Allah Melanggar Peraturan dan Larangannya Sendiri, Semuanya jadi Halal Lewat Dogma PENGAMPUNAN DOSA

Babi, Haram. PENGAMPUNAN DOSA, HALAL?!

Hanya Orang Kerdil yang Menyembah “Tuhan yang Kerdil” Bernama Allah

Question: Apakah layak dan patut, kita menghormat kepada sosok semacam Allah yang justru lebih memihak kepada penjahat (pendosa) dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut? Apakah juga layak dan patut, Allah menuntut dihormati sekalipun sikapnya ialah lebih PRO terhadap pendosa dengan menghapus dosa-dosa para pendosa, dan disaat bersamaan merampas hak kalangan korban atas keadilan? Mengapa kita harus menyembah dan berlindung kepada tiran semacam itu?

Brief Answer: Bila dalam agama nasrani, ini dan itu disebut dosa serta terlarang, namun dilanggar sendiri oleh Allah lewat dogma “PENEBUSAN DOSA”. Adapun dalam agama islam, ini dan itu disebut haram, akan tetapi kemudian dilanggar sendiri oleh Allah lewat dogma “PENGAMPUNAN DOSA”. Antara “ini dan itu dilarang / dosa / haram” dan “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” sifatnya ialah saling menegasikan satu sama lainnya, sebuah “contradictio in terminis” alias dua proposisi yang saling bertolak-belakang.

Sementara itu, antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, sifatnya ialah saling bundling satu sama lainnya, ibarat sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter tanpa dapat dipisahkan. Ketika dosa-dosa pun dikorupsi, yang terjadi bukanlah “kembali ke fitri”, namun menjelma “KORUPTOR DOSA” (PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA). Yesus sama sekali tidak patut dihormati, atas alasan karena ia sendiri tidak menghargai hidupnya sendiri, menyerahkan nyawanya seolah “sampah yang tidak berharga” untuk dibunuh (throw his life like a trash), serta (justru) memasukkan kedua penjahat yang turut disalib bersama dirinya.

Yesus maupun Allah, merupakan sosok yang tidak pernah berpihak kepada kalangan korban, karenanya layak dan sepatutnya untuk dilawan, ditentang, serta diwaspadai. Hanya seorang “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, yang butuh iming-iming KORUP Allah—kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya dimasa mendatang dan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.

PEMBAHASAN:

Allah yang emosinya mudah diukur dengan penggaris anak Sekilah Dasar serta didikte manusia (mudah tersulut), mentalnya sekerdil “kutu-busuk”, sebagaimana dapat kita bandingan dengan khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

30 (10) Kosala (2)

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala telah kembali dari garis depan peperangan, pemenang dalam peperangan, tujuannya telah tercapai.

[Kitab Komentar menjelaskan latar belakang historis : Ketika Raja Kosala Yang Agung (ayah Pasenadi) menyerahkan putrinya untuk menikah dengan Bimbisāra (raja Magadha), ia memberikan kepada putrinya desa Kāsi (yang terletak antara kedua kerajaan) sebagai hadiah pernikahan. Beberapa tahun kemudian, setelah Ajātasattu membunuh ayahnya, Bimbisāra, ibunya meninggal dunia karena sedih. Pasenadi memutuskan: “Karena Ajātasattu membunuh orangtuanya, maka desa itu kembali menjadi milik ayahku.” Ajātasattu juga berpikir: “Desa itu milik ibuku.” Keduanya, paman dan keponakan, berperang memperebutkan Kāsi. Pasenadi dikalahkan dua kali oleh Ajātasattu dan terpaksa melarikan diri dari peperangan, tetapi pada peperangan ke tiga ia menangkap Ajātasattu. Ini adalah tujuan yang dimaksudkan dalam frasa “tujuannya telah tercapai” (laddhādhippāyo).]

Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala pergi ke taman. Ia mengendarai kereta sejauh tanah yang dapat dilalui kereta, dan kemudian ia turun dari keretanya dan memasuki taman dengan berjalan kaki. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala mendatangi para bhikkhu itu dan bertanya kepada mereka:

“Bhante, di manakah Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna sekarang berada? Karena aku ingin bertemu Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna.”

“Baginda, itu adalah kediaman Beliau yang pintunya tertutup. Datangilah dengan tenang. Dengan tidak terburu-buru, masukilah berandanya, berdehemlah, dan ketuk gerendelnya. Sang Bhagavā akan membukakan pintu untukmu.”

Kemudian, Raja Pasenadi dari Kosala dengan tenang mendatangi kediaman yang pintunya tertutup. Dengan tidak terburu-buru, ia memasukinya berandanya, berdehem, dan mengetuk gerendelnya. Sang Bhagavā membuka pintu. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala memasuki kediaman itu, bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan menyelimuti kaki Sang Bhagavā dengan ciuman dan mengusapnya dengan tangannya, sambil memperkenalkan namanya: “Bhante, aku adalah Raja Pasenadi dari Kosala! Bhante, aku adalah Raja [66] Pasenadi dari Kosala!”

[Kitab Komentar : Pada Majjhima Nikāya II 120,1-4 Raja Pasenadi melakukan penghormatan serupa kepada Sang Buddha dan memberikan sepuluh alasan dalam menunjukkan penghormatan dan cinta-kasih tertinggi kepada Sang Buddha. Akan tetapi, masing-masing alasan itu berbeda dengan yang di sini.]

“Tetapi, Baginda, dengan alasan apakah engkau memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada tubuh ini dan memperlihatkan persembahan cinta-kasih demikian padaKu?”

“Bhante, adalah karena rasa bersyukur dan terima kasih maka aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā dan memperlihatkan persembahan cinta-kasih demikian kepada Beliau.

(1) “Karena, Bhante, Sang Bhagavā berpraktik demi kesejahteraan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang; Beliau telah menegakkan banyak orang dalam metode mulia, yaitu, dalam jalan Dhamma sejati, dalam jalan Dhamma yang bermanfaat. Ini adalah satu alasan aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā dan memperlihatkan persembahan cinta-kasih demikian kepada Beliau.

(2) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā bermoral, memiliki perilaku yang matang, berperilaku mulia, berperilaku bermanfaat, memiliki perilaku bermanfaat. Ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(3) “Kemudian, Bhante, sejak lama Sang Bhagavā telah menjadi penghuni-hutan yang mendatangi tempat-tempat tinggal terpencil di dalam hutan dan belantara. Karena hal itu, [67] ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(4) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā puas dengan segala jenis jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan dan perlengkapan bagi yang sakit. Ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(5) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(6) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā dapat mendengar sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, pembicaraan yang berhubungan dengan kehidupan keras yang mengarah pada lenyapnya [kekotoran-kekotoran], yang kondusif untuk membuka pikiran, yaitu, pembicaraan tentang keinginan yang sedikit, tentang kepuasan, tentang kesendirian, tentang tidak bergaul akrab [dengan orang lain], tentang pembangkitan kegigihan, tentang perilaku bermoral, tentang konsentrasi, tentang kebijaksanaan, tentang kebebasan, tentang pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(7) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā dapat mencapai sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini. [68] Ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(8) “Kemudian, Bhante, Sang Bhagavā mengingat banyak kehidupan lampauNya, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penghancuran dunia, banyak kappa pengembangan dunia, banyak kappa penghancuran dunia dan pengembangan dunia, sebagai berikut: ‘Di sana Aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan begini, makananKu seperti ini, pengalaman kenikmatan dan kesakitanKu seperti ini, umur kehidupanKu selama ini; meninggal dunia dari sana, Aku terlahir kembali di tempat lain, dan di sana Aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan begitu, makananKu seperti itu, pengalaman kenikmatan dan kesakitanKu seperti itu, umur kehidupanKu selama itu; meninggal dunia dari sana, Aku terlahir kembali di sini.’ Demikianlah Beliau mengingat banyak kehidupan lampauNya dengan aspek-aspek dan rinciannya. Karena hal itu, ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(9) “Kemudian, Bhante, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Sang Bhagavā melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk, kaya dan miskin, dan Beliau memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang mencela para mulia, [69] menganut pandangan salah, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada pandangan salah, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka; tetapi makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang tidak mencela para mulia, yang menganut pandangan benar, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada pandangan benar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.’ Demikianlah dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Beliau melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia, berpenampilan baik dan berpenampilan buruk, kaya dan miskin, dan memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka. Karena hal itu, ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

(10) “Kemudian, Bhante, dengan hancurnya noda-noda, Sang Bhagavā telah merealisasikan untuk diriNya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, Beliau berdiam di dalamnya. Karena hal itu, ini adalah alasan lainnya aku memperlihatkan penghormatan yang begitu tinggi pada Sang Bhagavā …

“Dan sekarang, Bhante, kami harus pergi. Kami sibuk dan banyak yang harus dilakukan.”

“Silakan engkau pergi, Baginda.”

Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, bersujud kepada Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan sisi kanannya menghadap Beliau, dan pergi. [70]

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]