Arogansi Religius PENDOSA Pemeluk Agama DOSA, Delusi Superioritas Semu Orang Dungu

Siapa yang Mau jadi Korban dari PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA?

Siapa yang Mau Punya Tuhan yang lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA?

Question: Ketika yesus menyatakan bahwa kedua penjahat yang turut disalib bersamanya, masuk surga setelah mati di kayu salib, tidak ada tercantum dalam teks-teks nasrani bahwa yesus bertanya terlebih dahulu kepada seluruh korban dari kedua penjahat yang turut disalib bersama dengan yesus, semisal apakah korban-korbannya telah memafkan sang penjahat, apakah sang penjahat telah bertobat dan menyesali perbuatannya, apakah sang penjahat telah berupaya mengobati dan memulihkan kerugian maupun luka korban-korbannya, apakah korban-korbannya sudah sembuh, dan sebagainya.

Bahkan, yesus tidak menyatakan bahwa para korban dimasukkan ke surga sehingga kembali dipertemukan dengan para penjahat yang telah menjahati mereka, untuk kemudian kembali dijahati untuk kali-keduanya. Atas dasar apakah, yesus merampas keadilan dan penghukuman yang merupakan hak dari kalangan korban? Mengapa yang ditolong oleh yesus, bukan orang-orang baik dan kalangan korban, justru menolong kalangan penjahat? Delusi apakah yang dipertontonkan oleh yesus, yang bahkan tidak mampu dan gagal menyelamatkan dirinya sendiri sehingga disalib di atas kayu salib dengan sangat hina, dicatat dalam sejarah hanya dengan mengenakan celana dalam?

Brief Answer: Agama nasrani-abrahamik seperti nasrani dan islam, merajai dunia ini berkat iming-iming KORUP “too good to be true” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, bagi “KORUPTOR DOSA” yang bahkan dosa-dosa pun dikorupsi. Berbuat suatu kejahatan, adalah satu kejahatan, dan mengorupsi dosa-dosa adalah kejahatan baru lainnya yang derajatnya lebih adiktif dan “toxic”. Jelas dan nyata bahwa Allah dalam perspektif agama samawi, digambarkan lebih PRO terhadap penjahat (pendosa) dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut alih-alih lebih berpihak kepada kalangan korban.

Itulah juga sebabnya, adalah percuma melapor atau mengadu kepada Allah, karena Allah akan memasukkan ke surga para “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA demikian”—surga mana menyerupai “dunia manusia jilid kedua”, dimana sang penjahat akan kembali menyakiti, melukai, dan merugikan penghuni alam surga tanpa sikap bertanggung-jawab. Namun, seperti yang kerap penulis paparkan, “ciri-ciri watak dan perilaku seseorang menentukan nasib hidupnya”. Biarkan saja orang-orang dungu dengan fantasi dungunya tersebut, membawa mereka kepada nasib yang patut untuk orang-orang dungu demikian.

PEMBAHASAN:

Bagaimana mungkin, trauma psikis maupun luka fisik yang diderita korbannya belum juga mengering, namun pelakunya sudah dimasukkan ke surga? Itulah delusi orang-orang dungu, mereka bahkan termotivasi untuk tetap menjadi penjahat yang melakukan kejahatan, alih-alih meninggalkan kejahatan, dan disaat bersamaan terdemotivasi untuk menjadi orang baik yang bergaya hidup higienis dari perbuatan buruk ataupun menjadi orang yang berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan mereka sendiri.

Berani berbuat, maka harus berani bertanggung-jawab, barulah disebut orang berjiwa ksatria sekalipun masih dapat berbuat keliru terhadap orang lain, namun korban mereka tidak sampai harus mengemis-ngemis pertanggung-jawaban kepada sang pelaku maupun kepada Tuhan. Orang yang bertanggung-jawab, senantiasa berhati-hati dengan perbuatannya, sebagaimana diurai oleh khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

57 (7) Tema

“Para bhikkhu, ada lima tema ini yang harus sering kali direnungkan oleh seorang perempuan atau laki-laki, oleh seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian. Apakah lima ini?

(1) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua.’

(2) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada penyakit; aku tidak terbebas dari penyakit.’

(3) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada kematian; aku tidak terbebas dari kematian.’

(4) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan [72] sebagai berikut: ‘Aku pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang kusukai dan kusayangi.’

[Kitab Komentar : Sabbehi me piyehi manāpehi, diterjemahkan “siapa pun dan apa pun” untuk mencakup orang maupun kepemilikan. Pāli menyiratkan keduanya, tetapi dalam Bahasa Inggris kita memerlukan dua kata untuk menjangkau kedua objek.]

(5) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku adalah pemilik kammaku, pewaris kammaku; aku memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindungku; aku akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang kulakukan.’

(1) “Demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua’? Pada masa muda mereka, makhluk-makhluk dimabukkan oleh kemudaan mereka, dan ketika mereka dimabukkan oleh kemudaan mereka maka mereka melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kemudaan akan sepenuhnya ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua.’

(2) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada penyakit; aku tidak terbebas dari penyakit’? Dalam keadaan sehat makhluk-makhluk dimabukkan oleh kesehatan mereka, dan ketika mereka dimabukkan oleh kesehatan mereka maka mereka melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kesehatan akan sepenuhnya ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada penyakit; aku tidak terbebas dari penyakit.’

(3) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada kematian; aku tidak terbebas dari kematian’? Selama masa kehidupan mereka makhluk-makhluk dimabukkan oleh kehidupan mereka, dan ketika mereka dimabukkan oleh kehidupan mereka maka mereka melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, [73] dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kehidupan akan sepenuhnya ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada kematian; aku tidak terbebas dari kematian.’

(4) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang kusukai dan kusayangi’? Makhluk-makhluk memiliki keinginan dan nafsu sehubungan dengan orang-orang dan benda-benda yang mereka sukai dan sayangi, dan dengan digerakkan oleh nafsu ini maka mereka melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka keinginan dan nafsu sehubungan dengan siapa pun dan apa pun yang disukai dan disayangi akan sepenuhnya ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang kusukai dan kusayangi.’

(5) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku adalah pemilik kammaku, pewaris kammaku; aku memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindungku; aku akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang kulakukan’? Orang-orang melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka perbuatan salah demikian akan sepenuhnya ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku adalah pemilik kammaku, pewaris kammaku; aku memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindungku; aku akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang kulakukan.’

(1) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: [74] ‘Aku bukanlah satu-satunya yang tunduk pada usia tua, tidak terbebas dari usia tua. Semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, tunduk pada usia tua; tidak ada yang terbebas dari usia tua.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini, sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut.

{Kitab Komentar : Sang jalan muncul (maggo sañjāyati): jalan melampaui keduniawian dihasilkan. Belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan (sayojanāni sabbaso pahīyanti): sepuluh belenggu sepenuhnya ditinggalkan (baca 10:13). Kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut (anusayā byantīhonti): ketujuh kecenderungan tersembunyi dilenyapkan, dipotong, dihentikan (baca 7:11). Demikianlah kelima bagian di atas membahas tentang pandangan terang; dalam kelima bagian ini dibahas tentang jalan melampaui keduniawian.]

(2) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya yang tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit. Semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, tunduk pada penyakit; tidak ada yang terbebas dari penyakit.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini, sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut.

(3) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya yang tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian. Semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, tunduk pada kematian; tidak ada yang terbebas dari kematian.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini, sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut.

(4) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya yang pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang disukai dan disayangi. Semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang disukai dan disayangi.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini, sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut.

(5) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya yang menjadi pemilik kamma sendiri, pewaris kamma sendiri; yang memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindung; yang akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang dilakukan. Semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, adalah pemilik kamma mereka sendiri, pewaris kamma mereka sendiri; yang memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindung; yang akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang mereka lakukan.’ [75] Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini, sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut.

“Kaum duniawi tunduk pada penyakit,

[Kitab Komentar : Tampak sebagai celaan pada diri sendiri yang diucapkan oleh Sang Bodhisatta sebelum pencerahannya dan dengan demikian cocok dengan baik di sini. Baris di bawahnya – “sewaktu aku berdiam demikian” (mama evavihārino) – menyiratkan bahwa ini adalah Sang Bodhisatta yang berbicara tentang perjuangannya untuk mencapai pencerahan.]

usia tua, dan kematian adalah menjijikkan

[bagi orang-orang lain] yang ada

sesuai dengan sifatnya

“Jika aku menjadi jijik

pada makhluk-makhluk yang memiliki sifat demikian,

maka itu tidaklah selayaknya bagiku

karena aku juga memiliki sifat yang sama.

“Sewaktu aku berdiam demikian,

setelah mengetahui kondisi tanpa perolehan,

Aku mengatasi segala kemabukan –

kemabukan pada kesehatan,

pada kemudaan, dan pada kehidupan –

setelah melihat keamanan dalam pelepasan keduniawian.

Kemudian semangat muncul dalam diriku

ketika aku dengan jelas melihat nibbāna.

Sekarang aku tidak mampu lagi

menikmati kenikmatan-kenikmatan indria.

Dengan mengandalkan kehidupan spiritual,

aku tidak akan pernah berbalik lagi.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]