Kalangan Korban DIANAKTIRIKAN dalam Agama Samawi, hanya Bisa Gigit-Jari
karena Haknya Atas Keadilan Dirampas Allah dengan Menghapus Dosa-Dosa para
Pendosa-Penjahat
Agama Buddha adalah KABAR BURUK bagi Kalangan Penjahat (Pendosa) dan
merupakan KABAR GEMBIRA bagi Kalangan KORBAN
Ada umat agama samawi, yang membuat klaim bahwa di negara-negara yang
mayoritas penduduknya Buddhist, penjahat yang dipenjara di sana besar
kemungkinan beragama Buddha. Mereka menyampaikan alibi demikian, untuk
membenarkan / menjustifikasi sifat dan sikap para umat agama samawi yang gemar,
rajin, serta rutin berbuat kejahatan sebelum kemudian mencandu dogma
iming-iming “too good to be true” semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN /
PENEBUSAN DOSA”, mengingat antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan
“PENGHAPUSAN DOSA” saling bundling sifatnya ibarat pasta-gigi dan sikap-gigi
yang saling komplomenter adanya—itulah “business as usual”-nya umat
agama samawi.
Namun, mereka tidak secara transparan maupun akuntabel menyebutkan bahwa
faktanya tiada umat
Buddhist yang setelah berbuat kejahatan, merasa yakin masuk surga setelah
kematiannya. Sebaliknya,
seluruh umat agama samawi merasa terjamin dan yakin-membuta bahwa mereka akan
masuk surga sekalipun sepanjang hidupnya mengoleksi segudang dosa, rajin
memproduksi segunung dosa, dan berkubang dalam samudera dosa. Itulah sebabnya, agama samawi lebih
tepat diberi judul “Agama DOSA” alih-alih “Agama SUCI”, semata karena
mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis
dari dosa maupun maksiat.
Agama samawi, hanya mengakui perspektif PENDOSA (pelaku kejahatan), dan
menegasikan eksistensi korban kejahatan. Maksudnya, aspirasi, suara, ekspresi,
serta keberadaan korban sama sekali tidak dipandang, terlebih diakui dan
dipandang. Buktinya, agama samawi semata hanya mengakui perspektif
PENDOSA—hanya seorang PENDOSA, yang butuh iming-iming KORUP semacam
“PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”—dan disaat bersamaan membungkam
laporan, aduan, maupun tuntutan korban, dimana Allah justru PRO alias lebih
memihak PENDOSA (penjahat) dengan merampas hak korban atas keadilan serta menutup-paksa
mulut korban yang menjerit kesakitan menuntut keadilan.
Agama samawi bahkan jauh lebih tidak beradab daripada hukum yang
diterbitkan oleh pemerintahan negara, alias Allah maupun peradilan Allah
tidaklah lebih adil daripada hakim manusia di peradilan dunia manusia. Dalam
peradilan Allah, dimana Allah menjadi hakimnya, yang didengar semata ialah
pembelaan diri para PENDOSA yang menjadi Terdakwa, lalu menghapus dosa-dosa
sang PENDOSA (penjahat) semata karena Allah terjebak dalam “konflik
kepentingan” dimana pihak Terdakwa menyembah dan memuja-muji Allah. Alhasil, kalangan
korban tereliminir, tersisihkan, termarginalisasi, tersingkir, serta
terpinggirkan.
Perhatikan peraturan hukum buatan manusia di dunia manusia berikut, yang
tidak akan Anda dapat jumpai pengaturan serupa dalam “Kitab DOSA Agama DOSA”
(agama samawi), salah satunya ialah:
UNDANG-UNDANG
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
3 TAHUN 2026
TENTANG
PELINDUNGAN
SAKSI DAN KORBAN
Pasal 7
(1) Saksi, Korban, Saksi Pelaku, Pelapor, Informan, dan/atau Ahli
berhak:
o. menyampaikan pernyataan dalam proses peradilan
pidana terkait dampak penderitaan Korban alibat peristiwa hukum yang dialaminya;
Jangankan korban diakui keberadaannya dan diberi kesempatan untuk
mengutarakan penderitaan yang dialami oleh sang korban akibat perbuatan sang
PENDOSA (pelaku kejahatan) dalam peradilan Allah, Allah bahkan seketika
merampas aspirasi maupun hak atas keadilan yang merupakan “hak asasi korban”.
Dengan kata lain, tiada
“hak asasi korban” dalam perspektif agama samawi, yang ada ialah semata ajang “pamer kolusi” dimana
Allah menyalah-gunakan wewenangnya dengan bersikap parsial—lawan kata dari
imparsial—dalam menyidangkan dan mengadili para “PENDOSA PECANDU-BERAT
PENGHAPUSAN DOSA”.
Namun itu adalah bila kita memakai perspektif “Agama DOSA” dimana Allah
lebih PRO alias berpihak kepada kalangan PENDOSA (penjahat pelaku kejahatan),
dimana kalangan korban hanya dapat “gigit-jari” karena melapor atau mengadukan
kejadian jahat yang dialami olehnya adalah percuma alias sia-sia adanya. Dari perspektif
itu, kita patut menyatakan bahwa agama samawi adalah “agama pesimistik” bagi
kalangan korban. Sebaliknya, Agama Buddha adalah “agama optimistik” bagi kalangan
korban, “victim-friendly”, dimana bahkan kalangan korban tidak perlu
melapor, mengadu, ataupun mengemis-ngemis haknya atas keadilan.
Semengerikan dan semenakutkan apakah, kondisi siksaan bagi para narapidana
penghuni alam neraka? Kondisi alam neraka seutuhnya dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 130 ~
Devadūta
Sutta: Utusan Surgawi
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, misalkan terdapat dua rumah berpintu dan seseorang yang
berpenglihatan baik berdiri di antara kedua rumah itu melihat orang-orang masuk
dan keluar dan berlalu-lalang. Demikian
pula, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik
dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan
benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia,
bahkan di alam surga. Atau Makhluk-makhluk mulia ini, yang berperilaku baik
dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan [179] pencela para mulia,
berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam
manusia. Tetapi makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan
dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, telah muncul kembali di alam hantu. Atau makhluk-makhluk ini yang
berperilaku buruk … ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul
kembali di alam binatang. Atau makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk …
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi
buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka.’
3. “Sekarang para penjaga neraka menangkap makhluk itu pada kedua
lengannya dan membawanya ke hadapan Raja Yama, dengan berkata: ‘Baginda, orang
ini telah memperlakukan ibunya dengan buruk, memperlakukan ayahnya dengan
buruk, memperlakukan para petapa dengan buruk, memperlakukan para brahmana
dengan buruk; ia tidak menghormati para sesepuh sukunya. Silahkan Raja
menjatuhkan hukuman.’
[Kitab Komentar : Yama adalah dewa kematian. Kitab
Komentar mengatakan bahwa ia adalah raja makhluk halus yang memiliki istana
surgawi. Kadang-kadang ia menetap di istana surgawi menikmati kenikmatan
surgawi, kadang-kadang ia mengalami akibat kamma; ia adalah raja yang
baik. Kitab Komentar menambahkan bahwa sebenarnya ada empat Yama, satu di
setiap empat gerbang (neraka?).]
4. “Kemudian Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi pertama: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
pertama muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama berkata:
‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang bayi lembut yang berbaring
telungkup, kotor dengan kotoran dan air kencingnya sendiri?’ Ia berkata:
‘Pernah, Tuan.’
[Kitab Komentar : Menurut
legenda Buddhis, tiga dari para utusan surgawi – orang tua, orang sakit, dan
orang mati – menampakkan diri di hadapan Sang Bodhisatta ketika ia sedang
menetap di istana, menghancurkan pesona kehidupan duniawi dan menyadarkannya
pada keinginan untuk mencari jalan kebebasan. Baca Anguttara Nikāya 3:38/i.145-46 untuk penjelasan atas asal-usul
secara psikologis dari mana legenda ini berkembang.]
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada kelahiran, aku tidak terbebas dari kelahiran: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu atau ayahmu, [180] atau oleh saudara laki-laki atau saudara
perempuanmu, atau oleh teman-teman dan sahabatmu, atau oleh sanak saudara dan
kerabatmu, atau oleh para petapa dan brahmana, atau oleh para dewa; perbuatan jahat ini dilakukan
oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami akibatnya.’
5. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi pertama, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke dua: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke dua muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama berkata:
‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau seorang
perempuan – berumur delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, tua,
bungkuk seperti rusuk atap, merunduk, berjalan dengan ditopang oleh tongkat,
terhuyung-huyung, lemah, kehilangan kemudaan, gigi tanggal, rambut memutih,
rambut berguguran, botak, keriput, dengan bercak pada bagian-bagian tubuh?’ Ia
berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada penuaan, aku tidak terbebas dari penuaan: tentu saja aku lebih
baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
6. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke dua, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke tiga: [181] ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan
surgawi ke tiga muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau
seorang perempuan – yang sakit, menderita, dan sakit parah, berbaring dengan
dikotori oleh kotoran dan air kencingnya sendiri, diangkat oleh beberapa orang
dan dibaringkan oleh beberapa orang lainnya?’ Ia berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada penyakit, aku tidak terbebas dari penyakit: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’ Kemudian
Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
7. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke tiga, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke empat: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke empat muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia, ketika seorang penjahat
perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya:
setelah menderanya dengan cambukan, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan
pemukul; setelah memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan
kakinya; memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan
hidungnya; dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang yang digosok,’
‘mulut Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ ‘pakaian kulit
kayu,’ ‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan
berporos,’ ‘gulungan tikar jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih,
dan mereka dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan
hidup ditusuk dengan kayu pancang, dan kepala mereka dipenggal dengan pedang?’
Ia berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Mereka
yang melakukan perbuatan jahat akan mengalami berbagai jenis siksaan di sini
dan saat ini; [182] apa lagi setelah kematian? Tentu saja aku lebih baik
melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
8. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke empat, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke lima: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke lima muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau
seorang perempuan – satu hari setelah mati, dua hari setelah mati, tiga hari
setelah mati, membengkak, memucat, dan meneteskan cairan?’ Ia berkata: ‘Pernah,
Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada kematian, aku tidak terbebas dari kematian: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
9. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke lima, Raja Yama berdiam diri.
10. “Kemudian para penjaga neraka [183] menyiksanya dengan lima tusukan.
Mereka menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus tangan lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu kakinya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus kaki lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus perutnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
[Kitab Komentar : Penjelasan mengenai neraka berikut
ini, hingga ke paragraf nomor ke-16, juga terdapat pada Majjhima Nikāya
129.10-16.]
11. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke bawah dan mengulitinya
dengan kapak. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
12. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mengulitinya dengan alat pengukir kayu. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
13. “Kemudian para penjaga neraka mengikatnya pada sebuah kereta dan
menariknya ke sana-sini di atas tanah yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
14. “Kemudian para penjaga neraka menyuruhnya memanjat naik dan turun di
atas gundukan bara api yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
15. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mencelupkannya ke dalam panci logam panas yang terbakar,
menyala, dan berpijar. Ia direbus di sana di dalam pusaran buih. Dan ketika ia
direbus di sana di dalam pusaran buih, ia kadang-kadang terhanyut ke atas, kadang-kadang
ke bawah, kadang-kadang ke sekeliling. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:
Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun
Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,
Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya
Dan ditutup dengan atap besi.
Lantainya juga terbuat dari besi
Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar
Luasnya seratus liga
Yang mencakup seluruh wilayah itu.
17. “Sekarang
lidah api yang menyambar dari tembok timur mengenai tembok barat. Lidah api
yang menyambar dari tembok barat mengenai [184] tembok timur. Lidah api yang
menyambar dari tembok utara mengenai tembok selatan. Lidah api yang menyambar
dari tembok selatan mengenai tembok utara. Lidah api yang menyambar dari lantai
mengenai atap. Lidah api yang menyambar dari atap mengenai lantai. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama
akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
18. “Pada
suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama, pintu timur Neraka
Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat. Ketika
berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya terbakar, dagingnya
terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang sama terjadi ketika
kakinya diangkat. Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
“Pada
suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, pintu barat Neraka Besar itu terbuka
... pintu utara Neraka Besar itu terbuka ... pintu selatan Neraka Besar itu
terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat ... Ketika
akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
19. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama,
pintu timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah
dengan cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya
terbakar, dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang
sama terjadi ketika kakinya diangkat. Ia keluar melalui pintu itu.
20. “Persis
di sebelah Neraka Besar [185] adalah Neraka Kotoran yang luas. Ia terjatuh ke
dalam neraka itu. Di dalam Neraka Kotoran itu makhluk-makhluk bermulut jarum
mengebor kulit luarnya dan mengebor kulit dalamnya dan mengebor dagingnya dan
mengebor uratnya dan mengebor tulangnya dan melahap sumsumnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat
dari perbuatan jahatnya belum habis.
21. “Persis
di sebelah Neraka Kotoran adalah Neraka Bara Api Panas yang luas. Ia terjatuh
di sana. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia
tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
22. “Persis
di sebelah Neraka Bara Api Panas adalah Hutan Pepohonan Simbali yang luas,
tingginya satu liga, berduri dengan duri-duri sepanjang enam belas lebar jari,
yang terbakar, menyala, dan berpijar. Mereka menyuruhnya memanjat pepohonan itu
naik dan turun. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk.
Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
23. “Persis
di sebelah Hutan Pepohonan Simbali adalah Hutan Daun-pedang yang luas. Ia masuk
ke sana. Dedaunannya, digerakkan oleh angin, memotong tangannya dan memotong kakinya
dan memotong tangan dan kakinya; memotong telinganya dan memotong hidungnya dan
memotong telinga dan hidungnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
24. “Persis
di sebelah Hutan Daun-pedang adalah sungai besar berair tajam membakar. Ia
terjatuh di sana. di sana ia tersapu mengikuti arus dan melawan arus dan
mengikuti-sekaligus-melawan arus. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan,
menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya
belum habis.
25. “Kemudian
para penjaga neraka menariknya dengan kail, [186] dan menaikkannya ke atas
tanah, mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ Ia berkata: ‘Aku
lapar, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan
penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan
mereka memasukkan bola besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan
berpijar ke dalam mulutnya, bola besi itu membakar tenggorokannya, membakar
perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa usus dan selaput pengikat
organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
26. “Kemudian
para penjaga bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ ia berkata: ‘Aku
haus, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan
penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan
mereka menuangkan tembaga cair yang terbakar, menyala, dan berpijar ke dalam
mulutnya. Tembaga itu membakar bibirnya, membakar mulutnya, membakar
tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa
usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
27. “Kemudian
para penjaga neraka melemparnya kembali ke dalam Neraka Besar.
28. “Pernah Raja Yama berpikir: ‘Mereka
yang di dunia melakukan perbuatan-perbuatan tidak bermanfaat sungguh akan mengalami
berbagai jenis siksaan yang dijatuhkan pada mereka. Oh, Semoga aku terlahir kembali menjadi manusia,
semoga seorang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, muncul di
dunia, semoga aku dapat melayani Sang Bhagavā itu, semoga Sang Bhagavā
mengajarkan Dhamma kepadaku, dan semoga aku memahami Dhamma Sang Bhagavā itu!’
29. “Para
bhikkhu, Aku mengatakan hal ini kepada kalian bukan sebagai sesuatu yang
Kudengar dari petapa atau brahmana lain. Aku mengatakan hal ini kepada kalian
sebagai sesuatu yang sebenarnya diketahui, dilihat, dan ditemukan olehKu
sendiri.” [187]
30. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah Yang
Sempurna mengatakan itu, Sang Guru berkata lebih lanjut:
“Walaupun
diperingatkan oleh para utusan surgawi,
Banyak
yang lalai,
Dan
orang-orang sungguh akan berdukacita dalam waktu yang lama
Begitu
pergi ke alam rendah.
Tetapi
ketika oleh para utusan surgawi
Orang-orang
baik di sini dalam kehidupan ini teringat,
Mereka
tidak berdiam dalam kelalaian
Namun
mempraktikkan Dhamma mulia dengan baik.
Dengan
takut mereka melihat kemelekatan
Karena
dapat mengakibatkan kelahiran dan kematian;
Dan
melalui ketidak-melekatan mereka terbebas
Dalam
hancurnya kelahiran dan kematian.
[Komentar : Dari sutta lainnya, yang dimaksud dengan
“hancurnya kelahiran dan kematian” artinya tiada lagi penjelmaan-baru, siklus tumimbal-lahir
(saṁsāra, Bahasa Pāli ini dibaca
dengan lafal :
“sang-saa-ra”) terputus, Nibbana.]
Mereka
berdiam dalam kebahagiaan karena mereka aman
Dan
mencapai Nibbāna di sini dan saat ini.
Mereka
melampaui segala ketakutan dan kebencian;
Mereka
telah membebaskan diri dari segala penderitaan.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, para umat agama samawi dibiasakan
untuk meremehkan perbuatan-perbuatan buruk, baik perbuatan yang kecil maupun
yang besar, dengan menutup-mata dari bahaya ataupun konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan
buruk yang tercela tersebut. Kita dapat menyebut dogma-dogma agama samawi
sebagai ajaran yang fatalistik, karena sifatnya “point of no return”
dimana dosa-dosa para umat pemeluknya yang “business as usual” (mengoleksi segudang
dosa dan memproduksi segunung dosa-dosa) telah menjelma “too big to fall”—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan akal-sehat, nurani, serta pikiran jernih milik Anda sendiri,
apakah “nabi rasul Allah” patut dan layak atau tidaknya menjadi narapidana
penghuni alam Neraka, bukan sebagai penghakim maupun pengadil, akan tetapi
sebagai terhukum dan pesakitan, dimana ia tidak berani membayar “harga” atau
konsekuensi atas perbuatan-perbuatan buruknya, akan tetapi berani untuk berbuat
buruk, sekalipun pepatah sudah lama berpesan : “Berani berbuat, (maka harus)
berani bertanggung-jawab”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]