Pertarungan Buddha Vs. Allah yang Tercatat dalam Sutta Pitaka. Allah Dipecundangi, karena Allah adalah SATAN yang sedang Berdelusi Dirinya adalah Kekal dan Abadi

Mengapa Kita Harus Berjuang Melawan Allah? Karena Allah adalah Backing-nya para Penjahat (para Pendosawan yang Dosa-Dosanya Dihapus oleh Allah)

Hanya SATAN, yang PRO (Berpihak) terhadap Pendosa dengan Menghapus Dosa-Dosa Pendosa dan Merampas Hak Korban Atas Keadilan

Allah Merampas Hak Korban Atas Keadilan, maka Allah adalah Musuh bagi Segenap Kalangan Korban

Question: Ada mafia ini dan mafia itu, ternyata back-ing ialah aparatur penegak hukum yang korup. Ada juga pendosa, yakni para penjahat yang merugikan, melukai, maupun merugikan orang lainnya, back-ing-nya ternyata adalah Allah, dimana dosa-dosa para pendosa tersebut dihapus oleh Allah dengan merampas hak korban atas keadilan. Mengapa umat manusia justru masih juga memilih untuk tunduk pada “Tuhan” semacam itu, alih-alih melawan dan berjuang menaklukkan “Tuhan” yang PRO terhadap penjahat semacam itu?

Brief Answer: Sebenarnya mudah saja bagi seorang manusia untuk bisa menang melawan Allah, yakni dengan “masuk neraka”, mengingat alam neraka merupakan “monumen kegagalan Allah”, dimana Allah justru merasa bangga bila “monumen kegagalan”-nya begitu penuh dan padat. Akan tetapi, tentu saja, Allah bukanlah “Tuhan sang pencipta”, namun adalah “SATAN yang sedang berdelusi bahwa dirinya adalah kekal”. Karenanya, “surga” di mata SATAN adalah “neraka”, dan sebaliknya “neraka” di mata SATAN merupakan “surga”—sebagaimana julukan bagi SATAN, yakni “Maha Pengecoh”. Allah tercatat pernah dipecundangi oleh Sang Buddha, sebagaimana tertuang dalam sutta pitaka.

Adapun cara kedua untuk melawan dan menaklukkan “Tuhan sang pencipta”, ialah dengan tidak lagi terlahir kembali ke dalam alam manapun juga alias tiada lagi menjelma, dan itulah tepatnya “Sang Jalan” yang ditempuh serta ditunjukkan oleh Sang Buddha kepada para siswa-Nya, yang boleh kita sebut sebagai “Jalan menuju terhentinya kekuasaan Tuhan sang pencipta”, suatu bentuk perjuangan dan pelawanan melawan kehendak Tuhan.

PEMBAHASAN:

Pertarungan antara Sang Buddha melawan Allah, dapat kita temukan catatan sejarahnya dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

49. Brahmanimantanika Sutta:

Undangan Brahmā

[326] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika

Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Ukkaṭṭhā di Hutan Subhaga di bawah pohon sāla besar. Pada saat itu suatu pandangan sesat telah muncul pada Brahmā Baka sebagai berikut: ‘Ini kekal, ini bertahan selamanya, ini abadi, ini adalah keseluruhan, ini tidak tunduk pada kematian; karena ini adalah di mana seseorang tidak terlahir atau menua atau mati atau meninggal dunia juga tidak muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan membebaskan diri.’

[Kitab Komentar : Brahmā Baka merupakan sesosok makhluk Brahmā dari alam Brahmā, alam yang lebih tinggi tingkatannya daripada alam dewa, dan umur penghuninya jauh lebih panjang daripada dewa. Akibat umurnya yang panjang, maka makhluk Brahmā kerap berdelusi sebagai kekal dan dirinya adalah “Tuhan sang pencipta”. Untuk selengkapnya, dapat baca “Brahmajala Sutta” dalam Dīgha Nikāya.]

Mūlapariyāya Sutta (Majjhima Nikāya 1) juga dibabarkan oleh Sang Buddha sewaktu Beliau sedang menetap di Hutan Subhaga di Ukkaṭṭhā, dan kemiripan dalam formula dan tema antara kedua sutta ini – mungkin hanya dua yang tercatat sebagai berasal dari Ukkaṭṭhā – sangat menonjol. Bahkan mungkin untuk melihat sutta yang sekarang ini sebagai representasi dramatis dari gagasan yang sama seperti yang disampaikan oleh Mūlapariyāya dalam kata-kata ringkas dan filosofis.

Demikianlah Brahmā Baka dapat dianggap sebagai mewakili penjelmaan (bhava) atau personalitas (sakkāya) dalam bentuk yang paling menonjol, yang secara membuta terlibat dalam aktivitas menganggap (maññanā), memelihara dirinya dengan delusi akan kekekalan, kesenangan, dan ke-diri-an. Sosok yang mendasari adalah ketagihan, yang dilambangkan oleh Māra – tampak kurang menonjol dalam kumpulan itu, namun merupakan pencipta sebenarnya dari curahan penganggapan, seorang yang mencengkeram keseluruhan alam semesta dalam genggamannya.

Persekutuan Brahmā dan Māra, Tuhan dan Iblis, persekutuan yang tidak masuk akal dari perspektif Theisme Barat, menunjukkan kehausan pada kelanjutan penjelmaan sebagai akar tersembunyi dari segala penegasan dunia, apakah theistik ataupun non-theistik.

Dalam sutta ini kontes teoritis sepintas antara Baka dan Sang Buddha memberikan jalan pada konfrontasi lebih dalam antara Māra dan Sang Buddha – Māra sebagai ketagihan yang menuntut penegasan penjelmaan, sementara Yang Tercerahkan menunjukkan lenyapnya penjelmaan melalui tercabutnya kesenangan.

Pertemuan serupa antara Sang Buddha dan Baka tercatat dalam Sayutta Nikāya 6:4 / i.142-44, walaupun tanpa hiasan pertemuan ini dan dengan saling berbalas-balasan dalam syair. Baka menganut pandangan eternalis ini sehubungan dengan individu personalnya dan dunia di mana ia berada. Penyangkalannya atas “jalan membebaskan diri melampaui ini” adalah penolakan atas alam jhāna yang lebih tinggi, sang jalan dan buah, dan Nibbāna, yang tidak ada satupun ia ketahui ada.]

3. “Dengan pikiranKu Aku mengetahui pikiran Brahmā Baka, maka secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Aku lenyap dari bawah pohon sāla besar di Hutan Subhaga di Ukkaṭṭhā dan muncul di alam-Brahmā. Dari jauh Brahmā Baka melihat kedatanganKu dan berkata: ‘Silahkan, Tuan! Selamat datang, Tuan! Telah lama, Tuan, sejak Engkau berkesempatan datang ke sini. Sekarang, Tuan, Ini kekal, ini bertahan selamanya, ini abadi, ini adalah keseluruhan, ini tidak tunduk pada kematian; karena ini adalah di mana seseorang tidak terlahir atau menua atau mati atau meninggal dunia juga tidak muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan membebaskan diri.’

4. “Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Brahmā Baka: ‘Brahmā Baka Yang Agung telah tergelincir ke dalam ketidaktahuan; ia telah tergelincir ke dalam ketidak-tahuan sehingga ia mengatakan yang tidak kekal sebagai kekal, yang sementara sebagai bertahan selamanya, yang tidak abadi sebagai abadi, yang tidak lengkap sebagai keseluruhan, yang tunduk pada kematian sebagai tidak tunduk pada kematian, yang terlahir, menua, mati, meninggal dunia, dan muncul kembali sebagai tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali; dan ketika ada jalan membebaskan diri melampaui ini, ia mengatakan tidak ada jalan membebaskan diri melampaui ini.’

5. “Kemudian Māra si Jahat menguasai salah satu anggota kelompok Brahmā, dan ia berkata kepadaKu: ‘Bhikkhu, bhikkhu, jangan mencelanya, jangan mencelanya; karena Brahmā ini adalah Brahmā Agung, [327] Maharaja, yang tidak terlampaui, memiliki penglihatan yang tidak mungkin keliru, maha kuasa, maha pembuat dan pencipta, Tuhan yang tertinggi, Penguasa dan Ayah dari mereka yang ada dan yang akan ada. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana yang mencela tanah dan jijik pada tanah, yang mencela air dan jijik pada air, yang mencela api dan jijik pada api, yang mencela udara dan jijik pada udara, yang mencela makhluk-makhluk dan jijik pada makhluk-makhluk, yang mencela dewa-dewa dan jijik pada dewa-dewa, yang mencela Pajāpati dan jijik pada Pajāpati, yang mencela Brahmā dan jijik pada Brahmā; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang hina. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana yang memuji tanah dan senang pada tanah, yang memuji air dan senang pada air, yang memuji api dan senang pada api, yang memuji udara dan senang pada udara, yang memuji makhluk-makhluk dan senang pada makhluk-makhluk, yang memuji dewa-dewa dan senang pada dewa-dewa, yang memuji Pajāpati dan senang pada Pajāpati, yang memuji Brahmā dan senang pada Brahmā; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang mulia. Maka, Bhikkhu, aku memberitahukan kepadaMu: Pastikan, Tuan, hanya melakukan apa yang Brahmā katakan; jangan melampaui kata-kata Brahmā. Jika Engkau melampaui kata-kata Brahmā, Bhikkhu, maka, bagaikan seseorang dengan menggunakan tongkat mengusir dewi keberuntungan ketika ia mendekat, atau bagaikan seseorang yang kehilangan pegangan tangan atau pijakan kakinya di tanah ketika ia terjatuh ke dalam jurang yang dalam, itulah yang akan menimpamu, Bhikkhu. Pastikan, Tuan, hanya melakukan apa yang Brahmā katakan; jangan melampaui kata-kata Brahmā. Tidakkah Engkau melihat kumpulan Brahmā yang duduk di sini, Bhikkhu?’ Dan Māra mengalihkan perhatianKu pada kelompok Brahmā.506

[Kitab Komentar : Ketika Māra mengetahui bahwa Sang Buddha telah datang ke alam-Brahma, ia menjadi cemas bahwa para Brahmā dapat dikuasai oleh Dhamma dan membebaskan diri dari kekuasaannya; demikianlah ia mendesak Sang Buddha untuk tidak mengajarkan Dhamma.

Yang dimaksud dengan “petapa dan brahmana yang mencela tanah dan jijik pada tanah”, karena mereka menganggapnya sebagai tidak kekal, penderitaan, dan bukan-diri.

Yang dimaksud dengan “terlahir dalam jasmani yang hina”, ialah empat kondisi sengsara. Di sini, dan pada paragraf nomor 10 serta paragraf nomor 29, kata “jasmani” (kāya) digunakan dalam makna alam kehidupan.

Yang dimaksud dengan “petapa dan brahmana yang memuji tanah dan senang pada tanah”, ialah mereka memujinya sebagai kekal, bertahan lama, abadi, dan seterusnya, dan bersenang di dalamnya melalui ketagihan dan pandangan.

Yang dimaksud dengan “terlahir dalam jasmani yang mulia”, ialah di alam Brahmā, menjadi makhluk Brahmā.

Ketika Māra mencoba / berupaya mengalihkan perhatian Sang Buddha pada kelompok Brahmā, Māra berniat untuk menunjukkan: “Jika engkau melakukan sesuai apa yang dikatakan oleh Brahmā tanpa melampaui kata-katanya, engkau juga akan bersinar dengan kemegahan dan keagungan yang sama seperti kelompok Brahmā ini.”]

6. “Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Māra: ‘Aku mengenalmu, Sang Jahat. Jangan berpikir: “Ia tidak mengenalku.” Engkau adalah Māra, si Jahat, dan Brahmā dan kelompok Brahmā dan para pengikut Kelompok Brahmā semuanya telah jatuh ke dalam genggamanmu, mereka telah jatuh ke dalam kekuatanMu. Engkau, si Jahat, berpikir: “Yang ini juga telah jatuh ke dalam genggamanku, yang ini juga telah jatuh ke dalam kekuatanKu”; tetapi Aku tidak jatuh ke dalam genggamanmu, Sang Jahat, Aku tidak jatuh ke dalam kekuatanmu.’

7. “Ketika hal ini dikatakan, Brahmā Baka berkata kepadaKu: ‘Tuan, aku mengatakan yang kekal sebagai kekal, [328] yang bertahan selamanya sebagai bertahan selamanya, yang abadi sebagai abadi, yang seluruhnya sebagai seluruhnya, yang tidak tunduk pada kematian sebagai tidak tunduk pada kematian, yang tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali sebagai tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali; dan ketika tidak ada jalan membebaskan diri dari hal-hal ini, aku mengatakan tidak ada jalan membebaskan diri dari hal-hal ini. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana di dunia ini yang menjalani pertapaan seumur hidupMu. Mereka mengetahui, jika ada jalan membebaskan diri, maka ada jalan membebaskan diri, dan ketika tidak ada jalan membebaskan diri, maka tidak ada jalan membebaskan diri. Maka, Bhikkhu, aku memberitahukan kepadamu: Engkau tidak akan menemukan jalan membebaskan diri, dan akhirnya Engkau hanya akan menemui kelelahan dan kekecewaan. Jika engkau menggenggam tanah, maka engkau akan dekat denganku, dalam wilayahku, melakukan kehendakku dan menghukum untukku.507 Jika engkau menggenggam air ... api ... udara ... makhluk-makhluk ... para dewa ... Pajāpati ... Brahmā, maka engkau akan dekat denganku, dalam wilayahku, melakukan kehendakku dan menghukum untukku.’

[Kitab Komentar : Dengan kedua kata pertama ia mencoba untuk membujuk Sang Buddha, dengan kedua kata berikutnya ia mengancam Beliau. “Menggenggam tanah” adalah melekatinya melalui ketagihan, keangkuhan, dan pandangan. Daftar kategori di sini, walaupun singkat namun mengingatkan pada Majjhima Nikāya 1.]

8. “‘Aku juga mengetahui hal itu, Brahmā. Jika Aku menggenggam tanah, maka aku akan dekat denganmu, dalam wilayahmu, melakukan kehendakmu dan menghukum untukmu. Jika aku menggenggam air ... api ... udara ... makhluk-makhluk ... para dewa ... Pajāpati ... Brahmā, maka aku akan dekat denganmu, dalam wilayahmu, melakukan kehendakmu dan menghukum untukmu. Lebih jauh lagi, Aku memahami jangkauan dan luas kekuasaanmu demikian: Brahmā Baka memiliki kekuatan sebesar ini, keperkasaan sebesar ini, pengaruh sebesar ini.’

“‘Sekarang, Tuan, Berapa jauhkah engkau memahami jangkauan dan kekuasaanku?

9. “‘Sejauh bulan dan matahari berputar

Bersinar dan bercahaya di langit

Lebih dari seribu dunia

Kekuasaanmu menjangkau.

Dan di sana engkau mengetahui yang tinggi dan yang rendah,

Dan mereka yang bernafsu dan yang bebas dari nafsu,

Kondisi yang demikian dan yang sebaliknya,

Kedatangan dan kepergian makhluk-makhluk.

Brahmā, Aku memahami jangkauan dan luas kekuasaanmu demikian: Brahmā Baka memiliki kekuatan sebesar ini, keperkasaan sebesar ini, [329] pengaruh sebesar ini.

[Kitab Komentar : Brahmā Baka adalah Brahmā yang menguasai lebih dari seribu sistem-dunia, tetapi di atasnya terdapat para Brahmā yang menguasai lebih dari dua, tiga, empat, lima, sepuluh ribu dan seratus ribu sistem-dunia.]

10. “‘Tetapi, Brahmā, terdapat tiga tubuh lain, yang tidak engkau ketahui juga tidak engkau lihat, dan yang Aku ketahui dan Aku lihat. Ada tubuh yang disebut [para dewa dengan] Cahaya Gemerlap, yang dari mana engkau mati dan muncul kembali di sini. Karena engkau telah berdiam di sini cukup lama, ingatanmu akan hal itu telah hilang, dan karenanya engkau tidak mengetahui atau melihatnya, tetapi Aku mengetahui dan melihatnya. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

[Kitab Komentar : Jasmani dengan Cahaya Gemerlap adalah alam kelahiran kembali yang berhubungan dengan jhāna ke-dua, sedangkan alam Brahmā Baka hanya berhubungan dengan jhāna pertama. Jasmani dengan Keagungan Gemilang dan jasmani dengan Buah Besar dalam paragraf berikutnya berhubungan dengan jhāna ke-tiga dan ke-empat.

Dalam Brahmajāla Sutta (Dīgha Nikāya 1.2.2-6 / ii.17-19) Sang Buddha menunjukkan bagaimana Mahā Brahmā memunculkan delusi bahwa ia adalah “Tuhan maha pencipta”, yang ternyata hanyalah spekulasi ia sendiri. Ketika dunia mulai terbentuk setelah suatu periode penghancuran, sesosok makhluk dengan jasa besar pertama kali terlahir kembali di alam Brahma yang baru terbentuk. Selanjutnya, makhluk-makhluk lain menyusul terlahir kembali di alam Brahma dan hal ini menyebabkan Mahā Brahmā beranggapan bahwa ia adalah pencipta dan pemimpin mereka. Baca Bodhi, The Discourse on the All-Embracing Net of Views, hal.69-70, 159-166.]

“‘Terdapat, tubuh yang disebut [para dewa dengan] Keagungan Gemilang ... Terdapat tubuh yang disebut [para dewa dengan] Buah Besar. Engkau tidak mengetahui atau melihatnya, tetapi Aku mengetahui dan melihatnya. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

11. “‘Brahmā, setelah dengan secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, dan setelah dengan secara langsung mengetahui yang tidak menjadi bagian dari sifat tanah, Aku tidak mengaku sebagai tanah, Aku tidak mengaku ada di dalam tanah, Aku tidak mengaku terpisah dari tanah, Aku tidak mengakui tanah sebagai “milikKu,” Aku tidak menegaskan tanah.511 Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

[Kitab Komentar : Paragraf ini, yang paralel secara struktur dengan paragraf yang bersesuaian dari Majjhima Nikāya 1, adalah paragraf yang sulit diterjemahkan dari bahasa aslinya, Pāli. Kata kerja negatif berbeda di antara ketiga edisi yang penerjemah pelajari. PTS menuliskan nāhosi, BBS nāpahosi, SBJ nāhosi. Ñm lebih menyukai nāpahosi, yang mana ia menganggapnya sebagai bentuk lampau sederhana dari pabbhavati, yang berarti “menghasilkan, menjadikan.”

Akan tetapi, adalah lebih mungkin, bahwa nāpahosi harus dipecah hanya sebagai na + api + ahosi. Dengan demikian maknanya tidak jauh berbeda antara BBS dan SBJ. Penerjemah lain mengemasnya sebagai : “Aku tidak menggenggam tanah melalui godaan ketagihan, keangkuhan, dan pandangan.”

Ñm menerjemahkan ananubhūta sebagai “tidak serupa dengan.” Ini telah digantikan dengan “tidak menjadi bagian dari,” mengikuti kemasan MA, “tidak terjangkau oleh tanah” dan M: “sifatnya tidak sama dengan tanah.” MA mengatakan bahwa apa yang “tidak menjadi bagian dari sifat tanah” adalah Nibbāna, yang terlepas dari segala sesuatu yang terkondisi.]

12-23. “‘Brahmā, setelah dengan secara langsung mengetahui air sebagai air ... api sebagai api ... udara sebagai udara ... makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk ... para dewa sebagai para dewa ... Pajāpati sebagai Pajāpati ... Brahmā sebagai Brahmā ... para dewa dengan Cahaya Gemerlap sebagai para dewa dengan Cahaya Gemerlap ... para dewa dengan Keagungan Gemilang sebagai para dewa dengan Keagungan Gemilang ... para dewa dengan Buah Besar sebagai para dewa dengan Buah Besar ... raja sebagai raja ... keseluruhan sebagai keseluruhan, dan setelah dengan secara langsung mengetahui apa yang tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan, Aku tidak mengaku sebagai keseluruhan, Aku tidak mengaku ada di dalam keseluruhan, Aku tidak mengaku terpisah dari keseluruhan, Aku tidak mengakui keseluruhan sebagai “milikKu,” Aku tidak menegaskan keseluruhan. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.’

24. “‘Tuan, Jika tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan, maka itu terbukti hampa dan kosong bagiMu!

[Kitab Komentar : PTS pasti keliru dalam menghilangkan “ti” disini yang menutup kutipan langsung; ini menyesatkan Horner dalam memperkirakan bahwa paragraf berikutnya adalah berasal dari Baka dan bukan dari Sang Buddha (MLS 1:392). BBS dan SBJ mencantumkan “ti”. Baka sepertinya menyiratkan bahwa karena objek pengetahuan Sang Buddha “tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan,” maka itu hanyalah sekadar konsepsi kosong.]

25. “‘Kesadaran yang tidak terwujud, Tanpa batas, menerangi segala penjuru. Yang tidak menjadi bagian dari sifat tanah, yang tidak menjadi bagian dari sifat air … [330] … yang tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan.’

[Kitab Komentar : Dalam edisi pertama, penerjemah mempertahankan terjemahan Ñm pada kalimat-kalimat ini, yang tertulis: Kesadaran yang tidak memperlihatkan diri, Juga tidak berhubungan dengan keterbatasan, Tidak mengaku ada sehubungan dengan keseluruhan. Setelah merenungkan kembali, saya menganggap bahwa terjemahan ini jauh dari memuaskan dan dengan demikian di sini penerjemah memberikan terjemahan versinya sendiri. Kalimat-kalimat ini (yang juga muncul sebagai bagian dari syair lengkap dalam Dīgha Nikāya 11.85 / i.223) telah menjadi tantangan selama bertahun-tahun bagi para terpelajar Buddhis, dan bahkan Ācariya Buddhaghosa sepertinya terjebak di dalamnya.

Penerjemah lain menganggap subjek kalimat ini adalah Nibbāna, yang disebut “kesadaran” (viññāa) dalam makna bahwa “itu dapat dikenali” (vijānitabba). Turunan ini hampir tidak dapat diterima, karena tidak ada di manapun dalam Nikāya terdapat Nibbāna yang digambarkan sebagai kesadaran, juga tidak mungkin menurunkan suatu kata benda aktif dari kata kerja yang dibentuk dari kata benda.

Penerjemah lain menjelaskan anidassana sebagai berarti tidak terlihat, “karena itu (Nibbāna) tidak muncul dalam jangkauan kesadaran-mata,” tetapi sekali lagi ini adalah suatu penjelasan hambar. Kata anidassana muncul pada Majjhima Nikāya 21.14 dalam penggambaran ruang kosong sebagai suatu media yang tidak tepat untuk menggambar lukisan; demikianlah gagasan ini sepertinya adalah sesuatu yang tidak berwujud.

Penerjemah lain tersebut memberikan tiga penjelasan atas sabbato pabha: (1) sepenuhnya memiliki kecerahan (pabbā); (2) memiliki penjelmaan (pabhūta) di mana-mana; dan (3) suatu penyeberangan (pabha) yang dapat dijangkau dari segala arah, yaitu, melalui satu dari tiga puluh delapan objek meditasi. Hanya yang pertama dari ketiga ini yang sepertinya memiliki kecocokan linguistik.

Ñm, dalam Ms, menjelaskan bahwa ia menganggap pabha sebagai kata kerja negatif dari pabhavati - apabha - awalan negatif meluruh dalam gabungan dengan sabbato: “Makna ini dapat dituliskan secara bebas dengan ‘tidak mendasarkan penjelmaan sehubungan dengan “keseluruhan,” atau ‘tidak menganggap “keseluruhan” bahwa itu ada atau tidak tidak ada dalam makna absolut.’” Tetapi jika kita menganggap pabha sebagai “bercahaya,” yang sepertinya lebih dapat dibenarkan, maka syair ini berhubungan dengan gagasan pikiran sebagai yang pada hakikatnya terang (pabhassaram ida citta, Anguttara Nikāya i.10) dan juga menyiratkan cahaya kebijaksanaan (paññāpabhā), yang disebut cahaya terbaik (Anguttara Nikāya ii.139).

Penerjemah memahami kesadaran ini adalah, bukan Nibbāna itu sendiri, melainkan kesadaran Arahant selama pengalaman meditatif Nibbāna. Sehubungan dengan hal ini, baca Anguttara Nikāya v.7-10, 318-26. Perhatikan bahwa pengalaman meditatif ini tidak mewujudkan fenomena terkondisi apapun dari dunia, dan dengan demikian dapat dengan benar digambarkan sebagai “tidak berwujud.”]

26. “‘Tuan, aku akan menghilang dari hadapanMu.’ “‘Menghilanglah dari hadapanKu jika engkau mampu, Brahmā.

“Kemudian Brahmā Baka, dengan berkata: ‘Aku akan menghilang dari hadapan Petapa Gotama, Aku akan menghilang dari hadapan Petapa Gotama,’ tidak mampu menghilang. Kemudian Aku berkata: ‘Brahmā, Aku akan menghilang dari hadapanmu.’

“‘Menghilanglah dari hadapanKu jika engkau mampu, Tuan.’

Kemudian Aku mengerahkan kekuatan batin sehingga Brahmā dan kelompok Brahmā dan para pengikut kelompok Brahmā dapat mendengar suaraKu namun tidak dapat melihatKu. Setelah aku menghilang, Aku mengucapkan syair ini:

27. “‘Setelah melihat ketakutan dalam penjelmaan

Dan [setelah melihat] bahwa penjelmaan itu akan lenyap,

Aku tidak menyambut segala jenis penjelmaan apapun,

Juga tidak melekat pada kesenangan.’

[Kitab Komentar : Menghilangnya Sang Buddha sepertinya adalah suatu demonstrasi “visual” dari syairnya. Setelah mencabut kesenangan dalam penjelmaan, Beliau mampu menghilang dari pandangan Baka, representasi tertinggi dari penjelmaan dan kebenaran dunia. Tetapi Baka, karena terikat pada penjelmaan melalui kemelekatan, tidak mampu melampaui jangkauan pengetahuan Sang Buddha, yang melingkupi penjelmaan dan tanpa-penjelmaan yang sekaligus melampauinya.]

28. “Saat itu Brahmā dan Kelompok Brahmā dan para pengikut Kelompok Brahmā merasa takjub dan kagum, berkata: ‘Sungguh mengagumkan, Tuan, sungguh menakjubkan, kekuatan dan kesaktian Petapa Gotama! Kami belum pernah menyaksikan atau mendengar petapa atau brahmana lain yang memiliki kekuatan dan kesaktian seperti yang dimiliki Petapa Gotama ini, yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya. Tuan, walaupun hidup dalam generasi yang menikmati penjelmaan, yang menyukai penjelmaan, yang bersukacita dalam penjelmaan, Beliau telah mencabut penjelmaan bersama dengan akarnya.’

29. “Kemudian Māra si Jahat menguasai salah satu pengikut Kelompok Brahmā, dan berkata kepadaKu: ‘Tuan, jika itu adalah apa yang Engkau ketahui, jika itu adalah apa yang telah engkau temukan, janganlah Engkau menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian, janganlah Engkau mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian, janganlah Engkau membangkitkan kerinduan pada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana yang mengaku sempurna dan tercerahkan sempurna, dan mereka menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka merindukan para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang hina. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat juga para petapa dan brahmana yang mengaku sempurna dan tercerahkan sempurna, [331] dan mereka tidak menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka tidak mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka tidak merindukan para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang mulia. Maka, Bhikkhu, aku beritahukan kepadaMu: Pastikan, Tuan, untuk berdiam secara tidak aktif, jalanilah kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini, hal ini lebih baik dibiarkan tidak dibabarkan, dan karena itu, Tuan, janganlah menasihati siapapun.’

[Kitab Komentar : Hasutan Māra di atas, dengan maksud agar Sang Buddha tidak membabarkan Dhamma kepada umat manusia maupun kepada para dewa, merupakan kecondongan yang sama yang muncul dalam pikiran Sang Buddha persis setelah pencerahannya – baca Majjhima Nikāya 26.19. Bandingkan juga dengan Dīgha Nikāya 16.3.34/ii.112 di mana Māra mencoba untuk membujuk Sang Buddha yang baru tercerahkan untuk segera meninggal dunia dengan damai.]

30. “Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Māra: ‘Aku mengenalmu, Sang Jahat. Jangan berpikir: “Ia tidak mengenalku.” Engkau adalah Māra, si Jahat. Bukanlah demi belas kasih terhadap kesejahteraan mereka maka engkau berkata demikian, melainkan adalah tanpa belas kasih terhadap kesejahteraan mereka maka engkau berkata demikian. Engkau berpikir seperti ini, Yang Jahat: “Kepada siapa Petapa Gotama mengajarkan Dhamma, mereka akan membebaskan diri dari wilayahku.” Para petapa dan brahmanamu itu, Yang Jahat, yang mengaku tercerahkan sempurna, tidaklah benar-benar tercerahkan sempurna. Tetapi Aku, yang mengaku tercerahkan sempurna, adalah benar-benar tercerahkan sempurna. Jika Sang Tathāgata mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata, [wahai Māra] Yang Jahat, dan jika Sang Tathāgata tidak mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata. 516 Jika Sang Tathāgata menuntun para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata, [wahai Māra] Yang Jahat, dan jika Sang Tathāgata tidak menuntun para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata. Mengapakah? Karena Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, memberikan kesusahan, yang matang dalam penderitaan, dan mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan; Beliau telah memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan. Seperti halnya pohon palem yang dipotong pucuknya tidak akan mampu untuk tumbuh lebih tinggi lagi, demikian pula Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotoriNya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan.’”

[Kitab Komentar : Tādiso: yaitu, apakah Beliau mengajar atau tidak mengajar, Beliau tetap adalah Sang Tathāgata.

Istilah “noda-noda yang mengotori”, dalam litelatur Buddhis sering diistilahkan sebagai “kekotoran batin”, yakni yang membawa penjelmaan baru, memberikan kesusahan, yang matang dalam penderitaan, dan mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan. Karenanya, berbeda dengan pandangan agama samawi bahwa “seseorang dilahirkan ibarat kain / kertas putih polos”, suatu makhluk menjelma / terlahir kembali akibat adanya “kekotoran batin” yang bersangkutan, diwarisi dari kehidupan sebelumnya.

Hanya dengan terpangkas-habis “kekotoran batin” hingga ke akarnya sehingga tidak ada lagi potensi bagi “kekotoran batin” tersebut untuk dapat bertumbuh, maka tiada lagi penjelmaan. Yang dalam bahasa Sang Buddha, “sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan”.]

31. Demikianlah, karena Māra tidak mampu menjawab, dan karena [diawali] dengan undangan Brahmā, maka khotbah ini dinamakan “Tentang Undangan Brahmā.”

“Tuhan”-nya pada pendosawan (kalangan “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun mereka korupsi) berikut inilah, yang harus kita lawan dengan penuh komitmen hingga “titik darah penghabisan”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Berikut inilah “selera” sang “nabi rasul Allah”, yang ketagihan untuk menjelma-kembali dan menyeret banyak pendosawan “dungu” lainnya untuk turut terperosok bersama dirinya menjelma “KORUPTOR DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week