Indria-Indria Umat Agama Samawi Tidak seperti Indria-Indria Mereka yang Mengendalikan Pikirannya. Indria-Indria Mereka Tidak Sewajarnya
Question : Mengapa ada orang yang begitu tergila-gila pada uang, sampai menjual jiwanya demi uang, melakukan korupsi demi uang yang tidak akan habis dikonsumsi tujuh-keturunan, atau melakukan kejahatan lainnya demi memeroleh uang secara instan?
Brief
Answer : Sang Buddha pernah
bersabda : “Dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang
disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.” Kita perlu meluruskan persepsi kita mengenai
uang, apakah uang yang akan menyetir dan mendikte hidup kita ataukah uang
sekadar sebagai sarana bagi kita untuk melangsungkan kehidupan secara
semestinya. Sama halnya ketika seseorang bekerja keras sepanjang hidupnya tanpa
pernah berlibur, akan tetapi mengalami kondisi dimana harta kekayaannya hilang.
Berpisah dari apa / mereka yang disayangi, adalah dukkha. Adapun segala
yang masih tunduk pada kondisi, sifatnya selalu berubah alias tidak kekal, akan
ada perpisahan.
Pilihannya
ialah, merelakan / melepaskan ataukah tetap melekat dan berupaya menggenggam-erat
tanpa mau menerima realita? Apapun itu, sadarilah bahwa kerugian apa yang telah
kita alami, tidak dapat kembali seperti sedia kala karena sudah menjadi bagian
dari masa lampau. Kini, kita memiliki pilihan, yakni “semakin merugi” dengan
bersikap berlarut-berlarut dalam kesedihan ataukah memilih untuk “tidak semakin merugi” dengan beranjak dari
keterpurukan-mental dan bangkit untuk menjalani hidup kembali? Boleh saja kita
terjatuh, namun selalu ingat untuk kembali bangkit dan melanjutkan kehidupan.
PEMBAHASAN:
Baik kalangan penjudi, koruptor, pelaku penipuan maupun pelaku kejahatan
lainnya, dapat dipastikan memiliki persepsi berikut dalam paradigma
berpikirnya, yakni bahwa “kebahagiaan dan kegembiraan ditimbulkan dari mereka
yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi”. Seorang penjudi, tidak rela
kehilangan uangnya akibat bermain judi, lalu kian terjerumus ke dalamnya,
terjerat tanpa dapat membebaskan diri. Mereka berasumsi bahwa mereka akan bahagia
bila mendapatkan keuntungan dari perjudian, meski realitanya mereka sedang
menderita oleh aktivitas itu, terkecoh oleh perspektifnya sendiri (self-delusion).
Karena kehilangan uangnya, ia menjadi gila, menjadi tidak waras, pikirannya
tidak terkendali sembari mengatakan: “Kemanakah uangku? Kemanakah uangku?”
Namun Sang Buddha mengungkapkan fakta yang sebaliknya, delusi-diri dapat
muncul dari pengingkaran-diri. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~SUTTA
87 ~
Piyajātika
Sutta: Terlahir dari Mereka yang Disayangi
[106] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Pada saat itu seorang putera tunggal tersayang dan tercinta dari
seorang perumah-tangga telah meninggal dunia. Setelah kematian puteranya, ia
tidak lagi berkeinginan untuk bekerja ataupun makan. Ia terus-menerus pergi ke
pekuburan dan menangis: “Putera tunggalku, di manakah engkau? Putera tunggalku,
di manakah engkau?”
3. Kemudian perumah-tangga itu mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah
bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Perumah-tangga, indria-indriamu
tidak seperti indria-indria mereka yang mengendalikan pikirannya. Indria-indriamu
tidak sewajarnya.”
“Bagaimana mungkin indria-indriaku bisa sewajarnya, Yang Mulia? Karena
putera tunggalku yang tersayang dan tercinta telah meninggal dunia. Sejak ia
mati aku tidak lagi berkeinginan untuk bekerja ataupun makan. Aku terus-menerus
pergi ke pekuburan dan menangis: ‘Putera tunggalku, di manakah engkau? Putera tunggalku,
di manakah engkau?’”
“Demikianlah, perumah-tangga, demikianlah! Dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi,
muncul dari mereka yang disayangi.”
“Yang
Mulia, siapakah yang beranggapan bahwa dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi? Yang Mulia, kebahagiaan dan kegembiraan ditimbulkan dari mereka
yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”
Kemudian, karena tidak senang dengan kata-kata Sang Bhagavā, dengan tidak
menyetujuinya, perumah-tangga itu bangkit dari duduknya dan pergi.
4. Pada saat itu beberapa orang penjudi sedang bermain dadu tidak jauh
dari Sang Bhagavā. Kemudian perumah-tangga itu mendatangi para penjudi itu dan
berkata: “Baru saja, tuan-tuan, [107] aku mendatangi Petapa Gotama, dan setelah
bersujud kepada Beliau, aku duduk di satu sisi. Ketika aku telah melakukan demikian,
Petapa Gotama berkata kepadaku: ‘Perumah-tangga, indria-indriamu tidak seperti
indria-indria mereka yang mengendalikan pikirannya.’ ... (ulangi keseluruhan percakapan seperti di atas)
... ‘Yang Mulia, kebahagiaan dan kegembiraan ditimbulkan dari mereka yang
disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.’ Kemudian, karena tidak senang
dengan kata-kata Sang Bhagavā, dengan tidak menyetujuinya, aku bangkit dari dudukku
dan pergi.”
“Demikianlah, perumah-tangga, demikianlah! Kebahagiaan dan kegembiraan
ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”
Kemudian perumah-tangga itu pergi dengan pikiran: “Aku sependapat dengan
para penjudi itu.”
5. Akhirnya kisah ini sampai ke istana raja. Kemudian Raja Pasenadi dari
Kosala berkata kepada Ratu Mallikā: “Ini adalah apa yang telah dikatakan oleh
Petapa Gotama, Mallikā: ‘Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.’”
“Jika itu telah dikatakan oleh Sang Bhagavā, Baginda, maka demikianlah
adanya.”
“Tidak peduli apa yang dikatakan oleh Petapa Gotama, Mallikā selalu
memujinya sebagai berikut: ‘Jika itu telah dikatakan oleh Sang Bhagavā,
Baginda, maka demikianlah adanya.’ Bagaikan seorang murid yang memuji apapun
yang dikatakan oleh gurunya kepadanya, dengan mengatakan: ‘Demikianlah, guru, demikianlah!’;
demikian pula Mallikā, tidak peduli apa yang dikatakan oleh Petapa Gotama,
Mallikā selalu memujinya sebagai berikut: ‘Jika itu [108] telah dikatakan oleh
Sang Bhagavā, Baginda, maka demikianlah adanya.’ Pergilah, Mallikā, pergilah engkau!”
6. Kemudian Ratu Mallikā berkata kepada Brahmana Nāḷijangha: “Pergilah, Brahmana, temui Sang Bhagavā dan bersujudlah atas
namaku dengan kepalamu di kaki Beliau, dan tanyakan apakah Beliau bebas dari
sakit dan apakah Beliau sehat, kuat dan berdiam dengan nyaman, dengan
mengatakan: ‘Yang Mulia, Ratu Mallikā bersujud dengan kepalanya di kaki Sang
Bhagavā dan menanyakan apakah Sang Bhagavā bebas dari sakit ... dan berdiam
dengan nyaman.’ Kemudian katakan ini: ‘Yang Mulia, apakah kata-kata ini telah
diucapkan oleh Sang Bhagavā: “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputusasaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang
disayangi”?’ Dengarkanlah baik-baik apa jawaban Sang Bhagavā dan laporkanlah
kepadaku; karena Sang Bhagavā tidak mengucapkan kebohongan.”
“Baik, Nyonya,” ia menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā dan saling
bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu
sisi dan berkata: “Guru Gotama, Ratu Mallikā bersujud dengan kepalanya di kaki
Sang Bhagavā dan menanyakan apakah Sang Bhagavā bebas dari sakit ... dan
berdiam dengan nyaman. Dan ia mengatakan ini: ‘Yang Mulia, apakah kata-kata ini
telah diucapkan oleh Sang Bhagavā: “Dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi”?’”
7. “Demikianlah, Brahmana, demikianlah! Dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang
disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.
8. “Dapat
dipahami dari ini, Brahmana, bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang ibunya
meninggal dunia. Karena kematian ibunya, ia menjadi gila, menjadi tidak waras,
dan berkeliaran dari jalan ke jalan dan dari persimpangan ke persimpangan,
dengan mengatakan: ‘Apakah kalian melihat ibuku? Apakah kalian melihat ibuku?’ [109]
9-14. “Dan
juga dapat dipahami dari ini bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang ayahnya
meninggal dunia ... yang saudara laki-lakinya meninggal dunia ... yang saudara
perempuannya meninggal dunia ... yang puteranya meninggal dunia ... yang
puterinya meninggal dunia ... yang suaminya meninggal dunia. Karena kematian
suaminya, ia menjadi gila, menjadi tidak waras, dan berkeliaran dari jalan ke jalan
dan dari persimpangan ke persimpangan, dengan mengatakan: ‘Apakah kalian
melihat suamiku? Apakah kalian melihat suamiku?’
15-21. “Dan
juga dapat dipahami dari ini bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang laki-laki
yang ibunya meninggal dunia ... yang ayahnya meninggal dunia ... yang saudara
laki-lakinya meninggal dunia ... yang saudara perempuannya meninggal dunia ...
yang puteranya meninggal dunia ... yang puterinya meninggal dunia ... yang
istrinya meninggal dunia. Karena kematian istrinya, ia menjadi gila, menjadi
tidak waras, dan berkeliaran dari jalan ke jalan dan dari persimpangan ke
persimpangan, dengan mengatakan: ‘Apakah kalian melihat istriku? Apakah kalian
melihat istriku?’
22. “Dan
juga dapat dipahami dari ini bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka
yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang perempuan yang
menetap bersama keluarga sanak saudaranya. Sanak saudaranya ingin menceraikan
dirinya dari suaminya dan menyerahkan dirinya kepada orang yang tidak ia sukai.
Kemudian perempuan itu berkata kepada suaminya: ‘Suamiku, sanak-saudaraku ingin
menceraikan aku darimu dan menyerahkan aku kepada orang lain yang tidak aku
sukai.’ Kemudian sang suami memotong perempuan itu menjadi dua [110] dan
menusuk perutnya sendiri, dengan pikiran: ‘Kita akan bersama-sama lagi dalam
kehidupan berikut.’ Ini juga dapat dipahami dari ini, Brahmana, bagaimana
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari
mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi.”
23. Kemudian, dengan merasa senang dan gembira mendengarkan kata-kata
Sang Bhagavā, Brahmana Nāḷijangha bangkit dari duduknya, menghadap Ratu
Mallikā, dan melaporkan kepadanya seluruh percakapannya dengan Sang Bhagavā.
24. Kemudian Ratu Mallikā menghadap Raja Pasenadi dari Kosala dan
bertanya: “Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah engkau menyayangi Puteri
Vajiri?”
“Tentu, Mallikā, aku menyayangi Puteri Vajiri.”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika
perubahan terjadi pada Puteri Vajiri, akankah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan,
dan keputus-asaan muncul pada dirimu?”
[Kitab Komentar : Ungkapan seperti “Jika
perubahan terjadi pada ...” ini sering digunakan sebagai bermakna penyakit
berat dan kematian.]
“Perubahan
pada Puteri Vajiri berarti perubahan dalam hidupku. Bagaimana mungkin dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam diriku?”
“Adalah
sehubungan dengan hal ini, Baginda, maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘Dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi,
muncul dari mereka yang disayangi.’
25-28. “Bagaimana
menurutmu, Baginda? Apakah engkau menyayangi Ratu Vāsabhā? … Apakah engkau
menyayangi Jenderal Viḍūḍabha? … [111] … Apakah
engkau menyayangiku? … Apakah engkau menyayangi Kāsi dan Kosala?”
[Kitab Komentar : Viḍūḍabha adalah putera raja, yang akhirnya
menggulingkannya. Kāsi dan Kosala adalah negeri yang dikuasai oleh raja.]
“Tentu, Mallikā, aku menyayangi Kāsi dan Kosala. Kita berhutang pada Kāsi
dan Kosala dalam hal bahwa kita menggunakan kayu cendana dan memakai kalung
bunga, dupa, dan salep dari Kāsi”
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika perubahan terjadi pada Kāsi dan
Kosala, akankah dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan
muncul dalam dirimu?”
“Perubahan
pada Kāsi dan Kosala berarti perubahan dalam hidupku. Bagaimana mungkin
dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan tidak muncul dalam
diriku?”
“Adalah
sehubungan dengan hal ini, Baginda, maka Sang Bhagavā yang mengetahui dan
melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, berkata: ‘Dukacita, ratapan,
kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi,
muncul dari mereka yang disayangi.’”
29. “Sungguh
mengagumkan, Mallikā, sungguh menakjubkan betapa jauhnya [112] Sang Bhagavā
menembus dengan kebijaksanaan dan melihat dengan kebijaksanaan! Pergilah, Mallikā, ambilkan aku air pencuci.”
[Kitab Komentar : Ia menggunakan air ini untuk
mencuci tangan dan kakinya dan membersihkan mulutnya sebelum memberi
penghormatan kepada Sang Buddha.]
Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bangkit dari duduknya, dan setelah
membenahi jubah atasnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangannya
sebagai penghormatan kepada Sang Bhagavā dan mengucapkan seruan ini tiga kali:
“Hormat kepada Sang
Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna! Hormat kepada Sang Bhagavā,
yang sempurna dan tercerahkan sempurna! Hormat kepada Sang Bhagavā, yang
sempurna dan tercerahkan sempurna!”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi mabuk dan
kecanduan serta tergila-gila pada “PENGHAPUSAN DOSA”, karenanya dukacita,
ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan muncul dalam diri mereka dan
berkuasa atas diri mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Akan
tetapi, telah ternyata level kecanduan dan mabuk-beratnya sang “nabi rasul Allah”
junjungan para umat agama samawi, lebih berat daripada umatnya sendiri,
karenanya lebih berat pula dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan
keputus-asaan muncul dalam diri sang “nabi rasul Allah”. Karena terancam kehilangan
surga akibat dosa-dosanya yang menumpuk dan menggunung, ia menjadi gila,
menjadi tidak waras, pikirannya tidak terkendali—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]