Hidup adalah DUKKHA karena Allah (Ternyata dan Faktanya) Lebih Sayang
serta Berpihak kepada Penjahat (Orang Jahat dan Setan Jahat) juga
Melestarikannya
Allah Menghapus / Mengampuni / Menebus Dosa-Dosa PENJAHAT, bukan Berpihak
ataupun Bersikap Adil kepada Korban-Korban dari para “PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA” tersebut
Allah sedang Mencobai Manusia Jahat? Ibarat Menunggu Jatuh Korban Lebih
Banyak lagi, Allah yang Tidak Pernah Belajar dari Kesalahan-Kesalahannya
sekalipun Usia Umat Manusia telah Setua Umur Bumi
Question: Katanya setan kerjanya ialah menggoda manusia agar
berbuat kejahatan. Kalau sudah tahu begitu, mengapa juga setan-setan ataupun “manusia
setan” tersebut dibiarkan berkeliaran sehingga membuat banyak umat manusia
menjadi terhasut, terjerumus, dan melakukan kejahatan? Para umat agama samawi
membuat dalil spekulatif, yakni “Allah memberi kesempatan kepada orang jahat
tersebut untuk bertobat”.
Pertanyaanya, apakah Allah memberikan kesempatan kepada korban-korban dari
orang jahat tersebut untuk bisa tetap hidup tanpa dicelakai oleh sang penjahat?
Bagaimana mungkin bertobat, umat agama samawi justru mabuk serta kecaduan “pengampunan
dosa” setiap harinya, yang lebih memabukkan dan lebih adiktif daripada barang
madat manapun.
Brief
Answer: Itulah bukti tidak
terbantahkan, bahwa Allah lebih PRO terhadap penjahat (PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA) dan melestarikan / memelihara setan-setan jahat-penghasut-penggoda.
Membiarkan orang jahat berkeliaran mencari mangsa, sama artinya membiarkan
lebih banyak korban berjatuhan, alias mengabaikan kepentingan korban dengan
menomor-satukan kepentingan penjahat. Allah berbelas-kasih terhadap penjahat,
namun disaat bersamaan mendiskriminasi para korban. Kabar gembira bagi penjahat
yang dihapus dosa-dosanya, sama artinya kabar duka bagi kalangan korban yang
hanya bisa “gigit jari”.
Itulah sebabnya,
Sang Buddha lebih memilih untuk melawan Allah, dengan tidak lagi terlahir-kembali
dalam alam manapun, tidak lagi menjadi subjek penciptaan, tidak lagi tunduk
pada kematian, serta tiada lagi tumimbal-lahir dalam dunia manapun. “Hidup adalah
dukkha”, merupakan manifestasi dari kesadaran atas kenyataan bahwa Allah tidak
se-ideal-is sebagaimana dilukiskan dalam agama samawi, namun mengecewakan dan
tidak benar-benar “Maha Adil”, sehingga membuat manusia yang tersadarkan lebih
terpanggil untuk “berjuang melawan Allah”.
Makna “dukkha”,
karenanya ialah : terlahir-kembali di alam ciptaan Allah yang PRO terhadap penjahat,
sakit-kembali, serta meninggal-kembali, sebelum kemudian terlahir-kembali di
alam alam ciptaan Allah yang PRO terhadap penjahat—siklus tumimbal-lahir yang
menyerupai “never ending stories” yang membosankan, menjemukan,
menjijikkan, mengecewakan, memilukan, menyakitkan, serta menyedihkan karena
Allah selalu lebih berpihak pada penjahat. Dengan memutus belenggu penciptaan Allah,
maka kita terbebas dari Allah yang “lalim” serta “buta” demikian.
Tengoklah
juga puluhan nabi rasul Allah telah diutus ke dunia manusia, telah ternyata
tidak ada satupun maksiat paling primitif yang dikenal dalam peradaban umat
manusia sejak era zaman batu manusia-purbakala seperti mencuri, membunuh,
merampok, memerkosa, berdusta, menipu, berzina, menganiaya, dan lain
sebagainya, yang punah dari dunia ini, justru yang ada ialah kian tidak
terbendung—berkat iming-iming KORUP bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN /
PENEBUSAN DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi sehingga menjelma “KORUPTOR DOSA”.
PEMBAHASAN:
Bagaimana mungkin, seorang “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” alias KORUPTOR
DOSA”, menyebut, memandang, serta mengklaim dirinya sebagai “bersih, lurus,
mulia, baik, serta luhur, dan suci”? Umat agama samawi, mengalami kemerosotan
moral serta mandek dalam kemerosotan bila tidak lebih merosot, alias telah divonis
hidup dan matinya sebagai “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sebagaimana
disinggung lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan
sebagai berikut:
53 (3) Kemandekan
“Para bhikkhu, Aku
tidak memuji bahkan kemandekan dalam kualitas-kualitas bermanfaat, apalagi
kemunduran. Aku hanya memuji
kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat, bukan kemandekan atau kemerosotan.
[Catatan Bhikkhu Bodhi selaku penerjemah dari Bahasa
Pāḷi : Saya menggunakan
“kemunduran” untuk menerjemahkan parihāni dan “kemerosotan” untuk
menerjemahkan hāni. Keduanya sebenarnya bersinonim.]
“Dan bagaimanakah terjadinya kemerosotan – bukan kemandekan atau kemajuan – dalam
kualitas-kualitas bermanfaat? Di sini, seorang bhikkhu memiliki tingkatan
tertentu atas keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, pelepasan
keduniawian, kebijaksanaan, dan kearifan. Kualitas-kualitas itu tidak tetap
sama atau meningkat. Ini, Aku katakan, adalah kemerosotan bukan kemandekan
atau kemajuan – dalam kualitas-kualitas bermanfaat. Demikianlah terjadinya kemerosotan
– bukan kemandekan atau kemajuan – dalam kualitas-kualitas bermanfaat.
“Dan bagaimanakah terjadinya kemandekan – bukan kemerosotan atau kemajuan – dalam
kualitas-kualitas bermanfaat? Di sini, seorang bhikkhu memiliki tingkatan
tertentu atas keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, pelepasan
keduniawian, kebijaksanaan, dan kearifan. Kualitas-kualitas itu tidak
merosot atau meningkat. Ini, Aku katakan, adalah kemandekan bukan kemerosotan
atau kemajuan – dalam kualitas-kualitas bermanfaat. Demikianlah terjadinya
kemandekan – bukan kemerosotan atau kemajuan – dalam kualitas-kualitas
bermanfaat.
“Dan bagaimanakah terjadinya kemajuan – bukan kemandekan atau kemerosotan – dalam
kualitas-kualitas bermanfaat? Di sini, seorang bhikkhu memiliki tingkatan
tertentu atas keyakinan, perilaku bermoral, pembelajaran, pelepasan
keduniawian, kebijaksanaan, dan kearifan. Kualitas-kualitas itu tidak tetap
sama atau merosot. Ini, Aku katakan, adalah kemajuan bukan kemandekan atau
kemerosotan – dalam kualitas-kualitas bermanfaat. Demikianlah terjadinya
kemajuan – bukan kemandekan atau kemerosotan – dalam kualitas-kualitas
bermanfaat.
“Para bhikkhu, seorang
bhikkhu yang tidak terampil dalam jalan pikiran orang-orang lain [harus
berlatih]: ‘Aku akan terampil dalam jalan pikiranku sendiri.’ Dengan cara inilah kalian harus berlatih.
“Dan
bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam jalan pikirannya sendiri? Seperti
halnya seorang perempuan atau laki-laki – muda, berpenampilan muda, dan
menyukai perhiasan – akan melihat pantulan wajahnya di sebuah cermin yang
bersih dan cemerlang atau di dalam semangkuk air jernih. Jika mereka melihat debu
atau noda apa pun di sana, maka mereka akan berusaha untuk menghilangkannya.
Tetapi jika mereka tidak melihat debu atau noda di sana, maka mereka menjadi
gembira; dan keinginan mereka terpenuhi, mereka akan berpikir, ‘Betapa
beruntungnya bahwa aku bersih!’ Demikian pula, pemeriksaan-diri adalah sangat membantu bagi seorang
bhikkhu [agar tumbuh] dalam kualitas-kualitas bermanfaat.
“[Ia harus bertanya kepada diri sendiri:] (1) ‘Apakah aku sering condong
pada kerinduan [93] atau tanpa kerinduan? (2) Apakah aku sering condong pada
niat-buruk atau tanpa niat-buruk? (3) Apakah aku sering dikuasai oleh
ketumpulan dan kantuk atau bebas dari ketumpulan dan kantuk? (4) Apakah aku
sering gelisah atau tenang? (5) Apakah aku sering diserang oleh keragu-raguan atau
bebas dari keragu-raguan? (6) Apakah aku sering marah atau tanpa kemarahan? (7)
Apakah pikiranku sering kotor atau tidak kotor? (8) Apakah jasmaniku sering
bergejolak atau tidak bergejolak? (9) Apakah aku sering malas atau bersemangat?
(10) Apakah aku sering tidak terkonsentrasi atau terkonsentrasi?’
[Kitab Komentar : Sebuah paralel versi terjemahan Mandarin,
sedikit berbeda dari Pāli dalam daftar kekotoran dan lawannya yang bermanfaat. Paralel
ini memasukkan ketiadaan keyakinan dan keyakinan,
berpikiran-kacau dan perhatian, dan kedunguan dan
kebijaksanaan. Keyakinan, perhatian, dan kebijaksanaan – bersama dengan kegigihan
dan konsentrasi (tumpang tindih dengan daftar Pāli) – merupakan lima indria
spiritual, yang dianggap sebagai tidak ada atau ada.]
“Jika,
melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku sering
condong pada kerinduan, condong pada niat-buruk, condong pada ketumpulan dan
kantuk, gelisah, diserang oleh keragu-raguan, marah, kotor dalam pikiran, bergejolak
dalam jasmani, malas, dan tidak terkonsentrasi,’ maka ia harus mengerahkan
keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa, semangat luar
biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan pemahaman jernih
luar biasa untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat
itu. Seperti halnya seseorang yang pakaian atau kepalanya terbakar akan
mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa, kemauan luar biasa,
semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian luar biasa, dan
pemahaman jernih luar biasa untuk memadamkan [api pada] pakaian atau kepalanya,
demikian pula bhikkhu itu harus mengerahkan keinginan luar biasa, usaha luar biasa,
kemauan luar biasa, semangat luar biasa, ketanpa-lelahan luar biasa, perhatian
luar biasa, dan pemahaman jernih luar biasa untuk meninggalkan
kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu. [94]
“Tetapi,
jika, melalui pemeriksaan-diri demikian, seorang bhikkhu mengetahui: ‘Aku
sering tanpa kerinduan, tanpa niat-buruk, bebas dari ketumpulan dan kantuk,
tenang, bebas dari keragu-raguan, tanpa kemarahan, tidak kotor dalam pikiran,
tidak bergejolak dalam jasmani, bersemangat, dan terkonsentrasi,’ maka ia harus
mendasarkan dirinya pada kualitas-kualitas bermanfaat yang sama itu dan
berusaha lebih lanjut untuk mencapai hancurnya noda-noda.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]