Allah Maha Jahat dan Kejam : Membiarkan Kejahatan Terjadi dan Mendiamkan Jatuhnya Korban

Maha Tahu, Tahu Terjadi dan Berlangsungnya Kejahatan, namun Allah Membiarkan, Mengizinkan, Mendiamkan, Merestui, serta Menikmatinya

Question: Katanya Allah maha tahu dan maha kuasa. Berarti tahu semua kejadian seperti kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat terhadap para korban mereka, serta mengizinkan sehingga kejahatan tersebut bisa terjadi. Namun, mengapa Allah berdiam diri, lalu mengatas-namakan “cobaan”, cobaan bagi siapa, bagi si pelaku kejahatan ataukah bagi si korban? Pelakunya, bila memang itu adalah “cobaan” Allah, berarti hanyalah pion atau bidak catur belaka, namun tetap juga dilempar ke neraka. Korbannya, bila gagal “dicoba”, dilempar ke neraka juga, sekalipun di dunia manusia menderita karena menjadi korban “cobaan” Allah? Bukankah itu juga berarti, neraka merupakan “monumen kegagalan Allah”, namun mengapa dipamerkan dengan begitu bangga oleh Allah?

Brief Answer: Bila kita sepakat bahwa mendiamkan dan membiarkan kejahatan terjadi sekalipun kita mengetahuinya, adalah “kekejaman terselubung” yang tidak kalah jahat dan kejamnya dengan sang penjahat yang melakukan kejahatan, maka artinya kita sepakat bahwa Allah yang “Maha Tahu” menyandang gelar-berganda sebagai “Maha Jahat dan Kejam”. Satu-satunya alasan mengapa Allah membiarkan kejahatan tersebut terjadi, ialah agar pelakunya menjelma “pendosa”, pendosa yang kemudian mencandu dogma adiktif yang bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins).

Allah tidak pernah perduli terhadap nasib korban, lihatlah dogma-dogma atau ayat-ayat dalam “Kitab DOSA” agama samawi, penuh dengan iming-iming KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGHAPUSAN DOSA” bagi para pendosawan, tentunya. Sehingga, percuma saja bagi mereka yang menjadi korban pemerkosaan, sebagai contoh, untuk mengadu kepada Allah, karena Allah justru lebih PRO terhadap para pendosa tersebut dengan menghapus dosa-dosa sang penjahat. Dosa dan maksiat, karenanya menyerupai umpan yang memang dibiarkan lestari oleh Allah—terbukti dari puluhan nabi yang diutus oleh Allah, tidak satupun kejahatan paling primitif dalam sejarah umat manusia yang berhasil dipunahkan oleh para nabi rasul Allah—agar umat manusia memakan dan termakan oleh umpan yang sengaja dipasang oleh Allah, agar para pendosa tersebut terjerat oleh candu “PENGHAPUSAN DOSA” yang memabukkan.

PEMBAHASAN:

Pernah diberitakan kejadian pada suatu daerah di Indonesia, seorang ibu membiarkan “suami baru”-nya memperkosa puteri kandungnya, karena sang ibu dari korban diiming-imingi akan diberikan kebun oleh sang “suami baru”-nya. Pernah juga terjadi, seorang ibu membiarkan anaknya dijadikan tumbal ilmu-hitam pesugihan oleh suaminya, semata agar sang ibu bisa hidup nyaman. Dalam kasus-kasus demikian, baik sang istri maupun suaminya, sama-sama jahatnya dan adalah penjahat, baik yang aktif berbuat kejahatan maupun yang pasif membiarkan dan mendiamkan kejahatan tersebut terjadi.

Pendosa, namun hendak berceramah perihal akhlak, moralitas, hidup suci, luhur, baik, agung, lurus, mulia, dan bertanggung-jawab? Itu ibarat “ORANG BUTA” yang hendak menuntun para butawan lainnya, atau ketika seorang pendosa yang menceramahi dan menggurui para pendosa lainnya, tanpa bercermin diri. Disebutkan lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

179 (9) Umat Awam

Perumah tangga Anāthapiṇḍika, disertai oleh lima ratus umat awam, mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: “Engkau harus tahu, Sāriputta, bahwa perumah tangga berjubah putih mana pun yang perbuatan-perbuatannya terkendali oleh lima aturan latihan dan yang memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat keberdiaman menyenangkan yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, dapat, jika ia menghendaki, menyatakan tentang dirinya: ‘Aku sudah selesai dengan neraka, alam binatang, dan alam hantu menderita; aku sudah selesai dengan alam sengsara, alam tujuan yang buruk, alam rendah; aku adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada [kelahiran] di alam rendah, pasti dalam tujuan, mengarah menuju pencerahan.’

(1) “Apakah kelima aturan latihan yang dengannya perbuatan-perbuatannya menjadi terkendali? [212] Di sini, Sāriputta, seorang siswa mulia menghindari membunuh, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, dan menghindari meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Perbuatan-perbuatannya terkendali oleh kelima aturan latihan ini.

“Apakah keempat keberdiaman menyenangkan yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, yang ia peroleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan?

(2) “Di sini, siswa mulia itu memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan pada Sang Buddha sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ini adalah keberdiaman menyenangkan pertama yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, yang telah ia capai untuk pemurnian pikiran yang tidak murni, untuk pembersihan pikiran yang tidak bersih.

(3) “Kemudian, siswa mulia itu memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā, terlihat langsung, segera, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, dapat diterapkan, untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.’ Ini adalah keberdiaman menyenangkan ke dua yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, yang telah ia capai untuk pemurnian pikiran yang tidak murni, untuk pembersihan pikiran yang tidak bersih.

(4) “Kemudian, siswa mulia itu memiliki keyakinan tak tergoyahkan pada Sagha sebagai berikut: ‘Sagha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan yang benar, mempraktikkan jalan yang selayaknya; yaitu empat pasang makhluk, delapan jenis individu - Sagha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Ini adalah keberdiaman menyenangkan ke tiga yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, yang telah ia capai [213] untuk pemurnian pikiran yang tidak murni, untuk pembersihan pikiran yang tidak bersih.

(5) “Kemudian, siswa mulia itu memiliki perilaku bermoral yang disukai oleh para mulia, yang tidak rusak, tidak cacat, tanpa noda, tanpa bercak, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak digenggam, mengarah pada konsentrasi. Ini adalah keberdiaman menyenangkan ke empat yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, yang telah ia capai untuk pemurnian pikiran yang tidak murni, untuk pembersihan pikiran yang tidak bersih.

“Ini adalah keempat keberdiaman menyenangkan yang terlihat yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, yang ia peroleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan.

“Engkau harus tahu, Sāriputta, bahwa perumah tangga berjubah putih mana pun yang perbuatan-perbuatannya terkendali oleh lima aturan latihan dan yang memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, keempat keberdiaman menyenangkan yang terlihat ini yang berhubungan dengan pikiran yang lebih tinggi, dapat, jika ia menghendaki, menyatakan tentang dirinya: ‘Aku sudah selesai dengan neraka, alam binatang, dan alam hantu menderita; aku sudah selesai dengan alam sengsara, alam tujuan yang buruk, alam rendah; aku adalah seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada [kelahiran] di alam rendah, pasti dalam tujuan, mengarah menuju pencerahan.’”

Setelah melihat bahaya dalam neraka-neraka,

seseorang seharusnya menghindari perbuatan-perbuatan jahat;

setelah menjalankan Dhamma mulia,

yang bijaksana harus menghindarinya.

Hingga batas kemampuannya,

seseorang seharusnya tidak melukai makhluk-makhluk hidup;

ia seharusnya tidak dengan sengaja berbohong;

ia seharusnya tidak mengambil apa yang tidak diberikan.

Ia harus puas dengan istri-istrinya sendiri,

dan harus menjauhi istri-istri orang lain.

Ia seharusnya tidak meminum anggur dan minuman keras,

yang menyebabkan kekacauan pikiran.

Ia harus mengingat Sang Buddha

dan mengingat Dhamma

Ia harus mengembangkan pikiran kebajikan,

yang mengarah menuju alam para deva.

Ketika ada benda-benda yang dapat diberikan,

bagi seseorang yang memerlukan dan menginginkan jasa

sebuah persembahan menjadi sangat besar

Jika pertama-tama diberikan kepada para mulia.

Aku akan menjelaskan tentang para mulia,

Sāriputta, dengarkanlah. [214]

Di antara sapi-sapi dari berbagai jenis,

apakah hitam, putih, merah, atau keemasan,

bebercak, sewarna, atau berwarna-merpati,

sapi jinak dilahirkan,

yang dapat mengangkat beban,

memiliki kekuatan, berjalan dengan kecepatan baik.

mereka mengikatkan beban hanya padanya;

Mereka tidak peduli pada warnanya.

Demikian pula, di antara para manusia

dalam berbagai jenis kelahiran apa pun–

di antara para khattiya, brahmana, vessa,

sudda, caṇḍāla, atau pemungut sampah –

di antara orang-orang dalam berbagai jenis

orang jinak yang berperilaku baik dilahirkan:

seorang yang teguh dalam Dhamma, bermoral dalam perilaku,

jujur dalam ucapan, memiliki rasa malu;

seorang yang telah meninggalkan kelahiran dan kematian,

sempurna dalam kehidupan spiritual,

dengan beban diturunkan, terlepas,

yang telah menyelesaikan tugasnya, bebas dari noda-noda;

yang telah melampaui segala sesuatu [di dunia]

dan melalui ketidak-melekatan telah mencapai nibbāna:

suatu persembahan adalah sungguh sungguh besar

Ketika ditanamkan di lahan tanpa noda itu.

Orang-orang dungu yang hampa dari pemahaman,

dengan kecerdasan-tumpul, tidak terpelajar,

tidak melayani orang-orang suci

melainkan memberikan pemberian mereka kepada orang-orang di luar itu.

Akan tetapi, mereka yang melayani orang-orang suci,

para bijaksana yang dihargai sebagai orang bijaksana,

dan mereka yang berkeyakinan pada Yang Sempurna

Menempuh Sang Jalan

tertanam dalam dan kokoh berdiri,

pergi ke alam para deva

atau terlahir di sini dalam keluarga yang baik.

Maju dalam langkah demi langkah,

para bijaksana itu mencapai nibbāna.

~0~

180 (10) Gavesī

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di tengah-tengah penduduk Kosala bersama dengan sejumlah besar Sagha para bhikkhu. Kemudian, ketika berjalan di sepanjang jalan raya, Sang Bhagavā melihat sebuah hutan besar pepohonan sal di suatu tempat. Beliau meninggalkan jalan raya, memasuki hutan pepohonan sal, dan tersenyum ketika Beliau sampai di tempat tertentu. Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir: “Mengapa Sang Bhagavā tersenyum? Para Tathāgata tidak tersenyum tanpa alasan.”

Kemudian Yang Mulia Ānanda [215] berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengapakah, Bhante, Sang Bhagavā tersenyum? Para Tathāgata tidak tersenyum tanpa alasan.”

“Di masa lampau, Ānanda, di tempat ini terdapat sebuah kota yang kaya, makmur, dan berpenduduk padat, sebuah kota yang penuh dengan orang-orang. Pada saat itu Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna Kassapa hidup dengan bergantung pada kota itu. Sang Bhagavā Kassapa memiliki seorang umat awam bernama Gavesī yang tidak memenuhi perilaku bermoral. Dan Gavesī mengajarkan dan membimbing lima ratus umat awam yang tidak memenuhi perilaku bermoral.

(1) “Kemudian, Ānanda, Gavesī berpikir: ‘Aku adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kelima ratus umat awam ini, namun baik aku maupun kelima ratus umat awam ini tidak memenuhi perilaku bermoral. Dengan demikian kami berada pada tingkat yang sama, dan aku tidak sedikit pun lebih baik. Biarlah aku melebihi mereka.’

“Kemudian Gavesī mendatangi kelima ratus umat awam itu dan berkata kepada mereka: ‘Mulai hari ini, kalian harus menganggapku sebagai seorang yang memenuhi perilaku bermoral.’ Kemudian kelima ratus umat awam itu berpikir: ‘Guru Gavesī adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kami. Sekarang Guru Gavesī akan memenuhi perilaku bermoral. Mengapa kami tidak melakukannya juga?’

“Kemudian kelima ratus umat awam itu mendatangi Gavesī dan berkata kepadanya: ‘Mulai hari ini dan seterusnya sudilah Guru Gavesī menganggap kami sebagai orang yang telah memenuhi perilaku bermoral.’

(2) “Kemudian, Ānanda, Gavesī berpikir: ‘Aku adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kelima ratus umat awam ini. Sekarang aku sedang memenuhi perilaku bermoral, dan demikian pula dengan kelima ratus umat awam ini. [216] Dengan demikian kami berada pada tingkat yang sama, dan aku tidak sedikit pun lebih baik. Biarlah aku melebihi mereka.’

“Kemudian Gavesī mendatangi kelima ratus umat awam itu dan berkata kepada mereka: ‘Mulai hari ini, kalian harus menganggapku sebagai seorang yang hidup selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang biasa.’ Kemudian kelima ratus umat awam itu berpikir: ‘Guru Gavesī adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kami. Sekarang Guru Gavesī akan hidup selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang biasa. Mengapa kami tidak melakukannya juga?’

“Kemudian kelima ratus umat awam itu mendatangi Gavesī dan berkata kepadanya: ‘Mulai hari ini dan seterusnya sudilah Guru Gavesī menganggap kami sebagai orang yang hidup selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang biasa.’

(3) “Kemudian, Ānanda, Gavesī berpikir: ‘Aku adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kelima ratus umat awam ini. Sekarang aku sedang memenuhi perilaku bermoral, dan demikian pula dengan kelima ratus umat awam ini. Aku hidup selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktik orang biasa, dan demikian pula dengan kelima ratus umat awam ini. Dengan demikian kami berada pada tingkat yang sama, dan aku tidak sedikit pun lebih baik. Biarlah aku melebihi mereka.’

“Kemudian Gavesī mendatangi kelima ratus umat awam itu dan berkata kepada mereka: ‘Mulai hari ini, kalian harus menganggapku sebagai seorang yang makan satu kali sehari, menghindari makan malam, menghindari makan di luar waktu yang tepat.’ Kemudian kelima ratus umat awam itu berpikir: ‘Guru Gavesī adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kami. Sekarang Guru Gavesī makan satu kali sehari, menghindari makan malam, menghindari makan di luar waktu yang tepat. Mengapa kami tidak melakukannya juga?’

“Kemudian kelima ratus umat awam itu mendatangi Gavesī dan [217] berkata kepadanya: ‘Mulai hari ini dan seterusnya sudilah Guru Gavesī menganggap kami sebagai seorang yang makan satu kali sehari, menghindari makan malam, menghindari makan di luar waktu yang tepat.’

(4) “Kemudian, Ānanda, umat awam Gavesī berpikir: ‘Aku adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kelima ratus umat awam ini. Sekarang aku sedang memenuhi perilaku bermoral, dan demikian pula dengan kelima ratus umat awam ini. Aku hidup selibat, hidup terpisah, menghindari hubungan seksual, praktek orang biasa, dan demikian pula dengan kelima ratus umat awam ini. Aku makan satu kali sehari, menghindari makan malam, menghindari makan di luar waktu yang tepat, dan demikian pula dengan kelima ratus umat awam ini. Dengan demikian kami berada pada tingkat yang sama, dan aku tidak sedikit pun lebih baik. Biarlah aku melebihi mereka.’

“Kemudian Gavesī mendatangi Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna Kassapa, dan berkata kepada Beliau: ‘Bhante, bolehkah aku memperoleh pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh di bawah Sang Bhagavā?’ Umat awam Gavesī memperoleh pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh di bawah Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna Kassapa. Segera setelah penahbisannya, dengan berdiam sendirian, terasing, penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh, Bhikkhu Gavesī merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan tertinggi kehidupan spiritual yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ia secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’ Dan bhikkhu Gavesī menjadi salah satu di antara para Arahant.

“Kemudian, Ānanda, kelima ratus umat awam itu berpikir: ‘Guru Gavesī adalah penyokong, pemimpin, dan pembimbing kami. Sekarang Guru Gavesī, setelah mencukur rambut dan janggutnya dan mengenakan jubah kuning, telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Mengapa kami tidak melakukannya juga?

“Kemudian kelima ratus umat awam itu mendatangi Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna Kassapa, [218] dan berkata kepadaNya: ‘Bhante, bolehkah kami memperoleh pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh di bawah Sang Bhagavā?’ Kemudian kelima ratus umat awam itu memperoleh pelepasan keduniawian dan penahbisan penuh di bawah Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna Kassapa.

(5) “Kemudian, Ānanda, bhikkhu Gavesī berpikir: ‘Aku memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, kebahagiaan tertinggi dari kebebasan. Oh, semoga kelima ratus bhikkhu ini dapat memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan atau kesusahan, kebahagiaan tertinggi dari kebebasan!’ Kemudian, Ānanda, dengan masing-masing berdiam sendirian, terasing, penuh kewaspadaan, tekun, dan bersungguh-sungguh, dalam waktu tidak lama kelima ratus bhikkhu itu merealisasikan untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kesempurnaan tertinggi kehidupan spiritual yang karenanya anggota-anggota keluarga dengan benar meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah memasukinya, mereka berdiam di dalamnya. Mereka secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’

“Demikianlah, Ānanda, kelima ratus bhikkhu itu dengan dipimpin oleh Gavesī, dengan berusaha secara bertahap dalam cara-cara yang lebih tinggi dan lebih luhur, merealisasikan kebahagiaan tertinggi dari kebebasan. Oleh karena itu, Ānanda, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Dengan berusaha secara bertahap dalam cara-cara yang lebih tinggi dan lebih luhur, kami akan merealisasikan kebahagiaan tertinggi dari kebebasan.’ Demikianlah, Ānanda, kalian harus berlatih.” [219]

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week