Makna KORUPSI MORAL, Moral pun Dikorupsi
Question : Yang dimaksud dengan “korupsi moral”, itu artinya seperti apakah?
Brief
Answer : “Koruptor moral” sangat
menyerupai seorang “hipokrit”, mereka pandai dan gemar mengkritik, mencela,
menilai, menghakimi, serta menggurui pihak-pihak lainnya, namun gagal untuk
mengawasi, mendidik, menilai, menertibkan, menasehati, maupun menghukum perilakunya
sendiri. Semua orang pandai menceramahi maupun mengontrol (memanipulasi) orang
lain, tidak kenal kompromistik terhadap orang lain, mencari-cari kesalahan
orang lain, namun bukan artinya yang bersangkutan juga pandai dalam mengamati
dan mengendalikan perbuatan-perbuatannya sendiri yang serba penuh kompromi bila
berbuat “menyimpang” (standar ganda). Sikap mereka tidak konsisten karena
ucapan yang mencela sikap buruk orang lain, akan tetapi perilakunya sendiri
telah ternyata tidak lebih baik daripada pihak-pihak yang mereka cela atau
kritik.
Apapun
itu, hidup adalah perihal pilihan dan konsekuensi dibalik masing-masing pilihan
hidup. Sebagaimana sering penulis sebutkan, bahwa “ciri-ciri
hidup seseorang, menentukan nasib hidup yang bersangkutan”. Bersikap seperti makhluk setan/iblis, maka nasib
hidupnya akan serupa dengan nasib hidup makhluk rendahan demikian, “tanpa kebahagiaan”.
Seorang pendosa yang penuh dosa, maka ia tidak dapat mencapai apa yang dapat
dicapai oleh seseorang yang suci-bersih-bebas-dari-noda. Sang Buddha telah
pernah bersabda:
“Jika ia tidak memiliki keyakinan, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat
dicapai oleh seseorang yang memiliki keyakinan; Jika ia memiliki penyakit, ia
tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang bebas dari
penyakit; jika
ia curang dan penuh muslihat, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai
oleh seseorang yang jujur dan tulus; jika ia malas, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh
seseorang yang bersemangat; jika
ia tidak bijaksana, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh
seseorang yang bijaksana.
“Jika ia memiliki keyakinan, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai
oleh seseorang yang memiliki keyakinan; Jika ia bebas dari penyakit, ia dapat
mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang bebas dari penyakit; jika ia jujur dan
tulus, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang jujur dan
tulus; jika ia
bersemangat, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang
bersemangat; jika
ia bijaksana, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang
bijaksana.”
Adalah
merupakan “korupsi moral”, ketika seorang pemalas berdelusi masuk surga, namun
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk dipetik sendiri buah
manisnya di masa mendatang, namun hanya mengandalkan ritual sembah-sujud doa
permintaan (lip services). Juga merupakan “korupsi moral”, ketika
seorang pengecut berdelusi masuk surga, namun begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, baik yang
besar maupun yang kecil, yang telah pernah atau masih sedang dan masih akan
menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya.
Kebahagiaan
dalam Jalan Dhamma ialah kebahagiaan bebas dari perbuatan-perbuatan buruk yang
tercela, yakni “kebahagiaan dalam moralitas”. Sama halnya, kenikmatan dalam
Buddhisme ialah kenikmatan nonindria dan nonduniawi. Alih-alih merasa malu,
agama samawi bahkan menggambarkan kenikmatan surgawi sebagai serendah
kenikmatan duniawi yang kotor, yakni persetubuhan tubuh kasar (bersenggama
selayaknya manusia di dunia manusia). Mereka dengan tingkat spiritual melampaui
duniawi, tidak lagi merasa tertarik kepada kenikmatan duniawi. Sebagaimana
sabda Sang Buddha:
“Aku berpikir: ‘Mengapa Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak
berhubungan dengan kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku
berpikir: ‘Aku
tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan
indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’”
PEMBAHASAN:
Terdapat
lima faktor usaha dalam Buddhisme, yang tidak didapatkan oleh umat agama samawi
dari agama samawi (kerugian besar bagi umat agama samawi). Selengkapnya dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
85
Bodhirājakumāra
Sutta : Kepada Pangeran Bodhi
[91] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa.
2. Pada saat itu sebuah istana bernama Kokanada baru saja dibangun untuk
Pangeran Bodhi, dan istana itu belum ditempati oleh petapa atau brahmana atau
manusia manapun juga.
[Kitab Komentar : Pangeran Bodhi adalah putera Raja Udena dari Kosambi, ibunya adalah
puteri Raja Caṇḍappajjota dari Avanti. Bagian sutta dari §2 hingga §8 juga terdapat pada
Vinaya Cv Kh 5/ii.127-29, yang melatar-belakangi penetapan peraturan yang
disebutkan pada catatan berikutnya.]
3. Kemudian Pangeran Bodhi berkata kepada murid brahmana Sañjikāputta
sebagai berikut: “Pergilah, Sañjikāputta, temui Sang Bhagavā dan bersujudlah
atas namaku dengan kepalamu di kaki Beliau, dan tanyakan apakah Beliau terbebas
dari penyakit dan gangguan, dan sehat, kuat dan berdiam dengan nyaman, dengan mengatakan:
‘Yang Mulia, Pangeran Bodhi bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan
ia menanyakan apakah Sang Bhagavā terbebas dari penyakit … dan berdiam dengan nyaman.’
Kemudian katakan ini: ‘Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā bersama dengan Sangha
para bhikkhu menerima makanan besok dari Pangeran Bodhi.’”
“Baik, Tuan,” Sañjikāputta menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā dan
saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah tamah ini berakhir, ia duduk
di satu sisi dan berkata: “Guru Gotama, Pangeran Bodhi bersujud dengan
kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan ia menanyakan apakah Sang Bhagavā terbebas
dari penyakit … dan berdiam dengan nyaman. Dan ia mengatakan ini: ‘Yang Mulia,
sudilah Sang Bhagavā bersama dengan Sangha para bhikkhu menerima makanan besok
dari Pangeran Bodhi.’”
4. Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri. Kemudian, setelah
mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah menerima, Sañjikāputta bangkit dari
duduknya, mendatangi Pangeran Bodhi, dan memberitahukan apa yang telah terjadi
[92], dengan menambahkan: “Petapa Gotama telah menerima.”
5. Kemudian, ketika malam telah berlalu, Pangeran Bodhi mempersiapkan
berbagai jenis makanan baik di tempat kediamannya, dan ia menutupi Istana
Kokanada dengan kain putih hingga ke anak tangga terakhir. Kemudian ia berkata kepada
murid brahmana Sañjikāputta sebagai berikut: “Pergilah, Sañjikāputta, temui
Sang Bhagavā dan umumkan waktunya telah tiba sebagai berikut: ‘Sudah waktunya,
Yang Mulia, makanan telah siap.’”
“Baik, Tuan,” Sañjikāputta menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā dan
mengumumkan bahwa waktunya telah tiba: “Sudah waktunya, Guru Gotama, makanan
telah siap.”
6. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan
membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke kediaman Pangeran Bodhi.
7. Pada saat itu Pangeran Bodhi sedang berdiri di serambi luar menunggu
Sang Bhagavā. Ketika dari kejauhan ia melihat kedatangan Sang Bhagavā, ia
keluar untuk menyambut dan bersujud kepada Beliau; dan kemudian, setelah
mempersilahkan Sang Bhagavā untuk mendahuluinya, ia berjalan menuju Istana Kokanada.
Tetapi Sang Bhagavā berhenti di anak tangga paling bawah. Pangeran Bodhi
berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā menginjak kain ini,
sudilah Yang Sempurna menginjak kain ini, hal itu akan menuntun menuju
kesejahteraan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama.” Ketika hal ini dikatakan,
Sang Bhagavā berdiam diri.
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa Pangeran Bodhi
tidak memiliki anak dan menginginkan seorang anak. Ia mendengar bahwa
orang-orang dapat memenuhi keinginan mereka dengan memberikan persembahan
khusus kepada Sang Buddha, maka ia menghamparkan kain putih dengan gagasan: “Jika
aku akan memiliki anak, maka Sang Buddha akan menginjak kain ini; jika aku
tidak akan memiliki anak, maka Beliau tidak akan menginjak kain ini.” Sang
Buddha mengetahui hal tersebut sebagai akibat dari kamma masa lampaunya,
ia dan istrinya ditakdirkan untuk tidak memiliki anak. Karena itu Beliau tidak
menginjak kain tersebut. Belakangan Beliau menetapkan peraturan disiplin yang
melarang bhikkhu menginjak kain putih, tetapi kemudian mengubah peraturan itu
dengan memperbolehkan bhikkhu menginjak kain putih sebagai berkah kepada
perumah-tangga.]
Untuk ke dua kalinya … Untuk ke tiga kalinya Pangeran Bodhi berkata
kepada Beliau: “Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā menginjak kain ini, sudilah
Yang Sempurna menginjak kain ini, hal itu akan menuntun menuju kesejahteraan
dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama.”
Sang Bhagavā menatap Yang Mulia Ānanda. [93] Yang Mulia Ānanda berkata
kepada Pangeran Bodhi: “Pangeran, singkirkanlah kain ini. Sang Bhagavā tidak
akan menginjak sehelai kain; Sang Tathāgata memperhitungkan generasi
mendatang.”
[Kitab Komentar : Pacchimaṁ janataṁ Tathāgato apaloketi, Sang Tathāgata memperhitungkan generasi mendatang.
Versi Vinaya di sini menuliskan anukampati, “memiliki belas kasih,” yang
lebih tepat. Kitab Komentar menjelaskan bahwa YM. Ānanda mengatakan ini dengan
pikiran: “Kelak
orang-orang akan menganggap penghormatan kepada para bhikkhu sebagai cara untuk
memenuhi keinginan duniawi mereka dan akan mengurangi keyakinan mereka terhadap
Saṅgha jika penghormatan mereka tidak
menghasilkan pemenuhan keinginan mereka.”]
8. Maka Pangeran Bodhi memerintahkan agar kain itu disingkirkan, dan ia
mempersiapkan tempat-tempat duduk di kamar atas Istana Kokanada. Sang Bhagavā
dan Sangha para bhikkhu menaiki Istana Kokanada dan duduk di tempat yang telah
dipersiapkan.
9. Kemudian, dengan tangannya sendiri, Pangeran Bodhi melayani Sangha
para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha dengan berbagai jenis makanan baik.
Ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menggeser mangkukNya ke
samping, Pangeran Bodhi mengambil bangku rendah, duduk di satu sisi, dan
berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, kami memiliki pikiran sebagai
berikut: ‘Kenikmatan
tidak dapat diperoleh melalui kenikmatan; kenikmatan harus diperoleh melalui
kesakitan.’”
[Kitab Komentar : Itu adalah prinsip dasar para Jain
(penganut paham Jainisme), seperti pada Majjhima Nikāya 14.20. Namun masih
relevan untuk era dewasa ini, dimana banyak orang yang senang menyakiti dirinya
sendiri dengan mengonsumsi zat-zat yang merusak kesehatan, dan menikmatinya.]
10. “Pangeran, sebelum pencerahanKu, sewaktu Aku masih menjadi seorang
Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku juga berpikir sebagai berikut:
‘Kenikmatan tidak dapat diperoleh melalui kenikmatan; kenikmatan harus
diperoleh melalui kesakitan.’
11-14. “Belakangan, Pangeran, ketika Aku masih muda, seorang pemuda
berambut hitam yang memiliki berkah kemudaan, dalam masa utama kehidupan, setelah
meninggalkan keduniawian, para bhikkhu, dalam mencari apa yang bermanfaat,
mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan berkata kepadanya: ‘Teman Kālāma, Aku ingin menjalani
kehidupan suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Āḷāra Kālāma menjawab: ‘Yang Mulia boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah
sedemikian sehingga seorang bijaksana dapat segera memasuki dan berdiam di
dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri untuk dirinya sendiri melalui
pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya
mengulangi dan melafalkan ajarannya melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan
pengetahuan dan kepastian, dan Aku mengakui, ‘Aku mengetahui dan melihat’ – dan
ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āḷāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan
pengetahuan langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āḷāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’
Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara
bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri
dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai
jawaban ia menyatakan landasan
kekosongan.
[Kitab Komentar : Āḷāra Kālāma mengajarkan Sang Bodhisatta Gotama tujuh
pencapaian (meditasi ketenangan) yang berakhir pada landasan kekosongan,
ke-tiga dari empat pencapaian tanpa-materi. Walaupun pencapaian-pencapaian ini
adalah luhur secara spiritual, namun masih dalam lingkup lokiya dan tidak
secara langsung mengarah pada Nibbāna.]
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Āḷāra Kālāma yang memiliki keyakinan, kegigihan,
perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan,
kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku
berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Āḷāra Kālāma bahwa ia telah masuk dan berdiam di dalamnya dengan
menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung?’
“Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya
untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau
menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya
untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ –
‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma
ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ –
‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita
memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci.
Jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan
menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma
yang Engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu
sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan
berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriMu sendiri dengan pengetahuan
langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya
dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau
mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui.
Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku.
Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.’
“Demikianlah Āḷāra Kālāma, guruKu, menempatkan Aku, muridnya,
setara dengan dirinya dan menganugerahi diriku dengan penghormatan tertinggi.
Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, tidak menuntun menuju kebosanan, tidak menuntun menuju lenyapnya, tidak menuntun menuju kedamaian, tidak menuntun menuju
pengetahuan langsung, tidak menuntun menuju Nibbāna, tetapi hanya menuntun
menuju kemunculan kembali dalam landasan kekosongan.’ Karena tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi
dan meninggalkan tempat itu.
[Kitab Komentar : “Kemunculan kembali dalam landasan
kekosongan”, yaitu menuntun menuju kelahiran-kembali di alam kehidupan yang
disebut landasan kekosongan, tujuan dari pencapaian meditatif ke-tujuh. Di
sini umur kehidupannya adalah 60.000 kappa, tetapi ketika jangka waktu itu
telah berlalu, seseorang akan meninggal dunia dan kembali ke alam yang lebih
rendah. Dengan
demikian seseorang yang mencapai ini masih belum terbebas dari kelahiran dan
kematian, namun terperangkap dalam jebakan Māra. Horner melewatkan hal penting bahwa
kelahiran-kembali adalah intinya dengan menerjemahkan “hanya sejauh mencapai
alam kekosongan” (MLS 1:209).]
“Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang
bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mendatangi
Uddaka Rāmaputta dan berkata kepadanya: ‘Teman, Aku ingin menjalani kehidupan
suci dalam Dhamma dan Disiplin ini.’ Uddaka Rāmaputta menjawab: ‘Yang Mulia
boleh menetap di sini. Dhamma ini adalah sedemikian sehingga seorang bijaksana
dapat segera memasuki dan berdiam di dalamnya, menembus doktrin gurunya sendiri
untuk dirinya sendiri melalui pengetahuan langsung.’ Aku dengan segera
mempelajari Dhamma itu. Sejauh hanya mengulangi dan melafalkan ajarannya
melalui mulut, Aku dapat mengatakan dengan pengetahuan dan kepastian, dan Aku
mengakui, ‘Aku
mengetahui dan melihat’ – dan ada orang-orang lain yang juga melakukan demikian.
[Kitab Komentar : Baik Horner dan Bhikkhu Ñāṇamoli melakukan
kesalahan dalam terjemahan mereka mengenai kisah pertemuan Sang Bodhisatta
dengan Uddaka Rāmaputta dengan menganggap Uddaka sama dengan Rāma. Akan tetapi,
seperti ditunjukkan oleh namanya, Uddaka adalah putra (putta) dari Rāma,
yang pasti telah meninggal dunia sebelum kedatangan Sang Bodhisatta. Perhatikan
bahwa semua rujukan pada Rāma dituliskan dalam bentuk lampau dan sebagai orang
ke tiga, dan bahwa Uddaka pada akhirnya menempatkan Sang Bodhisatta dalam
posisi guru. Walaupun teks tidak memberikan akhir yang pasti, namun ini
menyiratkan bahwa ia sendiri belum mencapai pencapaian ke empat tanpa-bentuk
itu.]
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Rāma
menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan
langsung, Aku masuk dan berdiam dalam Dhamma ini.” Rāma pasti berdiam dengan
mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Uddaka Rāmaputta
dan bertanya: ‘Teman, dalam cara bagaimanakah Rāma menyatakan bahwa dengan
menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung ia masuk dan
berdiam dalam Dhamma ini?’ Sebagai jawaban ia menyatakan landasan bukan persepsi
juga bukan bukan-persepsi.
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya Rāma yang memiliki keyakinan, kegigihan,
perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Aku juga memiliki keyakinan,
kegigihan, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Bagaimana jika Aku
berjuang untuk menembus Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma bahwa ia telah masuk
dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan
pengetahuan langsung?’
“Aku dengan cepat masuk dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya
untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi
Uddaka Rāmaputta dan bertanya: ‘Teman, apakah dengan cara ini Rāma menyatakan
bahwa ia masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirinya
sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan
cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan
menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu
keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita
memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci.
Jadi Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di dalamnya
dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung adalah
juga Dhamma yang Engkau masuki dan diami di dalamnya dengan menembusnya untuk
dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. Dan Dhamma yang Engkau masuki dan
diami di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan
langsung adalah Dhamma yang dinyatakan oleh Rāma telah ia masuki dan diami di
dalamnya dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi
Engkau mengetahui Dhamma yang diketahui oleh Rāma dan Rāma mengetahui Dhamma
yang Engkau ketahui. Sebagaimana Rāma, demikian pula Engkau; sebagaimana
Engkau, demikian pula Rāma. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas
ini bersama-sama.
“Demikianlah Uddaka Rāmaputta, temanKu dalam kehidupan suci, menempatkan
Aku dalam posisi seorang guru dan menganugerahi diriku dengan penghormatan
tertinggi. Tetapi aku berpikir: ‘Dhamma ini tidak menuntun menuju kekecewaan, menuju kebosanan,
menuju lenyapnya, menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju
Nibbāna, tetapi
hanya menuju kemunculan kembali dalam landasan bukan persepsi juga bukan
bukan-persepsi.’ Karena
tidak puas dengan Dhamma itu, Aku pergi dan meninggalkan tempat itu.
“Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang
bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mengembara
secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di
Senānigama di dekat Uruvelā. Di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman,
hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan
menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana
makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah
hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan
menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana
makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk
berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’
[Kitab Komentar : Majjhima Nikāya 36, yang mencantumkan kisah pertemuan Sang Bodhisatta
dengan Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, dari sini dilanjutkan dengan kisah
praktik pertapaan keras yang membawaNya hingga ke ambang kematian dan
selanjutnya tentang penemuanNya akan jalan tengah yang menuntunNya menuju
pencerahan.]
15-42. “Saat itu tiga perumpamaan muncul padaku secara spontan, yang
belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat sebatang kayu basah
terletak di dalam air, dan seseorang datang dengan membawa sebatang kayu-api,
dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’
Bagaimana menurutmu, Pangeran? Dapatkah
orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api
dengan kayu basah yang terletak di dalam air?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena kayu itu adalah kayu basah,
dan terletak di dalam air. Akhirnya
orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”
“Demikian pula, Pangeran, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang masih belum hidup
dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang keinginan
indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan
kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal,
bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para
petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka tidak akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah perumpamaan
pertama yang muncul padaku secara spontan yang belum pernah terdengar
sebelumnya.
[Komentar : Makna dari perumpamaan di atas,
sekalipun seseorang berupaya sekeras apapun sekalipun menyakitkan dan merasa
tersiksa, akan tetapi bila masih melekat pada kenikmatan indria, pikirannya
masih merindukan keinginan indria, maka hanya akan menemukan keletihan dan
kesia-siaan.]
“Kemudian, Pangeran, perumpamaan ke dua muncul padaKu secara spontan yang
belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat sebatang kayu basah
terletak di atas tanah kering yang jauh dari air, dan seseorang datang dengan
sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan
menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Pangeran? Dapatkah orang itu
menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api dengan kayu
basah yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari air?”
“Tidak, Guru Gotama. Mengapa
tidak? Karena kayu itu adalah kayu basah, bahkan walaupun kayu itu terletak di
atas tanah kering yang jauh dari air. Akhirnya orang itu hanya akan memperoleh kelelahan dan kekecewaan.”
“Demikian pula, Pangeran, sehubungan dengan para petapa dan brahmana
itu yang hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, tetapi
keinginan indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya
akan kenikmatan indria belum sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara
internal, bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka
tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi;
dan bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka
tidak akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi.
Ini adalah perumpamaan ke dua yang muncul padaku secara spontan, yang belum
pernah terdengar sebelumnya.
[Kitab Komentar : Perihal “para petapa dan brahmana
itu yang hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria”, akan
tetapi keinginan indrianya terhadap kenikmatan indria belum sepenuhnya
ditinggalkan, pikirannya masih dikuasai oleh keinginan tersebut. Sepertinya
sulit untuk memahami bagaimana para petapa ini dapat digambarkan “terasing
secara batin” dari kenikmatan indria jika mereka belum menenangkan keinginan
indria dalam diri mereka.
Ajhan Chah, guru dari Ajahn Brahm, pernah
menceritakan perumpamaan lainnya yang serupa, yakni seseorang yang sekalipun
memiliki kayu yang kering, akan tetapi menggosoknya dengan kayu-api dalam tempo
waktu singkat sebelum kayu tersebut mulai benar-benar panas dan memercikkan
api, ia menghentikan itu dan mengalihkan perhatian pada aktivitas lain. Lalu,
beberapa waktu kemudian ia kembali menggosok kayu yang telah kembali dingin
tersebut, dengan harapan dapat menimbulkan api, akan tetapi sebelum benar-benar
panas dan memercikkan api, ia kembali menghentikannya dan mengalihkan
perhatian. Ia hanya membuang-buang waktu dan berdelusi dapat menghasilkan manfaat
dengan metoda demikian.]
“Kemudian, Pangeran, perumpamaan ke tiga muncul padaKu secara spontan,
yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan
terdapat sebatang kayu kering terletak di atas tanah kering yang jauh dari air,
dan seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan
menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Pangeran?
Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan
kayu api dengan kayu kering yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari
air?”
“Dapat,
Guru Gotama. Mengapa? Karena kayu itu adalah kayu kering, dan kayu itu terletak
di atas tanah kering yang jauh dari air.”
“Demikian pula, Pangeran, sehubungan dengan para petapa dan brahmana
itu yang hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang
keinginan indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya
akan kenikmatan indria telah sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara
internal, bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan
perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan
mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan
jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi. Ini adalah
perumpamaan ke tiga yang muncul padaKu secara spontan, yang belum pernah
terdengar sebelumnya. Ini adalah tiga perumpamaan yang muncul padaKu secara
spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
[Kitab Komentar : Perihal “bahkan jika para
petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai
pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi”, adalah mengherankan
bahwa dalam paragraf berikutnya Sang Bodhisatta ditunjukkan melakukan
penyiksaan-diri setelah Beliau telah sampai pada kesimpulan bahwa praktik
demikian adalah tidak berguna untuk mencapai Pencerahan. Ketidak-sesuaian gagasan
ini menimbulkan kecurigaan bahwa urutan narasi sutta ini telah tercampur-aduk.
Tempat yang seharusnya bagi perumpamaan kayu api ini adalah di akhir masa
percobaan pertapaan Sang Bodhisatta, ketika Beliau telah memperoleh landasan
kuat untuk menolak penyiksaan-diri.
Namun demikian, Kitab Komentar menerima urutan ini
apa adanya dan memunculkan pertanyaan mengapa Sang Bodhisatta melakukan praktik
keras ini jika Beliau mampu mencapai Kebuddhaan tanpa melakukan
penyiksaan-diri demikian. Jawabannya: Beliau
melakukan demikian, pertama, untuk menunjukkan usahaNya kepada dunia, karena
kualitas “kegigihan yang tanpa tandingan” memberiNya kegembiraan; dan ke dua,
demi belas kasih kepada generasi mendatang, dengan menginspirasi mereka untuk
berjuang dengan tekad yang sama seperti yang Beliau terapkan demi mencapai
pencerahan.]
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika, dengan mengertakkan gigiKu dan menekan
lidahKu ke langit-langit mulutKu, Aku
menekan, mendesak, dan menggilas pikiran dengan pikiran.’ Maka dengan gigiKu dikertakkan dan lidahKu
menekan langit-langit mulut, Aku menekan, mendesak, dan menggilas pikiran
dengan pikiran. Sewaktu Aku melakukan demikian, keringat menetes dari ketiakKu.
Bagaikan seorang kuat mampu mencengkeram seorang yang lebih lemah pada kepala
atau bahunya dan menekannya, mendesaknya, dan menggilasnya, demikian pula,
dengan gigiKu dikertakkan dan lidahKu menekan langit-langit mulut, Aku menekan,
mendesak, dan menggilas pikiran dengan pikiran, dan keringat menetes dari
ketiakKu. Tetapi
walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan
perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, namun tubuhKu kelelahan dan tidak
tenang karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan.
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas.’
Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut dan hidungKu.
Sewaktu Aku melakukan demikian, terdengar suara angin yang keras menerobos
keluar dari lubang telingaKu. Bagaikan suara keras yang terdengar ketika pipa pengembus
pandai besi ditiup, demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan
nafas keluar melalui hidung dan telingaKu, terdengar suara angin yang keras
menerobos keluar dari lubang telingaKu. Tetapi
walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan
perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang
karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan.
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas lebih
jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut,
hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang menembus
kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat menusuk kepalaKu dengan ujung pedang tajam,
demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu. Angin kencang menembus kepalaKu. Tetapi walaupun
kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian
yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku
terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan.
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas lebih
jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut,
hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, Aku merasakan kesakitan
luar biasa di kepalaKu. Seolah-olah seorang kuat mengencangkan tali kulit di
kepalaKu sebagai ikat kepala, demikian pula, ketika Aku menghentikan nafas
masuk dan nafas keluar melalui mulut, hidung, dan telingaKu, Aku merasakan
kesakitan luar biasa di kepalaKu. Tetapi
walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan
perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang
karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan.
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas lebih
jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut,
hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, angin kencang menerobos
keluar melalui perutKu. Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau
muridnya membelah perut seekor sapi dengan pisau daging yang tajam, demikian
pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut,
hidung, dan telingaKu, angin kencang menerobos keluar melalui perutKu. Tetapi walaupun
kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian
yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku
terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan.
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih meditasi tanpa bernafas lebih
jauh lagi.’ Maka Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui mulut,
hidung, dan telingaKu. Ketika Aku melakukan demikian, Aku merasakan kebakaran
hebat di seluruh tubuhKu. Bagaikan dua orang kuat mencengkeram seseorang yang
lebih lemah pada kedua lengannya dan memanggangnya di atas lubang membara,
demikian pula, sewaktu Aku menghentikan nafas masuk dan nafas keluar melalui
mulut, hidung, dan telingaKu, Aku merasakan kebakaran hebat di seluruh tubuhKu.
Tetapi walaupun
kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian
yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhKu kelelahan dan tidak tenang karena Aku
terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan.
“Ketika
para dewa melihatKu, beberapa berkata: ‘Petapa Gotama telah mati.’ Beberapa
dewa lain berkata: ‘Petapa Gotama tidak mati, Beliau sekarat.’ Dan para dewa
lainnya lagi berkata: ‘Petapa Gotama tidak mati ataupun sekarat; Beliau adalah
seorang Arahant, karena demikianlah cara para Arahant berdiam.’
“Aku
berpikir: ‘Bagaimana jika Aku berlatih sepenuhnya tidak makan.’ Kemudian para
dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Tuan, jangan berlatih sepenuhnya tidak makan.
Jika Engkau melakukan hal itu, kami akan memasukkan makanan surgawi ke dalam
pori-pori kulitMu dan Engkau akan hidup dengan itu.’ Aku mempertimbangkan:
‘Jika Aku mengaku sepenuhnya tidak makan sementara para dewa ini memasukkan
makan-makanan surgawi ke dalam pori-pori kulitKu dan Aku akan hidup dengan itu,
maka artinya Aku berbohong.’ Maka aku mengusir para dewa itu, dan berkata:
‘Tidak perlu.’
“Aku berpikir: ‘Bagaimana jika Aku memakan sangat sedikit makanan,
segenggam setiap kalinya, apakah sop kacang atau sop kacang tanah atau sop
kacang hijau atau sop kacang polong.’ Maka Aku memakan sangat sedikit makanan,
segenggam setiap kalinya, apakah sop kacang atau sop kacang tanah atau sop
kacang hijau atau sop kacang polong. Sewaktu Aku melakukan demikian, tubuhKu
menjadi sangat kurus. Karena
makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhKu menjadi seperti tanaman merambat
atau batang bambu. Karena makan begitu sedikit punggungKu menjadi seperti kuku
onta. Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungKu menonjol bagaikan
untaian tasbih. Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena
kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap. Karena makan begitu sedikit
bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang
jauh di dalam sumur yang dalam. Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu
mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan
matahari. Karena makan begitu sedikit kulit perutKu menempel pada tulang
punggungKu; sedemikian sehingga jika Aku menyentuh kulit perutKu maka akan
tersentuh tulang punggungKu, dan jika Aku menyentuh tulang punggungKu maka akan
tersentuh kulit perutKu. Karena makan begitu sedikit, jika Aku ingin buang air
besar atau buang air kecil, maka Aku terjatuh dengan wajahKu di atas kotoran di
sana. Karena makan begitu sedikit, jika Aku mencoba menyamankan diriKu dengan
memijat badanKu dengan tanganKu, maka bulunya, tercabut pada akarnya,
berguguran dari badanKu ketika Aku menggosoknya.
“Saat itu ketika orang-orang melihatKu, beberapa berkata: ‘Petapa Gotama
hitam.’ Orang lain berkata: ‘Petapa Gotama tidak hitam, Beliau cokelat. Orang
lain lagi berkata: ‘Petapa Gotama bukan hitam juga bukan cokelat, ia berkulit
keemasan.’ KulitKu yang bersih dan cerah menjadi sangat kusam karena makan
sangat sedikit.
“Aku berpikir: ‘Para
petapa atau brahmana manapun di masa lampau telah mengalami perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak
ada yang melampaui ini. Dan para petapa atau brahmana manapun di masa depan
akan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha ini, ini
adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Dan para petapa atau
brahmana manapun di masa sekarang mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui
ini. Tetapi melalui latihan keras yang menyiksa ini Aku tidak mencapai kondisi
melampaui manusia apapun, keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia. Apakah ada jalan lain menuju pencerahan?’
[Komentar : Betapa besar pengorbanan dan penderitaan
Sang Boddhisatta Gotama dalam mencari jalan untuk terbebas dari dukkha.
Bahkan seseorang yang divonis hukuman mati, akan memilih untuk dieksekusi mati
ataupun mati disalib daripada menjalani penyiksaan-diri ekstrem demikian.]
“Aku
mempertimbangkan: ‘Aku ingat ketika ayahKu orang Sakya yang berkuasa, sewaktu
Aku sedang duduk di keteduhan pohon jambu, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk
dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan
kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan. Mungkinkah itu adalah jalan menuju pencerahan?’ Kemudian, dengan
mengikuti ingatan itu, muncullah pengetahuan: ‘Itu adalah jalan menuju
pencerahan.’
[Kitab Komentar : Pada masa kecil Sang Bodhisatta
sebagai seorang pangeran, pada suatu ketika ayahNya mengadakan upacara membajak
sawah pada suatu festival tradisi orang Sakya. Sang Pangeran dibawa ke tempat
festival tersebut dan tempat untukNya dipersiapkan di bawah pohon jambu. Ketika
para pelayanNya meninggalkanNya untuk menyaksikan upacara membajak sawah, Beliau
secara spontan duduk dalam posisi meditasi dan mencapai jhāna pertama melalui
perhatian pada pernafasan. Ketika para pelayanNya kembali dan melihat Sang Anak
sedang duduk bermeditasi, mereka melaporkan hal ini kepada Sang Raja yang segera
datang dan bersujud menghormati putranya.]
“Aku
berpikir: ‘Mengapa Aku takut pada kenikmatan itu yang tidak berhubungan dengan
kenikmatan indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat?’ Aku berpikir: ‘Aku
tidak takut pada kenikmatan itu karena tidak berhubungan dengan kenikmatan
indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat.’
[Kitab Komentar : Paragraf ini menandai perubahan
dalam evaluasi kenikmatan oleh Sang Bodhisatta; sekarang kenikmatan tidak lagi
dianggap sebagai sesuatu yang ditakuti dan diusir melalui praktik keras, tetapi,
jika muncul dari keterasingan dan pelepasan, terlihat sebagai pendamping yang
berharga dari tingkat-tingkat yang lebih tinggi sepanjang perjalanan menuju
pencerahan. Baca Majjhima Nikāya 139.9 tentang dua kelompok kenikmatan. Bisa
dikatakan, berdiam di dalam kenikmatan yang melampaui keduniawian, kenikmatan
nonindria, suatu kenikmatan meditatif yang berbeda dengan kenikmatan indria.]
“Aku
mempertimbangkan: ‘Tidaklah mudah untuk mencapai kenikmatan demikian dengan
badan yang sangat kurus. Bagaimana jika Aku memakan sedikit makanan padat –
sedikit nasi dan bubur.’ Dan Aku memakan sedikit makanan padat – sedikit nasi
dan bubur. Pada saat itu lima bhikkhu melayaniKu, dengan berpikir: ‘Jika Petapa
Gotama kita mencapai kondisi yang lebih tinggi, Beliau akan memberitahu kita.’
Tetapi ketika Aku memakan nasi dan bubur, kelima bhikkhu itu menjadi jijik dan
meninggalkan Aku, dengan berpikir: ‘Petapa Gotama sekarang hidup dalam
kemewahan; ia telah meninggalkan usahaNya dan kembali pada kemewahan.’
“Ketika
Aku telah memakan sedikit makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka
dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi
tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai
dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan
yang muncul dari keterasingan. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu
itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.
“Dengan
menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku masuk dan berdiam dalam
jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi. Dengan meluruhnya sukacita, Aku berdiam dalam keseimbangan,
dan penuh perhatian dan waspada penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani,
ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para
mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki
keseimbangan dan penuh perhatian.’ Dengan meninggalkan kenikmatan dan
kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan kesedihan, Aku
memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan juga
bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Tetapi perasaan
menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap
di sana.
“Ketika
konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan,
Aku mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Aku mengingat
banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran,
empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga
puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus
kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa
penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa
penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu,
dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan
kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari
sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku
itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman
kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan
meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan
segala aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau.
[Kitab Komentar : Perihal “pengetahuan mengingat
kehidupan lampau”, dijelaskan secara terperinci dalam Visuddhimagga XIII,
13-71.]
“Ini
adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga pertama malam
itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan
tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang
berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.
“Ketika
konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan,
Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali
makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku
melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia,
cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk
berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku
buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam
pandangan mereka, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi
buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi
makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran,
bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar
dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah
muncul kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan
mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk
meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya
dan miskin, Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan
perbuatan mereka.
[Kitab Komentar : Perihal “pengetahuan kematian dan
kelahiran kembali makhluk-makhlu”, dijelaskan secara terperinci dalam
Visuddhimagga XIII, 72-101.]
“Ini
adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai olehKu pada jaga ke dua malam
itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan
tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang
berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.
“Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas
dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan
tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku
secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana
adanya: ‘Ini
adalah asal-mula penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; Aku secara
langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana
adanya: ‘Ini
adalah noda-noda’; Aku
secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
noda-noda’; Aku secara
langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
“Ketika
Aku mengetahui dan melihat demikian, pikiranKu terbebas dari noda keinginan
indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan,
muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’ Aku secara langsung mengetahui:
‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus
dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi
makhluk apapun.’
“Ini
adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehKu pada jaga ke tiga malam
itu. Ketidak-tahuan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan
tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seseorang yang
berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.
45-53. “Aku merenungkan: ‘Dhamma
ini yang telah Kucapai sungguh mendalam, sulit dilihat dan sulit dipahami,
damai dan luhur, tidak dapat dicapai hanya dengan penalaran, halus, untuk
dialami oleh para bijaksana. Tetapi generasi ini menyenangi keduniawian,
bergembira dalam keduniawian, bersukacita dalam keduniawian. Adalah sulit bagi
generasi demikian untuk melihat kebenaran ini, yaitu, kondisionalitas spesifik,
kemunculan bergantungan. Dan adalah sulit untuk melihat kebenaran ini, yaitu,
tenangnya segala bentukan, lepasnya segala perolehan, hancurnya ketagihan,
kebosanan, lenyapnya, Nibbāna. Jika Aku harus mengajarkan Dhamma, orang-orang lain tidak akan
memahamiKu, dan itu akan melelahkan dan menyusahkan bagiKu.’ Setelah itu
muncullah padaKu secara spontan syair-syair ini yang tidak pernah didengar
sebelumnya:
[Kitab Komentar : “Dhamma ini” dapat
diidentifikasikan sebagai Empat Kebenaran Mulia. Dua kebenaran atau
kondisi-kondisi (ṭhāna) yang dibicarakan persis di bawah – kemunculan bergantungan dan Nibbāna
– adalah kebenaran asal-mula dan lenyapnya penderitaan, yang berturut-turut
menyiratkan kebenaran penderitaan dan “sang Jalan”.
Ālaya. Sulit untuk menemukan padanan yang tepat untuk kata ini dalam Bahasa
Inggris yang belum digunakan oleh kata Pali lainnya yang lebih sering muncul.
Horner menerjemahkannya sebagai “kenikmatan indria,” yang sesuai dengan
terjemahan biasa bagi kāma dan mungkin terlalu sempit. Bhikkhu Ñāṇamoli
menerjemahkannya sebagai “sesuatu untuk bersandar,” yang mungkin ditarik dari
konotasi kata tersebut yang tidak sesuai di sini. Penerjemah lain menjelaskan ālaya
sebagai terdiri dari kenikmatan indria objektif dan pikiran-pikiran ketagihan
yang berhubungan dengannya.
Dalam berbagai sutta, Sang Buddha menyatakan desakan
untuk terlepas dari tumimbal-lahir (saṁsara), ialah faktor kebosanan, kejijikan, serta kejemuan terhadap siklus
tiada akhir dari tumimbal-lahir yang sudah tidak terhitung jumlahnya dan akan
terus berlangsung tanpa akhir bila tidak dipotong. “Kebosanan” juga menjadi
lawan-kata dari “kemelekatan / ketagihan”.]
‘Cukuplah dengan mengajarkan Dhamma
Yang bahkan Kuketahui sulit untuk dicapai;
Karena
tidak akan pernah dilihat
Oleh
mereka yang hidup dalam nafsu dan kebencian.
Mereka
yang tenggelam dalam nafsu, terselimuti dalam kegelapan
Tidak
akan pernah melihat Dhamma yang mendalam ini
Yang
mengalir melawan arus duniawi.
Halus,
dalam, dan sulit dilihat.’
Dengan pertimbangan demikian, batinKu lebih condong pada tidak
melakukan apa-apa daripada mengajarkan Dhamma.
[Kitab Komentar mengangkat pertanyaan mengapa,
ketika Sang Bodhisatta yang sejak lama bercita-cita untuk mencapai Kebuddhaan
dengan tujuan untuk membebaskan makhluk-makhluk lain, sekarang pikirannya
condong untuk tidak melakukan apa-apa. Alasannya, menurut Kitab Komentar,
adalah bahwa baru sekarang, setelah mencapai pencerahan, Beliau menyadari
sepenuhnya betapa kuatnya kekotoran-kekotoran dalam batin makhluk-makhluk dan
betapa mendalamnya Dhamma. Juga Beliau menghendaki agar Brahmā memohonNya untuk
mengajar sehingga makhluk-makhluk yang menyembah Brahmā dapat mengenali nilai
berharga dari Dhamma dan berkeinginan untuk mendengarnya.]
“Kemudian, para bhikkhu, Brahmā Sahampati dengan pikirannya mengetahui
pikiranKu dan ia mempertimbangkan: ‘Dunia
akan musnah, dunia akan binasa, karena pikiran Sang Tathāgata, yang sempurna
dan tercerahkan sempurna, lebih condong pada tidak berbuat apa-apa daripada
mengajarkan Dhamma.’
Kemudian secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk
lengannya yang terentang, Brahmā Sahampati lenyap dari alam Brahmā dan
muncul di hadapanKu. Ia merapikan jubah atasnya di satu bahunya, dan merangkapkan
tangan sebagai penghormatan kepadaKu, dan berkata: ‘Yang Mulia, sudilah
Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma, sudilah Yang Sempurna mengajarkan Dhamma. Ada
makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka yang tersia-sia karena tidak
mendengarkan Dhamma. Akan ada di antara mereka yang akan memahami Dhamma.’ Brahmā Sahampati berkata demikian, dan kemudian
ia berkata lebih lanjut:
[Komentar : Brahmā Sahampati merupakan makhluk
Brahmā dari alam Brahmā, alam yang lebih tinggi daripada alam dewa maupun
makhluk dewata.]
‘Di Magadha telah muncul hingga sekarang
Ajaran
tidak murni yang diajarkan oleh mereka yang masih ternoda.
Bukalah pintu menuju Tanpa-Kematian! Biarkan mereka mendengar
Dhamma
yang ditemukan oleh Yang Tanpa Noda.
Bagaikan seseorang yang berdiri di sebuah puncak gunung
Dapat melihat ke bawah, orang-orang di segala penjuru,
Maka,
O Yang Bijaksana, Yang Maha-Melihat,
Naiklah
ke istana Dhamma
Sudilah
Yang Tanpa Dukacita mengamati keturunan manusia ini,
Diliputi
oleh dukacita, dikuasai oleh kelahiran dan usia tua.
Bangkitlah, pahlawan pemenang, pemimpin pengembara,
Yang tanpa kewajiban, dan mengembaralah di dunia.
Sudilah
Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma,
Akan
ada di antara mereka yang dapat memahami Dhamma.’
“Kemudian Aku mendengarkan permohonan Brahmā, dan demi belas kasih kepada
makhluk-makhluk Aku memeriksa dunia dengan mata Buddha. Dengan memeriksa dunia dengan mata Buddha, Aku
melihat makhluk-makhluk dengan sedikit debu di mata mereka dan dengan banyak
debu di mata mereka, dengan indria tajam dan dengan indria tumpul, dengan
kualitas-kualitas baik dan dengan kualitas-kualitas buruk, mudah diajar dan
sulit diajar, dan beberapa yang berdiam melihat dengan takut pada kejahatan dan
pada dunia lain. Bagaikan dalam sebuah kolam seroja biru atau merah atau
putih, beberapa seroja lahir dan tumbuh dalam air berkembang dalam air tanpa
keluar dari air, dan beberapa seroja lain lahir dan berkembang dalam air dan
berdiam di permukaan air, dan beberapa seroja lainnya lahir dan berkembang
dalam air keluar dari air dan berdiri dengan bersih, tidak dibasahi oleh air;
demikian pula, dengan
memeriksa dunia ini dengan mata Buddha, Aku melihat makhluk-makhluk dengan
sedikit debu di mata mereka dan dengan banyak debu di mata mereka, dengan
indria tajam dan dengan indria tumpul, dengan kualitas-kualitas baik dan dengan
kualitas-kualitas buruk, mudah diajar dan sulit diajar, dan beberapa yang
berdiam melihat dengan takut pada kejahatan dan pada dunia lain. Kemudian Aku menjawab Brahmā Sahampati dalam syair
ini:
‘Terbukalah
bagi mereka pintu menuju Tanpa-Kematian,
Semoga
mereka yang memiliki telinga menunjukkan keyakinan mereka
Karena
berpikir akan menyusahkan,
O
Brahmā, Aku tidak membabarkan Dhamma yang halus dan luhur.’
Kemudian Brahmā Sahampati berpikir: ‘Sang Bhagavā telah memenuhi
permohonanku untuk mengajarkan Dhamma.’ Dan setelah memberi hormat kepadaKu,
dengan Aku tetap di sisi kanannya, ia seketika lenyap dari sana.
[Kitab Komentar : Seroja adalah sejenis teratai,
yang kuncup bunganya dapat muncul ke atas permukaan kolam dan berkembang di
atas permukaan air kolam.]
“Aku merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma?
Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir: ‘Āḷāra Kālāma bijaksana, cerdas, dan dapat melihat; ia telah lama
memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma
pertama kali kepada Āḷāra Kālāma. Ia akan memahaminya dengan cepat.’ Kemudian
para dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Yang Mulia, Āḷāra Kālāma meninggal dunia tujuh hari yang lalu.’ Dan pengetahuan dan
penglihatan muncul padaku: ‘Āḷāra Kālāma meninggal dunia tujuh hari yang lalu.’
Aku berpikir: ‘Kerugian Āḷāra Kālāma sungguh besar. Jika ia mendengarkan
Dhamma ini, ia akan memahaminya dengan cepat.’
“Aku merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma?
Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir:
‘Uddaka Rāmaputta bijaksana, cerdas, dan dapat melihat; ia telah lama
memiliki sedikit debu di matanya. Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma
pertama kali kepada Uddaka Rāmaputta. Ia akan memahaminya dengan cepat.’
Kemudian para dewa mendatangiKu dan berkata: ‘Yang Mulia, Uddaka Rāmaputta
meninggal dunia kemarin malam.’ Dan pengetahuan dan penglihatan muncul padaku:
‘Uddaka Rāmaputta meninggal dunia kemarin malam.’ Aku berpikir: ‘Kerugian
Uddaka Rāmaputta sungguh besar. Jika ia mendengarkan Dhamma ini, ia akan
memahaminya dengan cepat.’
“Aku
merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah
yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir: ‘Para bhikkhu dari kelompok
lima yang melayaniKu sewaktu aku menjalani usahaku telah sangat membantu.
Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma pertama kali kepada mereka.’ Kemudian Aku
berpikir: ‘Di manakah para bhikkhu dari kelompok lima itu menetap?’ Dan dengan
mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat bahwa mereka sedang
menetap di Benares di Taman Rusa di Isipatana.
[Kitab Komentar : Kelima bhikkhu ini melayani Sang
Bodhisatta selama masa penyiksaan-diri, percaya bahwa Beliau akan mencapai
pencerahan dan mengajarkan Dhamma kepada mereka. Akan tetapi, ketika Beliau
meninggalkan praktik kerasNya dan kembali memakan makanan padat, mereka
kehilangan keyakinan padaNya, menuduhNya kembali kepada kemewahan, dan
meninggalkanNya. Baca Majjhima Nikāya 36.33.]
(PENGAJARAN
DHAMMA)
“Kemudian, para bhikkhu, ketika Aku telah menetap di Uruvelā selama yang
Aku inginkan, Aku melakukan perjalanan secara bertahap menuju Benares. Antara
Gayā dan tempat pencerahan, Ājīvaka Upaka melihatKu dalam perjalanan itu dan
berkata: ‘Teman, indriaMu cerah, warna kulitMu bersih dan cemerlang. Di bawah
siapakah Engkau meninggalkan keduniawian, teman? Siapakah guruMu? Dhamma
siapakah yang Engkau anut? Aku menjawab Ājīvaka Upaka dalam syair:
‘Aku
adalah seorang yang telah melampaui segalanya, pengenal segalanya,
Tidak
ternoda di antara segalanya, meninggalkan segalanya,
Terbebaskan
dalam lenyapnya keinginan. Setelah mengetahui semua ini
Bagi
diriKu, siapakah yang harus Kutunjuk sebagai guru?
Aku
tidak memiliki guru, dan seseorang yang setara denganKu Tidak ada di segala
alam
Bersama
dengan semua dewanya, karena Aku tidak memiliki
Siapapun
yang dapat menandingiKu.
Aku
adalah Yang Sempurna di dunia ini,
Aku
adalah Guru Tertinggi.
Aku
sendiri adalah seorang Yang Tercerahkan Sempurna
Yang
api-apinya telah padam.
Aku
pergi sekarang menuju kota Kāsi
Untuk
memutar Roda Dhamma.
Dalam
dunia yang telah buta
Aku
pergi untuk menabuh tambur Tanpa-Kematian.’
‘Dengan
pengakuanMu, teman, engkau pasti adalah Pemenang Segalanya.’
‘Para
pemenang adalah mereka yang sepertiKu
Yang
telah memenangkan penghancuran noda-noda.
Aku
telah menaklukkan segala kondisi jahat,
Oleh
karena itu, Upaka, Aku adalah pemenang.’
“Ketika ini dikatakan, Ājīvaka Upaka berkata: ‘Semoga demikian, teman.’
Dengan menggelengkan kepala, ia berjalan melalui jalan kecil dan pergi.
[Kitab Komentar : Upaka selanjutnya jatuh cinta
dengan puteri seorang pemburu dan menikahinya. Ketika pernikahannya ternyata
tidak membahagiakan, ia kembali pada Sang Buddha, memasuki Saṇgha, dan
merealisasi pencapaian tingkat kesucian “yang-tidak-kembali”, ia terlahir
kembali di alam surga Aviha, di mana ia mencapai Kearahantaan.]
“Kemudian, para bhikkhu, dengan berjalan secara bertahap, Aku akhirnya
sampai di Benares, Taman Rusa di Isipatana, dan Aku mendekati para bhikkhu dari
kelompok lima. Dari jauh Para bhikkhu melihatKu mendekat, dan mereka sepakat:
‘Teman-teman, telah datang Petapa Gotama yang hidup dalam kemewahan, yang telah
meninggalkan usahaNya, dan kembali kepada kemewahan. Kita tidak perlu memberi
hormat kepadaNya atau bangkit menyambutNya atau menerima mangkuk dan jubah
luarNya. Tetapi sebuah tempat duduk boleh disediakan untukNya. Jika Ia
menginginkan, Ia boleh duduk.’ Akan tetapi, ketika Aku mendekat, para bhikkhu
itu tidak dapat mempertahankan kesepakatan mereka. Salah seorang datang
menyambutKu dan mengambil mangkuk dan jubah luarKu, yang lain menyiapkan tempat
duduk, dan yang lain lagi menyediakan air untuk membasuh kakiKu; akan tetapi
mereka menyapaKu dengan nama dan sebagai ‘teman.’
[Kitab Komentar : “Āvuso” adalah kata sebutan
bersahabat yang digunakan untuk menyapa mereka yang setara.]
“Kemudian Aku memberitahu mereka: ‘Para bhikkhu, jangan menyapa Sang
Tathāgata dengan nama dan sebagai “teman.” Sang Tathāgata adalah seorang yang
sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Tanpa-Kematian telah
dicapai. Aku akan
memberikan instruksi kepada kalian, Aku akan mengajarkan Dhamma kepada kalian.
Dengan mempraktikkan sesuai yang diinstruksikan, dengan menembusnya untuk
kalian sendiri di sini dan saat ini melalui pengetahuan langsung, kalian
akan segera memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang
karenanya para anggota keluarga meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’
“Ketika hal ini dikatakan, para bhikkhu dari kelompok lima itu menjawabKu
sebagai berikut: ‘Teman Gotama, dengan perilaku, praktik, dan pelaksanaan
pertapaan keras yang Engkau jalani, Engkau tidak mencapai kondisi apapun yang
melampaui manusia, tidak mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan
penglihatan selayaknya para mulia. Karena sekarang Engkau hidup dalam
kemewahan, telah meninggalkan usahaMu dan kembali kepada kemewahan, bagaimana
mungkin Engkau telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, telah
mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para
mulia?’ Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu mereka: ‘Sang Tathāgata tidak
hidup dalam kemewahan, juga tidak meninggalkan usahaNya dan tidak kembali
kepada kemewahan. Sang
Tathāgata adalah Yang Sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Tanpa-Kematian telah
dicapai ... dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’
[Kitab Komentar : Kondisi-kondisi melampaui manusia
(uttari manussadhammā) adalah kondisi-kondisi, moralitas, atau
pencapaian yang lebih tinggi daripada manusia biasa yang terdiri dari sepuluh
perbuatan baik (baca Majjhima Nikāya 9.6); termasuk jhāna-jhāna,
jenis-jenis pengetahuan langsung, serta jalan dan buah.
“Keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan
selayaknya para mulia” (alamariyañāṇadassanavisesa), ungkapan yang sering muncul dalam sutta-sutta, menyiratkan semua
tingkatan pengetahuan meditatif yang lebih tinggi yang menjadi karakteristik
individu mulia. Di sini, ini secara khusus berarti jalan lokuttara.]
“Untuk ke dua kalinya para bhikkhu dari kelompok lima itu berkata
kepadaKu: ‘Teman Gotama ... bagaimana mungkin Engkau telah mencapai kondisi
apapun yang melampaui manusia, telah mencapai keluhuran apapun dalam
pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia?’ Untuk ke dua kalinya Aku
memberitahu mereka: ‘Sang Tathāgata tidak hidup dalam kemewahan ... dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Untuk ke tiga kalinya
para bhikkhu dari kelompok lima itu berkata kepadaKu: ‘Teman Gotama ... bagaimana
mungkin Engkau telah mencapai kondisi apapun yang melampaui manusia, telah
mencapai keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para
mulia?’
“Ketika hal ini dikatakan Aku bertanya kepada mereka: ‘Para bhikkhu,
pernahkah kalian mendengar Aku berkata seperti ini sebelumnya?’ – ‘Tidak, Yang
Mulia.’ – ‘Para bhikkhu, Sang
Tathāgata adalah seorang yang sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna. Dengarkanlah, para bhikkhu, Tanpa-Kematian telah
dicapai. Aku akan
memberikan instruksi kepada kalian, Aku akan mengajarkan Dhamma kepada kalian.
Dengan
mempraktikkan sesuai yang diinstruksikan, dengan menembusnya untuk kalian
sendiri di sini dan saat ini melalui pengetahuan langsung, kalian akan segera
memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang karenanya para anggota keluarga meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’
[Kitab Komentar : Perubahan panggilan dari “teman”
menjadi “Yang Mulia” (bhante) menunjukkan bahwa mereka sekarang telah
menerima pengakuan Sang Buddha dan siap untuk menganggapnya sebagai yang lebih
mulia daripada mereka.]
“Aku berhasil meyakinkan para bhikkhu dari kelompok lima. Kemudian Aku
kadang-kadang memberikan instruksi kepada dua bhikkhu sementara tiga lainnya
mengumpulkan dana makanan, dan kami berenam bertahan hidup dari apa yang dibawa
kembali oleh ketiga bhikkhu dari perjalanan mereka menerima dana makanan.
Kadang-kadang Aku memberikan instruksi kepada tiga bhikkhu sementara dua
lainnya mengumpulkan dana makanan, dan kami berenam bertahan hidup dari apa
yang dibawa kembali oleh kedua bhikkhu dari perjalanan mereka menerima dana
makanan.
[Kitab Komentar : Pada titik ini Sang Buddha
membabarkan khotbah pertamaNya kepada kelima murid pertama-Nya,
Dhammacakkappavattana Sutta, Memutar Roda Dhamma, tentang Empat Kebenaran
Mulia. Beberapa hari berikutnya, setelah mereka semuanya telah menjadi “pemasuk-arus”,
Beliau mengajarkan Anattalakkhana Sutta, Karakteristik Bukan-diri, yang setelah
mendengarnya mereka semua mencapai Kearahantaan. Penjelasan lengkap, terdapat
dalam Mahāvagga (Vinaya i.7-14), yang juga termasuk dalam Ñaṇamoli, The
Life of the Buddha, hal.42-47.
Yang juga perlu dipahami dari sejarah pembabaran
awal Dhamma oleh Sang Buddha, faktor “keyakinan” memiliki peran sentral dalam
pencapaian tingkatan kemurnian batin dalam suatu disiplin latihan para murid
Beliau. Dari pemaparan demikian pula, “misi misionaris” Sang Buddha tidaklah
sesederhana yang dibayangkan kebanyakan umat manusia masa kini.]
54. “Kemudian para bhikkhu dari kelompok lima, tidak lama setelah diajari
dan diberikan instruksi olehKu, dengan
menembusnya untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan
saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah.”
55. Ketika hal ini dikatakan, Pangeran Bodhi berkata kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, ketika seorang bhikkhu menemui Sang Tathāgata untuk mendisiplinkan
dirinya, berapa lamakah hingga dengan menembusnya untuk dirinya sendiri
dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam
tujuan tertinggi kehidupan suci itu yang dicari oleh para anggota keluarga
yang meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah?”
“Sehubungan dengan hal itu, Pangeran, Aku akan mengajukan pertanyaan
kepadamu sebagai jawaban. Jawablah dengan apa yang menurutmu benar. Bagaimana
menurutmu, Pangeran? Apakah engkau mahir dalam seni menggunakan tongkat kendali
ketika menunggang seekor gajah?”
“Benar, Yang Mulia.”
56. “Bagaimana menurutmu, Pangeran? Misalkan seseorang datang ke sini
dengan pikiran: ‘Pangeran Bodhi mengetahui seni menggunakan tongkat kendali
ketika menunggang seekor gajah; aku akan mempelajari seni itu darinya.’ Jika ia tidak memiliki keyakinan,
ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang memiliki
keyakinan; Jika ia memiliki penyakit, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat
dicapai oleh seseorang yang bebas dari penyakit; jika ia curang dan penuh
muslihat, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang
jujur dan tulus; jika ia malas, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai
oleh seseorang yang bersemangat; jika ia tidak bijaksana, ia tidak dapat
mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang bijaksana. Bagaimana menurutmu, Pangeran? Dapatkah orang itu
mempelajari seni menggunakan tongkat kendali ketika menunggang seekor gajah
darimu?”
“Yang
Mulia, bahkan jika ia memiliki satu saja kekurangan itu, maka ia tidak akan
dapat mempelajarinya dariku, apalagi lima kekurangan itu?”
57. “Bagaimana menurutmu, Pangeran? Misalkan seseorang datang ke sini
dengan pikiran: [95] ‘Pangeran Bodhi mengetahui seni menggunakan tongkat
kendali ketika menunggang seekor gajah; aku akan mempelajari seni itu darinya.’
Jika ia memiliki
keyakinan, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang
memiliki keyakinan; Jika ia bebas dari penyakit, ia dapat mencapai apa yang
dapat dicapai oleh seseorang yang bebas dari penyakit; jika ia jujur dan tulus,
ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang jujur dan tulus;
jika ia bersemangat, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang
yang bersemangat; jika ia bijaksana, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai
oleh seseorang yang bijaksana. Bagaimana menurutmu, Pangeran? Dapatkah orang itu mempelajari darimu
seni menggunakan tongkat kendali ketika menunggang seekor gajah?”
“Yang
Mulia, bahkan jika ia memiliki satu saja kualitas itu, maka ia akan dapat
mempelajarinya dariku, apa lagi lima kualitas itu?”
58. “Demikian pula, Pangeran, terdapat lima
faktor usaha. Apakah lima
ini? Di sini seorang bhikkhu memiliki keyakinan, ia berkeyakinan pada
pencerahan Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang
Bhagavā sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan
perilaku, mulia, pengenal segenap alam, pemimpin tanpa tandingan bagi
orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’
“Kemudian ia
bebas dari penyakit dan kesusahan, memiliki pencernaan yang baik yang tidak
terlalu dingin juga tidak terlalu panas melainkan menengah dan mampu menahankan
tekanan usaha.
“Kemudian ia
jujur dan tulus, dan memperlihatkan dirinya sebagaimana adanya kepada Guru dan
teman-temannya dalam kehidupan suci.
“Kemudian ia
bersemangat dalam meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan dalam
mengusahakan kondisi-kondisi yang bermanfaat, mantap, mengerahkan usahanya dengan
keteguhan dan tekun dalam melatih kondisi-kondisi yang bermanfaat.
“Kemudian ia
bijaksana; ia memiliki kebijaksanaan sehubungan dengan kemunculan dan
kelenyapan yang mulia dan menembus dan mengarah pada kehancuran penderitaan
sepenuhnya. Ini adalah lima faktor usaha.
59. “Pangeran, ketika seorang bhikkhu yang memiliki kelima faktor
usaha ini menemui Sang Tathāgata untuk mendisiplinkan dirinya, ia mungkin
berdiam selama tujuh tahun hingga dengan menembusnya untuk dirinya sendiri
dengan pengetahuan langsung, ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam
tujuan tertinggi kehidupan suci itu yang dicari oleh para anggota keluarga
yang meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan
tanpa rumah. [96]
“Jangankan
tujuh tahun, Pangeran.
ketika seorang bhikkhu yang memiliki kelima faktor usaha ini menemui Sang
Tathāgata untuk mendisiplinkan dirinya, ia mungkin berdiam selama enam tahun
... lima tahun ... empat tahun ... tiga tahun ... dua tahun ... satu tahun ...
Jangankan satu tahun, Pangeran, ... ia mungkin berdiam selama tujuh bulan ...
enam bulan ... lima bulan ... empat bulan ... tiga bulan ... dua bulan ... satu
bulan ... setengah bulan ... Jangankan setengah bulan, Pangeran, ... ia mungkin
berdiam selama tujuh hari tujuh malam ... enam hari enam malam ... lima hari
lima malam ... empat hari empat malam ... tiga hari tiga malam ... dua hari dua
malam ... sehari semalam.
“Jangankan
sehari semalam, Pangeran.
ketika seorang bhikkhu yang memiliki kelima faktor usaha ini menemui Sang Tathāgata
untuk mendisiplinkan dirinya, maka dengan diberikan instruksi pada malam hari,
ia mungkin mencapai kemuliaan di pagi hari; dengan diberikan instruksi di pagi
hari, ia mungkin mencapai kemuliaan di malam hari.”
60. Ketika hal ini dikatakan, Pangeran Bodhi berkata kepada Sang Bhagavā:
“Oh Buddha! Oh Dhamma! Oh, betapa baikya Dhamma telah dinyatakan! Karena
seseorang yang diberikan instruksi pada malam hari mungkin mencapai kemuliaan
di pagi hari; dan seseorang yang diberikan instruksi di pagi hari mungkin mencapai
kemuliaan di malam hari.”
61. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Sañjikāputta berkata kepada
Pangeran Bodhi: “Tuan Bodhi mengatakan: ‘Oh Buddha! Oh Dhamma! Oh, betapa
baikya Dhamma telah dinyatakan!’ Tetapi ia tidak mengatakan: ‘Aku berlindung
pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu.’”
“Jangan berkata begitu, Sañjikāputta, jangan berkata begitu. Aku
mendengar dan mengetahui ini dari mulut ibuku: [97] Pernah pada suatu ketika
Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambi di Taman Ghosita. Kemudian ibuku, yang
sedang hamil, mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia
duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau: ‘Yang Mulia, pangeran atau puteri
dalam rahimku, yang manapun itu, berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma
dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Sang Bhagavā mengingat [anak ini] sebagai
seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.’ Juga pernah
pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa. Kemudian perawatku, dengan
menggendongku di pinggulnya, mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada
Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau:
‘Yang Mulia, Pangeran Bodhi ini berlindung pada Sang Bhagavā dan pada
Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Sang Bhagavā mengingatnya sebagai
seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.’ Sekarang,
Sañjikāputta, untuk ke tiga kalinya aku berlindung pada Sang Bhagavā dan pada
Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Sang Bhagavā mengingatku sebagai
seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, orang-orang yang terbiasa
“korupsi moral” akan cenderung jatuh ke sifat dan sikap “korupsi dosa”, dimana
dosa-dosa pun dikorupsi menjelma “KORUPTOR DOSA”. Jika ia tidak memiliki rasa
malu dan takut berbuat jahat, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai
oleh seseorang yang memiliki rasa malu maupun takut berbuat jahat. Jika ia memiliki dosa-dosa sebesar
gunung, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang
bebas dari dosa-dosa. Jika ia
curang dan penuh muslihat, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh
seseorang yang jujur dan tulus. Jika ia pemalas yang begitu pemalas
untuk merepotkan diri menanam benih-benih Karma Baik, ia tidak dapat mencapai
apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang bersemangat. Jika ia tidak bertanggung-jawab,
ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang penuh
tanggung-jawab—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan Anda nilai sendiri, apakah sang “nabi rasul allah” adalah orang yang jujur
dan tulus, yang memperlihatkan dirinya sebagaimana adanya kepada umat-pengikut dan
teman-temannya, ataukah yang hidup dalam nafsu dan kebencian, yang tenggelam
dalam ego, terselimuti dalam kegelapan; yang mengalir mengikuti arus ataukah
yang melawan arus duniawi; yang tidak murni ataukah yang murni; yang yang masih
ternoda ataukah yang bebas dari noda; yang telah menaklukkan segala kondisi
jahat ataukah yang takluk pada kondisi jahat dan menjadi bagian dari kejahatan;
sang “pemenang kehidupan” ataukah “pecundang sejati” yang begitu pengecut untuk
menghadapi konsekuensi perbuatan-perbuatan buruknya sendiri baik yang kecil
maupun yang besar; yang pikirannya sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas
dari ketidak-sempurnaan, ataukah yang penuh keserakahan, nafsu, ketidak-puasan,
mabuk, tergila-gila, kesetanan, kecanduan; mencapai keadaan tanpa-gangguan yang
mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda, ataukah gila yang
mengarahkannya kepada delusi serta kekotoran-batin; yang mengetahui sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah penderitaan’, ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’, ‘Ini
adalah lenyapnya penderitaan’, ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’,
yang secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’,
‘Ini adalah asal-mula noda-noda’, ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’, maupun ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda’, ataukah sebaliknya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]