Tes SQ Anda Disini, Bagian II

Ketika PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior yang Memonopoli Alam Surgawi dan Berhak Menghakimi Kaum Lainnya

Ketika menjawab tes Spiritual Quotient (SQ) berikut di bawah ini, Anda akan menemukan cerminan terdalam dari diri Anda sendiri, dan menyelami kedalaman atau sebaliknya kedangkalan lautan jiwa Anda:

1.) Manakah yang disebut sebagai sedang beribadah?

a. Menghindari perbuatan buruk, melakukan kebaikan, dan berlatih memurnikan pikiran;

b. Ritual sembah-sujud atau menyanyikan lagu-lagu berisi pujian kepada Tuhan.

2.) Manakah yang lebih memuliakan Tuhan, sang Pencipta?

a. Menjadi manusia yang mulia;

b. Menjadi pecandu abadi dogma-dogma penghapusan dosa.

3.) Senang melakukan perbuatan baik, demi kepentingan siapakah?

a. Demi kepentingan si pelaku perbuatan baik itu sendiri, agar menetik kelimpahan buah Karma Baik yang manis di kemudian hari;

b. Sebaik-baiknya manusia, lebih baik ia yang rajin menyembah Tuhan dan mempertebal iman kepada-Nya.

4.) Menghindari perbuatan buruk, demi kepentingan siapakah?

a. Demi kebaikan diri kita sendiri yang berlatih pengendalian diri, agar terhindar dari buah Karma Buruk dikemudian hari;

b. Merugi tidak bisa menikmati iming-iming dogma penghapusan dosa.

5.) Bertanggung-jawab kepada pihak korban, demi kepentingan siapakah?

a. Demi kebaikan diri kita sendiri agar konsekuensi dari perbuatan buruk kita dapat dibayarkan lunas pada kehidupan saat kini juga;

b. Merugi tidak menjadi koruptor-dosa yang meng-korupsi dosa-dosa lewat ritual penghapusan dosa ataupun cuci-dosa dan cuci-uang.

6.) Bisakah Anda sebutkan agama apa saja yang ada di dunia ini?

a. “Agama suci” bagi mereka yang tidak kompromistik terhadap perbuatan buruk, “agama ksatria” bagi mereka berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan buruk mereka sendiri, dan “agama dosa” bagi para pendosawan yang bersikap pengecut karena mengandalkan ideologi korup bernama ritual penghapusan dosa;

b. Agama-nya Allah dan agamanya kaum kafir.

7.) Apa pendapat Anda bila ada agama yang menawarkan dogma atau iming-iming penghapusan, pengampunan, atau penebusan dosa?

a. Juru-selamat bagi pendosa, sama artinya juru-petaka bagi korban. Kabar gembira bagi pelaku kejahatan, sama artinya kabar duka bagi kalangan korban;

b. Itu adalah nabi juru-selamat.

8.) Tuhan lebih PRO kepada siapa?

a. Korban, dengan tidak memasukkan seorang pun penjahat ke alam surgawi. Itulah sebabnya, dunia ini tidak butuh “nabi”. Sebelum agama samawi lahir, orang baik otomatis masuk surga dan orang jahat otomatis masuk neraka. Kini, setelah agama samawi lahir, yang terjadi justru sebaliknya;

b. Pendosa yang mencandu doa-doa penghapusan dosa, sehingga bisa berharap terjamin masuk surga sekalipun dalam keseharian sibuk mengoleksi dan memproduksi segudang hingga segunung dosa-dosa dan maksiat. Karena, lawan kata dari “pengampunan dosa” ialah “keberanian untuk bertanggung-jawab dan menerima konsekuensi dibaliknya”.

8.) Apa menurut penilaian Anda mengenai babi dan ideologi penghapusan dosa?

a. Babi adalah ciptaan Tuhan, bagaimana mungkin meng-haram-najis-kan ciptaan Tuhan? Itu sama artinya mengharam-najis-kan sang Pencipta yang telah menciptakan si babi. Bukankah katanya, Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak ada gunanya?

b. Babi, HARAM. Penghapusan dosa, HALAL LIFESTYLE—meskipun semua orang tahu, bahwa hanya seorang pendosa yang membutuhkan penghapusan dosa.

9.) Manakah yang lebih berbahaya, ideologi komun!sme ataukah agama samawi-abrahamik?

a. Komun!sme tidak mengajarkan pengikutnya untuk mencium-cium foto sang tokoh pencetus ideologi, juga tidak mengajarkan penghapusan dosa bagi sang pendosawan;

b. Tentu saja komun!sme, meskipun kini kami, umat agama samawi, tidak lagi takut masuk neraka karena yakin telah terjamin masuk surga, meskipun dalam keseharian kami sibuk berbuat dosa dan maksiat agar bisa berlomba-lomba memohon penghapusan dosa.

10.) Apakah mungkin, seseorang kembali ke fitri (kembali fitrah) lewat ritual penghapusan dosa?

a. Karma Buruk tidak bisa dihapus, hutang karma harus tetap dibayar dan dihadapi konsekuensinya. Menjadi kejahatan yang kedua, ketika sang penjahat merampas hak keadilan dari korban. Yang ada ialah menjelma “koruptor dosa”, alih-alih “kembali suci” lewat doa-doa permohonan penghapusan dosa. “Dosa-dosa untuk dihapuskan” adalah bundling dengan “doa-doa permohonan penghapusan dosa”. Yang berdoa memohon penghapusan dosa, tentunya perlu didahului dengan berbuat dosa, untuk sepanjang hidupnya. Jika tidak, maka ibarat meminta maaf terlebih dahulu, baru kemudian berbuat kejahatan.

b. Allah sudah berfirman, “Wahai umat manusia, mengapa engkau meng-haram-kan apa yang telah Allah halal-kan bagimu?” Allah justru mempromosikan penghapusan dosa, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa-dosa dan maksiat. Jika tidak ada iming-iming dogma penghapusan dosa, tidak akan mau umat manusia memeluk agama yang disukai para pendosawan tersebut.

11.) Bagaimana pandangan Anda, terhadap dogma-dogma seperti “menikah adalah pintu rezeki” dan “banyak anak adalah banyak rezeki”?

a. Motif sang bapak melahirkan banyak anak, dalam rangka mempertebal isi kantung saku sang ayah. Kaum hewan pun kawin dan beranak-pinak tanpa perlu disuruh. Manusia bukan hewan yang hanya bisa tunduk pada insting kehewanan;

b. Kodratnya manusia diciptakan untuk berkembang biak, meskipun saya sadar sepenuhnya bahwa orang jahat kodratnya masuk ke neraka, bukan ke surga.

12.) Bagaimana pandangan Anda mengenai upaya dan niat batin Abraham / Ibrahim yang sudah melakukan perbuatan permulaan untuk menyembelih / merampas nyawa anak kandungnya sendiri, Ishaq / Ismail?

a. Ayah yang baik, akan memilih untuk dilempar ke neraka demi menebus nyawa sang anak terkasih. Ayah yang egois, demi EGO agar dapat bersetubuh dengan puluhan bidadari ke kerajaan Allah dan demi bisa bersenang-senang di alam surgawi, tega menumbalkan anak kandung sendiri. Dukun-dukun jahat ilmu hitam, paling suka memakai dongeng tercela tersebut untuk menawarkan praktek pesugihan bagi kalangan ayah semacam itu.

b. Tuhan yang menciptakan manusia, itu hak Tuhan sekalipun otoriter dan diktator.

13.) Bagaimana penilaian Anda, terhadap sikap Ismail / Ishaq yang pasrah dan menyetujui perbuatan ayah kandungnya sendiri—yakni Abraham / Ibrahim—aketika telah melakukan perbuatan permulaan untuk menyembelih / merampas hidup sang anak?

a. Perbuatan baik artinya, tidak merugikan orang lain dan juga tidak merugikan diri sendiri. Perbuatan buruk artinya, tidak merugikan orang lain namun membiarkan diri dirugikan atau bahkan merugikan diri sendiri.

b. Itu adalah cerminan iman yang sudah setebal tembok beton yang tidak tembus oleh cahaya ilahi manapun.

Dalam tiap-tiap kasus—aktivitas Tuhan pencipta (THEISTIK) ataupun tanpa-penyebab (ATEIS)—para pelaku menghindari tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka, serta keduanya sama-sama merupakan pandangan “ekstrem” yang ditolak dalam Buddhisme, dimana Sang Buddha untuk itu telah pernah bersabda: [dikutip dari khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press]

 “Para bhikkhu, ada tiga doktrin sektarian ini yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat. Apakah tiga ini?

(1) “Ada, para bhikkhu, beberapa petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan di masa lalu.’

(2) Ada para petapa dan brahmana lainnya yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta.’

(3) Dan ada para petapa dan brahmana lain lagi yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu sebab atau kondisi.’

“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya terjadi tanpa suatu sebab atau kondisi,’ dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau begitu, adalah tanpa suatu penyebab atau kondisi maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.’

Mereka yang mengandalkan ketiadaan penyebab dan kondisi sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke tiga atas para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.

“Kemudian, para bhikkhu, Aku mendatangi para petapa dan brahmana itu yang menganut doktrin dan pandangan seperti ini: ‘Apa pun yang dialami orang ini – apakah menyenangkan, menyakitkan, atau bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan – semuanya disebabkan oleh aktivitas Tuhan pencipta,’ Dan Aku berkata kepada mereka: ‘Benarkah bahwa kalian para mulia menganut doktrin dan pandangan demikian?’ Ketika Aku menanyakan hal ini kepada mereka, mereka menegaskannya. Kemudian Aku berkata kepada mereka: ‘Kalau begitu, adalah karena aktivitas Tuhan pencipta maka kalian mungkin melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan aktivitas seksual, berbohong, mengucapkan kata-kata yang memecah-belah, berkata kasar, bergosip; maka kalian mungkin penuh kerinduan, memiliki pikiran berniat buruk, dan menganut pandangan salah.’

Mereka yang mengandalkan aktivitas Tuhan pencipta sebagai kebenaran mendasar tidak memiliki keinginan [untuk melakukan] apa yang harus dilakukan dan [untuk menghindari melakukan] apa yang tidak boleh dilakukan, juga mereka tidak berusaha dalam hal ini. Karena mereka tidak memahami sebagai benar dan sah segala sesuatu yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, maka mereka berpikiran kacau, mereka tidak menjaga diri mereka sendiri, dan bahkan sebutan personal sebagai ‘petapa’ tidak dapat dengan benar ditujukan kepada mereka. Ini adalah bantahan logisKu yang ke dua atas para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan demikian.

“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga doktrin sektarian itu yang, ketika dipertanyakan, diinterogasi, dan didebat oleh para bijaksana, dan dibawa menuju kesimpulan mereka, akan berakhir dalam tidak berbuat.”

Lebih lanjut, Sang Buddha telah pernah bersabda: [dikutip dari Dhammapada dan Aguttara Nikāya]

316. Barangsiapa malu terhadap hal tak memalukan, tidak malu terhadap hal memalukan; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.

317. Juga, barangsiapa takut terhadap hal tak menakutkan, tidak takut terhadap hal menakutkan; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.

318. Barangsiapa menganggap tercela terhadap hal tak tercela, menganggap tak tercela terhadap hal tercela; mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.

319. Sebaliknya, barangsiapa menyadari hal tercela sebagai yang tercela, menyadari hal tak tercela sebagai yang tak tercela; mereka yang memegang pandangan benar itu akan menuju ke alam bahagia.

~0~

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1) “Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2) “Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.

~0~

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seseorang ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini?

(1) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia memuji seorang yang layak dicela.

(2) Tanpa menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji.

~0~

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang bhikkhu tuan rumah ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana. Apakah lima ini?

(1) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela seorang yang layak dicela.

(2) Setelah menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji.

Bukankah mengherankan, ketika kita mengamati fenomena sosial dimana seseorang yang rajin ritual sembah sujud lima kali dalam sehari, disebut sebagai “sedang beribadah” atau “agamais”. Sementara itu, orang-orang baik yang dalam keseharian senang berbuat kebaikan, menghindari perbuatan buruk, dan berlatih disiplin diri yang ketat bernama “self-control” atau mawas diri, dipandang sebagai “tidak sedang beribadah” dan bukan tergolong kaum “agamais”.

Itulah bila kita meminjam perspektif kaum pendosawan pemeluk “Agama DOSA yang bersumber dari Kitab DOSA”, sehingga tidak satu frekuensi dengan mereka pemeluk “Agama SUCI” maupun kaum ksatria pemeluk “Agama KSATRIA”, dimana ibadah dalam Buddhisme ialah berupa:

Ovada Patimokkha

Sabbapāpassa akaraa

Kusalassa upasampadā

Sacittapariyodapana

Eta buddhāna sāsana.

Khantī parama tapo titikkhā

Nibbāa parama vadanti buddhā

Na hi pabbajito parūpaghātī

Samao hoti para vihehayanto.

Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca savaro

Mattaññutā ca bhattasmi, pantañca sayanāsana

Adhicitte ca āyogo, eta buddhāna sāsana.

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,

senantiasa mengembangkan kebajikan

dan membersihkan batin;

inilah Ajaran Para Buddha.

Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.

“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para Buddha.

Dia yang masih menyakiti orang lain

sesungguhnya bukanlah seorang pertapa (samana).

Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri sesuai peraturan,

memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi

serta giat mengembangkan batin nan luhur; inilah Ajaran Para Buddha.

[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]

Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal akhlak, hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week