Manusia yang Hebat ialah Mereka yang Berjiwa Ksatria dengan Mau serta Siap Bertanggung-Jawab Atas Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri
Bulan Ramadhan, Bulan dimana KEKOTORAN BATIN Diberi Makan dengan Ideologi
KORUP Bernama “DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN” serta Konsumsi Perut Meningkat
Drastis
Question: Banyak manusia, bagaikan buta. Mereka tidak mau
menyadari bahaya dibalik orang-orang yang berpuasa ramadhan, yakni minta dan
gila dihormati seolah paling superior tanpa mau menyadari umat agama lain punya
jadwal puasanya sendiri, suka persekusi dengan sikap yang “pendek sulutnya”
dengan mengatas-namakan “sedang berpuasa” namun “tidak berpuasa menganiaya”,
melarang orang lain makan, melarang rumah makan membuka tokonya, bekerja malas-malasan,
menuntut THR, dan disaat bersamaan mengharap dosa-dosa selama setahun
dihapuskan sementara konsumsi mereka justru meningkat drastis disaat puasa
ramadhan yang mengakibatkan harga-harga sembako turut terdongkrak di pasar.
Masyarakat kaum NON juga bodoh, merasa kaum muslim yang berpuasa ramadhan sebagai kaum paling superior, meski sejatinya yang lebih hebat ialah mereka yang TIDAK berpuasa ramadhan alias yang konsumsinya tidak meningkat, tidak menuntut dihormati, puasa dari menganiaya orang lain, puasa dari begal, juga puasa dari permohonan pengampunan dosa. Mengapa saya selalu merasa, SQ selalu linear pada derajat IQ seseorang untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?
Brief
Answer: Yang paling hebat dan
kasta tertinggi, ialah mereka yang “berpuasa dari perbuatan buruk”, bukan yang “mengonsumsi
serta mencandu perbuatan-perbuatan buruk”, terlebih yang “mabuk pengampunan
dosa”. Adapun praktek puasa dalam Buddhisme, ialah “puasa (dari) perbuatan yang
tidak bermanfaat”, “puasa (dari) membuang-buang waktu perbuatan yang tidak baik”,
“puasa (dari) membuang-buang kesempatan berbuat baik”, serta “puasa (dari)
berbuat jahat”—puasa-puasa mana tidak akan sanggup dijalani secara komitmen
oleh kaum pemeluk “Agama DOSA”, yakni agama yang justru mempromosikan “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis
dari dosa dan maksiat.
Ovada Patimokkha
Sabbapāpassa akaraṇaṃ
Kusalassa upasampadā
Sacittapariyodapanaṃ
Etaṃ buddhāna sāsanaṃ.
Khantī paramaṃ tapo titikkhā
Nibbāṇaṃ paramaṃ vadanti buddhā
Na hi pabbajito parūpaghātī
Samaṇo hoti paraṃ viheṭhayanto.
Anūpavādo anūpaghāto, pātimokkhe ca saṃvaro
Mattaññutā ca bhattasmiṃ,
pantañca sayanāsanaṃ
Adhicitte ca āyogo, etaṃ buddhāna
sāsanaṃ.
Tidak
melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa
mengembangkan kebajikan
dan
membersihkan batin;
inilah Ajaran Para Buddha.
Kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi.
“Nibbana adalah tertinggi”, begitulah sabda Para
Buddha.
Dia
yang masih menyakiti orang lain
sesungguhnya
bukanlah seorang pertapa (samana).
Tidak menghina, tidak menyakiti, mengendalikan diri
sesuai peraturan,
memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di
tempat yang sunyi
serta giat mengembangkan batin nan luhur;
inilah Ajaran Para Buddha.
[Sumber: Dhammapada 183-184-185, Syair Gatha.]
PEMBAHASAN:
Semestinya, kita berduka, bukan justru turut merayakan, ketika kaum “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” berpesta-pora “OBRAL PENGAMPUNAN DOSA”, terutama seperti
bulan ramadhan dimana “DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN MESKI KONSUMSI MENINGKAT SECARA
DRAMATIS DAN MENUNTUT DIHORMATI”. Kabar gembira bagi pendosa yang dihapus dosa-dosanya,
merupakan kabar duka bagi kalangan korban. Bulan ramadhan bukanlah “bulan suci”,
namun “bulan bersimbah DOSA” dimana banyak hak-hak kaum korban atas keadilan
yang terampas / tercerabut.
Alih-alih “kembali ke fitri”, kaum “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”
tersebut justru menjelma “KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi,
alias lebih jahat daripada penjahat. Mereka dengan bangga berlomba-lomba mengotori
diri mereka sendiri. Adalah tidak dapat dihindarkan, bahwa lalat-lalat akan
mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda
oleh bau busuk. Babi disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN
DOSA” justru dipromosikan lewat speaker pengeras suara ke publik sebagai “halal
lifestyle”.
Fenomena “kelirumologi” demikian di bulan ramadhan dan idul fitri, sama
salah-kaprahnya dengan masyarakat umum yang turut merayakan natal, dimana kita
ketahui pra agama nasrani dilahirkan ke dunia ini, orang-orang baik otomatis
masuk surga setelah meninggal dunia. Namun, setelah yesus dilahirkan, orang-orang
baik secara kejam dilemparkan ke neraka oleh yesus yang justru memasukkan ke
surga dua orang penjahat—salah satunya ialah seorang penyamun—yang turut
disalib di atas kayu salib bersama yesus. Semestinya, kita berduka atas
peringatan hari natal, bukan justru turut bergembira-ria karena hak-hak keadilan
orang baik untuk mengakses surga dirampas oleh yesus sejak kelahirannya di hari
natal yang dikemudian diperingati oleh para umat nasrani / kristiani.
Selengkapnya dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID I”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
124 (2) Argumen
“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar dan
jatuh dalam perselisihan, saling menusuk satu sama lain dengan kata-kata tajam,
maka Aku merasa tidak nyaman untuk mengarahkan perhatianKu ke sana, apalagi
pergi ke sana. Aku menyimpulkan tentang mereka: ‘Tentu saja, para mulia itu
telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga hal [lainnya].’
“Apakah tiga hal yang telah ditinggalkan? Pikiran
meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah ditinggalkan.
“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran
indriawi, pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka latih.
“Di mana pun para bhikkhu berargumen dan bertengkar dan jatuh dalam
perselisihan … Aku menyimpulkan: ‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan
ketiga hal ini dan telah melatih ketiga hal [lainnya].’
“Para bhikkhu, di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan, dengan
harmonis, tanpa perselisihan, bercampur bagaikan susu dan air, saling melihat
satu sama lain dengan tatapan kasih sayang, maka Aku merasa nyaman untuk pergi
ke sana, apalagi untuk mengarahkan pikiranKu ke sana. Aku menyimpulkan: ‘Tentu
saja, para mulia itu telah meninggalkan tiga hal dan telah melatih tiga hal
[lainnya].’
“Apakah tiga hal yang telah mereka tinggalkan? [276] Pikiran indriawi,
pikiran berniat buruk, dan pikiran mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka
tinggalkan.
“Apakah tiga hal yang telah mereka latih? Pikiran
meninggalkan keduniawian, pikiran berniat baik, dan pikiran tidak mencelakai. Ini adalah ketiga hal yang telah mereka latih.
“Di mana pun para bhikkhu berdiam dalam kerukunan … Aku menyimpulkan:
‘Tentu saja, para mulia itu telah meninggalkan ketiga hal ini dan telah melatih
ketiga hal [lainnya].’”
~0~
128 (6) Kotoran
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Bārāṇasī di taman rusa di Isipatana. Kemudian, di pagi hari, Sang Bhagavā merapikan
jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan memasuki Bārāṇasī untuk menerima dana makanan. [280]
Sewaktu berjalan menerima dana makanan di dekat pohon ara tempat
ternak-ternak ditambatkan, Sang Bhagavā melihat seorang bhikkhu yang merasa
tidak puas, [mencari] kepuasan di luar, berpikiran kacau, tanpa pemahaman
jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran mengembara dan organ-organ indria yang
kendur. Setelah melihatnya, Beliau berkata kepada bhikkhu tersebut:
[Kitab Komentar : Rittasādaṃ bāhirassādaṃ. “Merasa tidak puas: tanpa kenikmatan jhāna.
[Mencari] kepuasan di luar: kepuasan dari kenikmatan indria.” Paralel China-Mandarin,
SĀ 1081 (T II 283a20-283b26) mengatakan (pada 283a23) bahwa “ia telah
memunculkan suatu pikiran tidak bermanfaat yang berhubungan dengan ketagihan
yang jahat”.]
“Bhikkhu, bhikkhu! Jangan
mengotori dirimu sendiri. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa
lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya
sendiri dan ternoda oleh bau busuk.”
[Kitab Komentar : Ma kho tvaṃ attānaṃ kaṭuviyam akāsi. “(apa yang) tersisa; (apa yang) kotor, tidak murni.”]
Kemudian, karena didorong demikian oleh Sang Bhagavā, bhikkhu itu
memperoleh suatu rasa keterdesakan.
[Kitab Komentar : Saṃvegamāpādi. Penerjemah
lain memaknainya sebagai “Ia menjadi seorang pemasuk-arus.” Sutta-sutta biasanya
menggunakan formula baku ini untuk menunjukkan pencapaian tingkat
memasuki-arus, tetapi formula ini tidak terdapat dalam teks yang sekarang ini.]
Ketika Sang Bhagavā telah berjalan menerima dana makanan di Bārāṇasī, setelah makan, ketika Beliau telah kembali dari perjalanan itu,
Beliau berkata kepada para bhikkhu:
“Para bhikkhu, pagi ini Aku merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahKu,
dan memasuki Bārāṇasī untuk menerima dana makanan. Sewaktu berjalan
menerima dana makanan di dekat pohon ara tempat ternak-ternak ditambatkan, Aku
melihat seorang bhikkhu yang merasa tidak puas, [mencari] kepuasan di luar,
berpikiran kacau, tanpa pemahaman jernih, tidak terkonsentrasi, dengan pikiran
mengembara dan organ-organ indria yang kendur. Setelah melihatnya, Aku
berkata kepada bhikkhu tersebut: ‘Bhikkhu, bhikkhu! Jangan mengotori
dirimu sendiri. Adalah tidak dapat dihindarkan, bhikkhu, bahwa lalat-lalat akan
mengejar dan menyerang seseorang yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda
oleh bau busuk.’ Kemudian,
karena didorong demikian olehKu, bhikkhu itu memperoleh suatu rasa
keterdesakan.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu tertentu bertanya kepada Sang
Bhagavā: “Apakah, Bhante, yang dimaksudkan dengan ‘kotoran’? Apakah ‘bau
busuk’? dan apakah ‘lalat-lalat’?”
(1) “Kerinduan,
bhikkhu, adalah apa yang dimaksudkan dengan ‘kotoran.’ (2) Niat buruk adalah
‘bau busuk.’ (3) Pikiran-pikiran buruk yang tidak bermanfaat adalah
‘lalat-lalat’. Adalah tidak dapat
dihindarkan, bhikkhu, bahwa lalat-lalat akan mengejar dan menyerang seseorang
yang mengotori dirinya sendiri dan ternoda oleh bau busuk.” [281]
Lalat-lalat
– pikiran-pikiran yang berdasarkan pada nafsu –
akan
berlari mengejar seseorang
yang
tidak terkendali dalam organ-organ indria,
tidak
terjaga dalam mata dan telinga.
Seorang bhikkhu yang kotor,
ternoda oleh bau busuk,
adalah jauh dari nibbāna
dan hanya memetik kesusahan.
Apakah di desa atau di hutan,
orang dungu yang tidak bijaksana,
karena tidak memperoleh kedamaian bagi dirinya sendiri,
bepergian diikuti lalat-lalat.
Tetapi
mereka yang sempurna dalam perilaku bermoral
yang
bersenang dalam kebijaksanaan dan kedamaian,
mereka
yang damai itu hidup dengan bahagia,
setelah
menghancurkan lalat-lalat.
[Kitab Komentar : Nāsayitvāna makkhikā.
Bentuk absolutif ini berasal dari kata kerja nāseti, “menghancurkan.”]
Setiap harinya, para umat agama samawi mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”. Saat hari raya ramadhan, para umat agama samawi pesta-pora “OBRAL PENGHAPUSAN
DOSA” dimana “DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN” meskipun konsumsi mereka meningkat
dan aksi persekusi meningkat. Mereka, akibat delusi, menyebutnya sebagai “bulan
SUCI” dan “Agama SUCI yang bersumber dari Kitab SUCI”—kesemua
ayat-ayat simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun
berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka
sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Babi disebut
“haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” diklaim
dan dikampanyekan lewat pengeras suara sebagai “halal lifestyle”—sekalipun
hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN
DOSA”.
“Abolition
of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat
pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun
keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuk dan
serakahnya jiwa yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang
“bocah tua berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina,
pemeluk “Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin
justru dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun
takut. Agama samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan
(memberi makan dan nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap
“pikiran berkarat serta beracun” sang “nabi rasul Allah”—juga masih dikutip
dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]