Ada seseorang,
Orang biasa,
Ketika ditanya,
“Kamu takut?”
Ia menjawab,
“Tidak.”
Ia tetap bersikap tenang,
Dan menghadapi apa yang harus ia hadapi.
Ia bersikap tenang,
Dan tidak takut,
Bukan karena ia tidak dapat
disakiti,
Juga bukan karena ia tidak dapat
terluka.
Ia tetap dapat terluka ketika
disakiti,
Namun ia tidak takut,
Dan tetap bersikap tenang,
Ketika mengalami dan menghadapi
kenyataan,
Kenyataan yang telah terjadi
maupun yang akan terjadi.
Seseorang tidak perlu menjadi
sekuat dewa,
Untuk bersikap tidak takut dan
tetap tenang.
Sama halnya,
Ketika ia ditanya,
“Kamu takut?”
Ia menjawab,
“Tidak.”
Dengan tenang menghadapi
pelecehan verbal dari pihak lain.
Ia bersikap tidak takut,
Dan tetap tenang,
Bukan karena martabatnya tidak
dapat diinjak-diinjak oleh orang lain,
Juga bukan karena harga dirinya
tidak dapat dilukai oleh orang lain.
Perasaannya tetap dapat terluka,
Dan hatinya dapat merasakan
sakit,
Sebagaimana manusia lain pada
umumnya,
Akan tetapi ia telah memilih,
Untuk tidak takut,
Dan tetap tenang,
Sebagai respon atas apa yang ia
alami.
Kita tidak perlu menunggu hingga
memiliki mental sekuat baja,
Ataupun jiwa sekeras batu yang tidak
dapat terluka,
Untuk menjadi tidak takut dan
tetap tenang.
Kita selalu punya pilihan,
Untuk bersikap takut,
Ataukah bersikap tidak takut,
Untuk bersikap cemas,
Ataukah bersikap tenang,
Sekalipun kita tetap dapat
terluka dan merasakan sakit.
Cepat atau lambat,
Kita akan mati,
Yang menyakiti kita pun akan
mati,
Sebelum kemudian
terlahir-kembali,
Dengan mewarisi perbuatan-perbuatan
kita sendiri semasa hidup.
Sehingga,
Apakah yang sesunguhnya yang
harus kita takutkan,
Dalam hidup yang penuh
ketidakpastian ini.
Menghadapi usia tua,
Sakit,
Dan kematian,
Itu hanya persoalan waktu.
Bila rasa takut kita,
Tidak dapat mengubah keadaan,
Bahkan memperburuk kondisi,
Maka mengapa memilih untuk
merasa takut ataupun bersikap cemas?
Setiap kali kita menemukan,
Bahwa jiwa kita terasa gentar
dan cemas,
Tanyakanlah kepada diri kita sendiri,
“Kamu takut?”
Jawablah dengan tenang,
“Tidak.”
Lalu bersikaplah tenang.
Apapun yang kemudian akan
terjadi.
Kita tidak perlu membebani
hidup yang telah begitu berat ini,
Dengan beban rasa takut.
Dengan bersikap tidak takut dan
tetap tenang,
Setidaknya separuh beban hidup
telah terangkat dari pundak kita,
Agar kita dapat melangkah dan
bernafas lebih bebas.
Tanggalkan rasa takut,
Jemput ketenangan hidup.
Hidup yang tenang,
Ada bukan karena tiada masalah
di dunia yang jauh dari kata ideal ini.
Namun karena kita memilih untuk
tidak didikte oleh dunia maupun kehidupan ini.
Ingatlah bahwa,
Bersikap takut dan cemas
sekalipun,
Tidak menjamin bahwa ia akan
selamat dan aman.
Bila Anda berpikir,
Bahwa bersikap takut dan cemas
akan membantu Anda,
Maka pahamilah bahwa itu hanya
sebuah “delusi”.
Seseorang yang takut miskin,
Akibatnya ia bekerja keras membanting-tulang,
Dalam arti yang sesungguhnya,
Berakhir pada tubuh yang jatuh
sakit,
Tetap saja berakhir pada kondisi
yang mengenaskan.
Tidsk jarang pula,
Ada orang-orang yang akibat takut
hidup miskin,
Kemudian melakukan kejahatan,
Seperti merampas hak-hak orang
lain,
Pada akhirnya ia layak dan
patut benar-benar takut,
Menjumpai neraka,
Dan tersiksa akibatnya.
Ketakutan dan kecemasan,
Merupakan cara paling efektif
untuk merontokkan IQ Anda.
Kita tetap bisa melanjutkan
hidup,
Sekalipun tidak dicengkeram
oleh perasaan takut.
Itulah yang disebut sebagai “positive
thinking”.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
