“Dan apakah kehendak-kehendak bermanfaat? Yaitu kehendak pelepasan keduniawian, kehendak tanpa-permusuhan, dan kehendak tanpa-kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak bermanfaat.” [SANG BUDDHA]
Question : Ketika ada seorang ayah kandung, memerkosa puteri kandungnya sendiri, maka sang ayah akan dipidana penjara dan dihukum sanksi sosial oleh masyarakat. Alasannya, karena nyawa dan hidup sang anak, bukanlah milik sang ayah. Namun, mengapa logika yang sama, seolah tidak belaku dalam kasus penyembelihan oleh Ibrahim terhadap putera kandungnya, Ismail. Atau sebaliknya, mengapa logika dibalik peristiwa penyembelihan oleh Ibarhim terhadap Ismail, tidak diterapkan dalam konstruksi peristiwa pemerkosaan oleh seorang ayah terhadap puteri kandungnya?
Ada “standar ganda”
argumentasi di sini, dimana dalam kisah Ibrahim menyembelih Ismail, maupun
dalam kisah Abraham terhadap Ishaq, para muslim beralibi bahwa nyawa, hidup,
serta leher Ismail adalah MILIK Ibrahim, karenanya yang sedang berkurban ialah
Ibrahim, bukan Ismail. Bukankah terdapat “contradictio in terminis”,
yakni dua konstruksi berpikir yang saling bertumpang-tindih dan saling
berseberangan di sini, antara kisah Ibrahim menyembelih putera kandungnya dan
peristiwa seorang ayah meruda-paksa puteri kandungnya sendiri.
Namun ada satu kesamaan
dari keduanya, yakni sang ayah, baik Ibrahim maupun sang pelaku pemerkosa,
sama-sama EGO. Adapun “selfish motive” Ibrahim tega menyembelih Ismail,
ialah karena “mimpi-basah” obsesi nafsu bersetubuh dengan puluhan bidadari
alias ingin bersenang-senang di surga, dengan merampas nyawa MILIK ORANG LAIN,
yakni nyawa milik Ismail, alih-alih menyembelih leher MILIK SANG AYAH SENDIRI. At
that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR! Begitupula seorang
ayah yang merampas kegadisan sang puteri, saat itu ia bukanlah lagi seorang
ayah, namun seorang PREDATOR-ANAK!
Brief
Answer : Bila kita merujuk sumber
kisah Abraham yang merampas nyawa Ishaq maupun kisah Ibrahim yang menyembelih
Ismail, telah ternyata tidak akan kita jumpai Ibrahim maupun Abraham yang berkata
: “I treasure him more than my own life.” Seorang ayah yang
betul-betul mencintai dan mengasihi anaknya, akan memilih untuk masuk neraka
demi menebus nyawa sang anak, bukan justru merampas hidup dan kebahagiaan sang
anak. Sang Buddha pernah menyebutkan, bahwa perilaku tidak bermoral demikian,
adalah masih kalah suci daripada seorang bayi yang lembut yang berbaring
telungkup yang “tak berbahaya” (harmless), tidak membawa petaka bagi
pihak manapun atas eksistensinya. Sebaliknya, Sang Buddha telah pernah bersabda:
“Aku katakan, harus
dipahami bahwa: ‘Ini adalah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat,’ dan bahwa:
‘Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat berasal-mula dari ini,’ dan bahwa:
‘Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa:
‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju
lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat.’
“Dan Aku katakan, harus
dipahami bahwa: ‘Ini adalah kehendak-kehendak tidak bermanfaat,’ dan bahwa:
‘Kehendak-kehendak tidak bermanfaat berasal-mula dari ini,’ [26] dan bahwa:
‘Kehendak-kehendak tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa:
‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju
lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat.’
“Dan bagaimanakah ia
mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat? Di
sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak memunculkan
kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul dan ia berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan
kemauan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang
telah muncul … Ia membangkitkan kemauan untuk memunculkan kondisi-kondisi
bermanfaat yang belum muncul … Ia membangkitkan kemauan untuk mempertahankan
kelangsungan, ketidaklenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan
pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia
berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. [27]
Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya
kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat.”
Logika
maupun argumentasi dogma-dogma agama samawi, tidak pernah konsisten satu sama
lainnya. Mereka menyebut kaum homoseksual maupun lesbian, sebagai “melanggar
kodrat”. Namun, mereka kemudian memungkiri bahwa “kodratnya
pendosa ialah masuk neraka”, lalu menipu
diri mereka sendiri lewat dogma korup semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN /
PENEBUSAN DOSA”, sekalipun semua orang berakal-sehat menyadari betul bahwa
hanya seorang “KORUPTOR DOSA” yang butuh iming-iming korup demikian, dimana
dosa-dosa pun masih juga mereka korupsi dengan menyebutnya sebagai “kembali ke
fitri”.
Ketika
ada seorang pasutri (pasangan suami-istri) yang tidak memiliki anak, entah
karena mereka inginkan demikian atau sebaliknya, lantas pun akan dihakimi
sebagai “tidak normal” karena kodratnya orang menikah ialah untuk melanjutkan
keturunan? Sang Buddha berjuang melawan arus dan memupus tumimbal-lahir
sehingga terputus siklus penjelmaan kelahiran-kembali, apakah juga akan mereka tuding
tanpa dasar sebagai “melanggar kodrat”? Perhatikan apa yang pernah disabdakan
oleh Sang Buddha, dengan kutipan sebagai berikut:
“Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring
telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang
bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi,
menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna. Karena
seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan
‘jasmani,’ jadi bagaimana ia melakukan perbuatan buruk jasmani yang lebih dari
sekadar menggeliat? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan
tidak memiliki gagasan ‘ucapan,’ jadi bagaimana ia mengucapkan ucapan buruk
yang lebih dari sekedar rengekan? Seorang bayi yang lembut yang berbaring
telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘kehendak,’ jadi bagaimana ia memiliki
kehendak buruk yang lebih dari sekedar merajuk? Seorang bayi yang lembut yang
berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘penghidupan,’ jadi bagaimana
ia bagaimana melakukan penghidupan buruk yang lebih dari sekedar menyusu pada
dada ibunya? Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang
berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam
apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian
tertinggi, menurut
pernyataan Pengembara Uggāhamāna.
“Ketika
seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan sebagai terampil dalam
apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang bermanfaat, dan bukan
seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, tetapi
sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan bayi lembut yang
berbaring telungkup itu. Apakah empat ini? Di sini ia tidak melakukan perbuatan
buruk jasmani, ia tidak mengucapkan ucapan buruk, ia tidak memiliki kehendak
yang buruk, dan ia tidak mencari penghidupan melalui jenis penghidupan yang
buruk yang manapun. Ketika seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia
bukan sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang
bermanfaat, dan bukan seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian
tertinggi, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan
bayi lembut yang berbaring telungkup itu.”
Siapa
juga yang menentukan apa itu “kodrat”, karena faktanya tiada seorang pun
diantara kita, termasuk mereka, yang pernah meminta diciptakan ataupun
dilahirkan ke dunia ini. Bila boleh memilih, maka penulis pun akan memilih
untuk tidak pernah terlahirkan ke alam manapun juga. Ketika ajaran dan
teladannya justru mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition of sins)
ketimbang mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa-dosa maupun maksiat,
namun masih pula mengklaim sebagai “Agama SUCI yang bersumber dari Kitab SUCI”,
maka itulah tepatnya yang disebut sebagai “agama OMONG KOSONG”.
PEMBAHASAN:
Perihal kebiasaan dan kehendak yang bermanfaat serta yang tidak
bermanfaat, untuk selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
SUTTA
78
Samaṇamaṇḍikā Sutta : Samaṇamaṇḍikāputta
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada saat itu Pengembara Uggāhamāna Samaṇamaṇḍikāputta sedang menetap di Taman Mallikā, di aula tunggal
kebun Tinduka untuk perdebatan filosofis, [23] bersama dengan sejumlah besar
para pengembara, berjumlah tiga ratus pengembara.
[Kitab Komentar : Taman itu dibangun oleh Ratu
Mallikā, istri Raja Pasenadi dari Kosala, dan diperindah dengan pohon
bunga-bungaan dan buah-buahan. Pada awalnya, hanya satu aula dibangun, yang
menjelaskan asal namanya, tetapi setelah itu banyak aula dibangun. Banyak para
brahmana dan pengembara berkumpul di sini untuk menjelaskan dan mendiskusikan
ajaran-ajaran mereka.]
2. Tukang kayu Pañcakanga keluar dari Sāvatthī pada suatu siang hari
untuk menemui Sang Bhagavā. Kemudian ia berpikir: “Bukan waktu yang tepat untuk
menemui Sang Bhagavā; Beliau masih bermeditasi. Dan bukan waktu yang tepat
untuk menemui para bhikkhu yang layak dihormati; mereka masih bermeditasi. Bagaimana
jika aku pergi ke Taman Mallikā, mengunjungi Pengembara Uggāhamāna Samaṇamaṇḍikāputta?” Dan ia pergi ke Taman Mallikā.
3. Pada saat itu Pengembara Uggāhamāna sedang duduk bersama dengan
sejumlah besar para pengembara yang sangat gaduh, ribut dan berisik
membicarakan berbagai jenis pembicaraan tanpa arah. Seperti pembicaraan
tentang raja-raja, para perampok, para menteri, bala tentara, bahaya,
peperangan, makanan, minuman, pakaian, tempat tidur, kalung bunga,
wangi-wangian, sanak saudara, kendaraan, desa-desa, pemukiman-pemukiman,
kota-kota, negeri-negeri, para perempuan, para pahlawan, jalan-jalan, sumur,
orang mati, hal-hal remeh, asal-mula dunia, asal-mula lautan, apakah hal-hal
adalah seperti ini atau tidak seperti ini.
[Kitab Komentar : Tiracchānakathā, pembicaraan
tanpa arah. Banyak penerjemah menerjemahkan kata ini sebagai “percakapan
binatang.” Akan tetapi, tiracchāna secara literal berarti “berjalan
secara horizontal,” dan walaupun kata ini digunakan sebagai sebutan bagi
binatang, namun Kitab Komentar menjelaskan bahwa dalam konteks sekarang ini
berarti percakapan yang berjalan “secara horizontal” atau “tegak lurus” terhadap
jalan menuju alam surga atau kebebasan.]
Kemudian Pengembara Uggāhamāna Samaṇamaṇḍikāputta dari jauh melihat kedatangan si tukang kayu
Pañcakanga. Melihatnya, ia menenangkan kelompoknya sebagai berikut:
“Tuan-tuan, diamlah, jangan berisik. Telah datang si tukang kayu Pañcakanga,
seorang siswa Petapa Gotama, salah satu umat awam berpakaian putih dari Petapa
Gotama yang menetap di Sāvatthī.
Para Mulia ini menyukai ketenangan dan menghargai ketenangan. Mungkin jika ia
melihat kelompok kita yang tenang, ia akan berpikir untuk bergabung dengan kita.” Kemudian para pengembara itu menjadi diam.
4. Si tukang kayu Pañcakanga mendatangi Pengembara Uggāhamāna dan saling
bertukar sapa dengannya. [24] Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu
sisi. Kemudian Pengembara Uggāhamāna berkata kepadanya:
5. “Tukang kayu, ketika seseorang memiliki empat kualitas, kugambarkan ia
sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat,
seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi. Apakah empat
ini? Di sini ia tidak melakukan perbuatan buruk jasmani, ia tidak mengucapkan
ucapan buruk, ia tidak memiliki kehendak yang buruk, dan ia tidak mencari
penghidupan melalui jenis penghidupan yang buruk yang manapun. Ketika seseorang
memiliki empat kualitas, kugambarkan ia sebagai
terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang
petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi.”
6. Kemudian si tukang kayu Pañcakanga tidak menyetujui juga tidak
membantah kata-kata Pengembara Uggāhamāna. Dengan tidak melakukan salah satunya
ia bangkit dari duduknya dan pergi, dengan berpikir: “aku akan mempelajari
makna dari pernyataan ini di hadapan Sang Bhagavā.”
7. Kemudian ia mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada
Beliau, ia duduk di satu sisi dan melaporkan kepada Sang Bhagavā seluruh
pembicaraannya dengan Pengembara Uggāhamāna. Kemudian Sang Bhagavā berkata:
8. “Kalau
begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup
adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat,
seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, menurut
pernyataan Pengembara Uggāhamāna. Karena seorang bayi yang lembut yang
berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘jasmani,’ jadi bagaimana ia
melakukan perbuatan buruk jasmani yang lebih dari sekadar menggeliat? Seorang
bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘ucapan,’
jadi bagaimana ia mengucapkan ucapan buruk yang lebih dari sekedar rengekan?
Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan
‘kehendak,’ jadi bagaimana ia memiliki kehendak buruk yang lebih dari sekedar
merajuk? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak
memiliki gagasan ‘penghidupan,’ jadi bagaimana [25] ia bagaimana melakukan
penghidupan buruk yang lebih dari sekedar menyusu pada dada ibunya? Kalau begitu,
Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah
terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang
petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, menurut pernyataan
Pengembara Uggāhamāna.
“Ketika
seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan sebagai terampil dalam
apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang bermanfaat, dan bukan
seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi, tetapi
sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan bayi lembut yang
berbaring telungkup itu. Apakah empat ini? Di sini ia tidak melakukan perbuatan
buruk jasmani, ia tidak mengucapkan ucapan buruk, ia tidak memiliki kehendak yang
buruk, dan ia tidak mencari penghidupan melalui jenis penghidupan yang buruk
yang manapun. Ketika seseorang memiliki empat kualitas, Kugambarkan ia bukan
sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, bukan sempurna dalam apa yang
bermanfaat, dan bukan seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian
tertinggi, tetapi sebagai seseorang yang berada dalam kelompok yang sama dengan
bayi lembut yang berbaring telungkup itu.
9. “Ketika
seseorang memiliki sepuluh kualitas, Tukang kayu, Kugambarkan ia sebagai
terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang
petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tertinggi. [Tetapi pertama-tama]
Aku katakan, harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kebiasaan-kebiasaan tidak
bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat berasal-mula dari
ini,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa di
sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan
jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat.’ Dan Aku katakan,
harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kebiasaan-kebiasaan bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan
bermanfaat berasal-mula dari ini,’ dan bahwa: ‘Kebiasaan-kebiasaan bermanfaat
lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini
berarti mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat.’
Dan Aku katakan, harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kehendak-kehendak tidak
bermanfaat,’ dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak tidak bermanfaat berasal-mula dari
ini,’ [26] dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa di
sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan jalan ini berarti mempraktikkan
jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak bermanfaat.’ Dan Aku katakan,
harus dipahami bahwa: ‘Ini adalah kehendak-kehendak bermanfaat,’ dan bahwa:
‘Kehendak-kehendak bermanfaat berasal-mula dari ini,’ dan bahwa: ‘Kehendak-kehendak
bermanfaat lenyap tanpa sisa di sini,’ dan bahwa: ‘Seorang yang mempraktikkan
jalan ini berarti mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak bermanfaat.’
[Kitab Komentar : Pertama-tama Sang Buddha
menunjukkan bidang Arahant, seorang yang melampaui latihan (yaitu, dengan
menyebutkan sepuluh kualitas), kemudian Beliau menjelaskan garis besar yang
berlaku untuk sekha, siswa dalam latihan yang lebih tinggi. Kata yang
diterjemahkan sebagai “kebiasaan-kebiasaan” adalah sīla, yang dalam
beberapa konteks dapat bermakna lebih luas daripada “moralitas.”]
10. “Apakah
kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini? Yaitu perbuatan jasmani yang tidak
bermanfaat, perbuatan ucapan yang tidak bermanfaat, dan penghidupan yang buruk.
Ini disebut kebiasaan-kebiasaan yang tidak bermanfaat.
“Dan
dari manakah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini berasal-mula?
Asal-mulanya disebutkan: kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini harus
dikatakan berasal-mula dari pikiran. Pikiran apakah? Walaupun pikiran ada
banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, namun ada pikiran yang
terpengaruh oleh nafsu, oleh kebencian, dan oleh delusi. Kebiasaan-kebiasaan tidak
bermanfaat berasal-mula dari ini.
“Dan
di manakah kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa?
Lenyapnya disebutkan: di sini seorang bhikkhu meninggalkan perbuatan salah
jasmani dan mengembangkan perbuatan baik jasmani, ia meninggalkan perbuatan
salah ucapan dan mengembangkan perbuatan baik ucapan; ia meninggalkan perbuatan
salah pikiran dan mengembangkan perbuatan baik pikiran; ia meninggalkan
penghidupan salah dan mencari nafkah melalui penghidupan benar. Adalah di sini
kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.
[Kitab Komentar menjelaskan bahwa ini merujuk pada
buah “memasuki-arus”, karena pada titik ini moralitas pengendalian melalui
Pātimokkha terpenuhi (dan, bagi seorang umat awam Buddhis, pelaksanaan Lima
Sīla). Kitab Komentar juga menjelaskan paragraf berikutnya dengan merujuk pada
jalan dan buah lokuttara lainnya. Walaupun teks sutta tidak secara
langsung menyebutkan pencapaian-pencapaian ini, namun interpretasi komentar
sepertinya dapat dibenarkan dengan frasa “lenyap tanpa sisa” (aparisesā
nirujjhanti), karena hanya dengan pencapaian jalan dan buah itu
berturut-turut maka lenyapnya kekotoran tertentu sepenuhnya dapat terjadi.
Pandangan komentar lebih jauh lagi didukung oleh puncak keseluruhan khotbah ini
dalam sosok seorang Arahant.]
“Dan
bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak
bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak
memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul dan
ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia
membangkitkan kemauan untuk meninggalkan kondisi-kondisi buruk yang tidak
bermanfaat yang telah muncul dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan,
mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan kemauan untuk
memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul dan ia berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ia membangkitkan
kemauan untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat,
meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat
yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan
pikirannya, dan berupaya. [27] Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan
jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat.
[Kitab Komentar : Sejauh jalan “memasuki-arus”, ia
dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah “memasuki-arus”,
kebiasaan-kebiasaan tidak bermanfaat itu dikatakan telah lenyap.]
11. “Apakah
kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini? Yaitu perbuatan jasmani yang bermanfaat,
perbuatan ucapan yang bermanfaat, dan pemurnian penghidupan. Ini disebut
kebiasaan-kebiasaan yang bermanfaat.
“Dan
dari manakah kebisaaan-kebiasaan bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya
disebutkan: kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini harus dikatakan berasal-mula
dari pikiran. Pikiran apakah? Walaupun pikiran ada banyak, bervariasi, dan
terdiri dari banyak aspek, namun ada pikiran yang tidak terpengaruh oleh nafsu,
oleh kebencian, dan oleh delusi. Kebiasaan-kebiasaan bermanfaat berasal-mula
dari ini.
“Dan
di manakah kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya
disebutkan: di sini seorang bhikkhu bermoral, tetapi ia tidak
mengidentifikasikan diri dengan moralitasnya, dan ia memahami sebagaimana
adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan itu di mana kebiasaan-kebiasaan
bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.
[Kitab Komentar : Paragraf di atas menunjukkan
Arahant, yang mempertahankan perilaku bermoral tetapi tidak mengidentifikasikan
diri dengan moralitasnya dengan menganggapnya sebagai “aku” dan “milikku.”
Karena kebiasaan-kebiasaan bermoral seorang Arahant tidak lagi menghasilkan kamma,
maka kebiasaan-kebiasaan itu tidak dapat digambarkan sebagai “bermanfaat.”]
“Dan
bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan
bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak
memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul …
untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan,
dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah
muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya.
Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya
kebiasaan-kebiasaan bermanfaat.
[Kitab Komentar : Sejauh jalan Kearahantaan, ia
dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah
Kearahantaan, kebiasaan-kebiasaan bermanfaat itu dikatakan telah lenyap, termasuk
lenyapnya penjelmaan-baru dengan tidak lagi terlahir-kembali di alam manapun.]
12. “Dan
apakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat? Yaitu kehendak keinginan indria,
kehendak permusuhan, dan kehendak kekejaman. Ini disebut kehendak-kehendak
tidak bermanfaat.
“Dan
dari manakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya
disebutkan: kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari
persepsi. Persepsi apakah? Walaupun persepsi ada banyak, bervariasi, dan terdiri
dari banyak aspek, namun ada persepsi keinginan indria, persepsi permusuhan,
dan persepsi kekejaman. Kehendak-kehendak tidak bermanfaat berasal-mula dari
ini.
[Kitab Komentar : Perihal “persepsi”, Bhikkhu Ñāṇamoli
menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” . Akan tetapi, sepertinya persoalan
utama yang ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang
mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman
akibat faktor subjektivitas seseorang yang melihat, mendengar, ataupun
merasakan, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan
komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data.
Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai
“proliferasi konseptual,” dan penerjemah mengikutinya dengan menggantikan
“keberagaman” dari Bhikkhu Ñāṇamoli menjadi “proliferasi.” Kitab Komentar
mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor – ketagihan, keangkuhan, dan
pandangan – yang karenanya pikiran
menjadi “membubuhi” pengalaman dengan menginterpretasikannya dengan sebutan
“milikku,” “aku,” dan “diriku.” Karenanya, pengalaman seseorang dapat
begitu personal akibat subjektivitas.
Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap”. Kata Pali “menganggap” (maññati), yang
berasal dari akar kata man, “berpikir”, sering digunakan dalam
sutta-sutta Pali untuk mengartikan pemikiran-pemikiran yang menyimpang –
pikiran yang berasal dari karakteristik objek dan suatu pemahaman yang
diturunkan bukan dari objek itu sendiri, melainkan dari imajinasi subjektif
seseorang yang melihat, mendengar, ataupun merasakan.
Penyimpangan kognitif yang diusulkan oleh “menganggap”
terdiri dari, secara singkat, pemaksaan dari perspektif egosentris ke dalam
pengalaman yang telah sedikit menyimpang oleh persepsi spontan. Menurut Kitab Komentar, aktivitas “menganggap”
diatur oleh tiga kekotoran, yang muncul dalam berbagai cara manifestasinya – keinginan (taṇha), keangkuhan (māna), dan pandangan (diṭṭhi).
Penerjemah lain menuliskan contoh ilustrasi
demikian, sebagai berikut : “Setelah melihat tanah dengan persepsi menyimpang,
orang biasa kemudian menganggapnya – menafsirkan atau menilainya – melalui
kecenderungan-kecenderungan berproliferasi yang kasar (papañca) dari
ketagihan, keangkuhan, dan pandangan, yang disebut ‘anggapan’ … Ia memahaminya dalam beragam cara yang bertolak-belakang
[dengan kenyataan].”
Empat cara menganggap (maññanā). Sang Buddha
menunjukkan bahwa “anggapan” atas objek apapun dapat terjadi dalam salah satu
dari empat cara, diungkapkan oleh teks sebagai empat pola linguistik: akusatif,
lokatif, ablatif, dan peruntukan. Makna utama dari pola ini – yang juga
tersamar dalam Pali – sepertinya filosofis.
Penerjemah menganggap pola itu menunjukkan beragam
cara yang mana seorang biasa mencoba memberikan makna positif pada makna
keegoan yang ia bayangkan dengan memposisikan, di bawah ambang bayangan, suatu
hubungan antara dirinya sebagai subjek kognisi dan fenomena yang dilihat
sebagai objek. Menurut empat pola yang diberikan, hubungan ini dapat berupa
salah satu dari identifikasi langsung (“ia melihat X”), atau yang mendasari
(“ia membayangkan di dalam X”), atau perbedaan atau turunan (“ia membayangkan
dari X”), atau hanya sekadar peruntukan (“ia menganggap X sebagai ‘milikku’”).
Tetapi hati-hati dalam menginterpretasikan
frasa-frasa ini. Pali tidak menyediakan objek langsung bagi cara ke dua dan ke
tiga, dan ini menyiratkan bahwa proses “penganggapan” berlangsung dari tingkat
yang lebih dalam dan lebih umum daripada yang terlibat dalam pembentukan
pandangan diri secara eksplisit, seperti yang dijelaskan misalnya pada Majjhima
Nikāya 2.8 atau Majjhima Nikāya 44.7.
Dengan demikian aktivitas “penganggapan” sepertinya
terdiri dari keseluruhan wilayah kognisi yang diwarnai secara subjektif,
dari impuls dan pikiran yang mana makna identitas pribadi masih belum lengkap
untuk menjelaskan struktur intelektual yang telah dijelaskan secara lengkap.
Akan tetapi penerjemah lain, memahami objek
“anggapan” implisit sebagai persepsi itu sendiri, dan karena itu menerjemahkan:
“setelah mempersepsikan tanah dari tanah, ia menganggap [itu sebagai] tanah, ia
menganggap [itu sebagai] di dalam tanah, ia menganggap [itu terpisah] dari
tanah,” dan seterusnya. Frasa ke lima, “ia bersenang di dalam X,” secara
eksplisit menghubungkan “penganggapan” dengan keinginan, yang mana di tempat
lain dikatakan “bergembira di sana-sini.” Hal
ini, lebih jauh lagi, menyiratkan bahaya dalam proses pemikiran kaum duniawi,
karena ketagihan dikatakan oleh Sang Buddha sebagai asal-mula penderitaan.
Terdapat banyak contoh kasus yang mengilustrasikan
segala jenis “penganggapan” yang berbeda, dan ini jelas menegaskan bahwa objek
“penganggapan” yang dimaksudkan adalah makna egoistis yang keliru.
Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāṇananda
menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh
pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum
memasukkan kata saññā.
Penerjemah lain mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan
bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca
ataupun papañca itu sendiri. Penerjemah sependapat dengan Ñāṇananda
dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan
(“Perhitungan” dari Bhikkhu Ñāṇamoli adalah terlalu literal) daripada bagian.
Keputusan penerjemah memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata
majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan,
tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam Kanon dan tidak
pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar
tanpa keraguan. Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu
mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi
persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.”
Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses
kognisi itu sendiri adalah
“sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi
pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada
yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada
kekotoran-kekotoran akan berakhir.]
“Dan
di manakah kehendak-kehendak tidak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya
disebutkan: di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing
dari [28] kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam
dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Adalah
di sini kehendak-kehendak tidak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.
[Kitab Komentar : Paragraf di atas merujuk pada jhāna
pertama yang berhubungan dengan buah “yang-tidak-kembali”, jalan “yang-tidak-kembali”
melenyapkan keinginan indria dan permusuhan, dan dengan demikian mencegah
munculnya ketiga kehendak tidak bermanfaat di masa depan – yaitu kehendak
keinginan indria, permusuhan, dan kekejaman.]
“Dan
bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak tidak
bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak
memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul …
untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan,
dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah
muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya.
Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya
kehendak-kehendak tidak bermanfaat.
[Kitab Komentar : Sejauh jalan “yang-tidak-kembali”
ia dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah “yang-tidak-kembali”,
kehendak-kehendak bermanfaat itu dikatakan telah lenyap.]
13. “Dan
apakah kehendak-kehendak bermanfaat? Yaitu kehendak pelepasan keduniawian,
kehendak tanpa-permusuhan, dan kehendak tanpa-kekejaman. Ini disebut
kehendak-kehendak bermanfaat.
“Dan
dari manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya
disebutkan: kehendak-kehendak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari
persepsi. Persepsi apakah? Walaupun persepsi ada banyak, bervariasi, dan
terdiri dari banyak aspek, namun ada persepsi pelepasan keduniawian, persepsi
tanpa-permusuhan, dan persepsi tanpa-kekejaman. Kehendak-kehendak bermanfaat
berasal-mula dari ini.
“Dan
di manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya
disebutkan: di sini, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki
keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran,
dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Adalah di sini
kehendak-kehendak bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.
[Kitab Komentar : Ini merujuk pada jhāna ke dua yang
berhubungan dengan buah Kearahantaan.]
“Dan
bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kehendak-kehendak
bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan kemauan untuk tidak
memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul …
untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan,
dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah
muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya.
Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya
kehendak-kehendak bermanfaat.
[Kitab Komentar : Sejauh jalan Kearahantaan, ia
dikatakan mempraktikkan pelenyapannya; ketika ia telah mencapai buah
Kearahantaan, kehendak-kehendak bermanfaat itu dikatakan telah lenyap.
Kehendak-kehendak bermoral dari Arahant tidak digambarkan sebagai “bermanfaat”,
mengingat tiada lagi penjelmaan-baru bagi seorang Arahant—alias tiada lagi tumimbal-lahir.]
14. “Sekarang,
Tukang kayu, ketika seseorang yang memiliki sepuluh kualitas apakah [29] Aku
menggambarkannya sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa
yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian
tertinggi? Di sini, seorang bhikkhu memiliki pandangan benar dari seorang yang
melampaui latihan, kehendak benar dari seorang yang melampaui latihan, ucapan benar
dari seorang yang melampaui latihan, perbuatan benar dari seorang yang
melampaui latihan, penghidupan benar dari seorang yang melampaui latihan, usaha
benar dari seorang yang melampaui latihan, perhatian benar dari seorang yang
melampaui latihan, konsentrasi benar dari seorang yang melampaui latihan, pengetahuan
benar dari seorang yang melampaui latihan, dan kebebasan benar dari seorang
yang melampaui latihan. Ketika seseorang memiliki sepuluh kualitas ini, Aku
gambarkan ia sebagai terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa
yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian
tertinggi.”
[Kitab Komentar : Perihal “seorang yang melampaui
latihan”, lihat Majjhima Nikāya 65.34.]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Tukang kayu Pañcakanga
merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi bahkan
tidak lebih mulia dan tidak lebih “harmless” daripada seorang bayi
lembut yang berbaring telungkup yang tidak melakukan perbuatan buruk jasmani, yang
tidak mengucapkan ucapan buruk, yang tidak memiliki kehendak yang buruk, dan yang
tidak mencari penghidupan melalui jenis penghidupan yang buruk yang manapun—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” setara dengan “harmless”-nya
seorang bayi yang lembut yang hanya dapat sebatas merangkak dan merengek tanpa
dapat merugikan ataupun menyakiti pihak manapun, dan apakah sang “nabi rasul Allah”
lebih suci daripada seorang balita yang lucu dan menggemaskan—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]