Siapa yang Mau jadi Korban dari PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA?
Siapa yang Mau Punya Tuhan yang lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU
PENGAMPUNAN DOSA?
Question: Ketika yesus menyatakan bahwa kedua penjahat yang
turut disalib bersamanya, masuk surga setelah mati di kayu salib, tidak ada
tercantum dalam teks-teks nasrani bahwa yesus bertanya terlebih dahulu kepada seluruh
korban dari kedua penjahat yang turut disalib bersama dengan yesus, semisal
apakah korban-korbannya telah memafkan sang penjahat, apakah sang penjahat
telah bertobat dan menyesali perbuatannya, apakah sang penjahat telah berupaya
mengobati dan memulihkan kerugian maupun luka korban-korbannya, apakah korban-korbannya
sudah sembuh, dan sebagainya.
Bahkan, yesus tidak menyatakan bahwa para korban dimasukkan ke surga sehingga kembali dipertemukan dengan para penjahat yang telah menjahati mereka, untuk kemudian kembali dijahati untuk kali-keduanya. Atas dasar apakah, yesus merampas keadilan dan penghukuman yang merupakan hak dari kalangan korban? Mengapa yang ditolong oleh yesus, bukan orang-orang baik dan kalangan korban, justru menolong kalangan penjahat? Delusi apakah yang dipertontonkan oleh yesus, yang bahkan tidak mampu dan gagal menyelamatkan dirinya sendiri sehingga disalib di atas kayu salib dengan sangat hina, dicatat dalam sejarah hanya dengan mengenakan celana dalam?
Brief
Answer: Agama nasrani-abrahamik
seperti nasrani dan islam, merajai dunia ini berkat iming-iming KORUP “too good
to be true” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, bagi “KORUPTOR
DOSA” yang bahkan dosa-dosa pun dikorupsi. Berbuat suatu kejahatan, adalah satu
kejahatan, dan mengorupsi dosa-dosa adalah kejahatan baru lainnya yang
derajatnya lebih adiktif dan “toxic”. Jelas dan nyata bahwa Allah dalam
perspektif agama samawi, digambarkan lebih PRO terhadap penjahat (pendosa)
dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut alih-alih lebih berpihak
kepada kalangan korban.
Itulah juga
sebabnya, adalah percuma melapor atau mengadu kepada Allah, karena Allah akan
memasukkan ke surga para “PENDOSA PECANDU PENGAMPUNAN DOSA demikian”—surga mana
menyerupai “dunia manusia jilid kedua”, dimana sang penjahat akan kembali
menyakiti, melukai, dan merugikan penghuni alam surga tanpa sikap
bertanggung-jawab. Namun, seperti yang kerap penulis paparkan, “ciri-ciri watak
dan perilaku seseorang menentukan nasib hidupnya”. Biarkan saja orang-orang dungu
dengan fantasi dungunya tersebut, membawa mereka kepada nasib yang patut untuk orang-orang
dungu demikian.
PEMBAHASAN:
Bagaimana mungkin, trauma psikis maupun luka fisik yang diderita korbannya
belum juga mengering, namun pelakunya sudah dimasukkan ke surga? Itulah delusi orang-orang
dungu, mereka bahkan termotivasi untuk tetap menjadi penjahat yang melakukan
kejahatan, alih-alih meninggalkan kejahatan, dan disaat bersamaan terdemotivasi
untuk menjadi orang baik yang bergaya hidup higienis dari perbuatan buruk
ataupun menjadi orang yang berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan
mereka sendiri.
Berani berbuat, maka harus berani bertanggung-jawab, barulah disebut
orang berjiwa ksatria sekalipun masih dapat berbuat keliru terhadap orang lain,
namun korban mereka tidak sampai harus mengemis-ngemis pertanggung-jawaban
kepada sang pelaku maupun kepada Tuhan. Orang yang bertanggung-jawab,
senantiasa berhati-hati dengan perbuatannya, sebagaimana diurai oleh khotbah Sang
Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:
57 (7) Tema
“Para bhikkhu, ada lima tema ini yang harus sering kali direnungkan oleh
seorang perempuan atau laki-laki, oleh seorang perumah tangga atau seorang yang
meninggalkan keduniawian. Apakah lima ini?
(1) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang
yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut:
‘Aku tunduk pada
usia tua; aku tidak terbebas dari usia tua.’
(2) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang
yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut:
‘Aku tunduk pada
penyakit; aku tidak terbebas dari penyakit.’
(3) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang
yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut:
‘Aku tunduk pada
kematian; aku tidak terbebas dari kematian.’
(4) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang
yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan [72] sebagai
berikut: ‘Aku
pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang kusukai dan
kusayangi.’
[Kitab Komentar : Sabbehi me piyehi manāpehi,
diterjemahkan “siapa pun dan apa pun” untuk mencakup orang maupun kepemilikan.
Pāli menyiratkan keduanya, tetapi dalam Bahasa Inggris kita memerlukan dua kata
untuk menjangkau kedua objek.]
(5) Seorang perempuan atau laki-laki, seorang perumah tangga atau seorang
yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan sebagai berikut:
‘Aku adalah
pemilik kammaku, pewaris kammaku; aku memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma
sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindungku; aku akan menjadi pewaris
kamma apa pun, baik atau buruk, yang kulakukan.’
(1) “Demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang
perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali
merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas
dari usia tua’? Pada
masa muda mereka, makhluk-makhluk dimabukkan oleh kemudaan mereka, dan ketika
mereka dimabukkan oleh kemudaan mereka maka mereka melakukan perbuatan salah
melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali
merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kemudaan akan sepenuhnya
ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang
perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali
merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada usia tua; aku tidak terbebas
dari usia tua.’
(2) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki,
seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering
kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada penyakit; aku tidak
terbebas dari penyakit’? Dalam
keadaan sehat makhluk-makhluk dimabukkan oleh kesehatan mereka, dan ketika
mereka dimabukkan oleh kesehatan mereka maka mereka melakukan perbuatan salah
melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering kali
merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kesehatan akan sepenuhnya
ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang
perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali
merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada penyakit; aku tidak terbebas
dari penyakit.’
(3) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki,
seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering
kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada kematian; aku tidak
terbebas dari kematian’? Selama
masa kehidupan mereka makhluk-makhluk dimabukkan oleh kehidupan mereka, dan
ketika mereka dimabukkan oleh kehidupan mereka maka mereka melakukan perbuatan
salah melalui jasmani, ucapan, [73] dan pikiran. Tetapi ketika mereka sering
kali merefleksikan tema ini, maka kemabukan pada kehidupan akan sepenuhnya
ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang
perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan
sebagai berikut: ‘Aku tunduk pada kematian; aku tidak terbebas dari kematian.’
(4) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki,
seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering
kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku pasti berpisah dan terpisah dari siapa
pun dan apa pun yang kusukai dan kusayangi’? Makhluk-makhluk
memiliki keinginan dan nafsu sehubungan dengan orang-orang dan benda-benda yang
mereka sukai dan sayangi, dan dengan digerakkan oleh nafsu ini maka mereka
melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika
mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka keinginan dan nafsu sehubungan
dengan siapa pun dan apa pun yang disukai dan disayangi akan sepenuhnya
ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang
perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali
merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun
dan apa pun yang kusukai dan kusayangi.’
(5) “Dan demi manfaat apakah maka seorang perempuan atau laki-laki,
seorang perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering
kali merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku adalah pemilik kammaku, pewaris
kammaku; aku memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara,
kamma sebagai pelindungku; aku akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk,
yang kulakukan’? Orang-orang
melakukan perbuatan salah melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Tetapi ketika
mereka sering kali merefleksikan tema ini, maka perbuatan salah demikian akan sepenuhnya
ditinggalkan atau berkurang. Adalah demi manfaat ini maka seorang perempuan atau laki-laki, seorang
perumah tangga atau seorang yang meninggalkan keduniawian, harus sering kali merefleksikan
sebagai berikut: ‘Aku adalah pemilik kammaku, pewaris kammaku; aku memiliki
kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai
pelindungku; aku akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang kulakukan.’
(1) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: [74] ‘Aku bukanlah
satu-satunya yang tunduk pada usia tua, tidak terbebas dari usia tua. Semua
makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran
kembali, tunduk pada usia tua; tidak ada yang terbebas dari usia tua.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini,
sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya.
Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan
tersembunyi tercabut.
{Kitab Komentar : Sang jalan muncul (maggo
sañjāyati): jalan
melampaui keduniawian dihasilkan.
Belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan (saṃyojanāni sabbaso pahīyanti): sepuluh belenggu sepenuhnya ditinggalkan (baca 10:13).
Kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut (anusayā byantīhonti):
ketujuh kecenderungan tersembunyi dilenyapkan, dipotong, dihentikan (baca
7:11). Demikianlah kelima bagian di atas membahas tentang pandangan terang;
dalam kelima bagian ini dibahas tentang jalan melampaui keduniawian.]
(2) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya
yang tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit. Semua makhluk yang
datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, tunduk
pada penyakit; tidak ada yang terbebas dari penyakit.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini,
sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya.
Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan
tersembunyi tercabut.
(3) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya
yang tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian. Semua makhluk yang
datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, tunduk
pada kematian; tidak ada yang terbebas dari kematian.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini,
sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya.
Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan
tersembunyi tercabut.
(4) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya
yang pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa pun yang disukai dan
disayangi. Semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan
mengalami kelahiran kembali, pasti berpisah dan terpisah dari siapa pun dan apa
pun yang disukai dan disayangi.’ Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema ini, sang jalan muncul. Ia
mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal
itu, belenggu-belenggu sepenuhnya ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi
tercabut.
(5) “Siswa mulia ini merefleksikan sebagai berikut: ‘Aku bukanlah satu-satunya
yang menjadi pemilik kamma sendiri, pewaris kamma sendiri; yang memiliki kamma
sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindung; yang
akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang dilakukan. Semua makhluk
yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali,
adalah pemilik kamma mereka sendiri, pewaris kamma mereka sendiri; yang
memiliki kamma sebagai asal-mula, kamma sebagai sanak saudara, kamma sebagai pelindung;
yang akan menjadi pewaris kamma apa pun, baik atau buruk, yang mereka lakukan.’ [75] Sewaktu ia sering kali merefleksikan tema
ini, sang jalan muncul. Ia mengejar jalan itu, mengembangkannya, dan
melatihnya. Sewaktu ia melakukan hal itu, belenggu-belenggu sepenuhnya
ditinggalkan dan kecenderungan-kecenderungan tersembunyi tercabut.
“Kaum duniawi tunduk pada penyakit,
[Kitab Komentar : Tampak sebagai celaan pada diri sendiri
yang diucapkan oleh Sang Bodhisatta sebelum pencerahannya dan dengan demikian
cocok dengan baik di sini. Baris di bawahnya – “sewaktu aku berdiam demikian” (mama
evaṃ vihārino) –
menyiratkan bahwa ini adalah Sang Bodhisatta yang berbicara tentang
perjuangannya untuk mencapai pencerahan.]
usia tua, dan kematian adalah menjijikkan
[bagi orang-orang lain] yang ada
sesuai dengan sifatnya
“Jika aku menjadi jijik
pada makhluk-makhluk yang memiliki sifat demikian,
maka itu tidaklah selayaknya bagiku
karena aku juga memiliki sifat yang sama.
“Sewaktu aku berdiam demikian,
setelah mengetahui kondisi tanpa perolehan,
Aku
mengatasi segala kemabukan –
kemabukan
pada kesehatan,
pada
kemudaan, dan pada kehidupan –
setelah
melihat keamanan dalam pelepasan keduniawian.
“Kemudian
semangat muncul dalam diriku
ketika
aku dengan jelas melihat nibbāna.
Sekarang
aku tidak mampu lagi
menikmati
kenikmatan-kenikmatan indria.
Dengan
mengandalkan kehidupan spiritual,
aku
tidak akan pernah berbalik lagi.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]