Dahsyatnya Ajaran SANG BUDDHA : Boleh Mempertanyakan dan Bebas Mengkritisi

Miskin-Keringnya Ajaran Agama Samawi : Haram Hukumnya Mempertanyakan dan Memakai Otak untuk Berpikir Kritis

Question : Yang namanya junjungan atau teladan, harusnya lebih baik standar-moralnya ketimbang yang menjadi pengikut atau umat. Tapi di islam berbeda, nabi yang para muslim junjung, justru lebih mabok, lebih tergila-gila, lebih demam, dan lebih kecanduan “pengampunan dosa” daripada para umatnya. Artinya, nabi para muslim itu dosa-dosanya lebih menggunung daripada dosa-dosa para muslim yang menjadi pengikutnya. Sebenarnya para muslim itu hendak meneladani kebusukan-moral sang nabi, ataukah apa? Bukankah menjadi tidak mengherankan, bila kemudian kita menemukan kabar berita maupun realita keseharian dimana para muslim yang melakukan aksi kejahatan maupun korupsi?

Brief Answer : Yang paling ditakutkan kalangan muslim, ialah umat Buddhist yang sejati (bukan “Buddhist ritual” maupun “Buddhist KTP”). Mengapa? Karena mereka sukar menemukan cacat-cela pada ajaran maupun teladan hidup Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam sumber otentik ajaran Sang Buddha, yakni Tipitaka—bukan Wikipedia. Sebaliknya, mudah sekali mengolok-olok kaum muslim maupun menjadikan agama islam sebagai “bulan-bulanan”, mengingat sang nabi junjungan para muslim begitu penuh cacat-cela dari segi moralitas, ajaran, maupun perilaku.

Saat mereka menantang berdebat dengan umat Buddhist, barulah kesombongan, arogansi, maupun delusi perasaan superior mereka seketika runtuh, menjelma merasa malu sendiri. Karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu, berjumpa, ataupun berdebat dengan orang-orang dengan “standar moral” yang jauh lebih tinggi melampaui mereka maupun nabi junjungan para muslim tersebut. Sering penulis membuat tantangan terbuka, jika mereka bisa merujuk satu saja cacat-cela dalam ajaran maupun perilaku Sang Buddha, maka penulis seketika akan keluar dari Agama Buddha dan “hijrah” ke seberang.

Hingga kini, belum ada satupun tawaran tantangan demikian diambil kesempatannya oleh kalangan nonBuddhist, sekalipun telah lama penulis menunggu mereka untuk menerima tantangan berdebat. Sebaliknya, bilamana ada umat dari agama samawi membuat undangan tantangan serupa, dapat penulis pastikan batin dan mental mereka akan “babak-belur” dan “pecah berkeping-keping”. Keyakinan mereka, dibangun semata kepada “kepercayaan membuta”, karena fondasi mereka rapuh dan keropos. Sebaliknya, Sang Buddha maupun para siswa-Nya selalu berkata sebagai berikut:

“Brahmana, jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diterima, maka terimalah; jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diperdebatkan, maka perdebatkanlah, tanyakanlah untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena? Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini kita dapat mendiskusikan persoalan ini.”

PEMBAHASAN:

Misi misionaris Sang Buddha maupun Buddhisme paska mangkatnya Beliau, tidak pernah dibangun diatas landasan ancaman-ancaman dogmatik seperti “tidak percaya dan tidak meyakini, maka masuk neraka”, juga bukan memakai sebilah pedang untuk menumpahkan darah pihak-pihak yang tidak bersedia meyakini sebagaimana pedang milik nabi para muslim digunakan, dimana bahkan mengatas-namakan iman tega menyembelih dan menumpahkan darah anak kandung sendiri—terlebih perilaku para “haus darah” tersebut terhadap orang lain maupun kaum yang berseberangan.

Misi misionaris Buddhisme, sangat lembut dan halus, penuh welas-asih, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 94

Ghoamukha Sutta : Kepada Ghoamukha

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Udena sedang menetap di Benares di Hutan Mangga Khemiya.

2. Pada saat itu Brahmana Ghoamukha telah tiba di Benares untuk suatu urusan. Sewaktu ia sedang [158] berjalan-jalan untuk berolah-raga, ia sampai di Hutan Mangga Khemiya. Pada saat itu Yang Mulia Udena sedang berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Kemudian Brahmana Ghoamukha mendatangi Yang Mulia Udena dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, sambil berjalan mondar-mandir bersama Yang Mulia Udena, ia berkata: “Petapa Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.”

3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udena melangkah turun dari jalan setapak dan masuk ke kediamannya, di mana ia duduk di tempat yang telah tersedia.877 Dan Ghoamukha juga melangkah turun dari jalan setapak dan masuk ke kediaman, di mana ia berdiri di satu sisi. Kemudian Yang Mulia Udena berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, Brahmana, silahkan duduk jika engkau menginginkan.”

[Kitab Komentar : Yang Mulia Udena secara sengaja mengakhiri sesi meditasi-berjalannya, lalu memasuki kediaman, karena menyadari bahwa suatu diskusi yang panjang akan dilakukan.]

“Kami tidak duduk karena kami sedang menunggu Guru Udena [berbicara]. Karena bagaimana mungkin seseorang seperti diriku berani duduk di tempat duduk tanpa sebelumnya diundang untuk duduk?”

4. Kemudian Brahmana Ghoamukha mengambil bangku rendah, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Yang Mulia Udena: “Petapa Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.”

Brahmana, jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diterima, maka terimalah; jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diperdebatkan, maka perdebatkanlah, tanyakanlah untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena? Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini kita dapat mendiskusikan persoalan ini.

“Guru Udena, jika aku merasa bahwa apapun pernyataan Guru Udena harus diterima, maka aku akan menerimanya; jika aku merasa bahwa apapun pernyataannya harus diperdebatkan, maka aku akan memperdebatkannya; dan jika aku [159] tidak memahami makna dari pernyataan Guru Udena, maka aku akan menanyakan kepada Guru Udena untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena? Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini marilah kita mendiskusikan persoalan ini.”

5. “Brahmana, terdapat empat jenis orang di dunia ini. Apakah empat ini? Apakah empat ini? Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya. Di sini jenis orang tertentu menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Karena ia tidak menyiksa dirinya dan makhluk lain, maka ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Yang manakah dari empat jenis orang ini yang memuaskan pikiranmu, Brahmana?”

[Kitab Komentar : Yang Mulia Udena menunjukkan bahwa tiga jenis orang pertama mempraktikkan jalan yang mencelakai, sedangkan jenis ke empat mempraktikkan jalan yang bermanfaat. Sang Buddha menunjukkan tiga jalan (tiga jenis orang yang disebutkan diawal) yang tidak Beliau ajarkan kepada Sagha dan satu jalan (jenis orang yang disebutkan diakhir) yang diajarkan oleh semua Buddha di masa lampau, masa sekarang, dan masa depan kepada Sagha mereka.

Sukhapaisavedi brahmabhūtena attanā, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Kitab Komentar menjelaskan bahwa ia mengalami kebahagiaan jhāna, jalan, buah, dan Nibbāna. “Brahma” di sini harus dipahami dalam makna suci atau mulia (seṭṭha).]

Tiga yang pertama tidak memuaskan pikiranku, Guru Udena, tetapi yang ke empat memuaskan pikiranku.”

6. “Tetapi, Brahmana, mengapakah tiga yang pertama tidak memuaskan pikiranmu?”

“Guru Udena, jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, menyiksa dan melukai dirinya walaupun ia menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai makhluk lain yang menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai dirinya dan makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku.

“Tetapi, Guru Udena, jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya dan yang tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suciia tidak menyiksa dan melukai dirinya maupun makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan. Itulah sebabnya jenis orang ini memuaskan pikiranku.”

7. “Brahmana, ada dua jenis kelompok. Apakah dua ini? Di sini kelompok tertentu bernafsu pada perhiasan dan anting-anting dan mencari istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak. Tetapi di sini kelompok tertentu tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak, meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Sekarang ada jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya dan yang tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang kain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Dalam kelompok manakah dari kedua jenis kelompok ini engkau biasanya melihat orang jenis ini, Brahmana – dalam kelompok yang bernafsu pada perhiasan dan anting-anting dan mencari istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak; atau dalam kelompok yang tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak, meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?

[161] “Aku biasanya melihat orang jenis ini, Guru Udena, dalam kelompok yang tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan anak-anak … meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”

8. “Tetapi baru saja, Brahmana, kami mendengar engkau mengatakan: ‘Petapa Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.’”

“Tentu saja, Guru Udena, adalah dengan tujuan untuk belajar maka aku mengatakan kata-kata itu. Ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma; demikianlah sepertinya bagiku, dan sudilah Guru Udena mengingatku [telah berkata] demikian. Baik sekali jika, demi belas kasih, Guru Udena sudi menjelaskan kepadaku secara terperinci mengenai keempat jenis orang yang telah disebutkan secara singkat.”

9. “Maka, Brahmana, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan kukatakan,” – “Baik, Tuan,” Brahmana Ghoamukha menjawab. Yang Mulia Udena berkata sebagai berikut:

10-30. “Brahmana, orang-orang jenis apakah yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri? Di sini seseorang tertentu bepergian dengan telanjang, melanggar kebiasaan, menjilat tangannya, tidak datang ketika diminta, tidak berhenti ketika diminta; ia tidak menerima makanan yang diserahkan dan tidak menerima makanan yang secara khusus dipersiapkan dan tidak menerima undangan makan; ia tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu, melintasi alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berada di tengah-tengah para laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; ia tidak menerima ikan atau daging, ia tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Ia mendatangi satu rumah, satu suap; ia mendatangi dua rumah, dua suap; … ia mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Ia makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari. Ia makan sekali dalam sehari, sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya hingga sekali setiap dua minggu; ia berdiam dengan menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan. Ia adalah pemakan sayur-sayuran atau jawawut atau beras liar atau kupasan kulit atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Ia hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan; ia memakan buah-buahan yang jatuh. Ia mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami bercampur kain, dari kain pembungkus mayat, dari kain yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu. Ia adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut. Ia adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk. Ia adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok. Ia adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku; ia menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurnya. Ia berdiam dengan menjalani praktek mandi tiga kali sehari termasuk malam hari. Demikianlah dalam berbagai cara ia berdiam dengan menjalankan praktik menyiksa dan menyakiti tubuhnya. Ini disebut jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri.

[Kitab Komentar : Jenis orang yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri, menjelaskan praktik keras yang dijalankan oleh banyak pertapaan pada masa Sang Buddha, juga oleh Sang Bodhisatta Gotama sendiri selama masa berjuang untuk mencapai pencerahan. Baca Majjhima Nikāya 12.45.]

Orang-orang jenis apakah, Brahmana, yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain? Di sini seseorang tertentu adalah seorang penyembelih domba, penyembelih babi, penyembelih unggas, penangkap binatang-binatang liar, pemburu, nelayan, pencuri, algojo, sipir penjara, atau seorang yang menekuni pekerjaan berdarah itu. Ini disebut jenis orang yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain.

[Komentar : Adalah merupakan kelaziman dalam praktek di penjara, narapidana yang berlatar-belakang para kriminal tidak dapat ditertibkan bila sipir tidak bersikap keras secara konsisten.]

Orang-orang jenis apakah, Brahmana, yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain? Di sini seseorang yang adalah raja mulia yang sah atau seorang brahmana kaya. Setelah membangun sebuah kuil pengorbanan baru di sebelah timur kota, dan setelah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah dari kulit kasar, dan melumuri tubuhnya dengan ghee dan minyak, menggaruk punggungnya dengan tanduk rusa, ia memasuki kuil pengorbanan bersama dengan ratunya dan brahmana pendeta tertinggi. Di sana ia berbaring di atas tanah yang ditebari rumput. Raja bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu pertama seekor sapi yang memiliki anak dengan warna yang sama sedangkan ratu bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu ke dua dan brahmana pendeta tertinggi bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu ke tiga; susu dari puting susu ke empat dituangkan ke dalam api, dan anak sapi itu hidup dari apa yang tersisa. Ia berkata sebagai berikut: ‘Mari menyembelih sapi-sapi sebagai pengorbanan, mari menyembelih sapi-sapi muda sebagai pengorbanan, mari menyembelih anak-anak sapi sebagai pengorbanan, mari menyembelih domba-domba sebagai pengorbanan, mari menebang banyak pepohonan sebagai tiang pengorbanan, mari memotong banyak rumput sebagai rumput pengorbanan.’ Dan kemudian para budak, kurir, dan pelayannya membuat persiapan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, karena didorong oleh ancaman hukuman dan oleh ketakutan. Ini disebut jenis orang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain.

[Kitab Komentar : Paragraf di atas menunjukkan praktik dari seseorang yang menyiksa dirinya dengan berharap memperoleh jasa dan kemudian memberikan pengorbanan yang melibatkan pembantaian banyak binatang dan penindasan pada para pekerjanya.]

Orang-orang jenis apakah, Brahmana, yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci?

[Kitab Komentar : Itu adalah Arahant. Untuk menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menyiksa dirinya sendiri dan juga makhluk lain, berikutnya Yang Mulia Udena menjelaskan jalan praktik yang dengannya Sang Buddha sampai pada Kearahantaan.]

“Di sini, Brahmana, seorang Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan. Beliau menyatakan dunia ini bersama para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.

“Seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga atau seorang yang terlahir dari beberapa suku lainnya mendengarkan Dhamma itu. Ketika mendengarkan Dhamma itu ia memperoleh keyakinan dalam Sang Tathāgata. Dengan memiliki keyakinan itu, ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga ramai dan berdebu; kehidupan lepas dari keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup dalam sebuah keluarga, juga menjalani kehidupan suci yang murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Kemudian pada kesempatan lain, dengan meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang banyak atau sedikit, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

[Komentar : Bila kita perhatikan baik-baik kalimat “dengan meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang banyak atau sedikit”, menjadi tahulah kita betapa “pengorbanan” sesungguhnya terjadi ketika Pangeran Siddhatta Gotama meninggalkan takhta kerajaan, serta meninggalkan istri, anak, maupun orangtuanya. Memilih menjadi seorang bhikkhu (meninggalkan keduniawian), adalah pengorbanan sejati, kontras yang kisah Ibrahim / Abraham dalam agama samawi-abrahamik yang justru merampas nyawa-hidup puteranya sendiri.]

“Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya hidup kebhikkhuan, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, berhati-hati, penuh belas kasih, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup. Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan; hanya mengambil apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dengan tidak mencuri ia berdiam dalam kemurnian. Dengan meninggalkan kehidupan tidak selibat, ia menjalani hidup selibat, hidup terpisah, menghindari praktek vulgar hubungan seksual.

Dengan meninggalkan ucapan salah, ia menghindari ucapan salah; ia mengatakan kebenaran, terikat pada kebenaran, terpercaya dan dapat diandalkan, seorang yang bukan penipu dunia. Dengan menghindari ucapan fitnah, ia menghindari ucapan fitnah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga tidak mengulangi pada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia menjadi seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, senang dalam kerukunan, pengucap kata-kata yang menganjurkan kerukunan. Dengan meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Dengan meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang sebenarnya, mengatakan apa yang baik, membicarakan Dhamma dan Disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, yang logis, selayaknya, dan bermanfaat.

“Ia menghindari merusak benih dan tanaman. Ia berlatih makan hanya dalam satu kali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang selayaknya. Ia menghindari menari, menyanyi, musik, dan pertunjukan hiburan. Ia menghindari mengenakan kalung bunga, mengharumkan dirinya dengan wewangian, dan menghias dirinya dengan salep. Ia menghindari dipan yang tinggi dan besar. Ia menghindari menerima emas dan perak. Ia menghindari menerima beras mentah. Ia menghindari menerima daging mentah. Ia menghindari menerima perempuan-perempuan dan gadis-gadis. Ia menghindari menerima budak laki-laki dan perempuan. Ia menghindari menerima kambing dan domba. Ia menghindari menerima unggas dan babi. Ia menghindari menerima gajah, sapi, kuda jantan, dan kuda betina. Ia menghindari menerima ladang dan tanah. Ia menghindari menjadi pesuruh dan penyampai pesan. Ia menghindari membeli dan menjual. Ia menghindari timbangan salah, logam palsu, dan ukuran salah. Ia menghindari menerima suap, penipuan, kecurangan, dan muslihat. Ia menghindari melukai, membunuh, mengikat, merampok, menjarah, dan kekerasan.

[Komentar : Dalam Buddhisme, para siswa Sang Buddha terbagai menjadi dua kelompok yang sifatnya ialah pilihan, yakni sebagai umat awam dan Brahmana dalam disiplin monastik yang hidup selibat. Disiplin seperti menghindari menerima ladang dan tanah, menghindari menjadi pesuruh dan penyampai pesan, menghindari membeli dan menjual, diperuntukkan bagi Brahmana, sebagaimana tercatat dalam Vinaya Pitaka, satu dari tiga Pitaka (Tipitaka). Kehidupan monastik, merupakan sebuah pengkondisian berupa “terasing dari kenikmatan indriawi”, yang sifatnya mendukung pencapaian meditatif, juga dalam rangka terlepas dari “beban-beban” duniawi, dengan buahnya ialah “suatu kebahagiaan yang tanpa noda”.]

“Ia menjadi puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan ke manapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Seperti halnya seekor burung, ke manapun ia pergi, ia terbang hanya dengan sayap-sayapnya sebagai beban satu-satunya, demikian pula, bhikkhu itu menjadi puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan ke manapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Dengan memiliki kelompok moralitas mulia ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa noda.

Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Ketika mendengar suatu suara dengan telinga ... Ketika mencium suatu bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah ... Ketika menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan ... Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian mulia akan indria-indria ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa noda.

Ia menjadi seorang yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju maupun mundur; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika melihat ke depan maupun ke belakang; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika menunduk maupun menegakkan badan; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika buang air besar maupun buang air kecil; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berjalan, berbicara, dan berdiam diri.

“Dengan memiliki kelompok moralitas mulia ini, dan pengendalian mulia atas indria-indria ini, dan memiliki perhatian mulia dan kewaspadaan mulia ini, ia mencari tempat tinggal yang terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, hutan belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.

“Setelah kembali dari menerima dana makanan, setelah makan ia duduk bersila, menegakkan badannya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan akan dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih bagi kesejahteraan semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan terbebas dari kelambanan dan ketumpulan, seorang yang mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam dengan tanpa kegelisahan dengan batin yang damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tanpa kebingungan akan kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.

Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-murnian pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.

“Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.

“Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’

“Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang tanpa-kesakitan-juga-tanpa-kenikmatan dan memiliki kemurnian perhatian karena keseimbangan.

Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau.

Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.

Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

“Ini, Brahmana, disebut jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci.” [162]

31. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Ghoamukha berkata kepada Yang Mulia Udena: “Mengagumkan, Guru Udena! Mengagumkan, Guru Udena! Guru Udena telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Udena dan pada Dhamma dan pada Sangha Brahmana. Sejak hari ini sudilah Guru Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

32. “Jangan berlindung padaku, Brahmana. Berlindunglah pada Sang Bhagavā yang kepadaNya juga aku berlindung.”

“Di manakah Beliau menetap sekarang, Guru Gotama itu, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, Guru Udena?”

“Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna itu telah mencapai Nibbāna akhir, Brahmana.”

11. “Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada sepuluh liga jauhnya, maka kami akan pergi sejauh sepuluh liga untuk menemui Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada dua puluh liga ... tiga puluh liga ... empat puluh liga ... lima puluh liga ... seratus liga, [163] maka kami akan pergi sejauh seratus liga untuk menemui Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Tetapi karena Guru Gotama telah mencapai Nibbāna akhir, maka kami berlindung pada Guru Gotama itu, dan kepada Dhamma, dan kepada Sangha Brahmana. Sejak hari ini sudilah Guru Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.

33. “Sekarang, Guru Udena, Raja Anga memberikan persembahan harian kepadaku. Dari persembahan itu izinkan aku memberikan persembahan rutin kepada Guru Udena.”

“Persembahan rutin apakah yang diberikan oleh Raja Anga kepadamu, Brahmana?”

“Lima ratus kahāpaa, Guru Udena.”

[Kitab Komentar : Kahāpaa adalah unit mata uang pada masa itu.]

“Kami tidak diperbolehkan menerima emas dan perak, Brahmana.”

“Jika tidak diperbolehkan bagi Guru Udena, maka aku akan membangun sebuah vihara untuk Guru Udena.”

“Jika engkau ingin membangun sebuah vihara untukku, Brahmana, bangunlah sebuah aula untuk Sangha di Pāaliputta.”

[Kitab Komentar : Pada masa hari-hari terakhir Sang Buddha, kota ini hanyalah sebuah pemukiman kecil yang dikenal sebagai Pāaligāma. Pada Dīgha Nikāya 16.1.28 / iii.87, Sang Buddha meramalkan perkembangannya di masa depan. Kota ini akhirnya menjadi ibukota Magadha. Pada masa sekarang ini dikenal sebagai kota Patna, ibukota Negara bagian Bihar.]

“Aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan usul Guru Udena untuk memberikan persembahan kepada Sangha. Maka dengan persembahan rutin ini dan persembahan rutin lainnya, aku akan membangun sebuah aula untuk Sangha di Pāaliputta.”

Kemudian dengan persembahan rutin [yang ia persembahkan kepada Guru Udena] dan persembahan rutin lainnya [yang ditambahkan], Brahmana Ghoamukha membangun sebuah aula untuk Sangha di Pāaliputta. Dan sekarang dikenal sebagai Ghoamukhi.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, bagaikan “orang BUTA”, para muslim memandang serta meyakini dogma KORUP berikut sebagai “Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda” dan “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan”, dimana “neraka”-pun mereka pandang serta yakini sebagai “surga” serta berbondong-bondong terperosok masuk ke dalamnya dengan rasa bangga tanpa menaruh warspada terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil terlebih pelanggaran besar—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan nilai sendiri dengan nurani serta akal-sehat dan pikiran jernih Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul allah” merupakan jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain, ataukah sebaliknya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]