Khotbah Sang Buddha Perihal Pilihan Hidup dan Konsekuensi Dibalik setiap
Pilihan Hidup : JANGANLAH EGOIS TERHADAP DIRI KITA SENDIRI
Orang Dungu Senang Melakukan Kejahatan yang Akan Berbuah Buruk bagi Mereka Sendiri, sementara Orang Bijaksana Menahan Kesakitan Demi Menghindari Perbuatan Buruk agar Terhindar dari Buah Karma Buruk di Masa Mendatang
Kita perlu belajar serta penting bagi kita berlatih untuk mengenali dan memahami konsekuensi suatu rangkaian pilihan dalam hidup. Kita dapat saja mencari tahu dan belajar, manakah makanan ataupun aktivitas yang tidak sehat sekalipun rasanya enak, perbuatan yang membuahkan Karma Buruk sekalipun tampak menyenangkan dilakukan, akan tetapi telah ternyata tidak sedikit diantara kita yang membuat pilihan-pilihan yang cenderung destruktif bagi dirinya sendiri maupun membaca celaka bagi orang lain. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, yang tampak sangat relevan:
“Misalkan terdapat sebuah
cangkir perunggu berisi minuman yang berwarna indah, berbau harum, dan rasa
lezat, tetapi telah dicampur dengan racun, dan seseorang datang yang
menginginkan kehidupan, bukan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan
menghindari kesakitan, dan mereka memberitahunya: ‘Tuan, cangkir perunggu ini
berisi minuman yang berwarna indah, berbau harum, dan rasa lezat, tetapi telah
dicampur dengan racun. Minumlah jika engkau menginginkan; ketika engkau
meminumnya, warna, bau, dan rasanya akan menyenangkan bagimu, tetapi setelah
meminumnya, engkau akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.’ Kemudian ia meminumnya tanpa merenungkan dan
tidak melepaskannya. Ketika ia meminumnya, warna, bau, dan rasanya menyenangkan
baginya, tetapi setelah meminumnya, ia mengalami kematian atau penderitaan
mematikan. Serupa dengan ini, Aku katakan, adalah cara melaksanakan segala
sesuatu yang menyenangkan pada saat ini dan matang di masa depan sebagai
menyakitkan.”
Banyak
diantara kita, demi kesenangan temporer sesaat, demi kenikmatan lidah, memakan makanan-makanan
adiktif ataupun mengonsumsi zat-zat yang jelas diketahuhi olehnya sebagai tidaklah
sehat, menyakiti tubuhnya, dan bisa berpotensi sakit di masa mendatang. Hanya orang
dungu, yang meminum alkohol, menghirup bakaran tembakau, ataupun mengonsumsi obat-obatan
terlarang yang melemahkan kesadaran, memabukkan, serta membuat si pemakainya
kecanduan, tanpa mau menyadari bahaya dibaliknya. Mereka merusak tubuh dan masa
depan mereka sendiri, itulah yang disebut sebagai “egois terhadap diri mereka
sendiri”.
Perihal
pilihan hidup dan konsekuensi dibalik setiap pilihan hidup, dapat kita simak
dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 46 ~
Mahādhammasamādāna
Sutta : Khotbah Panjang tentang Cara-Cara Melaksanakan Segala Sesuatu
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang
Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “Para bhikkhu, sebagian besar makhluk memiliki harapan, keinginan, dan
kerinduan: ‘Seandainya hal-hal yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak
menyenangkan berkurang dan hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan
bertambah!’ Namun walaupun makhluk-makhluk memiliki harapan, keinginan, dan
kerinduan ini, tetapi hal-hal yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak
menyenangkan bertambah bagi mereka dan hal-hal yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan berkurang. Sekarang, para bhikkhu, apakah menurut kalian alasan
atas hal itu?”
“Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavā, [310] dituntun oleh
Sang Bhagavā, diputuskan oleh Sang Bhagavā. Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi
menjelaskan makna dari kata-kata ini. Setelah mendengarkan dari Sang Bhagavā,
para bhikkhu akan mengingatnya.”
“Maka dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikanlah pada apa yang akan
Kukatakan.”
“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
3. “Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak terpelajar, yang
tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma
mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak
disiplin dalam Dhamma mereka, tidak
mengetahui hal-hal apakah yang seharusnya dilatih dan hal-hal apakah yang
seharusnya tidak dilatih, ia tidak mengetahui hal-hal apakah yang harus diikuti
dan hal-hal apakah yang seharusnya tidak diikuti. Karena tidak mengetahui ini, ia melatih hal-hal
yang seharusnya tidak dilatih dan tidak melatih hal-hal yang seharusnya
dilatih, ia mengikuti hal-hal yang seharusnya tidak diikuti dan tidak mengikuti
hal-hal yang seharusnya diikuti. Adalah karena ia melakukan hal ini maka hal-hal
yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan bertambah baginya
dan hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan berkurang. Mengapakah?
Itu adalah apa yang terjadi pada seseorang yang tidak melihat.
[Kitab Komentar : Analisa lengkap terhadap hal-hal
yang seharusnya diikuti dan seharusnya tidak diikuti, tersaji dalam Majjhima
Nikāya 114, Sevitabbāsevitabba Sutta.]
4. “Siswa
mulia yang terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin
dalam Dhamma mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin
dalam Dhamma mereka, mengetahui hal-hal apakah yang seharusnya dilatih dan
hal-hal apakah yang seharusnya tidak dilatih, ia mengetahui hal-hal apakah yang
harus diikuti dan hal-hal apakah yang seharusnya tidak diikuti. Dengan
mengetahui ini, ia melatih hal-hal yang seharusnya dilatih dan tidak melatih
hal-hal yang seharusnya tidak dilatih, ia mengikuti hal-hal yang seharusnya diikuti
dan tidak mengikuti hal-hal yang seharusnya tidak diikuti. Adalah karena ia
melakukan hal ini maka hal-hal yang tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak
menyenangkan berkurang baginya dan hal-hal yang diharapkan, diinginkan,
menyenangkan bertambah. Mengapakah? Itu adalah apa yang terjadi pada seseorang
yang melihat.
5. “Para
bhikkhu, ada empat cara melaksanakan segala sesuatu. Apakah empat ini? Ada cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di masa depan
sebagai menyakitkan. Ada [311] cara melaksanakan segala sesuatu yang
menyenangkan pada saat ini dan matang di masa depan sebagai menyakitkan. Ada
cara melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di masa
depan sebagai menyenangkan. Ada cara melaksanakan segala sesuatu yang
menyenangkan pada saat ini dan matang di masa depan sebagai menyenangkan.
(ORANG DUNGU)
6. (1) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang dungu, tidak mengetahui cara
melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini dan matang
di masa depan sebagai menyakitkan, tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Cara
melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini dan matang di
masa depan sebagai menyakitkan.’ Karena tidak mengetahui hal ini, tidak
memahami hal ini sebagaimana adanya, si
dungu melatihnya dan tidak menghindarinya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan bertambah baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan berkurang. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang tidak melihat.
7. (2) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang dungu, tidak mengetahui cara
melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada saat ini dan matang
di masa depan sebagai menyakitkan, tidak memahami sebagaimana adanya: ‘Cara
melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada saat ini dan matang di
masa depan sebagai menyakitkan.’ Karena tidak mengetahui hal ini, tidak
memahami hal ini sebagaimana adanya, si
dungu melatihnya dan tidak menghindarinya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan bertambah baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan berkurang. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang tidak melihat.
8. (3) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang dungu, tidak mengetahui cara
melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini dan matang
di masa depan sebagai menyenangkan, tidak memahami sebagaimana adanya:
‘Cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyenangkan.’ Karena tidak mengetahui hal ini,
tidak memahami hal ini sebagaimana adanya, si
dungu tidak melatihnya
melainkan menghindarinya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang tidak diharapkan, tidak
diinginkan, tidak menyenangkan bertambah baginya dan hal-hal yang diharapkan,
diinginkan, menyenangkan berkurang. Mengapakah? Itu adalah apa yang terjadi
pada seseorang yang tidak melihat.
9. (4) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang dungu, tidak mengetahui cara
melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada saat ini dan matang
di masa depan sebagai menyenangkan, tidak memahami sebagaimana adanya:
‘Cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyenangkan.’ Karena tidak mengetahui hal ini,
tidak memahami hal ini sebagaimana adanya, si
dungu tidak melatihnya melainkan menghindarinya; karena ia melakukan hal itu, [312] maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan bertambah baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan berkurang. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang tidak melihat.
(ORANG BIJAKSANA)
10. (1) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang bijaksana, dengan mengetahui
cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyakitkan, memahami sebagaimana adanya:
‘Cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyakitkan.’ Karena mengetahui hal ini, memahami
hal ini sebagaimana adanya, si
bijaksana tidak melatihnya dan menghindarinya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan berkurang baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan bertambah. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang melihat.
11. (2) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang bijaksana, dengan
mengetahui cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada
saat ini dan matang di masa depan sebagai menyakitkan, memahami sebagaimana
adanya: ‘Cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada saat ini
dan matang di masa depan sebagai menyakitkan.’ Karena mengetahui hal ini,
memahami hal ini sebagaimana adanya, si
bijaksana tidak melatihnya dan menghindarinya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan berkurang baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan bertambah. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang melihat.
12. (3) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang bijaksana, dengan
mengetahui cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat
ini dan matang di masa depan sebagai menyenangkan, memahami sebagaimana
adanya: ‘Cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyakitkan pada saat ini
dan matang di masa depan sebagai menyenangkan.’ Karena mengetahui hal ini,
memahami hal ini sebagaimana adanya, si
bijaksana tidak menghindarinya, melainkan melatihnya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan berkurang baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan bertambah. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang melihat.
13. (4) “Sekarang, para bhikkhu, seorang yang bijaksana, dengan
mengetahui cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan pada
saat ini dan matang di masa depan sebagai menyenangkan, memahami
sebagaimana adanya: ‘Cara melaksanakan segala sesuatu ini adalah menyenangkan
pada saat ini dan matang di masa depan sebagai menyenangkan.’ Karena mengetahui
hal ini, memahami hal ini sebagaimana adanya, si
bijaksana tidak menghindarinya, melainkan melatihnya; karena ia melakukan hal itu, maka hal-hal yang
tidak diharapkan, tidak diinginkan, tidak menyenangkan berkurang baginya dan
hal-hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan bertambah. Mengapakah? Itu
adalah apa yang terjadi pada seseorang yang melihat. [313]
(EMPAT CARA)
14. (1) “Apakah, para bhikkhu, cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di masa
depan sebagai menyakitkan? Di sini, para bhikkhu, seseorang dalam kesakitan dan kesedihan membunuh
makhluk-makhluk hidup, dan ia mengalami kesakitan dan kesedihan dengan membunuh
makhluk-makhluk hidup sebagai kondisi. Dalam kesakitan dan kesedihan ia
mengambil apa yang tidak diberikan ... berperilaku salah dalam kenikmatan
indria ... mengucapkan kebohongan ... mengucapkan fitnah ... berkata-kata kasar
... gosip ... tamak ... memendam pikiran permusuhan ... menganut pandangan
salah, dan ia mengalami kesakitan dan kesedihan dengan pandangan salah sebagai
kondisi. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam
kondisi buruk, di alam tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan dalam neraka. Ini disebut cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di masa
depan sebagai menyakitkan.
15. (2) “Apakah, para bhikkhu, cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyenangkan pada saat ini dan matang di masa depan
sebagai menyakitkan? Di
sini, para bhikkhu, seseorang dalam kenikmatan dan kegembiraan membunuh
makhluk-makhluk hidup, dan ia mengalami kenikmatan dan kegembiraan dengan
membunuh makhluk-makhluk hidup sebagai kondisi. Dalam kenikmatan dan
kegembiraan ia mengambil apa yang tidak diberikan ... Dalam kenikmatan dan
kegembiraan ia berperilaku salah dalam kenikmatan indria ... Dalam kenikmatan
dan kegembiraan ia mengucapkan kebohongan ... Dalam kenikmatan dan kegembiraan
ia mengucapkan fitnah ... Dalam kenikmatan dan kegembiraan ia berkata-kata
kasar ... gosip ... tamak ... Dalam kenikmatan dan kegembiraan ia memendam
pikiran permusuhan ... [314] Dalam kenikmatan dan kegembiraan ia menganut
pandangan salah, dan ia mengalami kenikmatan dan kegembiraan dengan pandangan salah
sebagai kondisi. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali
dalam kondisi buruk, di alam tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan dalam
neraka. Ini
disebut cara melaksanakan segala sesuatu yang menyenangkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyakitkan.
16. (3) “Apakah, para bhikkhu, cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di masa
depan sebagai menyenangkan? Di sini, para bhikkhu, seseorang dalam kesakitan dan kesedihan
menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup, dan ia mengalami kesakitan dan
kesedihan dengan menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup sebagai kondisi.
Dalam kesakitan dan kesedihan ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak
diberikan, dan ia mengalami kesakitan dan kesedihan dengan menghindari perbuatan
mengambil apa yang tidak diberikan sebagai kondisi. Dalam kesakitan dan
kesedihan ia menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria ... Dalam
kesakitan dan kesedihan ia menghindari kebohongan ... Dalam kesakitan dan
kesedihan ia menghindari mengucapkan fitnah ... Dalam kesakitan dan kesedihan
ia menghindari kata-kata kasar ...menghindari gosip ... Dalam kesakitan dan
kesedihan ia tidak tamak ... Dalam kesakitan dan kesedihan ia ia tidak memendam
pikiran permusuhan ... [315] ... Dalam kesakitan dan kesedihan ia ia menganut
pandangan benar, dan ia mengalami kesakitan dan kesedihan dengan pandangan
benar sebagai kondisi. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul
kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Ini disebut cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di masa
depan sebagai menyenangkan.
17. (4) “Apakah, para bhikkhu, cara
melaksanakan segala sesuatu yang menyenangkan pada saat ini dan matang di masa
depan sebagai menyenangkan? Di sini, para bhikkhu, seseorang dalam kenikmatan dan kegembiraan
menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup, dan ia mengalami kenikmatan dan
kegembiraan dengan menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup sebagai
kondisi. Dalam kenikmatan dan kegembiraan ia menghindari perbuatan mengambil
apa yang tidak diberikan ... ia menganut pandangan benar, dan ia mengalami kenikmatan
dan kegembiraan dengan pandangan benar sebagai kondisi. Ketika hancurnya
jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam
surga. Ini
disebut cara melaksanakan segala sesuatu yang menyenangkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyenangkan.
(PERUMPAMAAN)
18. (1) “Para bhikkhu, misalkan terdapat sebutir labu pahit yang dicampur
dengan racun, dan seseorang datang yang menginginkan kehidupan, bukan kematian,
yang menginginkan kenikmatan dan menghindari kesakitan, dan mereka
memberitahunya: ‘Tuan, labu pahit ini telah dicampur dengan racun. Minumlah
jika engkau menginginkan; [316] ketika engkau meminumnya, warna, bau, dan
rasanya akan tidak menyenangkan bagimu, dan setelah meminumnya, engkau akan
mengalami kematian atau penderitaan mematikan.’ Kemudian ia meminumnya tanpa
merenungkan dan tidak melepaskannya. Ketika ia meminumnya, warna, bau, dan
rasanya tidak menyenangkan baginya, dan setelah meminumnya, ia mengalami
kematian atau penderitaan mematikan. Serupa dengan ini, Aku katakan, adalah
cara melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan matang di
masa depan sebagai menyakitkan.
19. (2) “Misalkan
terdapat sebuah cangkir perunggu berisi minuman yang berwarna indah, berbau
harum, dan rasa lezat, tetapi telah dicampur dengan racun, dan seseorang datang
yang menginginkan kehidupan, bukan kematian, yang menginginkan kenikmatan dan
menghindari kesakitan, dan mereka memberitahunya: ‘Tuan, cangkir perunggu ini
berisi minuman yang berwarna indah, berbau harum, dan rasa lezat, tetapi telah
dicampur dengan racun. Minumlah jika engkau menginginkan; ketika engkau
meminumnya, warna, bau, dan rasanya akan menyenangkan bagimu, tetapi setelah
meminumnya, engkau akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan.’ Kemudian
ia meminumnya tanpa merenungkan dan tidak melepaskannya. Ketika ia meminumnya,
warna, bau, dan rasanya menyenangkan baginya, tetapi setelah meminumnya, ia
mengalami kematian atau penderitaan mematikan. Serupa dengan ini, Aku katakan,
adalah cara melaksanakan segala sesuatu yang menyenangkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyakitkan.
20 (3) “Misalkan
terdapat air kencing yang telah meragi dicampur dengan berbagai obat-obatan,
dan seseorang yang menderita penyakit kuning datang, dan mereka memberitahunya:
‘Tuan, air kencing yang telah meragi ini dicampur dengan berbagai obat-obatan.
Minumlah jika engkau menginginkan; ketika engkau meminumnya, warna, bau, dan
rasanya akan tidak menyenangkan bagimu, tetapi setelah meminumnya, engkau akan
sembuh.’ Kemudian ia meminumnya setelah merenungkan, dan tidak melepaskannya.
Ketika ia meminumnya, warna, bau, dan rasanya tidak menyenangkan baginya,
tetapi setelah meminumnya, ia menjadi sembuh. Serupa dengan ini, Aku katakan,
adalah cara melaksanakan segala sesuatu yang menyakitkan pada saat ini dan
matang di masa depan sebagai menyenangkan.
21 (4) “Misalkan terdapat dadih susu, madu, ghee, dan sirop yang dicampur
menjadi satu, dan seseorang yang menderita penyakit disentri datang, dan mereka
memberitahunya: ‘Tuan, [317] ini adalah dadih susu, madu, ghee, dan sirop yang
dicampur menjadi satu. Minumlah jika engkau menginginkan; ketika engkau
meminumnya, warna, bau, dan rasanya akan menyenangkan bagimu, dan setelah
meminumnya, engkau akan sembuh.’ Kemudian ia meminumnya setelah merenungkan,
dan tidak melepaskannya. Ketika ia meminumnya, warna, bau, dan rasanya
menyenangkan baginya, dan setelah meminumnya, ia menjadi sembuh. Serupa dengan
ini, Aku katakan, adalah cara melaksanakan segala sesuatu yang menyenangkan
pada saat ini dan matang di masa depan sebagai menyenangkan.
22. “Bagaikan,
di musim gugur, di bulan terakhir musim hujan, ketika langit cerah dan tanpa
awan, matahari terbit di atas bumi menyingkirkan segala kegelapan dari angkasa
dengan sinar dan cahayanya, demikian pula, cara melaksanakan segala sesuatu
yang menyenangkan pada saat ini dan matang di masa depan sebagai menyenangkan,
dengan sinar dan cahayanya menghalau doktrin-doktrin manapun dari para petapa
dan brahmana biasa.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
a
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]