Tidak Ada Agama Buddha, yang Ada ialah Agama DHAMMA
Question: Buddha Gaotama beragama apakah?
Brief Answer: Sang Buddha beragama DHAMMA, dimana Dhamma
menjadi otoritasnya. Selama ini, banyak masyarakat bahkan umat Buddhist itu sendiri,
yang secara keliru membuat istilah “Agama Buddha”, padahal Sang Buddha sendiri beragama
Dhamma, bukan “Buddha beragama Buddha”. Sehingga, adalah lebih tepat dan akurat
bila kita mulai meluruskan, bahwa yang ada ialah “Agama DHAMMA”, bukan “Agama
Buddha”.
Sang Buddha pernah bersabda, bahwa Beliau
mengajarkan “sang jalan” sesuai Dhamma, hanya mengandalkan Dhamma, menghormati,
menghargai, dan memuliakan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai patokan, panji,
dan otoritasnya, memberikan perlindungan, naungan, dan penjagaan yang
selayaknya. Bila kita merangkum Dhamma yang dibabarkan oleh Sang Buddha, “sang
jalan” (sebutan lain dari Dhamma) ialah suatu perjuangan gigih untuk “melawan
arus”. Dalam Aṅguttara Nikāya, salah satu Pitaka dari Tipitaka,
Sang Buddha bersabda:
Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat
ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam
pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana
yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) Dan apakah orang yang
mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.
(2) Dan
apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak
menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan
dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia
menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang
yang melawan arus.
PEMBAHASAN:
Sang Buddha, adalah teladan yang telah melalui “sang
jalan dan telah tiba di pantai seberang”. Namun, “sang jalan”-Nya ialah Dhamma
itu sendiri, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID I”, Judul
Asli : “The Numerical Discourses of the
Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
14 (4) Pemutar-Roda
“Para bhikkhu, bahkan seorang raja pemutar-roda,
seorang raja yang adil yang memerintah sesuai Dhamma, tidak memutar roda tanpa
raja di atasnya.”
Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu tertentu
berkata kepada Sang Bhagavā: “Tetapi, Bhante, siapakah raja di atas seorang
raja pemutar-roda, seorang raja yang adil yang memerintah sesuai Dhamma?”
“Yaitu Dhamma, bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata.346
“Di sini, bhikkhu, seorang raja pemutar-roda, seorang raja yang adil yang
memerintah sesuai Dhamma, hanya mengandalkan Dhamma, menghormati, menghargai,
dan memuliakan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai patokan, panji, dan
otoritasnya, memberikan perlindungan, naungan, dan penjagaan yang selayaknya
kepada para penduduk di wilayahnya. Kemudian, seorang raja pemutar roda,
seorang raja yang adil yang memerintah sesuai Dhamma, yang hanya mengandalkan
Dhamma, yang menghormati, menghargai, dan memuliakan Dhamma, yang menjadikan
Dhamma sebagai patokan, panji, dan otoritasnya, yang memberikan perlindungan,
naungan, dan penjagaan yang selayaknya kepada para pengikut khattiya, bala
tentara, [110] para brahmana, dan para perumah tangga, para penduduk pemukiman
dan desa, para petapa dan brahmana, dan binatang-binatang dan burung-burung.
Setelah memberikan perlindungan, naungan, dan penjagaan yang selayaknya
demikian kepada semua makhluk-makhluk ini, ia memutar roda hanya melalui
Dhamma,347 sebuah roda yang tidak dapat diputar balik oleh manusia jahat mana
pun juga.348
(1) “Demikian pula, bhikkhu, Sang Tathāgata, Sang
Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, Raja Dhamma yang baik, hanya mengandalkan
Dhamma, menghormati, menghargai, dan memuliakan Dhamma, menjadikan Dhamma
sebagai patokan, panji, dan otoritasNya, memberikan perlindungan, naungan, dan
penjagaan yang selayaknya sehubungan dengan perbuatan jasmani, dengan
mengatakan: ‘Perbuatan jasmani demikian harus dilatih; perbuatan jasmani
demikian tidak boleh dilatih.’
(2) “Kemudian, Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang
Tercerahkan Sempurna, Raja Dhamma yang baik, hanya mengandalkan Dhamma,
menghormati, menghargai, dan memuliakan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai
patokan, panji, dan otoritasNya, memberikan perlindungan, naungan, dan
penjagaan yang selayaknya sehubungan dengan perbuatan ucapan, dengan
mengatakan: ‘Perbuatan ucapan demikian harus dilatih; perbuatan ucapan demikian
tidak boleh dilatih.’
(3) “Kemudian, Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang
Tercerahkan Sempurna, Raja Dhamma yang baik, hanya mengandalkan Dhamma,
menghormati, menghargai, dan memuliakan Dhamma, menjadikan Dhamma sebagai
patokan, panji, dan otoritasNya, memberikan perlindungan, naungan, dan
penjagaan yang selayaknya sehubungan dengan perbuatan pikiran, dengan
mengatakan: ‘Perbuatan pikiran demikian harus dilatih; perbuatan pikiran
demikian tidak boleh dilatih.’
“Setelah memberikan perlindungan, naungan, dan
penjagaan yang selayaknya demikian sehubungan dengan perbuatan jasmani,
perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran, Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang
Tercerahkan Sempurna, Raja Dhamma yang baik memutar roda Dhamma yang tiada
bandingnya hanya melalui Dhamma, sebuah roda yang tidak dapat diputar balik
oleh petapa, brahmana, deva, Māra, atau Brahmā mana pun, atau oleh siapa pun di
dunia.”
~0~
40 (10) Otoritas
“Para bhikkhu, ada tiga otoritas ini. Apakah tiga
ini? Diri sendiri sebagai otoritas seseorang, dunia sebagai otoritas seseorang,
dan Dhamma sebagai otoritas seseorang.
[Kitab Komentar : Dalam Pāli: attādhipateyyaṃ lokādhipateyyaṃ dhammādhipateyyaṃ. Walaupun Bucknell (2004)
tidak mencantumkan paralel China dari sutta ini dalam daftar, tetapi kita dapat
menemukan sebuah paralel yang terdapat dalam *Śāriputrābhidharmaśāstra, pada T
XXVIII 679c22-680a27. Walaupun bagian prosa di sana lebih sederhana daripada
yang terdapat dalam Pāli, namun keduanya pada intinya menyampaikan makna yang
sama. Syair-syairnya, dengan pengecualian syair terakhir, bersesuaian sangat
erat.]
(1) “Dan apakah, para bhikkhu, diri
sendiri sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke
hutan, ke bawah pohon, atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan:
‘Aku tidak meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah demi jubah, makanan, atau tempat tinggal, atau demi menjadi ini
atau itu, melainkan [dengan pikiran]: “Aku tenggelam dalam kelahiran, penuaan,
dan kematian; dalam dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan.
Aku tenggelam dalam penderitaan, didera oleh penderitaan. Mungkin akhir dari
keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat terlihat.”
{Kitab Komentar : Na
itibhavābhavahetu. Penerjemah lain menganggap bahwa vokal panjang yang menghubungkan
kedua kata bhava sebagai menyiratkan pengulangan, bukan negasi: “Bukan
demi penjelmaan yang makmur di masa depan ini atau itu, [dengan harapan]:
‘[Semoga aku mendapatkan] penjelmaan ini [atau] penjelmaan itu’” (iti bhavo,
iti
bhavo ti evaṃ āyatiṃ na tassa tassa
sampattibhavassa hetu).]
[148] Sebagai seorang yang telah meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, tidaklah selayaknya
bagiku untuk mencari kenikmatan-kenikmatan indria yang serupa atau lebih buruk
dari apa yang telah kutinggalkan.’ Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan
harus dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan
tanpa kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus
dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah menjadikan dirinya sendiri sebagai
otoritasnya, ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa
yang bermanfaat; ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang tidak
tercela; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut diri
sendiri sebagai otoritas.
(2) “Dan apakah, para bhikkhu, dunia
sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah pohon,
atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah
… melainkan [dengan pikiran]: “Aku terbenam dalam kelahiran, penuaan, dan
kematian … Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat terlihat.”
Sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, aku mungkin memikirkan
pikiran-pikiran indriawi, pikiran-pikiran berniat buruk, atau pikiran-pikiran
mencelakai. Tetapi bidang dunia ini sangat luas. Dalam luasnya dunia ini
terdapat para petapa dan brahmana yang memiliki kekuatan batin dan mata dewa
yang mengetahui pikiran makhluk-makhluk lain. Mereka melihat benda-benda yang
jauh tetapi mereka sendiri tidak terlihat bahkan ketika mereka berada cukup
dekat; mereka mengetahui pikiran [makhluk-makhluk lain] dengan pikiran mereka
sendiri.
Mereka akan mengetahuiku sebagai berikut: “Lihatlah
orang ini: walaupun ia telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah, namun ia ternoda oleh kondisi-kondisi buruk
yang tidak bermanfaat.” Juga ada para dewa dengan kekuatan batin dan mata dewa
yang mengetahui pikiran makhluk-makhluk lain. Mereka melihat benda-benda yang
jauh tetapi mereka sendiri tidak terlihat bahkan ketika mereka berada cukup
dekat; mereka mengetahui pikiran [makhluk-makhluk lain] dengan pikiran mereka
sendiri. Mereka juga akan mengetahuiku sebagai berikut: “Lihatlah orang ini:
walaupun ia telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju
kehidupan tanpa rumah, namun ia ternoda oleh kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat.”’
Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan
harus dibangkitkan dalam diriku [149] tanpa mengendur; perhatian harus
ditegakkan tanpa kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus
dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah menjadikan dunia sebagai
otoritasnya, ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa
yang bermanfaat; ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang
tidak tercela; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut dunia
sebagai otoritas.
(3) “Dan apakah, para bhikkhu, Dhamma
sebagai otoritas seseorang? Di sini, setelah pergi ke hutan, ke bawah
pohon, atau ke gubuk kosong, seorang bhikkhu merefleksikan: ‘Aku tidak meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah
… melainkan [dengan pikiran]: “Aku terbenam dalam kelahiran, penuaan, dan
kematian … Mungkin akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini dapat terlihat.”
Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung,
segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk
dialami secara pribadi oleh para bijaksana. Ada sahabat-sahabatku para
bhikkhu yang mengetahui dan melihat. Sebagai seorang yang telah meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah dalam Dhamma dan
disiplin yang telah dibabarkan dengan sempurna ini, adalah tidak selayaknya
bagiku untuk bermalas-malasan dan lalai.’
Kemudian ia merefleksikan sebagai berikut: ‘Kegigihan
harus dibangkitkan dalam diriku tanpa mengendur; perhatian harus ditegakkan
tanpa kacau; tubuhku harus tenang tanpa gangguan; pikiranku harus
dikonsentrasikan dan terpusat.’ Setelah menjadikan Dhamma sebagai
otoritasnya, ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat dan mengembangkan apa
yang bermanfaat; ia meninggalkan apa yang tercela dan mengembangkan apa yang
tidak tercela; ia mempertahankan dirinya dalam kemurnian. Ini disebut
Dhamma sebagai otoritas.
“Ini, para bhikkhu, adalah tiga otoritas.”
Bagi seorang yang melakukan perbuatan jahat
tidak ada tempat yang dikatakan “tersembunyi.”
Diri di dalammu sendiri mengetahui, O manusia,
apakah itu benar atau salah.
[Kitab Komentar : Attā te
purisa jānāti saccaṃ vā yadi vā musā. Penerjemah lain menerjemahkannya sebagai : “Engkau
sendiri yang mengetahui, apa pun yang engkau lakukan, apakah bersifat ini atau
itu. Karena alasan ini, harus dimengerti bahwa, bagi seorang yang melakukan
perbuatan jahat, maka tidak ada tempat di dunia ini yang dapat disebut
‘tersembunyi.’”]
Sesungguhnya, Tuan, engkau adalah saksi
meremehkan dirimu yang baik;
engkau menyembunyikan dirimu yang jahat
yang terdapat di dalam dirimu sendiri. [150]
[Kitab Komentar : Seorang yang
mengatakan ‘ini tidak salah’ adalah lebih baik, karena dengan begitu ia tidak
merusak dirinya sendiri. Jika suatu pelanggaran terjadi dan ia mengetahuinya, jangan
menyembunyikannya.]
Para deva dan Tathāgata melihat si dungu
berbuat tidak baik di dunia.
Oleh karena itu seseorang harus mengembara dengan penuh perhatian,
menjadikan diri sendiri sebagai otoritas;
awas dan meditatif, menjadikan dunia sebagai otoritas;
dan mengembara sesuai Dhamma,
dengan menjadikan Dhamma sebagai otoritas.
Sungguh-sungguh mengerahkan dirinya, seorang bijaksana
tidak akan mundur.
Setelah menaklukkan Māra
dan mengatasi pembuat-akhir,
sang pejuang telah menyelesaikan kelahiran.
Seorang petapa demikian, bijaksana, seorang pengenal
dunia,
tidak mengidentifikasikan sebagai apa pun sama
sekali.
[Kitab Komentar : Setelah melenyapkan
dan meninggalkan keenam organ indria, ia mengakhiri penderitaan dan tidak
mengambil penjelmaan [lainnya]. Setelah meninggal dunia, ia tidak kembali,
karena selamanya terbebaskan dari kelahiran dan kematian.]
Bhikkhu Bodhi dalam
pengantarnya dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asal : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh beliau ke dalam Bahasa
Inggris, menuliskan:
Walaupun Sang Buddha adalah individu tertinggi di
alam spiritual, namun Beliau masih menghormati sesuatu yang lebih tinggi daripada
diriNya, yaitu: Dhamma. Setelah pencerahanNya, setelah dengan sia-sia
mencari seseorang untuk dihormati, Beliau memutuskan: “Biarlah
Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma
ini yang dengannya Aku telah menjadi sepenuhnya tercerahkan” (4:22).
Ketika Beliau mengajarkan orang lain, Beliau
melakukannya “dengan hanya mengandalkan Dhamma, menghormati, menghargai, memuja
Dhamma, dengan Dhamma sebagai patokan, panji, dan otoritasNya” (3:14, 5:133).
Siapa pun yang Beliau ajarkan, Beliau mengajarkannya dengan penuh penghormatan,
“karena Sang Tathāgata memiliki penghargaan pada Dhamma,
penghormatan pada Dhamma” (5:99).
Dhamma dalam makna ini bukanlah doktrin yang
diungkapkan secara verbal sebagai batang tubuh prinsip-prinsip spiritual
yang memungkinkan pertumbuhan spiritual dan kebebasan. Hal tertinggi yang
dirujuk adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang terunggul dari segala
fenomena terkondisi, dan nibbāna, yang terunggul dari segala sesuatu yang
terkondisi maupun tidak terkondisi (4:34).
Sang Buddha merangkum inti Dhamma dalam berbagai
cara yang semuanya mengalir keluar dari prinsip-prinsip batang tubuh yang sama.
Di satu tempat, Beliau mengatakan bahwa ungkapan tanpa batas dari Dhamma
menyatu pada empat hal: memahami apa yang tidak bermanfaat dan meninggalkannya,
dan memahami apa yang bermanfaat dan mengembangkannya (4:188).
Beliau mengajarkan Mahāpajāpati, ibu angkatNya,
delapan kriteria Dhamma sejati (8:53), dan secara lebih ringkas Beliau
mengajarkan kepada Bhikkhu Upāli bahwa ajaran dapat ditemukan dalam “hal-hal
yang mengarah hanya pada kekecewaan, pada kebosanan, pada lenyapnya, pada
pengetahuan langsung, pada pencerahan, pada nibbāna” (7:83).
Berlawanan dengan para pesaingNya, Sang
Buddha menolak untuk terlibat dalam pandangan-pandangan spekulatif mengenai hal-hal
yang tidak berhubungan dengan pencarian kebebasan dari penderitaan. Beliau secara khusus menolak
untuk menyatakan tentang takdir setelah kematian dari seorang yang terbebaskan atau
untuk menjawab sepuluh pertanyaan spekulatif (baca 7:54).
Sebaliknya, Beliau menekankan bahwa Beliau
mengajarkan Dhamma “untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita
dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian metode,
untuk realisasi nibbāna” (9:20).
Walaupun Beliau mempertahankan suatu “sikap bungkam metafisik,”
namun Beliau tidak segan mengkritik pandangan-pandangan yang Beliau anggap
merusak kehidupan spiritual. Teks-teks kadang-kadang menyebutkan tiga hal
yang Beliau bantah secara tegas: determinisme perbuatan lampau, deterministik
theis, dan penyangkalan kausalitas (3:61).
Beliau dengan tegas menolak pandangan salah atas
tesis bahwa “tidak ada buah atau akibat dari perbuatan baik dan buruk,” yang
mengingkari prinsip kamma (10:176, 10:211, dan sebagainya). Beliau juga secara
tegas mengkritik pandangan “determinis keras” bahwa keputusan kita disebabkan
oleh faktor-faktor dan kekuatan-kekuatan di luar diri kita.
Melawan posisi penganut determinisme bahwa “tidak
ada kamma, tidak ada perbuatan, tidak ada kekuatan,” Beliau mengatakan bahwa
semua Buddha yang tercerahkan sempurna mengajarkan “doktrin kamma, doktrin
perbuatan, doktrin kekuatan” (3:137). Beliau berpendapat bahwa ada hal-hal
seperti dorongan, inisiatif, pilihan, dan upaya, yang dengannya orang-orang bertanggung
jawab atas takdir mereka (6:38).
Sang Buddha menegaskan bahwa DhammaNya adalah
“terlihat secara langsung” (sandiṭṭhika), sebuah kata yang menjadi salah satu gelar
bagi Dhamma. Ketika ditanya bagaimana hal ini dapat dibuktikan, Beliau
menjelaskan dalam cara-cara yang diarahkan kembali kepada pengalaman langsung
si penanya. Ketika seseorang diliputi oleh nafsu, kebencian, dan
delusi, Beliau berkata, maka ia bertindak demi bahayanya sendiri, bahaya orang
lain, dan bahaya keduanya, dan ia mengalami penderitaan dan kesedihan; tetapi
ketika nafsu, kebencian, dan delusi ditinggalkan, maka ia bebas bertindak demi
kesejahteraan semuanya dan tidak lagi mengalami penderitaan dan kesedihan (baca 3:53-54).
Hancurnya nafsu, kebencian, dan delusi adalah
nibbāna, dan dalam hal ini nibbāna juga terlihat langsung (3:55). Dhamma
dilihat bukan sekedar sebagai jalan praktek dan tujuan realisasi tetapi juga
sebagai koleksi khotbah-khotbah lisan yang dibabarkan oleh Sang Buddha selama
karir pengajaran Beliau. Demikianlah sutta-sutta kadang-kadang merujuk pada sembilan
jenis ajaran yang ke dalamnya khotbah-khotbah dikelompokkan dalam masa paling
awal, sebelum disusun menjadi Nikāya-nikāya (4:102, 4:107, 5:73-74, dan
sebagainya).
Karena ajaran-ajaran Sang Buddha, yang mengungkapkan
jalan menuju pencerahan dan kebebasan, dikumpulkan menjadi batang tubuh naskah-naskah,
maka kekuatan, kemurnian, dan kelangsungan Dhamma bergantung pada pelestarian
dan transmisi selayaknya atas teks-teks ini. Di antara empat Nikāya, Aṅguttara Nikāya adalah yang
paling sering mendesak akan pentingnya pelestarian Dhamma dan melindunginya
dari kerusakan dan kelenyapan.
Serangkaian teks-teks pendek dalam Kelompok Satu menggambarkan
faktor-faktor yang menyebabkan Dhamma sejati menjadi lenyap dan, sebaliknya,
faktor-faktor yang memelihara vitalitasnya (1:30-69). Faktor-faktor yang
memelihara ini dapat dirangkum agar tidak membingungkan sehubungan dengan apa yang
merupakan Dhamma dan apa yang bukan Dhamma; tidak membingungkan sehubungan
dengan apa yang merupakan disiplin dan apa yang berlawanan dengan disiplin;
mengutip Sang Buddha dengan akurat, menjelaskan perilakuNya dengan benar, dan
tidak mencampur-adukkan kategori aturan disiplin yang berbeda.
Dalam satu sutta, Sang Buddha memberikan instruksi
kepada bhikkhu tentang kriteria untuk menentukan apakah ajaran yang dilaporkan setelah
Beliau wafat adalah otentik atau palsu (4:180). Sebuah sutta lainnya mengatakan
bahwa Dhamma sejati menjadi memudar ketika para bhikkhu tidak melestarikan
ajaran-ajaran dengan benar, salah menafsirkan maknanya, tidak mengajarkan
kepada orang lain, dan mundur dalam praktik. Tetapi ketika, sebaliknya, mereka melestarikan
ajaran-ajaran dengan benar, menafsirkannya dengan benar, mengajarkan kepada
orang lain, dan berusaha dalam praktik, maka ajaran menjadi bertahan lama
(4:160).
Mengingat pentingnya pelestarian ajaran dan
memastikan kelangsungannya, apakah isi dari Dhamma yang ditemukan oleh Sang
Buddha itu, dan mengapa begitu istimewa?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, adalah penting
untuk secara sekilas meninjau gambaran alam semesta oleh Sang Buddha untuk
melihat situasi latar belakang dalam pencarian kebebasan. Nikāya-nikāya
menggambarkan suatu alam semesta berdimensi luas tak terbayangkan yang
mengalami fase-fase pengembangan dan kehancuran silih berganti. Unit dasar dari
satuan waktu kosmis adalah kappa. Mereka yang memiliki kekuatan mengingat
kehidupan lampau, teks mengatakan, dapat mengingat “banyak kappa penghancuran
dunia dan pengembangan dunia” (3:58, 3:101, dan sebagainya).
Kappa ini dibagi dalam empat fase: penghancuran,
perpanjangan kehancuran, perkembangan, dan perkembangan sepenuhnya.
Masing-masing dari fase ini melampaui hitungan ratusan ribu tahun (4:156).
Suatu sistem dunia bukan hanya memiliki durasi kesementaraan yang panjang
tetapi juga terbagi dalam tingkatan-tingkatan berbagai alam kehidupan, dari
alam neraka yang malang, alam dengan penderitaan hebat, melewati alam binatang,
hingga alam hantu menderita (kadang-kadang disebut “hantu kelaparan”); kemudian
alam manusia, dan ke atas melalui suatu rangkaian menaik alam-alam surga yang
dihuni oleh para deva dan brahmā, para dewa dan makhluk-makhluk surgawi.
Terdapat enam alam surga indria: surga empat raja
dewa, para deva Tāvatiṃsa, para deva Yāma, para deva Tusita, para deva yang bersenang dalam
penciptaan, dan para deva yang menguasai apa yang diciptakan oleh para deva
lain (3:70, 6:10, 8:36, dan sebagainya). Di atas alam-alam ini adalah alam
brahmā dan alam-alam yang lebih tinggi lagi, alam-alam kelahiran kembali bagi
mereka yang menguasai pencapaian-pencapaian meditatif.
Terlepas dari banyaknya perbedaan mereka, terdapat
satu hal yang menyatukan semua makhluk hidup dari yang terendah sampai yang
tertinggi: mereka semuanya mencari kebebasan dari penderitaan dan pencapaian
kebahagiaan sejati. Keinginan mendasar ini adalah persis seperti apa yang
menjadi tema ajaran Sang Buddha, yang mengikat semua doktrin dan praktik
bersama-sama.
Tetapi bukannya menerima asumsi umum kita begitu
saja, Sang Buddha berangkat dari pertanyaan apa yang merupakan penderitaan dan
apa yang memberikan prospek bagi kebahagiaan abadi. Prasangka kita tentang apa
yang dapat membuat kita bahagia sering kali menipu, berakar dari perasaan pada
sensasi seketika tanpa melibatkan pengenalan pada akibat dari perilaku kita
yang lebih dalam dan dalam jangka panjang.
Pengalaman selalu berubah, selalu mengganti
bentuknya tanpa menuruti kehendak dan harapan kita. Terlepas dari apa yang kita
harapkan, kita tidak dapat menghindari usia tua, penyakit, dan kematian,
kerusakan dari apa yang kita miliki, kehilangan atas apa yang kita sayangi.
Baik kaum duniawi yang dungu maupun siswa bijaksana, keduanya mengalami takdir
ini.
Perbedaannya adalah bahwa kaum duniawi tidak
merefleksikan universalitas hukum ini, dan oleh karena itu, ketika takdir ini
menderanya, “ia berdukacita, merana, meratap, menangis memukul dadanya, dan
menjadi kebingungan.” Sebaliknya, siswa bijaksana menyadari usia tua, penyakit,
dan kematian, kehancuran dan kehilangan, adalah takdir universal; dengan
demikian ia mencabut “anak panah dukacita yang beracun” dan berdiam dengan
bahagia, bebas dari anak-anak panah (5:48).
Sekali lagi, baik kaum duniawi maupun siswa
bijaksana tunduk pada “delapan kondisi duniawi”: untung dan rugi, reputasi
buruk dan kemasyhuran, celaan dan pujian, dan kenikmatan dan kesakitan. Kaum
duniawi, yang tertarik pada yang satu dan menolak yang lain, “tidak terbebas
dari kelahiran, dari usia tua dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan,
keputusasaan, dan kesedihan.” Tetapi siswa mulia, dengan mengenali bahwa semua
kondisi yang tidak stabil ini adalah tidak kekal dan tunduk pada perubahan, meninggalkan
ketertarikan dan kejijikan dan mencapai kebebasan batin (8:6).
Apa yang ditekankan oleh Sang Buddha sebagai titik
awal dalam pencarian kebahagiaan sejati adalah hubungan erat antara kualitas
etika dari perilaku kita dan warna pengalaman yang kita rasakan. Perbuatan
jasmani, ucapan, dan pikiran dapat dibedakan secara etika dalam dua kelompok
besar, yang tidak bermanfaat (akusala) dan yang bermanfaat (kusala). Sang
Buddha memahami bahwa apa yang tidak bermanfaat adalah sumber penderitaan, apa
yang bermanfaat adalah sumber kebahagiaan.
Keserakahan, kebencian, dan delusi mengarah pada
bahaya dan penderitaan, sedangkan pelenyapannya akan membawa kesejahteraan dan
kebahagiaan (3:65-66). Oleh karena itu Beliau secara konstan mengajarkan kepada
para siswaNya agar berusaha dengan tekun untuk meninggalkan apa yang tidak
bermanfaat dan mengembangkan apa yang bermanfaat (2:19). Usaha yang bermanfaat
membawa kebahagiaan yang jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih tahan lama
daripada pemuasan ketagihan.
Serangkaian sutta-sutta pendek membandingkan
berbagai jenis kebahagiaan berbeda dan menilai manfaat relatifnya: kebahagiaan
kehidupan monastik adalah lebih tinggi daripada kebahagiaan kehidupan awam;
kebahagiaan meninggalkan keduniawian adalah lebih tinggi daripada kebahagiaan
indriawi; kebahagiaan tanpa perolehan adalah lebih tinggi daripada kebahagiaan
yang ditimbulkan dari perolehan; kebahagiaan tanpa noda-noda adalah lebih
tinggi daripada kebahagiaan dengan noda-noda; kebahagiaan spiritual adalah
lebih tinggi daripada kebahagiaan duniawi (2:64-68).
Menurut Sang Buddha, “kaleidoskop yang selalu
berubah” dari penderitaan dan kebahagiaan tidak mengubah bentuknya hanya dalam
satu kehidupan di bumi; perubahan ini bahkan lebih radikal lagi ketika kita
mengembara dalam lingkaran kelahiran kembali yang dikenal sebagai saṃsāra, “pengembaraan.” Faktor
yang mengatur dalam proses ini, yang menjadikan keseluruhan perjalanan ini
menjadi sebuah perjalanan yang taat hukum, adalah suatu kekuatan yang disebut
kamma (Skt: karma).
Kata kamma secara literal berarti “perbuatan,”
tetapi Sang Buddha menggunakan kata ini untuk merujuk pada kehendak atau
perbuatan yang disengaja: “Adalah kehendak, para bhikkhu, yang Kusebut kamma;
karena setelah berkehendak, seseorang bertindak melalui jasmani, ucapan, atau
pikiran” (6:63 §5). Demikianlah kamma merupakan perbuatan yang berasal-mula
dari kehendak, yang dapat tetap berupa pemikiran-pemikiran, rencana-rencana,
dan keinginan-keinginan.
Kamma juga merupakan kekuatan moral yang dihasilkan
dari perbuatan kita. Semua perbuatan kita yang ditentukan secara moral
menghasilkan suatu potensi untuk menghasilkan akibat (vipāka) yang bersesuaian
dengan kualitas etikanya. Perbuatan-perbuatan kita menghasilkan kamma, dan
ketika kondisi-kondisi yang tepat bertemu, maka kamma menjadi matang dan
menghasilkan buah yang bersesuaian, membawa kesengsaraan atau kebahagiaan yang
bergantung pada kualitas moral dari perbuatan yang menyebabkannya.
Kamma yang kita lakukan mungkin matang dalam
kehidupan ini, dalam kehidupan berikut, atau beberapa kehidupan berikutnya
(3:34, 10:217). Satu hal yang pasti adalah bahwa selama kita mengembara dalam
lingkaran kelahiran kembali, timbunan kamma kita mampu untuk menjadi matang dan
menghasilkan akibatnya. Demikianlah Sang Buddha mengajarkan, lagi dan lagi,
bahwa “makhluk-makhluk adalah pemilik kamma mereka, pewaris
kamma mereka; mereka memiliki kamma sebagai asal-mulanya, kamma sebagai
kerabatnya, kamma sebagai pelindungnya; apa pun kamma yang mereka lakukan, baik
atau buruk, merekalah pewarisnya” (10:216; baca juga 5:57,
10:48).
Perbedaan dalam catatan kamma menyebabkan
keanekaragaman takdir orang-orang, yang secara konstan berputar dalam lingkaran
kehidupan, muncul dan lenyap, kadang-kadang bergerak dari gelap menuju terang,
kadang-kadang dari terang menuju gelap (4:85). Kamma adalah penentu utama dalam
kelahiran kembali. Kamma tidak bermanfaat mengarah pada kelahiran kembali yang
tidak menguntungkan dan akibat menyakitkan, kamma bermanfaat mengarah pada
kelahiran kembali yang menguntungkan dan akibat yang menyenangkan (2:16-17, 3:111,
10:217-18).
Kelahiran kembali tidak terbatas pada alam manusia,
karena kamma bervariasi dalam hal kualitas dan potensinya dan dengan demikian
dapat menghasilkan kelahiran kembali di salah satu dari lima gati atau alam
tujuan: neraka, alam binatang, alam hantu menderita, alam manusia, atau alam
deva (6:63 §5).
Makhluk-makhluk secara konstan berpindah dari satu
alam ke alam lain, tetapi relatif sedikit yang terlahir kembali di alam manusia
atau alam deva dibandingkan dengan jumlah yang jauh lebih besar yang terlahir
kembali di neraka, alam binatang, dan alam-alam hantu, yang secara kolektif
disebut alam sengsara, alam tujuan kelahiran yang buruk, atau alam rendah
(1:348-77).
Mereka yang mengusulkan interpretasi alam-alam ini
sebagai kondisi psikologi yang kita alami dalam kehidupan kita sebagai manusia
akan kesulitan mencari dukungan atas posisi mereka dalam Nikāya-nikāya. Dalam Aṅguttara Nikāya kita sering
membaca dalam hampir semua nipāta, tentang bagaimana makhluk-makhluk terlahir
kembali di neraka atau di surga “dengan hancurnya jasmani, setelah kematian”
(kāyassa bhedā paraṃmaraṇā). Ungkapan ini adalah salah
satu frasa utama dalam Nikāya-nikāya, dan tidak ada indikasi bahwa frasa ini
dimaksudkan sebagai metafora.
Kriteria untuk menilai kehendak yang bertanggung
jawab atas suatu perbuatan sebagai tidak bermanfaat atau bermanfaat adalah
motif yang menyertainya atau “akar-akar”. Ketiga akar tidak bermanfaat:
keserakahan, kebencian, dan delusi. Dari ketiga ini maka muncul kekotoran
sekunder seperti kemarahan, permusuhan, iri hati, kekikiran, keangkuhan, dan
kesombongan, dan dari akar-akar dan kekotoran sekunder ini muncul pula
perbuatan-perbuatan kotor yang berpotensi menghasilkan kelahiran kembali di
alam sengsara (6:39).
Sebaliknya, kamma bermanfaat adalah perbuatan yang
berasal-mula dari ketiga akar bermanfaat: ketidak-serakahan, ketidak-bencian,
dan tanpa-delusi, yang dapat diungkapkan dengan cara lebih positif sebagai
kedermawanan, cinta-kasih, dan kebijaksanaan. Sementara perbuatan-perbuatan
yang muncul dari akar-akar tidak bermanfaat pasti terikat pada lingkaran
kelahiran dan kematian berulang, perbuatan-perbuatan yang muncul dari akar-akar
bermanfaat ada dua jenis: duniawi dan melampaui keduniawian.
Perbuatan-perbuatan bermanfaat duniawi berpotensi
menghasilkan kelahiran kembali yang menguntungkan di alam-alam yang lebih
tinggi (6:39). Yang melampaui keduniawian atau perbuatan-perbuatan bermanfaat
(lokuttara) – yaitu, kamma yang dihasilkan melalui praktik Jalan Mulia Berunsur
Delapan dan tujuh faktor pencerahan – menguraikan keseluruhan proses
sebab-akibat karma dan karenanya mengarah menuju kebebasan dari lingkaran
kelahiran kembali (3:34, 4:233, 4:237-38).
Teks-teks tidak membiarkan kita menebak-nebak
perbuatan-perbuatan jenis apa yang menciptakan kamma bermanfaat dan tidak
bermanfaat melainkan menyajikan peta yang tepat atas daerah perbuatan baik dan
buruk. Daftar standar terdiri dari sepuluh jenis perbuatan tidak bermanfaat –
tiga jenis perbuatan jasmani, empat jenis ucapan, dan tiga jenis pikiran – dan
sepuluh jenis kamma bermanfaat yang bersesuaian (10:167-233; baca 10:176 untuk
analisis terperinci).
Akan tetapi semua perbuatan ini, muncul dari
pikiran. Demikianlah pikiran dikatakan sebagai sumber yang mendasari baik dan
buruk, dan melalui perbuatan-perbuatan yang mengalir dari pikiran, sebagai
sebab fundamental bagi penderitaan dan kebahagiaan. Dengan menelusuri akar-akar
penderitaan dan kebahagiaan kembali pada kehendak-kehendak kita, Sang
Buddha menunjukkan bahwa kunci menuju kebahagiaan adalah latihan dan penguasaan
pikiran.
Dalam serangkaian sutta-sutta berpasangan, Beliau
mengatakan bahwa tidak ada yang begitu mengarah pada bahaya dan penderitaan
selain daripada pikiran yang tidak terkembang, tidak terlatih, tidak jinak,
tidak terjaga, tidak terlindungi, dan tidak terkendali; dan tidak ada yang
begitu mengarah pada manfaat besar dan kebahagiaan selain daripada pikiran yang
terkembang, terlatih, jinak, terjaga, terlindungi, dan terkendali (1:23-40).
Dengan demikian inti ajaran Buddha adalah pengembangan
dan pelatihan pikiran, yang, sebagai hasil dari latihan demikian, akan
mengungkapkan kecerahan intrinsiknya dan akhirnya sampai pada kebahagiaan
kebebasan.
Agama samawi, secara
berkebalikan dari Dhamma, yakni Adhamma, justru menjadikan DOSA dan MAKSIAT sebagai
otoritasnya serta tunduk pada “KEKOTORAN BATIN” yang (justru) mereka pelihara dan
lestarikan sebelum kemudian diperbudak oleh “KEKOTORAN BATIN”-nya sendiri yang
mengabil-alih otoritatif atas diri mereka, mengingat antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK
DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” saling bundling
satu sama lainnya, umpama sikat gigi dan pasta gigi yang saling komplomenter
tanpa dapat dipisahkan—kesemua ayat-ayat
simbolik “SELFISH GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis
Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak menceramahi maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah, hina, dan kotor, namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Mereka sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu
pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, dan disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu
pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition of sins” maupun “cuci dosa”
dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat pengeras suara, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun keberanian untuk
bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuknya jiwa yang telah dikuasai
sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua berambut putih”
menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk “Agama DOSA dari
Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru dipelihara dan
dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama samawi
paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap wajah asli “Allah sang
pengutus setan”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]