Bagaimana Mungkin, yang “PUASA BUAT DOSA” justru Kalah Derajat dengan Kasta “PUASA MAKAN” (namun Konsumsi Meningkat Sembari Berdelusi Dosa Setahun Dihapuskan)
Question: Penjahat manapun akan termotivasi untuk berpuasa makan, bila iming-imingnya ialah “dosa-dosa setahun dihapuskan” meski senyatanya konsumsi mereka meningkat di bulan ramadhan? Mereka seringkali memakai alasan “sedang berpuasa” sebagai alasan untuk mudah tersinggung dan menghakimi pihak lain, semisal melarang rumah makan untuk beroperasi dan mudah marah. Pertanyaanya, mengapa harus berpuasa makan, mengapa bukan berpuasa dari perbuatan-perbuatan buruk seperti menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya? Ramadhan merupakan “bulan suci” ataukah sejatinya “bulan dosa”, mengingat motivasi para muslim yang berpuasa makan ialah “dosa-dosa setahun dihapuskan”? Bukankah itu artinya juga menjadi hari duka serta berkabung nasional, bagi kalangan korban dari para pendosa yang kecanduan penghapusan dosa tersebut?
Brief Answer: Betul bahwa kita harus turut berduka bagi kalangan
korban di bulan ramadhan, karena hak-hak korban atas keadilan dirampas dan
terampas saat para muslim berpuasa di bulan ramadhan, sekalipun konsumsi mereka
meningkat secara signifikan sehingga harga sembako dilaporkan naik di pasaran. Karenanya,
kita patut berkabung bagi kalangan korban, saat memasuki bulan ramadhan. Para pendosa
pecandu “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN DOSA” tersebut, alih-alih “kembali ke fitri”,
justru menjelma “KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi, sehingga memang
lebih tepat bila bulan ramadhan diberi gelar sebagai “bulan DOSA” alih-alih “bulan
suci”.
Yang hebat, ialah mereka yang mampu “berpuasa dari perbuatan buruk”,
bukan yang mencandu “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” uang sifatnya bundling
dengan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”. Yang hebat, ialah mereka yang berpuasa
dari “cuci dosa” dan “cuci tangan” dengan berani tampil untuk bertanggung-jawab
atas perbuatan buruk mereka sendiri dan membayar / menghadapi konsekuensinya,
bukan aksi “lempar batu sembunyi tangan”. Singkatnya, puasa ramadhan ialah “bulan
DOSA” dimana para muslim memberi makan sebanyak-banyaknya KEKOTORAN BATIN
mereka yang berdelusi “dosa-dosa setahun DIHAPUSKAN”.
Mereka bahkan tidak mampu melakukan apa yang disebut sebagai “puasa
PENGHAPUSAN DOSA”, mengingat setiap harinya dibiasakan dan terbiasa mabuk serta
kecanduan ritual “PENGAMPUNAN DOSA” (abolition of sins). Tengoklah bagaimana
sikap para muslim yang pamer dan minta dihormati “sedang berpuasa”, telah ternyata
“tidak berpuasa menganiaya orang lain” karena “sumbu mereka pendek” (mudah tersulut)
dan mudah marah / tersinggung. Mereka, pada bulan puasa, tidak melakukan “puasa
lari dari tanggung-jawab”, namun memberi makan banyak-banyak KEKOTORAN BATIN-nya.
Pernah penulis alami sendiri saat masih duduk di Sekolah Dasar, ketika
para bocah muslim-kampung bersikap rasis terhadap penulis yang melintas di
jalan, penulis hanya mengutarakan protes lalu kembali berjalan, mendadak seorang
muslim dewasa berbusana agamais kemudian memukul kepala penulis dari arah belakang
sembari berkata, “Gua lagi puasa. Kalau elu tidak senang, cari gua di masjid
ini!”, lalu ia memasuki masjid untuk solat.
Ia menganiaya penulis yang masih bocah tanpa menegur sikap rasis muslim
pribumi, dari arah belakang (jantankan?) dissaat sedang berpuasa (makan) dan saat
sedang berbusana agamais. Maka pertanyaannya ialah, bagaimana dengan sikap
mereka ketika tidak tidak berpuasa (makan) dan tidak sedang memakai busana
agamais? Disaat puasa ramadhan, telah ternyata mereka mengonsumsi arogansi, penganiayaan,
sikap rasis, sikap pengecut, serta mengonsumsi KEKOTORAN BATIN.
PEMBAHASAN:
Jangankan disebut “Agama SUCI” yang menjalani
gaya hidup higienis dari dosa, maksiat, maupun penganiayaan. Islam bahkan tidak
dapat dikategorikan sebagai “Agama KSATRIA”, agama yang butuh keberanian untuk
berani tampil bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruknya sendiri
maupun mengambil tanggung-jawab terhadap korban yang menderita sakit maupun
rugi. Bulan ramadhan merupakan simbol “Agama DOSA” lewat jargon iming-iming “DOSA-DOSA
SETAHUN DIHAPUSKAN”.
Mereka tidak akan mampu “berpuasa memberi makan
kekotoran batinnya”, namun mencandu “PENGHAPUSAN DOSA” lewat produksi segudang “DOSA-DOSA
UNTUK DIHAPUSKAN” yang mereka koleksi sepanjang hidupnya serta berkubang di dalamnya.
Mereka merupakan kasta inferior, bukan superior, bila merujuk khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
34 (4) Penyebab-penyebab
“Para bhikkhu, ada tiga penyebab ini bagi
asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Keserakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma;
kebencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma; delusi adalah satu
penyebab bagi asal-mula kamma.
(1) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang
dirancang melalui keserakahan, muncul dari keserakahan, disebabkan oleh
keserakahan, berasal-mula dari keserakahan, akan matang di mana pun individu
tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di sana ia mengalami
akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau
dalam beberapa kesempatan berikutnya.
[Kitab Komentar : Ini
disebutkan untuk menunjukkan bahwa kamma adalah [dari jenis] yang harus
dialami dalam kehidupan ini, atau harus dialami dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau harus dialami dalam beberapa kehidupan mendatang.
Beberapa orang terpelajar telah
memperdebatkan dari berbagai tulisan bahwa hanya dua alternatif yang terlibat:
apakah dalam kehidupan ini atau pada saat kelahiran kembali. Akan tetapi,
Bhikkhu Bodhi menerjemahkan teks Pali menurut pemahaman komentar. Sementara
komentar mungkin memaksakan interpretasi belakangan pada teks-teks yang lebih
kuno yang menegaskan hanya dua cara bagi kamma untuk matang, namun
sebagai penerjemah saya merasa lebih bertanggung jawab pada teks yang telah
disampaikan daripada teori-teori tentang teks kuno yang lebih asli. Pengakuan
tiga masa matangnya kamma tidak eksklusif pada aliran Theravāda tetapi
juga ditemukan dalam naskah-naskah sistem Abhidharma Sarvāstivāda. Definisi
ketiga jenis ini – misalnya, dalam Abhidharma Mahāvibhāṣā Ṥāstra pada T XXVII
592a22-593b8, dan dalam Abhidharmakośa pada T XXIX 81c10-16 – adalah persis
sama dengan tradisi Pāli dan dengan demikian mendahului perpecahan
aliran-aliran.]
(2) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui
kebencian, muncul dari kebencian, disebabkan oleh kebencian, berasal-mula dari
kebencian, akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu
matang, adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau
dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.
(3) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang dirancang melalui
delusi, muncul dari delusi, disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi,
akan matang di mana pun individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu
matang, [135] adalah di sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan
ini, atau dalam kehidupan [berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan
berikutnya.
“Misalkan, para bhikkhu, benih-benih masih utuh,
murni, tidak rusak oleh angin dan panas matahari, subur, disimpan dengan baik,
ditanam dengan baik di tanah yang dipersiapkan dengan baik di lahan yang baik
dan menerima curah hujan yang cukup: dengan cara ini, benih-benih itu akan
tumbuh, menjadi besar, dan matang. Demikian pula, kamma apa pun juga yang
dirancang melalui keserakahan … kebencian … delusi, muncul dari delusi,
disebabkan oleh delusi, berasal-mula dari delusi, akan matang di mana pun
individu tersebut terlahir kembali. Di mana pun kamma itu matang, adalah di
sana ia mengalami akibatnya, apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan
[berikutnya], atau dalam beberapa kesempatan berikutnya.
“Ini adalah tiga penyebab bagi asal-mula kamma.
“Para bhikkhu, ada tiga penyebab [lain] bagi
asal-mula kamma. Apakah tiga ini? Ketidak-serakahan adalah satu penyebab bagi asal-mula
kamma; ketidak-bencian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma;
ketidak-delusian adalah satu penyebab bagi asal-mula kamma.
(1) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang
dirancang melalui ketidak-serakahan, muncul dari ketidak-serakahan, disebabkan
oleh ketidak-serakahan, berasal-mula dari ketidak-serakahan, akan ditinggalkan
ketika keserakahan telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi
seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa
depan.
[Kitab Komentar : Pernyataan
ini harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Bagi seorang Arahant – yang telah
meninggalkan keserakahan, kebencian, dan delusi – kamma yang diciptakan
sebelumnya, apakah baik atau buruk, masih mampu menjadi matang dalam kehidupan
terakhirnya.
Tetapi karena tidak ada lagi
kelahiran kembali, bersama dengan kematiannya maka semua kamma yang
terakumulasi sejak masa lampau menjadi mandul. Dengan Demikian maksud dari
pernyataan ini bukanlah bahwa kamma masa lalu seorang Arahant tidak dapat
menjadi matang selama Arahant itu masih hidup, melainkan bahwa kamma itu
menjadi mandul bersama dengan kematian sang Arahant; karena tidak ada lagi
rangkaian kehidupan yang didalamnya buah kamma itu dapat muncul.
Brahmāli menuliskan: “Pasti ada
perbedaan antara ‘ketidak-serakahan’ (alobha) dan situasi ketika
‘keserakahan telah dilenyapkan’ (lobhe vigata). Yang pertama pasti
merujuk pada motivasi di balik perbuatan tertentu, sedangkan yang terakhir
merujuk pada tercabutnya keserakahan sepenuhnya, yang dicapai hanya oleh
yang-tidak-kembali atau bahkan oleh Arahant. Hanya dalam makna perbedaan ini
maka pernyataan ini menjadi masuk akal.”]
(2) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang
dirancang melalui ketidak-bencian, muncul dari ketidak-bencian, disebabkan oleh
ketidak-bencian, berasal-mula dari ketidak-bencian, akan ditinggalkan ketika
kebencian telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti
tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.
(3) “Kamma apa pun juga, para bhikkhu, yang
dirancang melalui ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan
oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, akan ditinggalkan
ketika delusi telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti
tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.
“Misalkan, para bhikkhu, benih-benih masih utuh,
murni, [136] tidak rusak oleh angin dan panas matahari, subur, disimpan dengan
baik. Kemudian seseorang membakarnya dalam api, mengubahnya menjadi abu, dan
menebarkan abunya dalam angin kencang atau membiarkannya dihanyutkan oleh arus
sungai. Dengan cara ini, benih-benih itu akan terpotong di akarnya, dibuat
menjadi seperti tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di
masa depan. Demikian pula, kamma apa pun juga yang dirancang melalui ketidak-serakahan
… ketidak-bencian … ketidak-delusian, muncul dari ketidak-delusian, disebabkan
oleh ketidak-delusian, berasal-mula dari ketidak-delusian, akan ditinggalkan
ketika delusi telah dilenyapkan; terpotong di akarnya, dibuat menjadi seperti
tunggul pohon palem, dilenyapkan sehingga tidak muncul lagi di masa depan.”
“Ini, para bhikkhu, adalah tiga penyebab bagi
asal-mula kamma.”
Kamma apa pun [yang telah dilakukan] oleh seorang dungu
muncul dari keserakahan, kebencian, dan delusi,
apakah yang dirancang olehnya itu sedikit atau banyak,
harus dialami di sini:
tidak ada tempat lain [baginya].
[Kitab Komentar : mohajañ
cāpaviddasu, yang dipecah menjadi mohajañcāpi aviddasu. Maknanya
dituliskan sebagai berikut: “Kamma apa pun yang diciptakan oleh kaum
duniawi yang buta dan dungu adalah muncul dari keserakahan, kebencian, dan
delusi – apakah kamma yang dirancang itu kecil atau besar – harus
dialami di sini (idh’eva taṃ vedaniyaṃ), yaitu, harus dialami oleh si
dungu itu di sini dalam penjelmaannya yang ini (idha sake attabhāveyeva);
ini berarti bahwa kamma itu matang dalam penjelmaan individunya itu.
Tidak ada tempat lain [baginya] (vatthuṃ aññaṃ na
vijjati):
tidak ada tempat lain bagi matangnya kamma itu; karena kamma
yang dilakukan oleh seseorang tidak akan matang dalam penjelmaan orang lain.”]
Oleh karena itu orang bijaksana harus meninggalkan
[perbuatan apa pun] yang muncul dari keserakahan,
kebencian, dan delusi.
Seorang bhikkhu, dengan memunculkan pengetahuan,
harus meninggalkan semua alam tujuan yang buruk.
[Kitab Komentar : Tasmā
lobhaṃ ca dosaṃ ca, mohajaṃ cāpi viddasu. Penerjemah lain
menerjemahkannya sebagai : “Oleh karena itu seorang bijaksana tidak melakukan kamma
yang muncul dari keserakahan dan seterusnya” (yo vidū … taṃ lobhajādibhedaṃ kammaṃ na karoti).]
Sepanjang hidup dan sepanjang hayatnya serta
sampai akhir hayatnya, para muslim mengonsumsi, mabuk, hingga kecanduan (lawan
kata dari ber-“puasa”) hal paling adiktif (sekaligus paling TOXIC) di
dunia, yakni—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH
GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira,
bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan
sesuatu apapun, maka dia masuk surga.”
Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.”
[Shahih Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
Babi disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN
DOSA” diklaim dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal
lifestyle”—sekalipun hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan serakahnya jiwa yang
telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut
putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA
dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi
paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap “pikiran berkarat serta
beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya
shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]