Allah MALPRAKTEK terhadap Umat Muslim

Mukzijat Penyembuhan dari Sakit ala Nasrani adalah Mukzijat yang Percuma, Tidak Benar-Benar Menolong secara Permanen

Question: Dalam ajaran islam, Allah menyebutkan bahwa tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya kecuali penyakit kepikunan. Begitupula dalam nasrani, iman disebut sebagai obat penyembuh. Namun yang menjadi pertanyaan terbesar saya ialah, mengapa untuk penyakit suka mabuk dan kecanduan berbuat dosa dan maksiat yang begitu adiktif, justru ialah diajarkan doa dan ritual penghapusan dosa alih-alih mengajarkan untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korban para muslim tersebut yang menderita luka ataupun kerugian oleh perbuatan mereka? Itu mirip menyiram bensin ke api, semakin besar api tersebut membara dan membakar. Mereka bermulut besar bicara mengenai agama, kitab, ayat-ayat, dogma, Tuhan, nabi, namun miskin dari sikap bertanggung-jawab.

Brief Answer: Tiada obat yang diajarkan dalam agama samawi untuk terbebas dari “kembali menua”, “kembali sakit”, dan “kembali meninggal dunia”. Mukzijat sejati bukanlah seperti akrobatik tidak berfaedah yang digambarkan dalam kitab-kitab agama samawi, namun ialah “empat kebenaran mulia” (four noble truth) berupa : menyadari adanya dukkha, asal-muasal dukkha, terbebas dari dukkha, dan jalan menuju terbebasnya dari dukkha—yang bila disederhanakan menjadi jalan untuk “BREAK THE CHAIN / SHACKLE OF KARMIC LAW” (terbebasnya dari belenggu rantai tumimbal-lahir), dimana “sang jalan” (Dhamma) merupakan “pertolongan sejati” dimana “dewa pencabut nyawa” tidak lagi berkuasa karena tiada lagi kelahiran kembali, menua kembali, ataupun sakit dan meninggal kembali.

PEMBAHASAN:

Dhamma adalah resep untuk “penyakit batin”, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID 1”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

IV. Seorang Prajurit

133 (1) Seorang Prajurit

“Para bhikkhu, dengan memiliki tiga faktor ini, seorang prajurit adalah layak menjadi milik seorang raja, perlengkapan seorang raja, dan dianggap sebagai satu faktor kerajaan. Apakah tiga ini? Di sini, seorang prajurit adalah seorang penembak jarak jauh, seorang penembak-tepat, dan seorang yang membelah tubuh besar. Dengan memiliki ketiga faktor ini, seorang prajurit adalah layak menjadi milik seorang raja, perlengkapan seorang raja, dan dianggap sebagai satu faktor kerajaan. Demikian pula, dengan memiliki tiga faktor, seorang bhikkhu adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tidak taranya bagi dunia. Apakah tiga ini? Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang penembak jarak jauh, seorang penembak-tepat, dan seorang yang membelah tubuh besar.

(1) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang penembak jarak jauh? Di sini, segala bentuk apa pun – apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu melihat segala bentuk sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Segala perasaan apa pun … [285] … Segala jenis persepsi apa punSegala jenis aktivitas berkehendak apa punSegala jenis kesadaran apa pun - apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu itu adalah seorang penembak jarak jauh.

(2) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang penembak tepat? Di sini, seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Adalah dengan cara ini bhikkhu itu adalah seorang penembak tepat.

(3) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang membelah tubuh besar? Di sini, seorang bhikkhu membelah kumpulan besar ketidak-tahuan. Adalah dengan cara ini bhikkhu itu adalah seorang yang membelah tubuh besar.

“Dengan memiliki ketiga faktor ini, seorang bhikkhu adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tidak taranya bagi dunia.”

~0~

134 (2) Kumpulan

“Para bhikkhu, ada tiga jenis kumpulan ini. Apakah tiga ini? Kumpulan yang terlatih dalam omong-kosong, kumpulan yang terlatih dalam interogasi, dan kumpulan yang terlatih hingga batasnya. Ini adalah ketiga jenis kumpulan itu.” [286]

~0~

135 (3) Seorang Teman

“Para bhikkhu, seseorang harus bergaul dengan seorang teman yang memiliki tiga faktor. Apakah tiga ini? (1) Di sini, seorang bhikkhu memberikan apa yang sulit diberikan. (2) Ia melakukan apa yang sulit dilakukan. (3) Ia dengan sabar menahankan apa yang sulit ditahankan. Seseorang harus bergaul dengan seorang teman yang memiliki ketiga faktor ini.”

~0~

136 (4) Munculnya

(1) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena terkondisi adalah tidak kekal.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena yang terkondisi adalah tidak kekal.’

[Kitab komentar menjelaskan ketidak-kekalan (anicca) di sini sebagai ketiadaan setelah kemunculan (hutvā abhāvaṭṭhena); penderitaan (dukkha) sebagai kesengsaraan (sampīanaṭṭhena dukkhā); dan tanpa-diri (anattā) sebagai tidak dapat dikuasai (avasavattanaṭṭhena). Dalam Sayutta Nikāya 12:20, II 25-27, kerangka yang sama ini diterapkan pada formula dua belas dari kemunculan bergantungan.]

(2) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena terkondisi adalah penderitaan.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena yang terkondisi adalah penderitaan.’

(3) “Para bhikkhu, apakah para Tathāgata muncul atau tidak, hukum ini tetap berlaku, kestabilan Dhamma ini, jalan pasti Dhamma ini: ‘Segala fenomena adalah tanpa-diri.’ Seorang Tathāgata tercerahkan pada hal ini dan menerobosnya, dan kemudian Beliau menjelaskannya, mengajarkannya, menyatakannya, menetapkannya, mengungkapkannya, menganalisisnya, dan menguraikannya sebagai berikut: ‘Segala fenomena adalah tanpa-diri.’”

~0~

137 (5) Selimut rambut

“Para bhikkhu, selimut rambut dinyatakan sebagai jenis terburuk di antara kain tenunan. Selimut rambut adalah dingin dalam cuaca dingin, panas dalam cuaca panas, buruk, berbau busuk, dan tidak nyaman. Demikian pula, doktrin Makkhali dinyatakan sebagai yang terburuk di antara doktrin-doktrin berbagai petapa. Manusia kosong Makkhali mengajarkan doktrin dan pandangan: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’ [287]

(1) “Para bhikkhu, Para Bhagavā, Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa lampau mengajarkan doktrin kamma, doktrin perbuatan, doktrin usaha. Namun manusia kosong Makkhali membantahnya [dengan pengakuannya]: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’

(2) “Para bhikkhu, Para Bhagavā, Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa depan juga mengajarkan doktrin kamma, doktrin perbuatan, doktrin usaha. Namun manusia kosong Makkhali membantahnya [dengan pengakuannya]: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’

(3) “Di masa sekarang Aku adalah Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, dan Aku mengajarkan doktrin kamma, doktrin perbuatan, doktrin usaha. Namun manusia kosong Makkhali membantahnya [dengan pengakuannya]: ‘Tidak ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada usaha.’

“Seperti halnya sebuah jebakan yang dipasang di mulut sungai akan membawa bahaya, penderitaan, kemalangan, dan bencana pada banyak ikan, demikian pula, manusia kosong Makkhali adalah, bagaikan sebuah ‘jebakan bagi orang-orang’ yang muncul di dunia ini demi bahaya, penderitaan, kemalangan, dan bencana bagi banyak makhluk.”

~0~

138 (6) Pencapaian

“Para bhikkhu, ada tiga pencapaian ini. Apakah tiga ini? Pencapaian keyakinan, pencapaian perilaku bermoral, dan pencapaian kebijaksanaan. Ini adalah ketiga pencapaian itu.”

~0~

139 (7) Pertumbuhan

“Para bhikkhu, ada tiga pertumbuhan ini. Apakah tiga ini? Pertumbuhan dalam keyakinan, pertumbuhan dalam perilaku bermoral, dan pertumbuhan dalam kebijaksanaan. Ini adalah ketiga pertumbuhan itu.”

Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

Nafsu mabok kawin, bila birahi maka obatnya ialah poligami. Mabok gila uang, obatnya ialah korupsi lalu zakat recehan 2,5% untuk “membersihkan harta” (money laundring) atau pergi umroh. Kecanduan memproduksi segunung dosa dan maksiat, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam lautan dosa, obatnya ialah “PENGHAPUSAN DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]