Auman Singa seorang Buddha

Kemelekatan Pada Ritual dan Upacara, Agama yang Dangkal serta Kerdil bagi Manusia dengan Selera Buruk-Rendahan

Biaya Umroh dan Haji adalah MURAH, Lebih MAHAL Biaya untuk Bertanggung-Jawab kepada Korban-Korban Mereka—Termakan Dogma PENGHAPUSAN DOSA yang MURAHAN

Sang Buddha telah Mengantisipasi Kemunculan Agama Samawi—Agama dengan Tujuan untuk Seseorang yang Terpengaruh oleh KEBENCIAN : Benci KAFIR maupun Nonkristen dan dalam Rangka Melempar Kaum NON ke Neraka

Ritual dan Upacara PENGHAPUSAN DOSA, Digandrungi dan Diminati oleh Kasta PENDOSAWAN yang Berlomba-Lomba Menjelma KORUPTOR DOSA—dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi

Question: Apakah tidak ada yang merasa heran ataupun pernah mempertanyakan, mengapa umat muslim buang-buang uang begitu banyak untuk berangkat haji maupun umroh, padahal uang sebesar itu bisa digunakan untuk berderma dan berdana, dan jauh lebih bermanfaat bagi kaum yang membutuhkan? Mereka bahkan rela menjual sawah hasil kerja keras mereka seumur hidup, demi buang-buang uang untuk sebuah “ritual yang mahal”, namun apakah mereka akan melakukan hal serupa bila ada orang yang terancam meninggal dunia akibat kekurangan biaya untuk berobat?

Tampaknya itulah pilihan mereka, yakni alih-alih menolong yang membutuhkan, mereka pergi ke mekkah atau madinah untuk “ritual yang berbiaya mahal”. Bayangkan jutaan warga Indonesia, bila mendonasikan dana untuk haji atau umroh, bagi kepentingan rakyat bangsa sendiri ketimbang memperkaya raja arab, rasanya tidak akan ada lagi pemberitaan adanya warga yang tewas sia-sia karena kelaparan, kemiskinan, ataupun penyakit di Tanah Airnya sendiri.

Setelah lama mengamati fenomena setiap tahunnya ratusan ribu umat muslim dari Indonesia berangkat umroh atau haji ke Arab, telah ternyata satu-satunya “motor penggerak” para muslim berlomba-lomba ke Mekkah untuk umroh atau berhaji, tidak lain tidak bukan dilandasi motif atau motivasi berupa “nafsu” (selfish motive, “ego”), nafsu untuk dihapus dosa-dosanya lewat ritual. Umroh atau haji, maka dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya akan dihapus sepenuhnya, begitu kata kiai ataupun ustad mereka. Kini paradigma saya mulai berbalik arah, telah ternyata haji dan umroh adalah “ritual yang MURAH”, karena bertanggung-jawab kepada para korban mereka adalah jauh lebih MAHAL dari segi waktu, tenaga, maupun biaya, lebih mahal daripada dana untuk berumroh dan berhaji.

Brief Answer: Orientasinya umat muslim ialah “MENGHAPUS dosa-dosa” alias menutupi rekam-jejak kejahatan-kejahatan yang telah pernah ataupun masih akan mereka lakukan, bukan untuk “MENANAM Karma Baik” juga bukan dalam rangka bertanggung-jawab terhadap korban-korban yang telah pernah mereka lukai, sakiti, maupun rugikan. Karenanya, motivasi atau pola-pikir kaum pemeluk “Agama DOSA”—disebut demikian, semata karena mempromosikan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” bagi pendosawan dan menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat—ialah sepenuhnya KORUP alias culas dan picik, yakni dilandasi “niat jahat” berupa merampas hak-hak korban mereka atas keadilan, dengan upaya melepaskan diri dari tanggung-jawab atas konsekuensi perbuatan buruk mereka sendiri yang telah pernah menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya.

Adapun lawan kata dari “PENGHAPUSAN DOSA” ataupun istilah curang sejenis lainnya, ialah “KEMAUAN DAN KEBERANIAN UNTUK BERTANGGUNG-JAWAB” sehingga kalangan korban tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban dari sang pelaku-pendosawan. Seorang berjiwa ksatria, meski masih dapat berbuat keliru, namun ia siap-berani untuk tampil mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Karena itulah, para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang berdelusi sebagai kaum paling superior yang berhak menghakimi kaum lainnya serta menuntut untuk dihormati saat “puasa ramadhan” dimana konsumsi meningkat drastis dan “dosa-dosa setahun dihapuskan”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, kotor, korup, tercela, serta dangkal, para pengecut-tulen yang begitu pengecut untuk menghadapi konsekuensi atas perbuatan-perbuatan buruknya sendiri. Secara relevan, Sang Buddha telah pernah bersabda:

“Para bhikkhu, terdapat empat jenis kemelekatan. Apakah empat ini? Kemelekatan pada segala jenis kenikmatan, kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.

PEMBAHASAN:

Ritual adalah praktek “omong-kosong”—karenanya umroh dan haji merupakan “omong-kosong berbiaya mahal”—bukanlah praktek menempa diri, sebagaimana dapat kita simak Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 11

asīhanāda Sutta: Khotbah Pendek tentang Auman Singa

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, hanya di sini terdapat seorang petapa, hanya di sini terdapat petapa ke dua, hanya di sini terdapat petapa ke tiga, hanya di sini terdapat petapa ke empat. Doktrin-doktrin dari yang lain adalah kosong [64] dari petapa: itu adalah bagaimana kalian dapat dengan benar mengaumkan auman singa kalian.

[Kitab Komentar : Frasa “hanya di sini” berarti hanya dalam Pengajaran Buddha. Empat petapa (samaa) merujuk pada empat tingkat siswa ariya – pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, yang-tidak-kembali, dan Arahant. “Auman singa” (sīhanāda), merupakan auman keunggulan dan tanpa ketakutan, auman yang tidak dapat dibantah. Sehubungan dengan pernyataan Sang Buddha ini, baca juga khotbahNya kepada Subhadda dalam Mahāparinibbāna Sutta (Digha Nikāya 16:5.27/ii.151-52).]

3. “Adalah mungkin, para bhikkhu, bahwa para pengembara sekte lain menanyakan: ‘Tetapi atas kekuatan [argumen] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah Yang Mulia sekalian berkata demikian?’ Para petapa sekte lain yang bertanya demikian dapat dijawab dengan cara ini: ‘Teman-teman, empat hal telah dinyatakan kepada kami oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna; setelah melihat hal ini dalam diri kami, kami mengatakan: “Hanya di sini terdapat seorang petapa, hanya di sini terdapat petapa ke dua, hanya di sini terdapat petapa ke tiga, hanya di sini terdapat petapa ke empat. Doktrin-doktrin dari yang lain adalah kosong dari petapa.” Apakah empat ini? Kami memiliki keyakinan pada Sang Guru, kami memiliki keyakinan pada Dhamma, kami telah memenuhi aturan-aturan moral, dan teman-teman kami dalam Dhamma menyayangi dan menyenangi kami apakah mereka umat awam atau mereka yang telah meninggalkan keduniawian. Ini adalah empat hal yang dinyatakan kepada kami oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, ketika melihatnya dalam diri kami, kami mengatakan sesuai dengan apa yang kami lakukan.’

4. “Adalah mungkin, para bhikkhu, para pengembara sekte lain akan berkata sebagai berikut: ‘Teman-teman, kami juga memiliki keyakinan pada Sang Guru, yaitu, pada Guru Kami; kami juga memiliki keyakinan pada Dhamma, yaitu, pada Dhamma kami, kami juga telah memenuhi aturan-aturan moral, yaitu aturan-aturan kami; dan teman-teman kami dalam Dhamma juga menyayangi dan menyenangi kami apakah mereka umat awam atau mereka yang telah meninggalkan keduniawian. Apakah bedanya di sini, sahabat-sahabat, apakah perbedaan antara kalian dan kami?’

5. “Para pengembara dari sekte lain yang bertanya demikian dapat dijawab seperti ini: ‘Bagaimanakah, teman-teman, apakah tujuannya satu atau banyak?’ jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuannya adalah satu, bukan banyak.’ – ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh nafsu atau bebas dari nafsu?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari nafsu, bukan untuk seorang yang terpengaruh oleh nafsu.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh kebencian atau bebas dari kebencian?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari kebencian, bukan untuk seorang yang terpengaruh oleh kebencian.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh delusi atau bebas dari delusi?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari delusi, bukan untuk seorang yang terpengaruh oleh delusi.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh ketagihan atau bebas dari ketagihan?’ [65] Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari ketagihan, bukan untuk seorang yang terpengaruh oleh ketagihan.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh kemelekatan atau bebas dari kemelekatan?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari kemelekatan, bukan untuk seorang yang terpengaruh oleh kemelekatan.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang memiliki penglihatan atau tanpa penglihatan?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang memiliki penglihatan, bukan untuk seorang yang tanpa penglihatan.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang menyukai dan menolak, atau untuk seorang yang tidak menyukai dan tidak menolak?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang tidak menyukai dan tidak menolak, bukan untuk seorang yang menyukai atau menolak.’ - ‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang bergembira dan menikmati proliferasi, atau untuk seorang yang tidak bergembira dalam dan tidak menikmati proliferasi?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang tidak bergembira dalam dan tidak menikmati proliferasi, bukan untuk seorang yang menyenangi dan menikmati proliferasi.’

[Kitab Komentar : Walaupun para pengikut sekte lain semuanya menyatakan Kearahantaan – yang dipahami secara umum sebagai kesempurnaan spiritual – sebagai tujuan, namun mereka menunjukkan pencapaian lain sebagai tujuan sesuai dengan pandangan mereka. Demikianlah para brahmana menyatakan alam-Brahma sebagai tujuan, para petapa menyatakan dewa dengan Cahaya Gemerlap, para pengembara menyatakan dewa dengan Keagungan Gemilang, dan para Ājīvaka menyatakan kondisi tanpa-persepsi, yang mereka bayangkan sebagai “pikiran yang tanpa batas.”

“Menyukai dan menolak” (anurodhapaivirodha) berarti bereaksi dengan ketertarikan melalui nafsu dan dengan penolakan melalui kebencian.

Proliferasi (papañca), ini adalah aktivitas pikiran yang diatur oleh ketagihan dan pandangan. Interpretasi atas paragraf yang tersamar ini berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā. Penerjemah lain menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañcasaññā-sankhā sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.” Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data.

Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāananda menjelaskan papañca sebagai “proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan menggantikan “keberagaman” dari penerjemah lain tersebut menjadi “proliferasi.”

Kitab Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor – ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi “membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,” “aku,” dan “diriku.” Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap,”.

Kata Pali “menganggap” (maññati), yang berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang – pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif seseorang.

Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh “menganggap” terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap” diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya – keinginan (taha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).

Penerjemah lain menuliskan contoh ilustrasi demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan persepsi menyimpang, orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang bertolak-belakang [dengan kenyataan].”

Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha menunjukkan bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif, lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga tersamar dalam Pali – sepertinya filosofis.

Penerjemah menganggap pola itu menunjukkan beragam cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat sebagai objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari (“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).

Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.

Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai secara subjektif, dari impuls dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap untuk menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap.

Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek “anggapan” implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat lain dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi, karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan.

Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek “penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.

Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum memasukkan kata saññā. Penerjemah lain mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca ataupun papañca itu sendiri.

Penerjemah sependapat dengan Ñāananda dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan (“Perhitungan” dari penerjemah lain adalah terlalu literal) daripada “bagian”. Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar tanpa keraguan.

Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.” Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses kognisi itu sendiri adalah “sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada kekotoran-kekotoran akan berakhir.]

6. “Para bhikkhu, terdapat dua pandangan ini: pandangan penjelmaan dan pandangan tanpa penjelmaan. Petapa atau brahmana manapun yang menganut pandangan penjelmaan, mengadopsi pandangan penjelmaan, menerima pandangan penjelmaan, adalah berlawanan dengan pandangan tanpa penjelmaan. Petapa atau brahmana manapun yang menganut pandangan tanpa penjelmaan, mengadopsi pandangan tanpa penjelmaan, menerima pandangan tanpa penjelmaan, adalah berlawanan dengan pandangan penjelmaan.

[Kitab Komentar : Pandangan penjelmaan (bhavadiṭṭhi) adalah eternalisme, kepercayaan akan diri yang abadi. Sementara itu, pandangan tanpa-penjelmaan (vibhavadiṭṭhi) adalah pandangan pemusnahan, penyangkalan pada prinsip kelangsungan sebagai suatu landasan bagi kelahiran kembali dan pembalasan kamma. Pengadopsian salah satu pandangan merupakan penolakan pada pandangan lainnya yang berhubungan dengan pernyataan sebelumnya bahwa tujuan itu adalah untuk seorang yang tidak menyukai dan tidak menolak.]

7. “Petapa atau brahmana manapun yang tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kedua pandangan ini adalah terpengaruh oleh nafsu, terpengaruh oleh kebencian, terpengaruh oleh delusi, terpengaruh oleh ketagihan, terpengaruh oleh kemelekatan, tanpa penglihatan, terbiasa menyukai dan menolak, dan mereka bergembira dalam dan menikmati proliferasi. Mereka tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian; dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan, Aku katakan.

[Kitab Komentar : Perihal “asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri”, sehubungan dengan asal-mula (samudaya) dari pandangan-pandangan ini, merujuk delapan kondisi: kelima kelompok unsur kehidupan, ketidak-tahuan, kontak, persepsi, pikiran, perhatian tidak bijaksana, teman-teman yang buruk, dan kata-kata orang lain.

Lenyapnya (atthangama) pandangan-pandangan ini adalah jalan memasuki-arus, yang melenyapkan semua pandangan salah. Kepuasan (assāda) dapat dipahami sebagai kepuasan pada kebutuhan psikologis yang diberiken oleh pandangan-pandangan itu; bahaya (ādīnava) adalah belenggu yang terus-menerus yang dibawa oleh pandangan-pandangan itu; jalan membebaskan diri (nissaraa) dari pandangan-pandangan itu adalah Nibbāna.]

8. “Petapa atau brahmana manapun yang memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kedua pandangan ini adalah tanpa nafsu, tanpa kebencian, tanpa delusi, tanpa ketagihan, tanpa kemelekatan, memiliki penglihatan, tidak terbiasa menyukai atau menolak, dan mereka tidak bergembira dalam dan tidak menikmati proliferasi. Mereka terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian; dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; mereka terbebas dari penderitaan, Aku katakan. [66]

9. “Para bhikkhu, terdapat empat jenis kemelekatan. Apakah empat ini? Kemelekatan pada segala jenis kenikmatan, kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.

10. “Walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, mereka tidak sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan. Mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri. Mengapakah? Para petapa dan brahmana baik itu tidak memahami ketiga jenis kemelekatan ini sebagaimana adanya. Oleh karena itu, walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, mereka tidak sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.

[Kitab Komentar : Perihal “pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan”, pemahaman penuh (pariññā) di sini dapat dimaknai sebagai mengatasi, melampaui (samatikkama), dengan merujuk pada gagasan komentar atas pahānapariññā, “pemahaman penuh sebagai ditinggalkannya.”

Kitab Komentar juga menyebutkan bahwa seseorang yang sepenuhnya memahami tanah melakukannya melalui tiga jenis pemahaman penuh: pemahaman penuh atas apa yang diketahui (ñātapariññā) – definisi unsur tanah menurut karakteristik, fungsi, manifestasi khusus, dan penyebab terdekat; pemahaman penuh dengan menyelidiki (tīraapariññā) – perenungan unsur tanah melalui karakteristik umum ketidak-kekalan, penderitaan, dan tanpa-diri; dan pemahaman penuh atas pelepasan (pahānapariññā) – meninggalkan keinginan dan nafsu pada unsur tanah melalui jalan tertinggi (Kearahantaan).]

11. “Walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan … mereka menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada pandangan tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada ritual dan upacara dan kemelekatan pada doktrin diri. Mengapakah? Karena mereka tidak memahami kedua jenis kemelekatan ini … oleh karena itu mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada pandangan tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada ritual dan upacara dan kemelekatan pada doktrin diri.

12. “Walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan … mereka menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada pandangan dan kemelekatan pada ritual dan upacara tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada doktrin diri. Mereka tidak memahami satu jenis kemelekatan ini … oleh karena itu mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada pandangan dan kemelekatan pada ritual dan upacara tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada doktrin diri.

[Kitab Komentar : Paragraf di atas dengan jelas menyebutkan faktor penting yang membedakan ajaran Buddha dari kepercayaan filosofis dan religius lainnya adalah “pemahaman penuh terhadap kemelekatan pada ajaran itu sendiri.” Ini berarti, intinya, bahwa Sang Buddha sendiri mampu menunjukkan bagaimana mengatasi semua pandangan diri dengan mengembangkan penembusan pada kebenaran tanpa-diri. Karena para guru spiritual lainnya tidak memiliki pemahaman tanpa-diri ini, pengakuan mereka sehubungan dengan pemahaman sepenuhnya ketiga jenis kemelekatan ini juga adalah mencurigakan.]

13. “Para bhikkhu, dalam Dhamma dan Disiplin demikian, jelas bahwa keyakinan pada Sang Guru tidak diarahkan dengan benar, bahwa keyakinan pada Dhamma tidak diarahkan dengan benar, bahwa pemenuhan aturan-aturan moral tidak diarahkan dengan benar, dan bahwa kasih sayang di antara teman-teman dalam Dhamma tidak diarahkan dengan benar. Mengapakah? Karena itu adalah bagaimana ketika Dhamma dan Disiplin [67] dinyatakan dengan buruk dan dibabarkan dengan buruk, tidak membebaskan, tidak mendukung kedamaian, dibabarkan oleh seorang yang tidak tercerahkan sempurna.

14. “Para bhikkhu, ketika seorang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, mengaku mampu mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, Beliau secara lengkap menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan: beliau menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.

[Kitab Komentar : Yaitu, Sang Buddha mengajarkan bagaimana kemelekatan pada kenikmatan indria (dipahami sebagai terdiri dari segala bentuk keserakahan) ditinggalkan melalui jalan Kearahantaan, ketiga kemelekatan lainnya melalui jalan memasuki-arus.]

15. “Para bhikkhu, dalam Dhamma dan Disiplin demikian, jelas bahwa keyakinan pada Sang Guru diarahkan dengan benar, bahwa keyakinan pada Dhamma diarahkan dengan benar, bahwa pemenuhan aturan-aturan moral diarahkan dengan benar, dan bahwa kasih sayang di antara teman-teman dalam Dhamma diarahkan dengan benar. Mengapakah? Karena itu adalah bagaimana ketika Dhamma dan Disiplin dinyatakan dengan baik dan dibabarkan dengan baik, membebaskan, mendukung kedamaian, dibabarkan oleh seorang yang tercerahkan sempurna.

16. “Sekarang empat jenis kemelekatan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, dari apakah ditimbulkan dan dihasilkan? Empat jenis kemelekatan ini memiliki ketagihan sebagai sumbernya, ketagihan sebagai asal-mulanya, ditimbulkan dan dihasilkan dari ketagihan. Ketagihan memiliki apakah sebagai sumbernya …? Ketagihan memiliki perasaan sebagai sumbernya … Perasaan memiliki apakah sebagai sumbernya …? Perasaan memiliki kontak sebagai sumbernya … Kontak memiliki apakah sebagai sumbernya …? Kontak memiliki enam landasan sebagai sumbernya … Enam landasan memiliki apakah sebagai sumbernya …? Enam landasan memiliki batin-jasmani sebagai sumbernya … Batin-jasmani memiliki apakah sebagai sumbernya …? Batin-jasmani memiliki kesadaran sebagai sumbernya … Kesadaran memiliki apakah sebagai sumbernya …? Kesadaran memiliki bentukan-bentukan sebagai sumbernya … Bentukan-bentukan memiliki apakah sebagai sumbernya …? Bentukan-bentukan memiliki ketidak-tahuan sebagai sumbernya, ketidak-tahuan sebagai asal-mulanya, timbul dan dihasilkan dari ketidak-tahuan.

[Kitab Komentar : Perihal “apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai asal-mulanya, dari apakah ditimbulkan dan dihasilkan”, ini disebutkan untuk menunjukkan bagaimana kemelekatan ditinggalkan. Kemelekatan ditelusuri hingga penyebab-akarnya dalam ketidak-tahuan, dan kemudian hancurnya ketidak-tahuan ditunjukkan sebagai cara untuk melenyapkan kemelekatan.]

17. “Para bhikkhu, ketika ketidak-tahuan ditinggalkan dan pengetahuan sejati muncul dalam diri seorang bhikkhu, maka dengan meluruhnya ketidak-tahuan dan munculnya pengetahuan sejati ia tidak lagi melekat pada kenikmatan indria, tidak lagi melekat pada pandangan, tidak lagi melekat pada ritual dan upacara, tidak lagi melekat pada doktrin diri. Ketika ia tidak melekat, ia tidak gelisah. Ketika ia tidak gelisah, maka ia oleh dirinya sendiri mencapai Nibbāna. Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’” [68]

[Kitab Komentar : Idiom Pali, n’eva kāmupādāna upādiyati, seharusnya diterjemahkan secara literal sebagai “ia tidak melekat pada kemelekatan pada kenikmatan indria,” yang dapat mengaburkan maknanya daripada menjelaskannya. Ūpādāna dalam Pali adalah objek dari kata kerjanya sendiri, sementara “kemelekatan” (clinging, Ing.) bukan. Pada satu tahapan dalam terjemahannya Ñm mencoba untuk menghindari persoalan ini dengan meminjam makna lain dari kata ūpādāna, yaitu, “bahan bakar” dan menerjemahkannya: “ia tidak lagi melekat pada kenikmatan indria [sebagai bahan bakar bagi] kemelekatan.” Akan tetapi, ini juga masih kabur, dan oleh karena itu penerjemah mencoba untuk melewati kesulitan ini dengan menerjemahkannya secara langsung sesuai maknanya daripada menyesuaikan dengan kalimat idiom Pali tersebut.]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi diajarkan, dididik, serta dibiasakan untuk mabuk serta kecanduan “DOSA-DOSA DAN MAKSIAT” semata agar kian adiktif terhadap iming-iming “too good to be true” ideologi KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi “KORUPTOR DOSA”, tentunya, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi), terpengaruh oleh nafsu, terpengaruh oleh kebencian, terpengaruh oleh delusi, terpengaruh oleh ketagihan, terpengaruh oleh kemelekatan, tanpa penglihatan, terbiasa menyukai dan menolak, dan mereka bergembira dalam dan menikmati proliferasi. Mereka tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian; dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul allah” berikut melakukan ritual hingga “jungkir-balik”, apakah dalam rangka mencapai tujuan terbebas dari nafsu, ataukah sebaliknya, mabuk serta kecanduan-berat “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” yang di-bundling dengan adiksi “PENGHAPUSAN DOSA”, terpengaruh oleh delusi ataukah bebas dari delusi, serta terpengaruh oleh ketagihan ataukah bebas dari ketagihan?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week