"Kami tidak mengenali apapun yang berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan mengevaluasi; tetapi kami mengenali sesuatu yang berharga dalam pujian dan celaan kepada orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang bijaksana, cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan mengevaluasi." [Raja Pasenadi dari Kosala]
Question : Bukankah mengherankan orang-orang muslim yang merasa begitu bangga menjadi mualaf (semula nonmuslim yang kemudian memeluk agama islam). Semestinya mereka merasa malu, karena secara tidak langsung mereka seolah hendak berkata kepada dunia : “Dulunya saya bukanlah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’, sekarang saya adalah seorang ‘PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA’.” Orang yang waras dan berakal-sehat, akan merasa senang dan gembira bila terjadi “upgrade” dalam dirinya. Akan tetapi itu orang-orang yang mualaf, justru senang karena men-“downgrade” diri mereka dari semula bukan “pecandu ideologi KORUP” menjelma “mabuk-berat dogma PENGHAPUSAN DOSA”.
Brief
Answer : Itulah ciri orang dungu,
menyebut kaum “NON” sebagai kaum yang “merugi” karena tidak mencandu dan
kecanduan dogma korup semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” sehingga
menjelma KORUPTOR-DOSA, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi. Kini, pertanyaan
yang paling relevan ialah, siapakah yang sebetulnya paling memprihatinkan kondisinya
dan perlu diselamatkan karena kecanduan dosa-dosa maupun maksiat yang karenanya
juga mencandu iming-iming korup semacam “PENGHAPUSAN DOSA”, adalah kaum umat
agama samawi itu sendiri ataukah kaum “NON” yang selama ini mereka gurui serta
hakimi? Terhadap dosa dan maksiat, mereka demikian kompromistik. Akan tetapi terhadap
kaum “NON”, disaat bersamaan mereka begitu intoleran.
PEMBAHASAN:
Orang
berakal-sehat tidak mengenali apapun yang berharga dalam pujian dan celaan yang
diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan
mengevaluasi; tetapi orang bijak mengenali sesuatu yang berharga dalam dalam
pujian dan celaan kepada orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang
bijaksana, cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan
mengevaluasi. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 88 ~
Bāhitika
Sutta: Mantel
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Kemudian, pada suatu pagi, Yang Mulia Ānanda merapikan jubah, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi menuju Sāvatthī untuk menerima
dana makanan. Ketika ia telah menerima dana makanan dan telah kembali dari
perjalanan itu, setelah makan ia pergi ke Taman Timur, menuju Istana Ibunya
Migāra, untuk melewatkan hari.
3. Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala sedang menunggang gajah Ekapuṇḍarika dan pergi keluar dari Sāvatthī di tengah hari. Dari kejauhan ia
melihat kedatangan Yang Mulia Ānanda dan bertanya kepada menteri Sirivaḍḍha: “Bukankah itu adalah Yang Mulia Ānanda?” – “Benar, Baginda, itu
adalah Yang Mulia Ānanda.”
4. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala menyuruh orangnya: “Pergilah, temui
Yang Mulia Ānanda dan bersujudlah atas namaku dengan kepalamu di kakinya, dengan
mengatakan: ‘Yang Mulia, Raja Pasenadi dari Kosala bersujud dengan kepalanya di
kaki Yang Mulia Ānanda.’ Kemudian katakan: ‘Yang Mulia, jika Yang Mulia Ānanda
tidak memiliki urusan mendesak, mungkin Yang Mulia Ānanda sudi menunggu [113]
sebentar, demi belas kasih.’”
5. “Baik, Baginda,” orang itu menjawab, dan ia mendatangi Yang Mulia
Ānanda, dan setelah bersujud kepadanya, ia berdiri di satu sisi dan berkata
kepada Yang Mulia Ānanda: “Yang Mulia, Raja Pasenadi dari Kosala bersujud dengan
kepalanya di kaki Yang Mulia Ānanda dan ia mengatakan ini: ‘Yang Mulia, jika
Yang Mulia Ānanda tidak memiliki urusan mendesak, mungkin Yang Mulia Ānanda
sudi menunggu sebentar, demi belas kasih.’”
6. Yang Mulia Ānanda menerima dengan berdiam diri. Kemudian Raja Pasenadi
dari Kosala menunggang gajahnya sejauh gajah itu dapat pergi, dan kemudian ia
turun dan mendatangi Yang Mulia Ānanda dengan berjalan kaki. Setelah bersujud
kepadanya, ia berdiri di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Yang
Mulia, jika Yang Mulia Ānanda tidak memiliki urusan mendesak, mungkin Yang
Mulia Ānanda sudi mendatangi tepi sungai Aciravati, demi belas kasih.”
7. Yang Mulia Ānanda menerima dengan berdiam diri. Ia pergi ke tepi
sungai Aciravati dan duduk di bawah sebatang pohon di tempat yang telah
dipersiapkan. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala menunggang gajahnya sejauh
gajah itu dapat pergi, dan kemudian ia turun dan mendatangi Yang Mulia Ānanda dengan
berjalan kaki. Setelah bersujud kepadanya, ia berdiri di satu sisi dan berkata
kepada Yang Mulia Ānanda: “Ini, Yang Mulia, adalah permadani kulit gajah.
Silahkan Yang Mulia Ānanda duduk di sini.”
“Tidak perlu, Baginda, duduklah. Aku sudah duduk di alas dudukku
sendiri.”
8. Raja Pasenadi dari Kosala duduk di tempat yang telah dipersiapkan dan
berkata: “Yang Mulia Ānanda, mungkinkah Sang Bhagavā berperilaku melalui
jasmani sedemikian sehingga Beliau dapat dicela oleh para petapa dan brahmana?”
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa raja mengajukan
pertanyaan ini dengan merujuk pada kasus yang melibatkan pengembara perempuan
bernama Sundari, yang penyelidikannya tertunda pada saat itu. Dengan niat untuk
mendiskreditkan Sang Buddha, beberapa petapa pengembara membujuk Sundari untuk
mengunjungi Hutan Jeta di malam hari dan kemudian membiarkan dirinya terlihat
ketika berjalan pulang di pagi hari, agar orang-orang menjadi curiga. Setelah beberapa
lama mereka membunuhnya dan menguburnya di dekat Hutan Jeta, dan ketika
mayatnya ditemukan, mereka menuding Sang Buddha. Setelah seminggu berita bohong
itu terungkap ketika mata-mata raja menemukan kisah sebenarnya di balik
pembunuhan itu. Baca Ud 4:8/42-45. Di sini penerjemah menambahkan kualifikasi
“bijaksana” pada frasa “petapa dan brahmana” (samaṇehi brāhmaṇehi viññūhi). Dengan demikian jawaban Ānanda menyiratkan bahwa adalah celaan mereka dan
bukan celaan para petapa biasa yang harus dihindari. Bahwa kalimat ini benar
didukung oleh pernyataan raja persis di bawah bahwa Ānanda telah memecahkan
dengan jawabannya atas apa yang tidak mampu ia pecahkan, yaitu, membedakan antara si bijaksana dan
si dungu.]
“Baginda, Sang Bhagavā tidak mungkin berperilaku melalui jasmani
sedemikian sehingga Beliau dapat dicela oleh para petapa dan brahmana.” [114]
“Mungkinkah Sang Bhagavā berperilaku melalui ucapan … berperilaku melalui
pikiran sedemikian sehingga Beliau dapat dicela oleh para petapa dan brahmana?”
“Baginda, Sang Bhagavā tidak mungkin berperilaku melalui ucapan …
berperilaku melalui pikiran sedemikian sehingga Beliau dapat dicela oleh para
petapa dan brahmana.”
9. “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Karena apa yang
tidak mampu kami capai dengan sebuah pertanyaan telah dicapai oleh Yang Mulia
Ānanda dengan jawaban atas pertanyaan tersebut. Kami
tidak mengenali apapun yang berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang
diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan
mengevaluasi; tetapi kami mengenali sesuatu yang berharga dalam pujian dan
celaan kepada orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang bijaksana,
cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan mengevaluasi.
10. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang dicela oleh para petapa dan brahmana bijaksana?”
“Segala
perilaku jasmani yang tidak bermanfaat, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang tidak
bermanfaat?”
“Segala
perilaku jasmani yang tercela, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang
tercela?”
“segala
perilaku jasmani yang membawa penderitaan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang membawa
penderitaan?”
“Segala
perilaku jasmani yang memiliki akibat menyakitkan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia, Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang
memiliki akibat menyakitkan?”
“Segala
perilaku jasmani, Baginda, yang mengarah menuju penderitaan diri sendiri, atau
menuju penderitaan makhluk lain, atau menuju penderitaan keduanya, dan yang
karenanya maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat menjadi bertambah, dan
kondisi-kondisi bermanfaat berkurang. Perilaku jasmani demikian dicela oleh
para petapa dan brahmana bijaksana, Baginda.”
[Kitab Komentar : Secara singkat, paragraf ini menjelaskan
lima kriteria perbuatan buruk: ketidak-bermanfaatan menekankan kualitas
psikologis dari perbuatan, efek ketidak-sehatannya bagi pikiran; ketercelaan
menekankan sifat mengganggu secara moral; kapasitasnya untuk menghasilkan
akibat-akibat menyakitkan mengalihkan perhatian pada potensi kamma yang
tidak disukai; dan pernyataan terakhir mengalihkan baik kepada motivasi buruk
maupun akibat jangka panjang yang bahaya seperti perbuatan yang berdampak apakah
pada diri sendiri maupun pada makhluk lain. Penjelasan yang berlawanan yang
diterapkan pada perbuatan baik, dibahas dalam paragraf nomor ke-14.]
11. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang dicela oleh para petapa dan brahmana
bijaksana?”
“Segala
perilaku ucapan yang tidak bermanfaat, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang tidak
bermanfaat?”
“Segala
perilaku ucapan yang tercela, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang tercela?”
“segala
perilaku ucapan yang membawa penderitaan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang membawa
penderitaan?”
“Segala
perilaku ucapan yang memiliki akibat menyakitkan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia, Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang memiliki
akibat menyakitkan?”
“Segala
perilaku ucapan, Baginda, yang mengarah menuju penderitaan diri sendiri, atau menuju
penderitaan makhluk lain, atau menuju penderitaan keduanya, dan yang karenanya
maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat menjadi bertambah, dan kondisi-kondisi
bermanfaat berkurang. Perilaku ucapan demikian dicela oleh para petapa dan
brahmana bijaksana,
Baginda.”
12. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang dicela oleh para petapa dan brahmana
bijaksana?”
“Segala
perilaku pikiran yang tidak bermanfaat, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang tidak
bermanfaat?”
“Segala
perilaku pikiran yang tercela, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang
tercela?”
“segala
perilaku pikiran yang membawa penderitaan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang membawa
penderitaan?”
“Segala
perilaku pikiran yang memiliki akibat menyakitkan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia, Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang memiliki
akibat menyakitkan?”
“Segala
perilaku pikiran, Baginda, yang mengarah menuju penderitaan diri sendiri, atau
menuju penderitaan makhluk lain, atau menuju penderitaan keduanya, dan yang
karenanya maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat menjadi bertambah, dan
kondisi-kondisi bermanfaat berkurang. Perilaku pikiran demikian dicela oleh
para petapa dan brahmana bijaksana, Baginda.” [115]
13. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, apakah
Sang Bhagavā hanya memuji tindakan meninggalkan segala kondisi tidak
bermanfaat?”
“Sang
Tathāgata, Baginda, telah meninggalkan segala kondisi tidak bermanfaat dan
Beliau memiliki kondisi-kondisi bermanfaat.”
[Kitab Komentar : Jawaban YM Ānanda melampaui
pertanyaannya, karena tidak hanya menunjukkan bahwa Sang Buddha memuji
ditinggalkannya segala kondisi tidak bermanfaat, tetapi juga bahwa Beliau
bertindak sesuai dengan kata-katanya dengan telah meninggalkan segala
kondisi-kondisi tidak bermanfaat.]
14. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang tidak dicela oleh para petapa dan
brahmana bijaksana?”
“Segala
perilaku jasmani yang bermanfaat, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang
bermanfaat?”
“Segala
perilaku jasmani yang tidak tercela, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang tidak
tercela?”
“Segala
perilaku jasmani yang tidak membawa penderitaan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang tidak
membawa penderitaan?”
“Segala
perilaku jasmani yang memiliki akibat menyenangkan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia, Ānanda, jenis perilaku jasmani apakah yang
memiliki akibat menyenangkan?”
“Segala
perilaku jasmani, Baginda, yang tidak mengarah menuju penderitaan diri sendiri,
atau menuju penderitaan makhluk lain, atau menuju penderitaan keduanya, dan yang
karenanya maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat menjadi berkurang, dan
kondisi-kondisi bermanfaat bertambah. Perilaku jasmani demikian, Baginda, tidak
dicela oleh para petapa dan brahmana bijaksana.”
15. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang tidak dicela oleh para petapa dan
brahmana bijaksana?”
“Segala
perilaku ucapan yang bermanfaat, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang
bermanfaat?”
“Segala
perilaku ucapan yang tidak tercela, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang tidak
tercela?”
“Segala
perilaku ucapan yang tidak membawa penderitaan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang tidak
membawa penderitaan?”
“Segala
perilaku ucapan yang memiliki akibat menyenangkan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia, Ānanda, jenis perilaku ucapan apakah yang memiliki
akibat menyenangkan?”
“Segala
perilaku ucapan, Baginda, yang tidak mengarah menuju penderitaan diri sendiri, atau
menuju penderitaan makhluk lain, atau menuju penderitaan keduanya, dan yang
karenanya maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat menjadi berkurang, dan
kondisi-kondisi bermanfaat bertambah. Perilaku ucapan demikian, Baginda, tidak
dicela oleh para petapa dan brahmana bijaksana.”
16. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang tidak dicela oleh para petapa dan
brahmana bijaksana?”
“Segala
perilaku pikiran yang bermanfaat, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang
bermanfaat?”
“Segala
perilaku pikiran yang tidak tercela, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang tidak
tercela?”
“Segala
perilaku pikiran yang tidak membawa penderitaan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang tidak
membawa penderitaan?”
“Segala
perilaku pikiran yang memiliki akibat menyenangkan, Baginda.”
“Sekarang, Yang Mulia, Ānanda, jenis perilaku pikiran apakah yang memiliki
akibat menyenangkan?”
“Segala
perilaku pikiran, Baginda, yang tidak mengarah menuju penderitaan diri sendiri,
atau menuju penderitaan makhluk lain, atau menuju penderitaan keduanya, dan
yang karenanya maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat menjadi berkurang, dan
kondisi-kondisi bermanfaat bertambah. Perilaku pikiran demikian, Baginda, tidak
dicela oleh para petapa dan brahmana bijaksana.” [116]
17. “Sekarang, Yang Mulia Ānanda, apakah
Sang Bhagavā hanya memuji tindakan mengembangkan segala kondisi bermanfaat?”
“Sang
Tathāgata, Baginda, telah meninggalkan segala kondisi tidak bermanfaat dan
Beliau memiliki kondisi-kondisi bermanfaat.”
18. “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan betapa baiknya
hal itu diungkapkan oleh Yang Mulia Ānanda! Dan kami merasa puas dan senang
dengan apa yang telah begitu baik diungkapkan olehnya. Yang Mulia, Dan kami
begitu puas dan senang dengan apa yang telah begitu baik diungkapkan oleh Yang Mulia
Ānanda sehingga jika pusaka-gajah boleh dipersembahkan untuknya, maka kami akan
memberikannya kepadanya; jika pusaka-kuda boleh dipersembahkan untuknya, maka
kami akan memberikannya kepadanya; jika anugerah desa boleh dipersembahkan
untuknya, maka kami akan memberikannya kepadanya. Tetapi kami mengetahui, Yang
mulia, bahwa hal-hal ini tidak boleh dipersembahkan kepada Yang Mulia Ānanda.
Tetapi mantelku ini, Yang Mulia, yang dikirim kepadaku dalam payung kerajaan
oleh Raja Ajātasattu dari Magadha, enam belas lengan panjangnya dan delapan
lengan lebarnya. Sudilah Yang Mulia Ānanda menerimanya demi belas kasihnya.”
[Kitab Komentar menjelaskan kata bāhitikā,
yang menjadi nama dari sutta ini, sebagai mantel yang dihasilkan di negeri
lain.]
“Tidak perlu, Baginda. Tiga jubahku sudah lengkap.” [117]
19. “Yang Mulia, sungai Aciravati ini telah terlihat baik oleh Yang Mulia
Ānanda maupun oleh kami sendiri ketika awan tebal menurunkan hujan lebat di gunung-gunung;
kemudian sungai Aciravati ini meluap di kedua tepinya. Demikian pula, Yang
Mulia Ānanda dapat membuat tiga jubah dari mantel ini, dan ia dapat membagikan
tiga jubahnya yang lama dengan teman-temannya dalam kehidupan suci. Dengan
demikian, persembahan kami akan meluap. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia Ānanda
menerima mantel ini.”
20. Yang Mulia Ānanda menerima mantel itu. Kemudian Raja Pasenadi dari
Kosala berkata: “Dan sekarang, Yang Mulia, kami pergi. Kami sibuk dan banyak yang
harus kami lakukan.”
“Silahkan engkau pergi, Baginda.”
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala, setelah merasa senang dan gembira
mendengar kata-kata Yang Mulia Ānanda, bangkit dari duduknya; dan setelah
bersujud kepada Yang Mulia Ānanda, dengan Yang Mulia Ānanda tetap di sisi
kanannya, ia pergi.
21. Kemudian segera setelah ia pergi, Yang Mulia Ānanda menghadap Sang
Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi, menceritakan
keseluruhan percakapannya dengan Raja Pasenadi dari Kosala, dan mempersembahkan
mantel itu kepada Sang Bhagavā.
22. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:
“Sungguh suatu keuntungan, para bhikkhu, bagi Raja Pasenadi dari Kosala,
Sungguh suatu keuntungan besar bagi Raja Pasenadi dari Kosala bahwa ia mendapat
kesempatan bertemu dan bersujud kepada Ānanda.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi justru
diajarkan untuk memuji, menikmati, serta mabuk-kecanduan apa yang seharusnya
dijauhi dan dicela karena mempertebal “noda-noda batin” mereka sendiri—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” patut dipuji ataukah lebih patut
dicela, lebih bermanfaat ataukah membawa mudarat, membawa penderitaan ataukah
menawarkan kebersihan-batin, mengakibatkan penderitaan ataukah menghadirkan
kebahagiaan dengan tiada yang menjadi korbannya, yang tidak membuat dirinya
sendiri maupun orang lain celaka ataukah sebaliknya—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]