Pandai dan Gemar Mengomentari dan Meng-kritik maupun
Mencela Orang Lain, Belum Tentu dan Bukan Jaminan yang Bersangkutan Lebih Baik
Perialkunya
Lebih Baik Terampil dan Terlatih dalam Kewaspadaan (Mawas-Diri) daripada Sibuk Mengomentari dan Mencela Pihak Lain
Dalam usia yang telah hampir mencapai separuh abad lamanya lahir dan tumbuh besar di Indonesia, kerapkali penulis jumpai fenomena sosial dimana anggota masyarakat kita begitu pandai dan gemar mengomentari, menggurui, mencerca, menghardik, meng-kritik, mencela, menghakimi, serta meng-kritisi pihak lain, akan tetapi telah ternyata diri yang bersangkutan senantiasa memelihara “standar ganda”, yakni : orang lain tidak boleh demikian, namun dirinya sendiri boleh demikian. Alhasil, penulis cenderung untuk tidak menanggapi apapun orang-orang yang bersikap kritis terhadap orang lain—karena belum tentu yang bersangkutan berbeda sikap dan sifatnya dari orang lain yang ia cela, kritik, serta hakimi.
Jangan pernah memberi penilaian kepada seseorang,
semata karena ucapannya yang seolah kritis terhadap cacat-cela pihak lain.
Nilai seseorang berdasarkan perbuatan konkret-nya dalam keseharian. Orang-orang
yang pandai mengomentari dan mencela secara kritis pihak lain, belum tentu dan
bukan jaminan yang bersangkutan lebih baik daripada pihak-pihak yang mereka
kritisi dan cela. Singkatnya, kegemaran mengomentari dan meng-kritisi pihak
lain, bukan jaminan bahwa yang bersangkutan lebih mulia dan lebih benar
perilakunya.
Sewaktu masih berusia sangat muda, pola-pikir penulis
cukup naif, karena menilai seseorang dari apa yang mereka ucapakan, dari apa
yang mereka kritisi, dari apa yang mereka cela dari orang lain, dari apa yang
mereka komentari tentang orang lain (bukan tentang perilakunya sendiri).
Faktanya, semua orang sanggup dan mampu mengomentari, menggurui, mencela,
meng-kritik, serta menghakimi orang lain—seolah-olah dirinya sendiri tidak
memiliki nilai-nilai negatif sebagaimana yang mereka cela—namun tidak semua
orang mau ataupun punya kebiasaan untuk bercermin diri dengan mendidik serta
mengawasi perilakunya sendiri (mawas-diri maupun kendali-diri).
Sama halnya, orang-orang yang banyak bicara,
bukan berarti orang yang pandai bekerja. Orang-orang banyak kawan, bukan
berarti orang tersebut bukanlah koruptor. Orang-orang yang menghina penipu,
bukan berarti dirinya sendiri adalah orang jujur. Orang dungu, berpikir bahwa dengan meng-kritik maupun
mencela pihak lain, membuat derajatnya terangkat ataupun harkatnya termuliakan.
Seseorang tidak akan menjadi lebih suci, lebih baik, lebih luhur, maupun lebih
mulia dengan menghakimi maupun mencela pihak lain, namun gagal untuk mencermati
dan mengawasi perilakunya sendiri. Sifat demikian, merupakan sifat yang
kekanak-kanakan seumpama seorang anak-anak yang “maunya menang sendiri”.
Bukankah ironis, seseorang mencermati perilaku
orang lain secara kritis serta menghakiminya dengan berbagai komentar negatif maupun
celaan, namun disaat bersamaan tidak memiliki kewaspadaan apapun terhadap
perbuatannya sendiri, sebagaimana disinggung lewat khotbah Sang Buddha
dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta
Press, dengan kutipan sebagai berikut:
15 (5) Kewaspadaan
(1) “Para bhikkhu, makhluk-makhluk apa pun juga,
apakah tanpa kaki atau berkaki dua, berkaki empat, atau berkaki banyak, apakah berbentuk
atau tanpa bentuk, apakah memiliki persepsi atau tanpa persepsi, atau bukan
tanpa persepsi juga bukan bukan-tanpa-persepsi, Sang Tathāgata, Sang
Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna dinyatakan sebagai yang terunggul.
Demikian pula, semua kualitas bermanfaat berakar pada kewaspadaan dan
bertemu pada kewaspadaan dan kewaspadaan dinyatakan sebagai yang terunggul di
antaranya.
(2) “Seperti halnya jejak-jejak kaki semua binatang
yang berkeliaran di atas tanah dapat masuk ke dalam jejak kaki gajah, dan jejak
kaki gajah dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, yaitu, dalam hal
ukuran, demikian pula, semua kualitas bermanfaat berakar pada kewaspadaan dan
bertemu pada kewaspadaan dan kewaspadaan dinyatakan sebagai yang terunggul di
antaranya.
(3) “Seperti halnya semua kasau dari sebuah rumah
beratap lancip condong ke arah puncak atap, miring ke arah puncak atap, bertemu
di puncak atap, dan puncak atap dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya,
demikian pula, semua kualitas bermanfaat berakar pada kewaspadaan dan bertemu
pada kewaspadaan dan kewaspadaan dinyatakan sebagai yang terunggul di
antaranya. [22]
(4) “Seperti halnya, di antara semua akar harum,
orris hitam dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, demikian pula …
(5) “Seperti halnya, di antara semua inti kayu
harum, kayu cendana merah dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, demikian
pula …
(6) “Seperti halnya, di antara semua bunga harum,
bunga melati dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, demikian pula …
(7) “Seperti halnya semua pangeran kecil adalah
bawahan dari seorang raja pemutar-roda, dan raja pemutar-roda dinyatakan sebagai
yang terunggul di antaranya, demikian pula …
(8) “Seperti halnya cahaya semua bintang tidak
sebanding dengan seper enam belas dari cahaya rembulan, dan cahaya rembulan
dinyatakan sebagai yang terunggul di antaranya, demikian pula …
(9) “Seperti halnya, di musim gugur, ketika langit
cerah dan tanpa awan, matahari, naik ke langit, menghalau segala kegelapan dari
angkasa sewaktu bersinar dan menyorot dan memancarkan cahayanya, demikian pula
…
(10) “Seperti halnya, sungai besar mana pun juga –
yaitu, Gangga, Yamunā, Aciravatī, Sarabhū, dan Mahī – semuanya mengarah menuju
samudra, melandai, miring, dan condong ke arah samudra, dan samudra dinyatakan
sebagai yang terunggul di antaranya, demikian pula, semua kualitas bermanfaat
berakar pada kewaspadaan dan bertemu pada kewaspadaan dan kewaspadaan dinyatakan
sebagai yang terunggul di antaranya.” [23]