Nusantara Identik dengan BUDDHISME, Bukan Islam

Islam Menuntut serta Menikmati Toleransi Beragama ketika masih Minoritas, namun Memberangus Toleransi yang Semula Mereka Nikmati ketika Telah Menjelma Mayoritas [Kitab Sastra Jawa DHARMO GHANDUL]

HUTANG BUDI & HUTANG DARAH Kaum Muslim kepada Leluhur Buddhist di Nusantara : Membalas Toleransi dengan Radikalisme dan Intoleransi

Di Pakistan, situs-situs peninggalan bersejarah peninggalan Buddhisme, berupa patung-patung Buddha raksasa yang diukir di tebing batu, dihancurkan oleh para muslim yang tidak menghargai “akar budaya” bangsanya sendiri. Beruntung, artefak peninggalan era Buddhisme di Nusantara, yakni Borobudur yang memiliki berbagai stupa serta patung Buddha maupun relif kisah-kisah dalam Agama Buddha, terkubur dalam abu vulkanik sehingga tidak turut menjadi korban vandalisme kaum muslim, sehingga kini kita tidak bisa membantah fakta sejarah atau lebih tepatnya meluruskan sejarah, bahwa Nusantara memiliki ikatan erat dengan warisan jiwa maupun prinsip-prinsip Buddhistik sebagai “AKAR”-nya.

Buddhisme telah tumbuh dan mengakar di Nusantara, setidaknya sejak abad ke-5 sampai ke-15 Masehi, sebelum kerajaan-kerajaan yang berhaluan Buddhisme kemudian dijajah oleh Kerajaan Islam Demak yang terhasut oleh ulama muslim dari Arab : “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan  TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.”  [Hadist Tirmidzi No. 2533]

Dengan demikian, satu milenium lamanya Buddhisme menyuburkan baik kesuburan tanah, mentalitas bangsa, serta berbagai kearifan lokal, menjadi akar yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bandingkan dengan kerajaan islam yang baru mulai mendominasi dan menjadi hegemoni di Nusantara, sejak abad ke-15, sebelum kemudian masuknya kolonial Belanda (penjajah) yang membawa masuk agama nasrani—dua agama yang disebut belakangan, merupakan agamanya PENJAJAH namun ironisnya justru dipeluk oleh bangsa jajahan.

Pemenang yang menulis sejarah, yakni kaum muslim dibalik Kerjaan Demak dan penjajah-nasrani. Kini, mereka mencoba mendistorsi fakta sejarah, seolah akar budaya, sosial, serta spiritual leluhur masyarakat di Nusantara bukanlah Buddhisme, seolah Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit bukanlah berakar dari Agama Buddha. Dalam Kitab Sastra Jawa DHARMO GHANDUL, mengingat bangsa kita gemar memplesetkan frasa, Agama Buddha ditulis atau disebut “Agama Budi”, seperti halnya “wali sanggha” diplesetkan oleh kaum muslim menjadi “wali songo” ketika Majapahit dijajah oleh Kerajaan Demak—membalas “air susu” toleransi beragama dengan penjajahan serta pertumpahan darah. Para muslim generasi awal maupun generasi saat kini, memiliki HUTANG DARAH kepada umat Buddhist generasi awal maupun generasi saat kini di Nusantara.

Kitab I-Ching yang ditulis oleh Bangsa Tiongkok, mencatat persebaran Agama Buddha di Sumatera dan di Jawa, dengan pusatnya di Universitas Nalanda-Sumatera, yang dari situ kemudian dibawa ke Tibet menjelma sekte Vajrayana / Tantrayana. Frasa dalam Bahasa Indonesia kerap diserap dari peninggalan Buddhisme. Sebagai contoh, “Pancasila” yang berakar dari “lima sila Buddhisme” maupun “Agama” yang berakar dari frasa sankrit “kumpulan khotbah-khotbah” (“Nikaya” dalam Bahasa Pali).

Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu, dituliskan dalam kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular pada masa Majapahit sekitar abad ke-14. Dalam Sutasoma, Istilah  Bhinneka Tunggal Ika  tertulis pada pupuh 139 bait 5. Adapun kutipan dan terjemannya sebagaimana diterangkan I Nyoman Pursika adalah sebagai berikut.

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wisma,

Bhinn ki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,

Bhinn ka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

[Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimana bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal.

Terpecah belahlah itu, tapi tetap satu jua, seperti tidak ada kerancuan dalam kebenaran.]

Pembahasan Bhinneka Tunggal Ika dalam Sutasoma ini ditekankan pada perbedaan kepercayaan di kalangan masyarakat Majapahit. Puriska dalam “Jurnal Pendidikan dan Pengajaran” menerangkan bahwa Sutasoma mengajarkan toleransi kehidupan beragama yang menempatkan agama Hindu dan Buddha hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

Istilah Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Sansekerta. Puriska (2009:16) merincikan bahwa “Bhinneka” berasal dari gabungan kata “bhinna” yang artinya “berbeda-beda” dan “ika” yang artinya “itu”. Kemudian, “tunggal” yang artinya “satu”. Lalu, “Ika” yang berarti “itu”. Jika disimpulkan, Bhinneka Tunggal Ika berarti “yang berbeda-beda itu dalam yang satu itu” atau “beraneka ragam namun satu jua”.

Dapat disimpulkan, pengertian Bhinneka Tunggal Ika dalam buku Sutasoma membahas perihal perbedaan kepercayaan di zaman Majapahit yang hidup rukun dan berdampingan. Seiring perkembangan, yakni di masa kini, sebagaimana melekat dalam lambang Garuda, arti “Bhinneka Tunggal Ika” merujuk pada keragaman dalam masyarakat Indonesia di berbagai bidang kehidupan.

Adapun warisan otentik islam, ialah TOLERANSI dan RADIKALISME yang dapat kita lihat dari “miniatur dunia islam” sebagaimana praktek intoleransi beragama di Timur-Tengah. Istilah “gemah ripah loh jinawi” hanya relevan pada masa kerajaan Buddhisme di Nusantara, bukan para era paska penjajahan Demak-Islam di Nusantara yang kini kesuburan tanahnya merosot serta kerusakan alamnya masif. Begitupula mentalitas preman yang “menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik”, juga merupakan nilai-nilai islamisasi yang tumbuh subur dewasa ini.

Lewat ajaran-ajaran berikutlah, mental dan jiwa leluhur nenek-moyang Nusantara dibangun, dididik, dibentuk, diinternalisasi, serta ditempa hingga mendarah-daging dari satu generasi yang diwariskan ke generasi berikutnya, menjelma budaya Nusantara—ajaran-ajaran mana telah pernah diajarkan kepada nenek-moyang Nusantara sejak ribuan tahun lampau—yakni salah satunya khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

3 (3) Perilaku Bermoral

“Para bhikkhu, (1) pada seorang yang tidak bermoral, pada seorang yang tidak memiliki perilaku bermoral, maka (2) ketidak-menyesalan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada ketidak-menyesalan, pada seorang yang tidak memiliki ketidak-menyesalan, maka (3) kegembiraan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada kegembiraan, pada seorang yang tidak memiliki kegembiraan, maka (4) sukacita tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada sukacita, pada seorang yang tidak memiliki sukacita, maka (5) ketenangan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada ketenangan, pada seorang yang tidak memiliki ketenangan, maka (6) kenikmatan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada kenikmatan, pada seorang yang tidak memiliki kenikmatan, maka (7) konsentrasi benar tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada konsentrasi benar, pada seorang yang tidak memiliki konsentrasi benar, maka (8) pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, pada seorang yang tidak memiliki pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, maka (9) kekecewaan dan kebosanan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada kekecewaan dan kebosanan, pada seorang yang tidak memiliki kekecewaan dan kebosanan, maka (10) pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan tidak memiliki penyebab terdekatnya.

“Misalkan ada sebatang pohon yang tidak memiliki dahan-dahan dan dedaunan. Maka tunasnya tidak tumbuh sempurna; kulit kayunya, kayu lunaknya, dan inti kayunya juga tidak tumbuh sempurna. Demikian pula, pada seorang yang tidak bermoral, pada seorang yang tidak memiliki perilaku bermoral, maka ketidak-menyesalan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada ketidak-menyesalan … maka pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan tidak memiliki penyebab terdekatnya.

“Para bhikkhu, (1) pada seorang yang bermoral, pada seorang yang perilakunya bermoral, maka (2) ketidak-menyesalan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada ketidak-menyesalan, pada seorang yang memiliki ketidak-menyesalan, maka (3) kegembiraan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada kegembiraan, pada seorang yang memiliki kegembiraan, maka (4) sukacita memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada sukacita, pada seorang yang memiliki sukacita, maka (5) ketenangan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada ketenangan, pada seorang yang memiliki ketenangan, maka (6) kenikmatan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada kenikmatan, pada seorang yang memiliki kenikmatan, maka (7) konsentrasi benar memiliki penyebab terdekatnya. [5] Ketika ada konsentrasi benar, pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, maka (8) pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, pada seorang yang memiliki pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, maka (9) kekecewaan dan kebosanan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada kekecewaan dan kebosanan, pada seorang yang memiliki kekecewaan dan kebosanan, maka (10) pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan memiliki penyebab terdekatnya.

“Misalkan ada sebatang pohon yang memiliki dahan-dahan dan dedaunan. Maka tunasnya tumbuh sempurna; kulit kayunya, kayu lunaknya, dan inti kayunya juga tumbuh sempurna. Demikian pula, pada seorang yang bermoral, seorang yang perilakunya bermoral, maka ketidak-menyesalan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada ketidak-menyesalan … maka pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan memiliki penyebab terdekatnya.”

13 (3) Belenggu

“Para bhikkhu, ada sepuluh belenggu ini. Apakah sepuluh ini? Lima belenggu yang lebih rendah dan lima belenggu yang lebih tinggi. Dan apakah lima belenggu yang lebih rendah? Pandangan eksistensi-diri, keragu-raguan, genggaman salah pada perilaku dan upacara, keinginan indria, dan niat buruk. Ini adalah kelima belenggu yang lebih rendah itu. Dan apakah lima belenggu yang lebih tinggi? Nafsu pada bentuk, nafsu pada tanpa-bentuk, keangkuhan, kegelisahan, dan ketidak-tahuan. Ini adalah kelima belenggu yang lebih tinggi itu. Ini, para bhikkhu, adalah kesepuluh belenggu itu.”

14 (4) Kemandulan Pikiran

“Para bhikkhu, jika bhikkhu atau bhikkhunī mana pun belum meninggalkan lima jenis kemandulan pikiran dan belum mematahkan lima belenggu pikiran, maka, apakah siang atau malam, hanya kemunduran dalam kualitas-kualitas bermanfaat dan bukan kemajuan yang akan menanti orang ini.

“Apakah kelima jenis kemandulan pikiran yang belum ia tinggalkan?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu bingung terhadap Sang Guru, meragukanNya, tidak mempercayaiNya, dan tidak berkeyakinan padaNya. Ketika seorang bhikkhu bingung terhadap Sang Guru, meragukanNya, tidak mempercayaiNya, dan tidak berkeyakinan padaNya, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … [18] … dan upaya, ini adalah jenis pertama kemandulan pikiran yang belum ia tinggalkan.

(2)-(5) “Kemudian, seorang bhikkhu bingung terhadap Dhamma … bingung terhadap Sagha … bingung terhadap latihan … menjadi jengkel karena teman-temannya para bhikkhu, tidak senang pada mereka, kesal terhadap mereka, bersikap jahat terhadap mereka, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah jenis ke lima kemandulan pikiran yang belum ia tinggalkan.

“Ini adalah kelima jenis kemandulan pikiran itu yang belum ia tinggalkan.

“Apakah kelima belenggu pikiran yang belum ia patahkan?

(6) “Di sini, seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada kenikmatan indria, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya. Ketika seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada kenikmatan indria, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah belenggu pikiran yang pertama yang belum ia patahkan.

(7)-(10) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada jasmani, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya ... Ia tidak hampa dari nafsu pada bentuk, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya … setelah makan sebanyak yang ia inginkan hingga perutnya penuh, ia condong pada kenikmatan beristirahat, kenikmatan kelambanan, kenikmatan tiduria menjalani kehidupan spiritual demi [kelahiran kembali dalam] kelompok deva tertentu, [dengan berpikir]: ‘Dengan perilaku bermoral, pelaksanaan, praktik keras, atau kehidupan spiritual ini aku akan menjadi salah satu deva atau salah satu [pengikut] para deva.’ Ketika ia menjalani kehidupan spiritual demi [kelahiran kembali dalam] kelompok deva tertentu … maka pikirannya tidak condong [19] pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah belenggu pikiran yang ke lima yang belum ia patahkan.

“Ini adalah kelima belenggu pikiran itu yang belum ia patahkan.”

“Para bhikkhu, jika bhikkhu atau bhikkhunī mana pun belum meninggalkan lima jenis kemandulan pikiran dan belum mematahkan lima belenggu pikiran, maka, apakah siang atau malam, hanya kemunduran dan bukan kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat yang akan menanti orang ini. Seperti halnya, selama paruh bulan gelap, apakah malam atau siang, rembulan hanya mengalami kemunduran dalam hal keindahan, kebulatan, dan cahaya, dalam hal diameter dan kelilingnya, demikian pula jika bhikkhu atau bhikkhunī mana pun belum meninggalkan kelima jenis kemandulan pikiran ini … hanya kemunduran … yang akan menanti orang ini.

“Para bhikkhu, jika bhikkhu atau bhikkhunī mana pun telah meninggalkan lima jenis kemandulan pikiran dan telah mematahkan lima belenggu pikiran, maka, apakah siang atau malam, hanya kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat dan bukan kemunduran yang akan menanti orang ini.

“Dan apakah kelima jenis kemandulan pikiran yang telah ia tinggalkan?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu tidak bingung terhadap Sang Guru, tidak meragukanNya, mempercayaiNya, dan berkeyakinan padaNya. Ketika seorang bhikkhu tidak bingung terhadap Sang Guru, tidak meragukanNya, mempercayaiNya, dan berkeyakinan padaNya, maka pikirannya condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya condong pada semangat … dan upaya, ini adalah jenis pertama kemandulan pikiran yang telah ia tinggalkan.

(2)-(5) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak bingung terhadap Dhamma … tidak bingung terhadap Sagha … tidak bingung terhadap latihan [20] … tidak menjadi jengkel karena teman-temannya para bhikkhu, senang pada mereka, tidak kesal terhadap mereka, tidak bersikap jahat terhadap mereka, maka pikirannya condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya condong pada semangat … dan upaya, ini adalah jenis ke lima kemandulan pikiran yang telah ia tinggalkan.

“Ini adalah kelima jenis kemandulan pikiran itu yang telah ia tinggalkan.

“Apakah kelima belenggu pikiran yang telah ia patahkan dengan baik?

(6) “Di sini, seorang bhikkhu hampa dari nafsu pada kenikmatan indria, hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya. Ketika seorang bhikkhu hampa dari nafsu pada kenikmatan indria, hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya, maka pikirannya condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan usaha. Karena pikirannya condong pada semangat … dan usaha, ini adalah belenggu pikiran yang pertama yang telah ia patahkan dengan baik.

(7)-(10) “Kemudian, seorang bhikkhu hampa dari nafsu pada jasmani, hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya ... Ia hampa dari nafsu pada bentuk, hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya … ia tidak makan sebanyak yang ia inginkan hingga perutnya penuh juga ia tidak condong pada kenikmatan beristirahat, kenikmatan kelambanan, kenikmatan tidur … ia tidak menjalani kehidupan spiritual demi [kelahiran kembali dalam] kelompok deva tertentu, [dengan berpikir]: ‘Dengan perilaku bermoral, pelaksanaan, praktek keras, atau kehidupan spiritual ini aku akan menjadi salah satu deva atau salah satu [pengikut] para deva.’ Karena ia tidak menjalani kehidupan spiritual demi [kelahiran kembali dalam] kelompok deva tertentu … maka pikirannya condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya condong pada semangat … dan upaya, ini adalah belenggu pikiran yang ke lima yang telah ia patahkan dengan baik.

“Ini adalah kelima belenggu pikiran itu yang telah ia patahkan dengan baik.”

“Jika bhikkhu atau bhikkhunī mana pun telah meninggalkan kelima jenis kemandulan pikiran ini dan telah mematahkan kelima belenggu pikiran ini, [21] maka, apakah siang atau malam, hanya kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat dan bukan kemunduran yang akan menanti orang ini. Seperti halnya, selama paruh bulan terang, apakah malam atau siang, rembulan hanya mengalami kemajuan dalam hal keindahan, kebulatan, dan cahaya, dalam hal diameter dan kelilingnya, demikian pula jika bhikkhu atau bhikkhunī mana pun telah meninggalkan kelima jenis kemandulan pikiran ini dan telah mematahkan kelima jenis belenggu pikiran ini, apakah siang atau malam, hanya kemajuan dalam kualitas-kualitas bermanfaat dan bukan kemunduran yang akan menanti orang ini.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]

TELUSURI Artikel dalam Website Ini:

Popular Posts This Week