Muslim yang Tidak Radikal (Muslim Moderat) adalah OKNUM yang Membangkan Perintah Allah untuk Bersikap Radikal dan Intoleran
Muslim yang Radikal, Intoleran, dan Ekstremis, adalah
Muslim yang Sejati, BUKAN OKNUM
Para Muslim TUNDUK pada CANDU “PENGHAPUSAN DOSA” dan
Memberi Makan KEKOTORAN BATIN, Pecundang Kehidupan
Question: Bukankah anak Sekolah Dasar saja tahu, apa jadinya bila teknologi nuklir sampai jatuh ke tangan pemeluk ajaran radikal berikut, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” [Hadist Tirmidzi No. 2533]”?
Brief Answer: Banyak pelaku teroris, orangtua mereka notabene “muslim
yang moderat”. Muslim yang moderat, sejatinya merupakan “oknum”, karena
membangkang perintah Allah untuk bersikap radikal dan ekstrem. Sebaliknya, para
radikal “teroris” merupakan “muslim sejati”—dengan demikian mereka, para
teroris tersebut, bukanlah “oknum”, justru adalah muslim yang patuh serta taat sekadar
mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah kepada para muslim. Buddhisme,
mengajarkan para penganutnya untuk “menikmati kehidupan spiritual. Sebaliknya,
agama samawi membuat umat pemeluknya menjadi mabuk-kecanduan “PENGHAPUSAN /
PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”.
PEMBAHASAN:
Mereka yang berani menjalankan Dhamma, adalah kaum “elit”,
sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical
Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra
Anggara, dengan kutipan:
76 (6) Prajurit (2)
“Para bhikkhu, ada lima jenis prajurit ini terdapat
di dunia. Apakah lima ini?
(1) “Di sini, seorang prajurit mengambil pedang dan
perisai, [94] mempersenjatai dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki
medan perang. Ia berjuang dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, tetapi
lawannya membunuhnya dan menewaskannya. Ada, para bhikkhu, prajurit demikian di
sini. Ini adalah jenis prajurit pertama yang terdapat di dunia.
(2) “Kemudian, seorang prajurit mengambil pedang dan
perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki medan
perang. Ia berjuang dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, tetapi lawannya
melukainya. [Teman-temannya] mengangkatnya dan membawanya kepada sanak saudaranya.
Sewaktu ia sedang dibawa kepada sanak saudaranya, ia meninggal dunia dalam
perjalanan sebelum sampai di sana. Ada, para bhikkhu, prajurit demikian di
sini. Ini adalah jenis prajurit ke dua yang terdapat di dunia.
(3) “Kemudian, seorang prajurit mengambil pedang dan
perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki medan
perang. Ia berjuang dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, tetapi lawannya
melukainya. [Teman-temannya] mengangkatnya dan membawanya kepada sanak saudaranya.
Sanak saudaranya mengobatinya dan merawatnya, tetapi ketika mereka sedang
melakukan hal itu ia meninggal dunia karena lukanya. Ada, para bhikkhu,
prajurit demikian di sini. Ini adalah jenis prajurit ke tiga yang terdapat di
dunia.
(4) “Kemudian, seorang prajurit mengambil pedang dan
perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki medan
perang. Ia berjuang dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, tetapi lawannya
melukainya. [Teman-temannya] mengangkatnya dan membawanya kepada sanak saudaranya.
Sanak saudaranya mengobatinya dan merawatnya, dan sebagai akibatnya ia sembuh
dari luka itu. Ada, para bhikkhu, prajurit demikian di sini. Ini adalah jenis
prajurit ke empat yang terdapat di dunia.
(5) “Kemudian, seorang prajurit mengambil pedang dan
perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki medan
perang. Setelah memenangkan pertempuran, ia keluar sebagai pemenang [95] dan
menempati posisi di garis depan medan perang. Ada, para bhikkhu, prajurit
demikian di sini. Ini adalah jenis prajurit ke lima yang terdapat di dunia.
“Ini adalah kelima jenis prajurit itu yang terdapat
di dunia.
“Demikian pula, ada lima jenis orang ini yang serupa
dengan para prajurit itu terdapat di antara para bhikkhu. Apakah lima ini?
(1) “Di sini, seorang bhikkhu berdiam dengan
bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Pada pagi hari, ia
merapikan jubah, membawa jubah dan mangkuknya, dan memasuki desa atau pemukiman
untuk menerima dana makanan, dengan jasmani, ucapan, dan pikiran tidak terjaga,
tanpa menegakkan perhatian, organ-organ indrianya tidak terkendali. Di sana ia
melihat para perempuan dengan pakaian berantakan dan terbuka. Ketika ia melihat
mereka, nafsu menyerang pikirannya. Dengan pikirannya diserang oleh
nafsu, ia melakukan hubungan seksual tanpa mengungkapkan kelemahannya dan tanpa
meninggalkan latihan. Orang ini, Aku katakan, adalah serupa dengan prajurit
yang mengambil pedang dan perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur dan anak
panah, dan memasuki medan perang. Ia berjuang dan mengerahkan usahanya dalam
pertempuran, tetapi lawannya membunuhnya dan menewaskannya. Ada, para bhikkhu, orang seperti
demikian di sini. Ini adalah orang jenis pertama yang serupa dengan seorang
prajurit yang terdapat di antara para bhikkhu.
(2) “Kemudian, seorang bhikkhu berdiam dengan
bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Pada pagi hari, ia merapikan
jubah, membawa jubah dan mangkuknya, dan memasuki desa atau pemukiman untuk
menerima dana makanan … [dan] nafsu menyerang pikirannya. Dengan pikirannya
diserang oleh nafsu, ia terbakar secara jasmani dan secara pikiran [oleh demam
nafsu]. Ia berpikir: ‘Biarlah aku kembali di vihara [96] dan memberitahu
para bhikkhu: “Teman-teman, aku dikuasai oleh nafsu, tertindas oleh nafsu.
Aku tidak dapat mempertahankan kehidupan spiritual. Setelah mengungkapkan
kelemahanku dalam latihan, aku akan meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan
rendah.”’ Sewaktu ia berjalan kembali ke vihara, bahkan sebelum sampai, ia
mengungkapkan kelemahannya dalam latihan, meninggalkan latihan, dan kembali
kepada kehidupan rendah dalam perjalanan itu. Orang ini, Aku katakan,
adalah serupa dengan prajurit yang mengambil pedang dan perisai, mempersenjatai
dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki medan perang, terluka oleh
lawannya sewaktu ia berjuang dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, dan
diangkat dan dibawa kepada sanak saudaranya tetapi meninggal
dunia dalam perjalanan bahkan sebelum sampai. Ada, para bhikkhu, orang seperti
demikian di sini. Ini adalah orang jenis ke dua yang serupa dengan seorang
prajurit yang terdapat di antara para bhikkhu.
(3) “Kemudian, seorang bhikkhu berdiam dengan
bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Pada pagi hari, ia merapikan
jubah, membawa jubah dan mangkuknya, dan memasuki desa atau pemukiman untuk
menerima dana makanan … [dan] nafsu menyerang pikirannya. Dengan pikirannya
diserang oleh nafsu, ia terbakar secara jasmani dan secara pikiran [oleh demam
nafsu]. Ia berpikir: ‘Biarlah aku kembali di vihara dan memberitahu para
bhikkhu: “Teman-teman, aku dikuasai oleh nafsu, tertindas oleh nafsu. Aku tidak
dapat mempertahankan kehidupan spiritual. Setelah mengungkapkan kelemahanku
dalam latihan, aku akan meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan
rendah.”’ Ia kembali ke vihara dan memberitahu para bhikkhu: ‘Teman-teman,
aku dikuasai oleh nafsu, tertindas oleh nafsu. Aku tidak dapat mempertahankan
kehidupan spiritual. Setelah mengungkapkan kelemahanku dalam latihan, aku
akan meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah.’ Teman-temannya
para bhikkhu menasihatinya dan mengajarinya: [97] ‘Teman, Sang
Bhagavā telah menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit
kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya lebih
banyak lagi. Dengan perumpamaan tulang-belulang Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa
kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan
dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya lebih banyak lagi. Dengan
perumpamaan sepotong daging … dengan perumpamaan obor rumput … dengan
perumpamaan lubang bara api … dengan perumpamaan mimpi … dengan perumpamaan
barang-barang pinjaman … dengan perumpamaan buah-buahan di atas pohon … dengan
perumpamaan pisau dan papan pemotong tukang daging … dengan perumpamaan pedang
pancang … dengan perumpamaan kepala ular, Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan
indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan
bahwa bahaya di dalamnya lebih banyak lagi. Nikmatilah kehidupan spiritual.
Jangan berpikir bahwa engkau tidak mampu mengikuti latihan, meninggalkannya,
dan kembali kepada kehidupan rendah.’ Sewaktu ia sedang dinasihati dan diajari oleh
teman-temannya para bhikkhu dengan cara ini, ia membantah: ‘Teman-teman,
walaupun Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan indria
memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa
bahaya di dalamnya lebih banyak lagi, tetap saja, aku tidak dapat
mempertahankan kehidupan spiritual. Setelah mengungkapkan kelemahanku dalam
latihan, aku akan meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah.’ Setelah
mengungkapkan kelemahannya dalam latihan, ia meninggalkan latihan dan kembali
kepada kehidupan rendah. Orang ini, Aku katakan, adalah serupa dengan
prajurit yang mengambil pedang dan perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur
dan anak panah, dan memasuki medan perang, terluka oleh lawannya sewaktu ia
berjuang dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, dan diangkat [98] dan
dibawa kepada sanak saudaranya, yang mengobati dan merawatnya, tetapi meninggal
dunia karena luka itu. Ada, para bhikkhu, orang seperti demikian di sini.
Ini adalah orang jenis ke tiga yang serupa dengan seorang prajurit yang
terdapat di antara para bhikkhu.
(4) “Kemudian, seorang bhikkhu berdiam dengan
bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Pada pagi hari, ia merapikan
jubah, membawa jubah dan mangkuknya, dan memasuki desa atau pemukiman untuk
menerima dana makanan … nafsu menyerang pikirannya. Dengan pikirannya
diserang oleh nafsu, ia terbakar secara jasmani dan secara pikiran [oleh demam nafsu].
Ia berpikir: ‘Biarlah aku kembali di vihara dan memberitahu para bhikkhu:
“Teman-teman, aku dikuasai oleh nafsu, tertindas oleh nafsu. Aku tidak dapat
mempertahankan kehidupan spiritual. Setelah mengungkapkan kelemahanku dalam
latihan, aku akan meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah.”’
Ia kembali ke vihara dan memberitahu para bhikkhu: ‘Teman-teman, aku
dikuasai oleh nafsu, tertindas oleh nafsu. Aku tidak dapat mempertahankan
kehidupan spiritual. Setelah mengungkapkan kelemahanku dalam latihan, aku
akan meninggalkan latihan dan kembali kepada kehidupan rendah.’ Teman-temannya
para bhikkhu menasihatinya dan mengajarinya: ‘Teman, Sang Bhagavā telah menyatakan
bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak
penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya lebih banyak lagi.
Dengan perumpamaan tulang-belulang … [99] … dengan perumpamaan kepala ular,
Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan
sedikit kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di
dalamnya lebih banyak lagi. Nikmatilah kehidupan spiritual. Jangan
berpikir bahwa engkau tidak mampu mengikuti latihan, meninggalkannya, dan
kembali kepada kehidupan rendah.’ Sewaktu ia sedang dinasihati dan diajari oleh
teman-temannya para bhikkhu dengan cara ini, ia berkata: ‘Aku
akan berusaha, teman-teman, aku akan melanjutkan, aku akan menikmatinya. Aku
tidak akan berpikir bahwa aku tidak mampu mengikuti latihan, meninggalkannya,
dan kembali kepada kehidupan rendah.’ Orang ini, Aku katakan, adalah serupa dengan
prajurit yang mengambil pedang dan perisai, mempersenjatai dirinya dengan busur
dan anak panah, dan memasuki medan perang, terluka oleh lawannya sewaktu ia berjuang
dan mengerahkan usahanya dalam pertempuran, dan diangkat dan dibawa kepada
sanak saudaranya, yang mengobati dan merawatnya, dan yang kemudian sembuh
dari luka itu. Ada, para bhikkhu, orang seperti demikian di sini. Ini adalah orang
jenis ke empat yang serupa dengan seorang prajurit yang terdapat di antara para
bhikkhu.
(5) “Kemudian, seorang bhikkhu berdiam dengan
bergantung pada suatu desa atau pemukiman tertentu. Pada pagi hari, ia merapikan
jubah, membawa jubah dan mangkuknya, dan memasuki desa atau pemukiman untuk
menerima dana makanan dengan jasmani, ucapan, dan pikiran terjaga, dengan
perhatian ditegakkan, dan organ-organ indrianya terkendali. Setelah melihat suatu
bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan
indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berupa
kerinduan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya;
ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah
mendengar suatu suara dengan telinga … Setelah mencium suatu bau dengan hidung
… Setelah mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … [100] … Setelah merasakan
suatu objek sentuhan dengan badan … Setelah mengenali suatu fenomena pikiran
dengan pikiran, ia tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena,
jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi tidak
bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih
mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria
pikiran. Setelah makan, setelah kembali dari perjalanan menerima dana
makanan, ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang,
gua di lereng gunung, tanah pemakaman, hutan pegunungan, ruang terbuka,
tumpukan jerami. Setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong,
ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Setelah
meninggalkan kerinduan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari
kerinduan; ia memurnikan pikirannya dari kerinduan. Setelah meninggalkan niat buruk dan kebencian, ia berdiam dengan
pikiran bebas dari niat buruk, berbelas kasihan pada semua makhluk hidup; ia
memurnikan pikirannya dari niat buruk dan kebencian. Setelah meninggalkan
ketumpulan dan kantuk, ia berdiam dengan bebas dari ketumpulan dan kantuk,
mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih; ia
memurnikan pikirannya dari ketumpulan dan kantuk. Setelah meninggalkan
kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa gejolak, dengan pikiran damai; ia
memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Setelah meninggalkan
keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, [93] tidak
bingung sehubungan dengan kualitas-kualitas bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.
“Setelah meninggalkan kelima rintangan ini,
kekotoran-kekotoran pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan
terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak
bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … jhāna ke dua … jhāna ke tiga
… jhāna ke empat, yang tidak menyakitkan juga tidak menyenangkan, dengan
pemurnian perhatian melalui keseimbangan.
“Ketika pikirannya terkonsentrasi demikian, murni, bersih,
tanpa noda, bebas dari kotoran, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah noda-noda.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda.’ Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’ Ketika ia mengetahui dan
melihat demikian, pikirannya terbebas dari noda keinginan indria, dari noda
penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’ Orang ini, Aku katakan,
adalah serupa dengan prajurit yang mengambil pedang dan perisai, mempersenjatai
dirinya dengan busur dan anak panah, dan memasuki medan perang, dan setelah
memenangkan pertempuran, ia keluar sebagai pemenang dan menempati posisi di
garis depan medan perang. Ada, para bhikkhu, orang seperti demikian di sini.
Ini adalah orang jenis ke lima yang serupa dengan seorang prajurit yang
terdapat di antara para bhikkhu.
“Ini adalah kelima jenis orang itu yang serupa
dengan para prajurit itu terdapat di antara para bhikkhu.”
Kontras dengan Buddhisme, dalam islam : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat
agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma
Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat
bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab
atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum
korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari
mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira,
bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan
sesuatu apapun, maka dia masuk surga.”
Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.”
[Shahih Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN
lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat
agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur,
unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta
“KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun,
terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan
bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi
teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan
“PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk
sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap
korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya
shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]