Menikmati dan Mencandu “PENGHAPUSAN DOSA” artinya Menikmati serta Kecanduan “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN”
Membenci Tanpa Alasan, semata karena Diharuskan demikian oleh Kitab Agama
Samawi, Ciri Agama KEBENCIAN
Question: Dari penilaian saya secara jujur dan objektif,
hukum karma atau hukum sebab-akibat, merupakan sistem merit egaliter yang
paling adil dan paling ideal. Pertanyaannya, mengapa banyak orang yang justru
memilih menjadi umat nonBuddhis? Kita ambil contoh lainnya, Ibrahim menyembelih
Ismail, anak kandungnya, disebutkan oleh umat agama samawi sebagai bentuk
pengorbankan-diri, yakni mengorbankan apa yang paling dikasihi oleh Ibrahim.
Itu penilaian orang yang buta nuraninya.
Yang paling dicintai oleh Ibrahim, ialah nyawa hidupnya sendiri, bukan nyawa sang anak. Bila betul Ibrahim hendak berkurban dan mengorbankan apa yang PALING IA CINTAI, maka semestinya ia mengorbankan nyawanya sendiri demi menebus nyawa sang anak, bukan sebaliknya, mengorbankan nyawa sang anak demi kesenangan sang ayah yang ingin bersetubuh dengan bidadari di surga. Alih-alih memilih masuk neraka demi menyelamatkan sang anak, Ibrahim yang tergila-gila ingin bersenang-senang dengan bidadari di surga, secara sadar memilih untuk mengorbankan apa yang TIDAK LEBIH PENTING dari nyawa maupun EGO dirinya sendiri, yakni nyawa milik sang anak.
EGO dan “SELFISH motive” disebut sebagai mulia dan dirayakan untuk
dipuja-puji dan diagung-agungkan secara meriah setiap tahunnya oleh para kaum
butawan. Mengorbankan nyawa orang lain, mereka sebut sebagai pengorbanan. Saya
selalu merasa bahwa orang-orang yang dungu akan cenderung jatuh ke dalam agama
samawi dan memakan dogma-dogma yang jelas-jelas menyimpang dari “standar moral”
seorang manusia bermoral, bagaikan orang yang tidak memiliki akal-sehat untuk
berpikir jernih, serta tumpul nuraninya.
Brief
Answer: Untuk menjawabnya,
terlebih dahulu kita perlu memahami psikologi para kalangan kriminal. Semua
penjahat (pendosa), berharap / berdelusi dapat masuk surga setelah mati
sekalipun sepanjang hidupnya penuh perbuatan jahat dan masih ingin “business
as usual” (berbuat jahat dengan melukai, merugikan, maupun menyakiti
pihak-pihak lainnya). Karena ada “demand” dari para penjahat-pendosa
demikian, maka ada “supply” bernama “Agama DOSA”—disebut demikian karena
mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun
dikorupsi, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa-dosa—yang
laku keras dimana para pendosa-penjahat tersebut berbondong-bondong memeluknya
sembari tetap memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa-dosa, dan
berkubang dalam samudera dosa.
Perhatikan
bagaimana umat agama samawi begitu tergila-gila, begitu ketagihan, begitu
kecanduan, begitu mabuk akan dogma KORUP yang dangkal, tercela, dan rendahan
semacam iming-iming “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” yang
digandrungi dan adiktif di mata kaum pendosawan. Terhadapnya, Sang Buddha telah
pernah bersabda:
“Aku
melihat makhluk-makhluk lain yang belum terbebas dari nafsu akan kenikmatan
indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria, terbakar oleh demam
terhadap kenikmatan indria, menuruti kenikmatan indria, dan Aku tidak iri pada
mereka, juga tidak bersenang di dalamnya. Mengapakah? Karena ada, Māgandiya,
kenikmatan yang terlepas dari kenikmatan indria, terlepas dari kondisi-kondisi
yang tidak bermanfaat, yang bahkan melampaui kebahagiaan surgawi. Karena Aku
tidak mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang
rendah, juga tidak bersenang di dalamnya.”
PEMBAHASAN:
Bagaikan
umat muslim yang termakan dan memakan ideologi penuh kebencian terhadap kaum
Yahudi, Nasrani, maupun kaum NONmuslim, semata karena kitab agama islam
mengajarkan dan menyebut demikian. Pola-pikir demikian telah dicela oleh Sang
Buddha, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang
Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
75
Māgandiya
Sutta: Kepada Māgandiya
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di negeri Kuru di mana terdapat sebuah pemukiman Kuru bernama
Kammāsadhamma, di atas hamparan rumput di dalam kamar perapian seorang brahmana
dari suku Bhāradvāja.
2. Kemudian pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Kammāsadhamma untuk menerima dana
makanan. Ketika Beliau telah menerima dana makanan di Kammāsadhamma dan telah
kembali dari perjalanan itu, setelah makan Beliau pergi ke suatu hutan untuk
melewatkan hari. Setelah memasuki hutan, Beliau duduk di bawah sebatang pohon
untuk melewatkan hari. [502]
3. Kemudian Pengembara Māgandiya, sewaktu berjalan-jalan untuk
berolah-raga, mendatangi kamar perapian si brahmana dari suku Bhāradvāja. Di
sana ia melihat hamparan rumput yang telah dipersiapkan dan bertanya kepada si
brahmana: “Untuk siapakah hamparan rumput ini dipersiapkan di dalam kamar
perapian Tuan Bhāradvāja? Tampak seperti tempat tidur seorang petapa.”
4. “Guru Māgandiya, ada Petapa Gotama, putera Sakya, yang meninggalkan
keduniawian dari suku Sakya. Sekarang suatu berita baik sehubungan dengan Guru
Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang
Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati
dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi
orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan,
terberkahi.’ Tempat
tidur ini dipersiapkan untuk Guru Gotama.”
5. “Sungguh, Guru Bhāradvāja, suatu pemandangan buruk yang kami lihat
ketika kami melihat tempat tidur si perusak kemajuan itu, Guru Gotama.”
[Kitab Komentar : Bhūnahuno, “si perusak
kemajuan”. Penerjemah lain menerjemahkan ungkapan tersamar tersebut sebagai
“penghancur makhluk.” Penerjemah mengikuti Horner dalam menerjemahkan kemasan
komentar hatavaḍḍhino mariyādakārakassa. Kitab Komentar menjelaskan bahwa si pengkritik
menganut pandangan bahwa “kemajuan” harus dicapai dalam enam indria dengan
mengalami objek indria apapun yang belum pernah dialami sebelumnya tanpa
melekat pada apa yang telah dikenali. Dengan demikian, pandangannya sepertinya
dekat pada sikap umum pada masa itu bahwa intensitas dan variasi pengalaman
adalah kebaikan tertinggi dan harus dikejar tanpa rintangan dan batasan. Alasan
ketidak-setujuannya pada Sang Buddha akan menjadi jelas pada paragraf ke nomor
ke-8.]
“Hati-hati dengan apa yang engkau katakan, Māgandiya, hati-hati dengan
apa yang engkau katakan! Banyak para mulia terpelajar, para brahmana
terpelajar, para perumah-tangga terpelajar, dan para petapa terpelajar yang
berkeyakinan penuh pada Guru Gotama, dan telah didisiplinkan oleh Beliau dalam jalan
sejati yang mulia, dalam Dhamma yang bermanfaat.”
“Guru Bhāradvāja, bahkan jika kami berhadapan muka dengan Guru Gotama,
kami akan mengatakan kepadanya: ‘Petapa Gotama adalah seorang perusak
kemajuan.’ Mengapakah? Karena
hal itu telah diturunkan dalam khotbah-khotbah kita.”
“Jika Guru Māgandiya tidak keberatan, bolehkah aku mengatakan hal ini
kepada Guru Gotama?”
“Jangan khawatir, Guru Bhāradvāja. Beritahukanlah kepadaNya tentang apa
yang telah kukatakan.”
6. Sementara itu, dengan telinga dewa, yang murni dan melampaui
manusia, Sang Bhagavā mendengarkan percakapan antara brahmana dari suku
Bhāradvāja dengan Pengembara Māgandiya ini. Kemudian, pada malam harinya, Sang
Bhagavā bangkit dari meditasi, pergi ke kamar perapian si brahmana, dan duduk
di atas hamparan rumput yang telah dipersiapkan. Kemudian si brahmana dari suku
Bhāradvāja mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau.
Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepadanya:
“Bhāradvāja, apakah engkau berbincang-bincang dengan Pengembara Māgandiya [503]
tentang hamparan rumput ini?”
Ketika hal ini dikatakan, si brahmana, terkejut dan dengan merinding,
menjawab: “Kami hendak memberitahukan kepada Guru Gotama tentang hal ini, namun
Guru Gotama telah mendahului kami.”
7. Tetapi diskusi antara Sang Bhagavā dan brahmana dari suku Bhāradvāja
tidak selesai, karena kemudian Pengembara Māgandiya, sewaktu berjalan-jalan
untuk berolah raga, datang ke kamar perapian si brahmana dan menghadap Sang
Bhagavā. Ia bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan ketika ramah-tamah itu
berakhir, ia duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:
8. “Māgandiya, mata
bersenang dalam bentuk-bentuk, menyenangi bentuk-bentuk, bergembira dalam
bentuk-bentuk; itu telah dijinakkan oleh Sang Tathāgata, dijaga, dilindungi,
dan dikendalikan, dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk mengendalikannya. Apakah sehubungan dengan hal ini maka engkau
mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah seorang perusak kemajuan’?”
“Adalah sehubungan dengan hal ini, Guru Gotama, maka aku mengatakan:
‘Petapa Gotama adalah seorang perusak kemajuan.’ Mengapakah? Karena itu tercatat
dalam kitab kami.”
“Telinga
bersenang dalam suara-suara … Hidung bersenang dalam bau-bauan … Lidah
bersenang dalam rasa kecapan … Badan bersenang dalam objek-objek sentuhan …
Pikiran bersenang dalam objek-objek pikiran, menyenangi objek-objek pikiran,
bergembira dalam objek-objek pikiran; itu telah dijinakkan oleh Sang Tathāgata,
dijaga, dilindungi, dan dikendalikan, dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk
mengendalikannya. Apakah sehubungan
dengan hal ini maka engkau mengatakan: ‘Petapa Gotama adalah seorang perusak
kemajuan’?”
“Adalah sehubungan dengan hal ini, Guru Gotama, maka aku mengatakan:
‘Petapa Gotama adalah seorang perusak kemajuan.’ Mengapakah? Karena itu tercatat
dalam kitab kami.”
9. “Bagaimana menurutmu, Māgandiya?
Di sini seseorang [504] sebelumnya menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata
yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan
kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Kemudian, setelah memahami sebagaimana
adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan
dengan bentuk-bentuk, ia mungkin meninggalkan ketagihan pada bentuk-bentuk,
melenyapkan demam terhadap bentuk-bentuk, dan berdiam tanpa kehausan, dengan
batin yang damai. Apakah
yang akan engkau katakan kepadanya, Māgandiya?” – “Tidak ada, Guru Gotama.”
“Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Di
sini seseorang sebelumnya menikmati suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan
yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ...
objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang
nafsu. Belakangan, setelah memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya,
kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan objek-objek
sentuhan, ia mungkin meninggalkan ketagihan pada objek-objek sentuhan, melenyapkan
demam terhadap objek-objek sentuhan, dan berdiam tanpa kehausan, dengan batin
yang damai. Apakah yang akan
engkau katakan kepadanya, Māgandiya?” – “Tidak ada, Guru Gotama.”
10. “Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan rumah tangga,
Aku memiliki, menikmati lima utas kenikmatan indria: dengan bentuk-bentuk yang
dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang
dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... objek-objek sentuhan
yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Aku memiliki tiga
istana, satu untuk musim hujan, satu untuk musim dingin, dan satu untuk musim panas.
Aku menetap di istana musim hujan selama empat bulan musim hujan, menikmati
para musisi, tidak ada yang laki-laki, dan Aku tidak turun ke istana yang lebih
rendah.
[Kitab Komentar : Penerjemah lain mengemas kata nippurisa,
lit. “bukan laki-laki,” sebagai berarti bahwa mereka semua adalah perempuan.
Bukan hanya para musisi, tetapi semua posisi dalam istana, termasuk para
penjaga pintu, terdiri dari para perempuan. Ayahnya, sang raja, memberikan
kepadanya tiga istana dan para pengiring perempuan dengan harapan untuk
mempertahankannya dalam kehidupan awam dan mengalihkannya dari pikiran
meninggalkan keduniawian.]
“Belakangan, setelah
memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan
membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, Aku melenyapkan demam
terhadap kenikmatan indria, dan Aku berdiam tanpa kehausan, dengan batin yang
damai. Aku melihat makhluk-makhluk lain yang belum terbebas dari nafsu akan
kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria, terbakar
oleh demam terhadap kenikmatan indria, menuruti kenikmatan indria, dan Aku
tidak iri pada mereka, juga tidak bergembira di dalamnya. Mengapakah? Karena
ada, Māgandiya, kenikmatan yang terlepas dari kenikmatan indria, terlepas dari kondisi-kondisi
yang tidak bermanfaat, [505] yang bahkan melampaui kebahagiaan surgawi. Karena
Aku tidak mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang rendah,
juga tidak bersenang di dalamnya.
[Kitab Komentar : “melampaui kebahagiaan surgawi”
dikatakan dengan merujuk pada pencapaian buah Kearahantaan yang berdasarkan
pada jhāna ke empat.]
11. “Misalkan, Māgandiya, seorang perumah-tangga atau putera
perumah-tangga kaya, dengan banyak harta kekayaan, dan memiliki lima utas
kenikmatan indria, ia menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata …
suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung
... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... objek-objek sentuhan yang
dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Setelah
berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia mungkin muncul kembali di alam bahagia, di alam surga di
antara para pengikut para dewa Tiga Puluh Tiga; dan di sana, dengan dikelilingi
oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, ia menikmati dan memiliki lima utas
kenikmatan indria surgawi. Misalkan
ia melihat seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga menikmati memiliki
lima utas kenikmatan indria [manusia]. Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Apakah
dewa muda itu, yang dikelilingi oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, yang
memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria surgawi, iri pada
perumah-tangga atau putera perumah-tangga atas lima utas kenikmatan indria
manusia atau apakah ia akan tertarik pada kenikmatan indria manusia?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah?
Karena kenikmatan indria surgawi adalah lebih unggul dan lebih luhur daripada
kenikmatan indria manusia.”
12. “Demikian pula, Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan
rumah tangga, Aku memiliki dan menikmati lima utas kenikmatan indria: dengan
bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga
... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh
lidah ... objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan,
diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan
merangsang nafsu. Belakangan, setelah memahami sebagaimana adanya kepuasan,
bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, Aku
meninggalkan ketagihan pada kenikmatan indria, Aku melenyapkan demam terhadap
kenikmatan indria, dan Aku berdiam tanpa kehausan, dengan batin yang damai.
Aku melihat makhluk-makhluk
lain yang belum terbebas dari nafsu akan kenikmatan indria, yang dilahap oleh
ketagihan pada kenikmatan indria, terbakar oleh demam terhadap kenikmatan
indria, [506] menuruti kenikmatan indria, dan Aku tidak iri pada mereka, juga tidak
bersenang di dalamnya. Mengapakah? Karena ada, Māgandiya, kenikmatan yang
terlepas dari kenikmatan indria, terlepas dari kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat, yang bahkan melampaui kebahagiaan surgawi. Karena Aku tidak
mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang rendah,
juga tidak bersenang di dalamnya.
13. “Misalkan, Māgandiya, ada seorang penderita penyakit kusta dengan
luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk
bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang
bara api menyala. Kemudian teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya,
akan membawa seorang tabib kepadanya. Tabib itu akan meracik obat untuknya, dan
dengan obat itu orang itu menjadi sembuh dari penyakitnya dan menjadi pulih
dan bahagia, tidak bergantung, menjadi majikan bagi dirinya sendiri, mampu bepergian
ke manapun yang ia sukai. Kemudian ia mungkin melihat penderita penyakit
kusta lainnya dengan luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh
ulat, menggaruk bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di
atas lubang bara api menyala. Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Apakah orang itu
iri pada penderita kusta itu karena lubang bara api menyala atau
pengobatannya?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah? Karena
ketika ada penyakit, maka ada kebutuhan akan obat-obatan, dan ketika tidak ada
penyakit, maka tidak ada kebutuhan akan obat-obatan.”
14. “Demikian pula, Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan
rumah tangga … (seperti pada paragraf
nomor ke-12) … Karena Aku
tidak mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang
rendah, juga tidak bersenang di dalamnya.
15. “Misalkan, Māgandiya, ada seorang penderita penyakit kusta dengan
luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk
bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang
bara api menyala. Kemudian teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya,
akan membawa seorang tabib kepadanya. Tabib itu akan membuatkan obat untuknya,
dan dengan obat itu orang itu menjadi sembuh dari penyakitnya dan menjadi pulih
dan bahagia, tidak bergantung, menjadi majikan bagi dirinya sendiri, mampu bepergian
ke manapun yang ia sukai. Kemudian dua orang kuat menangkapnya pada kedua
lengannya dan menariknya ke arah lubang bara api menyala. Bagaimana menurutmu,
Māgandiya? Apakah orang itu akan menggeliatkan badannya ke sana dan ke sini?”
“Benar, Guru Gotama. Mengapakah? Karena api itu sungguh menyakitkan
jika disentuh, panas, dan membakar.”
“Bagaimana
menurutmu, Māgandiya? Apakah hanya pada saat ini api itu menyakitkan jika
disentuh, panas, dan membakar, atau sebelumnya juga api itu menyakitkan jika
disentuh, panas, dan membakar?”
“Guru Gotama, api
itu pada saat ini menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar, dan
sebelumnya juga api itu menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar. Karena ketika orang itu adalah seorang
penderita penyakit kusta dengan luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena
digigit oleh ulat, menggaruk bagian kulit yang terluka dengan kukunya, maka indria-indrianya
terganggu; demikianlah, walaupun api itu sesungguhnya menyakitkan ketika
disentuh, namun ia memperoleh persepsi salah sebagai menyenangkan.”
[Komentar : Orang dengan persepsi normal akan
memandang yang menyakitkan sebagai menyakitkan, sehingga menghindarinya. Akan
tetapi orang dengan persepsi yang penuh bias akan cenderung memiliki pendangan
keliru, memandang yang menyakitkan sebagai kenikmatan. Tidak mengherankan
ketika dalam kesempatan lain, Sang Buddha menyatakan bahwa apa yang menurut
kebanyakan orang dipandang sebagai kenikmatan, adalah dukkha di mata seorang
Buddha. Demikianlah disparitas persepsi, antara seseorang dengan pandangan yang
benar dan mereka yang berpandangan keliru.]
16. “Demikian pula, di
masa lalu kenikmatan indria adalah menyakitkan jika disentuh, panas, dan
membakar; di masa depan kenikmatan indria akan menyakitkan jika disentuh,
panas, dan membakar; dan sekarang pada masa kini kenikmatan indria adalah
menyakitkan jika disentuh, panas, dan membakar. Tetapi makhluk-makhluk ini yang belum terbebas
dari nafsu akan kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria,
terbakar oleh demam terhadap kenikmatan indria, memiliki indria-indria yang
telah rusak; demikianlah,
walaupun kenikmatan indria sesungguhnya menyakitkan jika disentuh, namun mereka
memperoleh persepsi keliru menganggapnya sebagai menyenangkan.
[Kitab Komentar : Ungkapan viparitasaññā
menyinggung pada “persepsi
keliru” (saññāvipallāsa)
dengan melihat kenikmatan dalam apa yang sesungguhnya adalah menyakitkan.
Kitab Komentar mengatakan bahwa kenikmatan indria adalah menyakitkan karena
membangkitkan kekotoran-kekotoran yang menyakitkan dan karena menghasilkan buah
yang menyakitkan di masa depan. Horner tidak menangkap maksudnya dengan
menerjemahkan kalimat “(Mereka dapat) menerima suatu perubahan sensasi dan
menganggapnya menyenangkan” (MLS 2:187).]
17. “Misalkan, Māgandiya, ada seorang penderita penyakit kusta dengan
luka dan bagian-bagian tubuh melepuh, karena digigit oleh ulat, menggaruk
bagian kulit yang terluka dengan kukunya, membersihkan dirinya di atas lubang
bara api menyala; semakin ia menggaruk bagian kulitnya yang melepuh dan semakin
ia membersihkan dirinya di atas lubang bara api menyala, [508] maka luka-lukanya itu
akan menjadi semakin membusuk, semakin bau, dan semakin terinfeksi, namun ia memperoleh
suatu kepuasan dan kenikmatan dalam menggaruk luka-lukanya itu.
Demikian pula, Māgandiya, makhluk-makhluk yang belum terbebas dari nafsu akan
kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan pada kenikmatan indria, masih
menuruti kenikmatan indria; semakin makhluk-makhluk itu menuruti kenikmatan
indria, maka semakin meningkat pula ketagihan mereka pada kenikmatan indria dan
semakin mereka terbakar oleh demam mereka terhadap kenikmatan indria, namun
mereka memperoleh kepuasan dan kenikmatan dengan bergantung pada lima utas
kenikmatan indria.
[Komentar : Seringkali seseorang mengatas-namakan
hidupnya terasa getir-pahit atau membosankan, menjadikan itu alasan untuk
menyakiti dirinya sendiri dengan tenggelam dalam konsumsi zat-zat yang tidak
menyehatkan tubuh maupun pikirannya.]
18. “Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Pernahkah
engkau melihat atau mendengar seorang raja atau seorang menteri raja memiliki
dan menikmati lima utas kenikmatan indria yang, tanpa meninggalkan ketagihan
pada kenikmatan indria, tanpa melenyapkan demam terhadap kenikmatan indria,
telah mampu berdiam dengan terbebas dari kehausan, dengan batin yang damai,
atau yang mampu atau yang akan mampu berdiam demikian?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagus, Māgandiya, Aku juga belum pernah melihat atau mendengar seorang
raja atau seorang menteri raja memiliki, dan menikmati lima utas kenikmatan
indria yang, tanpa meninggalkan ketagihan pada kenikmatan indria, tanpa
melenyapkan demam terhadap kenikmatan indria, telah mampu berdiam dengan terbebas
dari kehausan, dengan batin yang damai, atau yang mampu atau yang akan mampu
berdiam demikian. Sebaliknya, Māgandiya, para
petapa atau brahmana yang telah berdiam atau sedang berdiam atau akan berdiam
dengan terbebas dari kehausan, dengan batin yang damai, semuanya melakukan demikian
setelah memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan
jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan indria, dan adalah setelah meninggalkan
ketagihan pada kenikmatan indria dan melenyapkan demam terhadap kenikmatan
indria maka mereka telah berdiam atau sedang berdiam atau akan berdiam dengan terbebas
dari kehausan, dengan batin yang damai.”
19. Kemudian pada titik ini Sang Bhagavā mengucapkan seruan kegembiraan:
“Yang
tertinggi dari segala perolehan adalah kesehatan,
Nibbāna
adalah kebahagiaan tertinggi,
Jalan
Mulia Berunsur Delapan adalah jalan terbaik
Karena
jalan itu menuntun menuju keselamatan, pada Tanpa-Kematian.”
Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya berkata kepada Sang
Bhagavā: “Sungguh mengagumkan, Guru Gotama, sungguh menakjubkan, betapa
tepatnya hal ini diungkapkan oleh Guru Gotama: [509] ‘Yang tertinggi dari
segala perolehan adalah kesehatan, Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi.’ Kami
juga pernah mendengar sebelumnya para pengembara yang adalah para guru dan
guru-guru dari para guru mengatakan hal ini, dan ini selaras, Guru Gotama.”
“Tetapi, Māgandiya, ketika engkau mendengar sebelumnya para pengembara
yang adalah para guru dan guru-guru dari para guru mengatakan hal ini, apakah kesehatan itu,
apakah Nibbāna itu?”
Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya mengusap bagian tubuhnya
dengan tangannya dan berkata: “Ini adalah kesehatan itu, Guru Gotama, ini
adalah Nibbāna itu; karena sekarang aku sehat dan bahagia dan tidak ada apapun
yang menyengsarakan aku.”
[Kitab Komentar : Māgandiya jelas memahami syair
yang selaras dengan “pandangan
salah” ke-lima puluh delapan
dari Brahmajāla Sutta: “Ketika diri ini, lengkap dengan kelima helai kenikmatan
indria, bersenang-senang di dalamnya – pada titik ini diri itu mencapai Nibbāna
tertinggi di sini dan saat ini” (Dīgha Nikāya 1.3.20/i.36).]
20. “Māgandiya, misalkan
ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk yang
gelap dan terang, yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk berwarna biru, kuning,
merah, atau merah muda, yang tidak dapat melihat apa yang rata dan tidak rata,
yang tidak dapat melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Ia mungkin
mendengar seseorang yang berpenglihatan baik mengatakan: ‘Sungguh bagus,
tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ dan ia pergi mencari
kain putih. Kemudian seseorang menipunya dengan kain usang yang kotor sebagai
berikut: ‘Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan bersih.’
Dan ia menerimanya dan memakainya, dan dengan puas ia mengucapkan kata-kata kepuasan
sebagai berikut: ‘Sungguh bagus, tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda,
dan bersih!’ Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Ketika orang yang buta sejak lahir
itu menerima kain usang yang kotor itu, memakainya, dan dengan puas ia mengucapkan
kata-kata kepuasan sebagai berikut: ‘Sungguh bagus, tuan-tuan, kain putih ini,
indah, tanpa noda, dan bersih!’ – apakah ia melakukan itu karena mengetahui dan
melihat, atau karena percaya pada orang yang berpenglihatan baik itu?”
“Yang Mulia, ia melakukan itu tanpa mengetahui dan tanpa melihat,
[510] tetapi karena percaya pada orang yang berpenglihatan baik itu.”
21. “Demikian pula, Māgandiya, para
pengembara sekte lain adalah buta dan tanpa penglihatan. Mereka tidak mengetahui kesehatan, mereka tidak
melihat Nibbāna, namun mereka mengucapkan syair sebagai berikut:
‘Yang tertinggi dari segala perolehan adalah kesehatan,
Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi.’
Syair ini diucapkan oleh para Sempurna, Yang Tercerahkan
Sempurna sebelumnya, sebagai berikut:
‘Yang tertinggi dari segala perolehan adalah kesehatan,
Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi,
Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah jalan terbaik
Karena jalan itu menuntun menuju keselamatan, pada Tanpa-Kematian.’
Sekarang
syair ini perlahan-lahan menjadi umum di antara orang-orang biasa. Dan walaupun jasmani ini, Māgandiya, adalah penyakit,
tumor, anak panah, bencana, dan penderitaan, namun dengan merujuk pada jasmani
ini engkau mengatakan: ‘Ini adalah kesehatan itu, Guru Gotama, ini adalah
Nibbāna itu.’ Engkau tidak memiliki penglihatan mulia, Māgandiya, yang
dengannya engkau dapat mengetahui kesehatan dan melihat Nibbāna.”
[Kitab Komentar : perihal “syair ini perlahan-lahan
menjadi umum di antara orang-orang biasa”, syair lengkap telah diucapkan oleh
para Buddha sebelumnya ketika duduk di tengah-tengah empat kelompok. Banyak
orang mempelajarinya sebagai “syair yang berhubungan dengan kebaikan.” Setelah
kematian Buddha terakhir, syair sisa warisan dari Buddha terdahulu sebelum
Buddha Gotama ini menyebar di antara para pengembara, yang hanya mampu
melestarikan dua baris pertama dalam kitab-kitab mereka, namun makna
intrinsiknya telah terdegradasi seiring dengan waktu sehingga telah kehilangan
makna otentiknya.]
22. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat mengetahui
kesehatan dan melihat Nibbāna.’”
“Māgandiya, misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat
melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang … atau matahari dan bulan. Kemudian
teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan membawa seorang
tabib untuk mengobatinya. Tabib itu akan meracik obat untuknya, namun dengan
obat itu penglihatan orang itu tidak muncul atau tidak menjadi murni. Bagaimana
menurutmu, Māgandiya, apakah tabib itu mendapatkan kelelahan dan kekecewaan?” –
“Benar, Guru Gotama.” – “Demikian pula, Māgandiya, jika Aku mengajarkan Dhamma
kepadamu sebagai berikut: ‘Ini adalah kesehatan itu, ini adalah Nibbāna itu,’
engkau mungkin tidak mengetahui kesehatan atau tidak melihat Nibbāna, dan itu
akan melelahkan dan menyusahkan Aku.” [511]
23. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat mengetahui
kesehatan dan melihat Nibbāna.’”
“Māgandiya, misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat
melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang … atau matahari dan bulan. Ia
mungkin mendengar seseorang yang berpenglihatan baik mengatakan: ‘Sungguh
bagus, tuan-tuan, kain putih ini, indah, tanpa noda, dan bersih!’ dan ia pergi
mencari kain putih. Kemudian seseorang menipunya dengan kain usang yang kotor
sebagai berikut: ‘Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan
bersih.’ Dan ia menerimanya dan memakainya. Kemudian teman-teman dan
sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan membawa seorang tabib untuk mengobatinya.
Tabib itu akan meracik obat untuknya – obat pembuat muntah dan pencahar, salep
dan salep-penawar, dan terapi hidung – dan dengan obat-obatan itu penglihatan
orang itu muncul dan menjadi murni. Bersamaan
dengan munculnya penglihatannya, keinginan dan kesukaannya pada kain usang yang
kotor itu menjadi ditinggalkan; kemudian ia mungkin terbakar oleh kemarahan dan
permusuhan terhadap orang itu dan mungkin berpikir bahwa orang itu harus
dibunuh sebagai berikut: ‘Sungguh, aku telah lama diperdaya, ditipu, dan
dicurangi oleh orang itu dengan kain usang yang kotor ini ketika ia memberitahukan
kepadaku: “Tuan, ini adalah kain putih untukmu, indah, tanpa noda, dan bersih.”’
24. “Demikian pula, Māgandiya, jika Aku mengajarkan Dhamma kepadamu
sebagai berikut: ‘Ini adalah kesehatan itu, ini adalah Nibbāna itu,’ engkau
mungkin mengetahui kesehatan dan melihat Nibbāna. Bersamaan dengan munculnya
penglihatanmu, keinginan dan nafsumu pada kelima kelompok unsur kehidupan yang
terpengaruh oleh kemelekatan mungkin akan ditinggalkan. Kemudian mungkin
engkau akan berpikir: ‘Sungguh, aku telah lama diperdaya, ditipu, dan
dicurangi oleh pikiran ini. Karena ketika melekat, aku telah melekat hanya pada
bentuk materi, aku telah melekat hanya pada perasaan, aku telah melekat hanya pada
persepsi, aku telah melekat hanya pada bentukan-bentukan, aku telah melekat
hanya pada kesadaran. Dengan
kemelekatanku sebagai kondisi, maka muncul pula penjelmaan; dengan penjelmaan
sebagai kondisi, maka muncul pula kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi,
maka muncul pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
[512] dan keputus-asaan. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan
ini.’”
[Kitab Komentar : Perihal frasa “hanya pada”, penekanan
yeva, “hanya,” menyiratkan bahwa ia melekat pada bantuk materi,
perasaan, dan seterusnya, secara keliru menganggapnya sebagai “aku,”
“milikku,” dan “diriku.” Dengan munculnya penglihatan – ungkapan metafora
untuk jalan memasuki-arus – pandangan
identitas dilenyapkan dan ia memahami bahwa kelompok-kelompok unsur kehidupan
hanya sebagai fenomena kosong yang hampa dari diri yang ia hubungkan dengannya
sebelumnya.]
25. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama
mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat bangkit dari
tempat duduk ini dengan kebutaanku
menjadi sembuh.’”
“Maka, Māgandiya, bergaullah
dengan orang-orang sejati. Ketika engkau bergaul dengan orang-orang sejati, maka engkau akan
mendengarkan Dhamma sejati. Ketika engkau mendengarkan Dhamma sejati, maka
engkau akan berlatih sesuai dengan Dhamma sejati. Ketika engkau berlatih sesuai
dengan Dhamma sejati, maka engkau akan mengetahui dan melihat untuk dirimu
sendiri sebagai berikut: ‘Ini
adalah penyakit-penyakit, tumor-tumor, dan anak-anak panah; tetapi di sini
penyakit-penyakit, tumor-tumor, dan anak-anak panah itu lenyap tanpa sisa.747
Dengan lenyapnya kemelekatan maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya
penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap
pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.’”
[Kitab Komentar : Frasa “Ini” dalam kalimat “Ini
adalah penyakit-penyakit, tumor-tumor, dan anak-anak panah”, merujuk pada
kelima kelompok unsur kehidupan.]
26. Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya berkata: “Mengagumkan,
Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma
dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan
apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan
pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat
bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha
para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama,
aku ingin menerima penahbisan penuh.”
27. “Māgandiya, seseorang yang sebelumnya adalah penganut sekte lain dan
ingin meninggalkan keduniawian dan menerima penahbisan penuh dalam Dhamma dan
Disiplin ini harus menjalani masa percobaan selama empat bulan. Di akhir empat bulan
itu, jika para bhikkhu merasa puas dengannya, maka mereka akan memberikan
kepadanya pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh menjadi seorang bhikkhu.
Tetapi Aku mengenali perbedaan-perbedaan individual dalam hal ini.”
“Yang Mulia, jika seseorang yang sebelumnya adalah penganut sekte lain
dan ingin meninggalkan keduniawian dan menerima penahbisan penuh dalam Dhamma
dan Disiplin ini harus menjalani masa percobaan selama empat bulan, dan jika di
akhir empat bulan itu para bhikkhu merasa puas dengannya, maka mereka akan
memberikan kepadanya pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh menjadi seorang
bhikkhu, maka aku akan menjalani masa percobaan selama empat tahun. Di akhir
empat tahun itu jika para bhikkhu merasa puas denganku, maka biarlah mereka
memberikan kepadaku pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh menjadi seorang bhikkhu.”
[513]
28. Kemudian Pengembara Māgandiya menerima pelepasan keduniawian di bawah
Sang Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh. Dan segera, tidak lama setelah penahbisannya,
dengan berdiam sendirian, terasing, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh, Yang
Mulia Māgandiya, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan
langsung, di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi
kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Ia
secara langsung mengetahui: “Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Māgandiya menjadi salah satu di
antara para Arahant.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi justru
diajarkan untuk melekat pada demam dan haus akan “PENGHAPUSAN DOSA” yang
merupakan kenikmatan indria paling ekstrem serta adiktif. Silahkan nilai dengan
akal-sehat serta pikiran jernih Anda sendiri, apakah para umat agama samawi
berikut memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan
jalan membebaskan diri sehubungan dengan kenikmatan pikiran KORUP (kecanduan
“PENGHAPUSAN DOSA”), melenyapkan demam terhadap kenikmatan pikiran yang KORUP
demikian, dan berdiam tanpa kehausan, dengan batin yang damai, ataukah
sebaliknya?. Kesemua di bawah ini dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Apakah
kita harus merasa iri, terhadap kalangan muslim yang setiap harinya mabuk serta
kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”? Mereka bahkan menyebutnya sebagai “merugi”, bagi
kaum NON karena tidak turut menikmati adiktifnya dogma korup demikian. Ingat
kembali sabda Sang Buddha dalam Sutta di atas, yakni kutipan sebagai berikut: “Aku
tidak mendapati kesenangan dalam hal itu, maka Aku tidak iri pada apa yang
rendah, juga tidak bersenang di dalamnya.” Bagaikan air yang
secara alamiahnya bergerak ke arah BAWAH, bukan ke arah atas, begitupula-lah
watak atau tabiat alamiah orang-orang dangkal, cenderung menyenangi hal-hal
yang juga rendah sifatnya.
Kini,
silahkan juga nilai dengan nurani Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul allah”
telah terbebas dari nafsu akan kenikmatan indria, yang dilahap oleh ketagihan
pada kenikmatan indria, terbakar oleh demam terhadap kenikmatan indria,
menuruti kenikmatan indria, yang iri pada mereka, juga bergembira di dalamnya,
ataukah sebaliknya? Apakah ia memahami dan mengetahui adanya kenikmatan yang
terlepas dari kenikmatan indria, terlepas dari kondisi-kondisi yang tidak
bermanfaat, yang bahkan melampaui kebahagiaan surgawi, ataukah mendapati
kesenangan dalam hal itu, maka iri pada apa yang rendah, juga tidak bersenang
di dalamnya? Masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]