Miskin-Keringnya Ajaran Agama Samawi : Haram Hukumnya Mempertanyakan dan Memakai Otak untuk Berpikir Kritis
Question : Yang namanya junjungan atau teladan, harusnya lebih baik standar-moralnya ketimbang yang menjadi pengikut atau umat. Tapi di islam berbeda, nabi yang para muslim junjung, justru lebih mabok, lebih tergila-gila, lebih demam, dan lebih kecanduan “pengampunan dosa” daripada para umatnya. Artinya, nabi para muslim itu dosa-dosanya lebih menggunung daripada dosa-dosa para muslim yang menjadi pengikutnya. Sebenarnya para muslim itu hendak meneladani kebusukan-moral sang nabi, ataukah apa? Bukankah menjadi tidak mengherankan, bila kemudian kita menemukan kabar berita maupun realita keseharian dimana para muslim yang melakukan aksi kejahatan maupun korupsi?
Brief
Answer : Yang paling ditakutkan
kalangan muslim, ialah umat Buddhist yang sejati (bukan “Buddhist ritual”
maupun “Buddhist KTP”). Mengapa? Karena mereka sukar menemukan cacat-cela pada
ajaran maupun teladan hidup Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam sumber
otentik ajaran Sang Buddha, yakni Tipitaka—bukan Wikipedia. Sebaliknya, mudah
sekali mengolok-olok kaum muslim maupun menjadikan agama islam sebagai “bulan-bulanan”,
mengingat sang nabi junjungan para muslim begitu penuh cacat-cela dari segi
moralitas, ajaran, maupun perilaku.
Saat
mereka menantang berdebat dengan umat Buddhist, barulah kesombongan, arogansi,
maupun delusi perasaan superior mereka seketika runtuh, menjelma merasa malu
sendiri. Karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu, berjumpa, ataupun
berdebat dengan orang-orang dengan “standar moral” yang jauh lebih tinggi
melampaui mereka maupun nabi junjungan para muslim tersebut. Sering penulis
membuat tantangan terbuka, jika mereka bisa merujuk satu saja cacat-cela dalam
ajaran maupun perilaku Sang Buddha, maka penulis seketika akan keluar dari
Agama Buddha dan “hijrah” ke seberang.
Hingga kini,
belum ada satupun tawaran tantangan demikian diambil kesempatannya oleh
kalangan nonBuddhist, sekalipun telah lama penulis menunggu mereka untuk menerima
tantangan berdebat. Sebaliknya, bilamana ada umat dari agama samawi membuat undangan
tantangan serupa, dapat penulis pastikan batin dan mental mereka akan “babak-belur”
dan “pecah berkeping-keping”. Keyakinan mereka, dibangun semata kepada “kepercayaan
membuta”, karena fondasi mereka rapuh dan keropos. Sebaliknya, Sang Buddha
maupun para siswa-Nya selalu berkata sebagai berikut:
“Brahmana, jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diterima,
maka terimalah; jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus
diperdebatkan, maka perdebatkanlah, tanyakanlah untuk mengklarifikasinya
dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena? Apakah makna dari pernyataan
ini?’ Dengan cara ini kita dapat mendiskusikan persoalan ini.”
PEMBAHASAN:
Misi misionaris
Sang Buddha maupun Buddhisme paska mangkatnya Beliau, tidak pernah dibangun
diatas landasan ancaman-ancaman dogmatik seperti “tidak percaya dan tidak
meyakini, maka masuk neraka”, juga bukan memakai sebilah pedang untuk
menumpahkan darah pihak-pihak yang tidak bersedia meyakini sebagaimana pedang milik
nabi para muslim digunakan, dimana bahkan mengatas-namakan iman tega
menyembelih dan menumpahkan darah anak kandung sendiri—terlebih perilaku para “haus
darah” tersebut terhadap orang lain maupun kaum yang berseberangan.
Misi
misionaris Buddhisme, sangat lembut dan halus, penuh welas-asih, sebagaimana dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
94
Ghoṭamukha Sutta : Kepada
Ghoṭamukha
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Udena sedang
menetap di Benares di Hutan Mangga Khemiya.
2. Pada saat itu Brahmana Ghoṭamukha telah tiba di Benares untuk suatu urusan.
Sewaktu ia sedang [158] berjalan-jalan untuk berolah-raga, ia sampai di Hutan
Mangga Khemiya. Pada saat itu Yang Mulia Udena sedang berjalan mondar-mandir di
ruang terbuka. Kemudian Brahmana Ghoṭamukha mendatangi Yang Mulia Udena dan saling
bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, sambil berjalan
mondar-mandir bersama Yang Mulia Udena, ia berkata: “Petapa Mulia, tidak ada
kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku,
dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau
[karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.”
3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udena melangkah turun dari jalan
setapak dan masuk ke kediamannya, di mana ia duduk di tempat yang telah
tersedia.877 Dan Ghoṭamukha juga melangkah turun dari jalan setapak dan
masuk ke kediaman, di mana ia berdiri di satu sisi. Kemudian Yang Mulia Udena
berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, Brahmana, silahkan duduk jika engkau
menginginkan.”
[Kitab Komentar : Yang Mulia Udena secara sengaja
mengakhiri sesi meditasi-berjalannya, lalu memasuki kediaman, karena menyadari
bahwa suatu diskusi yang panjang akan dilakukan.]
“Kami tidak duduk karena kami sedang menunggu Guru Udena [berbicara].
Karena bagaimana mungkin seseorang seperti diriku berani duduk di tempat duduk
tanpa sebelumnya diundang untuk duduk?”
4. Kemudian Brahmana Ghoṭamukha mengambil bangku rendah, duduk di satu sisi,
dan berkata kepada Yang Mulia Udena: “Petapa Mulia, tidak ada kehidupan
pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah sepertinya bagiku, dan itu mungkin
karena aku belum pernah melihat para mulia seperti dirimu atau [karena aku
belum pernah melihat] Dhamma di sini.”
“Brahmana,
jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diterima, maka terimalah;
jika engkau merasa bahwa apapun pernyataanku harus diperdebatkan, maka perdebatkanlah,
tanyakanlah untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru
Udena? Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini kita dapat
mendiskusikan persoalan ini.”
“Guru Udena, jika aku merasa bahwa apapun pernyataan Guru Udena harus
diterima, maka aku akan menerimanya; jika aku merasa bahwa apapun pernyataannya
harus diperdebatkan, maka aku akan memperdebatkannya; dan jika aku [159] tidak memahami
makna dari pernyataan Guru Udena, maka aku akan menanyakan kepada Guru Udena
untuk mengklarifikasinya dengan pertanyaan: ‘Bagaimanakah ini, Guru Udena?
Apakah makna dari pernyataan ini?’ Dengan cara ini marilah kita mendiskusikan
persoalan ini.”
5. “Brahmana, terdapat empat jenis orang di dunia ini. Apakah empat ini? Apakah
empat ini? Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik
menyiksa dirinya. Di
sini jenis orang tertentu menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa
makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan
praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan
praktek menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu tidak menyiksa dirinya dan tidak
melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan
tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Karena ia tidak
menyiksa dirinya dan makhluk lain, maka ia di sini dan saat ini tidak merasa
lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah
dirinya sendiri menjadi suci. Yang manakah dari empat jenis orang ini yang memuaskan pikiranmu, Brahmana?”
[Kitab Komentar : Yang Mulia Udena menunjukkan bahwa
tiga jenis orang pertama mempraktikkan jalan yang mencelakai, sedangkan
jenis ke empat mempraktikkan jalan yang bermanfaat. Sang Buddha menunjukkan
tiga jalan (tiga jenis orang yang disebutkan diawal) yang tidak Beliau ajarkan
kepada Saṅgha dan satu jalan (jenis orang yang disebutkan diakhir) yang diajarkan
oleh semua Buddha di masa lampau, masa sekarang, dan masa depan kepada Saṅgha mereka.
Sukhapaṭisaṁvedi brahmabhūtena attanā, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Kitab
Komentar menjelaskan bahwa ia mengalami kebahagiaan jhāna, jalan, buah,
dan Nibbāna. “Brahma” di sini harus dipahami dalam makna suci atau mulia (seṭṭha).]
“Tiga
yang pertama tidak memuaskan pikiranku, Guru Udena, tetapi yang ke empat
memuaskan pikiranku.”
6. “Tetapi, Brahmana, mengapakah tiga yang pertama tidak memuaskan
pikiranmu?”
“Guru Udena, jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik
menyiksa dirinya, menyiksa dan melukai dirinya walaupun ia menginginkan
kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak
memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa makhluk lain dan melakukan
praktek menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai makhluk lain yang
menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang
ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa dirinya dan
melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan
melakukan praktek menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai dirinya dan
makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan;
itulah sebabnya
jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku.
“Tetapi, Guru Udena, jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak
melakukan praktik menyiksa dirinya dan yang tidak menyiksa makhluk lain dan
tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa
dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan
sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi
suci – ia
tidak menyiksa dan melukai dirinya maupun makhluk lain, yang mana keduanya
menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan. Itulah sebabnya jenis orang ini memuaskan
pikiranku.”
7. “Brahmana, ada dua jenis kelompok. Apakah dua ini? Di sini kelompok
tertentu bernafsu pada perhiasan dan anting-anting dan mencari istri dan
anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak.
Tetapi di sini
kelompok tertentu tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan
setelah meninggalkan istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang
dan tanah, emas dan perak, meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah. Sekarang ada jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak
melakukan praktik menyiksa dirinya dan yang tidak menyiksa makhluk lain dan
tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya
dan orang kain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk,
dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi
suci. Dalam
kelompok manakah dari kedua jenis kelompok ini engkau biasanya melihat orang
jenis ini, Brahmana – dalam kelompok yang bernafsu pada perhiasan dan
anting-anting dan mencari istri dan anak-anak, budak laki-laki dan perempuan,
ladang dan tanah, emas dan perak; atau dalam kelompok yang tidak bernafsu pada
perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah meninggalkan istri dan
anak-anak, budak laki-laki dan perempuan, ladang dan tanah, emas dan perak,
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah?”
[161] “Aku biasanya melihat orang jenis ini, Guru Udena, dalam kelompok
yang tidak bernafsu pada perhiasan dan anting-anting, melainkan setelah
meninggalkan istri dan anak-anak … meninggalkan keduniawian dari kehidupan
rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.”
8. “Tetapi baru saja, Brahmana, kami mendengar engkau mengatakan: ‘Petapa
Mulia, tidak ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan Dhamma: demikianlah
sepertinya bagiku, dan itu mungkin karena aku belum pernah melihat para mulia seperti
dirimu atau [karena aku belum pernah melihat] Dhamma di sini.’”
“Tentu saja, Guru Udena, adalah dengan tujuan untuk belajar maka aku
mengatakan kata-kata itu. Ada kehidupan pengembara yang sesuai dengan
Dhamma; demikianlah sepertinya bagiku, dan sudilah Guru Udena mengingatku
[telah berkata] demikian. Baik sekali jika, demi
belas kasih, Guru Udena
sudi menjelaskan kepadaku secara terperinci mengenai keempat jenis orang yang telah
disebutkan secara singkat.”
9. “Maka, Brahmana, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan
kukatakan,” – “Baik, Tuan,” Brahmana Ghoṭamukha menjawab. Yang Mulia Udena berkata sebagai
berikut:
10-30. “Brahmana, orang-orang
jenis apakah yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa
dirinya sendiri? Di sini
seseorang tertentu bepergian dengan telanjang, melanggar kebiasaan, menjilat
tangannya, tidak datang ketika diminta, tidak berhenti ketika diminta; ia tidak
menerima makanan yang diserahkan dan tidak menerima makanan yang secara khusus
dipersiapkan dan tidak menerima undangan makan; ia tidak menerima dari kendi,
dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu, melintasi alat
penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari
perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berada di
tengah-tengah para laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan,
dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; ia tidak
menerima ikan atau daging, ia tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman
fermentasi. Ia mendatangi satu rumah, satu suap; ia mendatangi dua rumah, dua
suap; … ia mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Ia makan satu mangkuk sehari,
dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari. Ia makan sekali dalam sehari, sekali
dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya hingga sekali setiap
dua minggu; ia berdiam dengan menjalani praktik makan pada interval waktu yang
telah ditentukan. Ia adalah pemakan sayur-sayuran atau jawawut atau beras liar
atau kupasan kulit atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau
rumput atau kotoran sapi. Ia hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan;
ia memakan buah-buahan yang jatuh. Ia mengenakan pakaian terbuat dari rami,
dari rami bercampur kain, dari kain pembungkus mayat, dari kain yang dibuang,
dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput
kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain
bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu. Ia adalah seorang yang mencabut
rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut. Ia adalah
seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk. Ia adalah seorang
yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok. Ia adalah
seorang yang menggunakan alas tidur paku; ia menjadikan alas tidur paku sebagai
tempat tidurnya. Ia berdiam dengan menjalani praktek mandi tiga kali sehari
termasuk malam hari. Demikianlah dalam berbagai cara ia berdiam dengan
menjalankan praktik menyiksa dan menyakiti tubuhnya. Ini disebut jenis orang
yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri.
[Kitab Komentar : Jenis orang yang menyiksa dirinya
sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri, menjelaskan praktik
keras yang dijalankan oleh banyak pertapaan pada masa Sang Buddha, juga oleh
Sang Bodhisatta Gotama sendiri selama masa berjuang untuk mencapai pencerahan.
Baca Majjhima Nikāya 12.45.]
“Orang-orang
jenis apakah, Brahmana, yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik
menyiksa makhluk lain? Di sini seseorang tertentu adalah seorang penyembelih domba,
penyembelih babi, penyembelih unggas, penangkap binatang-binatang liar,
pemburu, nelayan, pencuri, algojo, sipir penjara, atau seorang yang menekuni
pekerjaan berdarah itu. Ini disebut jenis orang yang menyiksa makhluk lain
dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain.
[Komentar : Adalah merupakan kelaziman dalam praktek
di penjara, narapidana yang berlatar-belakang para kriminal tidak dapat
ditertibkan bila sipir tidak bersikap keras secara konsisten.]
“Orang-orang
jenis apakah, Brahmana, yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik
menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik
menyiksa makhluk lain? Di sini seseorang yang adalah raja mulia yang sah atau seorang brahmana
kaya. Setelah membangun sebuah kuil pengorbanan baru di sebelah timur kota, dan
setelah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah dari kulit kasar, dan
melumuri tubuhnya dengan ghee dan minyak, menggaruk punggungnya dengan tanduk
rusa, ia memasuki kuil pengorbanan bersama dengan ratunya dan brahmana pendeta
tertinggi. Di sana ia berbaring di atas tanah yang ditebari rumput. Raja
bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu pertama seekor
sapi yang memiliki anak dengan warna yang sama sedangkan ratu bertahan hidup
dengan meminum susu yang berasal dari puting susu ke dua dan brahmana pendeta
tertinggi bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu ke
tiga; susu dari puting susu ke empat dituangkan ke dalam api, dan anak sapi itu
hidup dari apa yang tersisa. Ia berkata sebagai berikut: ‘Mari menyembelih
sapi-sapi sebagai pengorbanan, mari menyembelih sapi-sapi muda sebagai
pengorbanan, mari menyembelih anak-anak sapi sebagai pengorbanan, mari
menyembelih domba-domba sebagai pengorbanan, mari menebang banyak pepohonan
sebagai tiang pengorbanan, mari memotong banyak rumput sebagai rumput
pengorbanan.’ Dan
kemudian para budak, kurir, dan pelayannya membuat persiapan, menangis
dengan wajah basah oleh air mata, karena didorong oleh ancaman hukuman dan oleh
ketakutan. Ini disebut jenis orang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan
praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa makhluk lain dan melakukan
praktik menyiksa makhluk lain.
[Kitab Komentar : Paragraf di atas menunjukkan
praktik dari seseorang yang menyiksa dirinya dengan berharap memperoleh jasa
dan kemudian memberikan pengorbanan yang melibatkan pembantaian banyak binatang
dan penindasan pada para pekerjanya.]
“Orang-orang
jenis apakah, Brahmana, yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik
menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan
praktik menyiksa makhluk lain – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan
orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan
ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci?
[Kitab Komentar : Itu adalah Arahant. Untuk
menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menyiksa dirinya sendiri dan juga
makhluk lain, berikutnya Yang Mulia Udena menjelaskan jalan praktik yang
dengannya Sang Buddha sampai pada Kearahantaan.]
“Di sini, Brahmana, seorang Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan
sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal
seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus
dijinakkan. Beliau
menyatakan dunia ini bersama para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama
dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang telah
Beliau tembus oleh dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau
mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di
akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar, dan Beliau mengungkapkan
kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.
“Seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga atau seorang yang
terlahir dari beberapa suku lainnya mendengarkan Dhamma itu. Ketika
mendengarkan Dhamma itu ia memperoleh keyakinan dalam Sang Tathāgata. Dengan memiliki keyakinan itu, ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan
rumah tangga ramai dan berdebu; kehidupan lepas dari keduniawian terbuka lebar.
Tidaklah mudah, selagi hidup dalam sebuah keluarga, juga menjalani kehidupan
suci yang murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana
jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah.’ Kemudian pada kesempatan lain, dengan
meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang
banyak atau sedikit, ia
mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
[Komentar : Bila kita perhatikan baik-baik kalimat “dengan
meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang
banyak atau sedikit”, menjadi tahulah kita betapa “pengorbanan”
sesungguhnya terjadi ketika Pangeran Siddhatta Gotama meninggalkan takhta
kerajaan, serta meninggalkan istri, anak, maupun orangtuanya. Memilih
menjadi seorang bhikkhu (meninggalkan keduniawian), adalah pengorbanan sejati,
kontras yang kisah Ibrahim / Abraham dalam agama samawi-abrahamik yang justru
merampas nyawa-hidup puteranya sendiri.]
“Setelah meninggalkan
keduniawian demikian dan memiliki latihan dan
gaya hidup kebhikkhuan, dengan
meninggalkan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan
makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, berhati-hati, penuh
belas kasih, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup.
Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia
menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan; hanya mengambil apa
yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dengan tidak mencuri ia berdiam dalam kemurnian. Dengan meninggalkan kehidupan tidak selibat, ia
menjalani hidup selibat, hidup terpisah, menghindari
praktek vulgar hubungan seksual.
“Dengan
meninggalkan ucapan salah, ia menghindari ucapan salah; ia mengatakan
kebenaran, terikat pada kebenaran, terpercaya dan dapat diandalkan, seorang
yang bukan penipu dunia. Dengan menghindari ucapan fitnah, ia menghindari ucapan fitnah; ia
tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan
untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga tidak
mengulangi pada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan
tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia
menjadi seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur
persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, senang
dalam kerukunan, pengucap kata-kata yang menganjurkan kerukunan. Dengan
meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan
kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk
dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Dengan
meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat,
mengatakan apa yang sebenarnya, mengatakan apa yang baik, membicarakan Dhamma
dan Disiplin; pada
saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, yang logis,
selayaknya, dan bermanfaat.
“Ia menghindari merusak benih dan tanaman. Ia berlatih makan hanya dalam
satu kali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang
selayaknya. Ia menghindari menari, menyanyi, musik, dan pertunjukan hiburan. Ia
menghindari mengenakan kalung bunga, mengharumkan dirinya dengan wewangian, dan
menghias dirinya dengan salep. Ia menghindari dipan yang tinggi dan besar. Ia
menghindari menerima emas dan perak. Ia menghindari menerima beras mentah. Ia
menghindari menerima daging mentah. Ia menghindari menerima perempuan-perempuan
dan gadis-gadis. Ia menghindari menerima budak laki-laki dan perempuan. Ia
menghindari menerima kambing dan domba. Ia menghindari menerima unggas dan
babi. Ia menghindari menerima gajah, sapi, kuda jantan, dan kuda betina. Ia
menghindari menerima ladang dan tanah. Ia menghindari menjadi pesuruh dan
penyampai pesan. Ia menghindari membeli dan menjual. Ia menghindari
timbangan salah, logam palsu, dan ukuran salah. Ia
menghindari menerima suap, penipuan, kecurangan, dan muslihat. Ia menghindari
melukai, membunuh, mengikat, merampok, menjarah, dan kekerasan.
[Komentar : Dalam Buddhisme, para siswa Sang Buddha
terbagai menjadi dua kelompok yang sifatnya ialah pilihan, yakni sebagai umat
awam dan Brahmana dalam disiplin monastik yang hidup selibat. Disiplin seperti
menghindari menerima ladang dan tanah, menghindari menjadi pesuruh dan
penyampai pesan, menghindari membeli dan menjual, diperuntukkan bagi Brahmana,
sebagaimana tercatat dalam Vinaya Pitaka, satu dari tiga Pitaka (Tipitaka).
Kehidupan monastik, merupakan sebuah pengkondisian berupa “terasing dari
kenikmatan indriawi”, yang sifatnya mendukung pencapaian meditatif, juga dalam
rangka terlepas dari “beban-beban” duniawi, dengan buahnya ialah “suatu
kebahagiaan yang tanpa noda”.]
“Ia menjadi
puas dengan jubah
untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya,
dan ke manapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Seperti halnya seekor
burung, ke manapun ia pergi, ia terbang hanya dengan sayap-sayapnya sebagai
beban satu-satunya, demikian pula, bhikkhu itu menjadi puas dengan jubah untuk
melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan ke
manapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Dengan memiliki kelompok
moralitas mulia ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa
noda.
“Ketika
melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena,
jika ia membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak
bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih
cara pengendaliannya, ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian
indria mata. Ketika mendengar suatu suara dengan telinga ... Ketika mencium
suatu bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan
lidah ... Ketika menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan ... Ketika
mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tanpa terkendali,
kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat
menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria pikiran, ia
menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan
memiliki pengendalian mulia akan indria-indria ini, ia mengalami dalam dirinya
suatu kebahagiaan yang tanpa noda.
“Ia
menjadi seorang yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju
maupun mundur; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika melihat ke depan
maupun ke belakang; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika menunduk
maupun menegakkan badan; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika
mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; yang bertindak dalam
kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap; yang
bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika buang air besar maupun buang air
kecil; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri, duduk,
jatuh tertidur, terjaga, berjalan, berbicara, dan berdiam diri.
“Dengan memiliki
kelompok moralitas mulia ini, dan pengendalian mulia atas indria-indria ini,
dan memiliki perhatian mulia dan kewaspadaan mulia ini, ia mencari tempat tinggal yang terasing: hutan,
bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, hutan
belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.
“Setelah kembali dari menerima dana makanan, setelah makan ia duduk
bersila, menegakkan badannya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan
ketamakan akan dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia
memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan
kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih
bagi kesejahteraan semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari
permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan
terbebas dari kelambanan dan ketumpulan, seorang yang mempersepsikan cahaya,
penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan
dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam
dengan tanpa kegelisahan dengan batin yang damai; ia memurnikan pikirannya dari
kegelisahan dan penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia
berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tanpa kebingungan akan kondisi-kondisi
bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.
“Setelah
meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-murnian pikiran yang melemahkan
kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama,
yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari keterasingan.
“Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki
keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.
“Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam
keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan
kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang
dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang
memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’
“Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan
pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan
berdiam dalam jhāna ke empat, yang tanpa-kesakitan-juga-tanpa-kenikmatan dan
memiliki kemurnian perhatian karena keseimbangan.
“Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat
banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran,
empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga
puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus
kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa
penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa
penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu,
makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur
kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di
tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku
seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku
muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia
mengingat banyak kehidupan lampau.
“Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali
makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam
jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan,
memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam
rendah, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini,
yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para
mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan
mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di
alam yang bahagia, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang
murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan
muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia
memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.
“Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini
adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
jalan menuju lenyapnya penderitaan’; ia
memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan
menuju lenyapnya noda-noda.’
“Ketika
ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan
indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan
muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
“Ini, Brahmana, disebut jenis orang
yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan
ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa
makhluk lain – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia
di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan berdiam dengan
mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci.” [162]
31. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Ghoṭamukha berkata kepada Yang Mulia Udena: “Mengagumkan,
Guru Udena! Mengagumkan, Guru Udena! Guru Udena telah membabarkan Dhamma dalam
berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan
apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan
pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat
bentuk-bentuk. Aku
berlindung pada Guru Udena dan pada Dhamma dan pada Sangha Brahmana. Sejak hari
ini sudilah Guru Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah
menerima perlindungan seumur hidup.”
32. “Jangan
berlindung padaku, Brahmana. Berlindunglah pada Sang Bhagavā yang kepadaNya
juga aku berlindung.”
“Di manakah Beliau menetap sekarang, Guru Gotama itu, yang sempurna dan
tercerahkan sempurna, Guru Udena?”
“Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna itu telah mencapai
Nibbāna akhir, Brahmana.”
11. “Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada sepuluh liga jauhnya,
maka kami akan pergi sejauh sepuluh liga untuk menemui Guru Gotama, yang
sempurna dan tercerahkan sempurna. Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama
berada dua puluh liga ... tiga puluh liga ... empat puluh liga ... lima puluh liga
... seratus liga, [163] maka kami akan pergi sejauh seratus liga untuk menemui
Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Tetapi karena Guru
Gotama telah mencapai Nibbāna akhir, maka kami berlindung pada Guru Gotama itu,
dan kepada Dhamma, dan kepada Sangha Brahmana. Sejak hari ini sudilah Guru
Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan
seumur hidup.
33. “Sekarang, Guru Udena, Raja Anga memberikan persembahan harian
kepadaku. Dari persembahan itu izinkan aku memberikan persembahan rutin kepada
Guru Udena.”
“Persembahan rutin apakah yang diberikan oleh Raja Anga kepadamu,
Brahmana?”
“Lima ratus kahāpaṇa, Guru Udena.”
[Kitab Komentar : Kahāpaṇa adalah
unit mata uang pada masa itu.]
“Kami tidak diperbolehkan menerima emas dan perak, Brahmana.”
“Jika tidak diperbolehkan bagi Guru Udena, maka aku akan membangun sebuah
vihara untuk Guru Udena.”
“Jika engkau ingin membangun sebuah vihara untukku, Brahmana, bangunlah
sebuah aula untuk Sangha di Pāṭaliputta.”
[Kitab Komentar : Pada masa hari-hari terakhir Sang
Buddha, kota ini hanyalah sebuah pemukiman kecil yang dikenal sebagai Pāṭaligāma.
Pada Dīgha Nikāya 16.1.28 / iii.87, Sang Buddha meramalkan perkembangannya di
masa depan. Kota ini akhirnya menjadi ibukota Magadha. Pada masa sekarang ini
dikenal sebagai kota Patna, ibukota Negara bagian Bihar.]
“Aku bahkan menjadi lebih puas dan lebih senang dengan usul Guru Udena
untuk memberikan persembahan kepada Sangha. Maka dengan persembahan rutin ini
dan persembahan rutin lainnya, aku akan membangun sebuah aula untuk Sangha di Pāṭaliputta.”
Kemudian dengan persembahan rutin [yang ia persembahkan kepada Guru
Udena] dan persembahan rutin lainnya [yang ditambahkan], Brahmana Ghoṭamukha membangun sebuah aula untuk Sangha di Pāṭaliputta. Dan sekarang dikenal sebagai Ghoṭamukhi.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, bagaikan “orang BUTA”, para
muslim memandang serta meyakini dogma KORUP berikut sebagai “Ini adalah jalan
menuju lenyapnya noda-noda” dan “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan”,
dimana “neraka”-pun mereka pandang serta yakini sebagai “surga” serta berbondong-bondong
terperosok masuk ke dalamnya dengan rasa bangga tanpa menaruh warspada terhadap
pelanggaran-pelanggaran kecil terlebih pelanggaran besar—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai sendiri dengan nurani serta akal-sehat dan pikiran jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul allah” merupakan jenis orang yang tidak
menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga
tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain, ataukah
sebaliknya?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]