Memprihatinkan dan Memalukannya Kelahiran maupun Kematian Yesus, Umat Nasrani Patut Merasa Malu dan Hina
Question : Bukankah mengherankan, bila ada seseorang yang mengaku dulunya umat Buddhis, lalu beralih atau pindah agama menjadi pemeluk agama samawi, entah karena faktor perkawinan atau pergaulan. Bila kita baca kisah kehidupan Buddha Gotama, Beliau bahkan tidak pernah merasa inferior sejak saat kelahirannya. Mengapa bisa ada umat Buddhis yang merasa rendah diri, lalu pindah ke agama lain?
Brief
Answer : Tidak ada alasan bagi umat
Buddhist untuk merasa inferior berhadapan dengan agama lain maupun terhadap
umat agama samawi, terlebih merasa tertarik untuk memeluk dan menganut agama
nonBuddhist, mengingat tiada sosok atau makhluk apapun yang setara dengan Sang
Buddha, baik dari segi kelahiran, sejarah hidupnya, maupun pencapaian,
pengorbanan, serta perjuangan, tidak terkecuali pengajarannya selama 45 tahun
sebelum mangkat dan mewariskan Dhamma kepada generasi penerus. Bila mereka benar-benar
membaca khotbah-khotbah Sang Buddha yang tiada tandingan, kisah hidup-Nya yang
mengagumkan dan menakjubkan, dapat dipastikan yang ada ialah umat nonBuddhist
yang pindah ke Agama Buddha dan menjadi pengagum berat sosok Sang Buddha.
PEMBAHASAN:
Kekaguman
terhadap Sang Buddha Gotama yang akan membuat kita takjub, dapat kita simak
dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 123 ~
Acchariya-abbhūta
Sutta : Mengagumkan dan Menakjubkan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk di aula pertemuan, di mana
mereka berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah
makan, ketika diskusi ini muncul di antara mereka: “Sungguh mengagumkan, Teman-teman,
sungguh menakjubkan, betapa sakti dan berkuasanya Sang Tathāgata! Karena Beliau
mampu mengetahui tentang para Buddha masa lampau – yang mencapai Nibbāna akhir,
memotong [kekusutan] proliferasi, mematahkan siklus, mengakhiri lingkaran, dan
mengatasi segala penderitaan – bahwa kelahiran para Bhagavā itu adalah seperti
demikian, nama mereka adalah demikian, suku mereka adalah demikian, moralitas
mereka adalah demikian, kondisi [konsentrasi] mereka adalah demikian, kebijaksanaan
mereka adalah demikian, kediaman mereka [di dalam pencapaian] adalah demikian,
kebebasan mereka adalah demikian.”
[Kitab Komentar : Kemampuan tersebut ditunjukkan
dalam Dīgha Nikāya 14, yang memberikan informasi terperinci mengenai enam
Buddha sebelum Gotama.]
Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu:
“Teman-teman, Para
Tathāgata adalah mengagumkan dan memiliki kualitas-kualitas mengagumkan. Para
Tathāgata adalah menakjubkan dan memiliki kualitas-kualitas menakjubkan.” [119]
Akan tetapi, diskusi mereka terhenti; karena Sang Bhagavā bangkit dari
meditasiNya pada malam itu, memasuki aula pertemuan, dan duduk di tempat yang
telah dipersiapkan. Kemudian Beliau bertanya kepada para bhikkhu sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, untuk mendiskusikan apakah kalian duduk bersama di sini
saat ini? Dan diskusi apakah yang terhenti?”
“Di sini, Yang Mulia, kami sedang duduk di aula pertemuan, di mana kami
berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan,
diskusi ini muncul di antara kami: ‘Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh
menakjubkan ... kebebasan mereka adalah demikian.’ Ketika hal ini dikatakan, Yang
Mulia Ānanda berkata kepada kami: ‘Teman-teman, Para Tathāgata adalah
mengagumkan dan memiliki kualitas-kualitas mengagumkan. Para Tathāgata adalah
menakjubkan dan memiliki kualitas-kualitas menakjubkan.’ Ini adalah diskusi
kami, Yang Mulia, yang terhenti ketika Sang Bhagavā datang.”
Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Kalau begitu,
Ānanda, jelaskanlah dengan lebih lengkap tentang kualitas-kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Tathāgata.”
3. “Aku mendengar dan mempelajari ini, Yang Mulia, dari mulut Sang
Bhagavā sendiri: ‘Dengan
penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, Ānanda, Sang Bodhisatta muncul di alam
surga Tusita.’ Bahwa [120] dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan Sang
Bodhisatta muncul di alam surga Tusita. Ini kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Perihal kalimat “Sang
Bodhisatta muncul di alam surga Tusita.’” Ini merujuk pada kelahiran
kembali Sang Bodhisatta di alam surga Tusita, setelah kehidupannya di alam
manusia sebagai Vessantara dan sebelum kelahirannya di alam manusia sebagai
Siddhattha Gotama.]
4. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian
dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta berada di alam surga Tusita.’ Ini juga
kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
5. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Sang Bodhisatta berada
di alam surga Tusita selama panjang umur kehidupan penuh.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
6. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Dengan penuh perhatian
dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta meninggal dunia dari alam surga Tusita
dan masuk ke dalam rahim ibuNya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
7. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
meninggal dunia dari alam surga Tusita dan masuk ke dalam rahim ibuNya, suatu cahaya
yang tidak terukur yang melampaui para dewa muncul di dunia ini bersama dengan
para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi ini bersama dengan para petapa dan
brahmana, dengan para pangeran dan rakyatnya. Dan alam ruang antara yang hampa
dan tanpa dasar, kelam, gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan
perkasa, tidak dapat menjangkaunya – cahaya terang yang tidak terukur melampaui
kemegahan para dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali
di sana dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada
makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem
dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya
terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Perihal “alam ruang antara yang
hampa dan tanpa dasar, kelam, gelap gulita”, di antara setiap tiga sistem dunia
terdapat sebuah ruang antara berukuran 8,000 yojana; ini seperti ruang antara
ketiga roda kereta atau mangkuk yang saling bersentuhan. Makhluk-makhluk
terlahir kembali di sana karena melakukan pelanggaran berat terhadap orang tua
mereka atau para petapa dan brahmana baik, atau karena kebiasaan-kebiasaan
jahat seperti membunuh binatang, dan lain-lain.
Perihal “cahaya yang tidak terukur yang melampaui
kemegahan para dewa muncul di dunia ini”, yang kemunculannya pernah membuat
sepuluh ribu sistem dunia bergoyang dan bergoncang dan bergetar, membuat Sang
Buddha patut diberi gelar sebagai “CAHAYA” itu sendiri (LIGHT), bukan “the
Son of Light” juga bukan “utusan dari cahaya”.]
8. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, empat dewa muda datang untuk menjaganya di empat penjuru
agar tidak ada manusia atau bukan-manusia atau siapapun dapat mencelakai Sang
Bodhisatta atau ibuNya.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan
menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Empat dewa adalah Empat Raja Dewa
(para dewa yang menetap di alam surga Empat Raja Dewa).]
9. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral, menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari kebohongan, dan
menghindari anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi
landasan kelengahan.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan
menakjubkan dari Sang Bhagavā. [121]
10. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, tidak ada pikiran indriawi yang muncul pada ibuNya
sehubungan dengan laki-laki, dan ia tidak tersentuh oleh laki-laki manapun yang
memiliki pikiran bernafsu.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
11. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, sang ibu memperoleh kelima utas kenikmatan indria,
dan dengan memilikinya, ia menikmatinya.’ Ini juga kuingat sebagai satu
kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
12. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, tidak ada penderitaan apapun yang muncul pada sang
ibu; ia bahagia dan bebas dari kelelahan jasmani. Ia melihat Sang Bodhisatta di
dalam rahimnya dengan seluruh bagian-bagian tubuhnya, lengkap dengan
organ-organ indria. Misalkan terdapat seutas benang berwarna biru, kuning,
merah, putih, atau cokelat menembus mengikat sebuah permata beryl yang indah
sebening air yang Pāling jernih, bersisi-delapan, dipotong dengan baik, dan seseorang
yang berpenglihatan baik, memegangnya dengan tangannya, mengamatinya sebagai
berikut: “Ini adalah permata beryl yang indah sebening air yang Pāling jernih,
bersisi-delapan, dipotong dengan baik, jernih dan cemerlang, memiliki segala kualitas
baik, dan seutas benang berwarna biru, kuning, merah, putih, atau cokelat
menembus mengikatnya.” Demikian pula, ketika Sang Bodhisatta telah memasuki
rahim ibuNya ... lengkap dengan organ-organ indria.’ Ini juga kuingat sebagai
satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [122]
13. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Tujuh hari setelah
kelahiran Sang Bodhisatta, sang ibu meninggal dunia dan muncul kembali di alam
surga Tusita.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan
menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar : Ibu dari Sang Bodhisatta meninggal
dunia dan muncul kembali di alam surga Tusita, hal itu terjadi bukan karena
kegagalan dalam persalinan, melainkan karena habisnya umur kehidupannya; karena
tempat (di dalam rahim) yang ditempati oleh Sang Bodhisatta, yang menyerupai
kamar bagian dalam dari sebuah cetiya, tidak dapat digunakan oleh orang lain.]
14. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Para perempuan lain
melahirkan setelah mengandung anaknya dalam rahim selama sembilan atau sepuluh
bulan, tetapi tidak demikian dengan ibu Sang Bodhisatta. Ibu Sang Bodhisatta
melahirkanNya setelah mengandungNya selama tepat sepuluh bulan.’ Ini juga
kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
15. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ’Para perempuan lain
melahirkan dalam posisi duduk atau berbaring, tetapi tidak demikian dengan ibu
Sang Bodhisatta. Ibu Sang Bodhisatta melahirkanNya dalam posisi berdiri.’ Ini
juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang
Bhagavā.
16. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, pertama-tama para dewa menerimaNya, kemudian manusia.’
Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang
Bhagavā.
17. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, Beliau tidak menyentuh tanah. Empat dewa muda menerimanya
dan mengangkatnya di depan sang ibu dengan mengatakan: “Bergembiralah, O Ratu,
seorang putera dengan kekuasaan luar biasa telah engkau lahirkan.”’ Ini juga
kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
18. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, Beliau keluar dalam keadaan bersih, tidak berlumuran [123]
air atau cairan atau darah atau kotoran apapun juga, bersih, dan tanpa noda.
Misalkan terdapat sebutir permata yang diletakkan di atas sehelai kain Kāsi,
maka permata itu tidak mengotori kain atau kain mengotori permata. Mengapakah? Karena
kemurnian keduanya. Demikian pula Sang Bodhisatta keluar ... bersih, dan tanpa
noda.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari
Sang Bhagavā.
19. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibuNya, dua pancuran air memancar dari angkasa, satu sejuk
dan satu hangat, untuk memandikan Sang Bodhisatta dan ibuNya.’ Ini juga kuingat
sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
20. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Segera setelah Sang
Bodhisatta lahir, Beliau berdiri tegak dengan kaki menginjak tanah; kemudian
Beliau berjalan tujuh langkah ke arah utara, dan dengan payung putih memayungiNya,
Beliau mengamati tiap-tiap penjuru dan mengucapkan kata-kata seorang Pemimpin
Kelompok: “Akulah yang tertinggi di dunia; Akulah yang terbaik di dunia; Akulah
yang terkemuka di dunia. Inilah kelahiranKu yang terakhir; sekarang tidak ada
lagi penjelmaan baru bagiKu.”’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
[Kitab Komentar menjelaskan masing-masing aspek dari
peristiwa ini sebagai simbol dari pencapaian Sang Buddha kelak. Demikianlah,
berdiri pada kedua kakinya (pāda) dengan tegak di atas tanah adalah
simbol dari pencapaian empat landasan kekuatan batin (iddhipāda); Beliau
menghadap ke utara, melambangkan Beliau mengarah ke atas dan melampaui banyak
makhluk; tujuh langkahNya, melambangkan Beliau memperoleh tujuh faktor
pencerahan sempurna; payung putih, melambangkan Beliau memperoleh payung
kebebasan; mengamati segala penjuru, melambangkan Beliau memperoleh pengetahuan
kemahatahuan yang tanpa halangan; mengucapkan kata-kata seorang Pemimpin
Kelompok, melambangkan Beliau memutar Roda Dhamma yang tidak bisa dihalangi;
pernyataan “Inilah kelahiranKu yang terakhir,” melambangkan Beliau meninggal
dunia dan memasuki unsur Nibbāna tanpa sisa (dari faktor-faktor kehidupan).]
21. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para dewa
muncul di dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, dalam generasi
ini bersama dengan para petapa dan brahmana, dengan para pangeran dan
rakyatnya. Dan bahkan alam ruang antara yang hampa dan tanpa dasar, kelam,
gelap gulita, di mana bulan dan matahari, yang kuat dan perkasa, tidak dapat
menjangkaunya – [124] cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para
dewa juga muncul di sana. Dan makhluk-makhluk yang terlahir kembali di sana
dapat saling melihat karena cahaya itu: “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk
lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini
bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang
yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.’ Bahwa ketika Sang Bodhisatta
keluar dari rahim ibunya, suatu cahaya yang tidak terukur yang melampaui para
dewa ... Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan
dari Sang Bhagavā.”
22. “Karena itu, Ānanda, ingatlah ini juga sebagai kualitas mengagumkan
dan menakjubkan dari Sang Tathāgata: Di sini, Ānanda, bagi Sang Tathāgata
perasaan-perasaan dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada
saat lenyapnya; persepsi-persepsi dikenali pada saat munculnya, pada saat
berlangsungnya, pada saat lenyapnya; pikiran-pikiran dikenali pada saat
munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya. Ingatlah ini juga,
Ānanda, sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.”
[Kitab Komentar : Pernyataan “dikenali pada saat
munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya” ini tampaknya
adalah cara Sang Buddha dalam menilai kualitas yang Beliau anggap sebagai yang
sungguh-sungguh mengagumkan dan menakjubkan.]
23. “Yang Mulia, karena bagi Sang Bhagavā perasaan-perasaan dikenali pada
saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada saat lenyapnya;
persepsi-persepsi dikenali pada saat munculnya, pada saat berlangsungnya, pada
saat lenyapnya; pikiran-pikiran dikenali pada saat munculnya, pada saat
berlangsungnya, pada saat lenyapnya - Ini juga kuingat sebagai satu kualitas
mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.”
Ini adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Ānanda. Sang Guru
menyetujuinya. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Yang
Mulia Ānanda.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, tanyakan kepada diri Anda sendiri
dan jawablah secara jujur, apalah yang mengagumkan dari ajaran islam bagi umat
muslim, atau justru membuat mereka tampak memuakkan dan menjijikkan karena KOTOR-TERCELA-TERNODA?—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” mampu membuat para umatnya atau dirinya
sendiri setara seperti kelahiran Pangeran Gotama, “Ketika Sang Bodhisatta
telah memasuki rahim ibuNya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral,
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang
tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria,
menghindari kebohongan, dan menghindari anggur, minuman keras, dan minuman
memabukkan, yang menjadi landasan kelengahan”, ataukah sebaliknya, “nabi
rasul Allah” justru kian tergila-gila pada dosa dan maksiat setelah menjadi “rasul
Allah” dan menyebarkan islam—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]