Tips Meditasi Buddhisme

Kiat-Kiat Penting Bermeditasi oleh Sang Buddha

Question : Selama bertahun-tahun hingga belasan tahun mencoba berlatih meditasi, namun mengapa sepertinya tidak ada kemajuan? Apakah ada semacam prasyarat untuk bisa merealisasi kemajuan dalam praktek meditasi?

Brief Answer : Betul bahwa ada prasyarat untuk memulai berlatih meditasi, dimana dalam banyak khotbahnya (dalam berbagai sutta), Sang Buddha menyebutkan : “dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan...”, barulah latihan meditasi dapat membuahkan hasil. Bila Anda masih berkubang dalam kenikmatan indria, dan masih berkutat pada kondisi-kondisi tidak bermanfaat, maka meditasi tidak dapat menolong ataupun membantu Anda. Ibarat awam mendung yang menghalangi sinar matahari, begitulah pikiran yang terlampau keruh oleh kekotoran-batin, tiada cahaya yang terlihat, meski “mentari” itu ada di sana.

Hal kedua, ialah selama menjalani meditasi, ketika kita menemukan bahwa usaha ataupun perhatian diri kita kepada objek meditasi telah ternyata tengah mengendur, maka ingatkan diri kita untuk “bersemangat”, karena semangat adalah “sumber kekuatan”. Cobalah bangkitkan ingatan Anda ketika Anda sedang bersemangat, semisal ketika melakukan pekerjaan tertentu, ketika Anda menyaksikan tayangan / mendengarkan suara musik tertentu, lalu pinjam “rasa semangat” ataupun aspirasi tersebut untuk Anda pakai energi maupun perasaan semangatnya saat bermeditasi. Menyemangati diri Anda sendiri, seperti “Bersemangat!”, seringkali cukup efektif.

Hal ketiga yang tidak kalah pentingnya, ialah jangan lupa untuk senantiasa menikmati prosesnya. Bila sejak awal ataupun ketika sedang bermeditasi, Anda memiliki keyakinan internal diri bahwa meditasi adalah proses menyiksa diri ataupun penyiksaan itu sendiri, maka kemungkinan terbesarnya Anda akan gagal bermeditasi, terutama bila Anda adalah seorang pemeditasi-pemula. Kasus terburuknya, motivasi Anda untuk bermeditasi akan merosot. Pemeditasi yang terampil, telah mampu mencapai tahap dimana meditasi telah ternyata begitu menyenangkan dan membahagiakan, lalu menikmati proses berlangsungnya meditasi, karena meditasinya kerap-kali lancar dan mudah berlangsungnya dalam kesempatan apapun. Meditasi yang memuaskan, bukanlah meditasi yang mengejar kesakitan ataupun “menyiksa diri”. Begitulah cara agar Anda tidak berhenti total bermeditasi. Ketika Anda menemukan bahwa diri Anda menikmati meditasi, maka Anda sudah pada jalur yang benar (“on the track”).

Hal keempat, dalam setiap sesi meditasi, ketika fokus pada “kesadaran pernafasan” Anda belum terpusat, mulailah dengan suatu “penyadaran terhadap tubuh”. Sadari postur tubuh Anda—baik ketika Anda sedang bermeditasi berdiri maupun meditasi-duduk—baik bagian tubuh Anda satu persatu ataupun untuk keseluruhannya, dan perkuat kesadaran perhatian Anda terhadap tubuh-fisik Anda sendiri sebagai objeknya, hingga kesadaran Anda menyatu atau melebur dengan sekujur tubuh Anda, sehingga “pikiran sang monyet-liar yang biasanya melompat kesana-kemari” menjadi “terperangkap di tubuh” kita (suatu perumpamaan untuk upaya menjinakkan pikiran dan pikiran yang terjinakkan), barulah Anda bisa dengan leluasa berfokus pada “kesadaran pernafasan”.

Penting untuk dipahami serta diketahui oleh para pemeditasi, “mode dasar” dari meditasi dengan objek berupa “kesadaran pernafasan” sekalipun, ialah mengamati dan menyadari “postur sekujur tubuh”. Mulai dengan “mode dasar” dengan mengamati dan menyadari “postur sekujur tubuh” hingga kesadaran Anda benar-benar menyatu seluruhnya dengan sekujur tubuh Anda, barulah beralih kepada “kesadaran pernafasan”. Ibarat air keran yang mengisi sebuah baskom / wadah, maka itulah perumpamaan bagi kesadaran yang mengisi seluruh isi tubuh kita. Ketika konsentrasi “kesadaran pernafasan” Anda terputus, kembali ke “mode dasar”, dimana setelah kesadaran Anda telah bersatu dengan sekujur tubuh Anda, barulah kembali kepada “kesadaran pernafasan”, serta begitu untuk seterusnya. Tujuannya tidak lain tidak bukan untuk Anda membangkitkan kembali semangat / kegigihan yang kendur serta membuat “kerangkeng” bagi pikiran Anda yang ibarat “monyet liar yang senantiasa melompat kesana-kemari”.

Tips lainnya pemeditasi-pemula, ialah dengan metoda visualisasi, metoda mana bisa cukup efektif bagi mereka yang kesulitan menggunakan indera sentuhan kulit luar bawah lubang hidungnya untuk merasakan sensasi udara yang keluar maupun yang masuk. Perhatikan sabda Sang Buddha berikut: “ia duduk bersila, menegakkan tubuh dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan.

Tanggalkan pikiran Anda atas kerumitan dunia, kini tugas Anda ialah bermeditasi, waktu yang telah Anda alokasikan semata untuk urusan bermeditasi, maka cukuplah gunakan perhatian Anda untuk bermeditasi, bukan kepada urusan keluarga, duniawi, ataupun pekerjaan. Sepenuh hati, curahkan energi dan komitmen Anda untuk bermeditasi saat sedang bermeditasi. Selebihnya, bukan urusan Anda. Selanjutnya bayangkan adanya udara berbentuk embun putih yang keluar dari lubang hidung Anda saat mengeluarkan nafas, dan dan embun putih yang masuk ke lubang hidung Anda saat menghirup udara. Di negara dengan musim dingin bersalju, Anda bisa melihat udara yang keluar dari pernafasan Anda sendiri, dimana kurang-lebihnya seperti itu gambarannya. Visualisasikan itu sepanjang bermeditasi dengan objek berupa “kesadaran pernafasan”.

Meditasi, bukanlah aktivitas “berpikir”, namun aktivitas “menyadari”. Bila objek dari aktivitas “berpikir” ialah “pikiran”, maka objek dari aktivitas “menyadari” ialah “kesadaran”. Karenanya, meditasi tidak ada relevansinya dengan “pikiran kosong” ataupun “berpikir”. Mindfulness bermakna, kesadaran memenuhi diri kita untuk sepenuhnya, sepenuhnya “sadar”. “Menyadari”, bukan “berpikir”, itulah meditasi. Tentu saja kesemua itu dimulai dari “pikiran”, yang menyerupai pemantik agar sebuah tungku api dapat menyala, namun ketika api di tunggu telah menyala, Anda tidak perlu lagi memantik apinya dengan korek-api, dimana kini fokus / perhatian Anda cukup kepada api di tungku agar tidak padam.

Itulah sebabnya, penting bagi kita “memerangkap pikiran” kita dengan menjadikan tubuh-fisik kita sebagai “kerangkeng” bagi “pikiran”, sang “monyet liar”, agar “pikiran” tetap pada tubuh kita tanpa berkelana. Sang “monyet liar” tetap ada di sana, sehingga bagaimana mungkin Anda “mengosongkan pikiran”? Biarkan “monyet liar” itu di dalam kerangkeng bernama “sekujur tubuh”, hingga “jinak”. Selanjutnya fokus Anda bukan lagi pada sang “monyet”, akan tetapi “kesadaran pernafasan”.

Ketika Anda bermeditasi sesuai objek meditasi Anda, segala pemikiran menjadi padam karena ditanggalkan oleh Anda, dimana satu-satunya “pikiran” yang tersisa hanyalah sebuah daya-upaya terarah bernama “perhatian” kepada objek meditasi semata. Itulah sebabnya, meditasi bukanlah aktivitas “pikiran kosong” juga bukan “berpikir”, akan tetapi sebuah upaya untuk “mereduksi / menyeleksi pikiran” sehingga yang tersisa hanyalah “perhatian penuh” bernama “menyadari” dan “kesadaran”. Ketika satu-satunya pikiran yang kita sisakan hanyalah “perhatian penuh” pada objek meditasi, maka apa yang kita lakukan itu tidak lagi dapat disebut “berpikir”.

Ketika satu-satunya pikiran yang kita sisakan ialah “perhatian penuh” semata, ia lebih tepat disebut sebagai sebentuk “tekad” yang kita tetapkan di awal, sebagaimana kita memantik api di sebuah tungku api. Perhatikan sabda Sang Buddha perihal upaya menyeleksi pikiran: “ia memurnikan pikirannya dari kerinduan; ia memurnikan pikirannya dari niat buruk dan kebencian; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan; ia memurnikan pikirannya dari ketumpulan dan kantuk.” Menyadari dan kesadaran, adalah “pikiran yang murni” hasil seleksi terhadap pikiran, ibarat pandai emas menyisihkan kotoran tanah dari butiran emas.

Ingatkan diri Anda untuk “bersemangat” serta “nikmati”, maka meditasi Anda akan tanpa banyak hambatan, serta mendapatkan kepuasan tersendiri yang akan membuat Anda kian rajin serta tekun bermeditasi secara rutin, sebelum kemudian memetik manfaatnya. Berikut kutipan-kutipan sabda Sang Buddha dalam berbagai sutta, yang bisa bermanfaat untuk latihan meditasi Anda: [dikutip dari Majjhima Nikāya dan Anguttara Nikāya]

“Dan apakah usaha dengan mengembangkan? Di sini, seorang bhikkhu membangkitkan keinginan untuk memunculkan kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha dengan mengembangkan.”

“...dengan berdiam sendirian, mengasingkan diri, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,...”

“Kemudian ia bersemangat dalam meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan dalam mengusahakan kondisi-kondisi yang bermanfaat, mantap, mengerahkan usahanya dengan keteguhan dan tekun dalam melatih kondisi-kondisi yang bermanfaat.”

“Para bhikkhu, kenikmatan indria adalah tidak kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah ilusi, ocehan orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah alam Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya, kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan, permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini.”

“Ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan pergi dan kembali; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika melihat ke depan dan berpaling; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuhnya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkuknya; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika makan, minum, mengkonsumsi makanan, dan mengecap; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika buang air besar dan buang air kecil; ia bertindak dengan pemahaman jernih ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.”

“Dan di manakah Māra dan pengikutnya tidak dapat mendatangi? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya.”

“Bhaddāli, misalkan seorang pelatih kuda yang cerdas memperoleh seekor kuda muda dari keturunan murni yang baik. Pertama-tama ia membuatnya terbiasa mengenakan tali kekang. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan tali kekang, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam tindakan tersebut.

Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terbiasa mengenakan perlengkapan kuda. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan perlengkapan kuda, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam tindakan tersebut.

Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terlatih dalam melangkah, dalam berlari berputar, dalam mengangkat kedua kaki depannya, dalam menderap, dalam menyerang, dalam kualitas-kualitas kerajaan, dalam budaya kerajaan, dalam kecepatan tertinggi, dalam ketangkasan tertinggi, dalam kelembutan tertinggi. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan melakukan hal-hal ini, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam tindakan tersebut.

Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan-tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh menghadiahinya dengan pijatan dan perawatan. Ketika seekor kuda muda jantan dari keturunan murni memiliki sepuluh faktor ini, ia layak menjadi milik raja, layak melayani raja, dan dianggap sebagai salah satu faktor seorang raja.”

“Dan apakah, Ānanda, persepsi meninggalkan? Di sini, seorang bhikkhu tidak mentolerir pikiran nafsu indria yang telah muncul; ia meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ia tidak mentolerir pikiran berniat buruk yang telah muncul … pikiran mencelakai yang telah muncul … kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat kapan pun kondisi-kondisi itu muncul; ia meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ini disebut persepsi meninggalkan.”

“‘Kegigihan harus dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan tanpa kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah menjadikan dirinya sendiri sebagai otoritasnya, ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat; ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak tercela; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut diri sendiri sebagai otoritas.”

Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, tetapi dikotori oleh kekotoran dari luar.

Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, dan terbebaskan dari kekotoran dari luar.”

“Para bhikkhu, ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka jasmani menjadi tenang, pikiran menjadi tenang, pemikiran dan pemeriksaan mereda, dan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati mencapai pemenuhan melalui pengembangan. Apakah satu hal itu? Perhatian yang diarahkan pada jasmani. Ketika satu hal ini dikembangkan dan dilatih, maka jasmani menjadi tenang … dan semua kualitas-kualitas bermanfaat yang berhubungan dengan pengetahuan sejati mencapai pemenuhan melalui pengembangan.”

“Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya lebih banyak lagi.”

“...kebebasan pikiran, kebebasan melalui kebijaksanaan.”

“Dan bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti halnya seorang perempuan atau laki-laki – muda, berpenampilan muda, dan menyukai perhiasan – akan melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin yang bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air jernih. Jika mereka melihat debu atau noda apa pun di sana, maka mereka akan berusaha untuk menghilangkannya. Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau noda di sana, maka mereka menjadi gembira; dan keinginan mereka terpenuhi, mereka akan berpikir, ‘Betapa beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula, pemeriksaan-diri adalah sangat membantu bagi seorang bhikkhu [agar tumbuh] dalam kualitas-kualitas bermanfaat.

“[Ia harus bertanya kepada diri sendiri:] (1) ‘Apakah aku sering condong pada kerinduan atau tanpa kerinduan? (2) Apakah aku sering condong pada niat-buruk atau tanpa niat-buruk? (3) Apakah aku sering dikuasai oleh ketumpulan dan kantuk atau bebas dari ketumpulan dan kantuk? (4) Apakah aku sering gelisah atau tenang? (5) Apakah aku sering diserang oleh keragu-raguan atau bebas dari keragu-raguan? (6) Apakah aku sering marah atau tanpa kemarahan? (7) Apakah pikiranku sering kotor atau tidak kotor? (8) Apakah jasmaniku sering bergejolak atau tidak bergejolak? (9) Apakah aku sering malas atau bersemangat? (10) Apakah aku sering tidak terkonsentrasi atau terkonsentrasi?’

“Jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering condong pada kerinduan, condong pada niat-buruk, condong pada ketumpulan dan kantuk, gelisah, diserang oleh keragu-raguan, marah, kotor dalam pikiran, bergejolak dalam jasmani, malas, dan tidak terkonsentrasi,’ maka ia harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu. Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar akan mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya, demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu.

“Tetapi, jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering tanpa kerinduan, tanpa niat-buruk, bebas dari ketumpulan dan kantuk, tenang, bebas dari keragu-raguan, tanpa kemarahan, tidak kotor dalam pikiran, tidak bergejolak dalam jasmani, bersemangat, dan terkonsentrasi,’ maka ia harus mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat yang sama itu dan berusaha lebih lanjut untuk mencapai hancurnya noda-noda.

“Jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, ia mengetahui: ‘Aku tidak memperoleh ketenangan pikiran internal dan juga tidak memperoleh kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena,’ maka ia harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk memperoleh kedua kualitas bermanfaat itu. Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar api akan mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk memadamkan [api] di pakaian atau kepalanya, demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk memperoleh kedua kualitas bermanfaat itu. Kemudian, beberapa waktu kemudian, ia memperoleh ketenangan pikiran internal serta memperoleh kebijaksanaan pandangan terang yang lebih tinggi ke dalam fenomena-fenomena.”

“Ada, para bhikkhu, sepuluh topik diskusi ini. Apakah sepuluh ini? Pembicaraan tentang keinginan yang sedikit, tentang kepuasan, tentang kesendirian, tentang tidak terikat erat dengan orang lain, tentang pembangkitan kegigihan, tentang perilaku bermoral, tentang konsentrasi, tentang kebijaksanaan, tentang kebebasan, tentang pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Ini adalah kesepuluh topik diskusi itu.”

“Setelah melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengarkan suara dengan telinga … Setelah mencium bau-bauan dengan hidung … Setelah mengecap rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan objek sentuhan dengan badan … Setelah mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian indria yang mulia ini, ia mengalami kebahagiaan yang tanpa cacat dalam dirinya.”

“Setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong, ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Setelah meninggalkan kerinduan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari kerinduan; ia memurnikan pikirannya dari kerinduan. Setelah meninggalkan niat buruk dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran bebas dari niat buruk, berbelas kasih demi kesejahteraan semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari niat buruk dan kebencian. Setelah meninggalkan ketumpulan dan kantuk, ia berdiam bebas dari ketumpulan dan kantuk, mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih; ia memurnikan pikirannya dari ketumpulan dan kantuk. Setelah meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa gejolak, dengan pikiran damai di dalam; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Setelah meninggalkan keragu-raguan ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tidak bimbang sehubungan dengan kualitas-kualitas bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.”

“Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.”

“Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Ketika mendengar suatu suara dengan telinga ... Ketika mencium suatu bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah ... Ketika menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan ... Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian mulia akan indria-indria ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa noda.”

“Ia menjadi seorang yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju maupun mundur; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika melihat ke depan maupun ke belakang; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika menunduk maupun menegakkan badan; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika buang air besar maupun buang air kecil; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berjalan, berbicara, dan berdiam diri.”

“Dengan memiliki kelompok moralitas mulia ini, dan pengendalian mulia atas indria-indria ini, dan memiliki perhatian mulia dan kewaspadaan mulia ini, ia mencari tempat tinggal yang terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, hutan belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.”

“Setelah kembali dari menerima dana makanan, setelah makan ia duduk bersila, menegakkan badannya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan akan dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih bagi kesejahteraan semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan terbebas dari kelambanan dan ketumpulan, seorang yang mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam dengan tanpa kegelisahan dengan batin yang damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tanpa kebingungan akan kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.”

“Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-murnian pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.”

“Karena, Kandaraka, dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang adalah para Arahant dengan noda-noda telah dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu penjelmaan, dan yang terbebaskan sepenuhnya melalui pengetahuan akhir. Dan dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang dalam tingkat latihan yang lebih tinggi, dengan moralitas yang konstan, bijaksana, menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan konstan. Mereka berdiam dengan pikiran kokoh dalam empat landasan perhatian. Apakah empat ini? Di sini, Kandaraka, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia.”

PEMBAHASAN:

Salah satu khotbah penting lainnya dari Sang Buddha tentang metoda bermeditasi, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 39

Mahā-Assapura Sutta : Khotbah Panjang di Assapura

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Negeri Anga di pemukiman Anga bernama Assapura. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “‘Petapa, petapa,’ para bhikkhu, itu adalah bagaimana orang-orang mengenali kalian. Dan jika kalian ditanya, ‘Apakah kalian?’, maka kalian mengaku bahwa kalian adalah para petapa. Karena itu adalah sebutan bagi kalian dan apa yang kalian akui, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan melaksanakan dan melatih hal-hal yang membuat seseorang menjadi seorang petapa, yang membuat seseorang menjadi seorang brahmana, sehingga sebutan kami menjadi benar dan pengakuan kami benar, dan sehingga pelayanan dari mereka yang jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatannya kami gunakan akan memberikan buah dan manfaat besar bagi mereka, dan sehingga pelepasan keduniawian kami tidak sia-sia melainkan subur dan berbuah.’

[Kitab Komentar : “Brahmana” harus dipahami dalam makna seperti yang dijelaskan di bawah, paragraf nomor ke-24.]

(PERILAKU DAN PENGHIDUPAN)

3. “Dan apakah, para bhikkhu, hal-hal yang membuat seseorang menjadi seorang petapa, yang membuat seseorang menjadi seorang brahmana? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah.’ Sekarang, para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah. Itu sudah cukup, itu sudah dilakukan, tujuan pertapaan telah dicapai, tidak ada lagi yang harus kami lakukan’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

[Kitab Komentar : Rasa malu (hiri) dan takut akan perbuatan-salah (ottappa) adalah dua kualitas pelengkap yang oleh Sang Buddha disebut “penjaga dunia” (Anguttara Nikāya i.51) karena kedua itu berfungsi sebagai landasan moralitas. Rasa malu memiliki karakteristik muak pada kejahatan, dikuasai oleh rasa hormat pada diri sendiri, dan bermanifestasi sebagai kehati-hatian. Takut akan perbuatan-salah memiliki karakteristik takut pada kejahatan, dikuasai oleh kepedulian pada pendapat orang lain, dan bermanifestasi sebagai ketakutan dalam melakukan kejahatan. Baca Visuddhimagga XIV, 142.

Mengutip Sayutta Nikāya 45:35-36/v.25: “Apakah, para bhikkhu, pertapaan (sāmañña)? Jalan Mulia Berunsur Delapan ... – ini disebut pertapaan. Dan apakah, para bhikkhu, tujuan pertapaan (sāmaññattho)? Hancurnya keserakahan, kebencian, dan delusi – ini disebut tujuan pertapaan.”]

4. “Apakah lagi yang harus dilakukan? [272] Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Perilaku jasmani kami harus dimurnikan, bersih dan terbuka, tanpa cela dan terkendali, dan kami tidak akan memuji diri sendiri dan mencela orang lain karena kemurnian perilaku jasmani itu.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani kami telah dimurnikan. Itu sudah cukup, itu sudah dilakukan, tujuan pertapaan telah dicapai, tidak ada lagi yang harus kami lakukan’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

5. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Perilaku ucapan kami harus dimurnikan, bersih dan terbuka, tanpa cela dan terkendali, dan kami tidak akan memuji diri sendiri dan mencela orang lain karena kemurnian perilaku ucapan itu.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani kami telah dimurnikan dan perilaku ucapan kami telah dimurnikan. Itu sudah cukup ... ’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

6. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Perilaku pikiran kami harus dimurnikan, bersih dan terbuka, tanpa cela dan terkendali, dan kami tidak akan memuji diri sendiri dan mencela orang lain karena kemurnian perilaku pikiran itu.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani dan perilaku ucapan kami telah dimurnikan dan perilaku pikiran kami telah dimurnikan. Itu sudah cukup ... ’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

7. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Penghidupan kami harus dimurnikan, bersih dan terbuka, tanpa cela dan terkendali, dan kami tidak akan memuji diri sendiri dan mencela orang lain karena kemurnian penghidupan itu.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani, perilaku ucapan, dan perilaku pikiran kami telah dimurnikan dan penghidupan kami telah dimurnikan. [273] Itu sudah cukup ... ’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

(PENGENDALIAN INDRIA)

8. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menjaga pintu-pintu indria kami. Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, kami tidak akan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika kami membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerang kami, kami akan berlatih cara pengendaliannya, kami akan menjaga indria mata, kami akan menjalankan pengendalian indria mata. Ketika mendengar suara dengan telinga ... Ketika mencium bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap rasa kecapan dengan lidah ... Ketika menyentuh objek sentuhan dengan badan ... Ketika mengenali objek-pikiran dengan pikiran, kami tidak akan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika kami membiarkan indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerang kami, kami akan berlatih cara pengendaliannya, kami akan menjaga indria pikiran, kami akan menjalankan pengendalian indria pikiran.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani, perilaku ucapan, perilaku pikiran, dan penghidupan kami telah dimurnikan, dan kami menjaga pintu-pintu indria kami. Itu sudah cukup ... ’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

(MAKAN SECUKUPNYA)

9. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan makan secukupnya. Merenungkan dengan bijaksana, kami akan memakan makanan bukan untuk kenikmatan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi kecantikan dan kemenarikan fisik, tetapi hanya untuk ketahanan dan kelangsungan tubuh ini, untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, untuk menunjang kehidupan suci, dengan mempertimbangkan: “Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama tanpa membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan dapat hidup dalam kenyamanan.”’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani, perilaku ucapan, perilaku pikiran, dan penghidupan kami telah dimurnikan, kami menjaga pintu-pintu indria kami, dan kami makan secukupnya. Itu sudah cukup ... ’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

(KEAWASAN)

10. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan menekuni keawasan. Pada siang hari, sewaktu berjalan mondar-mandir dan duduk, kami akan memurnikan pikiran kami dari pikiran-pikiran dengan kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertama malam hari, [274] sewaktu berjalan mondar-mandir dan duduk, kami akan memurnikan pikiran kami dari pikiran-pikiran dengan kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertengahan malam hari, kami akan berbaring pada sisi kanan dalam posisi singa dengan satu kaki menindih kaki lainnya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, setelah mencatat dalam batin waktu untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga ke tiga malam hari, sewaktu berjalan mondar-mandir dan duduk, kami akan memurnikan pikiran kami dari pikiran-pikiran dengan kondisi-kondisi yang merintangi.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani, perilaku ucapan, perilaku pikiran, dan penghidupan kami telah dimurnikan, kami menjaga pintu-pintu indria kami, kami makan secukupnya, dan kami menekuni keawasan. Itu sudah cukup ... ’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

[Komentar : Perihal kalimat “setelah mencatat dalam batin waktu untuk terjaga”. Terkadang, sesaat sebelum merebahkan badan ke ranjang untuk tertidur, ketika kita mencatatkan sesuatu ke dalam batin kita, bahwa kita akan bangun pada pukul berapa, atau untuk mengingat ataupun melakukan sesuatu setelah bangun, entah bagaimana seolah batin berfungsi semacam “alarm” yang membangunkan dan mengingatkan.]

(PERHATIAN DAN KEWASPADAAN PENUH)

11. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan memiliki perhatian dan kewaspadaan penuh. Kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika berjalan maju dan mundur; kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika melihat ke depan dan melihat ke belakang; kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika membungkuk dan meregangkan badan; kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkuk; kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah, dan mengecap; kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika buang air besar dan buang air kecil; kami akan bertindak dengan kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.’ Sekarang para bhikkhu, kalian mungkin berpikir: ‘Kami memiliki rasa malu dan rasa takut akan perbuatan-salah dan perilaku jasmani, perilaku ucapan, perilaku pikiran, dan penghidupan kami telah dimurnikan, kami menjaga pintu-pintu indria kami, kami makan secukupnya, kami menekuni keawasan, dan kami memiliki perhatian dan kewaspadaan penuh. Itu sudah cukup, itu sudah dilakukan, tujuan pertapaan telah dicapai, tidak ada lagi yang harus kami lakukan’; dan kalian menjadi puas dengan sejauh itu. Para bhikkhu, Aku beritahukan kepada kalian, Aku nyatakan kepada kalian: Kalian yang mencari status petapa, jangan jatuh dari tujuan pertapaan selagi masih ada yang harus dilakukan.

(MENINGGALKAN RINTANGAN-RINTANGAN)

12. “Apakah lagi yang harus dilakukan? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu mendatangi tempat tinggal terpencil: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, hutan belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.

13. “Ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan ia duduk bersila, menegakkan tubuh dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan pada dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih demi kesejahteraan semua makhluk; [275] ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam bebas dari kelambanan dan ketumpulan, mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam tanpa kegelisahan dengan kedamaian dalam batin; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam melampaui keragu-raguan, tanpa kebingungan sehubungan dengan kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.

14. “Para bhikkhu, misalkan seseorang meminjam uang dan menjalankan usahanya dan usahanya itu berhasil sehingga ia mampu mengembalikan uang pinjamannya sebelumnya dan masih tersisa cukup untuk memelihara seorang istri; maka dengan mempertimbangkan hal ini, ia akan senang dan gembira. Atau misalkan seseorang yang sedang sakit, menderita, sakit keras, dan makanannya tidak cocok baginya dan tubuhnya tidak memiliki kekuatan, tetapi kemudian ia sembuh dari penyakitnya dan makanannya cocok baginya dan tubuhnya memperoleh kembali kekuatannya; maka dengan mempertimbangkan hal ini, ia akan senang dan gembira. Atau misalkan seseorang yang terkurung dalam penjara, tetapi kemudian ia dibebaskan, selamat dan aman, tanpa kehilangan hartanya; maka dengan mempertimbangkan hal ini, ia akan senang dan gembira. Atau misalkan seseorang adalah budak, tidak bergantung pada diri sendiri melainkan bergantung pada orang lain, tidak dapat pergi ke manapun yang ia inginkan, tetapi kemudian ia dibebaskan dari perbudakan, bergantung pada diri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, seorang bebas yang dapat pergi ke manapun yang ia inginkan; maka dengan mempertimbangkan hal ini, [276] ia akan senang dan gembira. Atau misalkan seseorang yang membawa harta kekayaannya berjalan di jalan yang melintasi gurun pasir, tetapi kemudian ia berhasil menyeberangi gurun pasir itu, selamat dan aman, tanpa kehilangan harta kekayaannya; maka dengan mempertimbangkan hal ini, ia akan senang dan gembira. Demikian pula, para bhikkhu, ketika kelima rintangan ini belum ditinggalkan dalam dirinya, seorang bhikkhu melihatnya berturut-turut sebagai pinjaman, penyakit, penjara, perbudakan, dan jalan yang melintasi gurun pasir. Tetapi ketika kelima rintangan ini telah ditinggalkan dalam dirinya, ia melihat hal itu sebagai kebebasan dari pinjaman, kesehatan, kebebasan dari penjara, kebebasan dari perbudakan, dan tanah keselamatan.

[Kitab Komentar memberikan penjelasan terperinci atas masing-masing dari lima perumpamaan ini. Suatu terjemahan berbahasa Inggris terdapat dalam Nyanaponika Thera, The Five Mental Hindrances, hal. 27-34.]

(EMPAT JHĀNA)

15. “Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-sempurnaan batin yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu. Bagaikan seorang petugas pemandian atau murid petugas pemandian menumpuk bubuk mandi dalam baskom logam dan, secara perlahan memerciknya dengan air, meremasnya hingga kelembaban membasahi bola bubuk mandi tersebut, membasahinya, dan meliputinya di dalam dan di luar, namun bola itu sendiri tidak meneteskan air; demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu.

16. “Kemudian, para bhikkhu, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ia membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Bagaikan sebuah danau yang airnya berasal dari mata air di dasarnya [277] dan tidak ada aliran masuk dari timur, barat, utara, atau selatan, dan tidak ditambah dari waktu ke waktu dengan curahan hujan, kemudian mata air sejuk memenuhi danau itu dan membuat air sejuk itu membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi seluruh danau itu, sehingga tidak ada bagian danau itu yang tidak terliputi oleh air sejuk itu; demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.

17. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Ia membuat kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu. Bagaikan, dalam sebuah kolam seroja biru atau merah atau putih, beberapa seroja tumbuh dan berkembang dalam air tanpa keluar dari air, dan air sejuk membasahi, merendam, mengisi, dan meliputi seroja-seroja itu dari pucuk hingga ke akarnya, sehingga tidak ada bagian dari seroja-seroja itu yang tidak terliputi oleh air sejuk; demikian pula, seorang bhikkhu, membuat kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu basah, merendam, mengisi, dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh kenikmatan yang terlepas dari sukacita itu.

[Kitab Komentar : Seroja adalah sejenis teratai yang tumbuh di kolam.]

18. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya [278] yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikian pula, seorang bhikkhu duduk dengan dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu.

(TIGA PENGETAHUAN SEJATI)

19. “Ketika konsentrasi pikirannya sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau. Bagaikan seseorang yang pergi dari desa tempat tinggalnya ke desa lain dan kemudian kembali lagi ke desanya, ia berpikir: ‘Aku pergi dari desaku ke desa itu, dan di sana aku berdiri demikian, duduk demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian; dan dari desa itu aku pergi ke desa lain, dan di sana aku berdiri demikian, duduk demikian, berbicara demikian, berdiam diri demikian; dan dari desa itu aku kembali lagi ke desaku.’ Demikian pula, seorang bhikkhu mengingat banyak kehidupan lampau … Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau.

20. “Ketika konsentrasi pikirannya sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan mereka, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmni,  ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka. Bagaikan terdapat dua rumah dengan pintu-pintu dan seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di antara kedua rumah itu melihat orang-orang memasuki dan keluar dari rumah itu silih berganti, demikian pula, dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, seorang bhikkhu melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali … dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.

21. “Ketika konsentrasi pikirannya sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

[Kitab Komentar : Setelah menunjukkan Empat Kebenaran Mulia dalam sifat sejatinya (yaitu, dalam hal penderitaan), paragraf tentang noda-noda disebutkan untuk menunjukkan secara tidak langsung melalui kekotoran.]

Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebas dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

[Komentar : Yang dimaksud dengan “noda penjelmaan” ialah keinginan untuk kembali-terlahir, baik terlahir-kembali (bertumimbal-lahir) di alam dewa, alam manusia, maupun di alam-alam yang lebih rendah, sebuah siklus yang tidak berkesudahan dan menjemukan.]

Bagaikan terdapat sebuah danau pada sebuah ceruk di gunung, bersih, jernih, dan tidak terganggu, sehingga seseorang dengan penglihatan yang baik yang berdiri di tepinya dapat melihat kerang, kerikil, dan koral, dan juga kawanan ikan yang berenang ke sana ke sini dan beristirahat, ia berpikir: ‘Danau ini bersih, jernih, dan tidak terganggu, dan terdapat [280] kerang, kerikil, dan koral ini, dan juga kawanan ikan yang berenang ke sana ke sini dan beristirahat.’ Demikian pula, seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan.’ ... Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

(ARAHANT)

22. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang demikian disebut seorang petapa, seorang brahmana, seorang yang telah dicuci, seorang yang telah mencapai pengetahuan, seorang terpelajar suci, seorang mulia, seorang Arahant.

[Kitab Komentar : Masing-masing penjelasan berikutnya melibatkan permainan kata yang tidak dapat diungkapkan dalam Bahasa Inggris, misalnya, seorang bhikkhu adalah seorang petapa (samaa) karena ia telah menenangkan (samita) kondisi-kondisi kejahatan, seorang brahmana karena ia telah menyingkirkan (bāhita) kondisi-kondisi kejahatan, dan sebagainya.]

23. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang petapa? Ia telah menenangkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, yang memberikan kesulitan, yang matang dalam penderitaan, dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang petapa.

24. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang brahmana? Ia telah menyingkirkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori ... dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang brahmana.

25. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang telah dicuci? Ia telah mencuci kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori ... dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang yang telah dicuci.

[Kitab Komentar : Kata “mencuci” (nhātaka) merujuk pada seorang brahmana yang, pada akhir pelajarannya di bawah seorang guru, telah melakukan ritual mandi yang menandai akhir latihannya.]

26. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang telah mencapai pengetahuan? Ia telah mengetahui kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori ... dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang yang telah mencapai pengetahuan.

27. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang terpelajar suci? Kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori ... dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan, telah mengalir keluar dari dirinya. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang terpelajar suci.

[Kitab Komentar : Kata Pali Sotthiya (Skt, śrotriya) berarti seorang brahmana yang ahli dalam Veda, seorang yang menguasai pengetahuan suci.]

28. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang mulia? Kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori ... dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan, jauh dari dirinya. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang mulia.

29. “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang Arahant? Kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, yang memberikan kesulitan, yang matang dalam penderitaan, dan yang mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan, jauh dari dirinya. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu adalah seorang Arahant.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week