Sang Buddha, Guru bagi Umat Manusia dan Guru bagi PARA DEWA (MAKHLUK DEWATA). Sakka, Raja para Dewata pun Menghormat kepada Buddha

Allah hanyalah Sekecil Kutu di Hadapan Buddha

Allah yang Butuh Manusia—Bukan Sebaliknya—karenanya Allah Mengobral Sorga bagi PENDOSAWAN dengan Iming-Iming PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, Demi Punya Umat dan Disembah

Question: Seseorang yang soliter, tidak butuh validasi dari orang lain, karenanya mereka yang berjiwa soliter tidak merasa butuh pengakuan maupun dukungan dari orang lain untuk melanjutkan dan menjalankan hidupnya. Mereka juga tidak butuh izin maupun pendapat dari orang lain. Bahkan, lebih jauh lagi, mereka berani untuk “tidak disukai” serta tidak merendahkan dirinya sendiri di hadapan pihak eksternal. Dengan perspektif yang sama, ketika Allah menjadi murka karena tidak disembah, yesus memasukkan ke neraka umat manusia semata karena tidak mengakui dirinya, maka pertanyaan relevannya ialah : Siapa yang sedang membutuh siapa, Allah atau yesus yang butuh umat, ataukah sebaliknya manusia yang butuh Allah maupun yesus?

Brief Answer: Pangeran Siddhatta Gotama memilih untuk menyepi di sebuah hutan untuk menjadi petapa, pada muaranya tercerahkan sempurna dan menjadi guru bagi para manusia dan guru bagi para dewata. Sebanyak apapun siswa maupun umat awam pengikut-Nya, tetap saja Sang Buddha hidup selibat, tidur di alas yang sederhana, makan satu kali sehari, hanya memiliki harta berupa jubah dan mangkuk untuk berpindapata.

Sang Buddha mengajarkan Dhamma dengan landasan welas-asih kepada banyak makhluk, agar tidak terperosok jatuh ke alam rendahan “tanpa kebahagiaan”. Bila Allah mengobral surga dan juga membuat klaim bahwa “hidup pemberian Allah adalah nikmat”, Sang Buddha justru mengatakan sebaliknya : Hidup adalah dukkha, dan tumimbal-lahir (siklus lahir-mati-lahir-mati) menyerupai “never ending stories” yang membosankan serta menjemukan. Sang Buddha tidak mengintervensi, hanya sekadar menunjukkan jalan dan memberikan teladan nyata yang konsisten dengan ajaran-ajaran-Nya.

PEMBAHASAN:

Sakka, raja para dewata pun berguru kepada Sang Buddha, dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

37 Cūatahāsankhaya Sutta:

Khotbah Pendek tentang Hancurnya Ketagihan

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra.

2. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: “Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?”

[Kitab Komentar: Secara singkat, sejauh apa Beliau mengatakan sebagai kebebasan dalam hancurnya ketagihan, yaitu, dalam Nibbāna, hancurnya ketagihan melalui keterbebasan pikiran [yang muncul] dengan menggunakannya [Nibbāna] sebagai objek. Ajarkanlah aku secara singkat praktik awal dari para bhikkhu Arahant yang dengannya ia terbebaskan dalam hancurnya ketagihan.]

3. “Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu; setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya, merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. [252] Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.”

[Kitab Komentar menjelaskan paragraf ini sebagai berikut: “Segala sesuatu” (sabbe dhammā) adalah lima kelompok unsur kehidupan, dua belas landasan, delapan belas unsur. Ini adalah “tidak layak dilekati” melalui ketagihan dan pandangan karena pada kenyataannya terbukti berbeda dari caranya digenggam: digenggam sebagai kekal, menyenangkan, dan diri, namun ternyata tidak kekal, penderitaan, dan bukan diri. Ia “secara langsung mengetahuinya” sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan diri, dan “memahaminya sepenuhnya” dengan menyelidiknya dengan cara yang sama. “Merenungkan ketidak-kekalan,” dan seterusnya, dicapai dengan pengetahuan pandangan terang timbul dan tenggelam dan hancurnya dan lenyapnya. “Ia tidak melekat” pada bentukan apapun melalui keinginan dan pandangan, tidak menjadi terganggu karena ketagihan, dan secara pribadi mencapai Nibbāna melalui padamnya semua kekotoran.]

4. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan dengan Beliau di sisi kanannya, ia lenyap seketika.

5. Pada saat itu Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang duduk tidak jauh dari Sang Bhagavā. Kemudian ia mempertimbangkan: “Apakah makhluk itu menembus makna dari kata-kata Sang Bhagavā ketika ia bergembira, ataukah tidak? Bagaimana jika aku mencari tahu apakah ia memahami atau tidak.”

6. Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Yang Mulia Mahā Moggallāna lenyap dari Istana ibunya Migāra di Taman Timur dan muncul di antara para dewa Tiga Puluh Tiga.

7. Pada saat itu Sakka, penguasa para dewa, memiliki seratus kumpulan yang terdiri dari lima jenis musik surgawi, dan ia sedang menikmatinya di Taman Rekreasi Sertoja Tunggal. Ketika dari jauh ia melihat kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, ia membubarkan musiknya, mendatangi Yang Mulia Mahā Moggallāna, dan berkata kepadanya: “Marilah, Tuan Moggallāna! Selamat datang, Tuan Moggallāna! Sudah lama sejak engkau berkesempatan untuk datang ke sini. Silahkan duduk, Tuan Moggallāna; tempat duduk telah disiapkan.”

Yang Mulia Mahā Moggallāna duduk di tempat yang telah disediakan, dan Sakka mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk di satu sisi. Yang Mulia Mahā Moggallāna kemudian bertanya kepadanya:

8. “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”

[Kitab Komentar : Kosiya merupakan nama kecil dari Sakka, berarti “burung hantu.”]

“Tuan Moggallāna yang baik, kami sangat sibuk, kami harus melakukan banyak urusan, tidak hanya dengan urusan kami, tetapi juga dengan urusan para dewa Tiga Puluh Tiga. Selain itu, Tuan Moggallāna, apa yang telah didengar, diketahui, [253] diperhatikan, diingat, telah lenyap seketika. Tuan Moggallāna, pernah terjadi perang antara para dewa dan para raksasa.398 Dalam peperangan itu para dewa menang dan para raksasa kalah. Ketika aku telah memenangkan perang itu dan kembali dari sana sebagai penakluk, aku membangun Istana Vejayanta. Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta memiliki seratus menara, dan tiap-tiap menara memiliki tujuh ratus kamar, dan masing-masing kamar dihuni oleh tujuh bidadari, dan tiap-tiap bidadari memiliki tujuh pelayan. Sudikah engkau melihat Istana Vejayanta yang indah ini, Tuan Moggallāna yang baik?” Yang Mulia Mahā Moggallāna menyetujui dengan berdiam diri.

Kitab Komentar : Para dewa dan para raksasa (asura) digambarkan dalam Kanon Pali sebagai terus-menerus dalam kondisi saling berperang. Baca khususnya Sakkasayutta (Sayutta Nikāya i.216-28).]

9. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, dan Raja Dewa Vessavaa berjalan menuju Istana Vejayanta, mempersilahkan Yang Mulia Mahā Moggallāna berjalan di depan. Ketika dari jauh para palayan Sakka melihat kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, mereka menjadi malu dan masuk ke kamarnya masing-masing. Seperti halnya seorang menantu perempuan yang malu ketika melihat ayah mertuanya, demikian pula, para pelayan Sakka ketika melihat kedatangan Yang Mulia Mahā Moggallāna, mereka menjadi malu dan masuk ke kamarnya masing-masing.

[Kitab Komentar : Raja Dewa Vessavaa merupakan satu dari Empat Raja Dewa, penguasa para yakkha, kerajaannya berada di sebelah utara.]

10. Kemudian Sakka, penguasa para dewa, dan Raja Dewa Vessavaa mempersilahkan Yang Mulia Mahā Moggallāna berjalan dan menjelajahi Istana Vejayanta: “Lihatlah, Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta yang indah ini! Lihatlah, Tuan Moggallāna yang baik, Istana Vejayanta yang indah ini!”

“Itu adalah pujian kepada Yang Mulia Kosiya sebagai seseorang yang sebelumnya telah melakukan jasa; dan ketika manusia melihat apapun yang indah, mereka mengatakan: ‘Tuan-tuan, itu adalah pujian kepada para dewa Tiga Puluh Tiga!’ Itu adalah pujian kepada Yang Mulia Kosiya sebagai seseorang yang sebelumnya telah melakukan jasa.”

11. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna mempertimbangkan sebagai berikut: “Makhluk-makhluk ini hidup dengan sangat lalai. Bagaimana jika aku membangkitkan dorongan spiritual yang mengesankan dalam dirinya?” Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan keajaiban dengan kekuatan batinnya sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana Vejayanta bergoyang, berguncang dan bergetar. [254] Sakka dan Raja Dewa Vessavaa dan para dewa Tiga Puluh Tiga merasa kagum dan takjub, dan mereka berkata: “Tuan-tuan, sangat mengagumkan, sangat menakjubkan, sungguh petapa itu memiliki kekuatan dan kesaktian, sehingga dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana alam surga ini, berguncang dan bergetar!

[Kitab Komentar : Yang Mulia Mahā Moggallāna melakukan hal ini dengan cara masuk ke dalam meditasi pada kasia-air dan kemudian berkehendak: “Semoga fondasi istana ini menjadi seperti air.”]

12. Ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna mengetahui bahwa Sakka, penguasa para dewa, telah tergerak oleh dorongan spiritual yang mengesankan, ia bertanya kepadanya: “Kosiya, bagaimanakah Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan? Baik sekali jika kami juga mendengarkan pernyataan itu.”

“Tuan Moggallāna yang baik, aku mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, aku berdiri di satu sisi dan berkata: ‘Yang Mulia, … [seperti pada §2] … para dewa dan manusia?’ Ketika hal ini dikatakan, Tuan Moggallāna yang baik, Sang Bhagavā memberitahuku: ‘Di sini, penguasa para dewa … [seperti pada §3] … para dewa dan manusia.’ Demikianlah bagaimana Sang Bhagavā menjelaskan kepadaku secara ringkas mengenai kebebasan dalam hancurnya keinginan, Tuan Moggallāna.”

13. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sakka, penguasa para dewa. [255] Kemudian, secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, ia lenyap dari antara para dewa Tiga Puluh Tiga dan muncul di Taman Timur di Istana Ibunya Migāra.

14. Kemudian, segera setelah Yang Mulia Mahā Moggallāna pergi, para pelayan Sakka, penguasa para dewa, bertanya kepadanya: “Tuan, apakah itu gurumu, Sang Bhagavā?” –

“Bukan, Teman-teman, itu bukan guruku, Sang Bhagavā. Dia adalah temanku dalam kehidupan suci, Yang Mulia Mahā Moggallāna.”

[Kitab Komentar : Sakka dapat merujuk YM. Mahā Moggallāna sebagai seorang “teman dalam kehidupan suci” karena ia sendiri telah mencapai tingkat memasuki-arus (Digha Nikāya 21.2.10 / ii.289) dan dengan demikian menjadi seorang siswa mulia yang pasti mencapai kebebasan yang sama dengan yang telah dicapai oleh Mahā Moggallāna.]

“Tuan, suatu keuntungan bagimu bahwa temanmu dalam kehidupan suci memiliki kekuatan dan kesaktian seperti itu. Oh, betapa lebih saktinya Sang Bhagavā, gurumu!

15. Kemudian Yang Mulia Mahā Moggallāna menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Beliau: “Yang Mulia, apakah Bhagavā ingat pernah menjelaskan secara ringkas – kepada makhluk dewa terkenal yang memiliki banyak pengikut – mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan?”

“Aku ingat, Moggallāna, di sini Sakka, penguasa para dewa mendatangiKu, dan setelah memberi hormat kepadaKu, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: ‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkas seorang bhikkhu terbebaskan dalam hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia?’ Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahunya: ‘Di sini, penguasa para dewa, seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tidak ada yang layak dilekati, ia secara langsung sepenuhnya mengetahui segala sesuatu; setelah sepenuhnya mengetahui segala sesuatu, ia sepenuhnya memahami segala sesuatu; setelah sepenuhnya memahami segala sesuatu, apapun perasaan yang ia rasakan, apakah menyenangkan atau menyakitkan atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam perasaan-perasaan itu, merenungkan peluruhannya, merenungkan lenyapnya, merenungkan pelepasannya. Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Ketika ia tidak melekat, ia tidak terganggu. Ketika ia tidak terganggu, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. Ia memahami: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, [256] apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Secara ringkas, dengan cara inilah, penguasa para dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan dengan hancurnya ketagihan, seorang yang telah mencapai akhir tertinggi, keamanan tertinggi dari belenggu, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seorang yang terkemuka di antara para dewa dan manusia.’ Demikianlah Aku ingat pernah menjelaskan secara ringkas kepada Sakka, penguasa para dewa, mengenai kebebasan dalam hancurnya ketagihan.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Mahā Moggallāna merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]