Mengapa Agama Buddha, Minoritas di Indonesia meskipun Pernah sebagai Mayoritas Tumbuh-Subur di Era Nusantara?
Akar Penyebab Perkembangan Agama Buddha di Indonesia, Sukar untuk dapat
Kembali Tumbuh Pesat seperti Zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit di
Nusantara
Masalahnya Lebih Banyak Terletak di dalam Internal Umat Buddhist Itu
Sendiri, sebagai Penghambat Perkembangan Agama Buddha di Tanah Air
Question: Mengapa perkembangan agama Buddha di Indonesia pada
abad ke-21 ini, begitu lambat, sekalipun dulu pesat berkembang di era kerajaan
seperti Sriwijaya maupun Majapahit di Nusantara?
Brief
Answer: Umat Buddhist pada era
masa kini di Indonesia, merupakan kaum minoritas yang “melempem”, jauh dari
kata “militan” maupun “gerilyawan”, sekalipun adalah fakta tidak terbantahkan
bahwa Agama Buddha merupakan agama nenek-moyang para leluhur kita di Nusantara.
Dari pengamatan pribadi penulis, berikut rincian kelemahan struktural para umat
Agama Buddha di Tanah Air masa kini, yang mendesak untuk dikoreksi:
1. umat Buddhist tidak mau menuju “pantai seberang” (Nibbana),
pertanda lemahya keyakinan mereka. Mereka maunya terus-menerus terbelenggu
dalam siklus tumimbal-lahir (samsara) tanpa akhir—artinya, tidak benar-benar
yakin pada ajaran Sang Buddha, bahwa Nibbana adalah “akhir dari dukkha”.
Mereka, bahkan tidak mau menerima ajaran Sang Buddha bahwa “hidup adalah
menjemukan, membosankan, mengecewakan, dan tidak layak dilekati” (sabda yang berulang-ulang
diucapkan oleh Sang Buddha dalam banyak sutta, untuk memotivasi para siswa-Nya agar
berjuang secara serius untuk “memutus belenggu rantai karma” (break the shackle
/ chain of karmic law). Sikap para umat Buddhist demikian, penulis nilai
sebagai “pemberontakan terselubung” terhadap Guru Agung mereka sendiri;
2. umat Buddhist tidak mau mengakui bahwa “hidup
adalah dukkha”, bahkan terang-terangan mengingkarinya, bahkan melakukan
kejahatan demi menikmati kesenangan inderawi dan melekat padanya—terlebih
memahami “empat kebenaran mulia” yang terdiri dari : hidup adalah dukkha,
asal-mula atau penyebab dukkha, akhir dari dukkha, dan jalan
menuju akhir dukkha. Bagaimana mungkin mereka menghadap mencapai “akhir
dari dukkha” ataupun menemukan “jalan menuju akhir dari dukkha”, bila
mereka bahkan memungkiri dan menolak kebenaran pertama : hidup adalah dukkha.
Sang Buddha menyebut sikap demikian, sebagai “delusi”;
3. banyak umat Buddhist yang secara terang-terangan
membantah ajaran Sang Buddha, dengan menyatakan bahwa ajaran Buddha terlampau
idealis dan tidak dapat dipraktekkan dalam hidup di keseharian—meski Sang
Buddha menyatakan secara tegas-tersurat dalam Tipitaka, bahwa Dhamma dapat
dipraktekkan oleh setiap umat manusia, bila mereka punya kemauan, keberanian,
tekad, dan komitmen untuk itu;
4. kurang dari 0,1% (satu permil) umat Buddhist yang
telah pernah mendengar atau membaca khotbah asli Sang Buddha—mereka lebih
banyak, lebih menghargai, dan lebih senang mendengarkan Adhamma (kebalikan dari
Dhamma);
5. banyak umat Buddhist yang menyatakan bahwa Agama
Buddha bukanlah “agama”, namun “filsafat” atau cara hidup (the way of life)—meski
dalam Sutta Pitaka, salah satu Pitaka dari Tipitaka, jelas-jelas meyakini
Buddha, Dhamma, dan Sanggha adalah “kekuatan” itu sendiri. Sang Buddha sendiri
beragama Dhamma. Tidak percaya? Baca sendiri sabda Sang Buddha dalam Anguttara
Nikāya;
6. banyak umat Buddhist yang menyimpang dari ajaran
Sang Buddha, dengan atau turut mereproduksi misleading bahwa segala
sesuatunya adalah “akibat Karma”, seolah Hukum Karma begitu deterministik—suatu
paham dari ideologi Jainisme (paham yang sudah ada sebelum era Buddha Gotama)
yang tegas-tegas ditolak serta ditentang oleh Sang Buddha dalam Sutta Pitaka.
Mereka, merasa lebih pandai daripada Sang Buddha, sungguh menyerupai watak
Devadatta yang membantah Dhamma dengan menyebarkan ajaran yang
bertolak-belakang dari ajaran Sang Buddha;
7. banyak umat Buddhist yang memfitnah Sang Buddha,
secara terang-terangan di depan publik. Sebagai contoh yang kerap terlontar
dari ucapan mayoritas umat Buddhist, Sang Buddha tidak membicarakan tentang
“Tuhan sang pencipta”—itu sungguh fitnah yang tidak dapat ditolerir. Dalam
Sutta Pitaka, Sang Buddha tidak menghindari pembicaraan tentang topik “Tuhan”.
Bahkan, dalam Anguttara Nikāya, Sang Buddha mendatangi para penganut keyakinan
“Tuhan sang pencipta”, dan mendebatnya dengan sangat telak, yang mana khotbah
tersebut kerap penulis kutip ketika menghadapi umat agama samawi yang
mendalilkan “detak jantung kita setiap detik pun ditentukan oleh Allah”,
terbukti membuat mereka seketika “bungkam seribu bahasa” dan merasa malu sendiri
atas asumsi dangkal-kerdil mereka.
Dalam Digha
Nikāya, terdapat sutta bernama Brahmajalla Sutta dan Tevijja Sutta, yang
membongkar wajah asli “Tuhan”. Sehingga, Sang Buddha bukan menghindari
membicarakannya, bahkan mendatangi dan menantang penganut pandangan tentang
“Tuhan” secara “face to face”, lalu menolak dan membantahnya dengan
argumentasi yang sangat luar biasa brilian, membuat banyak umat agama samawi
terperangah, mulut mereka terbuka namun tanpa bisa membantahnya;
8. para bhikkhu maupun organisasi Buddhist di
Indonesia lebih banyak berpolitik, daripada mendalami dan berlatih Dhamma—terlebih
mengharapkan mereka menjadi “pendakwah” Dhamma yang unggul dan luhur. Bahkan,
di Indonesia, banyak berkeliaran “Mara berjubah merah”, bagaikan Devadatta yang
juga botak serta berjubah bhikkhu;
9. niat dan tekad umat Buddhist untuk berbuat
kebaikan (salah satu dari tiga bait saripati ajaran Sang Buddha, disamping
menghindari perbuatan buruk, serta memurnikan pikiran), patut diragukan. Sang
Buddha menyebutkan, dana tertinggi adalah “dana Dhamma”. Namun, tengoklah
betapa “melempem”-nya misi misionaris para umat Buddhist yang bahkan bersifat
“acuh dan tak acuh” terhadap mandek atau stagnan-nya perkembangan dan
persebaran Agama Buddha. Mereka bahkan menyerupai “tikus yang berjumpa kucing”,
ketika berhadapan dengan umat agama samawi;
10. banyak umat Buddhist yang ekstrem “tidak
perduli”, hampir dapat disebut sebagai “egois”. Ketika penulis mengajak diskusi
mengenai agama-agama, mereka selalu berkata : “Saya tidak mau / tidak
berminat membahas perbincangan tentang agama.” Penulis menanggapi dengan
singkat, “Ya sudah, sekalipun bisa jadi anak-cucu kita jadi KORBAN.”
Mereka tidak perduli, bila anak atau cucu mereka pindah agama, terhasut
marketing “Agama DOSA” yang mempromosikan dogma “penghapusan dosa” dan menjelma
“koruptor dosa” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, atau bahkan jadi korban
persekusi agama “haus pertumpahan darah” yang gemar mengkafir-kafirkan serta radikal
dogma-dogmanya;
11. 99% (sembilan puluh sembilan persen) umat
Buddhist bahkan tidak mampu membaca paritta dengan lafal yang benar sebagaimana
tata cara pelafalan dalam Bahasa Pali, mengakibatkan pembacaan paritta mereka
tergolong sembrono dan ugal-ugalan—berkebalikan dengan pengajaran agama
tetangga, dimana pelafalan diajarkan secara serius bahkan menyerupai semacam
kurikulum itu sendiri yang diajarkan sejenak dini;
12. umat Buddhist di Indonesia, lebih menyerupai “umat
ritual”, meski Sang Buddha tegas-tegas menyatakan bahwa ritual tidak
men-sucikan sang pelaku ritual;
13. mayoritas umat Buddhist di Tanah Air, meski
telah senior dan puluhan tahun mengaku sebagai umat Agama Buddha yang rajin ke
Vihara, akan tetapi telah ternyata levelnya “berjalan di tempat”, stagnan,
bagai “anak Sekolah Dasar” untuk seumur hidupnya tanpa pernah ada rasa urgensi
ataupun keterdesakan untuk meningkat kualitas pengetahuan dan pemahamannya.
Amat sangat dangkal pemahaman umat Buddhist di Tanah Air mengenai Dhamma.
Tengoklah perbincangan antar umat Buddhist di Vihara, tidak ada yang
membincangkan tentang Dhamma.
Ketika
penulis menjadi Dhamma duta, para umat Buddhist komplain, “Itu ceramah ketinggian
buat kami. Babarkan saja ceramah yang sederhana (cetek dan dangkal)!”
Kapan mereka mau maju dalam Dhamma, bila mereka sendiri terjebak dalam “mental
block”, bagai katak dalam tempurung, kehausan meski Dhamma adalah oase yang
dahsyat (namun tidak mau disentuh terlebih diminum oleh mereka, bagai tikus
mati kelaparan di lumbung padi). Dalam Anguttara Nikāya, Sang Buddha hanya memuji
mereka yang meningkat atau ada kemajuan, dan tidak memuji mereka yang stagnan
kualitasnya;
14. hanya terdapat hitungan jari, jumlah umat
Buddhist di Indonesia yang berlatih dan menekuni meditasi—akibat
ketidak-yakinan mereka mengenai ajaran Sang Buddha tentang manfaat dan
keluhuran dibalik latihan meditasi, sekalipun berulang-ulang Sang Buddha memuji
praktek latihan meditasi dan berbagai level pencapaiannya. Ironisnya, akibat
minimnya pelestari meditasi dari kalangan internal umat Buddhist itu sendiri,
banyak umat dari agama lain yang justru berupaya “membajak” atau “mem-plagiat”
ajaran Sang Buddha tentang meditasi, dimana seakan fenomena demikian dibiarkan
berlangsung dan terjadi selama bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun.
Singkatnya, para umat Buddhist kurang menghargai agamanya sendiri, dan lebih “silau”
terhadap agama tetangga.
Adapun umat
Buddhist yang bermeditasi, saling berseteru teori antara dua kubu jenis
meditasi, ketenangan (samatha) dan pandangan terang (vipassanā). Bila
kita merujuk pada Anguttara Nikāya, tidak ada urutan yang sifatnya linear di
era Sang Buddha mengajar kepada para siswa-Nya, dimana dalam banyak sutta Sang
Buddha memuji pencapaian jhāna. Sehingga, perseteruan teori demikian
hanya membuang-buang waktu, mengingat Sang Buddha sendiri tidak
mempermasalahkan urutan untuk dilatih. Terdapat sutta dimana Sang Buddha
mengajarkan metode meditasi yang bersifat gabungan antara keduanya secara
simultan, semisal : ketika menyadari adanya perasaan sedih (vadana), maka
sadarilah nafas masuk, dan sadarilah nafas keluar. Ketika masih terdapat umat
Buddhist yang memperdebatkan metode manakah yang terlebih dahulu harus dilatih
secara urutan, maka itulah aDhamma. Dhamma tidak membuat dikotomi antar
keduanya;
15. mayoritas umat Buddhist di Tanah Air adalah
“Buddhist KTP”, alias tidak pernah tahu seperti apakah ajaran Sang Buddha, dan
sama sekali tidak pernah mempraktekkan apa itu Dhamma. Mereka berpikir beragama
Buddha artinya cukup sembahyang di depan altar, meski Sang Buddha tegas-tegas bersabda
seaat sebelum mangkatnya Beliau : cara menghormati Sang Buddha, ialah dengan
menjalankan Dhamma;
16. para bhikkhu maupun para pandita di Vihara,
lebih banyak berceramah perihal “omong-kosong” daripada membabarkan khotbah
Sang Buddha bagi para umat Buddhist yang rata-rata pemalas untuk membaca
Tipitaka (budaya literasi yang buruk, ditambah budaya ceramah yang dangkal)—mereka
bahkan belum pernah memegang, melihat, ataupun membaca Tipitaka sekalipun dalam
era digital ini kesemua itu dapat diakses tanpa sekat ruang maupun waktu,
terutama Sutta Pitaka yang terdiri dari Majjhima Nikāya, Digha Nikāya, Saṁyutta Nikāya, Anguttara Nikāya, Khuddaka Nikāya yang sudah terdapat
versi terjemahan Bahasa Indonesia;
17. terdapat juga umat Buddhist yang mengaku-ngaku
menguasai Abidhamma Pitaka, meski periakunya justru nyata-nyata melanggar atau
bertolak-belakang dengan Sutta Pitaka;
18. umat Buddhist kerap melontarkan “penghakiman
verbal” bahwa kemalangan yang menimpa seseorang adalah akibat “Karma Buruknya
sedang berbuah” alias mengkambing-hitamkan Karma meskipun Karma bukanlah
kambing dan bukan hitam warnanya—sekalipun Sang Buddha sudah menolak pandangan
ekstrem bernama Jainisme (deterministik Karma) demikian, dimana salah satu
contohnya di dalam Sutta Pitaka, Sang Buddha membabarkan bahwa seseorang bisa
jatuh sakit bukan melulu karena faktor Karma, namun bisa akibat makanan yang
dikonsumsi sebagai penyebabnya;
19. rata-rata umat Buddhist menderita “inferior
syndrome”, seolah-olah agama yang mereka anut lebih rendah derajatnya
daripada agama samawi yang mayoritas di Indonesia maupun di dunia, sekalipun
faktanya tidak ada dogma agama nonBuddhist yang mampu melampaui Dhamma—dahsyatnya
khotbah Sang Buddha yang bahkan mampu membuat Bumi berguncang, dapat Anda jumpai
dan temukan sendiri buktinya dalam Majjhima Nikāya, Digha Nikāya, Saṁyutta Nikāya, Anguttara Nikāya, maupun Khuddaka Nikāya—dimana
dalam Sutta Pitaka Sang Buddha menyatakan secara eksplisit bahwa tiada manusia,
dewa, brahma, atau makhluk manapun yang menyamai maupun melampaui derajat seorang
Buddha.
Sangat mudah menemukan cacat-cela maupun cacat-moral dalam dogma-dogma agama
samawi. Sebaliknya, penulis selalu membuat tantangan terbuka kepada para umat
agama samawi : Temukan satu saja, cacat-cela ataupun cacat-moral dari ajaran
maupun teladan hidup Sang Buddha dalam Tipitaka (bukan dalam Wikipedia), maka
saya akan keluar dari Buddhisme. Sampai kini belum ada yang bersedia menyambut
tantangan penulis;
20. sekalipun mengaku sebagai “beragama Buddha”,
mereka lebih tertarik pada sosok-sosok lain, semisal Dewi A, Dewa B, Boddhisatta
A, Boddhisatta B, hingga Maitreya meskipun Dhamma warisan Buddha Gotama masih
eksis saat kini—namun tidak dihargai, ibarat “semut di seberang samudera tampak
oleh mata, namun gajah di depan mata seolah tidak tampak oleh penglihatan”.
Mereka tidak memahami, bahwa Dhamma merupakan otoritas tertinggi dalam
Buddhisme—bukan sosok-sosok yang disebutkan di atas—dimana Buddha menolong
bukan dengan cara menggotong Anda, namun menunjukkan “sang Jalan”, yang tidak lain
tidak bukan ialah Dhamma untuk kita lestarikan dan praktekkan dalam kehidupan
nyata sehari-hari, bukan untuk sekadar hafalan atau pajangan di lemari semata. Selebihnya,
Anda yang memilih, sekadar mengetahui adanya “Jalan” tersebut, atau benar-benar
berjalan di “Jalan” yang ditunjukkan dan telah dilalui oleh Sang Buddha.
PEMBAHASAN:
Hanya para umat Buddhist otodidak yang
memahami apa itu “auman singa” Sang Buddha—karena tidak akan dibabarkan di
Vihara oleh para pemuka Agama Buddha di Tanah Air—dimana kita dapat lebih mengenal
Beliau, menghargai pengorbanan-Nya dalam mencari jalan keluar dari “dukkha”,
kagum pada perjuangan panjang-Nya, menghormati keagungan-Nya, dan menjadikannya
teladan, sebagaimana dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the
Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to
English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
12
Mahāsīhanāda Sutta: Khotbah Panjang tentang Auman Singa
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Vesālī di hutan di sebelah barat kota.
2. Pada saat itu Sunakkhatta, putra Licchavi, baru saja meninggalkan
Dhamma dan Disiplin ini. Ia mengemukakan pernyataan di hadapan sekumpulan
penduduk Vesālī: “Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui manusia,
tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para
mulia. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar] menggunakan logika,
mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam diriNya, dan ketika Beliau
mengajarkan Dhamma kepada orang lain, Dhamma itu menuntunnya, jika ia
mempraktikkannya, menuju kehancuran total penderitaan.”
[Kitab Komentar : Sunakkhatta Sutta (Majjhima Nikāya
105) telah dibabarkan kepadanya oleh Sang Buddha, jelas sebelum ia bergabung
dalam Sangha; kisah mengenai peralihannya dijelaskan dalam Pāṭika Sutta
(Digha Nikāya 24). Ia menjadi tidak puas dan meninggalkan Sangha karena
Sang Buddha tidak memperlihatkan kesaktian apapun padanya atau menjelaskan
kepadanya tentang awal dari segala sesuatu.
Kondisi-kondisi melampaui manusia (uttari
manussadhammā) adalah kondisi-kondisi, moralitas, atau pencapaian yang
lebih tinggi daripada manusia biasa yang terdiri dari sepuluh perbuatan baik
(baca Majjhima Nikāya 9.6); termasuk jhāna-jhāna, jenis-jenis
pengetahuan langsung, dan jalan dan buah. “Keluhuran dalam hal pengetahuan dan
penglihatan selayaknya para mulia” (alamariyañāṇadassanavisesa), ungkapan
yang sering muncul dalam sutta-sutta, menyiratkan semua tingkatan pengetahuan
meditatif yang lebih tinggi yang menjadi karakteristik individu mulia.
Di sini, ini secara khusus berarti jalan lokuttara, yang disangkal oleh
Sunakkhatta pada Sang Buddha.
Inti dari kritikannya adalah bahwa Sang Buddha
mengajarkan suatu doktrin yang Beliau capai sendiri dalam pikiranNya bukan
seorang yang telah mencapainya melalui kebijaksanaan transenden. Jelas ia
percaya bahwa dengan dituntun menuju kehancuran total penderitaan adalah,
sebagai suatu tujuan, lebih rendah daripada mencapai kekuatan gaib.]
3. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Sāriputta merapikan jubah, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Vesālī untuk menerima dana
makanan. Kemudian ia mendengar Sunakkhatta, putra Licchavi, mengemukakan
pernyataan di hadapan sekumpulan penduduk Vesālī. Ketika ia telah menerima dana
makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan, ia menghadap Sang
Bhagavā, dan setelah bersujud, ia duduk di satu sisi dan memberitahu Sang
Bhagavā tentang apa yang dikatakan oleh Sunakkhatta.
4. [Sang Bhagavā berkata:] “Sāriputta, orang sesat Sunakkhatta sedang
marah dan kata-katanya diucapkan karena marah. Dengan berniat untuk
mendiskreditkan Sang Tathāgata, sebaliknya ia malah memuji Beliau; [69] karena
adalah pujian terhadap Sang Tathāgata dengan mengatakan tentang Beliau: ‘Ketika
Beliau mengajarkan Dhamma kepada orang lain, Dhamma itu menuntunnya, jika ia
mempraktikkannya, menuju kehancuran total penderitaan.’
5. “Sāriputta, orang sesat Sunakkhatta tidak akan pernah berpendapat
tentangKu sesuai dengan Dhamma: ‘Bahwa Sang
Bhagavā adalah sempurna, tercerahkan sepenuhnya, sempurna dalam pengetahuan
sejati dan perilaku, mulia, pengenal segenap alam, pemimpin yang tanpa
bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia,
tercerahkan, terberkahi.’
[Kitab Komentar : Semua bagian berikutnya
disampaikan sebagai bantahan terhadap kritikan Sunakkhatta pada Sang Buddha. Paragraf
6—8 mencakup tiga pertama dari enam pengetahuan langsung (abhiññā), tiga
terakhir adalah yang terakhir dari sepuluh kekuatan Sang Tathāgata. Sepuluh
kekuatan Sang Tathāgata, dipahami sebagai kekuatan pengetahuan (ñāṇabala) yang dicapai
oleh semua Buddha sebagai buah akumulasi jasa mereka. Vibhanga
(§§809-31/440-51) dari Abhidhamma Piṭaka menguraikan analisanya.
6. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan
Dhamma: ‘Bahwa
Sang Bhagavā menikmati berbagai jenis kekuatan batin: dari satu Beliau menjadi
banyak; dari banyak Beliau menjadi satu, Beliau muncul dan lenyap; Beliau
bepergian tanpa terhalangi oleh dinding, menembus tembok, menembus gunung
seolah-olah menembus ruang kosong; Beliau menyelam masuk dan keluar dari tanah
seolah-olah di dalam air; Beliau berjalan di atas air tanpa tenggelam
seolah-olah di atas tanah; duduk bersila, Beliau bepergian di angkasa seperti
burung; dengan tanganNya Beliau menyentuh dan menepuk bulan dan matahari begitu
kuat dan perkasa; Beliau mengerahkan kekuatan jasmani, hingga sejauh
alam-Brahma.’
7. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan
Dhamma: ‘Dengan
unsur telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, Sang Bhagavā mendengar
kedua jenis suara, suara surgawi dan suara manusia, yang jauh maupun dekat.’
8. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan
Dhamma: ‘Bahwa
Sang Bhagavā melingkupi pikiran makhluk-makhluk lain, orang-orang lain dengan
pikiranNya. Beliau memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai terpengaruh
nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai tidak terpengaruh nafsu;
Beliau memahami pikiran yang terpengaruh kebencian sebagai terpengaruh
kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian sebagai tidak terpengaruh
kebencian; Beliau memahami pikiran yang terpengaruh delusi sebagai terpengaruh
delusi dan pikiran yang tidak terpengaruh delusi sebagai tidak terpengaruh
delusi; Beliau memahami pikiran yang mengerut sebagai mengerut dan pikiran yang
kacau sebagai kacau; Beliau memahami pikiran luhur sebagai luhur dan pikiran
tidak luhur sebagai tidak luhur; Beliau memahami pikiran yang terbatas sebagai
terbatas dan pikiran tidak terbatas sebagai tidak terbatas; Beliau memahami
pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi
sebagai tidak terkonsentrasi; Beliau memahami pikiran yang terbebaskan sebagai
terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan.’
(SEPULUH KEKUATAN SEORANG TATHĀGATA)
9. “Sāriputta, Sang Tathāgata memiliki sepuluh kekuatan ini, yang dengan
memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di
dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā. Apakah sepuluh ini?
[Kitab Komentar : Tentang Sang Buddha mengaumkan
auman singaNya, baca Saṁyutta Nikāya 22:78/iii.84-86. Roda Brahmā adalah
yang tertinggi, terbaik, roda yang terunggul, Roda Dhamma (dhammacakka)
dalam dua maknanya: pengetahuan menembus kebenaran dan pengetahuan bagaimana
membabarkan ajaran.]
10. (1) “Di sini, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya yang mungkin sebagai mungkin dan yang
tidak mungkin sebagai tidak mungkin. Dan itu [70] adalah kekuatan seorang Tathāgata yang dimiliki oleh Sang
Tathāgata, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan
auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.
[Kitab Komentar : Vibhaṅga §809
menjelaskan pengetahuan ini dengan mengutip Majjhima Nikāya 115.12-17. Akan
tetapi, penerjemah lain menjelaskan secara berbeda sebagai pengetahuan atas
hubungan antara sebab dan akibatnya.]
11. (2) “Kemudian, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan
yang dilakukan, di masa lalu, di masa depan, dan di masa sekarang, dengan kemungkinan-kemungkinan
dan penyebab-penyebabnya. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …
[Kitab Komentar : Pengetahuan ini dapat ditunjukkan
oleh analisis kamma menurut Sang Buddha dalam Majjhima Nikāya 57, Majjhima
Nikāya 135 dan Majjhima Nikāya 136. Penerjemah lain menjelaskan kemungkinan (ṭhāna) seperti alam, situasi,
waktu, dan usaha – faktor-faktor yang dapat menghalangi atau mendorong
akibatnya; penyebabnya (hetu) adalah kamma itu sendiri.]
12. (3) “Kemudian, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya Jalan yang mengarah menuju semua alam
tujuan kelahiran kembali. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …
[Kitab Komentar : Pengetahuan tersebut akan
dijelaskan dalam paragraf 35—42 di bawah.]
13. (4) “Kemudian, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya dunia dengan banyak unsur yang
berbeda-beda. Itu juga adalah
kekuatan seorang Tathāgata …
[Kitab Komentar : Pemahaman Sang Tathāgata atas
banyak unsur yang menyusun dunia terdapat dalam Majjhima Nikāya 115.4—9.]
14. (5) “Kemudian, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya bagaimana makhluk-makhluk memiliki
kecenderungan yang berbeda-beda. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …
[Kitab Komentar : Vibhaṅga §813
menjelaskan bahwa Sang Tathāgata memahami makhluk-makhluk berkecenderungan
rendah dan berkecenderungan mulia, dan bahwa mereka condong kepada mereka
yang memiliki kecenderungan sama.]
15. (6) “Kemudian, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya kecondongan dari indria-indria
makhluk-makhluk lain, orang-orang lain. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …
[Kitab Komentar : Vibhaṅga §814-27
memberikan analisa terperinci. Penerjemah lain menyebutkan maknanya secara
lebih ringkas sebagai pengetahuan Sang Tathāgata terhadap indria keyakinan,
kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan makhluk-makhluk yang
rendah maupun mulia.]
16. (7) “Kemudian, Sang
Tathāgata memahami sebagaimana adanya kekotoran, pemurnian, dan kemunculan
sehubungan dengan jhāna, kebebasan, konsentrasi, dan pencapaian. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …
[Kitab Komentar : Vibhaṅga §828:
“kekotoran” (sankilesa) adalah suatu kondisi yang menyebabkan
kemunduran, “pemurnian” (vodāna) adalah suatu kondisi yang menyebabkan
kemajuan, “timbulnya” (vuṭṭhāna) adalah pemurnian dan kemunculan dari pencapaian. Delapan kebebasan (vimokkhā)
diuraikan dalam Majjhima Nikāya 77.22 dan Majjhima Nikāya 137.26; sembilan
pencapaian (samāpatti) adalah empat jhāna, empat pencapaian tanpa
materi, dan lenyapnya persepsi dan perasaan seperti pada Majjhima Nikāya 25.12-20.]
17. (8) “Kemudian,
Sang Tathāgata mengingat banyak kehidupan lampaunya, yaitu, satu kelahiran, dua
kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran,
dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh
kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak
kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa
penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu,
dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan
kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari
sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku
itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman
kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan
meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala
aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau. Demikianlah
beserta aspek dan ciri-cirinya Beliau mengingat banyak kehidupan lampau. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata …
18. (9) “Kemudian, dengan
mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Sang Tathāgata melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk
rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai
dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam
jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan
mereka, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam
rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini,
yang berperilaku baik dalam jasmani, [23] ucapan, dan pikiran, bukan pencela
para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam
perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul
kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa
yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia
dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan
Beliau memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan
mereka. Itu juga
adalah kekuatan seorang Tathāgata …
19. (10) “Kemudian, dengan
menembusnya bagi diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung, Sang Tathāgata di
sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan
melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda. Itu juga adalah kekuatan seorang Tathāgata yang
dimiliki oleh Sang Tathāgata, yang dengan memilikinya Beliau diakui sebagai
pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar
Roda Brahmā.
20. “Sang Tathāgata memiliki sepuluh kekuatan ini, yang dengan
memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di
dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.
21. “Sāriputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun
juga mengatakan tentangKu: ‘Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui
manusia, tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar]
menggunakan logika, mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam
diriNya’ – jika ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu
dan melepaskan pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di
sana, ia pasti akan berakhir di neraka. Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki
moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan akan menikmati pengetahuan akhir di
sini dan saat ini, demikian pula akan terjadi dalam kasus ini, Aku katakan,
bahwa jika ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan
pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti
akan berakhir di neraka.
[Kitab Komentar : Idiom yathābhataṁ nikkhitto evaṁ niraye agak rumit; terjemahan di sini mengikuti komentar: “Ia akan ditempatkan
di neraka seolah-olah dibawa dan diletakkan di sana oleh penjaga neraka.”]
(EMPAT JENIS KEBERANIAN)
22. “Sāriputta, Sang Tathāgata memiliki empat jenis keberanian ini, yang
dengan memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman
singa di dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā. Apakah empat ini?
23. “Di sini, Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa atau
brahmana atau dewa atau Māra atau Brahmā atau siapapun juga di dunia ini mampu,
sesuai dengan Dhamma, menuduhKu sebagai berikut: ‘Walaupun Engkau mengaku
telah mencapai Pencerahan Sempurna, namun Engkau tidak tercerahkan sempurna
sehubungan dengan hal-hal tertentu.’ [72] Dan
melihat tidak ada dasar untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa
ketakutan, dan dengan berani.
24. “Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa … atau siapapun juga
dapat menuduhKu sebagai berikut: ‘Walaupun Engkau mengaku telah menghancurkan
noda-noda, namun noda-noda ini belum Engkau hancurkan.’ Dan melihat tidak ada dasar
untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani.
25. “Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa … atau siapapun juga
dapat menuduhKu sebagai berikut: ‘Hal-hal yang Engkau sebut sebagai rintangan
tidak mampu menghalangi seseorang yang menikmatinya.’ Dan melihat tidak ada
dasar untuk itu, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan
berani.
26. “Aku tidak melihat dasar yang dengannya petapa … atau siapapun juga
dapat menuduhKu sebagai berikut: ‘Ketika Engkau mengajarkan Dhamma kepada
seseorang, Dhamma itu tidak menuntunnya
pada kehancuran total penderitaan ketika ia mempraktikkannya.’ Dan melihat tidak ada dasar untuk itu, maka Aku
berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani.
27. “Seorang Tathāgata memiliki empat jenis keberanian ini, yang dengan
memilikinya Beliau diakui sebagai pemimpin kelompok, mengaumkan auman singa di
dalam kelompok-kelompok, dan memutar Roda Brahmā.
28. “Sāriputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun
juga mengatakan tentangKu … ia pasti akan berakhir di neraka.
(DELAPAN KELOMPOK)
29. “Sāriputta, terdapat delapan kelompok ini. Apakah delapan ini?
Kelompok para mulia, kelompok para brahmana, kelompok para perumah-tangga,
kelompok para petapa, kelompok para dewa di alam surga Empat Raja Dewa,
kelompok para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga, kelompok para pengikut Māra, kelompok
para Brahmā. Dengan
memiliki empat jenis keberanian ini, Sang Tathāgata mendekati dan memasuki
delapan kelompok ini.
30. “Aku ingat pernah mendekati ratusan kelompok para mulia …
ratusan kelompok para brahmana … ratusan kelompok para perumah-tangga … ratusan
kelompok para petapa … ratusan kelompok para dewa di alam surga Empat Raja
Dewa … ratusan kelompok para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga … ratusan
kelompok para pengikut Māra … ratusan kelompok para Brahmā. Dan Aku pernah duduk
bersama mereka di sana dan berbicara dengan mereka dan berbincang-bincang
dengan mereka, namun Aku melihat tidak ada dasar untuk berpikir bahwa ketakutan
atau rasa segan akan menghampiriKu. Dan melihat tidak adanya dasar untuk itu,
Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani. [73]
31. “Sariputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun
juga mengatakan tentangKu … ia pasti akan berakhir di neraka.
(EMPAT JENIS KETURUNAN)
32. “Sāriputta, terdapat empat jenis kelahiran ini. Apakah empat ini?
Kelahiran melalui telur, kelahiran melalui rahim, kelahiran melalui kelembaban,
dan kelahiran secara spontan.
33. “Apakah kelahiran melalui telur? Terdapat makhluk-makhluk ini yang
terlahir dengan memecahkan cangkang sebutir telur: ini disebut kelahiran
melalui telur. Apakah kelahiran melalui rahim? Terdapat makhluk-makhluk ini
yang terlahir dengan memecahkan selaput pembungkus janin: ini disebut kelahiran
melalui rahim. Apakah kelahiran melalui kelembaban? Terdapat makhluk-makhluk
ini yang terlahir di dalam ikan busuk, di dalam mayat busuk, di dalam bubur
busuk, di dalam lubang kakus, atau di dalam saluran air: ini disebut kelahiran
melalui kelembaban. Apakah
kelahiran secara spontan? Terdapat para dewa dan para penghuni neraka dan
manusia-manusia tertentu dan beberapa makhluk di alam rendah: ini disebut
kelahiran secara spontan. Ini adalah empat jenis keturunan.
[Kitab Komentar tidak memberikan penjelasan, jenis manusia
seperti apakah yang dapat terlahir secara spontan.]
34. “Sariputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun
juga mengatakan tentangKu … ia pasti akan berakhir di neraka.
(LIMA ALAM TUJUAN KELAHIRAN DAN NIBBĀNA)
35. “Sāriputta, terdapat
lima alam tujuan kelahiran ini. Apakah lima ini? Neraka, alam binatang, alam
hantu, alam manusia, dan para dewa.
[Kitab Komentar : Dalam tradisi Buddhis belakangan, asura,
raksasa atau “lawan-para dewa,” ditambahkan sebagai alam terpisah menjadikan
enam alam tujuan kehidupan.]
36. (1) “Aku
memahami neraka, dan jalan dan cara yang mengarah menuju neraka. Dan Aku juga
memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah
hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali dalam kondisi buruk, di
alam rendah, dalam kesengsaraan, dalam neraka.
(2) “Aku memahami alam binatang, dan jalan dan cara yang mengarah menuju
alam binatang. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki
jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di
alam binatang.
(3) “Aku memahami alam hantu, dan jalan dan cara yang mengarah menuju
alam hantu. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan
ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam hantu.
(4) “Aku memahami alam manusia, dan jalan dan cara yang mengarah menuju
alam manusia. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki
jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di
antara manusia.
(5) “Aku
memahami alam dewa, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam dewa. Dan Aku
juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya
jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, di alam surga.
(6) “Aku
memahami Nibbāna, dan jalan dan cara yang mengarah menuju NIbbāna. [74] Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang
yang telah memasuki jalan ini akan, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri
dengan pengetahuan langsung, di
sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan
melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda
37. (1) “Dengan
melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut:
‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini
sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali
dalam kondisi buruk, di alam tujuan yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, di
neraka.’ Dan kemudian setelah itu, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, Aku melihat bahwa setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul
kembali dalam kondisi buruk, di alam tujuan yang tidak bahagia, dalam
kesengsaraan, di neraka, dan mengalami perasaan yang luar biasa menyakitkan,
menyiksa, menusuk. Misalkan
terdapat sebuah lubang membara yang lebih dalam daripada tinggi manusia yang
penuh dengan bara tanpa api atau asap; dan kemudian seseorang yang kepanasan
dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui
jalan satu arah yang mengarah menuju lubang membara tersebut. Kemudian
seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini
berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini sehingga ia
akan sampai ke lubang membara ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa
orang itu terjatuh ke dalam lubang membara itu dan mengalami perasaan yang luar
biasa menyakitkan, menyiksa, menusuk. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran
dengan pikiran … perasaan yang luar biasa menusuk.
38. (2) “Dengan
melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang tertentu sebagai berikut:
‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini, telah menjalani jalan ini
sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, ia akan muncul kembali di
alam binatang.’ Dan kemudian setelah itu, dengan mata dewa, yang murni dan
melampaui manusia, Aku melihat bahwa setelah hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam binatang, dan mengalami perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Misalkan terdapat sebuah lubang kakus yang lebih dalam daripada tinggi
manusia yang penuh dengan kotoran; dan kemudian seseorang [75] yang kepanasan
dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan kehausan, datang
melalui jalan satu arah yang mengarah menuju lubang kakus tersebut. Kemudian
seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan berkata: ‘Orang ini
berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke lubang kakus ini’; dan kemudian
setelah itu, ia melihat bahwa orang itu terjatuh ke dalam lubang kakus itu dan
mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Demikian pula, dengan
melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan menusuk.
39. (3) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang
tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini,
telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian,
ia akan muncul kembali di alam hantu.’ Dan kemudian setelah itu … Aku melihat bahwa
… ia muncul kembali di alam hantu, dan mengalami perasaan yang sangat
menyakitkan. Misalkan terdapat sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah
yang tidak datar dengan sedikit dedauan yang menghasilkan bayangan yang tidak
penuh; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas,
lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah
menuju pohon tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika
melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai
ke pohon ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu duduk atau
berbaring dalam bayangan pohon itu dan mengalami perasaan yang sangat menyakitkan.
Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang sangat
menyakitkan.
[Komentar : Sungguh mengherankan ketika terdapat segelintir
manusia yang tertarik pada dunia hantu, mengingat derajat hantu ialah dibawah
manusia, dan menderita. Alam hantu, menurut sutta, merupakan satu dari empat “alam
tanpa kebahagiaan”. Mengapa manusia bisa tertarik dan merasa
penasaran terhadap alam rendah dari makhluk yang “tanpa kebahagiaan” alias “menderita”,
bahkan menjadikannya sebagai tempat “berlindung”? Sang Buddha menyebut mereka sebagai
“manusia dungu”, yang tertarik untuk turun derajat ke alam rendah. Kita dapat
menyebut kaum manusia demikian sebagai manusia yang mengalami dis-orientasi :
tertarik ke arah bawah, bukan ke arah atas.]
40. (4) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang
tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini,
telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian,
ia akan muncul kembali di antara manusia.’ Dan kemudian setelah itu …
Aku melihat bahwa … ia muncul kembali di antara manusia, dan mengalami perasaan
yang sangat menyenangkan. Misalkan terdapat sebatang pohon yang tumbuh di
atas tanah datar dengan dedauan yang lebat menghasilkan bayangan yang penuh; dan
kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah,
terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju
pohon tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan
berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke pohon ini’;
dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu duduk atau berbaring dalam
bayangan pohon itu dan mengalami perasaan yang sangat menyenangkan.
Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran … perasaan yang sangat
menyenangkan. [76]
41. (5) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang
tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini,
telah menjalani jalan ini sehingga setelah hancurnya jasmani, setelah kematian,
ia akan muncul kembali di alam tujuan yang bahagia, di alam surga.’ Dan kemudian
setelah itu … Aku melihat bahwa … ia muncul kembali di alam tujuan yang
bahagia, di alam surga, dan mengalami perasaan yang luar biasa menyenangkan.
Misalkan terdapat sebuah istana, dan istana itu memiliki kamar atas yang
di-plester bagian luar dan dalamnya, terkunci, diperkokoh dengan teralis, dengan
jendela tertutup, dan di dalamnya terdapat sebuah dipan berlapiskan permadani,
selimut dan alas dipan, dengan penutup dipan dari kulit rusa, lengkap dengan
kanopi serta bantal merah di kedua ujungnya [kepala dan kaki]; dan kemudian
seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang,
dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah menuju istana
tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika melihatnya akan
berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan sampai ke istana
ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu duduk atau berbaring
di dalam kamar atas di dalam istana itu mengalami perasaan yang luar biasa
menyenangkan. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran dengan pikiran …
perasaan yang luar biasa menyenangkan.
42. (6) “Dengan melingkupi pikiran dengan pikiran Aku memahami orang
tertentu sebagai berikut: ‘Orang ini berkelakuan begini, berperilaku begini,
telah menjalani jalan ini sehingga dengan menembusnya untuk dirinya sendiri
dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan
pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya
noda-noda.’ Dan kemudian setelah itu Aku melihat bahwa dengan menembusnya
untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini
masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan
yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, dan mengalami perasaan yang luar
biasa menyenangkan. Misalkan terdapat sebuah kolam, dengan air yang jernih,
sejuk menyenangkan, bening, dengan tepian yang landai, indah, dan dekat dengan
hutan; dan kemudian seseorang yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas,
lelah, terpanggang, dan kehausan, datang melalui jalan satu arah yang mengarah
menuju kolam tersebut. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik ketika
melihatnya akan berkata: ‘Orang ini berkelakuan begini … sehingga ia akan
sampai ke kolam ini’; dan kemudian setelah itu, ia melihat bahwa orang itu
telah masuk ke dalam kolam, mandi, minum, dan melepaskan segala kepenatan, kelelahan,
dan telah keluar lagi dan sedang duduk atau berbaring di dalam hutan [77] mengalami
perasaan yang sangat menyenangkan. Demikian pula, dengan melingkupi pikiran
dengan pikiran … perasaan yang luar biasa menyenangkan. Ini adalah lima
alam tujuan kelahiran.
[Kitab Komentar : Walaupun penggambarannya sama
dengan kebahagiaan alam surga, namun maknanya berbeda. Sebab kebahagiaan alam
surga tidaklah sungguh-sungguh sangat menyenangkan karena demam nafsu, dan sebagainya, masih ada di sana. Tetapi
kebahagiaan Nibbāna sungguh sangat menyenangkan dalam segala hal karena
lenyapnya segala demam.]
43. “Sāriputta, ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, jika siapapun
juga mengatakan tentangKu: ‘Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui
manusia, tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia. Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar]
menggunakan logika, mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam
diriNya’ – jika
ia tidak meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan
pandangan itu, maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti akan
berakhir di neraka.
Bagaikan seorang bhikkhu yang memiliki moralitas, konsentrasi, dan
kebijaksanaan akan menikmati pengetahuan akhir di sini dan saat ini, demikian
pula akan terjadi dalam kasus ini, Aku katakan, bahwa jika ia tidak
meninggalkan pernyataan itu dan kondisi pikiran itu dan melepaskan pandangan itu,
maka [seolah-olah] ia dibawa dan diletakkan di sana, ia pasti akan berakhir di
neraka.
(PRAKTIK KERAS SANG BODHISATTA)
44. “Sāriputta, Aku ingat telah menjalani kehidupan
suci yang memiliki
empat faktor. Aku telah mempraktikkan pertapaan – pertapaan sangat keras; Aku
telah mempraktikkan kekasaran – sangat kasar; Aku telah mempraktikkan
kehati-hatian – sangat hati-hati; Aku telah mempraktikkan keterasingan – sangat
terasing.
[Kitab Komentar : Pada titik ini, Sang Buddha
menceritakan kisah praktik pertapaan masa lampauNya karena Sunakkhatta
adalah seorang pemuja pertapaan keras (seperti yang ditunjukkan dalam Paṭika
Sutta) dan Sang
Buddha ingin memberitahukan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menyamaiNya
dalam hal praktik pertapaan keras. Paragraf-paragraf berikutnya harus digabungkan dengan Majjhima Nikāya
4.20 dan Majjhima Nikāya 36.20-30 untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap
tentang percobaan Sang Bodhisatta dalam penyiksaan diri ekstrim.]
45. “Beginilah pertapaanKu, Sāriputta, bahwa Aku bepergian dengan
telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika
dipanggil, tidak berhenti ketika diminta; Aku tidak menerima makanan yang
dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan;
Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi
tongkat kayu, melintasi alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan
bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari
perempuan yang berada di tengah-tengah para laki-laki, dari mana terdapat pengumuman
pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat
beterbangan; Aku tidak menerima ikan atau daging, Aku tidak meminum minuman
keras, anggur, atau minuman fermentasi. Aku mendatangi satu rumah, satu suap;
aku mendatangi dua [78] rumah, dua suap; … Aku mendatangi tujuh rumah, tujuh
suap. Aku makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari;
Aku makan sekali dalam sehari, sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari,
demikianlah bahkan hingga sekali setiap dua minggu; aku berdiam menjalani
praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan. Aku adalah pemakan
sayur-sayuran atau jawawut atau beras liar atau kupasan kulit atau lumut atau
kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Aku hidup
dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan; Aku memakan buah-buahan yang jatuh.
Aku mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami bercampur kain, dari kain
pembungkus mayat, dari selimut yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa,
dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain
serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung
hantu. Aku adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik
mencabut rambut dan janggut. Aku adalah seorang yang berdiri terus-menerus,
menolak tempat duduk. Aku adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa
mempertahankan posisi jongkok. Aku adalah seorang yang menggunakan alas tidur
paku; Aku menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurKu. Aku berdiam dengan
menjalani praktik mandi tiga kali sehari termasuk malam hari. Demikianlah dalam
berbagai cara Aku berdiam dengan menjalani praktik menyiksa dan menghukum diri.
Demikianlah pertapaanKu.
46. “Beginilah kekasaranKu, Sāriputta, bagaikan batang pohon Tindukā,
yang menumpuk sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, menempel dan
mengelupas, demikian pula, debu dan daki, yang terkumpul selama bertahun-tahun,
menempel di tubuhKu dan mengelupas. Tidak pernah terpikir olehKu: ‘Oh, Aku akan
menggosok debu dan daki ini dengan tanganKu, atau membiarkan orang lain
menggosok debu dan daki ini dengan tangannya’ – tidak pernah terpikirkan olehKu
demikian. Demikianlah kekasaranKu.
47. “Beginilah kehati-hatianKu, Sāriputta, bahwa Aku senantiasa penuh
perhatian dalam melangkah maju dan melangkah mundur. Aku selalu berbelas kasih
bahkan sehubungan dengan setetes air sebagai berikut: ‘Semoga Aku tidak
menyakiti makhluk-makhluk kecil dalam celah tanah ini.’ Demikianlah
kehati-hatianKu.
[Kitab Komentar : Gagasan tersebut sepertinya bahwa
belas kasihnya terarah, bukan pada kuman dalam setetes air (seperti yang
disiratkan dalam terjemahan edisi pertama), melainkan pada makhluk-makhluk yang
mungkin terluka atau terbunuh karena tidak berhati-hati dalam membuang air.]
48. “Beginilah keterasinganKu, Sāriputta, bahwa [79] Aku akan memasuki
hutan dan berdiam di sana. Dan ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau
seorang penggembala domba atau seseorang yang sedang mengumpulkan rumput atau
kayu, atau seorang pekerja hutan, Aku akan pergi dari hutan ke hutan, dari
belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit. Mengapakah?
Agar mereka tidak melihatKu atau agar Aku tidak melihat mereka. Bagaikan seekor
rusa yang lahir di dalam hutan, ketika melihat manusia, akan lari dari hutan ke
hutan, dari belantara ke belantara, dari lembah ke lembah, dari bukit ke bukit,
demikian pula, ketika Aku melihat seorang penggembala sapi atau seorang
penggembala domba … Demikianlah keterasinganKu.
49. “Aku akan bepergian dengan keempat tangan dan kakiKu menuju kandang
sapi ketika sapi-sapi telah pergi dan si penggembala meninggalkannya, dan Aku
akan memakan kotoran sapi-sapi muda. Selama kotoran dan air kencingKu masih
ada, Aku akan memakan kotoran dan air kencingKu sendiri. Demikianlah praktik
kerasKu dalam hal memakan kotoran.
50. “Aku akan pergi ke hutan-hutan yang menakutkan dan berdiam di sana –
hutan yang begitu menakutkan sehingga mumnya akan membuat seseorang merinding
jika ia tidak terbebas dari nafsu. Pada malam-malam musim dingin selama ‘delapan
hari musim salju,’ Aku akan berdiam di ruang terbuka pada malam hari dan di
dalam hutan pada siang hari. Dalam bulan terakhir musim panas Aku akan berdiam
di ruang terbuka pada siang hari dan di dalam hutan pada malam hari. Dan di
sana secara spontan muncul padaKu syair ini yang belum pernah terdengar
sebelumnya: ‘Kedinginan di malam hari dan terpanggang di siang hari, Sendirian
di dalam hutan yang menakutkan, Telanjang, tidak ada api untuk duduk di
dekatnya, Namun
Sang Petapa tetap melanjutkan pencariannya.’
[Kitab Komentar : Delapan hari musim salju (antaraṭṭhaka himapātasamaya) terjadi
pada empat hari terakhir bulan Magha dan empat hari pertama bulan Phagguna
(yaitu, akhir Februari). Akan tetapi, musim dingin di Asia Selatan biasanya
jatuh pada akhir Desember atau awal Januari.]
51. “Aku membuat tempat tidur di tanah pekuburan dengan tulang-belulang
orang mati sebagai bantal. Dan anak-anak penggembala datang dan meludahiKu,
mengencingiKu, melemparkan tanah kepadaKu, dan menusukkan kayu ke dalam telingaKu.
Namun Aku tidak
ingat bahwa Aku pernah membangkitkan pikiran jahat [kebencian] terhadap mereka. Demikianlah kediamanKu dalam keseimbangan.
[80]
52. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan
pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka
mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah
kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat
berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah
kola sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu
lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada
masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu buah kola sehari,
tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit anggota-anggota
tubuhKu menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu. Karena makan begitu
sedikit punggungKu menjadi seperti kuku unta. Karena makan begitu sedikit
tonjolan tulang punggungKu menonjol bagaikan untaian tasbih. Karena makan
begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung
tanpa atap. Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang
mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam. Karena
makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit
yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari. Karena makan begitu sedikit
kulit perutKu menempel pada tulang punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku
menyentuh kulit perutKu maka akan tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku
menyentuh tulang punggungKu maka akan tersentuh kulit perutKu. Karena makan
begitu sedikit, jika Aku ingin buang air besar atau buang air kecil, maka Aku
terjatuh dengan wajahku di atas kotoran di sana. Karena makan begitu sedikit,
jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan memijat badanKu dengan tanganKu,
maka bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku
menggosoknya.
[Kitab Komentar : “Pemurnian muncul melalui makanan”
ialah, mereka menganut pandangan bahwa makhluk-makhluk dimurnikan dengan cara
mengurangi makanan.]
53-55. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan
pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’ Mereka
mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan kacang,’ ... ‘Ayo kita hidup dari
memakan wijen,’ ... ‘Ayo kita hidup dari memakan nasi,’ dan mereka memakan
nasi, mereka memakan tepung beras, [81] mereka meminum air beras, dan mereka
membuat berbagai jenis ramuan beras. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu
butir nasi sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa butiran nasi pada
masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; butiran nasi
pada masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu butir nasi
sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit ... maka
bulunya, tercabut pada akarnya, berguguran dari badanKu ketika Aku
menggosoknya.
56. “Akan
tetapi, Sāriputta, dengan melakukan demikian, dengan praktik demikian, dengan
melakukan pertapaan keras demikian, Aku tidak mencapai kondisi yang melampaui
manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia.
Mengapakah? Karena Aku belum mencapai kebijaksanaan mulia yang ketika tercapai
maka menjadi mulia dan membebaskan dan menuntun seseorang yang mempraktikkannya
menuju kehancuran total penderitaan.
57. “Sāriputta,
Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini:
‘Pemurnian muncul melalui lingkaran kelahiran kembali.’ Tetapi tidaklah mudah
menemukan alam dalam lingkaran ini di mana Aku belum pernah [82] melaluinya
dalam perjalanan yang panjang ini, kecuali sebagai para dewa di Alam Murni; dan
jika Aku terlahir kembali sebagai dewa di Alam Murni, maka Aku tidak akan
kembali ke dunia ini.
[Kitab Komentar : Kelahiran kembali di Alam Murni (suddhāvāsa)
hanya mungkin bagi para “yang-tidak-kembali”, seseorang dengan tingkat kesucian
Anagami.]
58. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya
seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui [beberapa jenis] kelahiran tertentu.’
Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis kelahiran kembali yang mana Aku belum
pernah terlahirkan kembali dalam perjalanan yang panjang ini, kecuali sebagai
para dewa di Alam Murni ...
59. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya
seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui [beberapa jenis] alam kehidupan
tertentu.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis alam di mana Aku belum pernah
berdiam di dalamnya ... kecuali sebagai para dewa di alam murni ...
60. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya
seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pengorbanan.’ Tetapi tidaklah mudah menemukan jenis pengorbanan
yang belum pernah Kupersembahkan dalam perjalanan yang panjang ini, ketika aku
menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.
61. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya
seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pemujaan api.’ Tetapi tidaklah mudah
menemukan jenis api yang belum pernah Kusembah dalam perjalanan yang panjang
ini, ketika aku menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.
62. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan
pandangannya seperti ini: ‘Selama orang baik ini masih muda, seorang pemuda
berambut hitam dengan berkah kemudaannya, dalam tahap utama kehidupannya, maka
selama itu ia sempurna dalam kebijaksanaan cerahnya. Tetapi ketika orang baik
ini tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan sampai pada
tahap akhir, berumur delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, maka
kecemerlangan kebijaksanaannya hilang.’ Tetapi jangan beranggapan demikian. Aku
sekarang sudah tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan
sampai pada tahap akhir: umurku sudah delapan puluh tahun. Misalkan Aku
memiliki empat siswa dengan umur kehidupan seratus tahun, sempurna dalam
perhatian, daya ingat, ingatan, dan kebijaksanaan cemerlang. Bagaikan seorang
pemanah terampil, terpelajar, terlatih, dan teruji, mampu dengan mudah
menembakkan anak panah menembus bayangan sebatang pohon palem, misalkan mereka
sempurna dalam perhatian, memiliki daya ingat yang kuat, [83] dan kebijaksanaan
cemerlang. Misalkan mereka terus-menerus menanyakan kepadaKu tentang Empat
Landasan Perhatian dan Aku menjawab mereka ketika ditanya dan bahwa mereka
mengingat semua jawabanKu dan tidak pernah mengajukan pertanyaan lanjutan atau
berhenti bertanya kecuali untuk makan, minum, mengunyah, mengecap, buang air,
dan beristirahat untuk menghilangkan kantuk dan keletihan. Namun pembabaran Dhamma
oleh Sang Tathāgata, penjelasanNya tentang faktor-faktor Dhamma, dan jawabanNya
atas pertanyaan-pertanyaan itu masih belum berakhir, tetapi sementara itu
keempat siswaKu yang memiliki umur kehidupan seratus tahun akan meninggal dunia
di akhir seratus tahun itu. Sāriputta, bahkan jika engkau harus membawaku
pergi ke mana-mana di atas tempat tidur, namun tidak
akan ada perubahan dalam kecerahan kebijaksanaan Sang Tathāgata.
[Kitab Komentar : Kata Pali untuk istilah “perhatian,
daya ingat, ingatan, dan kebijaksanaan cemerlang” adalah sati, gati,
dhiti, paññāveyyattiya. Sati sebagai kemampuan untuk
menangkap dalam pikiran seratus atau seribu frasa sewaktu diucapkan; gati
sebagai kemampuan untuk mengingat dan mempertahankannya dalam pikiran; dithi
sebagai kemampuan untuk mengucapkan kembali apa yang telah ditangkap dan
diingat; dan paññāveyyattiya sebagai kemampuan untuk melihat makna dan
logika dari frasa-frasa tersebut.]
63. “Sebenarnya,
jika dikatakan tentang seseorang: ‘Suatu makhluk yang tidak tunduk pada delusi
telah muncul di dunia ini demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk,
dan demi kebahagiaan para dewa dan manusia,’ adalah kepadaKu ucapan benar itu
seharusnya ditujukan.”
64. Pada saat itu Yang Mulia Nāgasamāla sedang berdiri di belakang Sang
Bhagavā mengipasi Beliau. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Sungguh mengagumkan,
Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Sewaktu aku mendengarkan khotbah Dhamma ini,
bulu badanku berdiri. Yang Mulia, apakah nama dari khotbah Dhamma ini?”
[Kitab Komentar : YM. Nāgasamāla menjadi pelayan
pribadi Sang Buddha selama dua puluh tahun pertama pengajaranNya.]
“Sehubungan dengan hal ini, engkau boleh mengingat khotbah Dhamma ini
sebagai: ‘Khotbah
yang Menegakkan Bulu Badan.’”
[Kitab Komentar : Lomahaṁsanapariyāya, “Khotbah
yang Menegakkan Bulu Badan”. Sutta ini dirujuk dengan nama itu pada Milindapañha
398 dan dalam Komentar Dīgha Nikāya.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Nāgasamāla
merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.