Pikiran adalah PELOPOR

Pengakuan Bersalah di Pengadilan Negeri Vs. Pengakuan Berdosa di Agama Samawi, manakah yang Lebih Adil bagi KORBAN?

Gali Motif serta Motivasi Dibalik suatu Sikap, akan Kita Temukan Wajah Asli Dibaliknya

Question: Di dalam kitab hukum pidana, ada istilah “pengakuan bersalah”. Apakah itu sama, dengan konsep “pengakuan dosa” dalam agama samawi?

Brief Answer: Keduanya jelas berbeda, dimana dalam konteks “pengakuan bersalah” seorang terdakwa di hadapan hakim maupun Jaksa Penuntut Umum, masyarakat pengunjung ruang persidangan, maupun dihadiri korban yang turut menyimak, bukan bertujuan untuk berkelit dari tanggung-jawab, namun siap dinyatakan atau divonis “bersalah” oleh hakim, tanpa bermaksud untuk diputus “bebas karena tidak bersalah”. Sekalipun divonis atau dijatuhi hukuman sanksi yang lebih ringan sifatnya, itu adalah “reward” bagi jiwa ksatria sang terdakwa yang bersedia secara jantan mengakui perbuatannya yang salah dan bahwa yang bersangkutan benar adanya bersalah.

Sebaliknya, adapun motivasi atau motif “pengakuan berdosa” oleh umat agama samawi, justru bertujuan untuk sepenuhnya berkelit / berkilah dari tanggung-jawab, karena mereka bukan mengakui perbuatannya kepada sang korban, hakim, maupun publik, akan tetapi sebatas empat-mata kepada pastur atau Allah. Dengan cara begitulah, umat agama samawi menipu psikisnya sendiri oleh ilusi pikiran seolah berhak untuk menikmati “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, tanpa perlu bertanggung-jawab terhadap korban-korban mereka juga tanpa perlu menanggung konsekuensi apapun. Mereka berupaya menegasikan konsekuensi dengan membuat “pengakuan berdosa”, sebagai motif yang melandasi sikap demikian, bukan untuk bertanggung-jawab karena dinyatakan benar bersalah.

Perbedaan kedua, terdakwa yang membuat “pengakuan bersalah”, biasanya juga menyatakan “menyesali perbuatannya” serta “berjanji tidak akan mengulangi”. Kontras dengan itu, umat agama samawi justru setiap harinya kian mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition of sins) sekalipun antara “MEMPRODUKSI DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA” sifatnya saling bundling satu sama lainnya alias motif-nya ialah dalam rangka “business as usual” berupa memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan berkubang dalam dosa-dosa sembari berdelusi masuk surga setelah ajal menjemput mereka.

Atas dasar fatamorgana darimanakah, mereka para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut akan “taubat”? Mereka bahkan menjerumuskan diri mereka dengan menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun mereka korupsi, sehingga tidak benar-benar menyesali perbuatannya terlebih bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatan jahat serupa di kemudian hari. Agama samawi, sama sekali tidak mementingkan kepentingan korban, dimana Allah lebih PRO (berpihak) terhadap penjahat (pendosa) dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut. Mereka adalah pengecut sejati, pecundang kehidupan yang tidak berani bertanggung-jawab sekalipun berani berbuat.

PEMBAHASAN:

Apakah yang tersembunyi dibalik suatu motivasi ataupun yang melandasi suatu motif? Itu adalah PIKIRAN, dan itulah yang dikenal dengan sebutan sebagai “PIKIRAN ADALAH PELOPOR”. Sang Buddha bersabda : “Pikiran yang tidak terjaga mengarah pada bahaya besar” serta “Pikiran yang tidak terkendali mengarah pada bahaya besar”—karenanya penting bagi kita untuk senantiasa menjaga dan mengawasi pikiran kita sendiri, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID 1”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

III. Kaku

21 (1)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang ketika tidak terkembang maka menjadi begitu kaku selain daripada pikiran. Pikiran yang tidak terkembang adalah kaku.”

22 (2)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang ketika terkembang maka menjadi begitu lentur selain daripada pikiran. Pikiran yang terkembang adalah lentur.”

23 (3)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang ketika tidak terkembang maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran yang tidak terkembang mengarah pada bahaya besar.”

24 (4)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang ketika terkembang maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran yang terkembang mengarah pada manfaat besar.”

25 (5)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak terkembang dan tidak termanifestasi, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran, ketika tidak terkembang dan tidak termanifestasi mengarah pada bahaya besar.”

[Komentar Bhikkhu Bodhi selaku penerjemah dari teks sutta berbahasa Pāi : Apātubhūta. Seperti yang saya pahami, pernyataan ini mengatakan bahwa kekuatan pikiran masih belum terwujud, belum terbuka dan dikerahkan yang karenanya “tidak termanifestasi”.]

26 (6)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun [6] yang, ketika terkembang dan termanifestasi, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran, ketika terkembang dan termanifestasi mengarah pada manfaat besar.”

27 (7)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak terkembang dan tidak terlatih, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran, ketika tidak terkembang dan tidak terlatih mengarah pada bahaya besar.”

28 (8)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika terkembang dan terlatih, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran, ketika terkembang dan terlatih mengarah pada manfaat besar.”

29 (9)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak terkembang dan tidak terlatih, maka membawa penderitaan selain daripada pikiran. Pikiran, ketika tidak terkembang dan tidak terlatih, membawa penderitaan.”

30 (10)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika terkembang dan terlatih, maka membawa kebahagiaan selain daripada pikiran. Pikiran, ketika terkembang dan terlatih, membawa kebahagiaan.”

IV. Tidak Jinak

31 (1)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak jinak, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran yang tidak jinak mengarah pada bahaya besar.”

32 (2)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika jinak, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran yang jinak mengarah pada manfaat besar.”

33 (3)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun [7] yang, ketika tidak terjaga, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran yang tidak terjaga mengarah pada bahaya besar.”

34 (4)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika terjaga, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran yang terjaga mengarah pada manfaat besar.”

35 (5)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak terlindungi, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran yang tidak terlindungi mengarah pada bahaya besar.”

36 (6)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika terlindungi, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran yang terlindungi mengarah pada manfaat besar.”

37 (7)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak terkendali, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran yang tidak terkendali mengarah pada bahaya besar.”

38 (8)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika terkendali, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran yang terkendali mengarah pada manfaat besar.”

39 (9)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika tidak jinak, tidak terjaga, tidak terlindungi, atau tidak terkendali, maka mengarah pada bahaya besar selain daripada pikiran. Pikiran, ketika tidak jinak, tidak terjaga, tidak terlindungi, atau tidak terkendali, mengarah pada bahaya besar.”

40 (10)

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika jinak, terjaga, terlindungi, dan terkendali, maka mengarah pada manfaat besar selain daripada pikiran. Pikiran, ketika jinak, terjaga, terlindungi, dan terkendali, mengarah pada manfaat besar.” [8]

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]