Budaya Islam, ialah Budaya Penuh Kekerasan Fisik dan Pertumpahan Darah (AGAMA HAUS-DARAH, Agamanya Orang-orang Primitif yang Belum Beradab, Masih Biadab)
Question : Mengapa orang-orang muslim, paling suka menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik, dimana mereka selalu mengandalkan kekerasan fisik untuk menyelesaikan apapun masalahnya?
Brief
Answer : Karena memang itulah yang
diajarkan dan dipromosikan oleh Agama Islam, salah satunya tercermin dalam:
- Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA
MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan
melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya
kami diharamkan MENUMPAHKAN
DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka. [Hadist Tirmidzi No. 2533]
- QS 9:14. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka
dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan
menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,
- QS 66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka
Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
- QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah
mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih
besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di
Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka
memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi
orang-orang kafir. [NOTE : Balas
“dizolimi” dengan pembunuhan.]
- QS 5:33. Sesungguhnya pembalasan terhadap
orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka
bumi, hanyalah mereka dibunuh
atau disalib, atau dipotong tangan dan
kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu
(sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh
siksaan yang besar. [NOTE : Maha
Pengasih juga Maha Pengampun. Yang Maha Pemurka akan seperti apa perintahnya?]
- QS 8:12. Ingatlah, ketika Tuhanmu mewahyukan
kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku
bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman. Kelak
aku akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka PENGGALLAH KEPALA MEREKA
dan PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA.
- QS 9:5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu,
maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai
mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat
pengintaian. [NOTE :
Klaimnya “diserang”. Mengapa yang mengintai justru ialah pihak yang “diserang”?]
PEMBAHASAN:
Sebetapa
primitifnya dogma-dogma agama samawi, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 19~
Dvedhāvitakka
Sutta: Dua Jenis Pikiran
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang
Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, sebelum pencerahanKu, sewaktu Aku masih menjadi seorang
Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku membagi
pikiran-pikiranKu dalam dua kelompok.’ Kemudian Aku mengelompokkan ke satu sisi
pikiran-pikiran keinginan indria, pikiran-pikiran permusuhan, dan pikiran-pikiran
kekejaman, dan Aku mengelompokkan ke sisi yang lain pikiran-pikiran pelepasan
keduniawian, pikiran-pikiran tanpa-permusuhan, dan pikiran-pikiran
tanpa-kekejaman.
[Kitab Komentar : Perihal upaya untuk membagi
pikiran-pikiran Beliau ke dalam dua kelompok pikiran, terjadi selama enam tahun
usaha Sang Bodhisatta dalam mencapai pencerahan.
Pikiran tanpa-permusuhan dan pikiran tanpa-kekejaman
juga dapat dijelaskan secara positif sebagai pikiran cinta kasih (mettā)
dan pikiran belas kasih (karuṇā).]
3. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,
[115] suatu pikiran keinginan indria muncul dalam diriKu. Aku memahaminya
sebagai: ‘Pikiran
keinginan indria ini telah muncul dalam diriKu. Ini mengarah pada
penderitaanKu, pada penderitaan orang lain, dan pada penderitaan keduanya;
pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan
menjauhkan dari Nibbāna.’ Ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaanKu,’ maka
pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah
pada penderitaan orang lain,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika
Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan keduanya,’ maka pikiran itu
mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘pikiran ini menghalangi
kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna,’
maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu. Kapanpun
pikiran keinginan indria muncul dalam diriKu, Aku meninggalkannya,
melenyapkannya, mengusirnya.
[Komentar : Paradigma berpikir Sang Bodhisatta
adalah cara berpikir orang “waras”. Sebaliknya, “orang gila” tidak akan
berhenti, sekalipun mereka merasakan sendiri bahwa itu mengarah pada
penderitaannya sendiri, penderitaan orang lain, maupun penderitaan bagi
keduanya.]
4. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,
suatu pikiran permusuhan muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran permusuhan ini
telah muncul dalam diriKu. Ini mengarah pada penderitaanKu, pada penderitaan
orang lain, dan pada penderitaan keduanya; pikiran ini menghalangi
kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna.’ Ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada
penderitaanKu,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku
merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan orang lain,’ maka pikiran itu
mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada
penderitaan keduanya,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku
merenungkan: ‘pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan
kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna,’ maka pikiran itu mereda dari
dalam diriKu. Kapanpun
pikiran permusuhan muncul dalam diriKu, Aku meninggalkannya, melenyapkannya,
mengusirnya.
5. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,
suatu pikiran kekejaman muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran kekejaman ini
telah muncul dalam diriKu. Ini mengarah pada penderitaanKu, pada penderitaan
orang lain, dan pada penderitaan keduanya; pikiran ini menghalangi
kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna.’ Ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada
penderitaanKu,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku
merenungkan: ‘Ini mengarah pada penderitaan orang lain,’ maka pikiran itu
mereda dari dalam diriKu; ketika Aku merenungkan: ‘Ini mengarah pada
penderitaan keduanya,’ maka pikiran itu mereda dari dalam diriKu; ketika Aku
merenungkan: ‘pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan
kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari Nibbāna,’ maka pikiran itu mereda dari
dalam diriKu. Kapanpun
pikiran kekejaman muncul dalam diriKu, Aku meninggalkannya, melenyapkannya,
mengusirnya.
6. “Para bhikkhu, apapun
yang sering dipikirkan dan direnungkan oleh seorang bhikkhu, maka itu akan
menjadi kecenderungan pikirannya. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran-pikiran keinginan
indria, maka ia telah meninggalkan pikiran pelepasan keduniawian dan
mengembangkan pikiran keinginan indria, dan kemudian pikirannya condong pada
pikiran keinginan indria. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran
permusuhan, maka ia telah meninggalkan pikiran tanpa-permusuhan dan
mengembangkan pikiran permusuhan, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran
permusuhan. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran kekejaman, maka
ia telah meninggalkan pikiran tanpa-kekejaman dan mengembangkan pikiran
kekejaman, dan kemudian pikirannya condong pada kekejaman.
[Komentar : Kita mulai dapat memahami, betapa
memprihatinkannya orang-orang dewasa, terlebih yang telah berambut putih, akan
tetapi gemar “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”, pikirannya
condong pada kekejaman dan permusuhan, dan disaat bersamaan jauh dari pikiran
tanpa-kekejaman maupun pikiran tanpa-permusuhan. Terlebih, mereka
mempertontonkan sifat demikian kepada anak-cucunya, sungguh teladan yang lebih
memprihatinkan, mewariskan “sifat gila” atau “kegilaan” gaya berpikir.]
7. “Bagaikan
pada bulan terakhir musim hujan, pada musim gugur, ketika panen berlimpah,
seorang penggembala sapi menjaga sapi-sapinya dengan secara terus-menerus
menepuk dan menyodok sapi-sapinya dan dengan tongkat untuk mengawasi dan
mengekang sapi-sapi itu. Mengapakah? Karena ia melihat bahwa ia akan dicambuk,
dikurung, dihukum, atau disalahkan [jika ia membiarkan sapi-sapi itu
berkeliaran ke dalam wilayah panen]. Demikian pula Aku melihat bahaya,
kemunduran, dan kekotoran dalam kondisi-kondisi tidak bermanfaat, dan berkah
pelepasan keduniawian, aspek pemurnian dalam kondisi-kondisi bermanfaat. [116]
8. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,
suatu pikiran pelepasan keduniawian muncul dalam diriKu. Aku memahaminya
sebagai: ‘Pikiran
pelepasan keduniawian ini telah muncul dalam diriKu. Ini tidak mengarah pada
penderitaanKu, atau pada penderitaan orang lain, atau pada penderitaan
keduanya; pikiran ini mendukung kebijaksanaan, tidak menyebabkan
kesulitan-kesulitan, dan menuntun menuju Nibbāna.’ Jika Aku memikirkan dan merenungkan pikiran ini
bahkan selama semalam, bahkan selama sehari, bahkan selama sehari semalam, Aku
tidak melihat apapun yang menakutkan di dalamnya. Tetapi dengan terlalu
memikirkan dan merenungkan maka Aku dapat melelahkan tubuhKu, dan jika tubuhKu
lelah, pikiran menjadi terganggu, dan ketika pikiran terganggu, maka itu
berarti jauh dari konsentrasi.’ Maka
Aku mengokohkan pikiranKu secara internal, menenangkannya, membawanya menuju
keterpusatan, dan mengonsentrasikannya. Mengapakah? Agar pikiranKu tidak
terganggu.
[Kitab Komentar : Pemikiran dan perenungan yang
berlebihan mengarah pada kegelisahan. Untuk menjinakkan dan melunakkan pikiran,
Sang Bodhisatta akan memasuki pencapaian meditatif, kemudian ia akan keluar
dari sana dan mengembangkan pandangan terang.]
9. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,
suatu pikiran tanpa permusuhan muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran
tanpa-permusuhan ini telah muncul dalam diriKu. Ini tidak mengarah pada
penderitaanKu, atau pada penderitaan orang lain, atau pada penderitaan
keduanya; pikiran ini mendukung kebijaksanaan, tidak menyebabkan
kesulitan-kesulitan, dan menuntun menuju Nibbāna.’ Jika Aku memikirkan dan merenungkan pikiran ini
bahkan selama semalam, bahkan selama sehari, bahkan selama sehari semalam, Aku
tidak melihat apapun yang menakutkan di dalamnya. Tetapi dengan terlalu
memikirkan dan merenungkan maka Aku dapat melelahkan tubuhKu, dan jika tubuhKu
lelah, pikiran menjadi terganggu, dan ketika pikiran terganggu, maka itu
berarti jauh dari konsentrasi.’ Maka Aku mengokohkan pikiranKu secara internal,
menenangkannya, membawanya menuju keterpusatan, dan mengonsentrasikannya. Mengapakah?
Agar pikiranKu tidak terganggu.
10. “Sewaktu Aku berdiam demikian, rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh,
suatu pikiran tanpa-kekejaman muncul dalam diriKu. Aku memahaminya sebagai: ‘Pikiran tanpa-kekejaman
ini telah muncul dalam diriKu. Ini tidak mengarah pada penderitaanKu, atau pada
penderitaan orang lain, atau pada penderitaan keduanya; pikiran ini mendukung
kebijaksanaan, tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menuntun menuju
Nibbāna.’ Jika Aku
memikirkan dan merenungkan pikiran ini bahkan selama semalam, bahkan selama
sehari, bahkan selama sehari semalam, Aku tidak melihat apapun yang menakutkan
di dalamnya. Tetapi dengan terlalu memikirkan dan merenungkan maka Aku dapat
melelahkan tubuhKu, dan jika tubuhKu lelah, pikiran menjadi terganggu, dan
ketika pikiran terganggu, maka itu berarti jauh dari konsentrasi.’ Maka Aku
mengokohkan pikiranKu secara internal, menenangkannya, membawanya menuju keterpusatan,
dan mengonsentrasikannya. Mengapakah? Agar pikiranKu tidak terganggu.
11. “Para bhikkhu, apapun
yang sering dipikirkan dan direnungkan oleh seorang bhikkhu, maka itu akan
menjadi kecenderungan pikirannya. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran-pikiran pelepasan
keduniawian, maka ia telah meninggalkan pikiran keinginan indria dan
mengembangkan pikiran pelepasan keduniawian, dan kemudian pikirannya condong
pada pikiran pelepasan keduniawian. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan
pikiran tanpa-permusuhan, maka ia telah meninggalkan pikiran permusuhan dan
mengembangkan pikiran tanpa-permusuhan, dan kemudian pikirannya condong pada
pikiran tanpa permusuhan. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran
tanpa-kekejaman, maka ia telah meninggalkan pikiran kekejaman dan mengembangkan
pikiran tanpa-kekejaman, dan kemudian pikirannya condong pada tanpa-kekejaman.
12. “Bagaikan
pada bulan terakhir musim panas, ketika semua hasil panen telah dibawa ke dalam
desa-desa, [117] seorang penggembala sapi menjaga sapi-sapinya sambil duduk di
bawah sebatang pohon atau di ruang terbuka, karena ia hanya perlu memperhatikan
bahwa sapi-sapinya ada di sana; demikian pula, Aku hanya perlu memperhatikan
bahwa kondisi-kondisi itu ada di sana.
[Komentar : Bandingkan dengan perumpaan sebelumnya,
ketika ladang masih sedang akan panen, maka pengawasan dan pengekangan oleh
sang penggembala tidak boleh kendur sedikitpun.]
13. “Kegigihan
tanpa lelah muncul dalam diriKu dan perhatian tanpa henti menjadi kokoh,
tubuhKu tenang dan tidak terganggu, pikiranKu terkonsentrasi dan terpusat.
14. “Dengan cukup terasing dari keinginan indria, terasing dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama,
yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari keterasingan.
[Kitab Komentar mengatakan bahwa Sang Bodhisatta
mengembangkan empat jhāna menggunakan perhatian pada pernafasan sebagai subjek meditasiNya.]
15. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku masuk
dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan
pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan
yang muncul dari konsentrasi.
16. “Dengan meluruhnya sukacita, Aku berdiam dalam keseimbangan, dan
penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani,
Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia
mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan
dan penuh perhatian.’
17. “Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan
sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke
empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian
perhatian karena keseimbangan.
18. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda,
bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan
tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau.
Aku mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran,
tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh
kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran,
seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa
penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa
penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu,
dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan
kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari
sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku
itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman
kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan
meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan
segala aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau.
[Kitab Komentar : Perihal pengetahuan mengingat
kehidupan lampau, dijelaskan secara terperinci dalam Visuddhimagga XIII, 13-71.]
19. “Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga
pertama malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul,
kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang
yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.
20. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda,
bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan
tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran
kembali makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia,
Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia,
cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk
berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku
buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam
pandangan mereka, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi
buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi
makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,
bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar
dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah
muncul kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan
mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk
meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya
dan miskin, Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan
perbuatan mereka.
[Kitab Komentar : Mengenai pengetahuan kematian dan
kelahiran kembali makhluk-makhluk, dijelaskan secara terperinci dalam Visuddhimagga
XIII, 72-101.]
21. “Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai olehKu pada jaga
ke dua malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul,
kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang
yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.
22. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda,
bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan
tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku secara langsung
mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; Aku secara langsung
mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; Aku secara
langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; Aku
secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya:
‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
[Kitab Komentar : Setelah menunjukkan Empat
Kebenaran Mulia dalam sifat sejatinya (yaitu, dalam hal penderitaan), paragraf
tentang noda-noda disebutkan untuk menunjukkan secara tidak langsung melalui
kekotoran.]
23. “Ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranKu terbebas dari
noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda Ketidak-tahuan.
Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Aku secara langsung
mengetahui: ‘Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
[Menurut Kitab Komentar, frasa “Ketika aku
mengetahui dan melihat demikian” merujuk pada pandangan terang dan “sang jalan”;
yang mencapai puncaknya dalam jalan Kearahantaan; frasa “pikiranKu terbebaskan”
menunjukkan saat buah, dan frasa “muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan’”
menunjukkan pengetahuan peninjauan (baca Visuddhimagga XXII, 20-21), demikian
pula dengan kalimat berikutnya yang dimulai dengan “Aku secara langsung mengetahui.”]
24. “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang Kucapai pada jaga ke tiga
malam itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan
tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang
berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.
25. “Misalkan, para bhikkhu, bahwa di dalam sebuah hutan terdapat
rawa-rawa yang luas di dekat sekumpulan rusa yang menetap di sana. Kemudian seseorang datang
menginginkan kehancuran, bahaya, dan belenggu bagi rusa-rusa itu, dan ia menutup jalan yang baik dan aman yang
mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu, dan ia membuka jalan palsu, dan ia meletakkan
umpan dan memasang benda-benda tiruan sehingga kumpulan rusa itu akan mengalami
bencana, malapetaka, dan kehancuran. Tetapi
seorang lainnya datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan
bagi rusa-rusa itu, dan ia
membuka kembali jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan
rusa-rusa itu, dan ia menutup jalan palsu, dan ia membuang umpan dan
menghancurkan benda-benda tiruan, sehingga kumpulan rusa itu dapat berkembang,
bertambah dan berlimpah.
26. “Para bhikkhu, Aku memberikan perumpamaan ini untuk menyampaikan
maknanya. [118] Maknanya adalah sebagai berikut: ‘Rawa-rawa yang luas’ adalah
sebutan bagi kenikmatan indria. ‘Sekumpulan rusa’ adalah sebutan bagi
makhluk-makhluk. ‘Seseorang
yang datang menginginkan kehancuran, bahaya, dan belenggu’ adalah sebutan bagi
Māra si Jahat. ‘Jalan Palsu’ adalah sebutan bagi jalan salah berunsur delapan,
yaitu: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah,
penghidupan salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah. ‘Umpan’
adalah sebutan bagi kenikmatan dan nafsu. ‘Benda-benda tiruan’ adalah sebutan
bagi ketidak-tahuan. ‘Seorang
lainnya yang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan’
adalah sebutan bagi Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna.
‘Jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan rusa-rusa itu’
adalah sebutan bagi Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar,
kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar,
perhatian benar, dan konsentrasi benar.
“Demikianlah,
para bhikkhu, jalan yang baik dan aman yang mengarah menuju kebahagiaan telah
dibuka kembali olehKu, jalan palsu telah ditutup, umpan telah dibuang,
benda-benda tiruan telah dihancurkan.
27. “Apa
yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih seorang guru yang
mengusahakan kesejahteraan dan memiliki belas kasih terhadap mereka, telah
Kulakukan untuk kalian, para bhikkhu. Terdapat bawah pepohonan ini, gubuk-gubuk
kosong ini. Bermeditasilah, para bhikkhu, jangan menunda atau kalian akan
menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi Kami kepada kalian.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, ketika umat agama samawi
mendapati “Pikiran kekejaman ini telah muncul dalam diriku. Ini
mengarah pada penderitaanku, pada penderitaan orang lain, dan pada penderitaan
keduanya; pikiran ini menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan
kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari kebaikan.” Ketika mereka merenungkan: “Ini
mengarah pada penderitaanku,” maka pikiran itu justru kian membara dari dalam
diri mereka; ketika mereka merenungkan: “Ini mengarah pada penderitaan orang
lain,” maka pikiran itu justru kian membara dari dalam diri mereka; ketika mereka
merenungkan: “Ini mengarah pada penderitaan keduanya,” maka pikiran itu kian
membara dari dalam diri mereka; ketika mereka merenungkan: “pikiran ini
menghalangi kebijaksanaan, menyebabkan kesulitan-kesulitan, dan menjauhkan dari
kedamaian batin,” maka pikiran itu kian membara dari dalam diri mereka.
Kapanpun pikiran kekejaman muncul dalam diri mereka, mereka tidak meninggalkannya,
melenyapkannya, ataupun mengusirnya, justru melekati dan melestarikannya—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
mari kita perhatikan psikologi sang “nabi rasul Allah”, apapun yang sering
dipikirkan dan direnungkan olenya, maka itu akan menjadi kecenderungan
pikirannya. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran-pikiran keinginan
indria, maka ia telah meninggalkan pikiran pelepasan keduniawian dan mengembangkan
pikiran keinginan indria, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran
keinginan indria. Jika ia sering memikirkan dan merenungkan pikiran permusuhan,
maka ia telah meninggalkan pikiran tanpa-permusuhan dan mengembangkan pikiran
permusuhan, dan kemudian pikirannya condong pada pikiran permusuhan. Jika ia
sering memikirkan dan merenungkan pikiran kekejaman, maka ia telah meninggalkan
pikiran tanpa-kekejaman dan mengembangkan pikiran kekejaman, dan kemudian
pikirannya condong pada kekejaman—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]