Berbuat Dosa dan Maksiat, artinya Bersekutu dengan IBLIS. Mana Mungkin Tuhan akan Menghapus Dosa-Dosa Manusia yang Kecanduan Dosa dan Maksiat alias Bersekutu dengan IBLIS
Question : Ada nabi di agama samawi, yang hendak menghakimi dan menggurui pendosa lainnya, sementara ia sendiri mabuk dan kecanduan-berat ritual doa “pengampunan dosa”. Bukankah antara “berbuat dosa-dosa” dan “ritual pengampunan dosa” sifatnya saling bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter tanpa dapat dipisahkan?
Brief
Answer : Berbuat dosa maupun
maksiat, artinya bersekutu dengan IBLIS. Sehingga, atas dasar narasi maupun
logika berpikir apakah, Tuhan akan menghapus dosa-dosa seseorang yang bersekutu
dengan IBLIS karena kecanduan dosa-dosa dan maksiat? Kecanduan ritual “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” sama artinya kecanduan dosa-dosa dan maksiat,
karena keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Itulah sebabnya,
puluhan nabi telah diturunkan oleh Allah ke bumi, namun telah ternyata tiada
satupun maksiat yang berhasil diberantas dari muka bumi oleh seluruh nabi berjumlah
puluhan tersebut, tanya mengapa?
Karena
tidak lain tidak bukan Allah butuh dosa-dosa dan maksiat, agar umat manusia
terjebak dan terjerumus mabuk serta kecanduan-berat ritual “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins) sehingga rela menggadaikan jiwanya demi iman setebal tembok beton
yang tidak tembus oleh cahaya ilahi apapun. Yang paling mengherankan dari dogma
agama samawi, ialah bahwa mereka lebih sibuk kecanduan ritual “PENGHAPUSAN
DOSA” alih-alih memperbaiki diri agar memiliki gaya hidup higienis dari dosa
maupun maksiat, ataupun menggunakan sumber daya waktu yang ada untuk
bertanggung-jawab terhadap korban-korban yang telah pernah mereka sakiti,
lukai, maupun rugikan.
Sekalipun
seribu kali mereka ritual dalam sehari, seumur hidupnya, itu semua adalah
kesia-siaan, mengingat tetap saja faktanya mereka adalah “KORUPTOR DOSA” dimana
dosa-dosa pun mereka korupsi. Yang tidak menjalani ritual “PENGHAPUSAN DOSA”
namun berlatih dalam disiplin diri yang ketat bernama “self-control”
maupun para ksatriawan yang berjiwa ksatria karena berani mengambil
tanggung-jawab dan menghadapi konsekuensi atas perbuatan-perbuatannya sendiri,
adalah jauh lebih besar buah positifnya. Bersekutu dengan IBLIS (PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA), namun berdelusi hendak menggurui manusia lainnya
perihal moralitas? Pendosa, namun hendak menceramahi pendosawan lainnya perihal
kebaikan dan kesucian? Sang Buddha memberi julukan kaum demikian sebagai “orang
buta yang sedang menuntun orang buta lainnya”, dengan kutipan sebagai berikut:
“Misalkan
terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan dengan yang
berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang
terakhir tidak melihat. Demikian pula, murid, sehubungan dengan pernyataan
mereka, para brahmana itu tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama
tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.”
“Sekarang
ada lima utas kenikmatan indria ini, murid. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang
dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang
dikenali oleh telinga yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Bau-bauan yang
dikenali oleh hidung yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Rasa kecapan yang
dikenali oleh lidah yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Objek-objek sentuhan
yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas
kenikmatan indria. Brahmana Pokkharasāti terikat pada kelima utas kenikmatan
indria ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya menjalaninya; ia menikmatinya
tanpa melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan membebaskan diri darinya.
Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia – ini adalah
tidak mungkin.”
“Adalah
tidak mungkin, murid, tidak dapat terjadi api menyala tanpa bergantung pada
bahan bakar seperti rumput dan kayu kecuali dengan [pengerahan] kekuatan batin.
Yang seperti api yang menyala dengan bergantung pada bahan bakar seperti rumput
dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang bergantung pada kelima utas
kenikmatan indria. Yang seperti api yang menyala tanpa bergantung pada bahan
bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang terpisah dari
kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Dan apakah,
murid, sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat? Di sini, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari keterasingan. Ini adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria,
terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Kemudian, dengan menenangkan
awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam
jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi. Ini juga adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan
indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat.”
PEMBAHASAN:
Umat
agama samawi maupun nabi yang mereka junjung, ibarat orang buta, namun hendak
menuntun para butawan lainnya, neraka pun mereka pandang sebagai surga dan
berbondong-bondong terperosok masuk ke dalam jurang gelap tersebut.
Selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang
Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle
Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 99 ~
Subha
Sutta : Kepada Subha
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu murid brahmana Subha, putera Todeyya, sedang menetap di
rumah seorang perumah-tangga di Sāvatthī untuk suatu urusan. Kemudian murid
brahmana Subha, putera Todeyya, bertanya kepada si perumah-tangga yang menjadi
tuan rumahnya: “Perumah-tangga, aku mendengar bahwa Sāvatthī tidak kosong dari
para Arahant. Petapa atau brahmana manakah yang dapat kami kunjungi hari ini
untuk memberikan penghormatan?”
[Kitab Komentar : Todeyya adalah seorang brahmana
kaya, penguasa Tudigāma, sebuah desa di dekat Sāvatthī. Majjhima Nikāya 135
juga dibabarkan kepada Subha yang sama ini.]
“Tuan, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman
Anāthapiṇḍika. Engkau boleh memberikan penghormatan kepada
Sang Bhagavā itu, Tuan.” [197]
3. Kemudian, setelah menyetujui saran si perumah-tangga, murid brahmana
Subha, putera Todeyya, mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan
Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan bertanya
kepada Sang Bhagavā:
4. “Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut:
‘Perumah-tangga menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.
Seorang yang meninggalkan keduniawian [menuju kehidupan tanpa rumah] tidak menyempurnakan
jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.’ Apakah yang Guru Gotama katakan
sehubungan dengan hal ini?”
“Murid,
Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis; aku tidak mengatakan ini secara
sepihak. Aku tidak memuji jalan praktik yang salah baik di pihak perumah-tangga
maupun seorang yang meninggalkan keduniawian; karena apakah seorang
perumah-tangga ataupun seorang yang meninggalkan keduniawian, ia yang memasuki
jalan praktik yang salah, karena jalan praktiknya yang salah, maka ia tidak
menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. Aku memuji jalan praktek
yang benar baik di pihak perumah-tangga maupun seorang yang meninggalkan
keduniawian; karena baik seorang perumah-tangga ataupun seorang yang
meninggalkan keduniawian, ia yang memasuki jalan praktik yang benar, karena
jalan praktiknya yang benar, maka ia menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma
yang bermanfaat.”
[Kitab Komentar : Vibhajjavādo kho aham ettha,
“Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis”. Pernyataan ini menjelaskan
sebutan belakangan dari Buddhisme sebagai vibhajjavāda, “doktrin analisis.” Seperti yang dijelaskan dalam konteks ini, Sang
Buddha menyebut dirinya sebagai seorang vibbhajjavādin, bukan karena
Beliau menganalisis segala sesuatu ke dalam unsur-unsurnya (seperti yang
dipercayai secara umum), tetapi karena Beliau membedakan implikasi yang
berbeda dari suatu pertanyaan tanpa menjawabnya secara sepihak.]
5. “Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Karena
pekerjaan dalam kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak
fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, maka berbuah besar. Karena
pekerjaan dari mereka yang meninggalkan keduniawian melibatkan sedikit aktivitas,
sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, maka berbuah
kecil.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”
“Sekali
lagi, murid, Aku mengatakan hal ini setelah menganalisis; aku tidak mengatakan
ini secara sepihak. Ada pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas, banyak
fungsi, banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, yang, jika gagal, maka
berbuah kecil. Ada pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi,
banyak keterlibatan, dan banyak pelaksanaan, yang, jika berhasil, maka berbuah
besar. Ada pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit
keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, yang, jika gagal, maka berbuah kecil.
Ada pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit
keterlibatan, dan sedikit pelaksanaan, yang, jika berhasil, maka berbuah besar.
6. “Apakah,
[198] murid, pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang, jika gagal,
maka berbuah kecil? Pertanian adalah pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas
… yang jika gagal, maka berbuah kecil. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan
banyak aktivitas … yang, jika berhasil, maka berbuah besar? Pertanian juga
adalah pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … yang jika berhasil, maka
berbuah besar. Dan apakah, murid, pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas …
yang, jika gagal, maka berbuah kecil? Perdagangan adalah pekerjaan yang melibatkan
sedikit aktivitas … yang jika gagal, maka berbuah kecil. Dan apakah, murid,
pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … yang, jika berhasil, maka berbuah
besar? Perdagangan juga adalah pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas …
yang jika berhasil, maka berbuah besar.
[Kitab Komentar : Jelas pada masa itu perdagangan
masih dalam tahap awal perkembangan. Pernyataan yang sama sulit untuk
diberlakukan pada konteks masa kini, ketika perdagangan telah melibatkan “padat
modal” maupun “padat karya”. Akan tetapi bila kita bandingkan secara
proporsional, pertanian tradisional hanya dapat diperbandingkan dengan
perdagangan tradisional yang konvensional.]
7. “Seperti
halnya pertanian, murid, yang merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak
aktivitas … tetapi berbuah kecil jika gagal, demikian pula pekerjaan dalam
kehidupan rumah tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan,
dan banyak pelaksanaan, tetapi berbuah kecil jika gagal. Seperti halnya
pertanian yang merupakan pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas … dan
berbuah besar jika berhasil, demikian pula pekerjaan dalam kehidupan rumah
tangga melibatkan banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak keterlibatan, dan
banyak pelaksanaan dan berbuah besar jika berhasil. Seperti halnya perdagangan,
murid, yang merupakan pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … dan berbuah
kecil jika gagal, demikian pula pekerjaan dari mereka yang meninggalkan keduniawian
melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan, dan sedikit
pelaksanaan, dan berbuah kecil jika gagal. Seperti halnya perdagangan yang
merupakan pekerjaan yang melibatkan sedikit aktivitas … tetapi berbuah besar
jika berhasil, demikian pula [199] pekerjaan dari mereka yang meninggalkan
keduniawian melibatkan sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan,
dan sedikit pelaksanaan, tetapi berbuah besar jika berhasil.”
8. “Guru Gotama, para brahmana menetapkan lima hal bagi pelaksanaan
kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”
“Jika tidak merepotkan engkau, murid, silahkan sebutkan pada kumpulan ini
kelima hal yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat.”
“Tidak merepotkan bagiku, Guru Gotama, ketika Yang Mulia seperti Engkau
dan yang lainnya sedang duduk [dalam kumpulan ini].”
“Maka sebutkanlah, murid.”
9. “Guru Gotama, kebenaran adalah hal pertama yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Pertapaan adalah hal ke dua … Kehidupan
selibat adalah hal ke
tiga … Belajar adalah hal ke empat … Kedermawanan adalah hal ke lima yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat. Ini
adalah lima hal yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk
menyempurnakan yang bermanfaat. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan
dengan hal ini?”
“Bagaimanakah, murid, di antara para brahmana adakah bahkan seorang
brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima
hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung’?”
– “Tidak, Guru Gotama.”
[Kitab Komentar : Seperti pada Majjhima Nikāya 95.13,
Cankī Sutta, suatu diskusi antara Bhāradvāja dan Sang Buddha, dengan kutipan
sebagai berikut:
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana
adakah bahkan seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini
yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para
brahmana adakah bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh
generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini
yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimanakah, Bhāradvāja, para petapa brahmana masa
lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian,
yang syair-syair pujiannya dulu dibacakan, diucapkan, dan dihimpun, yang oleh
para brahmana sekarang masih dibacakan dan diulangi – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva, Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu - apakah bahkan para petapa brahmana masa
lampau ini mengatakan sebagai berikut: ‘Aku
mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – [170] “Tidak, Guru Gotama.”
“Jadi,
Bhāradvāja, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang
brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini:
hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan di antara para brahmana
tidak ada bahkan seorang guru atau guru dari para guru sampai tujuh generasi
para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku
melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’ Dan para petapa
brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair
syair pujian … bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan
sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar,
yang lainnya adalah salah.’ Misalkan terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan
dengan yang berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak
melihat, dan yang terakhir tidak melihat. Demikian pula, Bhāradvāja,
sehubungan dengan pernyataan mereka, para
brahmana itu tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama tidak
melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.
Bagaimana menurutmu, Bhāradvāja, oleh karena itu, apakah keyakinan para
brahmana itu terbukti tidak berdasar?”]
“Bagaimanakah,
murid, di antara para brahmana adakah bahkan seorang guru atau guru dari para
guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan sebagai berikut:
‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku
sendiri dengan pengetahuan langsung’?” – “Tidak, Guru Gotama.” [200]
“Bagaimanakah,
murid, para petapa brahmana masa lampau, para pencipta syair-syair pujian, para
penggubah syair-syair pujian, yang syair-syair pujiannya dulu dibacakan,
diucapkan, dan dihimpun, yang oleh para brahmana sekarang masih dibacakan dan
diulangi – yaitu, Aṭṭhaka, Vāmaka, Vāmadeva,
Vessāmitta, Yamataggi, Angirasa, Bhāradvāja, Vāseṭṭha, Kassapa, dan Bhagu -
apakah bahkan para petapa brahmana masa lampau ini mengatakan sebagai berikut:
‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku
sendiri dengan pengetahuan langsung’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Jadi, murid, sepertinya di antara para brahmana tidak ada bahkan
seorang brahmana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari
kelima hal ini setelah mencapainya oleh diriku sendiri dengan pengetahuan
langsung.’ Dan di antara para brahmana tidak ada bahkan seorang guru
atau guru dari para guru sampai tujuh generasi para guru sebelumnya yang mengatakan
sebagai berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya
oleh diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Dan para petapa brahmana masa
lampau, para pencipta syair-syair pujian, para penggubah syair-syair pujian …
bahkan para petapa brahmana masa lampau ini tidak mengatakan sebagai
berikut: ‘Aku menyatakan akibat dari kelima hal ini setelah mencapainya oleh
diriku sendiri dengan pengetahuan langsung.’ Misalkan
terdapat sebaris orang buta yang masing-masing bersentuhan dengan yang
berikutnya: orang pertama tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang
terakhir tidak melihat. Demikian pula, murid, sehubungan dengan pernyataan
mereka, para brahmana itu tampak seperti sebaris orang buta itu: orang pertama
tidak melihat, yang di tengah tidak melihat, dan yang terakhir tidak melihat.”
10. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya,
menjadi marah dan tidak senang dengan perumpamaan sebaris orang buta itu, dan
ia mencaci, menghina, dan mencela Sang Bhagavā, dengan mengatakan: “Petapa
Gotama akan dikalahkan.” Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama,
Brahmana Pokkharasāti dari suku Upamaññā, penguasa Hutan Subhaga, berkata
sebagai berikut: ‘Beberapa petapa dan brahmana di sini mengaku telah mencapai
kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya
para mulia. Tetapi apa yang mereka katakan [201] terbukti menggelikan; terbukti
hanya sekadar kata-kata, kosong dan hampa. Karena bagaimana mungkin seorang
manusia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi yang melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia? Itu adalah
tidak mungkin.’”
[Kitab Komentar : Pernyataan tersebut pasti terjadi sebelum
Pokkharasāti menjadi seorang pengikut Sang Buddha, seperti disebutkan pada
Majjhima Nikāya 95.9.]
11. “Bagaimanakah,
murid, apakah Brahmana Pokkharasāti memahami pikiran semua petapa dan brahmana,
setelah melingkupi pikiran mereka dengan pikirannya sendiri?”
“Guru Gotama, Brahmana
Pokkharasāti bahkan tidak memahami pikiran budak perempuannya Puṇṇikā, setelah melingkupinya
dengan pikirannya sendiri, jadi bagaimana mungkin ia memahami pikiran semua
petapa dan brahmana itu?”
12. “Murid,
misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat
bentuk-bentuk yang gelap dan terang, yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk
berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda, yang tidak dapat melihat apa
yang rata dan tidak rata, yang tidak dapat melihat bintang-bintang atau
matahari dan bulan. Ia mungkin berkata sebagai berikut: ‘Tidak ada bentuk-bentuk
yang gelap dan terang, tidak ada seorangpun yang melihat bentuk-bentuk yang
gelap dan terang; tidak ada bentuk-bentuk yang berwarna biru, kuning, merah,
atau merah muda, dan tidak ada seorangpun yang melihat bentuk-bentuk yang
berwarna biru, kuning, merah, atau merah muda tidak ada yang rata dan tidak
rata, dan tidak ada seorangpun yang melihat apa yang rata dan tidak rata; tidak
ada bintang-bintang dan tidak ada matahari dan bulan, dan tidak ada seorangpun
yang melihat bintang-bintang atau matahari dan bulan. Aku tidak mengetahui hal-hal
ini, aku tidak melihat hal-hal ini, oleh karena itu hal-hal ini tidak ada.’
Dengan berkata demikian, murid, apakah ia mengatakan yang sebenarnya?”
“Tidak, Guru Gotama. Ada bentuk-bentuk yang gelap dan terang, dan ada orang-orang yang melihat bentuk-bentuk yang gelap
dan terang … ada bintang-bintang dan ada matahari dan bulan, dan ada orang-orang yang dapat melihat bintang-bintang atau
matahari dan bulan. [202] Dengan mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui hal-hal
ini, aku tidak melihat hal-hal ini, oleh karena itu hal-hal ini tidak ada,’
maka ia tidak mengatakan yang sebenarnya.”
13. “Demikian
pula, murid, Brahmana Pokkharasāti adalah buta dan tidak berpenglihatan. Bahwa
ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi yang melampaui manusia, keluhuran
dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia – ini adalah tidak
mungkin. Bagaimana
menurutmu, murid? Apakah yang lebih baik bagi para brahmana kaya dari Kosala seperti
Brahmana Cankī, Brahmana Tārukkha, Brahmana Pokkharasāti, Brahmana Jāṇussoṇi, atau ayahmu, Brahmana Todeyya – bahwa pernyataan mereka
selaras dengan konvensi duniawi atau melawan konvensi duniawi?” – “Bahwa pernyataan mereka selaras dengan konvensi
duniawi, Guru Gotama.”
“Apakah yang lebih baik bagi mereka, bahwa pernyataan mereka adalah penuh
pertimbangan atau tanpa pertimbangan?” – “Penuh pertimbangan, Guru Gotama.” – “Apakah yang lebih baik
bagi mereka, bahwa mereka membuat pernyataan setelah merenungkan atau tanpa
perenungan?” – “Setelah merenungkan, Guru Gotama.” – “Apakah
yang lebih baik bagi mereka, bahwa pernyataan yang mereka buat adalah
bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Bermanfaat, Guru Gotama.”
14. “Bagaimana
menurutmu, murid? Kalau begitu, apakah pernyataan yang dibuat oleh Brahmana
Pokkharasāti selaras dengan konvensi duniawi atau melawan konvensi duniawi?” – “Pernyataannya
melawan konvensi duniawi, Guru Gotama.” – “Apakah
pernyataan itu dibuat dengan penuh pertimbangan atau tanpa pertimbangan?” – “Tanpa
pertimbangan, Guru
Gotama.” – “Apakah
pernyataan itu dibuat setelah direnungkan atau tanpa perenungan?” – “Tanpa
perenungan, Guru
Gotama.” – “Apakah pernyataan yang dibuat itu bermanfaat atau tidak
bermanfaat?” – “Tidak
bermanfaat, Guru
Gotama.” [203]
15. “Sekarang
ada lima rintangan ini, murid. Apakah lima ini? Rintangan keinginan indria,
rintangan permusuhan, rintangan kelambanan dan ketumpulan, rintangan
kegelisahan dan penyesalan, dan rintangan keragu-raguan. Ini adalah lima rintangan.
Brahmana Pokkharasāti terhalangi, terintangi, terganjal, dan terselubung oleh
kelima rintangan ini. Bahwa ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai
kondisi melampaui manusia, keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya
para mulia – ini adalah tidak mungkin.
16. “Sekarang
ada lima utas kenikmatan indria ini, murid. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang
dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang
dikenali oleh telinga yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Bau-bauan yang
dikenali oleh hidung yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Rasa kecapan yang
dikenali oleh lidah yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Objek-objek sentuhan yang
dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai,
terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas
kenikmatan indria. Brahmana Pokkharasāti terikat pada kelima utas kenikmatan indria
ini, tergila-gila padanya dan sepenuhnya menjalaninya; ia menikmatinya tanpa
melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan membebaskan diri darinya. Bahwa
ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia – ini adalah
tidak mungkin.
17. “Bagaimana
menurutmu, murid? Yang manakah dari kedua api ini yang memiliki kobaran, warna,
dan cahaya [yang lebih baik] – api yang menyala dengan bergantung pada bahan bakar,
seperti rumput dan kayu, atau api yang menyala tanpa bergantung pada bahan
bakar, seperti rumput dan kayu?”
“Jika
memungkinkan, Guru Gotama, bagi api untuk menyala tanpa bergantung pada bahan
bakar seperti rumput dan kayu, maka api itu akan memiliki kobaran, warna, dan
cahaya [yang lebih baik].”
“Adalah
tidak mungkin, murid, tidak dapat terjadi api menyala tanpa bergantung pada
bahan bakar seperti rumput dan kayu kecuali dengan [pengerahan] kekuatan batin.
Yang seperti api yang menyala dengan bergantung pada bahan bakar seperti rumput
dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita [204] yang bergantung pada kelima utas
kenikmatan indria. Yang seperti api yang menyala tanpa bergantung pada bahan
bakar seperti rumput dan kayu, Aku katakan, adalah sukacita yang terpisah dari
kenikmatan indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Dan apakah,
murid, sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria, terpisah dari
kondisi-kondisi tidak bermanfaat? Di sini, dengan cukup terasing dari
kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang
bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran
dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari
keterasingan. Ini adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan indria,
terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Kemudian, dengan menenangkan
awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam
jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal
pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul
dari konsentrasi. Ini juga adalah sukacita yang terpisah dari kenikmatan
indria, terpisah dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat.
18. “Dari
kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan
kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, yang manakah dari kelima itu
yang mereka tetapkan sebagai yang Pāling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat?”
“Dari kelima hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana
bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, mereka
menetapkan kedermawanan sebagai yang Pāling berbuah bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”
19. “Bagaimana
menurutmu, murid? Di sini seorang brahmana mungkin sedang mengadakan upacara
pengorbanan besar, dan dua brahmana lainnya pergi ke sana dengan pikiran untuk berpartisipasi
dalam upacara besar tersebut. Salah satu brahmana itu berpikir: ‘Oh, semoga
hanya aku yang mendapatkan tempat duduk terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik
di ruang makan; semoga tidak ada brahmana lain yang mendapatkan tempat duduk
terbaik, air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan!’ Dan adalah mungkin
bahwa brahmana lainnya, bukan brahmana itu, mendapatkan tempat duduk terbaik,
air terbaik, dan makanan terbaik di ruang makan. Karena memikirkan hal ini,
[205] brahmana pertama menjadi marah dan tidak senang. Jenis akibat apakah yang
dijelaskan oleh para brahmana untuk hal ini?”
“Guru Gotama, para brahmana tidak memberikan persembahan dengan cara itu,
dengan berpikir: ‘Semoga orang lain menjadi marah dan tidak senang karena hal
ini.’ Sebaliknya, para brahmana memberikan persembahan karena didorong oleh belas
kasih.”
“Oleh
karena itu, murid, tidakkah ini menjadi landasan ke enam para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, yaitu, dorongan belas kasih?”
[Komentar : Berderma ialah perbuatan lahiriah, akan
tetapi faktor kualitasnya penentunya terletak pada niat batin sang pelaku,
apakah murni demi belas kasih ataukah untuk kemasyuran.]
“Oleh
karena itu, Guru Gotama, itu adalah landasan ke enam para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, yaitu, dorongan belas kasih.”
20. “Kelima
hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat – di manakah engkau lebih sering melihat
kelima hal tersebut, pada para perumah-tangga atau pada mereka yang meninggalkan
keduniawian?”
“Kelima
hal itu, Guru Gotama, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan
kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, aku lebih sering melihatnya
pada mereka yang meninggalkan keduniawian, jarang terlihat pada para perumah-tangga.
Karena perumah-tangga memiliki banyak aktivitas, banyak fungsi, banyak
keterlibatan, dan banyak pelaksanaan: ia tidak secara konstan dan senantiasa
mengucapkan kebenaran, mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat, menekuni
pelajaran, atau menekuni kedermawanan. Tetapi seseorang yang meninggalkan
keduniawian memiliki sedikit aktivitas, sedikit fungsi, sedikit keterlibatan,
dan sedikit pelaksanaan: ia secara konstan dan senantiasa mengucapkan kebenaran,
mempraktikkan pertapaan, menjalani kehidupan selibat, menekuni pelajaran, dan
menekuni kedermawanan. Demikianlah kelima hal itu, yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, aku
lebih sering melihatnya pada mereka yang meninggalkan keduniawian, jarang
terlihat pada para perumah-tangga.”
21. “Kelima hal itu, murid, yang ditetapkan oleh para brahmana bagi
pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat, [206] Aku
menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran
yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan. Di sini, murid, seorang bhikkhu
adalah seorang yang mengatakan kebenaran. Dengan berpikir, ‘Aku adalah seorang
yang mengatakan kebenaran,’ ia mendapatkan inspirasi dalam makna, mendapatkan
inspirasi dalam Dhamma, mendapatkan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma.
Adalah
kegembiraan yang berhubungan dengan yang bermanfaat itu yang Kusebut sebagai
perlengkapan pikiran. Di
sini, murid, seorang bhikkhu adalah seorang petapa … seorang yang menjalani
kehidupan selibat … seorang yang menekuni pelajaran … seorang yang menekuni
kedermawanan. Dengan berpikir, ‘Aku adalah seorang yang menekuni kedermawanan,’
ia mendapatkan inspirasi dalam makna, mendapatkan inspirasi dalam Dhamma,
mendapatkan kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Adalah kegembiraan yang
berhubungan dengan yang bermanfaat itu yang Kusebut sebagai perlengkapan
pikiran. Demikianlah
Kelima hal itu yang ditetapkan oleh para brahmana bagi pelaksanaan kebajikan,
untuk menyempurnakan yang bermanfaat, Aku menyebutnya sebagai
perlengkapan pikiran, yaitu, untuk mengembangkan pikiran yang tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan.”
22. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya,
berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa
Gotama mengetahui jalan menuju alam-Brahma.”
“Bagaimana menurutmu, murid? Apakah desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini?”
“Ya, Tuan, desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini.”
“Bagaimana
menurutmu, murid? Misalkan ada seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa
Naḷakāra, dan segera
setelah ia meninggalkan Naḷakāra mereka menanyakan
kepadanya tentang jalan menuju desa itu. Apakah orang itu akan lambat atau ragu-ragu
dalam menjawabnya?”
“Tidak,
Guru Gotama. Mengapakah? Karena orang itu dilahirkan dan dibesarkan di Naḷakāra, dan mengenal
dengan baik semua jalan menuju desa itu.”
“Bagaimanapun
juga, seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa Naḷakāra [207] mungkin
saja lambat atau ragu-ragu dalam menjawab ketika ditanya tentang jalan menuju desa
itu, tetapi seorang Tathāgata, ketika ditanya tentang alam-Brahma atau jalan
menuju alam-Brahma, tidak akan pernah lambat atau ragu-ragu dalam menjawab. Aku
memahami Brahmā, murid, dan Aku memahami alam-Brahma, dan Aku memahami jalan
menuju alam-Brahma, dan Aku memahami bagaimana seseorang berlatih agar muncul
kembali di alam-Brahma.”
[Kitab Komentar : Pengetahuan ini berhubungan dengan
kekuatan Sang Tathāgata yang ke tiga, mengetahui jalan-jalan menuju segala alam
tujuan kelahiran. Baca Majjhima Nikāya 12.12.]
23. “Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama mengajarkan
jalan menuju alam Brahma. Baik
sekali jika Guru Gotama sudi mengajarkan kepadaku jalan menuju alam-Brahmā.”
“Maka, murid, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”
“Baik, Tuan,” ia menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
24. “Apakah,
murid, jalan menuju alam-Brahmā? Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan
meliputi satu arah dengan pikiran penuh cinta kasih, demikian pula arah ke dua,
demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; seperti ke atas, demikian
pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala arah, dan kepada semua makhluk
seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh penjuru
dunia dengan pikiran penuh cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan. Ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih
dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap
di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup trompet yang
kuat dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan, demikian
pula, ketika kebebasan pikiran melalui cinta kasih dikembangkan dengan cara
ini, tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang
bertahan di sana. Ini adalah jalan menuju alam-Brahmā.
[Kitab Komentar menjelaskan perbuatan yang membatasi
(pamāṇakataṁ kammaṁ) sebagai kamma yang berhubungan dengan alam
indria (kāmāvacara). Ini berlawanan dengan perbuatan tanpa batas atau
perbuatan tidak terukur, yaitu, jhāna-jhāna yang berhubungan dengan alam
bermateri-halus atau alam tanpa-materi. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah brahmavihāra
yang dikembangkan hingga tingkat-tingkat jhāna.
Ketika jhāna yang berhubungan dengan alam
bermateri-halus atau alam tanpa-materi dicapai dan dikuasai, kamma yang
berhubungan dengan alam indria tidak dapat mengalahkannya dan tidak dapat
memperoleh kesempatan untuk menghasilkan akibatnya. Sebaliknya, kamma
yang berhubungan dengan alam bermateri-halus atau alam tanpa-materi mengalahkan
kamma alam-indria dan menghasilkan akibatnya. Dengan menghalangi akibat
dari kamma alam-indria, brahmavihāra yang telah dikuasai menuntun
menuju kelahiran kembali di alam Brahmā.]
25-27. “Kemudian,
seorang bhikkhu berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran penuh belas
kasih ... dengan pikiran penuh kegembiraan altruistik ... dengan pikiran penuh keseimbangan,
demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke
empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala
arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam
dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran penuh keseimbangan,
berlimpah, luhur, [208] tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
Ketika kebebasan pikiran melalui keseimbangan dikembangkan dengan cara ini,
tidak ada perbuatan yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang
bertahan di sana. Bagaikan seorang peniup trompet yang kuat dapat membuat
tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan, demikian pula, ketika
kebebasan pikiran melalui keseimbangan dikembangkan dengan cara ini, tidak ada perbuatan
yang membatasi yang menetap di sana, tidak ada yang bertahan di sana. Ini juga
adalah jalan menuju alam-Brahmā.”
28. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya,
berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru
Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah
Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi,
menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan
agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku
berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Saṅgha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang
umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.
29. “Dan sekarang, Guru Gotama, kami pergi. Kami sibuk dan banyak yang
harus dilakukan.”
“Silahkan engkau pergi, murid.”
Kemudian murid brahmana Subha, putera Todeyya, setelah merasa senang dan
gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah
bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.
30. Pada saat itu Brahmana Jāṇussoṇi sedang berkendara keluar dari Sāvatthī di siang
hari dengan mengendarai kereta yang seluruhnya berwarna putih yang ditarik oleh
kuda-kuda betina putih. Dari kejauhan ia melihat kedatangan si murid brahmana Subha,
putera Todeyya dan bertanya kepadanya: “Dari manakah Guru Bhāradvāja datang di
siang hari ini?”
[Kitab Komentar : Kisah Brahmana Jāṇussoṇi sedang
berkendara keluar dari Sāvatthī, selengkapnya dapat ditemukan dalam Majjhima
Nikāya 27.2, Cūḷahatthipadopama Sutta.]
“Tuan, aku datang dari hadapan Petapa Gotama.”
“Bagaimanakah
menurut Guru Bhāradvāja sehubungan dengan kecemerlangan kebijaksanaan Petapa
Gotama? Apakah Beliau bijaksana atau tidak?” [209]
“Tuan, Siapakah aku yang dapat mengetahui kecemerlangan kebijaksanaan
Petapa Gotama? Hanya
seorang yang setara dengan Beliau yang dapat mengetahui kecemerlangan kebijaksanaan
Petapa Gotama.”
[Komentar : Hanya mereka yang moralitas / tingkat
kesuciannya lebih tinggi atau setara, yang dapat membuat penilaian atas
moralitas orang lain yang juga setara atau lebih rendah, namun tidak pernah
dapat terjadi sebaliknya.]
“Guru Bhāradvāja memuji Petapa Gotama dengan sangat tinggi.”
“Tuan,
siapakah aku yang dapat memuji Petapa Gotama? Petapa Gotama dipuji oleh pujian
sebagai yang terbaik di antara para dewa dan manusia. Tuan, kelima hal itu yang ditetapkan oleh para
brahmana bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat,
Petapa Gotama menyebutnya sebagai perlengkapan pikiran, yaitu, untuk
mengembangkan pikiran yang tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.”
31. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Jāṇussoṇi turun dari kereta putihnya yang ditarik oleh
kuda-kuda betina putih, dan merapikan jubah atasnya di salah satu bahunya, ia
merangkapkan tangannya sebagai penghormatan ke arah Sang Bhagavā dan mengucapkan
seruan ini: “Suatu
keuntungan bagi Raja Pasenadi dari Kosala, sungguh suatu keuntungan besar bagi
Raja Pasenadi dari Kosala bahwa Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan
sempurna, menetap di kerajaannya.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, dimana sang “nabi rasul Allah” terikat pada kelima utas kenikmatan
indria, tergila-gila padanya dan sepenuhnya menjalaninya; ia menikmatinya tanpa
melihat bahaya di dalamnya atau memahami jalan membebaskan diri darinya. Bahwa
ia dapat mengetahui atau melihat atau mencapai kondisi melampaui manusia,
keluhuran dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia – itu
adalah tidak mungkin—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]