Agar Tetap Waras dan Menjaga Akal Sehat, Asah
Keterampilan “INNER PEACE” Tatkala Terjebak Hidup Ditengah Dunia yang
Gila, Tidak Adil, dan Tidak Idealis Ini
Merasa Hidup dan Dunia ini “TIDAK ADIL”? Satu-Satunya
Ketidak-Adilan Hukum Karma, ialah Waktu Berbuahnya yang TIDAK EFEKTIF. Cara Kerja
Hukum Karma yang Wajib Kita Ketahui dan Pahami, dalam Rangka Memiliki “INNER
PEACE”
Terdapat sebuah pepatah dari Tiongkok, yang
berbunyi : “As the saying goes, do no evil in daily life, you won’t fear a
knock on the door at midnight. Hold right thoughts, do right deeds, and bear
right fruit. And also takes inner peace.” Bukan kalimat pertama ataupun
kalimat kedua, yang menjadi pusat bahasan kita dalam kesempatan ini, namun
kalimat paling terakhir dari pepatah tersebut, yakni “also takes inner
peace”.
Apakah yang dimaksud dengan “inner peace”?
Sepanjang hidup, sekalipun kita tidak melakukan
kejahatan, namun telah ternyata kita tidak jarang menghadapi kenyataan pahit
yang tampak irasional bahwa tetap saja kita dicelakai dan dijahati maupun
dilukai oleh pihak-pihak jahat yang tidak bertanggung-jawab. Kita tetap bisa
terluka meski tidak pernah melukai orang lain. Tidak jarang kita menemukan
fakta, orang-orang baik cenderung bernasib malang; dan sebaliknya, orang-orang
jahat tampak lebih beruntung dan makmur hidupnya. Banyak orang yang kemudian
barharap—berspekulasi—bahwa akan ada keadilan setelah kematian alias di “alam
baka”. Akan tetapi, bila tiada keadilan di dunia manusia sekarang ini, atas
dasar ilusi apakah kita berharap akan ada keadilan di alam setelah kematian?
Orang-orang yang mati muda, tidaklah identik
dengan orang jahat. Sebaliknya, orang-orang yang panjang umur, tidaklah identik
dengan orang yang baik hati. Kenyataan justru acapkali menampilkan wajah yang
sebaliknya, mengecewakan dan menyedihkan. Menghadapi realita demikian,
satu-satunya “benteng mental” kita agar tetap mampu menjaga kewarasan ditengah
“gilanya dunia” ini, itulah peran sentral dari “inner peace”. Ada atau
tidaknya jaminan perlindungan maupun keadilan dari dunia ini, meski kita
seringkali berbuat kebajikan dan menghindari perbuatan-perbuatan buruk, pada
gilirannya tetap saja kita hanya akan paling dapat mengandalkan faktor internal
dalam diri kita, yakni “inner peace”.
Bisa jadi kita bertarung / berkompetisi dengan jujur, namun
lawan kita memakai cara-cara curang. Bukankah siapa yang akan menang atau
selamat, sudah jelas? Kita bisa saja pada suatu hari ditabrak-lari pengemudi mabuk,
atau berjumpa orang gila yang menganiaya kita di tengah jalan meski kita tidak
berbuat kesalahan apapun, menjadi korban predator “manusia-hewan”, atau ketika
kita telah berkata dan berbuat benar namun saja kita tetap dipersalahkan maupun
dikriminalisasi. Tidak jarang tersiar kabar adanya korban “peluru nyasar”,
siapakah yang dapat kita persalahkan atas luka yang kita derita? Hidup ini
tidak adil, siapa juga yang mengatakan bahwa “hidup ini adalah adil dan ideal
sehingga layak untuk dilekati dan kembali menjelma”?
Kita bahkan dapat menjumpai fenomena, dimana korban yang
telah berdarah-darah lalu menjerit kesakitan, lalu oleh warga yang hanya sibuk
menonton dan terkesan menikmati apa yang mereka saksikan, lalu menghakimi sang
korban dengan sebutan “orang gila” semata karena sang korban menjerit kesakitan
dan tidak terima diperlakukan secara merendahkan harkat maupun martabatnya,
akan tetapi disaat bersamaan tidak meng-kritik perilaku sang pelaku yang telah
menzolimi sang korban. Hanya segelintir kecil, anggota masyarakat kita yang
benar-benar memahami “sense of justice”.
Hidup, lebih menyerupai “spekulasi”, bisa jadi Anda keluar
sebagai pemenang yang beruntung atau bisa jadi Anda sebagai orang malang yang
serba-terzolimi. Dalam bahasa yang lebih jujur, “hidup adalah dukkha”—selalu
berubah, mengecewakan, tanpa dapat digenggam-erat. Bila hidup adalah indah dan
seideal apa yang kita harapkan, dan bila ada keadilan dalam kehidupan ini, maka
tidak akan Pangeran Siddhatta berjuang untuk memutus siklus penjelmaan
(mengakhiri tumimbal-lahir yang tiada berkesudahan, break the chain of
karmic law). Sang Buddha telah selesai dengan belenggu Hukum Karma maupun penjelmaan,
memutusnya.
Kita akan condong tergoda untuk menyimpulkan secara terlampau
dini, bahwa orang-orang jahat cenderung panjang umur, orang baik akan atau cenderung
pendek umur, si jahat hidupnya beruntung, si baik hati hidupnya justru malang,
si “manusia-iblis” tampak imun dari Karma Buruk karena tidak kunjung celaka
meski perbuatan-perbuatan buruknya telah tidak lagi terhitung jumlahnya; atau
sebaliknya, orang baik yang jumlah perbuatan baiknya tidak lagi terhitung
sepanjang hidupnya, tampak tidak kunjung terlindungi oleh Karma Baiknya
tersebut. Sang Buddha dalam Sutta Pitaka, menyebutkan perihal perbuatan (kamma)
dan buahnya, dengan kutipan sebagai berikut : “ia akan mengalami akibat dari
perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.”
itu menunjukkan bahwa bahkan kamma buruk-nya tersebut akan
tetap matang baginya dalam suatu cara apakah dalam kehidupan ini, dalam
kehidupan berikut, atau dalam beberapa kehidupan setelah itu. Ketika buah
perbuatan buruk seseorang baru akan matang pada dua kelahirannya yang akan
datang, dan menemukan bahwa kehidupannya pada masa kini maupun satu kelahiran
berikutnya telah ternyata tampak seolah tidak memetik buah Karma Buruk apapun,
maka si pengamat akan jatuh dalam pandangan keliru berupa spekulasi “tiada buah
dari perbuatan buruk”—begitupula sebaliknya, seseorang yang rajin menanam kamma
baik, akan tetapi buah perbuatan baiknya baru akan berbuah lebat “dalam
beberapa kelahiran setelahnya”, sementara itu saat ini atau dalam kelahiran
kembali berikutnya ia tidak memetik buah dari perbuatan baik-nya tersebut, maka
si pengamat akan condong jatuh dalam pandangan spekulatif bahwa “tiada buah
dari perbuatan baik”.
Kelemahan cara kerja Hukum Karma—yang boleh disebut sebagai “ketidak-adilan
Hukum Karma” atau “ketidak-adilan dunia”—yakni tidak efektif dalam waktu berbuahnya,
yang membuat kita cenderung berspekulatif akibat generalisasi sehingga apatis
untuk berbuat baik atau bahkan termotivasi untuk berbuat buruk akibat tendensi keyakinan
bahwa “tiada buah dari perbuatan, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk”,
untuk selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang
Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~SUTTA 136~
Mahākammavibhanga Sutta : Pembabaran Panjang tentang
Perbuatan
[207] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu
ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Hutan Bambu, Taman Suaka
Tupai.
2. Pada saat itu Yang Mulia Samiddhi sedang menetap
di sebuah gubuk hutan. Kemudian Pengembara Potaliputta, sewaktu berjalan-jalan
untuk berolah-raga, mendatangi Yang Mulia Samiddhi dan saling bertukar sapa
dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada
Yang Mulia Samiddhi:
“Teman Samiddhi, aku mendengar dan mempelajari ini
dari mulut Petapa Gotama sendiri: ‘Perbuatan jasmani adalah tidak berarti,
perbuatan ucapan adalah tidak berarti, hanya perbuatan pikiran yang nyata.’
Dan: ‘Ada pencapaian yang dengan memasukinya maka seseorang tidak merasakan
apapun sama sekali.’”
[Kitab Komentar mengatakan
bahwa Potaliputta sesungguhnya tidak secara langsung mendengar dari Sang
Buddha, tetapi pernah mendengarkan berita bahwa pernyataan-pernyataan ini
dinyatakan oleh Sang Buddha. Pernyataan pertama adalah versi menyimpang dari
pernyataan Sang Buddha dalam Majjhima Nikāya 56.4 bahwa perbuatan pikiran
adalah Pāling tercela di antara ketiga jenis perbuatan bagi pelaksanaan
perbuatan jahat. Pernyataan ke dua diturunkan dari pembahasan lenyapnya
persepsi oleh Sang Buddha dalam Poṭṭhapāda Sutta (Dīgha Nikāya 9). Kitab
Komentar mengemas kata “tidak berarti” menjadi “tidak berbuah.”]
“Jangan berkata begitu, Teman Potaliputta, jangan
berkata begitu. Jangan salah memahami Sang Bhagavā, tidaklah baik salah
memahami Sang Bhagavā. Sang Bhagavā tidak berkata seperti ini: ‘Perbuatan
jasmani adalah tidak berarti, perbuatan ucapan adalah tidak berarti, hanya
perbuatan pikiran yang nyata.’ Tetapi, Teman, memang ada pencapaian itu yang
dengan memasukinya maka seseorang tidak merasakan apapun sama sekali.”
“Berapa lamakah sejak engkau meninggalkan
keduniawian, Teman Samiddhi?”
“Belum lama, Teman: tiga tahun.”
“Demikianlah, apa yang akan kami katakan kepada para
bhikkhu senior ketika seorang bhikkhu muda berpikir bahwa Sang Guru harus
dibela seperti demikian? Teman Samiddhi, setelah melakukan perbuatan yang
disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, apakah yang dirasakan
seseorang?”
“Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui
jasmani, ucapan, atau pikiran, seseorang merasakan penderitaan, Teman Potaliputta.”
Kemudian, dengan tidak menerima juga tidak menolak
kata-kata Yang Mulia Samiddhi, Pengembara Potaliputta bangkit dari duduknya dan
pergi.
3. Segera setelah Pengembara Potaliputta pergi, Yang
Mulia Samiddhi mendatangi Yang Mulia Ānanda [208] dan saling bertukar sapa
dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan
menceritakan keseluruhan percakapannya dengan Pengembara Potaliputta kepada
Yang Mulia Ānanda. Setelah ia selesai berbicara, Yang Mulia Ānanda berkata kepadanya:
“Sahabat Samiddhi, percakapan ini harus diberitahukan kepada Sang Bhagavā.
Marilah, kita menghadap Sang Bhagavā dan memberitahu Beliau mengenai hal ini. Sebagaimana
yang dijelaskan oleh Sang Bhagavā kepada kita, demikianlah kita harus
mengingatnya.” – “Baik, Sahabat,” Yang Mulia Samiddhi menjawab.
4. Kemudian Yang Mulia Ānanda dan Yang Mulia
Samiddhi bersama-sama mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada
Beliau, mereka duduk di satu sisi. Yang Mulia Ānanda menceritakan keseluruhan
percakapan antara Yang Mulia Samiddhi dengan Pengembara Potaliputta kepada Sang
Bhagavā.
5. Ketika ia selesai, Sang Bhagavā berkata kepada
Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengan
Pengembara Potaliputta, jadi bagaimana mungkin pernah terjadi percakapan ini?
Walaupun pertanyaan Pengembara Potaliputta seharusnya dianalisis terlebih dulu
sebelum dijawab, namun orang sesat Samiddhi ini menjawabnya secara sepihak.”
6. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udāyin
berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, mungkin Yang Mulia Samiddhi berkata
demikian dengan merujuk pada [prinsip]: ‘Apapun yang dirasakan adalah termasuk
dalam penderitaan.’” Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda:
“Lihatlah, Ānanda, bagaimana orang sesat Udāyin ini menyimpulkan.
Aku tahu, Ānanda, bahwa saat ini orang sesat Udāyin ini akan menyimpulkan
dengan cara keliru. Sejak awal Pengembara Potaliputta menanyakan tentang ketiga
jenis perasaan. Orang sesat Samiddhi ini [209] seharusnya menjawab Pengembara
Potaliputta dengan benar jika, ketika ditanya demikian, ia menjelaskan: ‘Teman
Potaliputta, setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani,
ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai menyenangkan, maka seseorang
merasa senang. Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani,
ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai menyakitkan, maka
seseorang merasa kesakitan. Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani,
ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan,
maka seseorang merasakan bukan-kesakitan-juga-bukan-kesenangan.’ Tetapi siapakah
orang-orang dungu ini, para pengembara bodoh dari sekte lain, yang dapat
memahami penjelasan panjang dari Sang Tathāgata tentang perbuatan? Engkau harus
mendengarkan Sang Tathāgata, Ānanda, sewaktu Beliau menjelaskan penjelasan panjang
tentang perbuatan.”
[Kitab Komentar : Pernyataan “‘Apapun
yang dirasakan adalah termasuk dalam penderitaan.’” ini dinyatakan oleh
Sang Buddha pada Saṁyutta Nikāya 36:11/iv.216,
sehubungan dengan penderitaan yang terkandung dalam segala bentukan karena
alasan ketidak-kekalannya (selalu berubah dan tidak dapat digenggam-erat).
Walaupun pernyataan itu benar, Samiddhi tampaknya telah salah
menginterpretasikannya menjadi bermakna bahwa semua perasaan dirasakan sebagai
penderitaan, yang jelas salah.]
7. “Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang
adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā untuk membabarkan penjelasan
panjang tentang perbuatan. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu
akan mengingatnya.”
“Maka dengarkanlah, Ānanda, dan perhatikanlah pada
apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Sang
Bhagavā berkata sebagai berikut:
8. “Ānanda, ada empat jenis orang terdapat di dunia
ini. Apakah empat ini? Di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup,
mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria,
mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata
kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan
salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam
kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam
kesengsaraan, bahkan di neraka.
[Kitab Komentar : Bagian itu
tidak menjelaskan pengetahuan Sang Tathāgata mengenai penjelasan panjang
tentang perbuatan, tetapi membentuk kerangka yang bertujuan untuk menyajikan
penjelasan.]
“Tetapi di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk
hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan
indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan
kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut
pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali
di alam bahagia, bahkan di alam surga.
“Di sini seseorang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari
perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan,
menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan
kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan,
dan ia menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia
muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.
“Tetapi di sini seseorang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari
perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan,
menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan
kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan,
dan ia menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia
muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak
bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.
9. “Di sini, Ānanda, melalui semangat, usaha,
kegigihan, ketekunan, dan perhatian benar, seorang petapa atau brahmana mencapai
konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi,
dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat orang itu di
sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan,
berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan
kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki
pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, dan ia melihat bahwa ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita,
di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di
neraka. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan jahat, ada akibat
dari perilaku salah; karena aku melihat seseorang di sini yang membunuh
makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah
dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah,
mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan
menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan
kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.’ Ia berkata sebagai berikut:
‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah muncul kembali dalam
kondisi menderita … bahkan di neraka. Mereka yang mengetahui demikian
mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah
ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia
temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’
10. “Tetapi di sini, Ānanda, [211] melalui semangat
… seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga,
ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, ia melihat orang itu di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup ...
dan menganut pandangan salah, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Ia
berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan jahat, tidak
ada akibat dari perilaku salah; karena aku melihat seseorang di sini yang
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, dan aku melihat
bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam
bahagia, bahkan di alam surga.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup …
dan menganut pandangan salah muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang
berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang
telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang
benar, yang lainnya adalah salah.’
11. “Di sini, Ānanda, melalui semangat … seorang
petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika
pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia,
ia melihat orang itu di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup
... dan menganut pandangan benar, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan baik, ada akibat
dari perilaku baik; karena aku melihat seseorang di sini yang menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat
bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia,
bahkan di alam surga.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan benar muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Mereka
yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya
adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang
telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang
benar, yang lainnya adalah salah.’
12. “Tetapi di sini, Ānanda, [212] melalui semangat
… seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga,
ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui
manusia, ia melihat orang itu di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk
hidup ... dan menganut pandangan benar, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam
tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Ia
berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak
ada akibat dari perilaku baik; karena aku melihat seseorang di sini yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan
aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali
dalam kondisi menderita … bahkan di neraka.’ Ia berkata sebagai berikut:
‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali
muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Mereka yang mengetahui
demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’
Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui,
ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya
adalah salah.’
13. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau brahmana
mengatakan: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan jahat, ada akibat dari
perilaku salah,’ Aku membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat
seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan
salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia
muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku juga
membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan salah muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di
neraka,’ Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras
kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan
memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku
juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang
Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.
[Kitab Komentar : Bagian di
atas juga tidak membabarkan pengetahuan mengenai penjelasan panjang tentang
perbuatan, tetapi masih membentuk kerangka. Tujuannya di sini adalah untuk
menunjukkan apa yang dapat diterima dan apa yang harus ditolak dari pernyataan
para petapa dan brahmana luar. Singkatnya, dalil yang melaporkan pengamatan
langsung mereka dapat diterima, tetapi generalisasi yang mereka turunkan dari pengamatan itu harus
ditolak.]
14. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan jahat, tidak
ada akibat dari perilaku salah,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia
mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup
… dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku
membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan salah muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ [213] Aku
tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: ‘Mereka yang mengetahui
demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru,’
Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada
apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya
ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda,
pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah
tidak seperti itu.
15. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan baik, ada akibat
dari perilaku baik,’ Aku membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat
seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku
juga membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup …
dan menganut pandangan benar muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga,’ Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras
kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan
memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku
juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang
Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.
16. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau
brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak
ada akibat dari perilaku baik,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia
mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi
menderita … bahkan di neraka,’ Aku membenarkan ini. Tetapi ketika ia
mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar
muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku
tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: [214] ‘Mereka yang mengetahui
demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru,’
Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada
apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya
ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda,
pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah
tidak seperti itu.
17. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka:
apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai
menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang
dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Dan karena ia di
sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia
akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam
kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.
[Kitab Komentar : Paragraf di
atas, dimulai penjelasan atas pengetahuan mengenai penjelasan panjang tentang
perbuatan. Orang yang dilihat melalui mata dewa melakukan pembunuhan
makhluk-makhluk hidup, dan seterusnya, terlahir kembali di neraka karena
perbuatan jahat lain yang telah ia lakukan sebelum ia melakukan pembunuhan, dan
seterusnya, atau karena perbuatan jahat yang ia lakukan setelahnya, atau karena
pandangan salah yang ia terima pada saat kematian. Walaupun Pāli sepertinya
mengatakan bahwa ia seharusnya terlahir kembali di neraka karena
perbuatan-perbuatan selain dari yang terlihat sedang ia lakukan, ini jangan
dipahami sebagai suatu pernyataan pasti melainkan hanya sebagai suatu
pernyataan kemungkinan. Yaitu, walaupun mungkin saja bahwa ia terlahir kembali
di neraka karena perbuatan jahat yang ia terlihat lakukan, tetapi mungkin juga
bahwa ia terlahir kembali di neraka karena perbuatan-perbuatan jahat lain yang
ia lakukan sebelumnya atau sesudahnya atau karena pandangan salah.
Pernyataan “ia akan
mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali
berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya” ini menunjukkan bahwa bahkan
jika kamma buruknya tidak menghasilkan modus kelahiran kembali, namun kamma
itu akan tetap matang baginya dalam suatu cara apakah dalam kehidupan ini,
dalam kehidupan berikut, atau dalam beberapa kehidupan setelah itu.]
18. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh
makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga:
apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai
menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena ia di sini
telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia
akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam
kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.
[Kitab Komentar : Dalam kasus
ini, yakni “apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut
pandangan benar” kelahiran kembali di alam surga pasti disebabkan karena
perbuatan-perbuatan lainnya selain dari perbuatan yang terlihat sedang ia
lakukan, karena suatu perbuatan jahat tidak dapat menghasilkan modus kelahiran
kembali yang beruntung.]
19. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga:
apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai
menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang
dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena
ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup [215] … dan
menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan
saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran
setelahnya.
20. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di
neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan
sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang
dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan
menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Dan
karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan
saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa
kelahiran setelahnya.
21. “Demikianlah, Ānanda, ada perbuatan yang tidak mampu dan
tampak tidak mampu; ada perbuatan yang tidak mampu dan tampak mampu; ada
perbuatan yang mampu dan tampak mampu; dan ada perbuatan yang mampu dan tampak
tidak mampu.”
[Kitab Komentar menjelaskan abhabba,
tidak mampu, sebagai tidak bermanfaat (akusala), disebut “tidak mampu”
karena kosong dari kapasitas untuk tumbuh; dan bhabba, mampu, sebagai
bermanfaat, disebut ‘”mampu” karena memiliki kapasitas untuk tumbuh.
Penjelasan dalam Kitab
Komentar, menurut Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi selaku
penerjemah, tampaknya meragukan; bhabba (Skt bhavya) hanya
bermakna “berpotensi, mampu menghasilkan akibat,” tanpa menyiratkan penilaian
moral tertentu. Kitab Komentar memberikan dua penjelasan atas tetrad ini. Yang
pertama berangkat dengan menganggap akhiran –ābhāsa sebagai bermakna
“mengungguli” atau “mengatasi,” dan dengan demikian keempat kata itu
menunjukkan cara suatu kamma dari satu kualitas dapat “mengungguli” kamma
lainnya dalam menghasilkan akibatnya. Penjelasan ke dua yang tampaknya lebih
meyakinkan, menganggap –ābhāsa sebagai bermakna “tampak,” yang penerjemah
ikuti dalam terjemahan ini.
Pada penjelasan ini, jenis
pertama diilustrasikan oleh orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup dan
terlahir kembali di neraka: perbuatannya tidak mampu menghasilkan (akibat baik)
karena perbuatan itu adalah tidak bermanfaat, dan tampak tidak mampu karena ia
terlahir kembali di neraka, yang sepertinya menjadi sebab bagi kelahiran
kembalinya di sana. Yang ke dua diilustrasikan oleh orang yang membunuh
makhluk-makhluk hidup dan terlahir kembali di alam surga: perbuatannya tidak
mampu menghasilkan (akibat baik) karena perbuatan itu adalah tidak bermanfaat,
namun tampak mampu karena ia terlahir kembali di alam surga; demikianlah
bagi para petapa dan brahmana luar, hal ini tampak seperti sebab bagi
kelahirannya di alam surga. Kedua kata berikutnya harus dipahami dengan
cara yang sama, dengan perubahan seperlunya.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.