Kemelekatan Pada Ritual dan Upacara, Agama yang Dangkal serta Kerdil bagi Manusia dengan Selera Buruk-Rendahan
Biaya Umroh dan Haji adalah MURAH, Lebih MAHAL Biaya untuk
Bertanggung-Jawab kepada Korban-Korban Mereka—Termakan Dogma PENGHAPUSAN DOSA yang
MURAHAN
Sang Buddha telah Mengantisipasi Kemunculan Agama Samawi—Agama dengan Tujuan
untuk Seseorang yang Terpengaruh oleh KEBENCIAN : Benci KAFIR maupun Nonkristen
dan dalam Rangka Melempar Kaum NON ke Neraka
Ritual dan Upacara PENGHAPUSAN DOSA, Digandrungi dan Diminati oleh Kasta
PENDOSAWAN yang Berlomba-Lomba Menjelma KORUPTOR DOSA—dimana Dosa-Dosa pun
Dikorupsi
Question: Apakah tidak ada yang merasa heran ataupun pernah mempertanyakan,
mengapa umat muslim buang-buang uang begitu banyak untuk berangkat haji maupun
umroh, padahal uang sebesar itu bisa digunakan untuk berderma dan berdana, dan
jauh lebih bermanfaat bagi kaum yang membutuhkan? Mereka bahkan rela menjual
sawah hasil kerja keras mereka seumur hidup, demi buang-buang uang untuk sebuah
“ritual yang mahal”, namun apakah mereka akan melakukan hal serupa bila ada
orang yang terancam meninggal dunia akibat kekurangan biaya untuk berobat?
Tampaknya itulah pilihan mereka, yakni alih-alih menolong yang
membutuhkan, mereka pergi ke mekkah atau madinah untuk “ritual yang berbiaya
mahal”. Bayangkan jutaan warga Indonesia, bila mendonasikan dana untuk haji
atau umroh, bagi kepentingan rakyat bangsa sendiri ketimbang memperkaya raja
arab, rasanya tidak akan ada lagi pemberitaan adanya warga yang tewas sia-sia
karena kelaparan, kemiskinan, ataupun penyakit di Tanah Airnya sendiri.
Setelah lama mengamati fenomena setiap tahunnya ratusan ribu umat muslim
dari Indonesia berangkat umroh atau haji ke Arab, telah ternyata satu-satunya
“motor penggerak” para muslim berlomba-lomba ke Mekkah untuk umroh atau
berhaji, tidak lain tidak bukan dilandasi motif atau motivasi berupa “nafsu” (selfish
motive, “ego”), nafsu untuk dihapus dosa-dosanya lewat ritual. Umroh atau
haji, maka dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya akan dihapus sepenuhnya,
begitu kata kiai ataupun ustad mereka. Kini paradigma saya mulai berbalik arah,
telah ternyata haji dan
umroh adalah “ritual yang MURAH”, karena bertanggung-jawab kepada para korban
mereka adalah jauh lebih MAHAL dari segi waktu, tenaga, maupun biaya, lebih
mahal daripada dana untuk berumroh dan berhaji.
Brief
Answer: Orientasinya umat muslim
ialah “MENGHAPUS dosa-dosa” alias menutupi rekam-jejak kejahatan-kejahatan yang
telah pernah ataupun masih akan mereka lakukan, bukan untuk “MENANAM Karma
Baik” juga bukan dalam rangka bertanggung-jawab terhadap korban-korban yang
telah pernah mereka lukai, sakiti, maupun rugikan. Karenanya, motivasi atau
pola-pikir kaum pemeluk “Agama DOSA”—disebut demikian, semata karena
mempromosikan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” bagi pendosawan dan
menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, alih-alih
mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat—ialah sepenuhnya
KORUP alias culas dan picik, yakni dilandasi “niat jahat” berupa merampas
hak-hak korban mereka atas keadilan, dengan upaya melepaskan diri dari
tanggung-jawab atas konsekuensi perbuatan buruk mereka sendiri yang telah
pernah menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya.
Adapun
lawan kata dari “PENGHAPUSAN DOSA” ataupun istilah curang sejenis lainnya,
ialah “KEMAUAN DAN KEBERANIAN UNTUK BERTANGGUNG-JAWAB” sehingga kalangan korban
tidak perlu mengemis-ngemis pertanggung-jawaban dari sang pelaku-pendosawan. Seorang
berjiwa ksatria, meski masih dapat berbuat keliru, namun ia siap-berani untuk
tampil mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Karena itulah, para “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang berdelusi sebagai kaum paling superior yang
berhak menghakimi kaum lainnya serta menuntut untuk dihormati saat “puasa
ramadhan” dimana konsumsi meningkat drastis dan “dosa-dosa setahun dihapuskan”,
sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, kotor, korup, tercela, serta
dangkal, para pengecut-tulen yang begitu pengecut untuk menghadapi konsekuensi
atas perbuatan-perbuatan buruknya sendiri. Secara relevan, Sang Buddha telah
pernah bersabda:
“Para bhikkhu, terdapat empat jenis kemelekatan. Apakah empat ini?
Kemelekatan pada segala jenis kenikmatan, kemelekatan pada pandangan,
kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.”
PEMBAHASAN:
Ritual
adalah praktek “omong-kosong”—karenanya umroh dan haji merupakan “omong-kosong
berbiaya mahal”—bukanlah praktek menempa diri, sebagaimana dapat kita simak Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya), Judul Asli : The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia
oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
11
Cūḷasīhanāda Sutta:
Khotbah Pendek tentang Auman Singa
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang
Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, hanya di sini terdapat seorang petapa, hanya di sini
terdapat petapa ke dua, hanya di sini terdapat petapa ke tiga, hanya di sini
terdapat petapa ke empat. Doktrin-doktrin
dari yang lain adalah kosong [64] dari petapa: itu adalah bagaimana kalian dapat dengan benar
mengaumkan auman singa kalian.
[Kitab Komentar : Frasa “hanya di sini” berarti
hanya dalam Pengajaran Buddha. Empat petapa (samaṇa) merujuk pada empat
tingkat siswa ariya – pemasuk-arus, yang-kembali-sekali, yang-tidak-kembali,
dan Arahant. “Auman singa” (sīhanāda), merupakan auman keunggulan dan
tanpa ketakutan, auman yang tidak dapat dibantah. Sehubungan dengan pernyataan
Sang Buddha ini, baca juga khotbahNya kepada Subhadda dalam Mahāparinibbāna
Sutta (Digha Nikāya 16:5.27/ii.151-52).]
3. “Adalah mungkin, para bhikkhu, bahwa para pengembara sekte lain
menanyakan: ‘Tetapi atas kekuatan [argumen] apakah atau dengan dukungan
[otoritas] apakah Yang Mulia sekalian berkata demikian?’ Para petapa sekte lain
yang bertanya demikian dapat dijawab dengan cara ini: ‘Teman-teman, empat hal
telah dinyatakan kepada kami oleh Sang
Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna; setelah melihat hal ini dalam diri kami, kami mengatakan:
“Hanya di sini terdapat seorang petapa, hanya di sini terdapat petapa ke dua,
hanya di sini terdapat petapa ke tiga, hanya di sini terdapat petapa ke empat.
Doktrin-doktrin dari yang lain adalah kosong dari petapa.” Apakah empat ini?
Kami memiliki keyakinan pada Sang Guru, kami memiliki keyakinan pada Dhamma, kami
telah memenuhi aturan-aturan moral, dan teman-teman kami dalam Dhamma
menyayangi dan menyenangi kami apakah mereka umat awam atau mereka yang telah meninggalkan
keduniawian. Ini adalah empat hal yang dinyatakan kepada kami oleh Sang Bhagavā
yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, ketika
melihatnya dalam diri kami, kami mengatakan sesuai dengan apa yang kami lakukan.’
4. “Adalah mungkin, para bhikkhu, para pengembara sekte lain akan berkata
sebagai berikut: ‘Teman-teman, kami
juga memiliki
keyakinan pada Sang Guru, yaitu, pada Guru Kami; kami juga memiliki keyakinan pada Dhamma, yaitu, pada Dhamma kami,
kami juga telah memenuhi aturan-aturan moral, yaitu aturan-aturan
kami; dan teman-teman kami dalam Dhamma juga menyayangi dan menyenangi kami
apakah mereka umat awam atau mereka yang telah meninggalkan keduniawian. Apakah
bedanya di sini, sahabat-sahabat, apakah perbedaan antara kalian dan kami?’
5. “Para pengembara dari sekte lain yang bertanya demikian dapat dijawab
seperti ini: ‘Bagaimanakah,
teman-teman, apakah tujuannya satu atau banyak?’ jika menjawab dengan benar, maka para pengembara
dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman,
tujuannya adalah satu, bukan banyak.’ – ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh nafsu atau
bebas dari nafsu?’ Jika
menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu
adalah untuk seorang yang bebas dari nafsu, bukan untuk seorang yang
terpengaruh oleh nafsu.’ - ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh kebencian
atau bebas dari kebencian?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan
menjawab: ‘Teman-teman,
tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari kebencian, bukan untuk seorang
yang terpengaruh oleh kebencian.’ - ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh delusi atau
bebas dari delusi?’ Jika
menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu
adalah untuk seorang yang bebas dari delusi, bukan untuk seorang yang
terpengaruh oleh delusi.’ - ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh ketagihan
atau bebas dari ketagihan?’ [65] Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain
akan menjawab: ‘Teman-teman,
tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari ketagihan, bukan untuk seorang
yang terpengaruh oleh ketagihan.’ - ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang terpengaruh oleh kemelekatan
atau bebas dari kemelekatan?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab:
‘Teman-teman,
tujuan itu adalah untuk seorang yang bebas dari kemelekatan, bukan untuk
seorang yang terpengaruh oleh kemelekatan.’ - ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang memiliki penglihatan atau
tanpa penglihatan?’ Jika
menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu
adalah untuk seorang yang memiliki penglihatan, bukan untuk seorang yang tanpa
penglihatan.’ - ‘Tetapi, teman-teman,
apakah tujuan itu untuk seorang yang menyukai dan menolak, atau untuk seorang
yang tidak menyukai dan tidak menolak?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan
menjawab: ‘Teman-teman,
tujuan itu adalah untuk seorang yang tidak menyukai dan tidak menolak, bukan
untuk seorang yang menyukai atau menolak.’ - ‘Tetapi,
teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang bergembira dan menikmati
proliferasi, atau untuk seorang yang tidak bergembira dalam dan tidak menikmati
proliferasi?’ Jika
menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu
adalah untuk seorang yang tidak bergembira dalam dan tidak menikmati
proliferasi, bukan untuk seorang yang menyenangi dan menikmati proliferasi.’
[Kitab Komentar : Walaupun para pengikut sekte lain
semuanya menyatakan Kearahantaan – yang dipahami secara umum sebagai
kesempurnaan spiritual – sebagai tujuan, namun mereka menunjukkan pencapaian
lain sebagai tujuan sesuai dengan pandangan mereka. Demikianlah para brahmana
menyatakan alam-Brahma sebagai tujuan, para petapa menyatakan dewa dengan
Cahaya Gemerlap, para pengembara menyatakan dewa dengan Keagungan Gemilang, dan
para Ājīvaka menyatakan kondisi tanpa-persepsi, yang mereka bayangkan
sebagai “pikiran yang tanpa batas.”
“Menyukai dan menolak” (anurodhapaṭivirodha) berarti
bereaksi dengan ketertarikan melalui nafsu dan dengan penolakan melalui
kebencian.
Proliferasi (papañca), ini adalah aktivitas
pikiran yang diatur oleh ketagihan dan pandangan. Interpretasi atas paragraf
yang tersamar ini berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā.
Penerjemah lain menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañcasaññā-sankhā
sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.” Akan tetapi, sepertinya
persoalan utama yang ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah
“keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan
keragaman, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam
pencurahan komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data.
Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and
Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai
“proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan menggantikan
“keberagaman” dari penerjemah lain tersebut menjadi “proliferasi.”
Kitab
Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor –
ketagihan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi
“membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,”
“aku,” dan “diriku.” Papañca
dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap,”.
Kata Pali “menganggap” (maññati), yang
berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam
sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang –
pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang diturunkan
bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif seseorang.
Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh “menganggap”
terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam
pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap”
diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya –
keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).
Penerjemah lain menuliskan contoh ilustrasi
demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan persepsi menyimpang,
orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui
kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari
ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang
bertolak-belakang [dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha menunjukkan
bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu dari empat
cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif, lokatif,
ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga tersamar dalam
Pali – sepertinya filosofis.
Penerjemah menganggap pola itu menunjukkan beragam
cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna
keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu
hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat sebagai
objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa salah satu
dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari (“ia
membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan dari
X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).
Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan
frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke
tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat
yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan
pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima
Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.
Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya
terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai secara subjektif,
dari impuls dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap
untuk menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap.
Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek “anggapan”
implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan: “setelah mempersepsikan
tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia menganggap [itu
sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari tanah,” dan
seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara eksplisit menghubungkan
“penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat lain dikatakan “bergembira
di sana-sini.” Hal
ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi, karena
ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan.
Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan
segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek “penganggapan”
yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih
rumit. YM Ñāṇananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang
dikarakteristikkan oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan
ini masih belum memasukkan kata saññā. Penerjemah lain mengemas sankhā
dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan bahwa saññā adalah persepsi yang
berhubungan dengan papañca ataupun papañca itu sendiri.
Penerjemah sependapat dengan Ñāṇananda
dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan
(“Perhitungan” dari penerjemah lain adalah terlalu literal) daripada “bagian”.
Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata majemuk dvanda,
“persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā
jarang muncul dalam Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak
ada terjemahan yang benar-benar tanpa keraguan.
Pada Interpretasi alternatif dari komponennya,
ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan
[yang muncul dari] proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan
persepsi [yang muncul dari] proliferasi.” Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses kognisi itu sendiri
adalah “sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari]
proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Jika
dalam proses kognisi tersebut tidak ada yang disenangi, disambut, atau
digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada kekotoran-kekotoran akan
berakhir.]
6. “Para bhikkhu, terdapat dua pandangan ini: pandangan penjelmaan
dan pandangan tanpa penjelmaan. Petapa atau brahmana manapun yang menganut pandangan penjelmaan, mengadopsi
pandangan penjelmaan, menerima pandangan penjelmaan, adalah berlawanan dengan
pandangan tanpa penjelmaan. Petapa atau brahmana manapun yang menganut pandangan
tanpa penjelmaan, mengadopsi pandangan tanpa penjelmaan, menerima pandangan
tanpa penjelmaan, adalah berlawanan dengan pandangan penjelmaan.
[Kitab Komentar : Pandangan
penjelmaan (bhavadiṭṭhi) adalah eternalisme, kepercayaan
akan diri yang abadi. Sementara
itu, pandangan
tanpa-penjelmaan (vibhavadiṭṭhi) adalah pandangan pemusnahan,
penyangkalan pada prinsip kelangsungan sebagai suatu landasan bagi kelahiran
kembali dan pembalasan kamma. Pengadopsian salah satu pandangan merupakan penolakan pada pandangan
lainnya yang berhubungan dengan pernyataan sebelumnya bahwa tujuan itu adalah
untuk seorang yang tidak menyukai dan tidak menolak.]
7. “Petapa
atau brahmana manapun yang tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula,
lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kedua
pandangan ini adalah terpengaruh oleh nafsu, terpengaruh oleh kebencian,
terpengaruh oleh delusi, terpengaruh oleh ketagihan, terpengaruh oleh
kemelekatan, tanpa penglihatan, terbiasa menyukai dan menolak, dan mereka
bergembira dalam dan menikmati proliferasi. Mereka tidak terbebas dari
kelahiran, penuaan, dan kematian; dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan, Aku katakan.
[Kitab Komentar : Perihal “asal-mula, lenyapnya,
kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri”, sehubungan dengan asal-mula (samudaya)
dari pandangan-pandangan ini, merujuk delapan kondisi: kelima kelompok unsur
kehidupan, ketidak-tahuan, kontak, persepsi, pikiran, perhatian tidak
bijaksana, teman-teman yang buruk, dan kata-kata orang lain.
Lenyapnya
(atthangama) pandangan-pandangan ini adalah jalan memasuki-arus, yang
melenyapkan semua pandangan salah. Kepuasan (assāda) dapat dipahami sebagai kepuasan pada
kebutuhan psikologis yang diberiken oleh pandangan-pandangan itu; bahaya
(ādīnava) adalah belenggu yang terus-menerus yang dibawa oleh
pandangan-pandangan itu; jalan membebaskan diri (nissaraṇa) dari
pandangan-pandangan itu adalah Nibbāna.]
8. “Petapa
atau brahmana manapun yang memahami sebagaimana adanya asal-mula, lenyapnya,
kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan kedua pandangan
ini adalah tanpa nafsu, tanpa kebencian, tanpa delusi, tanpa ketagihan, tanpa
kemelekatan, memiliki penglihatan, tidak terbiasa menyukai atau menolak, dan
mereka tidak bergembira dalam dan tidak menikmati proliferasi. Mereka terbebas
dari kelahiran, penuaan, dan kematian; dari dukacita, ratapan, kesakitan,
kesedihan, dan keputus-asaan; mereka terbebas dari penderitaan, Aku katakan. [66]
9. “Para bhikkhu, terdapat
empat jenis kemelekatan. Apakah empat ini? Kemelekatan
pada segala jenis kenikmatan, kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada
ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.
10. “Walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu
mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, mereka tidak
sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan. Mereka menggambarkan
hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria tanpa
menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada
ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri. Mengapakah? Para
petapa dan brahmana baik itu tidak memahami ketiga jenis kemelekatan ini
sebagaimana adanya. Oleh
karena itu, walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu
mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, mereka tidak
sepenuhnya menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, mereka
menggambarkan hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria
tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada pandangan, kemelekatan
pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.
[Kitab Komentar : Perihal “pemahaman penuh atas
segala jenis kemelekatan”, pemahaman penuh (pariññā) di sini dapat
dimaknai sebagai mengatasi, melampaui (samatikkama), dengan merujuk pada
gagasan komentar atas pahānapariññā, “pemahaman penuh sebagai
ditinggalkannya.”
Kitab Komentar juga menyebutkan bahwa seseorang yang
sepenuhnya memahami tanah melakukannya melalui tiga jenis pemahaman penuh: pemahaman
penuh atas apa yang diketahui (ñātapariññā) – definisi unsur tanah
menurut karakteristik, fungsi, manifestasi khusus, dan penyebab terdekat;
pemahaman penuh dengan menyelidiki (tīraṇapariññā) – perenungan
unsur tanah melalui karakteristik umum ketidak-kekalan, penderitaan, dan
tanpa-diri; dan pemahaman penuh atas pelepasan (pahānapariññā) – meninggalkan
keinginan dan nafsu pada unsur tanah melalui jalan tertinggi (Kearahantaan).]
11. “Walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu
mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan … mereka
menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan
kemelekatan pada pandangan tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan
pada ritual dan upacara dan kemelekatan pada doktrin diri. Mengapakah?
Karena mereka tidak memahami kedua jenis kemelekatan ini … oleh karena itu
mereka menggambarkan hanya pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan
indria dan kemelekatan pada pandangan tanpa menggambarkan pemahaman penuh atas
kemelekatan pada ritual dan upacara dan kemelekatan pada doktrin diri.
12. “Walaupun para petapa dan brahmana tertentu mengaku mampu
mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan … mereka
menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan
kemelekatan pada pandangan dan kemelekatan pada ritual dan upacara tanpa menggambarkan
pemahaman penuh atas kemelekatan pada doktrin diri. Mereka tidak memahami
satu jenis kemelekatan ini … oleh karena itu mereka menggambarkan hanya
pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada
pandangan dan kemelekatan pada ritual dan upacara tanpa menggambarkan
pemahaman penuh atas kemelekatan pada doktrin diri.
[Kitab Komentar : Paragraf di atas dengan jelas
menyebutkan faktor penting yang membedakan ajaran Buddha dari kepercayaan
filosofis dan religius lainnya adalah “pemahaman penuh terhadap kemelekatan
pada ajaran itu sendiri.” Ini berarti, intinya, bahwa Sang Buddha sendiri mampu
menunjukkan bagaimana mengatasi semua pandangan diri dengan mengembangkan
penembusan pada kebenaran tanpa-diri. Karena
para guru spiritual lainnya tidak memiliki pemahaman tanpa-diri ini, pengakuan
mereka sehubungan dengan pemahaman sepenuhnya ketiga jenis kemelekatan ini juga
adalah mencurigakan.]
13. “Para bhikkhu, dalam Dhamma dan Disiplin demikian, jelas bahwa
keyakinan pada Sang Guru tidak diarahkan dengan benar, bahwa keyakinan
pada Dhamma tidak diarahkan dengan benar, bahwa pemenuhan aturan-aturan
moral tidak diarahkan dengan benar, dan bahwa kasih sayang di antara
teman-teman dalam Dhamma tidak diarahkan dengan benar. Mengapakah? Karena itu adalah
bagaimana ketika Dhamma dan Disiplin [67] dinyatakan dengan buruk dan
dibabarkan dengan buruk, tidak membebaskan, tidak mendukung kedamaian,
dibabarkan oleh seorang yang tidak tercerahkan sempurna.
14. “Para bhikkhu, ketika
seorang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, mengaku mampu
mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, Beliau secara lengkap
menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan: beliau
menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria,
kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan
pada doktrin diri.
[Kitab Komentar : Yaitu, Sang Buddha mengajarkan
bagaimana kemelekatan pada kenikmatan indria (dipahami sebagai terdiri dari
segala bentuk keserakahan) ditinggalkan melalui jalan Kearahantaan, ketiga
kemelekatan lainnya melalui jalan memasuki-arus.]
15. “Para bhikkhu, dalam Dhamma dan Disiplin demikian, jelas bahwa
keyakinan pada Sang Guru diarahkan dengan benar, bahwa keyakinan pada
Dhamma diarahkan dengan benar, bahwa pemenuhan aturan-aturan moral diarahkan
dengan benar, dan bahwa kasih sayang di antara teman-teman dalam Dhamma diarahkan
dengan benar. Mengapakah? Karena
itu adalah bagaimana ketika Dhamma dan Disiplin dinyatakan dengan baik dan
dibabarkan dengan baik, membebaskan, mendukung kedamaian, dibabarkan oleh
seorang yang tercerahkan sempurna.
16. “Sekarang empat
jenis kemelekatan ini memiliki apakah sebagai sumbernya, apakah sebagai
asal-mulanya, dari apakah ditimbulkan dan dihasilkan? Empat jenis kemelekatan ini memiliki ketagihan
sebagai sumbernya, ketagihan sebagai asal-mulanya, ditimbulkan dan dihasilkan
dari ketagihan. Ketagihan memiliki apakah sebagai sumbernya …? Ketagihan
memiliki perasaan sebagai sumbernya … Perasaan memiliki apakah sebagai sumbernya
…? Perasaan memiliki kontak sebagai sumbernya … Kontak memiliki apakah
sebagai sumbernya …? Kontak memiliki enam landasan sebagai sumbernya …
Enam landasan memiliki apakah sebagai sumbernya …? Enam landasan memiliki batin-jasmani
sebagai sumbernya … Batin-jasmani memiliki apakah sebagai sumbernya …?
Batin-jasmani memiliki kesadaran sebagai sumbernya … Kesadaran memiliki
apakah sebagai sumbernya …? Kesadaran memiliki bentukan-bentukan sebagai
sumbernya … Bentukan-bentukan memiliki apakah sebagai sumbernya …?
Bentukan-bentukan memiliki ketidak-tahuan
sebagai sumbernya, ketidak-tahuan sebagai asal-mulanya, timbul dan dihasilkan
dari ketidak-tahuan.
[Kitab Komentar : Perihal “apakah sebagai sumbernya,
apakah sebagai asal-mulanya, dari apakah ditimbulkan dan dihasilkan”, ini
disebutkan untuk menunjukkan bagaimana kemelekatan ditinggalkan. Kemelekatan
ditelusuri hingga penyebab-akarnya dalam ketidak-tahuan, dan kemudian hancurnya
ketidak-tahuan ditunjukkan sebagai cara untuk melenyapkan kemelekatan.]
17. “Para bhikkhu, ketika
ketidak-tahuan ditinggalkan dan pengetahuan sejati muncul dalam diri seorang
bhikkhu, maka dengan meluruhnya ketidak-tahuan dan munculnya pengetahuan sejati
ia tidak lagi melekat pada kenikmatan indria, tidak lagi melekat pada
pandangan, tidak lagi melekat pada ritual dan upacara, tidak lagi melekat pada
doktrin diri. Ketika ia
tidak melekat, ia tidak gelisah. Ketika ia tidak gelisah, maka ia oleh dirinya
sendiri mencapai Nibbāna. Ia memahami: ‘Kelahiran
telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan
telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’” [68]
[Kitab Komentar : Idiom Pali, n’eva kāmupādānaṁ upādiyati, seharusnya
diterjemahkan secara literal sebagai “ia tidak melekat pada kemelekatan pada
kenikmatan indria,” yang dapat mengaburkan maknanya daripada menjelaskannya. Ūpādāna
dalam Pali adalah objek dari kata kerjanya sendiri, sementara “kemelekatan” (clinging,
Ing.) bukan. Pada satu tahapan dalam terjemahannya Ñm mencoba untuk menghindari
persoalan ini dengan meminjam makna lain dari kata ūpādāna, yaitu,
“bahan bakar” dan menerjemahkannya: “ia tidak lagi melekat pada kenikmatan
indria [sebagai bahan bakar bagi] kemelekatan.” Akan tetapi, ini juga masih
kabur, dan oleh karena itu penerjemah mencoba untuk melewati kesulitan ini
dengan menerjemahkannya secara langsung sesuai maknanya daripada menyesuaikan
dengan kalimat idiom Pali tersebut.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi
diajarkan, dididik, serta dibiasakan untuk mabuk serta kecanduan “DOSA-DOSA DAN
MAKSIAT” semata agar kian adiktif terhadap iming-iming “too good to be true”
ideologi KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi “KORUPTOR DOSA”, tentunya,
dimana dosa-dosa pun mereka korupsi), terpengaruh oleh nafsu, terpengaruh oleh
kebencian, terpengaruh oleh delusi, terpengaruh oleh ketagihan, terpengaruh
oleh kemelekatan, tanpa penglihatan, terbiasa menyukai dan menolak, dan mereka
bergembira dalam dan menikmati proliferasi. Mereka tidak terbebas dari
kelahiran, penuaan, dan kematian; dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan; mereka tidak terbebas dari penderitaan—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat Anda sendiri, apakah sang “nabi
rasul allah” berikut melakukan ritual hingga “jungkir-balik”, apakah dalam
rangka mencapai tujuan terbebas dari nafsu, ataukah sebaliknya, mabuk serta
kecanduan-berat “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” yang di-bundling dengan
adiksi “PENGHAPUSAN DOSA”, terpengaruh oleh delusi ataukah bebas dari delusi,
serta terpengaruh oleh ketagihan ataukah bebas dari ketagihan?—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]