Agama Samawi hanyalah AGAMA RITUAL yang Dangkal dan Rendah
Ibadah Buddhisme Vs. Ibadah Agama Samawi
Muaranya, yang Rugi ialah Umat AGAMA DOSA (Pecandu Dogma-Korup “PENGHAPUSAN
DOSA”) Itu Sendiri ketika Tiba Giliran Mereka yang menjadi KORBAN dimana Allah Lebih
PRO terhadap Pendosa (Penjahat)
Agama samawi menyesatkan masyarakat yang terjerumus menjadi pemeluknya, atas alasan apakah? Ibadah dalam agama samawi, ialah ibadah ritual, entah berupa ritual puja-puji maupun ritual sembah-sujud, sekalipun ritualnya merampas hak-hak korban atas keadilan lewat dogma korup semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”. Mereka beribadah bukan untuk menjelma orang suci, namun untuk menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun mereka korupsi.
Dalam Buddhisme, menghindari perbuatan buruk ialah ibadah kaum Buddhist.
Dalam Buddhisme pula, melakukan kebajikan ialah ibadah kaum Buddhist. Serta dalam
dalam Buddhisme, memurnikan pikiran ialah ibadah kaum Buddhist. Sebaliknya,
bagi kaum pemeluk “agama ritual”, ritual itu sendirilah ibadahnya. Mereka memilih
untuk melepaskan kesempatan berbuat kebajikan, demi memenuhi jadwal ritual. Bagi
kaum pemeluk “agama ritual”, berbuat kejahatan dengan merugikan, melukai,
maupun menyakiti pihak-pihak lainnya bersifat dapat dikompromikan, akan tetapi
tiada toleransi bagi kaum yang berbeda keyakinan maupun bagi jadwal ritual. Bagi
kaum pemeluk “agama ritual” pula, alih-alih bergaya hidup higienis dari dosa
maupun maksiat, mareka secara delusif berharap ritual dapat menolong dan
memurnikan diri mereka (“kembali ke fitri” sekalipun konsumsi meningkat drastis
dan motifnya ialah “dosa setahun dihapus cukup dengan berpuasa selama sebulan”).
Dalam agama nasrani, umatnya diajarkan untuk berdoa terlebih dahulu sebelum
memangsa hak-hak hidup orang lain (dosa-dosa sudah ditebus, sehingga bebas
berbuat dosa sebanyak apapun bagi umat kristiani). Dalam agama islam, pernah
seorang ustad ceramah lewat pengeras suara di masjid, bahwa ia menolak pendapat
bahwa orang baik bisa masuk surga sekalipun bukan muslim, dimana hanya seorang
muslim yang solat yang memonopoli alam surgawi. “Bila orang baik bisa masuk
surga tanpa solat, lalu buat apa kita solat lima waktu setiap harinya?”
begitu kata sang kiai. Artinya, bagi
agama-agama ritual tersebut, berbuat kebaikan bukanlah ibadah.
Dampaknya, fatal, tanpa mereka sadari ataupun akui bahaya dibaliknya, fenomena-fenomena
sosial berikut kerap terjadi dalam praktek dan terus berulang, mulai dari
peristiwa Meiliana di Tanjung Balai yang sekadar meminta suara toa masjid
dikecilkan bermuara pada vandalisme massal oleh kaum muslim, hingga peristiwa yang
menimpa sesama kaum muslim itu sendiri, sebagaimana berita bertajuk “Ibu yang
Anaknya Kejang karena Petasan Maulid Nabi di Jaksel Lapor Polisi”, 8 Oktober
2026, sumber https:// megapolitan.kompas .com /read/2026/10/08/13510081/ibu-yang-anaknya-kejang-karena-petasan-maulid-nabi-di-jaksel-lapor-polisi:
Ibu tiga anak, Amanda (50), melaporkan penanggung jawab acara Maulid Nabi
yang menggunakan petasan besar di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, ke Polda
Metro Jaya, Kamis (8/10/2026). Laporannya teregistrasi dalam laporan polisi
nomor LP/B/7547/X/SPKT/POLDA METRO JAYA. Amanda mengatakan, pelaporan tersebut
terkait dugaan penganiayaan yang dia dan anaknya alami oleh orang-orang dari
acara tersebut.
Sebab, penggunaan petasan besar atau kembang api oleh penyelenggara acara
membuat anak bungsunya, Btari (12), kejang. “Saya melaporkan lebih ke detail
acaranya kemarin. Saya datang karena berisik dengan adanya petasan kembang api
yang begitu besarnya, sehingga anak saya kejang,” kata Amanda ditemui usai
pelaporan, Kamis.
Btari merupakan anak penyandang disabilitas cerebral palsy. Dia memiliki
sensitivitas yang cukup tinggi pada sarafnya dalam merespons sesuatu. Terlebih,
saat itu bocah perempuan tersebut sudah tidur pada pukul 00.30 WIB. Suara petasan yang
menggelegar membuat dia terkaget sehingga berujung kejang.
Lebih lanjut, Amanda juga turut melaporkan dugaan penganiayaan yang dia
alami saat memprotes penggunaan petasan tersebut. “Jadi saya menuntut untuk
dimatikan karena itu berisik banget,” ungkap dia.
Amanda mengaku tidak mendapat informasi apa pun dari grup obrolan RT/RW
setempat terkait acara tersebut dan penggunaan petasannya. Oleh karena itu,
Amanda meminta dipertemukan dengan penyelenggara acara. Namun, dia justru
diminta pulang.
“Saya ditanya macam-macam. Saya ditahan, diludahin
mukanya, disembur
mukanya, disuruh pulang,” tutur dia. “Setelah
itu saya didorong sampai hampir jatuh ke got. Lalu saya ditarik sampai pakaian
dalam saya putus,”
sambung dia.
Anak laki-lakinya, Bhadra (15), mengalami
luka cakar di tangannya
saat berupaya melindungi dia. Amanda mengatakan, Bhadra akan menjalani
pembuatan visum et repertum di Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk kepentingan
administrasi penyelidikan.
Selain Amanda, warga lain yang merasa dirugikan juga sudah melapor ke
Polres Metro Jakarta Selatan pada Senin (5/10/2026) lalu.
Warga bernama Sandra itu juga merasa dianiaya saat memprotes kejadian
tersebut. Saat ini, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan medis Sandra untuk
mengidentifikasi luka akibat dugaan penganiayaan tersebut.
Senada dengan berita di atas, berikut inilah cerminan “SQ yang dibangga-banggakan
oleh kaum muslim” yang berdelusi sebagai kaum paling superior yang berhak
menghakimi dan menggurui kaum lainnya, dalam berita bertajuk “Warga Pondok
Pinang Lapor ke Polda Buntut Petasan Maulid: Anak Kejang hingga Dugaan
Pengeroyokan”, 08 Oktober 2026, sumber : https:// wartaekonomi .co.id /read639638/warga-pondok-pinang-lapor-ke-polda-buntut-petasan-maulid-anak-kejang-hingga-dugaan-pengeroyokan:
Seorang warga di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Amanda Andono melaporkan
dugaan pengeroyokan buntut penggunaan petasan dalam acara Maulid Nabi ke Polda
Metro Jaya, Kamis (8/10/2026).
Laporan diterima dengan nomor LP/B/7547/X/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA
tertanggal 8 Oktober 2026. Usai melapor, Amanda bersama anaknya berencana untuk
menjalani visum di RS Polri Kramat Jati.
“Kedatangan saya hari ini ke Polda untuk melaporkan apa yang terjadi pada
4 Oktober. Laporan sudah diterima dan setelah ini saya bersama anak saya
langsung ke RS Polri untuk melakukan visum,” ujar Amanda di Polda Metro Jaya,
Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Peristiwa bermula saat acara Maulid Nabi di lingkungan Jalan Keramat 2,
Pondok Pinang, Jakarta Selatan menyalakan kembang api dalam durasi panjang pada
Minggu (4/10/2026). Amanda menyebut petasan yang digunakan itu sangat menganggu
ketertiban masyarakat.
"Bahwa saya datang ke sana karena berisik, sehingga dengan adanya
petasan kembang api yang segitu besarnya dan itu bukan hanya dari petasan
biasa, tapi itu dari mesin," katanya.
Tidak hanya itu, saat kejadian, anak Amanda berinisial BCK yang tengah
tertidur lelap terbangun akibat suara ledakan dan mengalami kejang serta panik.
"Sehingga anak saya, ini BCK langsung kaget, bangun, yang kami sudah
lelap, jam 12, jam setengah 1 tuh sudah sangat lelap. Kaget, kejang, panik,
teriak," ujarnya.
Amanda mengaku, saat menegur panitia acara Maulid tersebut, ia justru
menjadi korban dugaan pengeroyokan dan perlakuan merendahkan.
"Saya ditahan, diludahi, disembur mukanya, dan disuruh pulang. Saya
didorong dan ditarik sampai jatuh ke selokan, bahkan ditarik sampai pakaian
dalam saya putus," ungkapnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta aktivitas warga
yang berpotensi mengganggu ketertiban umum dibatasi, terutama pada malam hari.
Menurutnya, penyalaan petasan hingga dini hari di kawasan permukiman padat
penduduk tidak tepat karena dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga
sekitar.
“Karena bagaimanapun tidak eloklah bahwa sudah jam satu malam masih
membunyikan petasan dan sebagainya. Kemudian kebetulan anaknya ibu tadi kan
memang sensitif terhadap petasan dan sebagainya,” kata Pramono.
Kasus ini sebelumnya sempat dimediasi di Kelurahan Pondok Pinang pada
Minggu (4/10), namun tidak mencapai kesepakatan sehingga berlanjut ke jalur
hukum.
Begitupula berita bertajuk “Warga Jaksel lapor polisi setelah dianiaya
karena tegur suara petasan”, 8 Oktober 2026, sumber : https:// www. antaranews .com
/berita/5776740/warga-jaksel-lapor-polisi-setelah-dianiaya-karena-tegur-suara-petasan,
cerminan betapa empati dan otak telah digadaikan demi iman setebal tembok beton
yang tidak tembus oleh cahaya ilahi apapun:
Jakarta (ANTARA) - Seorang warga Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Amanda
Andono, melaporkan penanggung jawab sebuah acara ke Polda Metro Jaya atas
dugaan pengeroyokan dan perbuatan tidak menyenangkan yang menimpa dirinya serta
anak di bawah umur.
Dugaan penganiayaan itu didapatkan setelah Amanda menegur penyelenggara
acara karena suara petasan yang dinilai mengganggu warga pada Minggu (4/10)
dini hari.
“Kedatangan saya hari ini ke Polda untuk melaporkan apa yang terjadi pada
4 Oktober. Laporan sudah diterima dan setelah ini saya bersama anak saya
langsung ke RS Polri untuk melakukan visum,” kata Amanda saat ditemui usai
melapor di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda, Jakarta, Kamis.
Amanda menjelaskan insiden bermula saat ia mendatangi lokasi acara yang
berjarak sekitar 200 meter dari kediamannya untuk menegur panitia.
Hal itu dipicu oleh suara ledakan petasan kembang api yang berlangsung
lebih dari sepuluh menit pada pukul 00.30 WIB, sehingga menyebabkan anaknya
yang sedang tidur terkejut, panik, hingga mengalami kejang.
Setibanya di lokasi, Amanda justru mendapat penolakan dan perlakuan
intimidatif dari sekelompok pria dewasa yang mayoritas bukan warga setempat. Ia
mengaku diinterogasi terkait agama dan status kependudukannya di lingkungan
tersebut.
“Saya ditahan, diludahi, disembur mukanya, dan disuruh pulang. Saya
didorong dan ditarik sampai jatuh ke selokan, bahkan ditarik sampai pakaian
dalam saya putus,” ungkapnya.
Anak laki-lakinya yang baru berusia 15 tahun, Bhadra Maheswara, juga
turut menjadi korban penyerangan karena berusaha melindungi sang ibu saat massa
mulai menunjukkan gestur kekerasan fisik.
Terkait barang bukti, Amanda menyatakan telah menyiapkan sejumlah pakaian
yang ia kenakan saat kejadian untuk diserahkan kepada penyidik.
Mengingat ia tidak mengenal para pelaku secara spesifik, ia memfokuskan
laporannya kepada penanggung jawab penyelenggara acara tersebut.
Sebelum menempuh jalur hukum, Amanda menyebut telah melalui dua kali
proses mediasi pada hari yang sama.
Mediasi pertama dihadiri oleh perwakilan Rukun Warga (RW) dan Lembaga
Musyawarah Kelurahan (LMK), disusul mediasi kedua pada malam hari oleh Lurah
Pondok Pinang, Dina Roslina.
Namun, ia menegaskan hasil mediasi tersebut tidak memuaskan bagi dirinya
dan sejumlah warga lain yang turut menjadi korban kebisingan.
Dalam pelaporannya, Amanda juga berkoordinasi untuk mendapatkan
pendampingan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(KemenPPPA), serta telah menerima arahan dari Staf Khusus Menteri Agama, Gugun
Gumilar.
“Harapan ke depannya, pastinya saya akan mengikuti proses hukum yang
berlaku sebagaimana mestinya,” pungkas Amanda.
Kesalahan Amanda ialah, ia seorang muslimah. Yang hidup dari pedang, akan
mati karena pedang. Amanda setiap harinya ritual doa “PENGHAPUSAN DOSA”. Ketika
Amanda gilirang mengalami kondisi menjadi korban kejahatan, maka percuma bagi
Amanda mengadu / melapor kepada Allah, karena Allah (justru) lebih PRO terhadap
pendosa (penjahat) dengan menghapus dosa-dosa para muslim yang telah
menyakitinya, sehingga Amanda “gigit-jari” lalu merepotkan diri melapor kepada
polisi.