidak murni. Jika ia menepuk rumput hijau, ia tidak murni, dan jika ia tidak menepuk rumput hijau, ia tidak murni. Jika ia merawat api suci, ia tidak murni, dan jika ia tidak merawat api suci, ia tidak murni. Jika ia memberi salam hormat kepada matahari, ia tidak murni, dan jika ia tidak memberi salah hormat kepada matahari, ia tidak murni. Jika ia merendam dirinya dalam air tiga kali termasuk malam hari, ia tidak murni, jika ia tidak merendam dirinya dalam air tiga kali termasuk malam hari, ia tidak murni. Karena alasan apakah? Karena kesepuluh jalan kamma tidak bermanfaat ini sendiri adalah tidak murni dan mengotori. Adalah karena orang-orang melibatkan diri dalam kesepuluh kamma tidak bermanfaat ini maka neraka, alam binatang, alam hantu menderita, dan alam tujuan kelahiran buruk lainnya menjadi terlihat.

“Kemurnian melalui jasmani, Cunda, ada tiga. Kemurnian melalui ucapan ada empat. Kemurnian melalui pikiran ada tiga.

“Dan bagaimanakah, Cunda, kemurnian melalui jasmani yang ada tiga itu?

(1) “Di sini, Cunda, setelah meninggalkan membunuh, ia menghindari membunuh. Dengan tongkat pemukul dan senjata dikesampingkan, berhati-hati dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas-kasih kepada semua makhluk hidup.

(2) “Setelah meninggalkan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari mengambil apa yang tidak diberikan. Ia tidak mencuri kekayaan dan harta orang lain di desa atau di dalam hutan.

(3) “Setelah meninggalkan hubungan seksual yang salah, ia menghindari hubungan seksual yang salah. Ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu mereka, oleh ayah mereka, oleh ibu dan ayah, saudara, saudari, atau kerabat mereka; yang dilindungi oleh Dhamma mereka; yang memiliki suami; yang pelanggarannya menuntut adanya hukuman; [267] atau bahkan dengan seorang yang telah bertunangan.

“Dengan cara inilah kemurnian jasmani itu ada tiga.

“Dan bagaimanakah, Cunda, kemurnian ucapan yang ada empat itu?

(4) “Di sini, seseorang, setelah meninggalkan kebohongan, menghindari kebohongan. Jika ia dipanggil untuk menghadap suatu dewan, menghadap suatu kumpulan, menghadap sanak saudaranya, menghadap serikat kerja, atau menghadap persidangan, dan ditanyai sebagai saksi sebagai berikut: ‘Jadi, tuan, katakanlah apa yang engkau ketahui,’ kemudian, tidak mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tidak tahu,’ atau mengetahui, ia mengatakan, ‘aku tahu’; tidak melihat, ia mengatakan, ‘aku tidak melihat,’ atau melihat, ia mengatakan, ‘aku melihat.’ Demikianlah ia tidak dengan sengaja mengucapkan kebohongan demi dirinya sendiri, atau demi orang lain, atau demi hal-hal remeh yang bersifat duniawi.

(5) “Setelah meninggalkan ucapan memecah-belah, ia menghindari ucapan memecah-belah. Setelah mendengar sesuatu di sini, ia tidak mengulanginya di tempat lain untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini; atau setelah mendengar sesuatu di tempat lain, ia tidak mengulanginya kepada orang-orang ini untuk memecah-belah [mereka] dari orang-orang itu.

Demikianlah ia adalah seorang yang menyatukan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persatuan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, bersenang dalam kerukunan, seorang pengucap kata-kata yang memajukan kerukunan.

(6) “Setelah meninggalkan ucapan kasar; ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, memikat, kata-kata yang masuk ke dalam hati, kata-kata yang sopan yang disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang.

(7) “Setelah meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang sesuai fakta, mengatakan apa yang bermanfaat, berbicara tentang Dhamma dan disiplin; pada waktu yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, logis, singkat, dan bermanfaat.

“Dengan cara inilah kemurnian ucapan itu ada empat.

“Dan bagaimanakah, Cunda, kemurnian pikiran yang ada tiga itu?

(8) “Di sini, seseorang tanpa kerinduan. Ia tidak merindukan kekayaan dan harta orang lain sebagai berikut: ‘Oh, semoga apa yang dimiliki orang lain menjadi milikku!’

(9) “Ia berniat baik dan kehendaknya bebas dari kebencian sebagai berikut: ‘Semoga makhluk-makhluk ini hidup berbahagia, bebas dari permusuhan, kesengsaraan, dan kecemasan!

(10) “Ia menganut pandangan benar [268] dan memiliki perspektif benar sebagai berikut: ‘Ada yang diberikan, ada yang dikorbankan, ada yang dipersembahkan; ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk; ada dunia ini dan ada dunia lain; ada ibu dan ayah; ada makhluk-makhluk yang terlahir kembali secara spontan; ada di dunia ini para petapa dan brahmana yang berperilaku baik dan praktik yang benar yang, setelah merealisasikan dunia ini dan dunia lain untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, kemudian mengajarkannya kepada orang lain.’

“Dengan cara inilah kemurnian pikiran itu ada tiga.

“Ini, Cunda, adalah sepuluh jalan kamma bermanfaat. Jika seseorang melibatkan diri dalam sepuluh jalan kamma bermanfaat ini, maka, jika ia bangun pagi dan menepuk tanah dari tempat tidurnya, ia murni, dan jika ia tidak menepuk tanah, ia murni. Jika ia menepuk kotoran sapi yang basah, ia murni, dan jika ia tidak menepuk kotoran sapi yang basah, ia murni. Jika ia menepuk rumput hijau, ia murni, dan jika ia tidak menepuk rumput hijau, ia murni. Jika ia merawat api suci, ia murni, dan jika ia tidak merawat api suci, ia murni. Jika ia memberi salam hormat kepada matahari, ia murni, dan jika ia tidak memberi salah hormat kepada matahari, ia murni. Jika ia merendam dirinya dalam air tiga kali termasuk malam hari, ia murni, jika ia tidak merendam dirinya dalam air tiga kali termasuk malam hari, ia murni. Karena alasan apakah? Karena kesepuluh jalan kamma bermanfaat ini sendiri adalah murni dan memurnikan. Adalah karena orang-orang melibatkan diri dalam kesepuluh kamma bermanfaat ini maka para deva, manusia, dan alam tujuan kelahiran baik lainnya menjadi terlihat.”

Ketika hal ini dikatakan, Cunda, putra pandai besar, berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bagus sekali, Bhante! Bagus sekali, Bhante! Sang Bhagavā telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau memegang pelita di dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung pada Sang Bhagavā, pada Dhamma, dan pada Sagha para bhikkhu. Sudilah Sang Bhagavā menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.” [269]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week