Ketika PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior yang Memonopoli Alam Surgawi dan Berhak Menghakimi Kaum Lainnya
Ketika menjawab tes Spiritual
Quotient (SQ) berikut di bawah ini, Anda akan menemukan cerminan terdalam dari
diri Anda sendiri, dan menyelami kedalaman atau sebaliknya kedangkalan lautan
jiwa Anda:
1.) Manakah yang disebut
sebagai sedang beribadah?
a. Menghindari perbuatan buruk,
melakukan kebaikan, dan berlatih memurnikan pikiran;
b. Ritual sembah-sujud atau
menyanyikan lagu-lagu berisi pujian kepada Tuhan.
2.) Manakah yang lebih
memuliakan Tuhan, sang Pencipta?
a. Menjadi manusia yang mulia;
b. Menjadi pecandu abadi dogma-dogma
penghapusan dosa.
3.) Senang melakukan perbuatan
baik, demi kepentingan siapakah?
a. Demi kepentingan si pelaku
perbuatan baik itu sendiri, agar menetik kelimpahan buah Karma Baik yang manis
di kemudian hari;
b. Sebaik-baiknya manusia,
lebih baik ia yang rajin menyembah Tuhan dan mempertebal iman kepada-Nya.
4.) Menghindari perbuatan
buruk, demi kepentingan siapakah?
a. Demi kebaikan diri kita sendiri
yang berlatih pengendalian diri, agar terhindar dari buah Karma Buruk
dikemudian hari;
b. Merugi tidak bisa menikmati iming-iming
dogma penghapusan dosa.
5.) Bertanggung-jawab kepada pihak
korban, demi kepentingan siapakah?
a. Demi kebaikan diri kita
sendiri agar konsekuensi dari perbuatan buruk kita dapat dibayarkan lunas pada
kehidupan saat kini juga;
b. Merugi tidak menjadi
koruptor-dosa yang meng-korupsi dosa-dosa lewat ritual penghapusan dosa ataupun
cuci-dosa dan cuci-uang.
6.) Bisakah Anda sebutkan agama
apa saja yang ada di dunia ini?
a. “Agama suci” bagi mereka
yang tidak kompromistik terhadap perbuatan buruk, “agama ksatria” bagi mereka
berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan buruk mereka sendiri, dan “agama
dosa” bagi para pendosawan yang bersikap pengecut karena mengandalkan ideologi
korup bernama ritual penghapusan dosa;
b. Agama-nya Allah dan agamanya
kaum kafir.
7.) Apa pendapat Anda bila ada
agama yang menawarkan dogma atau iming-iming penghapusan, pengampunan, atau
penebusan dosa?
a. Juru-selamat bagi pendosa,
sama artinya juru-petaka bagi korban. Kabar gembira bagi pelaku kejahatan, sama
artinya kabar duka bagi kalangan korban;
b. Itu adalah nabi juru-selamat.
8.) Tuhan lebih PRO kepada
siapa?
a. Korban, dengan tidak
memasukkan seorang pun penjahat ke alam surgawi. Itulah sebabnya, dunia ini
tidak butuh “nabi”. Sebelum agama samawi lahir, orang baik otomatis masuk surga
dan orang jahat otomatis masuk neraka. Kini, setelah agama samawi lahir, yang
terjadi justru sebaliknya;
b. Pendosa yang mencandu doa-doa
penghapusan dosa, sehingga bisa berharap terjamin masuk surga sekalipun dalam
keseharian sibuk mengoleksi dan memproduksi segudang hingga segunung dosa-dosa dan
maksiat. Karena, lawan kata dari “pengampunan dosa” ialah “keberanian untuk
bertanggung-jawab dan menerima konsekuensi dibaliknya”.
8.) Apa menurut penilaian Anda mengenai
babi dan ideologi penghapusan dosa?
a. Babi adalah ciptaan Tuhan,
bagaimana mungkin meng-haram-najis-kan ciptaan Tuhan? Itu sama artinya
mengharam-najis-kan sang Pencipta yang telah menciptakan si babi. Bukankah
katanya, Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak ada gunanya?
b. Babi, HARAM. Penghapusan
dosa, HALAL LIFESTYLE—meskipun semua orang tahu, bahwa hanya seorang pendosa
yang membutuhkan penghapusan dosa.
9.) Manakah yang lebih
berbahaya, ideologi komun!sme ataukah agama samawi-abrahamik?
a. Komun!sme tidak mengajarkan
pengikutnya untuk mencium-cium foto sang tokoh pencetus ideologi, juga tidak mengajarkan
penghapusan dosa bagi sang pendosawan;
b. Tentu saja komun!sme,
meskipun kini kami, umat agama samawi, tidak lagi takut masuk neraka karena yakin
telah terjamin masuk surga, meskipun dalam keseharian kami sibuk berbuat dosa dan
maksiat agar bisa berlomba-lomba memohon penghapusan dosa.
10.) Apakah mungkin, seseorang
kembali ke fitri (kembali fitrah) lewat ritual penghapusan dosa?
a. Karma Buruk tidak bisa
dihapus, hutang karma harus tetap dibayar dan dihadapi konsekuensinya. Menjadi kejahatan
yang kedua, ketika sang penjahat merampas hak keadilan dari korban. Yang ada
ialah menjelma “koruptor dosa”, alih-alih “kembali suci” lewat doa-doa permohonan
penghapusan dosa. “Dosa-dosa untuk dihapuskan” adalah bundling dengan “doa-doa permohonan
penghapusan dosa”. Yang berdoa memohon penghapusan dosa, tentunya perlu
didahului dengan berbuat dosa, untuk sepanjang hidupnya. Jika tidak, maka
ibarat meminta maaf terlebih dahulu, baru kemudian berbuat kejahatan.
b. Allah sudah berfirman, “Wahai
umat manusia, mengapa engkau meng-haram-kan apa yang telah Allah halal-kan bagimu?”
Allah justru mempromosikan penghapusan dosa, alih-alih mengkampanyekan gaya
hidup higienis dari dosa-dosa dan maksiat. Jika tidak ada iming-iming dogma
penghapusan dosa, tidak akan mau umat manusia memeluk agama yang disukai para
pendosawan tersebut.
11.) Bagaimana pandangan Anda,
terhadap dogma-dogma seperti “menikah adalah pintu rezeki” dan “banyak anak
adalah banyak rezeki”?
a. Motif sang bapak melahirkan
banyak anak, dalam rangka mempertebal isi kantung saku sang ayah. Kaum hewan pun
kawin dan beranak-pinak tanpa perlu disuruh. Manusia bukan hewan yang hanya
bisa tunduk pada insting kehewanan;
b. Kodratnya manusia diciptakan
untuk berkembang biak, meskipun saya sadar sepenuhnya bahwa orang jahat
kodratnya masuk ke neraka, bukan ke surga.
12.) Bagaimana pandangan Anda mengenai
upaya dan niat batin Abraham / Ibrahim yang sudah melakukan perbuatan permulaan
untuk menyembelih / merampas nyawa anak kandungnya sendiri, Ishaq / Ismail?
a. Ayah yang baik, akan memilih
untuk dilempar ke neraka demi menebus nyawa sang anak terkasih. Ayah yang
egois, demi EGO agar dapat bersetubuh dengan puluhan bidadari ke kerajaan Allah
dan demi bisa bersenang-senang di alam surgawi, tega menumbalkan anak kandung
sendiri. Dukun-dukun jahat ilmu hitam, paling suka memakai dongeng tercela
tersebut untuk menawarkan praktek pesugihan bagi kalangan ayah semacam itu.
b. Tuhan yang menciptakan
manusia, itu hak Tuhan sekalipun otoriter dan diktator.
13.) Bagaimana penilaian Anda,
terhadap sikap Ismail / Ishaq yang pasrah dan menyetujui perbuatan ayah
kandungnya sendiri—yakni Abraham / Ibrahim—aketika telah melakukan perbuatan permulaan
untuk menyembelih / merampas hidup sang anak?
a. Perbuatan baik artinya,
tidak merugikan orang lain dan juga tidak merugikan diri sendiri. Perbuatan buruk
artinya, tidak merugikan orang lain namun membiarkan diri dirugikan atau bahkan
merugikan diri sendiri.
b. Itu adalah cerminan iman yang
sudah setebal tembok beton yang tidak tembus oleh cahaya ilahi manapun.
Dalam tiap-tiap kasus—aktivitas Tuhan pencipta
(THEISTIK) ataupun tanpa-penyebab (ATEIS)—para pelaku menghindari tanggung
jawab atas perbuatan-perbuatan mereka, serta keduanya sama-sama merupakan
pandangan “ekstrem” yang ditolak dalam Buddhisme, dimana Sang Buddha
untuk itu telah pernah bersabda: [dikutip dari khotbah Sang Buddha dalam
“Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia
tahun 2015 oleh DhammaCitta Press]
“Para
bhikkhu, ada tiga doktrin sektarian ini yang, ketika dipertanyakan,
diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan
mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat. Apakah tiga ini?
(1) “Ada, para bhikkhu, beberapa petapa dan brahmana
yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang
ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh apa yang telah
dilakukan di masa lalu.’
(2) Ada para petapa dan brahmana lainnya yang
menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini –
apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh aktivitas
Tuhan pencipta.’
(3) Dan ada para petapa dan brahmana lain lagi yang
menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini –
apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu sebab
atau kondisi.’
“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa
dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang
dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu
sebab atau kondisi,’ dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian
para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal
ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau
begitu, adalah tanpa suatu penyebab atau kondisi maka kalian mungkin melakukan
pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual,
berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip;
maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan
menganut pandangan salah.’
“Mereka yang mengandalkan ketiadaan penyebab dan
kondisi sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan]
apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh
dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak
memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak
boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka
sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar
ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke tiga atas para
petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.
“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa
dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang
dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau
bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh
aktivitas Tuhan pencipta,’ Dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa
kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku
menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata
kepada mereka: ‘Kalau begitu, adalah karena aktivitas Tuhan pencipta maka
kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan,
melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang
memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan,
memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.’
“Mereka yang mengandalkan aktivitas Tuhan
pencipta sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan]
apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh
dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak
memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak
boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka
sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar
ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke dua atas para
petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.
“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga doktrin sektarian
itu yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana,
dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat.”
Lebih lanjut, Sang Buddha telah pernah
bersabda: [dikutip dari Dhammapada dan Aṅguttara Nikāya]
316. Barangsiapa malu
terhadap hal tak memalukan, tidak malu terhadap hal memalukan; mereka yang
memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
317. Juga, barangsiapa
takut terhadap hal tak menakutkan, tidak takut terhadap hal menakutkan; mereka
yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
318. Barangsiapa
menganggap tercela terhadap hal tak tercela, menganggap tak tercela terhadap
hal tercela; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam
sengsara.
319. Sebaliknya,
barangsiapa menyadari hal tercela sebagai yang tercela, menyadari hal tak
tercela sebagai yang tak tercela; mereka yang memegang pandangan benar itu akan
menuju ke alam bahagia.
~0~
“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di
dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus;
orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di
seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) “Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati
kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang
yang mengikuti arus.
(2) “Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak
menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan
dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia
menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang
melawan arus.
~0~
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seseorang
ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini?
(1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia memuji seorang yang
layak dicela.
(2) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencela seorang yang
layak dipuji.
~0~
“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas,
seorang bhikkhu tuan rumah ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.
Apakah lima ini?
(1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela seorang yang
layak dicela.
(2) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji seorang yang
layak dipuji.
Bukankah mengherankan, ketika
kita mengamati fenomena sosial dimana seseorang yang rajin ritual sembah sujud
lima kali dalam sehari, disebut sebagai “sedang beribadah” atau “agamais”. Sementara
itu, orang-orang baik yang dalam keseharian senang berbuat kebaikan,
menghindari perbuatan buruk, dan berlatih disiplin diri yang ketat bernama “self-control”
atau mawas diri, dipandang sebagai “tidak sedang beribadah” dan bukan tergolong
kaum “agamais”.
Itulah bila kita meminjam perspektif
kaum pendosawan pemeluk “Agama DOSA yang bersumber dari Kitab DOSA”, sehingga tidak
satu frekuensi dengan mereka pemeluk “Agama SUCI” maupun kaum ksatria pemeluk “Agama
KSATRIA”, dimana ibadah dalam Buddhisme ialah berupa:
Ovada Patimokkha
Sabbapāpassa
akaraṇaṃ
Kusalassa
upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī
paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi
pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo
anūpaghāto, pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā
ca bhattasmiṃ, pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte
ca āyogo, etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek
bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”,
begitulah sabda Para Buddha.
Dia yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak
menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal
makan, berdiam di tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan
batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada
183-184-185, Syair Gatha.]
Babi, disebut “haram”. Namun,
ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN /
PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat
agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma
Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat
bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab
atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum
korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari
mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli
alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka
pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi
berceramah perihal akhlak, hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur,
unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta
“KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]