Umat Agama Samawi Mencoreng Agamanya Sendiri, karena Agama Samawi Memang Mencoreng Dirinya Sendiri Lewat Iming-Iming KORUP Semacam Dogma PENGHAPUSAN DOSA bagi PENDOSAWAN
Umat Buddhist yang Berbuat Buruk dan Tercela, adalah Umat yang Menyimpang
dari Dhamma karena Sang Buddha Tidak Menolerir Perbuatan Buruk Sekecil Apapun
Sebaliknya, Umat Agama Samawi yang Moderat juga Tidak Mabuk dan Tidak
Kecanduan Ritual PENGHAPUSAN DOSA, adalah OKNUM. Nabi Rasul Allah Sendiri
adalah Pecandu-Berat Ritual PENGHAPUSAN DOSA, dimana Taraf Kecanduannya
Kelas-Berat
Pernah ada seorang klien, yang memercayakan penulis atas perkara bernilai puluhan miliar Rupiah, sekalipun sang klien belum pernah berjumpa tatap-muka dengan penulis. Besar kemungkinan karena sang klien mengetahui bahwa penulis adalah seorang Buddhist. Jika penulis menyalah-gunakan kepercayaan orang lain, atau bahkan menipu, maka itu sama artinya mencoreng nama sang guru agung yang menjadi junjungan / teladan bagi penulis, yakni Sang Buddha yang sama sekali tidak menolerir sekecil apapun perbuatan buruk yang dapat dicela oleh para bijaksanawan.
Berbeda dengan agama samawi, umat agama samawi tidak ragu, tidak takut,
juga tidak malu mencoreng nama agama ataupun nabi junjungan mereka, semata
karena nabi junjungan mereka (nabi rasul Allah) sendiri telah ternyata
memberikan teladan mabuk serta kecanduan-berat dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN
/ PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA”, sehingga kita patut waspada dan berhati-hati
sekali berurusan ataupun memberi kepercayaan kepada umat agama samawi yang
setiap harinya ritual “PENGHAPUSAN DOSA” setelah sibuk memproduksi segunung
dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa yang
menjadi “business as usual” mereka.
Belum lagi tiap tahun mereka puasa ramadhan dimana konsumsi mereka
meningkat drastis, kerja malas-malasan, menuntut THR, meminta dihormati, sesrta
“dosa setahun dihapuskan”, umroh / haji dimana “dosa-dosa sebelumnya
terhapuskan”, serta saat meninggal dunia maka sanak saudara almarhum sang pendosawan
akan mendoakan “dosa-dosa almarhum dihapuskan”. Tidak pernah sedikitpun atau
sekalipun mereka memikirkan kepentingan korban-korban mereka, bahkan Allah
turut merampas hak-hak korban atas keadilan. Karena itulah, bila Anda terpaksa
memercayakan sesuatu kepada umat agama samawi, carilah umat agama samawi yang “OKNUM”
alias umat yang menyimpang dari ajaran agamanya.
Korupsi tetaplah korupsi, entah korupsi uang, korupsi kepercayaan,
korupsi kewajiban, korupsi waktu. Begitupula bila yang melakukan korupsi ialah
yang beragama samawi maupun yang korupsi adalah umat agama nonsamawi, korupsi
tetaplah korupsi, dan korupsi adalah buruk serta tercela. Sang Buddha pernah
bersabda, baik orang yang diberi kasta rendah maupun kasta tinggi oleh budaya
suatu masyarakat, warna dan panas api yang dihasilkan dari bahan bakar berupa
jerami adalah sama dan setara, tanpa perbedaan orang dari kasta manapun yang
membakarnya. Bila bahan bakarnya ialah kayu yang sama, dilakukan oleh orang
dari kasta rendah maupun kasta tinggi, adalah sama baik warna maupun kualitas
panasnya. Sehingga
bagaimana mungkin, bila yang korupsi ialah umat agama samawi maka mereka tetap
masuk surga, sementara bila yang korupsi ialah umat agama nonsamawi maka mereka
masuk neraka?
Agama samawi membuat segregasi sosial antara “kasta samawi” dan “kasta
nonsamawi”. Apakah “kasta samawi” merupakan kasta paling superior yang berhak
memonopoli alam surgawi, sementara “kasta nonsamawi” merupakan kasta yang lebih
inferior? Berikut apa yang menjadi pandangan Sang Buddha perihal kasta-kasta:
“Ada empat kasta ini, Yang Mulia: para mulia, para brahmana, para
pedagang, dan para pekerja. Sekarang jika mereka memiliki kelima faktor usaha
ini, dan jika usaha mereka benar, apakah ada perbedaan di antara mereka dalam
hal itu?”
“Di sini, Baginda, dalam
hal ini Aku katakan bahwa di antara mereka tidak ada perbedaan, yaitu, antara kebebasan yang satu dengan kebebasan
yang lainnya. Misalkan seseorang mengambil kayu sāka kering, menyalakan api,
dan menghasilkan panas; dan kemudian seorang lainnya mengambil kayu sāla
kering, menyalakan api, dan menghasilkan panas; dan kemudian seorang lainnya
lagi mengambil kayu mangga kering, menyalakan api, dan menghasilkan panas; dan
kemudian seorang lainnya lagi mengambil kayu ara kering, menyalakan api, dan
menghasilkan panas. Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah ada perbedaan
antara api-api ini yang dinyalakan oleh jenis kayu yang berbeda-beda, yaitu,
antara nyala api yang satu dengan nyala api yang lainnya, atau antara warna api
yang satu dengan warna api lainnya, atau antara cahaya api yang satu dengan
cahaya api lainnya?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Demikian pula, Baginda, ketika
api [spiritual] dibangkitkan oleh kegigihan, dinyalakan oleh usaha, Aku
katakan, tidak ada perbedaan, yaitu, antara kebebasan yang satu dengan
kebebasan yang lainnya.”
Ajaran Sang Buddha adalah ajaran tentang konsekuensi, salah satunya dapat
kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima
Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A
Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by
Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~SUTTA
90 ~
Kaṇṇakatthala Sutta : Di Kaṇṇakatthala
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Ujuññā, di Taman Rusa Kaṇṇakatthala.
2. Pada saat itu Raja Pasenadi dari Kosala telah tiba di Ujuññā untuk
suatu urusan. Kemudian ia berkata kepada orangnya: “Pergilah, temui Sang
Bhagavā dan bersujudlah atas namaku dengan kepalamu di kaki Beliau, dan
tanyakan apakah Beliau terbebas dari penyakit, apakah sehat, kuat dan berdiam
dengan nyaman, dengan mengatakan: ‘Yang Mulia, Raja Pasenadi dari Kosala
bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, dan ia menanyakan apakah Sang
Bhagavā terbebas dari penyakit … dan berdiam dengan nyaman.’ Kemudian katakan
ini: ‘Yang Mulia, hari ini Raja Pasenadi dari Kosala akan menghadap Sang Bhagavā
setelah ia sarapan pagi.’”
“Baik, Baginda,” orang itu menjawab, dan ia mendatangi Sang Bhagavā, dan
setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan menyampaikan
pesannya.
3. Dua bersaudari Somā dan Sakulā845 mendengar: “Hari ini [126] Raja
Pasenadi dari Kosala akan menghadap Sang Bhagavā setelah ia sarapan pagi.”
[Kitab Komentar : Kedua bersaudari ini adalah
istri-istri raja (bukan saudarinya!).]
Kemudian, ketika makanan sedang dihidangkan, kedua bersaudari itu
menghadap raja dan berkata: “Baginda, bersujudlah atas nama kami dengan
kepalamu di kaki Sang Bhagavā, dan tanyakan apakah Beliau terbebas dari
penyakit, apakah sehat, kuat dan berdiam dengan nyaman, dengan mengatakan:
‘Yang Mulia, kedua bersaudari Somā dan Sakulā bersujud dengan kepala mereka di
kaki Sang Bhagavā, dan mereka menanyakan apakah Sang Bhagavā terbebas dari penyakit
… dan berdiam dengan nyaman.’”
4. Kemudian, ketika ia telah menyelesaikan sarapannya, Raja Pasenadi dari
Kosala menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di
satu sisi dan menyampaikan pesan dari kedua bersaudari Somā dan Sakulā.
“Tetapi, Baginda, apakah Kedua bersaudari Somā dan Sakulā tidak dapat
mengutus utusan lain?”
“Yang Mulia, kedua bersaudari Somā dan Sakulā mendengar: ‘Hari ini Raja
Pasenadi dari Kosala akan menghadap Sang Bhagavā setelah ia sarapan pagi.’
Kemudian, sewaktu makanan sedang dihidangkan, kedua bersaudari Somā dan Sakula mendatangiku
dan berkata: ‘Baginda, bersujudlah atas nama kami dengan kepalamu di kaki Sang
Bhagavā, dan tanyakan apakah Beliau terbebas dari penyakit … dan berdiam dengan
nyaman.’”
“Semoga Kedua bersaudari Somā dan Sakulā berbahagia, Baginda.”
5. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang
Mulia, aku telah mendengar sebagai berikut: ‘Petapa Gotama mengatakan: “Tidak
ada petapa atau brahmana yang maha-tahu dan maha-melihat, memiliki pengetahuan
dan penglihatan lengkap; itu adalah tidak mungkin.”’ Yang Mulia, apakah mereka
yang mengatakan demikian [127] mengatakan apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā,
dan tidak salah memahami Beliau dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Apakah
mereka menjelaskan sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan
landasan bagi celaan yang dapat dengan benar disimpulkan dari pernyataan
mereka?”
“Baginda, mereka yang mengatakan demikian tidak mengatakan apa yang telah
dikatakan olehKu, melainkan salah memahamiKu dengan apa yang tidak benar dan
berlawanan dengan fakta.”
6. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada Jenderal Viḍūḍabha: “Jenderal, siapakah yang menyampaikan kisah ini ke istana?”
“Ia adalah Sañjaya, Baginda, brahmana dari suku Ākāsa.”
7. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala memanggil orangnya: “Pergilah, atas
namaku beritahulah Sañjaya, brahmana dari suku Ākāsa: ‘Yang Mulia, Raja
Pasenadi dari Kosala memanggil engkau.’”
“Baik, Baginda,” orang itu menjawab. Ia mendatangi Sañjaya, brahmana dari
suku Ākāsa, dan memberitahunya: “Yang Mulia, Raja Pasenadi dari Kosala
memanggil engkau.”
8. Sementara itu Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, mungkinkah sesuatu yang lain telah dikatakan oleh Sang Bhagavā
dengan merujuk pada hal itu, dan seseorang memahaminya secara keliru? Dengan
cara bagaimanakah yang Sang Bhagavā ingat telah mengucapkan ucapan demikian?”
“Aku ingat pernah mengucapkan sebagai berikut, Baginda: ‘Tidak ada petapa atau
brahmana yang mengetahui segalanya, yang melihat segalanya, secara bersamaan;
itu adalah tidak mungkin.’”
[Kitab Komentar : Tidak ada seorangpun yang dapat
mengetahui dan melihat segalanya – masa lampau, masa sekarang, dan masa depan –
dengan satu tindakan pengalihan pikiran, dengan satu tindakan kesadaran;
demikianlah persoalan ini dibahas dalam hal satu tindakan kesadaran tunggal (ekacitta).
Mengenai pertanyaan tentang jenis kemahatahuan yang oleh tradisi Theravāda
dianggap berasal dari Sang Buddha, dapat merujuk Tevijjavacchagotta Sutta: Majjhima
Nikāya Sutta 71.
Kitab Komentar menjelaskan bahwa walaupun sebagian
pernyataan ini benar, namun Sang Buddha menolak keseluruhan pernyataan karena porsinya
tidak benar. Bagian pernyataan yang benar adalah penegasan bahwa Sang Buddha
adalah maha-tahu dan maha-melihat; bagian yang berlebih-lebihan dalam
pernyataan itu adalah bahwa pengetahuan dan penglihatan terus-menerus ada padaNya.
Menurut tradisi penafsiran Theravāda Sang Buddha adalah maha-tahu dalam makna
bahwa semua hal-hal yang dapat diketahui adalah terjangkau olehNya.
Akan tetapi, Beliau tidak dapat, mengetahui segala
sesuatu pada saat bersamaan dan harus mengarahkannya pada apapun yang Beliau
ingin ketahui. Pada Majjhima Nikāya 90.8 Sang Buddha mengatakan bahwa adalah
mungkin untuk mengetahui dan melihat segala sesuatu, walaupun tidak pada saat
bersamaan. Dan pada Anguttara Nikāya 4:24 / ii.24 Beliau mengaku mengetahui
segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dicerap, dan dikenali. Ini
dipahami oleh para komentator Theravada sebagai suatu penegasan kemaha-tahuan
dalam makna yang memenuhi syarat. Sehubungan dengan hal ini, baca juga Milindapañha
102-7.]
“Apa yang Sang Bhagavā katakan cukup masuk akal, apa yang Sang Bhagavā
katakan didukung oleh logika. ‘Tidak ada petapa atau brahmana [128] yang
mengetahui segalanya, yang melihat segalanya, secara
bersamaan; itu adalah tidak mungkin.’”
9. “Ada empat kasta ini, Yang Mulia: para mulia, para brahmana, para
pedagang, dan para pekerja. Adakah perbedaan di antara mereka?”
“Ada empat kasta ini, Baginda: para mulia, para brahmana, para pedagang,
dan para pekerja. Dua di antaranya, yaitu, para mulia dan para brahmana,
dianggap lebih tinggi karena orang-orang menyembah mereka, bangkit untuk
mereka, dan memberikan penghormatan dan pelayanan yang sopan kepada mereka.”
10. “Yang Mulia, aku tidak menanyakan tentang kehidupan sekarang; aku
menanyakan tentang kehidupan mendatang. Ada empat kasta, Yang Mulia: para
mulia, para brahmana, para pedagang, dan para pekerja. Adakah perbedaan di
antara mereka?”
[Kitab Komentar : Perihal “aku menanyakan tentang
kehidupan mendatang”, yaitu, ia tidak menanyakan tentang status sosial
mereka melainkan tentang prospek kemajuan spiritual dan pencapaian mereka.]
“Baginda, ada lima faktor usaha ini. Apakah lima ini? Di sini seorang
bhikkhu memiliki keyakinan, ia berkeyakinan pada pencerahan Sang Tathāgata
sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam
pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal segenap alam, pemimpin tanpa
tandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia,
tercerahkan, terberkahi.’ Kemudian ia bebas dari penyakit dan penderitaan,
memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin juga tidak terlalu
panas melainkan menengah dan mampu menahankan tekanan usaha. Kemudian ia jujur
dan tulus, dan memperlihatkan dirinya sebagaimana adanya kepada Guru dan
teman-temannya dalam kehidupan suci. Kemudian ia bersemangat dalam meninggalkan
kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan dalam mengusahakan kondisi-kondisi yang
bermanfaat, mantap, mengerahkan usahanya dengan keteguhan dan tekun dalam
melatih kondisi-kondisi yang bermanfaat. Kemudian ia bijaksana; ia memiliki
kebijaksanaan sehubungan dengan kemunculan dan kelenyapan yang mulia dan menembus
dan mengarah pada kehancuran penderitaan sepenuhnya. Ini adalah lima faktor
usaha.
[Kitab Komentar : Perihal “lima faktor usaha”, seperti
pada Majjhima Nikāya 85.58, Bodhirājakumāra Sutta, dengan kutipan sebagai
berikut:
“Demikian pula, Pangeran, terdapat lima faktor
usaha. Apakah lima ini? Di sini seorang bhikkhu memiliki keyakinan, ia
berkeyakinan pada pencerahan Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā
sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku,
mulia, pengenal segenap alam, pemimpin tanpa tandingan bagi orang-orang yang
harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’
“Kemudian ia bebas dari penyakit dan kesusahan,
memiliki pencernaan yang baik yang tidak terlalu dingin juga tidak terlalu
panas melainkan menengah dan mampu menahankan tekanan usaha.
“Kemudian ia jujur dan tulus, dan memperlihatkan
dirinya sebagaimana adanya kepada Guru dan teman-temannya dalam kehidupan suci.
“Kemudian ia bersemangat dalam meninggalkan
kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan dalam mengusahakan kondisi-kondisi
yang bermanfaat, mantap, mengerahkan usahanya dengan keteguhan dan tekun dalam
melatih kondisi-kondisi yang bermanfaat.
“Kemudian ia bijaksana; ia memiliki kebijaksanaan
sehubungan dengan kemunculan dan kelenyapan yang mulia dan menembus dan
mengarah pada kehancuran penderitaan sepenuhnya. Ini adalah lima faktor usaha.”]
“Ada empat kasta ini, Baginda: para mulia, para brahmana, para pedagang,
dan para pekerja. Sekarang jika mereka memiliki kelima faktor usaha ini, maka
itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk waktu yang
lama.”
11. “Ada empat kasta ini, Yang Mulia: para mulia, para brahmana, para
pedagang, [129] dan para pekerja. Sekarang
jika mereka memiliki kelima faktor usaha ini, apakah ada perbedaan di antara
mereka?”
“Di
sini, Baginda, Aku katakan bahwa perbedaan di antara mereka terletak pada
keberagaman usaha mereka. Misalkan terdapat dua ekor gajah yang dapat
dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang
telah jinak dan disiplin, dan dua ekor gajah yang dapat dijinakkan atau kuda yang
dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak
disiplin. Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah kedua ekor gajah yang dapat
dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang
telah jinak dan disiplin, karena jinak, memiliki perilaku yang jinak, apakah
mereka akan sampai pada tingkat yang jinak?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Dan
apakah kedua ekor gajah yang dapat dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan
atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak disiplin, karena
tidak jinak, dapat memiliki perilaku yang jinak, apakah mereka akan sampai pada
tingkat jinak seperti kedua ekor gajah atau kedua ekor kuda atau sapi yang
dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Demikian
pula, Baginda, tidaklah mungkin bahwa apa yang dapat dicapai oleh seseorang
yang memiliki keyakinan, yang bebas dari penyakit, yang jujur dan tulus, yang
bersemangat, dan yang bijaksana, dapat dicapai oleh seseorang yang tidak
memiliki keyakinan, yang memiliki penyakit, yang curang dan penuh muslihat,
yang malas, dan yang tidak bijaksana.”
12. “Apa
yang Sang Bhagavā katakan cukup masuk akal, apa yang Sang Bhagavā katakan
didukung oleh logika.
“Ada empat kasta ini, Yang Mulia: para mulia, para brahmana, para
pedagang, dan para pekerja. Sekarang
jika mereka memiliki kelima faktor usaha ini, dan jika usaha mereka benar,
apakah ada perbedaan di antara mereka dalam hal itu?”
“Di
sini, Baginda, dalam hal ini Aku katakan bahwa di antara mereka tidak ada
perbedaan, yaitu, antara kebebasan yang satu dengan kebebasan yang lainnya.
Misalkan seseorang mengambil kayu sāka kering, menyalakan api, dan menghasilkan
panas; dan kemudian seorang lainnya mengambil kayu sāla kering, menyalakan api,
dan menghasilkan panas; [130] dan kemudian seorang lainnya lagi mengambil kayu
mangga kering, menyalakan api, dan menghasilkan panas; dan kemudian seorang
lainnya lagi mengambil kayu ara kering, menyalakan api, dan menghasilkan panas.
Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah ada perbedaan antara api-api ini yang
dinyalakan oleh jenis kayu yang berbeda-beda, yaitu, antara nyala api yang satu
dengan nyala api yang lainnya, atau antara warna api yang satu dengan warna api
lainnya, atau antara cahaya api yang satu dengan cahaya api lainnya?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Demikian
pula, Baginda, ketika api [spiritual] dibangkitkan oleh kegigihan, dinyalakan
oleh usaha, Aku katakan, tidak ada perbedaan, yaitu, antara kebebasan yang satu
dengan kebebasan yang lainnya.”
13. “Apa yang Sang Bhagavā katakan cukup masuk akal, apa yang Sang
Bhagavā katakan didukung oleh logika. Tetapi, Yang Mulia, bagaimanakah ini:
apakah ada para dewa?”
“Mengapa engkau menanyakan itu, Baginda?”
“Yang Mulia, aku menanyakan apakah para dewa itu kembali di alam
[manusia] ini atau tidak.”
“Baginda,
para dewa yang masih tunduk pada permusuhan akan kembali ke alam [manusia] ini,
para dewa yang tidak lagi tunduk pada permusuhan tidak akan kembali ke alam
[manusia] ini.”
[Kitab Komentar menjelaskan kembali dan tidak
kembali sebagai merujuk pada kelahiran kembali, dengan demikian menyiratkan
bahwa para dewa yang tidak kembali adalah para “yang-tidak-kembali”, sementara
mereka yang kembali adalah yang masih menjadi ‘kaum duniawi.’ Keluhuran yang
sama berlaku pada pembahasan tentang Brahmā dalam paragraf nomor ke-15.
Kedua kata kunci di sini yang membedakan kedua jenis
dewa muncul dalam edisi Pāli Text Society sebagai savyāpajjhā dan abyāpajjhā,
“tunduk pada permusuhan” dan “bebas dari permusuhan,” berturut-turut; dalam
SBJ, sebagai sabyāpajjhā dan abyāpajjhā (yang bermakna sama
secara efektif): dalam BBS, kata itu muncul sebagai sabyābajjhā dan abyābajjhā,
“tunduk pada penderitaan” dan “tidak tunduk pada penderitaan.”
Versi terakhir ini didukung oleh Kitab Komentar,
yang menjelaskan perbedaannya melalui penderitaan batin. Sepertinya lebih
mungkin bahwa seorang pangeran akan lebih memperhatikan niat jahat para dewa
daripada pengalaman penderitaan mereka. Catatan bahwa kata itthatta,
yang dalam penjelasan umum Kearahantaan menyiratkan kondisi perwujudan
kehidupan manapun, di sini dikemas oleh Kitab Komentar sebagai manussaloka,
alam manusia.]
14. Ketika hal ini dikatakan, Jenderal Viḍūḍabha bertanya kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, dapatkah para dewa yang masih
tunduk pada permusuhan dan kembali ke alam [manusia] ini menjatuhkan atau
mengusir para dewa yang tidak lagi tunduk pada permusuhan dan tidak kembali ke
alam [manusia] ini dari tempat itu?”
Kemudian Yang Mulia Ānanda berpikir: “Jenderal Viḍūḍabha ini adalah putera Raja Pasenadi dari Kosala, dan aku adalah putera
Sang Bhagavā. Ini adalah waktunya bagi satu putera berbicara dengan putera
lainnya.” Ia berkata kepada Jenderal Viḍūḍabha: “Jenderal, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu
sebagai jawaban. Jawablah sesuai apa yang engkau anggap benar. Jenderal,
bagaimanakah menurutmu? Terdapat seluruh wilayah kekuasaan Raja Pasenadi dari
Kosala, di mana [131] ia berkuasa dan memerintah; sekarang dapatkah Raja Pasenadi
dari Kosala menjatuhkan atau mengusir petapa atau brahmana manapun dari tempat
itu, tanpa memandang apakah petapa atau brahmana itu memiliki jasa kebajikan
atau tidak, dan apakah ia menjalani kehidupan suci atau tidak?”
“Ia dapat melakukannya, Yang Mulia.”
“Bagaimana
menurutmu, Jenderal? Terdapat seluruh wilayah yang bukan kekuasaan Raja
Pasenadi dari Kosala, di mana ia tidak berkuasa dan tidak memerintah; sekarang
dapatkah Raja Pasenadi dari Kosala menjatuhkan atau mengusir petapa atau brahmana
manapun dari tempat itu, tanpa memandang apakah petapa atau brahmana itu
memiliki jasa kebajikan atau tidak, dan apakah ia menjalani kehidupan suci atau
tidak?”
“Ia
tidak dapat melakukannya, Yang Mulia.”
“Jenderal, bagaimana menurutmu? Pernahkan engkau mendengar tentang para
dewa Tiga Puluh Tiga?”
“Ya, Yang Mulia, aku pernah mendengarnya. Dan Raja Pasenadi dari Kosala
juga pernah mendengarnya.”
“Bagaimana menurutmu, Jenderal? Dapatkah Raja Pasenadi dari Kosala
menjatuhkan atau mengusir para dewa Tiga Puluh Tiga dari tempat itu?”
“Yang Mulia, Raja Pasenadi dari Kosala bahkan tidak dapat melihat para
dewa Tiga Puluh Tiga, jadi bagaimana mungkin ia menjatuhkan atau mengusir
mereka dari tempat itu?”
“Demikian
pula, Jenderal, para dewa yang masih tunduk pada permusuhan dan yang kembali ke
alam [manusia] ini bahkan tidak dapat melihat para dewa yang tidak lagi tunduk
pada permusuhan dan yang tidak kembali lagi ke alam [manusia] ini; jadi
bagaimana mungkin mereka menjatuhkan atau mengusir mereka dari tempat itu?”
15. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, siapakah nama bhikkhu ini?”
“Namanya adalah Ānanda, Baginda.”
“Sungguh ia adalah Ānanda (kegembiraan), Yang Mulia, dan ia tampak
seperti Ānanda. Apa
[132] yang dikatakan Yang Mulia Ānanda cukup masuk akal, apa yang ia katakan
didukung oleh logika. Tetapi,
Yang Mulia, apakah ada Brahmā?”
“Mengapa engkau menanyakan itu, Baginda?”
“Yang Mulia, aku menanyakan apakah Brahmā itu kembali di alam [manusia]
ini atau tidak.”
“Baginda,
Brahmā yang masih tunduk pada permusuhan akan kembali ke alam [manusia] ini,
Brahmā yang tidak lagi tunduk pada permusuhan tidak akan kembali ke alam
[manusia] ini.”
16. Kemudian seseorang mengumumkan kepada Raja Pasenadi dari Kosala:
“Baginda, Sañjaya, brahmana dari suku Ākāsa, telah tiba.”
Raja Pasenadi dari Kosala bertanya kepada Sañjaya, brahmana dari suku
Ākāsa: “Brahmana, siapakah yang menyampaikan kisah ini ke istana?”
“Baginda, ia adalah Jenderal Viḍūḍabha.”
Jenderal Viḍūḍabha berkata: “Baginda, Ia adalah Sañjaya, brahmana
dari suku Ākāsa.”
17. Kemudian seseorang mengumumkan kepada Raja Pasenadi dari Kosala:
“Baginda, sekarang waktunya untuk pergi.”
Raja Pasenadi dari Kosala berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, kami
telah menanyakan kepada Sang Bhagavā tentang kemaha-tahuan, dan Sang Bhagavā
telah menjawab tentang kemaha-tahuan; kami menyetujui dan menerima jawaban itu,
dan kami puas. Kami telah menanyakan kepada Sang Bhagavā tentang pemurnian
empat kasta, dan Sang Bhagavā telah menjawab tentang pemurnian empat kasta;
kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan kami puas. Kami telah menanyakan
kepada Sang Bhagavā tentang para dewa, dan Sang Bhagavā telah menjawab tentang
para dewa; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan kami puas. Kami telah menanyakan
kepada Sang Bhagavā tentang para Brahmā, dan Sang Bhagavā telah menjawab
tentang para Brahmā; kami menyetujui dan menerima jawaban itu, dan kami puas.
Apapun yang kami tanyakan kepada Sang Bhagavā, telah dijawab oleh Sang Bhagavā;
kami menyetujui dan menerima jawaban-jawaban itu, dan kami puas. [133] Dan
sekarang, Yang Mulia, kami pergi. Kami sibuk dan banyak yang harus dilakukan.”
“Silahkan engkau pergi, Baginda.”
18. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala, dengan merasa senang dan gembira
mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud
kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi yang ada
hanyalah satu jenis kasta, yakni “kasta PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di kehidupan mendatang serta begitu pengecut untuk bertanggung-jawab
atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kembali
mengutip sabda Sang Buddha di muka, bahwa “tidaklah mungkin bahwa apa
yang dapat dicapai oleh seseorang yang memiliki keyakinan, yang bebas dari
penyakit, yang jujur dan tulus, yang bersemangat, dan yang bijaksana, dapat
dicapai oleh seseorang yang tidak memiliki keyakinan, yang memiliki penyakit,
yang curang dan penuh muslihat, yang malas, dan yang tidak bijaksana”. Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” lebih layak dan patut terlahir-kembali
ke alam surgawi ataukah jatuh ke alam rendah yang menderita dan tanpa
kebahagiaan—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]