Para Muslim akan Terlahir-Kembali di “Alam SELANGKANGAN”, Alam yang Lebih Rendah daripada Alam Hewan
Question : Para muslim belum mati saja, sudah selingkuh dengan tergila-gila bermimpi dan mengimpikan bersetubuh dengan puluhan bidadari di surga. Itu surga ataukah rumah bord!l tempat pelacuran? Bila mau mencari tempat “lokalisasi”, mengapa mencarinya ke alam surga, bukankah di dunia manusia juga banyak? Mengapa kenikmatan surgawi justru digambarkan sebagai kenikmatan duniawi, seperti persetubuhan tubuh fisik yang kasar?
Brief
Answer : Bila seseorang memimpikan
melancong ke Negeri Kutubusuk, maka ia akan berakhir pada “harapan kosong”, karena
memang tiada negara yang bernama demikian alias tidak pernah eksis. Terlagipula
mereka pikir siapa juga diri mereka, apakah mereka memiliki “modal” berupa
kelima faktor yang terdiri memiliki keyakinan, moralitas, pembelajaran,
kedermawanan, maupun kebijaksanaan? Sayangnya dan kabar buruk bagi mereka, dari
kosmologi Buddhime mengenai 31 alam kehidupan dan 6 alam surgawi, tiada “surga-persetubuhan”
sebagaimana “mimpi-basah” agama “selangkangan” yang selama ini diimpikan dan
diinginkan oleh para muslim. Karena, mereka hanya akan berakhir pada fantasi serta
fatamorgana yang mereka ciptakan di dalam pikiran-dangkal-rendahan mereka
sendiri, dan berakhir pada alam yang rendah atau “alam sengsara” (apāya)
seperti hewan, setan, bahkan NERAKA.
PEMBAHASAN:
Kemunculan
kembali sesuai dengan aspirasi / tekad seseorang, adalah niscaya adanya, akan tetapi
bukanlah tanpa syarat. Sebagaimana dapat kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
120
Sankhārupapatti
Sutta: Kemunculan Kembali Melalui Aspirasi
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian tentang kemunculan kembali
sesuai dengan aspirasi seseorang. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.” – “Baik,
Yang Mulia.” Para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
[Catatan Penerjemah : Walaupun penerjemah telah
mencoba untuk menerjemahkan sankhārā secara konsisten sebagai
“bentukan-bentukan,” di sini tampaknya bahwa isinya memerlukan terjemahan
berbeda untuk membawakan makna yang dimaksudkan. Bhikkhu Ñāṇamoli
menggunakan “tekad,” pilihannya yang konsisten untuk sankhārā. Kitab
Komentar awalnya menjelaskan sankhārupapatti sebagai bermakna kemunculan
kembali (yaitu, kelahiran kembali) dari hanya bentukan-bentukan, bukan makhluk
atau orang, atau sebagai bermakna kemunculan kembali kelompok-kelompok unsur
kehidupan dalam kehidupan baru di sepanjang bentukan-kamma baik. Akan
tetapi, dalam paragraf berikutnya, Kitab Komentar mengemas sankhārā
menjadi patthanā, kata yang tidak diragukan bermakna aspirasi.]
3. “Di sini, Para bhikkhu, seorang bhikkhu memiliki keyakinan, moralitas,
pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Ia berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah para mulia
kaya!’ Ia mengarahkan pikirannya pada hal itu, condong padanya, mengembangkannya.
[100] Aspirasi-aspirasinya ini dan tekadnya yang tidak berubah ini, yang
dikembangkan dan dilatih demikian, menuntun menuju kemunculan kembali di sana.
Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
[Kitab Komentar : “Cara” adalah lima kualitas yang
dimulai dari keyakinan, bersama dengan aspirasi. Seseorang yang memiliki
kelima kualitas ini tanpa aspirasi, atau aspirasi tanpa kualitas-kualitas,
tidak memiliki alam tujuan kelahiran yang pasti. Alam tujuan kelahiran hanya dapat
dipastikan ketika kedua faktor ini hadir.]
4-5. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku dapat
muncul kembali di tengah-tengah para brahmana kaya! … di tengah-tengah para
perumah-tangga kaya!’ Ia mengarahkan pikirannya pada hal itu … Ini, para bhikkhu,
adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
6. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa para dewa di alam surga Empat Raja Dewa berumur panjang,
rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa. Ia berpikir: ‘Oh, semoga
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah
para dewa di alam surga Empat Raja Dewa!’ Ia mengarahkan pikirannya pada
hal itu … Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan
kembali di sana.
7-11. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga … para dewa Yāma … para
dewa di alam surga Tusita … para dewa yang bergembira dalam penciptaan … para dewa
yang menguasai ciptaan dewa lainnya berumur panjang, rupawan, dan menikmati
kebahagiaan luar biasa. Ia berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah para dewa
yang menguasai ciptaan dewa lainnya!’ Ia mengarahkan pikirannya pada hal
itu … Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan
kembali di sana.
12. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan [101] … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa Brahmā Seribu berumur panjang, rupawan, dan menikmati
kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā Seribu berdiam dengan bertekad meliputi
satu sistem dunia seribu dunia, dan ia berdiam dengan bertekad meliputi
makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana. Bagaikan seseorang
dengan penglihatan baik meletakkan sebutir biji kecil di tangannya dan
memeriksanya, demikianlah Brahmā Seribu berdiam dengan bertekad meliputi satu
sistem dunia seribu alam, dan ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk
yang telah muncul kembali di sana. Bhikkhu itu berpikir: ‘Oh, semoga ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah
Brahmā Seribu!’ Ia mengarahkan pikirannya pada hal itu … Ini, para bhikkhu,
adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ada lima jenis “peliputan”
: peliputan pikiran, yaitu, mengetahui pikiran makhluk-makhluk di seluruh
seribu alam; peliputan kasiṇa, yaitu, memperluas gambaran kasiṇa hingga menjangkau seribu alam; peliputan mata dewa, yaitu, melihat
seribu alam dengan mata dewa; peliputan cahaya, yang sama dengan peliputan
sebelumnya; dan peliputan jasmani, yaitu, memperluas aura jasmani seseorang
menjangkau seribu alam.]
13-16. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa Brahmā Dua Ribu … Brahmā Tiga Ribu … Brahmā Empat Ribu … Brahmā
Lima Ribu berumur panjang, rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa.
Sekarang Brahmā Lima Ribu berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia
lima ribu dunia, dan ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang
telah muncul kembali di sana. Bagaikan seseorang dengan penglihatan baik
meletakkan lima butir biji kecil di tangannya dan memeriksanya, demikianlah Brahmā
Lima Ribu berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia Lima Ribu alam,
dan ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul
kembali di sana. Bhikkhu itu berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah Brahmā Lima Ribu!’
Ia mengarahkan pikirannya pada hal itu … Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara
yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
17. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa Brahmā Sepuluh Ribu berumur panjang, rupawan, dan menikmati
kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā Sepuluh Ribu berdiam dengan
bertekad meliputi [102] satu sistem dunia sepuluh ribu dunia, dan ia berdiam
dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana.
Bagaikan sebutir permata beryl sebening air yang paling murni, bersisi delapan,
dipotong dengan baik, diletakkan di atas kain brokat merah, berkilau,
bercahaya, dan bersinar, demikianlah Brahmā Sepuluh Ribu berdiam dengan bertekad
meliputi satu sistem dunia sepuluh ribu alam, dan ia berdiam dengan bertekad
meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana. Bhikkhu itu
berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku dapat
muncul kembali di tengah-tengah Brahmā Sepuluh Ribu!’ Ia mengarahkan pikirannya
pada hal itu … Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara yang mengarah pada
kemunculan kembali di sana.
18. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa Brahmā Seratus Ribu berumur panjang, rupawan, dan menikmati
kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā Seratus Ribu berdiam dengan
bertekad meliputi satu sistem dunia seratus ribu dunia, dan ia berdiam dengan
bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana. Bagaikan
sebuah perhiasan terbuat dari emas terbaik, yang dengan sangat terampil ditempa
di atas tungku oleh seorang pengrajin emas yang cerdas, diletakkan di atas kain
brokat merah, berkilau, bercahaya, dan bersinar, demikianlah Brahmā Seratus
Ribu berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia seratus ribu alam, dan
ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali
di sana. Bhikkhu itu berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, aku dapat muncul kembali di tengah-tengah Brahmā Seratus Ribu!’
Ia mengarahkan pikirannya pada hal itu … Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara
yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
19-32. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa para dewa Bercahaya … para dewa dengan Cahaya Terbatas … para
dewa dengan Cahaya Tanpa Batas … para dewa dengan Cahaya Gemilang … para Dewa
Agung … para dewa dengan Keagungan Terbatas … para dewa dengan Keagungan Tanpa
Batas … para dewa dengan Keagungan Gemilang … [103] … para dewa dengan Buah
Besar … para dewa Aviha … para dewa Atappa … para dewa Sudassa … para dewa
Sudassī … para dewa Akaniṭṭha berumur panjang, rupawan, dan menikmati
kebahagiaan luar biasa. Ia berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian,
aku dapat muncul kembali di tengah-tengah para dewa Akaniṭṭha!’ Ia
mengarahkan pikirannya pada hal itu … Ini, para bhikkhu, adalah jalan, cara
yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa “para dewa dengan
Cahaya” bukanlah para dewa dari kelompok tersendiri melainkan nama kolektif
bagi ketiga kelompok berikutnya; hal yang sama berlaku pada “para dewa dengan
Keagungan.”]
33-36. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia
mendengar bahwa para dewa di alam landasan ruang tanpa batas … para dewa di
alam landasan kesadaran tanpa batas … para dewa di alam landasan kekosongan …
para dewa di alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ia berpikir: ‘Oh,
semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, aku dapat muncul kembali di
tengah-tengah para dewa di alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi!’ Ia mengarahkan
pikirannya pada hal itu, condong padanya, mengembangkannya.
Aspirasi-aspirasinya ini dan tekadnya yang tidak berubah ini, yang dikembangkan
dan dilatih demikian, menuntun menuju kemunculan kembali di sana. Ini, para
bhikkhu, adalah jalan, cara yang mengarah pada kemunculan kembali di sana.
37. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki
keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan. Ia berpikir:
‘Oh, bahwa dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung,
aku di sini dan saat ini dapat masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan
kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda!’ Dan dengan menembusnya dengan pengetahuan langsung,
ia di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan
melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda. Para
bhikkhu, bhikkhu
ini sama sekali tidak muncul kembali di manapun juga.”
[Kitab Komentar : Kelima kualitas yang disebutkan
adalah cukup untuk memperoleh kelahiran kembali di alam indria, tetapi untuk
kelahiran kembali di alam-alam yang lebih tinggi dan hancurnya noda-noda,
diperlukan lebih lagi. Dengan melandaskan dirinya pada kelima kualitas,
jika ia mencapai jhāna-jhāna, maka ia terlahir kembali di alam-Brahma;
jika ia mencapai pencapaian tanpa materi, maka ia terlahir kembali di alam
tanpa materi; jika ia mengembangkan pandangan terang dan mencapai buah “yang-tidak-kembali”,
maka ia terlahir kembali di Alam Murni; dan jika
ia mencapai jalan Kearahantaan, maka ia mencapai hancurnya noda-noda.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, pendosa pecandu-berat “PENGHAPUSAN
DOSA” alias menjelma “KORUPTOR DOSA” dimana dosa-dosa pun dikorupsi, disebut
memiliki keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaan,
sehingga mereka berhak untuk berharap terlahir kembali di alam-alam bahagia
semacam surga? Ataukah mereka lebih layak terlahir kembali ke alam yang buruk
atau “alam sengsara” (apāya) seperti hewan, setan-gentayangan, asura, maupun
menjadi penghuni NERAKA—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah”, yang tidak puas dengan belasan istri maupun
praktek pedofilia, masih juga tergila-gila berselingkuh pikirannya dengan puluhan
bidadari di surga, terbakar oleh nafsu, dibudaki dan terbudaki oleh nafsu, apakah
harapannya memasuki “alam SELANGKANGAN” akan terwujud ataukah sebaliknya—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]