Latar Belakang Gagasan Penulis Membangun Website SENIPIKIR
3 Kategori Agama : Agama SUCI, Agama KSATRIA, dan Agama
DOSA. Yang Manakah Agama Samawi?
Awal ide dibentuknya website ini, ialah ketika
penulis mendapati fenomena yang ganjil di tengah masyarakat kita, dimana orang
yang baik hati dan penuh pengendalian-diri (justru) tidak dipandang sebagai “agamais”.
Sementara itu, orang-orang yang melakukan ritual sembah-sujud, disebut “agamais”.
Adapun ibadah dalam Buddhisme, tampak sederhana namun sejatinya tidak semua
orang mampu berkomitmen untuk menjalankannya, yakni:
Ovada
Patimokkha
Sabbapāpassa akaraṇaṃ
Kusalassa upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi pabbajito
parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo anūpaghāto,
pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ, pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte ca āyogo, etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Tidak
melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa
mengembangkan kebajikan
dan
membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para
Buddha.
Dia
yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya
bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri
sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di
tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan batin nan luhur;
inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]
Sebaliknya, kerap terlontar dari mulut umat
kristiani / nasrani : “Umat Buddhist orangnya baik-baik sih, tapi karena
tidak menyembah yesus maka mereka masuk neraka!” Mengapa umat agama nasrani,
seolah ter-demotivasi untuk menjadi orang baik? Karena yesus justru memasukkan
ke surga, dua orang penjahat (salah satunya ialah seorang penyamun) yang turut
disalib bersama dengannya. Sejak saat itulah, penulis menyadari, bahwa nasrani
adalah “Agama DOSA yang bersumber dari Kitab DOSA”.
Tidak terkecuali umat muslim yang memiliki satu
tipikal pola watak yang khas, yakni : menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan
fisik. Mereka bahkan lebih sibuk ritual “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins) ketimbang sibuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk
mereka sendiri. Anak kecil pun tahu, hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh
ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”.
Mereka, umat agama samawi, merupakan kaum pemalas
yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik
sendiri buah manisnya di kehidupan mendatang, dan disaat bersamaan merupakan
kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatannya
sendiri, namun masih juga berdelusi sebagai kaum paling superior yang berhak untuk
menghakimi kaum lainnya.
Terhadap dosa dan maksiat, mereka begitu kompromistik.
Namun terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran. Babi,
mereka sebut sebagai “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (bagi “KORUPTOR DOSA”, tentunya), dijadikan
maskot “halal lifestyle”).
Allah yang mereka sembah, justru lebih PRO terhadap
pendosa, dimana hak atas keadilan bagi kalangan korban justru dirampas. Alhasil,
kalangan korban hanya bisa “gigit jari”, karena percuma saja melapor / mengadu
kepada Allah, karena Allah akan menghapus dosa-dosa para “PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA” tersebut. Surga, karenanya, merupakan “MONUMEN
KESEWENANG-WENANGAN ALLAH”. Sebaliknya, alam neraka, karenanya sejatinya merupakan
“MONUMEN KEGAGALAN ALLAH”.
Dulu, sebelum agama-agama samawi diperkenalkan ke
dunia ini oleh yang disebut “nabi” (messenger), tidak ada orang jahat
yang berhak berdelusi dapat masuk surga setelah melakukan serangkaian kejahatan,
dimana orang baik maka otomatis masuk surga (agama yang paling optimistik). Namun,
setelah “nabi” dilahirkan, surga dimonopoli oleh sang “nabi”, dimana orang baik
justru dilempar ke nereka sementara “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” justru
dijejali masuk ke alam surga—alias jalan menuju surga hanyalah dengan
menggadaikan jiwa demi iman setebal tembok beton yang tidak tembus oleh cahaya
apapun (agama yang paling pesimistik).
Dengan demikian, yang disebut “nabi”, sejatinya adalah
“juru selamat” ataukah “juru petaka”? Nabi-nabi agama samawi tersebut merupakan
“juru selamat bagi PENDOSAWAN” dan disaat bersamaan merupakan “juru petaka”
bagi kalangan korban maupun orang-orang baik. Konyolnya, para umat agama samawi
justru merayakan hari kelahiran sang “nabi” secara sukacita dan gegap-gempita
tanpa mau menyadari apa yang sebetulnya telah dirampas dari mereka.
Tidak ada yang lebih cacat daripada agama samawi-abrahamik.
Apa kata Sang Buddha tentang konsep agama “theistik”? Dalam tiap-tiap dogma agama samawi,
para pelaku menghindari tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka sendiri,
dengan mengatas-namakan adanya daya paksa diluar kendali mereka. Sang
Buddha tegas menolak doktrin Theistik, dikutip dari “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
“Para bhikkhu, ada tiga doktrin sektarian ini yang,
ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa
menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat. Apakah tiga ini?
Ada para petapa dan brahmana lainnya yang menganut
doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang dialami orang ini apakah
menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan
semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta.
Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa
dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: Apa pun yang
dialami orang ini apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan semuanya disebabkan oleh aktivitas
Tuhan pencipta,
Dan Aku berkata kepada mereka: Benarkah bahwa kalian
para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?
Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka
menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: Kalau begitu, adalah karena
aktivitas Tuhan pencipta maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil
apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan
kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin
penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.
Mereka yang mengandalkan aktivitas Tuhan pencipta
sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang
harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh
dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini.
Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah
segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka
berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan
personal sebagai petapa tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini
adalah bantahan logisKu yang ke dua atas para petapa dan brahmana yang menganut
doktrin dan pandangan demikian.”
Lebih dari dua ribu tahun Sang Buddha mangkat, penulis merasa seolah “berjuang seorang
diri” dan “sebatang kara”, seakan satu-satunya orang tersisa di dunia ini yang
menyadari bahaya dibalik dogma-dogma agama samawi. Adapun visi dan misi website
ini, ialah didedikasikan untuk kembali berjayanya agama nenek-moyang penduduk Nusantara,
yakni Buddhisme (Abad ke-5 s.d. ke-15 Masehi sebelum Kerajaan Majapahit dijajah
oleh muslim pemeluk agama islam yang membalas toleransi dengan intoleransi. Selengkapnya,
baca Kitab Jawa “DHARMO GHANDUL” yang berisi sejarah Nusanatara).
Ideologi yang dilarang di Indonesia, yakni
komun!sme, bahkan tidak mengajarkan iming-iming KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”.
Sebaliknya, agama samawi tanpa malu dan tanpa tabu mempromosikan “PENGHAPUSAN
DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat. Namun
mengapa justru yang ditetapkan sebagai ideologi terlarang, ialah komun!sme,
bukan agama samawi?
Perhatikan, setiap harinya, umat agama samawi lewat
pengeras suara eksternal tempat ibadah mereka, mempertontonkan doa-doa “PENGHAPUSAN
DOSA”, sekalipun “AURAT TERBESAR” ialah berbuat kejahatan tanpa sikap
bertanggung-jawab. Sekujur tubuh, mereka tutup dengan busana. Namun, pamer dosa
dan maksiat (antara “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHPUSAN DOSA”, adalah
saling bundling ibarat odol / pasta gigi dan sikat gigi), justru dipertontonkan
tanpa rasa malu ataupun ditabukan.
Mereka membangun ilusi semu sebagai kaum paling
superior, dengan “ini dan itu haram hukumnya”. Akan tetapi, disaat bersamaan,
mereka menegasikan kesemua itu lewat iming-iming atau dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN DOSA”. Orang suci ataukah ksatriawan manakah, yang butuh iming-iming
KORUP-KOTOR-TERCELA-BERACUN demikian? Adakah yang lebih adiktif dan membuat tergila-gila
hingga kecanduan dan mabuk, daripada iming-iming KORUP semacam itu?
Setiap hari raya keagamaan mereka, yakni “puasa
ramadhan” dan idul fitri, konsumsi mereka meningkat drastis, menuntut dihormati,
melarang orang lain makan di siang hari, kerja bermalas-malasan, meminta tunjangan
hari raya dan libur panjang, masih juga berdelusi “dosa-dosa selama setahun
penuh dihapuskan dengan berpuasa makan selama sebulan”. Ketika meninggal dunia,
sanak keluarganya berdoa memohon “PENGHAPUSAN DOSA” bagi sang almarhum
pendosawan. Alhasil, tidak sekalipun agama samawi memiliki perspektif korban. Bung,
hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”!
Mencuri, katanya dihukum “potong tangan”. Namun,
mengapa “KORUPTOR DOSA” justru dimasukkan ke alam sorgawi alih-alih diadili dan
divonis “potong tangan”? Tidak ada yang namanya “kembali ke fitri”, yang ada
ialah menjelma “KORUPTOR DOSA” dengan menjadi seorang “PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”.
Tidak ada yang lebih hipokrit, daripada dogma-dogma agama samawi.
Tengok kisah Abraham / Ibrahim yang punya niat jahat
hendak menyembelih leher anak kandungnya sendiri, yakni Ishaq / Ismail. Seorang
ayah yang baik, akan lebih memilih untuk masuk neraka demi keselamatan hidup
dan kehidupan sang anak terkasih. Sebaliknya, terbutakan oleh “SELFISH / EGO
MOTIVE”, Ibrahim / Abraham yang hendak bersenang-senang di sorga dan
bersetubuh dengan puluhan bidadari “berdada montok”, tega mengorbankan / menumbalkan
hidup anak kandungnya sendiri (kisah ini menjadi cikal-bakal bermulanya praktek
pesugihan, sebuah “ilmu hitam jahat”). Bagaikan orang buta, para umat agama
samawi justru memuja-muji “ayah kesetanan” semacam itu, bahkan dirayakan setiap
tahunnya.
Untuk memuliakan Tuhan, jalan satu-satunya ialah
dengan menjadi seorang manusia yang mulia, bukan dengan menjadi seorang “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”. Mengapa? Ketika Anda dijahati oleh seseorang yang benar-benar jahat,
yang sifat jahatnya tidak lagi terlukiskan, yang mana tumpukan kejahatannya
sudah tidak lagi terhitung, maka Anda akan tergiring untuk cenderung mengutuk
Tuhan yang telah menciptakan “manusia-hewan” biadab semacam demikian.
Tidak ada yang lebih “toxic” dan merusak
daripada agama samawi, yang mengubah umat manusia dari semula humanis menjelma
premanis, hewanis, satanis, serta predatoris. Mengapa? Karena para pendosawan berlomba-lomba
mengoleksi segudang dosa, memproduksi segunung dosa, dan berkubang dalam lautan
dosa namun masih juga berdelusi yakin terjamin masuk surga setelah ajal menjemputnya.
Dunia ini tidak pernah kekurangan kalangan “pendosa-pengecut” demikian,
karenanya agama samawi tumbuh subur, dimana hukum pasar berlaku disini : ada “demand”
orang jahat hendak masuk surga, maka ada “supply” bernama agama samawi
yang mengobral sorga bagi kalangan manusia sampah-beracun demikian.
Tidak banyak orang yang memahami lawan kata dari “PENGHAPUSAN
DOSA”. Itu adalah “SIKAP PENUH TANGGUNG-JAWAB”. Sehingga, merupakan “contraditio
in terminis” alias dua proposisi yang saling bertolak-belakang ketika seorang
“PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” disebut “sedang bertobat”. Hanya orang yang betul-betul
menyadari, mengakui, serta mau memperbaiki kekeliruannya yang berani untuk
mengambil tanggung-jawab, sehingga korbannya tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban.
Di dunia ini, klasifikasi agama dapat dibagi menjadi
tiga kategori besar, yakni : Pertama, Agama SUCI, dimana umatnya ialah para suciwan yang terlatih dalam disiplin diri dan
mawas diri yang ketat bernama “self-control” tanpa kompromi. Kedua, Agama KSATRIA, dimana para umatnya ialah kalangan ksatriawan yang
berani tampil untuk mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruknya
sendiri serta menerima konsekuensi maupun membayar harganya tanpa menunggu
digugat ataupun disidangkan. Ketiga, Agama DOSA, dimana para pendosawan menjadi umatnya, dimana tidak mencandu “PENGHAPUSAN
DOSA” dimaknai sebagai “merugi”.
Bagaimana mungkin, manusia-manusia sampah semacam di
bawah ini disebut sebagai “agamais”. Oke, bila mau diberi gelar “agamais”,
namun “agamais” agama yang manakah, Agama SUCI, Agama KSATRIA, ataukah Agama
DOSA? Ini juga menjadi bukti, bahwa Allah bersekutu dan berkomplot dengan IBLIS
demi membangun kerajaannya yang memperbudak umat manusia—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak berceramah panjang-lebar perihal akhlak, hidup suci, murni,
bersih, lurus, baik, jujur, baik, luhur, bijaksana, arif, tidak tercela, dan
mulia? Itu menyerupai orang BUTA yang hendak menuntun kalangan BUTAWAN lainnya,
dimana neraka pun dipandang dan diyakini sebagai surga, dimana mereka
berbondong-bondong melaju menuju alam rendah dengan rasa bangga disertai
kekonyolan cara berpikir mereka. Mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”, alih-alih
sibuk menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk bertanggung-jawab,
seorang “PENGECUT dan PECUNDANG tulen” alias “MEGA KORUPTOR DOSA” yang
semestinya divonis “hukuman mati”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]