Pilih KAYA atau MISKIN?

Pandangan Buddhisme tentang Harta Kekayaan

Hidup adalah Pilihan, serta Konsekuensi yang Menyertainya

Question: Apakah di Agama Buddha, ada dogma seperti di lain agama, seperti uang adalah jahat, menjadi kaya adalah jahat, dan sejenisnya?

Brief Answer: Itu adalah pertanyaan yang terlampau dangkal, bila kita memakai perspektif Buddhisme. Dalam Buddhisme, kita memiliki pilihan bebas, menjadi umat awam ataukah menjadi seorang petapa-monastik. Seorang petapa-monastik, bahkan tidak memiliki harta apapun selain jubah dan mangkuk untuk menerima dana makanan dari umat dan sudah terpuaskan karenanya, karena “kekayaan” terbesar seorang bhikkhu yang hidup selibat ialah kesucian dan kemurnian pikiran maupun batin, dimana tugas utama kedua seorang bhikkhu ialah menjadi “ladang menanam jasa yang subur” bagi umat awam untuk menanam jasa-jasa baik seperti memberi derma makanan ataupun obat-obatan dan tempat untuk berteduh bagi mereka yang berlatih disiplin-diri yang ketat mensucikan dirinya.

Seorang pangeran bernama Siddhatta Gotama, memilih untuk menjelma menjadi seorang petapa yang hidup menyepi, dan melepaskan tahta kerajaan maupun gelar Pangeran, dan memeroleh “kekayaan” (dalam wujud “kepuasan batin”) yang melampaui kenikmatan duniawi. Bila pilihannya ialah menjadi umat awam yang masih berkutat pada harta dan kesenangan inderawi, maka dipuji oleh Sang Buddha ialah, dengan kutipan sabda sebagai berikut:

“Di antara kesepuluh jenis orang itu yang menikmati kenikmatan indria ini yang terdapat di dunia, yang terunggul, yang terbaik, yang menonjol, yang tertinggi, dan yang termulia adalah ia yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira; dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya.”

PEMBAHASAN:

Bukan soal kaya ataukah miskin, namun bagaimana harta tersebut diperoleh, manfaat bagi dirinya sendiri, untuk apa harta tersebut digunakan, dan apakah yang bersangkutan menyadari hakekat harta, serta apakah itu layak digenggam erat atau tidaknya. Untuk memahami bagaimana kekayaan, penghasilan, harta kepemilikan, kekuatan finansial, atau istilah sejenis lainnya berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang, rinciannya dapat kita simak khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

V. Upāli [Upāsakavagga, “Bab tentang Umat-Umat Awam.”]

91 (1) Seorang Yang Menikmati Kenikmatan Indria

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: [177]

“Perumah tangga, ada sepuluh jenis orang ini yang menikmati kenikmatan indria yang terdapat di dunia ini. Apakah sepuluh ini?

[Kitab Komentar : Tiga variabel dari pola ini yang akan dijelaskan adalah: (i) Bagaimanakah kekayaan itu diperoleh, apakah dengan tidak benar, dengan benar, atau keduanya; (ii) apakah kekayaan itu digunakan untuk manfaat dirinya sendiri atau tidak; dan (iii) apakah digunakan demi manfaat orang lain atau tidak. Mereka yang bernilai positif pada ketiga hal ini dibagi lebih lanjut menjadi mereka yang melekati kekayaan mereka dan mereka yang tidak melekatinya.]

[I. PEMBABARAN]

[A. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Tidak Benar]

(1) “Di sini, perumah tangga, seseorang yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, juga ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(2) “Seorang lainnya yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(3) “Seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

[B. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar dan dengan Tidak Benar]

(4) “Berikutnya, perumah tangga, seseorang yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, juga ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(5) “Seorang lainnya yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(6) “Seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

[C. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar]

(7) “Berikutnya, perumah tangga, seseorang yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, juga ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(8) “Seorang lainnya yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, [178] ia membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa.

(9) “Seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Tetapi ia menggunakan kekayaannya dengan terikat pada kekayaannya, tergila-gila padanya, dan secara membuta tenggelam di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya dan tidak memahami jalan membebaskan diri darinya.

(10) “Dan seorang lainnya lagi yang menikmati kenikmatan indria mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan. Setelah melakukan demikian, ia membuat dirinya bahagia dan gembira, dan ia juga membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya.

[II. Evaluasi]

[A. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Tidak Benar]

(1) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan, dan tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, dan juga tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dikritik atas tiga dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dikritik atas ketiga dasar ini.

(2) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dikritik atas dua dasar dan dipuji atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Satu dasar yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dikritik atas kedua dasar ini dan dipuji atas satu dasar ini. [179]

(3) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan tidak benar, dengan kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dikritik atas satu dasar dan dipuji atas dua dasar. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dikritik dalam satu dasar ini dan dipuji atas dua dasar ini.

[B. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar dan dengan Tidak Benar]

(4) “Berikutnya, perumah tangga, ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, dan tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas satu dasar dan dikritik atas tiga dasar. Satu dasar yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas satu dasar ini dan dikritik atas tiga dasar ini.

(5) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas dua dasar dan dikritik atas dua dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. [180] Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas dua dasar ini dan dikritik atas dua dasar ini.

(6) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar dan dengan tidak benar, dengan kekerasan dan tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas tiga dasar dan dikritik atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan tidak benar, dengan kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas tiga dasar ini dan dikritik atas satu dasar ini.

[C. Mereka Yang Mencari Kekayaan dengan Benar]

(7) “Berikutnya, perumah tangga, ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan tidak membuat dirinya bahagia dan gembira, dan juga tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas satu dasar dan dikritik atas dua dasar. Satu dasar yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas satu dasar ini dan dikritik atas dua dasar ini.

(8) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, tetapi tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dapat dipuji atas dua dasar dan dikritik atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia tidak membagi kekayaannya dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. [181] Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas dua dasar ini dan dikritik atas satu dasar ini.

(9) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, tetapi ia menggunakan kekayaannya dengan terikat pada kekayaannya, tergila-gila padanya, dan secara membuta tenggelam di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya dan tidak memahami jalan membebaskan diri darinya – ia dapat dipuji atas tiga dasar dan dikritik atas satu dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Satu dasar yang dengannya ia dapat dikritik adalah bahwa ia menggunakan kekayaannya dengan terikat pada kekayaannya, tergila-gila padanya, dan secara membuta tenggelam di dalamnya, tidak melihat bahaya di dalamnya dan tidak memahami jalan membebaskan diri darinya. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas tiga dasar ini dan dikritik atas satu dasar ini.

(10) “Ia yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya – ia dapat dipuji atas empat dasar. Dasar pertama yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia mencari kekayaannya dengan benar, tanpa kekerasan. Dasar ke dua yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membuat dirinya sendiri bahagia dan gembira. Dasar ke tiga yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Dasar ke empat yang dengannya ia dapat dipuji adalah bahwa ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya. Orang yang menikmati kenikmatan indria ini dapat dipuji atas empat dasar ini.

[Penutup]

“Ini, perumah tangga, adalah kesepuluh jenis orang itu yang menikmati kenikmatan indria yang terdapat di dunia ini. Di antara kesepuluh orang ini, [182] yang terkemuka, terbaik, terunggul, tertinggi, dan termulia adalah seorang yang menikmati kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira, dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya. Seperti halnya, dari sapi dihasilkan susu, dari susu dihasilkan dadih, dari dadih dihasilkan mentega, dari mentega dihasilkan ghee, dan dari ghee dihasilkan krim-ghee, yang dianggap sebagai yang terbaik di antara semua itu, demikian pula, di antara kesepuluh jenis orang itu yang menikmati kenikmatan indria ini yang terdapat di dunia, yang terunggul, yang terbaik, yang menonjol, yang tertinggi, dan yang termulia adalah ia yang mencari kekayaan dengan benar, tanpa kekerasan, dan membuat dirinya bahagia dan gembira; dan membagi kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa, dan ia menggunakan kekayaannya tanpa terikat pada kekayaannya, tidak tergila-gila padanya, dan tidak secara membuta tenggelam di dalamnya, melihat bahaya di dalamnya dan memahami jalan membebaskan diri darinya.

24 (4) Cunda

Pada suatu ketika Yang Mulia Mahācunda sedang menetap di antara penduduk Ceti di Sahajāti. Di sana Yang Mulia Mahācunda berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”

“Teman!” para bhikkhu [42] itu menjawab. Yang Mulia Mahācunda berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan; jika kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … sikap merendahkan … sikap kurang-ajar … kekikiran … sikap iri yang jahat … keinginan jahat menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut:

[Kitab Komentar : Bahwa klaim atas pengetahuan, pengembangan, dan atas pengetahuan dan pengembangan, dalam ketiga bagian, semuanya adalah klaim Kearahattaan.]

‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan; jika kebencian … keinginan jahat menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan; jika kebencian … keinginan jahat [43] menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

Misalkan, seorang yang miskin, papa, dan kekurangan mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Jika, ketika ia ingin membeli sesuatu, ia tidak mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas, maka mereka akan mengenalnya sebagai seorang yang miskin, papa, dan kekurangan yang mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Karena alasan apakah? Karena ketika ia ingin membeli sesuatu, ia tidak mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas.

“Demikian pula, teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan … keinginan jahat menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … [44] … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … sikap merendahkan … sikap kurang-ajar … kekikiran … sikap iri yang jahat … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki delusi … tidak memiliki kemarahan … tidak memiliki permusuhan … tidak memiliki sikap merendahkan … tidak memiliki sikap kurang-ajar … tidak memiliki kekikiran … tidak memiliki sikap iri yang jahat … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; [45] karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’

Misalkan, seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Jika, ketika ia ingin membeli sesuatu, ia mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas, maka mereka akan mengenalnya sebagai seorang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta yang mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Karena alasan apakah? Karena ketika ia ingin membeli sesuatu, ia mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas.

“Demikian pula, teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … sikap merendahkan … sikap kurang-ajar … kekikiran … sikap iri yang jahat … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’” [46]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week