Simbiosis Mutualisme Allah dan Setan, Kolaborasi Misi Menjadikan Manusia “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA”
Mengapa Kita Tidak Berkata Dusta ketika Menyatakan, “Aku
Bersaksi, Tiada Tuhan yang Bernama Allah”?
Begitu Mudahnya Menyentil dan Menyetir Allah agar
Marah, Murka, Benci, Kesal, dan Emosional Negatif Lainnya yang dapat Membuat Allah
Kena Jantung Koroner dan Jatuh Stroke
Bila Tuhan dapat Diukur dengan Penggaris, artinya Tuhan
Lebih Pendek daripada Penggaris Pengukur tersebut. Bila Tuhan dapat Disetir dan
Dijengkal oleh Manusia Kerdil, artinya Tuhan lebih Kerdil daripada sang Manusia
Kerdil
Question: Rasanya kok aneh ya, bila memang Allah adalah Tuhan,
kok bisa-bisanya melaknat ciptaannya sendiri, mengutuk dan membenci ciptaannya
sendiri, bahkan memberikan musibah bagi ciptaannya sendiri? Memangnya yang ciptakan
manusia lengkap dengan watak dan karater atau “perangkat lunak software”-nya,
baik ataupun buruk kualitasnya, siapa? Bukankah itu ibarat pepatah “menepuk air
di dulang, terpercik (ke) muka sendiri” alias mempermalukan dirinya sendiri?
Katanya manusia diciptakan dari gambaran diri Tuhan sendiri.
Lagipula siapa juga yang membiarkan setan-setan menggodai
manusia, bukankah tidak ada sesuatu yang bisa terjadi tanpa seizin, kuasa,
rencana, maupun kehendak Allah? Apakah artinya, setan-penggoda, lebih berkuasa
daripada Tuhan? Bila manusia berbuat jahat dan itu diluar rencana ataupun
kehendak Allah, artinya “sesuatu bisa terjadi tanpa seizin maupun rencana Allah”.
Jika begitu, Allah tidak benar-benar “omnipotent” (Maha Kuasa), namun “impoten”
adanya. Terus, Allah mau “cuci tangan” dan “lempar batu sembunyi tangan” dengan
“menyalahkan bunda yang mengandung”?
Brief Answer: Konsep “Tuhan mencobai manusia” saja, sudah penuh
cacat logika dan tidak tahan uji moral. Umur umat manusia sudah setua usia Planet
Bumi ini, yakni ratusan hingga jutaan tahun, bukan baru tercipta enam ribu
tahun yang lampau seperti digambarkan dalam agama samawi dimana “Tuhan”-nya
membuat wakyu bahwa “Bumi adalah DATAR” (bukan bundar; karenanya ketika Anda menyembah
Kabah, bokong Anda disaat bersamaan juga menghadap kabah secara bila kita tarik
garis lintang maupun garis bujur) dan “Matahari bergerak mengelilingi Bumi”
(geosentris alih-alih heliosentris), manusia tercipta seperti wujud sekarang (bukan
hasil evolusi dari “homo erectus”, manusia kera), manusia diciptakan dari tanah
meski sebagian besar komposisi tubuh manusia ialah air dan udara serta ruang
kosong berukuran mikro, adanya sepasang manusia pertama (dimana anak dan
cucunya berkembang secara “inses”).
Konsep yang paling rancu, ialah konsep mengenai neraka. Tuhan disebutkan
menciptakan neraka, tentunya untuk dihuni dan diisi, bukan sekadar menjadi
pajangan, dimana disebutkan juga bahwa api neraka bersumber dari bakan bakar tubuh
manusia terbakar yang dilempar ke neraka sehingga sejak semula memang dirancang
agar ada manusia dilempar ke neraka (by design) agar api neraka tidak padam.
Artinya, Tuhan butuh manusia untuk dilempar ke neraka, butuh manusia untuk
membuat api neraka tetap menyala, dan tentunya neraka diciptakan bukan untuk disia-siakan.
Bila Tuhan masih butuh mencobai umat manusia, artinya Tuhan tidak benar-benar
mengenal dan memahami ciptaannya sendiri, alias tidak benar-benar “Maha Tahu”.
Mencobai “makhluk hasil ciptaan sendiri”, justru membuktikan bahwa bukanlah Tuhan
yang sejatinya menciptakan manusia. Dengan demikian, Tuhan lebih menyerupai “Profesor
LING-LUNG” mengingat usia umat manusia memang sudah setua Planet Bumi ini berdasarkan
fosil tulang-belulang dan artefak yang diukur usia karbon belulangnya.
Adapun perihal alam neraka, alam neraka sejatinya tidak lain merupakan “MONUMEN
KEGAGALAN TUHAN”, dimana semakin banyak manusia dicampakkan ke neraka, sama
artinya semakin besar “MONUMEN-MONUMEN KEGAGALAN TUHAN”, Tidak ada orangtua
yang mengatakan anaknya bodoh di ruang publik, karena itu sama artinya menampar
wajah orangtuanya sendiri sebagai tidak mampu mendidik dan mengasuh anak. Tidak
ada sekolah yang mengatakan aluminya yang diluluskan oleh sekolah tersebut
sebagai anak yang tidak kompeten, karena itu sama artinya mencoreng citra
sekolah itu sendiri sebagai telah gagal mendidik peserta didik yang telah mereka
luluskan.
PEMBAHASAN:
Perhatikan apa yang diakui oleh Allah dalam kitab
agama samawi berikut, dikutip dari Surah Maryam ayat 83 : “Tidakkah engkau
memperhatikan bahwa Kami telah mengutus setan-setan kepada orang-orang kafir untuk
benar-benar menggoda mereka (berbuat maksiat)?” Pertanyaannya, mengapa yang
kemudian mabuk dan kecanduan “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (ideologi
KORUP bagi “KORUPTOR DOSA”, dimana dosa-dosa pun dikorupsi), justru ialah kaum umat
agama samawi itu sendiri?
Untuk memuliakan Tuhan, ialah dengan cara menjadi manusia
yang mulia, bukan dengan menjelma “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”. Untuk mengharumkan nama
keluarga, maka dengan menjadi warga yang baik. Untuk membuat reputasi almamaternya
menjadi bersinar, ialah dengan menjadi warga yang patuh terhadap hukum. Untuk membuat
berjaya nama baik sekolahnya, ialah dengan berprestasi yang terpuji dan jujur.
Ketika kita berjumpa orang jahat dan diperlakukan
secara jahat, maka kita pun akan mengutuk sang penjahat sembari berkata : “SETAN
mana yang telah menciptakan ‘manusia setan’ tersebut?” Sebaliknya, ketika
kita berjumpa orang baik, kita akan memuji sang pencipta yang telah menciptakan
orang baik tersebut. Bila Anda ingin diberi persembahan oleh cucu Anda saat Anda
telah meninggal dunia, maka didiklah anak Anda (ibu atau ayah dari cucu Anda) dengan
baik, agar mereka memperlakukan cucu Anda dengan baik. Bila orangtua cucu Anda bersikap
jahat terhadap cucu Anda, maka cucu Anda akan membenci kakek dan nenek mereka, dengan
alasan “Bagaimana kakek-nenekku dulu mengasuh orangtuaku ini, jahat sekali
orangtuaku terhadapku?”.
Untuk apa juga, Tuhan mau disetir emosinya oleh
manusia ciptaannya sendiri? Mudah saja untuk membuat Tuhan naik pitam, terkena
stroke (serangan jantung) karena merasa marah, kesal, murka, benci, iri hati,
dengki, cemburu, serta “dijengkal / diukur” reaksinya. Konsep Tuhan dalam agama
samawi, merupakan personifikasi dari seorang manusia yang masih diliputi emosi
yang kasar, cenderung kekanak-kanakan, mudah disetir, pendek sumbu-nya, dapat
diukur dengan penggaris pendek perihal tabiatnya, gambang ditebak, bahkan juga
lebih menyerupai seorang “raja yang LALIM” yang akan senang ketika disembah dan
dipuja-puji, dimana akan murka serta memberi hukuman ketika pihak lain tidak menghamba
(tidak menggadaikan jiwa mereka) kepadanya.
Begitu kerdilnya konsep Tuhan yang digambarkan
oleh agama-agama samawi, sama kerdilnya dengan otak maupun nalar dan moralitas
umat agama samawi, bila kita bandingkan dengan khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID I”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
59 (9) Jāṇussoṇī
Brahmana Jāṇussoṇī mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada
Beliau:
“Guru Gotama, siapa pun yang melakukan pengorbanan, persembahan makanan
sebagai peringatan, suatu persembahan makanan, atau sesuatu yang akan diberikan
harus memberikan pemberian itu kepada para brahmana yang adalah pemilik tiga
pengetahuan.”
[Kitab Komentar : Yañña adalah “sesuatu untuk
diberikan” (deyyadhamma; walaupun ini telah tercakup oleh poin ke
empat); saddha (Sansekerta : śrāddha), “makanan untuk mengenang
yang mati” (matakabhattaṃ); thālipāka, “makanan untuk diberikan kepada
orang-orang baik” (varapurisānaṃ dātabbayuttaṃ bhattaṃ, tetapi menurut terjemahan lain sthālī, sthālīpāka secara lebih
spesifik adalah sepiring bubur barley atau nasi yang dimasak dengan susu yang
dipersembahkan sebagai suatu persembahan); dan deyyadhamma, “apa pun
lainnya yang dapat diberikan.”]
[Sang Bhagavā berkata:] “Tetapi bagaimanakah, brahmana, para brahmana
menggambarkan seorang brahmana yang adalah pemilik tiga pengetahuan?”
“Di sini, Guru Gotama, seorang brahmana terlahir baik pada kedua pihak
ibunya dan ayahnya … [seperti dalam 3:58] … dan [mahir] dalam tanda-tanda
manusia luar biasa. Adalah dalam cara ini para brahmana itu menggambarkan
seorang brahmana yang adalah seorang pemilik tiga pengetahuan.”
“Brahmana, seorang pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia
sangat berbeda dengan seorang brahmana yang adalah seorang pemilik tiga
pengetahuan seperti yang digambarkan oleh para brahmana.”
“Tetapi dalam cara bagaimanakah, Guru Gotama, seorang pemilik tiga
pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia? Baik sekali jika Guru Gotama sudi
mengajarkan Dhamma kepadaku yang menjelaskan bagaimana seseorang adalah seorang
pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.”
“Baiklah, Brahmana, dengarkan dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”
“Baik, Tuan,” Brahmana Jāṇussoṇī menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut: “Di sini,
Brahmana, dengan terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna
pertama, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang
disertai oleh pemikiran dan pemeriksaan. Dengan meredanya pemikiran dan
pemeriksaan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki ketenangan
internal dan keterpusatan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi, tanpa pemikiran dan pemeriksaan. Dengan
memudarnya sukacita, ia berdiam seimbang dan, penuh perhatian dan memahami
dengan jernih, ia mengalami kenikmatan pada jasmani; ia masuk dan berdiam dalam
jhāna ke tiga yang dinyatakan oleh para mulia: ‘Ia seimbang, penuh
perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan meninggalkan
kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya atas kegembiraan dan
kesedihan, [164] ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan
menyakitkan juga bukan menyenangkan, dengan pemurnian perhatian melalui
keseimbangan.
(1) “Ketika pikirannya terkonsentrasi
demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur,
kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan
mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu,
satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran,
sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh
kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus
ribu kelahiran, banyak kappa penghancuran dunia, banyak kappa pengembangan
dunia, banyak kappa penghancuran dunia dan pengembangan dunia, sebagai
berikut: ‘Di sana aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan begini,
makananku seperti ini, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku seperti ini, umur
kehidupanku selama ini; meninggal dunia dari sana, aku terlahir kembali di
tempat lain, dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan
begitu, makananku seperti itu, pengalaman kenikmatan dan kesakitanku seperti
itu, umur kehidupanku selama itu; meninggal dunia dari sana, aku terlahir
kembali di sini.’ Demikianlah ia mengingat banyak kehidupan lampaunya
dengan aspek-aspek dan rinciannya.
“Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai
olehnya. Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan
disingkirkan, cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam
dengan penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
(2) “Ketika pikirannya terkonsentrasi
demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur,
kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan
kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata dewa, yang
murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan
terlahir kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan
ia memahami bagaimana makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka
sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini
yang terlibat dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang
mencela para mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan kamma yang
berdasarkan pada pandangan salah, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian,
telah terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam
rendah, di neraka; tetapi makhluk-makhluk ini yang terlibat dalam perbuatan
baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, yang tidak mencela para mulia, yang
menganut pandangan [165] benar, dan melakukan kamma yang berdasarkan pada
pandangan benar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, telah terlahir
kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga.’ Demikianlah dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia
melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan terlahir kembali, hina dan mulia,
cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana
makhluk-makhluk mengembara sesuai kamma mereka.
“Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai
olehnya. Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan
disingkirkan, cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam
dengan penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
(3) “Ketika pikirannya terkonsentrasi
demikian, murni, bersih, tanpa noda, bebas dari kekotoran, lunak, lentur,
kokoh, dan mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan
hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan.’ Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini
adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
“Ketika ia mengetahui dan melihat demikian,
pikirannya terbebaskan dari noda indriawi, dari noda penjelmaan, dan dari noda
ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia
memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa
yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi
makhluk apa pun.’
“Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehnya.
Ketidak-tahuan disingkirkan, pengetahuan sejati muncul; kegelapan disingkirkan,
cahaya muncul, seperti yang terjadi ketika seseorang berdiam dengan penuh
kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh.
“Seseorang yang sempurna dalam moralitas dan pelaksanaan,
yang bersungguh-sungguh dan tenang,
yang pikirannya telah dikuasai,
terpusat dan terkonsentrasi baik;
“Seorang
yang mengetahui kehidupan-kehidupan lampaunya,
yang
melihat alam surga dan alam sengsara,
dan
telah mencapai hancurnya kelahiran
adalah
seorang bijaksana yang sempurna dalam
pengetahuan
langsung. [168]
“Melalui ketiga jenis pengetahuan ini
seseorang menjadi seorang brahmana dengan tiga pengetahuan.
Aku menyebutnya seorang pemilik tiga pengetahuan,
bukan
orang lain yang mengucapkan mantra-mantra.
“Dengan cara inilah, Brahmana, bahwa seseorang adalah pemilik tiga
pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.”
“Guru Gotama, seorang pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia
sangat berbeda dengan seorang pemilik tiga pengetahuan menurut para brahmana.
Dan seorang pemilik tiga pengetahuan menurut para brahmana tidak bernilai
seperenambelas bagian dari pemilik tiga pengetahuan dalam disiplin Yang Mulia.
“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah
menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang
tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang
berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada
Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat
awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”
~0~
159 (9)
“Para bhikkhu, ada dua jenis pertumbuhan ini. Apakah dua ini? Pertumbuhan
dalam hal benda-benda materi dan pertumbuhan dalam hal Dhamma. Ini adalah kedua
jenis pertumbuhan itu. Di antara kedua jenis pertumbuhan ini, pertumbuhan dalam
hal Dhamma adalah yang terunggul.”
160 (10)
“Para bhikkhu, ada dua jenis permata ini. Apakah dua ini? Permata materi
dan permata Dhamma. Ini adalah kedua jenis permata itu. Di antara kedua jenis
permata ini, permata Dhamma adalah yang terunggul.”
161 (11)
“Para bhikkhu, ada dua jenis pengumpulan. Apakah dua ini? Pengumpulan
benda-benda materi dan pengumpulan Dhamma. Ini adalah kedua jenis pengumpulan
itu. Di antara kedua jenis pengumpulan ini, pengumpulan Dhamma adalah yang
terunggul.”
162 (12)
“Para bhikkhu, ada dua jenis perluasan ini. Apakah dua ini? Perluasan
dalam hal benda-benda materi dan perluasan dalam hal Dhamma. Ini adalah kedua
jenis perluasan itu. Di antara kedua jenis perluasan ini, perluasan dalam hal
Dhamma adalah yang terunggul.”
~0~
XV. Pencapaian Meditatif
164 (2) – 179 (17)
“Para bhikkhu, ada dua kualitas ini. Apakah dua ini? (164) Perilaku
sesuai moralitas dan kelembutan … (165) Kesabaran dan kehalusan … (166)
Kehalusan dalam berbicara dan keramahan … (167) Ketidak-membahayakan dan
kemurnian … (168) Tidak menjaga pintu-pintu indria dan makan berlebihan … (169)
Menjaga pintu-pintu indria dan makan secukupnya … (170) Kekuatan refleksi dan
kekuatan pengembangan … (171) Kekuatan perhatian dan kekuatan konsentrasi …
[95] … (172) Ketenangan dan pandangan terang … (173) Kegagalan dalam perilaku
bermoral dan kegagalan dalam pandangan … (174) Keberhasilan dalam perilaku
bermoral dan keberhasilan dalam pandangan … (175) Kemurnian perilaku bermoral
dan kemurnian pandangan … (176) Kemurnian pandangan dan usaha sesuai dengan
pandangannya … (177) Ketidak-puasan sehubungan dengan kualitas-kualitas
bermanfaat dan tidak mengenal lelah dalam berusaha … (178) Pikiran yang kacau
dan kurangnya pemahaman jernih … (179) Perhatian dan pemahaman jernih. Ini
adalah kedua kualitas itu.”
~0~
29 (9) Buta
“Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah
tiga ini? Orang buta, orang bermata satu, dan orang bermata dua.
(1) “Dan apakah, para bhikkhu, orang buta? Di sini, seseorang tidak
memiliki jenis mata [129] yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang
belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga tidak
memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang
bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela,
kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan
padanannya. Ini disebut orang
buta.
(2) “Dan apakah orang bermata satu? Di sini, seseorang memiliki jenis
mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau
meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, tetapi ia tidak memiliki jenis
mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan
tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas
hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini
disebut orang
bermata satu.
(3) “Dan apakah orang bermata dua? Di sini, seseorang memiliki jenis mata
yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau
meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga memiliki jenis mata
yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan
tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas
hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini
disebut orang
bermata dua.
“Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis orang itu yang terdapat di
dunia.”
Ia tidak memiliki kekayaan,
juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa;
si orang buta tanpa mata
melemparkan lemparan tidak beruntung pada kedua sisi.
orang yang digambarkan sebagai bermata satu.
adalah seorang munafik yang mencari kekayaan,
[kadang-kadang] dengan cara yang baik
[dan kadang-kadang] dengan cara yang tidak baik.
Dengan tindakan-tindakan mencuri dan menipu
dan dengan ucapan-ucapan dusta
orang itu yang menikmati kenikmatan indria
mahir dalam menimbun kekayaan.
setelah pergi dari sini menuju neraka,
orang bermata satu itu disiksa.
Seorang bermata dua dikatakan sebagai
orang dari jenis terbaik.
Kekayaannya diperoleh melalui usahanya sendiri,
dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. [130]
Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi
orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi
Ia pergi menuju [kelahiran kembali di] alam yang baik
di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.
Seseorang
dari jauh harus menghindari
si
orang buta dan orang bermata satu,
tetapi
harus berteman dengan orang bermata dua,
orang
dari jenis terbaik.
Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi
KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru
diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka.
Terbukti,
Allah tidak marah ketika para muslim kerbubang dalam lautan dosa dan maksiat,
justru senang ketika “bokongnya dijilat” karena “umpan dosa dan maksiat” yang
dilemparkan oleh Tuhan lewat “setan utusan Allah” dimakan oleh para muslim. Karenanya,
Allah butuh dosa dan maksiat (serta setan yang dipelihara Allah khusus untuk
itu, spesialis penggoda), agar manusia terjerumus dan terperangkap menjadi “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah
wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam
sehari, maka dosanya akan dihapus,
meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan
merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum
lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling
rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang
memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN
lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat
agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur,
unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta
“KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan (justru) membuang-buang
waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih
menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan
ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip
dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]