Pengorbanan dalam Buddhisme Vs. Pengorbanan dalam Islam, Saling Bertolak-Belakang : Pengorbanan TANPA DARAH Vs. Pengorbanan PENUH PERTUMPAHAN DARAH

Mengapa Umat Muslim “HAUS DARAH” (Suka Menyelesaikan Setiap Masalah dengan Kekerasan Fisik)? Ajaran Islam yang “HAUS PERTUMPAHAN DARAH” adalah Akar Muasal Penyebabnya

Semua Muslim adalah “Juru Sembelih Halal”, HALAL MENUMPAHKAN DARAH NONMUSLIM dan MERAMPAS HARTA MEREKA

Mereka yang Melakukan Pembunuhan dan Mereka yang Menghindari Pembunuhan, Nasibnya akan Berbeda. Ciri-Ciri Hidup Seseorang, Menentukan Nasib Hidupnya.

Question: Selalu saya merasa bahwa islam adalah agama primitif bagi orang-orang primitif, baik otak maupun budayanya. Para muslim beralibi, hewan diciptakan oleh Allah untuk dimakan oleh manusia. Kalau begitu, mengapa hewan-hewan ternak tersebut tidak disiksa saja sebelum disembelih, toh hanya objek “pemuas nafsu manusia”? Apakah hewan-hewan malang tersebut di alam baka harus berkata kepada yang menyembelih mereka, “Terus, kami harus bilang ‘terimakasih’ gitu, karena kami tidak disiksa seumur hidup sampai mati tua di kandang, namun harta terbesar kami, yakni NYAWA kami, dirampas lewat disembelih?”

Hanya orang dungu, yang tidak menyadari bahwa hewan-hewan tersebut bisa merasakan aura emosi (getaran pikiran) kawannya pernah disembelih oleh pisau jagal tersebut, bau darah menjadi partikel mikro yang memenuhi atmosfer udara, suara jeritan ketakutan dan derita sesama kaumnya, sehingga tidak jarang kambing atau kerbau akan meronta kuat saat akan disembelih. Sapi menangis, sekalipun belum melihat pisau jagal. Ia tahu, dirinya akan dibunuh, demi memuaskan perut para muslim. Itu penyiksaan batin sebelum dibunuh. Membunuh adalah membunuh, itu artinya merampas hak hidup makhluk hidup lainnya yang ingin hidup dan bisa merasa sakit karenanya akan melarikan diri ketika disakiti, dimana merampas nyawa makhluk hidup lain adalah jahat sifatnya.

Yang paling membuat saya merasa heran selama ini, ada istilah “juru sembelih HALAL”, yang artinya halal hukumnya bagi umat islam untuk merampas hidup makhluk hidup lainnya, bahkan menyebutkan ayat-ayat kitab agamanya sewaktu menyembelih, menumpahkan darah, dan merampas nyawa makhluk hidup lain yang ingin hidup, bisa merasa sakit, dan telah bertahun-tahun berjuang untuk bisa tetap hidup. Saking haus darahnya mereka akibat dogma agama mereka, mereka bahkan menyatakan tidak mau menjadikan ikan sebagai hewan kurban, tidak ada “pertumpahan darah” atau tidak ada “darah yang tumpah dan menggenangi lantai”, begitu kata mereka. Dari catatan sejarah kita dapat membaca, bahwa hanya SATAN yang ritualnya dipenuhi pertumpahan darah atau menjadikan darah sebagai bagian dari ritualnya.

Apakah mereka, para “haus darah” itu pun, akan menyembelih kaum NONmuslim yang mereka kafir-kafirkan dengan menjalankan perintah Allah dalam Hadist Tirmidzi No. 2533 : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan  tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad rasul Allah, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” Apakah artinya seluruh muslim merupakan “juru sembelih halal”, bila menjalankan PERINTAH Allah tersebut? Muslim selalu mengklaim sebagai agama “cinta damai”, namun berkelit setiap kali saya meminta mereka membuat penafsiran bahwa ajaran demikian adalah “damai” adanya.

Beberapa kali terjadi, para muslim menyembelih hewan ternak di halaman depan rumah kami, tanpa izin pemilik rumah. Darahnya kemudian membekas dan berbau busuk. Kami yang akhirnya direpotkan membersihkan dan jadi buruk “feng shui” rumah kami karena penuh aura negatif berupa emosi ketakutan dan kematian ternak yang ekstrem bernama penyembelihan. Para muslim pergi begitu saja setelah mengotori halaman depan kediaman kami, asyik berpesta, dengan menyembelih hewan kurban tanpa izin di halaman depan rumah kami lalu meninggalkannya tanpa tanggung-jawab apapun. Apapun seolah menjadi “halal” bila mengatas-namakan “ibadah”-nya orang-orang “haus darah” tersebut. Untuk beribadah saja mereka merugikan dan mengganggu orang lain, bagaimana perilaku mereka terhadap orang lain ketika tidak sedang beribadah?

Tidak heran mereka begitu kecanduan “pengampunan dosa”, setiap hari dan setiap tahun doa-doanya berisi pengharapan agar dosa-dosa mereka yang menggunung dihapuskan. Begitu produktif mereka memproduksi dan mengoleksi dosa, tidak terkecuali bersimbah lautan darah ternak yang mereka rampas nyawanya. Gilanya, kita yang tidak ikut “haus darah” seperti mereka, disebut sebagai “kaum yang merugi”. Merugi karena tidak ikut-ikutan menyembelih dan menumpahkan darah orang lain maupun makhluk hidup lainnya? Pendosa pecandu penghapusan dosa, namun hendak menceramahi orang lain perihal mana yang baik dan buruk, mana yang suci dan tercela, sungguh menyerupai orang buta yang hendak menuntun orang-orang buta lainnya. Neraka pun diyakini sebagai surga, dan berbondong-bondong mereka terperosok ke dalam jurang nista demikian. Percuma saja memberi tahu mereka, bahwa cara memuliakan Tuhan ialah dengan menjadi “manusia yang mulia”, bukan menjadi “manusia haus darah”.

Setelah saya selidiki asal-muasal budaya “haus pertumpahan darah” ala manusia purbakala primitif semacam itu, telah ternyata agama samawi abrahamik adalah akar penyebabnya, yakni Abraham atau Ibrahim ingin bisa bersenang-senang bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada montok yang selaput dara-nya bisa “didaur-ulang” di surga, karenanya “gelap mata” dan tega menyembelih leher anak kandungnya sendiri, Ismail atau Ishaq. Itu namanya EGO (selfish motive), bukan kasih-sayang selayaknya orangtua kepada anak. Itu namanya KESETANAN, bukan KETUHANAN.

Orangtua yang betul-betul mengasihi anaknya, memilih rela masuk neraka demi menebus nyawa sang anak agar tidak tewas mati-konyol di tangan orangtuanya sendiri, dan anak yang baik tidak membiarkan orangtuanya dibanjiri-basah tangannya oleh darah sang anak. Pada momen itulah, saya menyadari bahwa “At that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR!” Bila kita memelajari sejarah kerajaan-kerajaan di Tiongkok, telah ternyata praktek mengorbankan hewan sebagai bagian ritual, adalah bentuk ritual bangsa primitif yang percaya takhayul, ritual mana mengapa masih diwariskan hingga generasi kini yang katanya sudah beradab? Bahkan saya curiga, praktek jahat semacam ilmu hitam pesug!han, adalah ajaran agama samawi itu sendiri sebagai sumber inspirasi dan justifikasinya. Menumbalkan anak sendiri, disebut ibadah? Itu semua adalah bisikan SATAN, bukan Tuhan. Itu bukan mukjizat Tuhan, namun “BLACK MAGIC”. Tuhan menciptakan dan merawat kehidupan, bukan mematikan kehidupan.

Bila ternyata ada makhluk ber-kecerdasan lebih tinggi daripada ras manusia, apakah artinya manusia menjadi sah dan halal hukumnya disembelih untuk dikonsumsi oleh mereka? Mengapa uang untuk beli ternak kurban, tidak disumbangkan saja sehingga lebih bermanfaat, alih-alih merampas nyawa makhluk hidup lain yang ingin tetap melangsungkan hidup? Hanya seorang psikopat, yang bisa membelai-belai calon korbannya, seolah sayang penuh cinta-kasih, namun telah ternyata niat batinnya ialah untuk menjagal alias membunuh dan menumpahkan darah. Sungguh psikopat yang lebih berbahaya daripada orang gila yang berteriak-teriak di jalanan ingin membunuh orang sembari mengayunkan parang ke udara, setidaknya orang bisa mengambil kewaspadaan dengan menjauh darinya.

Brief Answer: Sang Buddha pernah bersabda, “Perbuatan baik artinya, tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri sendiri.” Ketika para muslim menyembelih hewan-hewan ternak tersebut, itu menjadi simbol atau cermin tidak terbantahkan bahwa Ibrahim memang benar-benar sedang menyembelih leher anaknya sendiri, terlepas apakah betul anaknya, yakni Ismail, betul-betul digantikan tempatnya secara seketika oleh hewan ternak yang tersembelih oleh pisau jagal milik Ibrahim. Bila tidak ditafsirkan / dimaknai demikian, maka tidak akan para muslim menyembelih hewan-hewan kurban tersebut, namun melepaskannya agar hidup bebas di alam liar.

Bila semua hewan diciptakan untuk dimakan oleh manusia, maka mengapa kucing, anjing, babi, laba-laba, gajah, kuda nil, ataupun semacam katak-batu dikonsumsi juga oleh para muslim tersebut? Agama nasrani tidak lebih luhur daripada islam, dimana menurut dogma kristiani, kaum non-kristen adalah “domba yang hilang”, yang ketika berhasil ditemukan oleh yesus maka akan digoreng atau dipanggang oleh yesus untuk ia santap, sebagaimana gilanya Abraham membunuh Ishaq, suatu praktek “kanibalisme jiwa”, dimana nyawa sesama manusia mereka rampas. Ketika terhadap anak sendiri, mereka begitu “haus darah” dan “berdarah dingin”, maka tanyakanlah : bagaimana perilaku mereka terhadap orang lain? Jangan heran bila Anda menemukan manusia-manusia yang dirasuki IBLIS bernama dogma agama samawi yang berisi “bisikan-bisikan SETAN” bagi para “manusia-SETAN”.

PEMBAHASAN:

Pengorbanan agama islam ialah “PENUH PERTUMPAHAN DARAH” yang identik dengan ritual primitif “manusia purba zaman batu”, sementara pengorbanan dalam Buddhisme ialah “TANPA DARAH”, sebagaimana dapat kita jumpai catatan sejarahnya dalam “Khotbah-khotbah Panjang Sang Buddha : Dīgha Nikāya”, judul asli “The Long Discourses of the Buddha : A Translation of the Dīgha Nikāya” terjemahan Bahasa Pāli ke Inggris oleh Maurice Walshe, diterjemahkan dari Inggris ke Indonesia oleh penerbit DhammaCitta Press, 2009, dengan kutipan sebagai berikut:

Sutta 5 : adanta Sutta

Pengorbanan Tanpa Darah

[127] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavà sedang melakukan perjalanan melewati Magadha bersama lima ratus bhikkhu, dan Beliau tiba di sebuah desa Brahmana bernama Khanumata. Dan di sana Beliau menetap di taman Ambalaṭṭhikà. Pada saat itu, Brahmana Kūadanta sedang menetap di Khanumata, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Seniya Bimbisara dari Magadha sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan. Dan Kūadanta merencanakan upacara pengorbanan besar: tujuh ratus ekor sapi, tujuh ratus ekor kerbau, tujuh ratus ekor anak sapi, tujuh ratus ekor kambing jantan, dan tujuh ratus ekor domba yang semuanya diikat di tiang pengorbanan.

[Kitab Komentar : Ada yang mempertimbangkan bahwa itu adalah kisah rekaan. Terlepas dari segalanya, tidak mungkin Brahmana berkonsultasi dengan Sang Buddha, di antara semua orang, tentang bagaimana menyelenggarakan suatu pengorbanan, yang merupakan keterampilan mereka. Tetapi dalam Sayutta Nikāya 3.1.9, kita memiliki kisah dugaan tentang bagaimana Raja Pasenadi dari Kosala merencanakan suatu pengorbanan besar (meskipun hanya 500, bukan 700, sapi, dan lain-lain), dengan komentar Sang Buddha. Dari Komentar tersebut, walaupun tidak ada dalam Text, kita mengetahui bahwa akhirnya menghentikan rencananya. Mungkin Sang Buddha menceritakan kisah ini pada kesempatan itu, dan belakangan diceritakan kembali oleh Raja Kosala kepada seorang Brahmana ‘yang memiliki kekuasaan kerajaan’ yang menetap di sekitar Kerajaan Magadha.]

2. Dan para Brahmana dan perumah tangga Khanumata mendengar berita: ‘Petapa Gotama … sedang menetap di Ambalaṭṭhikà. Dan sehubungan dengan Gotama, Bhagavà Yang Terberkahi, telah beredar berita: “Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, telah menempuh Sang Jalan dengan sempurna, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Bhagavà Yang Terberkahi.” [128] Beliau menyatakan kepada dunia ini dengan para dewa, mara dan Brahmà, para petapa dan Brahmana bersama dengan para raja dan umat manusia, setelah mengetahui dengan pengetahuan-Nya sendiri. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan kata, dan Beliau memperlihatkan kehidupan suci yang sempurna, murni sepenuhnya. Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahat demikian.’ Dan mendengar berita itu, para Brahmana dan perumah tangga, berduyun-duyun meninggalkan Khanumata, berjumlah sangat besar, pergi menuju Ambalaṭṭhikà.

3. Kebetulan saat itu, Kūadanta baru saja naik ke teras rumahnya untuk istirahat siang. Melihat para Brahmana dan perumah tangga berjalan menuju Ambalaṭṭhikà, ia menanyakan alasannya kepada pelayannya. Si pelayan menjawab: ‘Tuan, ini karena Petapa Gotama, sehubungan dengan berita baik yang beredar: “Sang Bhagavà Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, … seorang Buddha, Sang Bhagavà Yang Terberkahi”. Itulah sebabnya, mereka pergi menemui-Nya.’

4. Kemudian Kūadanta berpikir: ‘Aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama memahami tentang bagaimana menyelenggarakan dengan baik upacara pengorbanan tiga tingkat dengan enam belas persyaratannya. Sekarang aku tidak memahami seluruhnya, namun aku ingin melakukan upacara pengorbanan besar. Bagaimana jika [129] aku menemui Petapa Gotama dan bertanya kepada-Nya mengenai persoalan ini.’ Maka ia mengutus pelayannya untuk menemui para Brahmana dan perumah tangga Khànumata dan memohon agar mereka menunggunya.

5. Pada saat itu, beberapa ratus Brahmana sedang berada di Khànumata bermaksud mengambil bagian dalam upacara pengorbananadanta. Mendengar niatnya untuk mengunjungi Petapa Gotama, mereka datang dan bertanya apakah hal itu benar. ‘Demikianlah, Tuan-tuan, aku akan mengunjungi Petapa Gotama.’

6. ‘Tuan, jangan mengunjungi Petapa Gotama, tidaklah pantas engkau melakukan hal itu! Jika Yang Mulia Kūadanta pergi mengunjungi Petapa Gotama, reputasinya akan menurun, dan reputasi Petapa Gotama akan meningkat. Oleh karena itu, tidaklah pantas Yang Mulia Kūadanta mengunjungi Petapa Gotama, melainkan Petapa Gotama yang seharusnya mengunjunginya.’

‘Yang Mulia Kūadanta terlahir mulia, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, keturunan murni hingga tujuh generasi, tidak terputus, kelahiran yang tidak tercela, dan karena itu, seharusnya tidak memenuhi panggilan Petapa Gotama, melainkan Petapa Gotama yang seharusnya memenuhi panggilannya. Yang Mulia Kūadanta memiliki harta kekayaan yang banyak … Yang Mulia Kūadanta seorang terpelajar, ahli dalam mantra-mantra, sempurna dalam Tiga Veda, pembabar yang terampil dalam hal aturan-aturan dan ritual-ritual, ahli suara-suara dan makna-makna dan, ke lima, tradisi oral – seorang penceramah, sangat terampil dalam filosofi alam dan tanda-tanda Manusia Luar Biasa. Yang Mulia Kūadanta tampan, menarik, menyenangkan, memiliki kulit yang indah, dalam bentuk dan penampilan menyerupai Brahmà, tidak ada bagian yang berpenampilan rendah. Ia seorang yang berbudi, moralitasnya meningkat, memiliki moralitas yang meningkat. Ia berbicara dengan baik, menyenangkan dalam berbicara, sopan, dengan pengucapan yang tepat dan jernih, berbicara langsung pada pokoknya. Ia adalah guru dari para guru dari banyak orang, mengajarkan mantra kepada tiga ratus pemuda. Dan banyak anak muda dari berbagai wilayah berharap mempelajari mantra darinya, ingin mempelajarinya darinya. Ia berumur, tua, terhormat, matang dalam usia, jauh melampaui masa mudanya, sedangkan Petapa Gotama hanyalah seorang pemuda dan baru saja pergi menjadi seorang pengembara. Yang Mulia Kūadanta terhormat, dianggap penting, dimuliakan, dipuja, disembah oleh Raja Seniya Bimbisàra dan oleh Brahmana Pokkharasati. Ia menetap di Khanumata, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Seniya Bimbisàra dari Magadha sebagai anugerah kerajaan, dan lengkap dengan kekuasaan kerajaan. [130-131] Oleh karena itu, adalah tidak pantas bagi Yang Mulia Kūadanta untuk mengunjungi Petapa Gotama, melainkan sebaliknya, Petapa Gotama yang seharusnya mengunjungimu.’

7. Kemudian Kūadanta berkata kepada para Brahmana: ‘Sekarang dengarkan, Tuan-tuan, mengapa kita pantas mengunjungi Yang Mulia Gotama, dan mengapa Beliau tidak pantas mengunjungi kita. Petapa Gotama terlahir mulia dari kedua pihak, keturunan murni hingga tujuh generasi, tanpa terputus, kelahiran yang tidak tercela. Oleh karena itu, kita pantas mengunjungi Beliau. Ia pergi meninggalkan keduniawian, meninggalkan sanak saudaranya. Sesungguhnya ia melepaskan banyak sekali emas dan kekayaan lainnya, baik yang tersimpan maupun yang tidak tersimpan. Petapa Gotama, sewaktu muda, adalah seorang pemuda berambut hitam, dalam masa mudanya, dalam tahap pertama kehidupannya, pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah. Meninggalkan orang tuanya yang bersedih, menangis dengan wajah dinodai air mata, setelah mencukur rambut dan janggutnya dan mengenakan jubah kuning, ia menjalani kehidupan tanpa rumah. Ia tampan, … berbudi, … berbicara baik, … guru dari para guru dari banyak orang. Ia telah meninggalkan kenikmatan-indria dan menaklukkan kesombongan. Ia mengajarkan perbuatan dan akibat perbuatan, menghormati kehidupan Brahmana yang tanpa cela. Ia adalah seorang pengembara yang berkelahiran mulia, dari seorang keluarga Khattiya pemimpin. Ia adalah seorang pengembara yang berasal dari keluarga kaya, yang memiliki banyak harta kekayaan. [116] Orang-orang datang untuk berdiskusi dengannya dari kerajaan-kerajaan dan wilayah-wilayah asing. Beribu-ribu Dewa telah menerima perlindungan dari Beliau.’

‘Berita baik telah beredar tentang Beliau: “Sang Bhagavà Yang Terberkahi adalah seorang Arahat, seorang Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna dalam pengetahuan dan perilaku …” (seperti paragraf 2). Ia memiliki tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa. Beliau menyenangkan, kata-katanya baik, ramah, hangat, ucapan-Nya jernih dan spontan. Ia dilayani oleh empat kelompok, dihormati, dihargai dan dipuja oleh mereka. Banyak Dewa dan manusia mengabdi pada-Nya. Kapan saja Ia menetap di suatu kota atau desa, tempat itu tidak akan diganggu oleh makhluk-makhluk bukan manusia. Ia memiliki sekelompok, banyak sekali pengikut, Beliau adalah guru dari banyak orang, Beliau dimintakan pendapat-Nya oleh berbagai pemimpin sekte. Bukanlah cara Petapa Gotama mendapatkan reputasi-Nya, seperti halnya beberapa petapa dan Brahmana, mengenai kepada siapa ini atau itu diberitakan – kemasyhuran Petapa Gotama didasarkan pada pencapaian kebijaksanaan dan perilaku yang tanpa tandingan. Sesungguhnya Raja Seniya Bimbisara dari Magadha telah menyatakan berlindung kepada-Nya, bersama putranya, istrinya, para pengikutnya, dan para menterinya. Demikian pula Raja Pasenadi dari Kosala, dan Brahmana Pokkharasati. Ia dihormati, dimuliakan, dihargai, dan dipuja oleh mereka.’ [117]

‘Petapa Gotama telah tiba di Khànumata dan sedang menetap di Ambalaṭṭhikà. Dan petapa dan Brahmana mana pun yang datang ke wilayah kita adalah tamu kita. Dan kita harus menghormati, memuliakan, menghargai, dan memuja tamu. Setelah datang ke Ambalaṭṭhikà, Petapa Gotama adalah tamu, dan harus diperlakukan sebagai tamu. Oleh karena itu, tidaklah pantas jika Beliau mengunjungi kita, melainkan sebaliknya, kita yang harus mengunjungi Beliau. Betapa pun banyaknya aku memuji Petapa Gotama, pujian itu tidaklah cukup, Beliau melampaui segala pujian.’ [132-133]

8. Mendengar hal ini, para Brahmana berkata: ‘Tuan, karena engkau begitu memuji Petapa Gotama, maka bahkan jika Beliau berada seratus yojana jauhnya dari sini, adalah pantas bagi mereka yang berkeyakinan untuk pergi dengan membawa tas bahu untuk mengunjungi Beliau, marilah kita semua pergi mengunjungi Petapa Gotama.’ Dan demikianlah Kūadanta pergi bersama sejumlah besar Brahmana menuju Ambalaṭṭhikà. Ia mendekati Sang Bhagavà, [134] saling bertukar sapa dengan Beliau, dan duduk di satu sisi. Beberapa Brahmana dan perumah tangga Khànumata bersujud kepada Sang Bhagavà, beberapa memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya, beberapa menyebutkan nama dan suku mereka, dan beberapa duduk di satu sisi dan berdiam diri.

9. Duduk di satu sisi, Kūadanta berkata kepada Sang Bhagavà: ‘Yang Mulia Gotama, aku telah mendengar bahwa engkau memahami bagaimana menyelenggarakan dengan baik upacara pengorbanan tiga tingkat dengan enam belas persyaratannya. Sekarang aku tidak memahami seluruhnya, namun aku ingin melakukan upacara pengorbanan besar. Baik sekali jika Petapa Gotama sudi menjelaskannya kepadaku.’ ‘Dengarkanlah, Brahmana, perhatikanlah dengan saksama dan Aku akan menjelaskan.’ ‘Ya, Yang Mulia,’ Kūadanta berkata, dan Sang Bhagavà berkata:

10. ‘Brahmana, pada suatu masa, ada seorang raja yang bernama Mahavijita. Ia kaya, memiliki banyak harta kekayaan, dengan emas dan perak yang berlimpah, harta benda dan barang-barang kebutuhan, dan uang, dengan gudang harta dan lumbung yang penuh. Dan ketika Raja Mahavijita sedang bersenang-senang sendirian, ia berpikir: “Aku memiliki sangat banyak kekayaan, aku memiliki tanah yang sangat luas yang kutaklukkan. Seandainya sekarang aku menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, apakah itu akan memberikan manfaat dan kebahagiaan untuk waktu yang lama?” dan ia memanggil Brahmana-kerajaan, dan menceritakan pemikirannya. [135] “Aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Instruksikan aku, Yang Mulia, bagaimana langkahnya demi manfaat dan kebahagiaan bagiku untuk waktu yang lama.”’

[Kitab Komentar : Purohita, Brahmana-kerajaan. ‘Kepala-Brahmana Raja (brahmanis), atau Brahmana-kerajaan domestik, bertindak seperti seorang Perdana Menteri’.]

11. ‘Si Brahmana-kerajaan menjawab: “Negeri Baginda diserang oleh para pencuri, dirusak, desa-desa dan kota-kota sedang dihancurkan, perbatasan dikuasai oleh perampok. Jika Baginda mengutip pajak atas wilayah itu, itu adalah suatu kesalahan. Jika Baginda berpikir: ‘Aku akan melenyapkan gangguan para perampok ini dengan mengeksekusi dan hukuman penjara, atau dengan menyita, mengancam, dan mengusir’, gangguan ini tidak akan berakhir. Mereka yang selamat kelak akan mengganggu negeri Baginda. Namun dengan rencana ini, engkau dapat secara total melenyapkan gangguan ini. Kepada mereka yang hidup di dalam kerajaan ini, yang bermata pencaharian bertani dan beternak sapi, Baginda akan membagikan benih dan makanan ternak; kepada mereka yang berdagang, akan diberikan modal; yang bekerja melayani pemerintahan akan menerima upah yang sesuai. Maka orang-orang itu, karena tekun pada pekerjaan mereka, tidak akan mengganggu kerajaan ini. Penghasilan Baginda akan bertambah, negeri ini menjadi tenang dan tidak diserang oleh para pencuri, dan masyarakat dengan hati yang gembira, akan bermain dengan anak-anak mereka, dan akan menetap di dalam rumah yang terbuka.”’

‘Dan dengan mengatakan: “Jadilah demikian!” raja menerima nasihat si Brahmana-kerajaan: ia memberikan benih dan makanan ternak, memberikan modal kepada yang berdagang … upah yang sesuai … dan masyarakat dengan hati gembira … menetap di dalam rumah yang terbuka.’

12. ‘Kemudian Raja Mahavijita memanggil si Brahmana dan berkata: “Aku telah melenyapkan gangguan para perampok; menuruti rencanamu, pendapatanku bertambah, negeri ini tenang dan tidak diserang oleh para pencuri, dan masyarakat dengan hati yang gembira bermain dengan anak-anak mereka dan menetap di dalam rumah yang terbuka. Sekarang aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Instruksikan aku bagaimana cara menyelenggarakannya agar memberikan manfaat dan kebahagiaan kepadaku untuk waktu yang lama.” “Untuk hal ini, Baginda, engkau harus memanggil para Khattiya dari kota-kota dan desa-desa, para penasihatmu, para Brahmana yang paling berpengaruh, dan para perumah tangga kaya di negerimu ini, dan katakan pada mereka: ‘Aku ingin menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Bantu aku, Tuan-tuan, agar ini memberikan manfaat dan kebahagiaan kepadaku untuk waktu yang lama.’”’

‘Raja menyetujui, dan [137] melakukan instruksi tersebut. “Baginda, pengorbanan dapat dimulai, sekarang adalah waktunya. Empat kelompok penerima ini akan menjadi pelengkap dalam pengorbanan ini.’

[Kitab Komentar : Empat kelompok tersebut yakni : khattiya, penasihat, Brahmana, dan perumah tangga.]

13. ‘“Raja Mahavijita memiliki delapan hal. Ia terlahir mulia dari kedua belah pihak, kelahiran yang tanpa cela. Ia tampan, menarik, menyenangkan, memiliki kulit yang indah, dalam bentuk dan penampilan menyerupai Brahma, tidak ada bagian yang berpenampilan rendah. Ia kuat, memiliki empat kesatuan bala tentara yang setia, dapat diandalkan, meningkatkan reputasinya di antara musuh-musuhnya. Ia adalah seorang pemberi dan tuan rumah yang bertanggung jawab, tidak menutup pintu terhadap para petapa, Brahmana dan pengembara, para pengemis dan mereka yang membutuhkan – sebuah mata air kebajikan. Ia sangat terpelajar dalam hal apa yang harus dipelajari. Ia memahami makna dari apa pun yang dikatakan, dengan mengatakan: ‘Ini adalah apa yang dimaksudkan.’ Ia terpelajar, sempurna, bijaksana, kompeten untuk menikmati manfaat-manfaat di masa lampau, masa depan, dan masa sekarang. Raja Mahavijita memiliki delapan hal ini. Ini merupakan perlengkapan untuk upacara pengorbanan.’

[Kitab Komentar : “empat kesatuan bala tentara” terdiri dsari pasukan gajah, pasukan kuda, pasukan kereta, pasukan berjalan kaki.

Dengan mengetahui cara kerja kamma: nasib baik saat ini disebabkan oleh kamma masa lampau, dan perbuatan baik yang dilakukan saat ini akan menghasilkan akibat yang sama di masa depan—itulah makna kalimat “manfaat-manfaat di masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”.]

[138] 14. ‘“Brahmana kerajaan memiliki empat hal. Ia terlahir mulia …. Ia terpelajar, ahli dalam mantra-mantra …. Ia berbudi, moralitasnya meningkat, memiliki moralitas yang meningkat. Ia terpelajar, sempurna dan bijaksana, dan merupakan yang pertama atau ke dua dalam memegang sendok pengorbanan. Ia memiliki empat hal ini. Ini merupakan perlengkapan untuk upacara pengorbanan.’

15. ‘Kemudian, sebelum pengorbanan, si Brahmana mengajarkan tiga syarat kepada Sang Raja. “Mungkin Baginda merasa menyesal akan upacara pengorbanan ini: ‘Aku akan kehilangan banyak kekayaan’, atau selama upacara: ‘Aku sedang kehilangan banyak kekayaan’, atau setelah upacara: ‘aku telah kehilangan banyak kekayaan.’ Jika demikian, maka Baginda tidak boleh merasa menyesal.”’

16. ‘Kemudian, sebelum pengorbanan, si Brahmana melenyapkan kecemasan Sang Raja dalam sepuluh kondisi untuk si penerima: “Yang Mulia, akan tiba dalam upacara pengorbanan ini, mereka yang melakukan pembunuhan dan mereka yang menghindari pembunuhan. Kepada mereka yang melakukan pembunuhan, biarkanlah mereka; tetapi kepada mereka yang menghindari pembunuhan akan mendapatkan pengorbanan yang berhasil dan akan bergembira dalam pengorbanan ini, dan hati mereka akan tenang. Akan tiba dalam upacara pengorbanan ini, mereka yang mengambil apa yang tidak diberikan dan mereka yang menghindari apa yang tidak diberikan, mereka yang menikmati hubungan seksual yang salah dan mereka yang menghindari hubungan seksual yang salah, mereka yang mengucapkan kebohongan dan mereka yang menghindari mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, kasar dan kata yang tidak berguna, [139] mereka yang serakah dan yang tidak, mereka yang menyimpan rasa benci dan yang tidak, mereka yang berpandangan salah dan yang tidak. Kepada mereka yang berpandangan salah, maka biarkanlah mereka; tetapi kepada mereka yang berpandangan benar akan mendapatkan pengorbanan yang berhasil dan akan bergembira dalam pengorbanan ini, dan hati mereka akan tenang.” Demikianlah sang Brahmana melenyapkan keraguan Raja dalam sepuluh kondisi.’

17. ‘Demikianlah sang Brahmana menginstruksikan Raja yang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar dengan enam belas alasan, mendesaknya, menginspirasinya, dan menggembirakan hatinya. “Orang-orang akan berkata: ‘Raja Mahavijita sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, tetapi ia tidak mengundang para Khattiya-nya …, para penasihatnya, para Brahmana yang paling berpengaruh, dan para perumah tangga kaya ….’ Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya, karena Raja telah mengundang mereka. Dengan demikian, Raja akan mengetahui bahwa ia akan mendapatkan upacara pengorbanan yang berhasil dan bergembira karenanya, dan hatinya menjadi tenang. Atau seseorang akan berkata: ‘Raja Mahavijita sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar, tetapi ia tidak terlahir mulia dari kedua pihak .…’ [140] Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya …. Atau seseorang akan berkata: ‘Sang Brahmana Kerajaan tidak terlahir mulia .…’ [141] Tetapi kata-kata tersebut tidak sesuai dengan yang sebenarnya.” Demikianlah sang Brahmana menginstruksikan Sang Raja dalam enam belas alasan ….’

18. ‘Dalam upacara pengorbanan ini, Brahmana, tidak ada kerbau yang disembelih, tidak ada kambing atau domba, tidak ada ayam dan babi, tidak juga berbagai makhluk hidup yang dibunuh, juga tidak ada pohon yang ditebang sebagai tiang pengorbanan, juga tidak ada rumput yang dipotong sebagai rumput pengorbanan, dan mereka yang disebut budak atau pelayan atau pekerja tidak bekerja karena takut akan pukulan atau ancaman, mereka tidak menangis atau bersedih. Tetapi mereka yang ingin melakukan sesuatu akan melakukannya, dan mereka yang tidak ingin melakukan tidak melakukannya; mereka melakukan apa yang mereka inginkan; dan tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Pengorbanan itu diselenggarakan dengan ghee, minyak, mentega, dadih, madu, dan sirup.’ [142]

19. ‘Kemudian, Brahmana, para Khattiya …, para menteri dan penasihat, para Brahmana berpengaruh, para perumah tangga dari desa dan kota, setelah menerima cukup penghasilan, mendatangi Raja Mahavijita dan berkata: “Kami membawa cukup banyak harta kekayaan, Baginda, terimalah.” “Tetapi, Tuan-tuan, aku telah mengumpulkan cukup banyak kekayaan. Apa pun yang tersisa boleh kalian ambil.”’

‘Atas penolakan raja itu, mereka pergi ke satu sisi dan berdiskusi: “Tidaklah pantas bagi kita untuk membawa pulang harta ini ke rumah kita. Raja sedang menyelenggarakan upacara pengorbanan besar. Marilah kita mengikuti teladannya.”’

20. ‘Kemudian para Khattiya meletakkan persembahan mereka di sebelah timur dari ceruk pengorbanan, para penasihat meletakkan di sebelah selatan, para Brahmana di sebelah barat dan para perumah tangga kaya di sebelah utara. Dalam pengorbanan ini, tidak ada kerbau yang disembelih, tidak ada kambing atau domba, tidak ada ayam dan babi, juga tidak ada makhluk hidup apa pun yang dibunuh, juga tidak ada pohon yang ditebang sebagai tiang pengorbanan, juga tidak ada rumput yang dipotong sebagai rumput pengorbanan, dan mereka yang disebut budak atau pelayan atau pekerja tidak bekerja karena takut akan pukulan atau ancaman, mereka tidak menangis atau bersedih, mereka yang ingin melakukan sesuatu akan melakukannya, dan mereka yang tidak ingin melakukan tidak melakukannya; mereka melakukan apa yang mereka inginkan; dan tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan. Pengorbanan itu diselenggarakan dengan ghee, minyak, mentega, dadih, madu, dan sirup. [143] Demikianlah ada empat kelompok penerima, dan Raja Mahavijita memiliki delapan hal, dan Brahmana Kerajaan memiliki empat hal dalam tiga syarat. Ini, Brahmana, disebut pengorbanan besar yang berhasil dalam enam belas tingkat dan tiga syarat.’

21. Mendengar kata-kata ini, para Brahmana berteriak keras dan berisik: ‘Sungguh suatu pengorbanan yang megah! Sungguh suatu cara yang megah dalam melakukan pengorbanan!’ tetapi Kūadanta tetap duduk diam. Dan para Brahmana menanyakan kepadanya mengapa ia tidak bersorak mendengar kata-kata indah dari Petapa Gotama. Ia menjawab: ‘Bukannya aku tidak gembira mendengarnya. Kepalaku akan pecah menjadi tujuh keping jika aku tidak gembira mendengarnya. Tetapi aku heran bahwa Petapa Gotama tidak mengatakan: “Aku mendengar bahwa”, atau “Ini pasti seperti ini”, tetapi Beliau mengatakan: “Kejadiannya seperti ini atau seperti itu pada waktu itu.” Dan karena itu, aku merasa bahwa Petapa Gotama pada waktu itu adalah mungkin Raja Mahavijita, yang menyelenggarakan pengorbanan, atau si Brahmana Kerajaan yang memimpin upacara pengorbanan itu untuknya. Apakah Yang Mulia Gotama mengakui bahwa Beliau menyelenggarakan, atau memimpin upacara pengorbanan besar itu, dan sebagai akibatnya, setelah kematiannya, setelah hancurnya jasmani, Beliau terlahir di alam yang baik, alam surgawi?’ ‘Aku mengakuinya, Brahmana. Aku adalah Brahmana kerajaan yang memimpin upacara pengorbanan.’

22. ‘Dan, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan yang lain yang lebih sederhana, yang lebih mudah, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada tiga tingkat pengorbanan dengan enam belas syarat tersebut?’ [144] ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Di mana pun pemberian rutin dari suatu keluarga yang diberikan kepada para petapa yang berbudi, ini merupakan pengorbanan yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada itu.’

23. ‘Mengapa, Yang Mulia Gotama, dan karena alasan apakah itu lebih baik?’

‘Brahmana, Tidak ada Arahat atau mereka yang telah mencapai Jalan Arahat akan menerima pengorbanan ini. Mengapa? Karena melihat penganiayaan dan pembunuhan, maka mereka tidak menerima. Tetapi mereka akan menerima pengorbanan berupa pemberian rutin dari suatu keluarga yang diberikan kepada para petapa yang berbudi, karena tidak ada penganiayaan dan pembunuhan. Itulah sebabnya, jenis pengorbanan ini lebih berbuah dan lebih bermanfaat.’

24. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada [145] yang sebelumnya itu?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja yang menyediakan tempat tinggal bagi Sangha yang datang dari empat penjuru, itu merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat.’

25. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada tiga ini?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja dengan hati yang tulus berlindung pada Buddha, Dhamma, dan Sangha, itu merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat daripada [146] tiga yang sebelumnya.’

26. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada empat ini?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, jika siapa saja dengan hati yang tulus melaksanakan sila – menghindari membunuh makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, hubungan seksual yang salah, kebohongan, dan meminum minuman keras dan obat-obatan yang mengakibatkan lemahnya kesadaran - itu merupakan pengorbanan yang lebih bermanfaat daripada empat yang sebelumnya.’

27. ‘Tetapi, Yang Mulia Gotama, adakah pengorbanan lain yang lebih bermanfaat daripada lima ini?’ ‘Ada, Brahmana.’

‘Apakah itu, Yang Mulia Gotama?’ ‘Brahmana, seorang Tathàgata telah muncul di dunia ini, seorang Arahat, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang Sempurna, telah sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, penjinak manusia yang harus dijinakkan yang tiada bandingnya, Guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Terberkahi. Beliau, setelah mencapainya dengan pengetahuan-Nya sendiri, menyatakan kepada dunia bersama para dewa, mara dan Brahma, para raja dan umat manusia. Beliau membabarkan Dhamma, yang indah di awal, indah di pertengahan, indah di akhir, dalam makna dan kata, dan menunjukkan kehidupan suci yang sempurna dan murni sepenuhnya. Seorang siswa pergi meninggalkan keduniawian dan mempraktikkan moralitas,’

‘Dhamma ini didengar oleh seorang perumah tangga atau putra perumah tangga, atau seorang yang terlahir dalam suatu keluarga atau lainnya. Setelah mendengar Dhamma ini, ia mendapatkan keyakinan dalam Sang Tathàgata. Setelah mendapatkan keyakinan, ia merenungkan: “Kehidupan rumah tangga adalah tertutup dan kotor, kehidupan tanpa rumah adalah bebas bagaikan udara. Tidaklah mudah, menjalani kehidupan rumah tangga, untuk hidup suci yang sempurna, murni dan mengkilap bagaikan kulit kerang. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning dan pergi dari kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah!” dan setelah beberapa waktu, ia meninggalkan hartanya, kecil atau besar, meninggalkan sanak saudaranya, kecil atau besar, mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning dan pergi menjalani kehidupan tanpa rumah.’

‘Dan setelah pergi, ia berdiam terkendali oleh pengendalian aturan-aturan, berperilaku benar, melihat bahaya dalam kesalahan yang paling kecil, melaksanakan komitmen yang telah ia ambil sehubungan dengan jasmani, ucapan, dan pikiran, bersungguh-sungguh dalam kehidupan murni dan terampil, sempurna dalam moralitas, dengan pintu-pintu indria terjaga, terampil dalam kesadaran dan merasa puas.’

‘Dan bagaimanakah, Brahmana, apakah seorang bhikkhu sempurna dalam moralitas? Tidak melakukan pembunuhan, ia berdiam menjauhi pembunuhan, tanpa tongkat atau pedang, cermat, berbelas kasihan, tergerak demi kesejahteraan semua makhluk hidup. Demikianlah ia sempurna dalam moralitas. Menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, … menghindari ketidaksucian, … (dan seterusnya untuk seluruh tiga bagian moralitas seperti pada Sutta 1, paragraf 1.8-27). Seorang bhikkhu menghindari keterampilan dan penghidupan salah demikian. Demikianlah ia sempurna dalam moralitas.’ [64-69].

‘Dan kemudian, Brahmana, bhikkhu itu, yang sempurna dalam moralitas, melihat tidak ada bahaya dari sisi mana pun juga, karena ia terkendali oleh moralitas. Bagaikan seorang Raja Khattiya yang dilantik dengan sah, setelah menaklukkan [70] musuhnya, dengan kenyataan tersebut melihat tidak ada bahaya dari sisi mana pun, demikian pula bhikkhu tersebut, karena moralitasnya, melihat tidak ada bahaya di mana pun juga. Ia mengalami dalam dirinya kebahagiaan tanpa cacat yang muncul dari memelihara moralitas Ariya ini. Dengan cara ini, Brahmana, ia sempurna dalam moralitas.’

‘Dan bagaimanakah, Brahmana, apakah ia menjaga pintu-pintu indria? Di sini seorang bhikkhu, ketika melihat objek terlihat dengan mata, tidak menggenggam gambaran utama atau karakteristik sekundernya. Karena keserakahan dan penderitaan, kondisi-kondisi buruk yang tidak terampil, akan menguasainya jika ia berdiam dengan indria-mata tidak terjaga, maka ia berlatih untuk menjaganya, ia melindungi indria-mata, mengembangkan pengendalian pada indria-mata. Ketika mendengar suara dengan telinga, … ketika mencium bau dengan hidung, … ketika mengecap rasa dengan lidah, … ketika menyentuh objek sentuhan dengan badan, … ketika memikirkan suatu bentuk-pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran mayor atau karakteristik sekundernya … ia mengembangkan pengendalian pada indria-pikiran. Ia mengalami dalam dirinya kebahagiaan tanpa cacat yang muncul dari memelihara moralitas Ariya ini. Dengan cara ini, Brahmana, ia sempurna dalam moralitas.’

‘Dan bagaimanakah, Brahmana, apakah seorang bhikkhu sempurna dalam perhatian dan kesadaran jernih? Di sini, seorang bhikkhu bertindak dengan kesadaran jernih dalam berjalan maju dan mundur, dalam memandang ke depan dan ke belakangnya, dalam membungkuk dan menegakkan badan, dalam mengenakan jubah luar dan jubah dalamnya dan membawa mangkuknya, dalam memakan, meminum, mengunyah dan menelan, dalam menjawab panggilan alam, dalam berjalan, berdiri, duduk, berbaring, bangun dari tidur, dalam berbicara dan dalam berdiam diri, ia bertindak dengan kesadaran jernih. Dengan cara ini, [71] seorang bhikkhu sempurna dalam perhatian dan kesadaran murni.’

‘Dan bagaimanakah seorang bhikkhu puas? Di sini, seorang bhikkhu puas dengan satu jubah untuk melindungi tubuhnya, dengan makanan untuk memuaskan perutnya, dan setelah menerima secukupnya, ia melanjutkan perjalanannya. Bagaikan seekor burung dengan sayapnya terbang ke sana kemari, tanpa dibebani apa pun kecuali sayapnya, demikianlah ia puas … dengan cara ini, brahmana, seorang bhikkhu puas.’

‘Kemudian ia, dilengkapi dengan moralitas Ariya-nya, dengan pengendalian Ariya atas indria-indrianya, dengan kepuasan Ariya-nya, mencari tempat yang sepi, di bawah pohon di hutan, di dalam gua-gua di gunung atau jurang, di tanah pekuburan, di hutan belantara, atau di ruang terbuka di atas tumpukan jerami. Kemudian, sehabis makan setelah ia kembali dari menerima dana makanan, ia duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan berkonsentrasi menjaga perhatiannya kokoh di depannya.’

[Kitab Komentar : Parimukha sati upaṭṭhapetva, mungkin berarti ‘memiliki perhatian yang kokoh’.]

Meninggalkan keinginan duniawi, ia berdiam dengan pikiran bebas dari keinginan duniawi, dan pikirannya dimurnikan dari keinginan duniawi. Meninggalkan ketidak-senangan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketidak-senangan dan kebencian dan dengan belas kasihan demi kesejahteraan semua makhluk hidup, pikirannya dimurnikan dari ketidaksenangan dan kebencian. Meninggalkan kelambanan-dan-ketumpulan, ia berdiam dengan pikiran bebas dari kelambanan-dan-ketumpulan, merasakan cahaya, penuh perhatian dan sadar jernih, pikirannya dimurnikan dari kelambanan-dan-ketumpulan. Meninggalkan kekhawatiran-dan-kebingungan, ia berdiam dengan pikiran bebas dari kekhawatiran-dan-kebingungan, dan dengan ketenangan pikiran, di dalam batinnya dimurnikan dari kekhawatiran-dan-kebingungan. Meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam dengan keragu-raguan ditinggalkan, tanpa keraguan akan hal-hal yang baik, pikirannya bebas dari keraguan.’

[Kitab Komentar : Terkait frasa “merasakan cahaya”, melatih persepsi cahaya diberikan sebagai cara untuk mengatasi rintangan kelambanan-dan-ketumpulan (thãna-midha). Baca Visuddhimagga 1.140.]

‘Bagaikan seseorang yang menerima pinjaman untuk mengembangkan usahanya, dan setelah usahanya maju, harus melunasi hutangnya, dan dengan apa yang tersisa dapat menyokong istrinya, akan berpikir: “Sebelumnya, aku mengembangkan usahaku dengan meminjam, [72] tetapi sekarang usahaku telah maju … “, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.’

‘Bagaikan seseorang yang sakit, menderita, sangat sakit, tidak bernafsu makan dan lemah badannya, setelah beberapa lama menjadi sembuh, dan nafsu makan serta tenaganya pulih, dan ia akan berpikir: “Sebelumnya aku sakit …”, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.’

‘Bagaikan seseorang yang terkurung dalam penjara, dan setelah beberapa lama ia dibebaskan tanpa ada yang kurang, tidak ada pengurangan dari hartanya. Ia akan berpikir: “Sebelumnya aku berada dalam penjara …”, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.’

‘Bagaikan seseorang yang menjadi budak, bukan majikan dari dirinya sendiri, bergantung pada orang lain, tidak mampu pergi ke mana pun yang ia sukai, dan setelah beberapa lama ia dibebaskan dari perbudakan, dapat pergi ke mana pun yang ia sukai, ia akan berpikir: “Sebelumnya aku adalah seorang budak …. ” Dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.’

‘Bagaikan seseorang, yang dibebani oleh barang-barang dan harta kekayaan, melakukan perjalanan panjang melalui gurun pasir di mana makanan sulit diperoleh dan penuh bahaya, dan setelah beberapa lama, akhirnya ia berhasil melewati gurun pasir tersebut dan tiba dengan selamat di perbatasan sebuah desa, ia akan berpikir: “Sebelumnya aku berada dalam bahaya, sekarang aku selamat di perbatasan desa”, dan ia akan senang dan gembira akan hal itu.’

‘Selama, Brahmana, seorang bhikkhu tidak merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, ia merasa seolah-olah berhutang, sakit, terbelenggu, menjadi budak, melakukan perjalanan melalui gurun pasir. Tetapi ketika ia merasakan lenyapnya lima rintangan dalam dirinya, seolah-olah ia bebas dari hutang, dari penyakit, dari belenggu, dari pembudakan, dari bahaya gurun pasir.’ Demikianlah seorang bhikkhu sempurna dalam moralitas. Ia mencapai empat jhàna.’

[Kitab Komentar : Lima rintangan disingkirkan untuk sementara oleh kondisi-kondisi jhàna.]

‘Dan ketika ia mengetahui bahwa lima rintangan ini telah meninggalkannya, kebahagiaan muncul dalam dirinya, dari kebahagiaan muncul kegembiraan, dari kegembiraan dalam batinnya, jasmaninya menjadi tenang, dengan jasmani yang tenang, ia merasakan kenikmatan, dan dengan kenikmatan, pikirannya terkonsentrasi. Dengan keberpisahan demikian dari kenikmatan-indria, berpisah dari kondisi-kondisi buruk, ia masuk dan berdiam dalam jhàna pertama, yaitu awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, yang muncul dari keberpisahan, dipenuhi dengan kegirangan dan kegembiraan. Dan dengan kegirangan dan kegembiraan yang muncul dari keberpisahan, ia meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak tersentuh oleh kegirangan dan kegembiraan yang muncul dari keberpisahan itu.’

‘Bagaikan seorang petugas pemandian yang terampil atau pembantunya, mengadon bubuk-sabun yang telah dibasahi dengan air, membentuknya dalam sebuah piringan logam, menjadi bongkahan lunak, sehingga bola bubuk-sabun itu menjadi satu bongkahan berminyak, terekat oleh minyak sehingga tidak ada yang berserakan – demikian pula bhikkhu ini meliputi, basah seluruhnya, mengisi dan meliputi tubuhnya sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak tersentuh. Ini, Brahmana, adalah buah dari kehidupan tanpa rumah, nyata di sini dan saat ini, yang lebih mulia dan sempurna daripada yang sebelumnya.’’

‘Kemudian, seorang bhikkhu, dengan melenyapkan awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, dengan memperoleh ketenangan di dalam dan keterpusatan pikiran, memasuki dan berdiam dalam jhàna ke dua, yang tanpa awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, muncul dari konsentrasi, dipenuhi dengan kegirangan dan kegembiraan. Dan dengan kegirangan dan kegembiraan ini, yang muncul dari konsentrasi, ia meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.’

‘Bagaikan sebuah danau yang bersumber dari sebuah mata air, tidak ada air yang mengalir dari timur, barat, utara, atau selatan, dimana dewa-hujan mengirimkan hujan dari waktu ke waktu, air mengalir dari dasarnya, bercampur dengan air dingin, akan meliputi, mengisi dan meliputi air dingin tersebut, sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh – demikian pula dengan kegembiraan dan kebahagiaan ini, yang muncul dari konsentrasi, ia meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh. Ini, Brahmana, adalah buah yang lebih mulia dan sempurna dari yang sebelumnya.’

‘Kemudian, seorang bhikkhu, dengan meluruhnya kegembiraan, tetap tidak terganggu, penuh perhatian dan berkesadaran jernih, dan mengalami dalam dirinya, kegembiraan yang oleh Para Mulia dikatakan: “Berbahagialah ia yang berdiam dalam keseimbangan dan perhatian murni,” dan ia memasuki dan berdiam dalam jhàna ke tiga. Dan dengan kegembiraan ini, yang hampa dari kegirangan, ia meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.’

‘Bagaikan jika, dalam sebuah kolam yang terdapat bunga teratai biru, merah, atau putih yang bunga-bunganya, muncul dari dalam air, tumbuh dari dalam air, tidak keluar dari air, mendapatkan nutrisi dari kedalaman air, bunga-bunga teratai biru, merah, atau putih itu akan diliputi … dengan air dingin – demikian pula dengan kebahagiaan yang hampa dari kegembiraan, bhikkhu tersebut meliputi seluruh tubuhnya sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh. Ini adalah buah kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna dari yang sebelumnya.’

‘Kemudian, seorang bhikkhu, setelah meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan sebelumnya, memasuki dan berdiam dalam jhàna ke empat yang melampaui kenikmatan dan kesakitan, dan dimurnikan oleh keseimbangan dan perhatian murni. Dan ia duduk meliputi seluruh tubuhnya dengan kemurnian batin dan kebersihan sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh.’

‘Bagaikan seorang yang duduk dibungkus dari kepala hingga kakinya dengan kain putih, sehingga tidak ada bagian yang tidak tersentuh oleh kain putih itu – demikian pula tubuhnya diliputi …. Ini adalah buah dari kehidupan tanpa rumah, lebih mulia dan sempurna daripada yang sebelumnya.’

‘Itu, Brahmana, adalah suatu pengorbanan … lebih bermanfaat. Ia mencapai berbagai pandangan terang.’

‘Dan ia dengan pikiran terkonsentrasi, murni dan bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lentur, mudah dibentuk, kokoh, dan setelah mendapatkan kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkan pikirannya kepada pengetahuan hancurnya kekotoran. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah penderitaan”, ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah asal-mula penderitaan”, ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah lenyapnya penderitaan”, ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan”. Dan ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah kekotoran”, “Ini adalah asal-mula kekotoran”, “Ini adalah lenyapnya kekotoran”, “Ini adalah jalan menuju lenyapnya kekotoran.” Dan melalui pengetahuannya dan penglihatannya, pikirannya bebas dari kekotoran kenikmatan-indria, dari kekotoran penjelmaan, dari kekotoran kebodohan, dan pengetahuan muncul dalam dirinya: “Ini adalah pembebasan!”, dan ia mengetahui: “Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan.’

[Kitab Komentar tentang Âsavà : dari à-savati ‘mengalir ke arah’ (yaitu, ‘ke dalam’ atau ‘ke luar’ ke arah si pengamat). Sering kali diterjemahkan ‘kecenderungan’, ‘memabukkan’, ‘aliran’, ‘kekotoran’ atau ‘Noda mematikan’ (RD). Kekotoran yang lebih jauh lagi, yaitu pandangan salah (diṭṭhàsava) kadang-kadang ditambahkan juga. Penghancuran àsava ini sama dengan kesucian Arahat.]

‘Ia mengetahui: “Tidak ada lagi yang lebih jauh di dunia ini.” Itu, Brahmana, adalah suatu pengorbanan yang lebih sederhana, lebih mudah, lebih berbuah, dan lebih bermanfaat dari semua lainnya. Dan lebih dari ini, tidak ada lagi pengorbanan yang lebih mulia dan lebih sempurna.’

Kitab Komentar : Nàpara itthatàya: secara harfiah, ‘tidak ada lagi “dengan demikian”’. Baca Dīgha Nikāya 15.22.]

28. ‘Sungguh indah, Yang Mulia Gotama, sungguh menakjubkan! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Yang Mulia Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Semoga Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai siswa awam sejak hari ini hingga akhir hidupku! Dan, [148] Yang Mulia Gotama, aku membebaskan tujuh ratus sapi, tujuh ratus kerbau, tujuh ratus anak sapi, tujuh ratus kambing jantan, dan tujuh ratus domba. Aku memberikan kehidupan kepada mereka, memberi mereka makanan berupa rumput hijau dan air sejuk untuk diminum, dan biarlah mereka bermain di angin yang sejuk.’

29. Kemudian Sang Bhagavà membabarkan ceramah bertingkat kepada Kūadanta, tentang kedermawanan, tentang moralitas, dan tentang alam surga, menunjukkan bahaya, penurunan dan kekotoran dari kenikmatan-indria, dan manfaat dari meninggalkan keduniawian. Dan ketika Sang Bhagavà mengetahui bahwa batin Kūadanta telah siap, lunak, bebas dari rintangan, gembira dan tenang, maka ia membabarkan ceramah Dhamma secara singkat: tentang penderitaan, asal-mulanya (penderitaan), lenyapnya (penderitaan), dan sang jalan (menuju lenyapnya penderitaan). Dan bagaikan sehelai kain bersih yang noda-nodanya telah dihilangkan dapat diwarnai dengan sempurna, demikian pula Brahmana Kūadanta, selagi ia duduk di sana, muncul Mata-Dhamma yang murni dan tanpa noda, dan ia mengetahui: ‘Segala sesuatu memiliki sebab dan pasti lenyap.’

30. Kemudian Kūadanta, setelah melihat, mencapai, mengalami, dan menembus Dhamma, setelah melampaui keragu-raguan, melampaui ketidakpastian, setelah mencapai keyakinan sempurna dalam Ajaran Sang Guru tanpa bergantung pada yang lainnya, berkata: ‘Sudilah Yang Mulia Gotama dan para bhikkhu menerima makanan dariku besok!’

Sang Bhagavà menerimanya dengan berdiam diri. Kemudian Kūadanta, mengetahui penerimaan Beliau, bangkit, memberi hormat kepada Sang Bhagavà, berjalan dengan sisi kanannya menghadap Sang Bhagavà dan pergi. Pagi harinya, ia mempersiapkan makanan keras dan lunak di tempat pengorbanan, dan ketika persiapan selesai, ia mengumumkan: ‘Yang Mulia Gotama, sudah waktunya, makanan telah siap.’

Dan Sang Bhagavà, setelah bangun pagi, pergi dengan membawa jubah dan mangkuk-Nya dan disertai oleh para bhikkhu menuju tempat pengorbananadanta, dan duduk di tempat yang telah disediakan. Dan Kūadanta [149] melayani Sang Buddha dan para bhikkhu dengan makanan-makanan terbaik dengan tangannya sendiri hingga mereka puas. Dan ketika Sang Bhagavà telah selesai makan dan menarik tangan-Nya dari mangkuk, Kūadanta mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi.

Kemudian Sang Bhagavà, setelah memberikan instruksi kepada Kūadanta dalam suatu ceramah Dhamma, menginspirasinya, memicu semangatnya, dan menggembirakannya, bangkit dari duduk-Nya dan pergi.

Para muslim bukan hanya mengorbankan nyawa hewan-hewan yang jinak tersebut, namun juga mengorbankan / menumbalkan korban-korban (sesama manusia) yang telah mereka lukai, sakiti, maupun rugikan, lalu juga merampas hak-hak mereka atas keadilan dengan aksi “KORUPSI DOSA”, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Simak juga bagaimana sang “nabi rasul Allah” alih-alih mengorbankan dirinya, justru lebih sibuk mengorbankan korban-korbannya (sesama manusia)—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]