Allah hanyalah Sekecil Kutu di Hadapan Buddha
Allah yang Butuh Manusia—Bukan Sebaliknya—karenanya Allah Mengobral Sorga
bagi PENDOSAWAN dengan Iming-Iming PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, Demi Punya
Umat dan Disembah
Question: Seseorang yang soliter, tidak butuh validasi dari orang lain, karenanya mereka yang berjiwa soliter tidak merasa butuh pengakuan maupun dukungan dari orang lain untuk melanjutkan dan menjalankan hidupnya. Mereka juga tidak butuh izin maupun pendapat dari orang lain. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka berani untuk “tidak disukai” serta tidak merendahkan dirinya sendiri di hadapan pihak eksternal. Dengan perspektif yang sama, ketika Allah menjadi murka karena tidak disembah, yesus memasukkan ke neraka umat manusia semata karena tidak mengakui dirinya, maka pertanyaan relevannya ialah : Siapa yang sedang membutuh siapa, Allah atau yesus yang butuh umat, ataukah sebaliknya manusia yang butuh Allah maupun yesus?
Brief
Answer: Pangeran Siddhatta Gotama
memilih untuk menyepi di sebuah hutan untuk menjadi petapa, pada muaranya
tercerahkan sempurna dan menjadi guru bagi para manusia dan guru bagi para
dewata. Sebanyak apapun siswa maupun umat awam pengikut-Nya, tetap saja Sang
Buddha hidup selibat, tidur di alas yang sederhana, makan satu kali sehari,
hanya memiliki harta berupa jubah dan mangkuk untuk berpindapata.
Sang
Buddha mengajarkan Dhamma dengan landasan welas-asih kepada banyak makhluk,
agar tidak terperosok jatuh ke alam rendahan “tanpa kebahagiaan”. Bila Allah mengobral
surga dan juga membuat klaim bahwa “hidup pemberian Allah adalah nikmat”, Sang Buddha
justru mengatakan sebaliknya : Hidup adalah dukkha, dan tumimbal-lahir (siklus
lahir-mati-lahir-mati) menyerupai “never ending stories” yang
membosankan serta menjemukan. Sang Buddha tidak mengintervensi, hanya sekadar
menunjukkan jalan dan memberikan teladan nyata yang konsisten dengan ajaran-ajaran-Nya.
PEMBAHASAN:
Sakka,
raja para dewata pun berguru kepada Sang Buddha, dapat kita simak Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
37 Cūḷataṇhāsankhaya Sutta:
Khotbah Pendek tentang Hancurnya Ketagihan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra.
2. Kemudian Sakka,
penguasa para dewa,
mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, ia
berdiri di satu sisi dan bertanya: “Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas
seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah
mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci
tertinggi, tujuan tertinggi, seorang
yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?”
[Kitab Komentar: Secara singkat, sejauh apa Beliau
mengatakan sebagai kebebasan dalam hancurnya ketagihan, yaitu, dalam Nibbāna,
hancurnya ketagihan melalui keterbebasan pikiran [yang muncul] dengan
menggunakannya [Nibbāna] sebagai objek. Ajarkanlah aku secara singkat praktik
awal dari para bhikkhu Arahant yang dengannya ia terbebaskan dalam hancurnya
ketagihan.]
3. “Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak
dilekati. Ketika
seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara
langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui
segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu; setelah sepenuhnya
memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan, apakah menyenangkan
atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam
dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya,
merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan
demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia
tidak terganggu. Ketika
ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. [252] Ia memahami: ‘Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para
dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang
telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan
suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa
dan manusia.”
[Kitab Komentar menjelaskan paragraf ini sebagai
berikut: “Segala sesuatu” (sabbe dhammā) adalah lima kelompok unsur
kehidupan, dua belas landasan, delapan belas unsur. Ini adalah “tidak layak
dilekati” melalui ketagihan dan pandangan karena pada kenyataannya terbukti
berbeda dari caranya digenggam: digenggam
sebagai kekal, menyenangkan, dan diri, namun ternyata tidak kekal, penderitaan,
dan bukan diri. Ia “secara
langsung mengetahuinya” sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan diri, dan
“memahaminya sepenuhnya” dengan menyelidiknya dengan cara yang sama.
“Merenungkan ketidak-kekalan,” dan seterusnya, dicapai dengan pengetahuan
pandangan terang timbul dan tenggelam dan hancurnya dan lenyapnya. “Ia tidak
melekat” pada bentukan apapun melalui keinginan dan pandangan, tidak menjadi
terganggu karena ketagihan, dan secara pribadi mencapai Nibbāna melalui
padamnya semua kekotoran.]
4. Kemudian Sakka,
penguasa para dewa, merasa
senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, memberi hormat kepada
Sang Bhagavā, dan dengan Beliau di sisi kanannya, ia lenyap seketika.
5. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang duduk tidak jauh dari
Sang Bhagavā. Kemudian ia mempertimbangkan: “Apakah makhluk itu menembus makna
dari kata-kata Sang Bhagavā ketika ia bergembira, ataukah tidak? Bagaimana jika
aku mencari tahu apakah ia memahami atau tidak.”
6. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk
atau menekuk lengannya yang terentang, Yang Mulia Mahā Moggallāna lenyap dari
Istana ibunya Migāra di Taman Timur dan muncul di antara para dewa Tiga Puluh
Tiga.
7. Pada saat itu Sakka, penguasa para dewa, memiliki seratus kumpulan
yang terdiri dari lima jenis musik surgawi, dan ia sedang menikmatinya di Taman
Rekreasi Sertoja Tunggal. Ketika dari jauh ia melihat kedatangan Yang Mulia
Mahā Moggallāna, ia membubarkan musiknya, mendatangi Yang Mulia Mahā Moggallāna,
dan berkata kepadanya: “Marilah, Tuan Moggallāna! Selamat datang, Tuan
Moggallāna! Sudah lama sejak engkau berkesempatan untuk datang ke sini.
Silahkan duduk, Tuan Moggallāna; tempat duduk telah disiapkan.”
Yang Mulia Mahā Moggallāna duduk di tempat yang telah disediakan, dan Sakka
mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk di satu sisi. Yang Mulia Mahā
Moggallāna kemudian bertanya kepadanya:
8. “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas
mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga
mendengarkan pernyataan itu.”
[Kitab Komentar : Kosiya merupakan nama kecil dari Sakka,
berarti “burung hantu.”]
“Tuan Moggallāna yang baik, kami sangat sibuk, kami harus melakukan
banyak urusan, tidak hanya dengan urusan kami, tetapi juga dengan urusan para
dewa Tiga Puluh Tiga. Selain itu, Tuan Moggallāna, apa yang telah didengar,
diketahui, [253] diperhatikan, diingat, telah lenyap seketika. Tuan Moggallāna,
pernah terjadi perang antara para dewa dan para raksasa.398 Dalam peperangan
itu para dewa menang dan para raksasa kalah. Ketika aku telah memenangkan
perang itu dan kembali dari sana sebagai penakluk, aku membangun Istana
Vejayanta. Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta memiliki seratus menara,
dan tiap-tiap menara memiliki tujuh ratus kamar, dan masing-masing kamar dihuni
oleh tujuh bidadari, dan tiap-tiap bidadari memiliki tujuh pelayan. Sudikah
engkau melihat Istana Vejayanta yang indah ini, Tuan Moggallāna yang baik?”
Yang Mulia Mahā Moggallāna menyetujui dengan berdiam diri.
Kitab Komentar : Para dewa dan para raksasa (asura)
digambarkan dalam Kanon Pali sebagai terus-menerus dalam kondisi saling
berperang. Baca khususnya Sakkasaṁyutta (Saṁyutta Nikāya i.216-28).]
9. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, dan Raja Dewa Vessavaṇa berjalan menuju Istana Vejayanta, mempersilahkan Yang Mulia Mahā
Moggallāna berjalan di depan. Ketika dari jauh para palayan Sakka melihat
kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, mereka menjadi malu dan masuk ke
kamarnya masing-masing. Seperti halnya seorang menantu perempuan yang malu
ketika melihat ayah mertuanya, demikian pula, para pelayan Sakka ketika melihat
kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, mereka menjadi malu dan masuk ke
kamarnya masing-masing.
[Kitab Komentar : Raja Dewa Vessavaṇa
merupakan satu dari Empat Raja Dewa, penguasa para yakkha, kerajaannya berada
di sebelah utara.]
10. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, dan Raja Dewa Vessavaṇa mempersilahkan Yang Mulia Mahā Moggallāna berjalan dan menjelajahi
Istana Vejayanta: “Lihatlah, Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta yang
indah ini! Lihatlah, Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta yang indah
ini!”
“Itu adalah pujian kepada Yang Mulia Kosiya sebagai seseorang yang
sebelumnya telah melakukan jasa; dan ketika manusia melihat apapun yang indah,
mereka mengatakan: ‘Tuan-tuan, itu adalah pujian kepada para dewa Tiga Puluh
Tiga!’ Itu adalah pujian kepada Yang Mulia Kosiya sebagai seseorang yang sebelumnya
telah melakukan jasa.”
11. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna mempertimbangkan sebagai berikut:
“Makhluk-makhluk
ini hidup dengan sangat lalai. Bagaimana jika aku membangkitkan dorongan spiritual yang mengesankan
dalam dirinya?” Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan keajaiban
dengan kekuatan batinnya sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana
Vejayanta bergoyang, berguncang dan bergetar. [254] Sakka dan Raja Dewa
Vessavaṇa dan para dewa Tiga Puluh Tiga merasa kagum dan takjub, dan mereka berkata:
“Tuan-tuan,
sangat mengagumkan, sangat menakjubkan, sungguh petapa itu memiliki kekuatan
dan kesaktian, sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana alam surga
ini, berguncang dan bergetar!”
[Kitab Komentar : Yang Mulia Mahā Moggallāna
melakukan hal ini dengan cara masuk ke dalam meditasi pada kasiṇa-air dan kemudian
berkehendak: “Semoga fondasi istana ini menjadi seperti air.”]
12. Ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna mengetahui bahwa Sakka, penguasa
para dewa, telah tergerak oleh dorongan spiritual yang mengesankan, ia bertanya
kepadanya: “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas
mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga
mendengarkan pernyataan itu.”
“Tuan Moggallāna yang baik, aku mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah
memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri di satu sisi dan berkata: ‘Yang
Mulia, … [seperti pada §2] … para dewa dan manusia?’ Ketika hal ini dikatakan,
Tuan Moggallāna yang baik, Sang Bhagavā memberitahuku: ‘Di sini, penguasa para dewa
… [seperti pada §3] … para dewa dan manusia.’ Demikianlah bagaimana Sang
Bhagavā menjelaskan kepadaku secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya
keinginan, Tuan Moggallāna.”
13. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna merasa senang dan gembira
mendengar kata-kata Sakka, penguasa para dewa. [255] Kemudian, secepat
seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang
terentang, ia lenyap dari antara para dewa Tiga Puluh Tiga dan muncul di Taman Timur
di Istana Ibunya Migāra.
14. Kemudian, segera setelah Yang Mulia Mahā Moggallāna pergi, para
pelayan Sakka, penguasa para dewa, bertanya kepadanya: “Tuan, apakah itu
gurumu, Sang Bhagavā?” –
“Bukan, Teman-teman, itu bukan guruku, Sang Bhagavā. Dia adalah temanku
dalam kehidupan suci, Yang Mulia Mahā Moggallāna.”
[Kitab Komentar : Sakka dapat merujuk YM. Mahā
Moggallāna sebagai seorang “teman dalam kehidupan suci” karena ia sendiri telah
mencapai tingkat memasuki-arus (Digha Nikāya 21.2.10 / ii.289) dan dengan
demikian menjadi seorang siswa mulia yang pasti mencapai kebebasan yang sama
dengan yang telah dicapai oleh Mahā Moggallāna.]
“Tuan, suatu keuntungan bagimu bahwa temanmu dalam kehidupan suci memiliki kekuatan dan
kesaktian seperti itu. Oh, betapa
lebih saktinya Sang Bhagavā, gurumu!”
15. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna menghadap Sang Bhagavā, dan
setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada
Beliau: “Yang Mulia, apakah Bhagavā ingat pernah menjelaskan secara ringkas –
kepada makhluk dewa terkenal yang memiliki banyak pengikut – mengenai kebebasan
dalam hancurnya ketagihan?”
“Aku ingat, Moggallāna, di sini Sakka, penguasa para dewa mendatangiKu,
dan setelah memberi hormat kepadaKu, ia berdiri di satu sisi dan bertanya:
‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan dalam
hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan
tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang
yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?’ Ketika hal ini dikatakan, Aku
memberitahunya: ‘Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar
bahwa tidak ada yang layak dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar
bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui
segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami
segala sesuatu; setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan
yang ia rasakan, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan
ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya,
merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan
demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia
tidak terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna.
Ia memahami: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, [256]
apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan
menjadi kondisi makhluk apapun.” Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa seorang
bhikkhu terbebaskan dengan hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai
akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi,
tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.’
Demikianlah Aku ingat pernah menjelaskan secara ringkas kepada Sakka, penguasa
para dewa, mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Mahā
Moggallāna merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]