Kodratnya KORUPTOR-DOSA—dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi—Jelas MASUK NERAKA
Kodratnya Korban para Pendosa tersebut, ialah Mendapatkan Keadilan dengan
Hukuman bagi yang Berdosa
Question : Para muslim kerap sok agamais dan juga merasa paling superior, seolah “polisi moral” yang berhak menghakimi maupun menceramahi pihak lain perihal akhlak, moral, maupun larangan dosa. Misalnya mereka melarang fenomena sosial semacam homoseksual maupun lesbian. Itu melanggar kodrat manusia, kata mereka. Bahkan mereka seolah hendak berkata, bhikkhu monastik yang hidup selibat, adalah juga melanggar kodrat manusia. Pernah terjadi di Indonesia, ada anggota militer yang lewat putusan pengadilan, diizinkan berganti gender karena hasil uji penelitian genetiknya membuktikan bahwa yang yang bersangkutan adalah seorang dengan gender yang berbeda dari penampakan tubuh fisiknya.
Mulut mereka begitu besar (besar-mulut), bicara panjang lebar mengenai
doktrin-doktrin agama mereka, isi ayat-ayat kitab agama mereka, tentang Tuhan,
tentang larangan ini dan itu, tentang surga dan neraka, namun perihal tanggung-jawab
mereka NIHIL, NOL BESAR. Baiklah bila kita mau bicara mengenai kodrat. Bukankah
kodratnya, para pendosa dimasukkan ke neraka setelah kematian. Namun mengapa
agama samawi justru melawan kodrat, dengan memasukkan para koruptor-dosa dimana
dosa-dosa pun mereka korupsi, ke surga lewat iming-iming korup semacam dogma pengampunan
ataupun penebusan dosa?
Brief
Answer : Pengampunan yang sejati,
datangnya dari pihak korban, bukan justru secara “salah alamat” memohon
pengampunan kepada “Tuhan”, karena itu sama artinya fetakompli “Tuhan” agar
merampas hak-hak korban atas keadilan. Begitupula penebusan dosa, penebusan yang
sejati ialah bertanggung-jawab kepada kalangan korban yang telah pernah kita
sakiti, lukai, maupun rugikan, sehingga pihak korban tidak perlu mengemis-ngemis
pertanggung-jawaban dari kita.
Nyatanya,
umat agama samawi ialah kaum paling hina dan paling rendah. Betapa tidak,
mereka adalah pemalas yang begitu pemalas untuk merepotkan diri menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab
atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, baik yang kecil maupun yang
besar.
Bagai orang
yang kuat dan sehat serta bertubuh normal, namun justru mencuri alih-alih bekerja
keras dengan tubuhnya. Begitupula para “pendosa pecandu PENGHAPUSAN DOSA”, mereka
punya tangan, waktu, dana, maupun sumber daya lainnya, akan tetapi telah ternyata
memilih untuk lebih sibuk ritual doa “PENGHAPUSAN DOSA”, menjelma “KORUPTOR
DOSA” alih-alih “kembali ke fitri”-nya “Agama DOSA” alih-alih mengklaim dirinya
sebagai “Agama SUCI”.
Tokoh ataupun
nabi agama samawi yang kerap “bermulut-besar” tersebut tidak perlu dihormati,
dihargai, maupun dimuliakan, karena kita sendiri belum terbebas dari nafsu,
kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh indria,
kita tidak damai dalam batin, dan perilaku kita dalam jasmani, ucapan, dan
pikiran kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Karena kita tidak melihat
adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak tokoh ataupun nabi agama samawi
itu, maka mereka seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja, terlebih
dimuliakan. Relevan dengan itu, perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut:
5. “Tetapi, Para perumah-tangga, jika para
mengembara sekte lain menanyakan kepada kalian sebagai berikut: ‘Para perumah-tangga, petapa dan brahmana
seperti apakah yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan?’ maka kalian harus menjawab: ‘Para
petapa dan brahmana yang terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan
dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang damai dalam batin, dan yang
berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran – petapa dan brahmana
demikian seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Mengapakah? Karena kami sendiri belum terbebas dari nafsu, kebencian,
dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, kami tidak
damai dalam batin, dan perilaku kami dalam jasmani, ucapan, dan pikiran
kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Karena kami melihat adanya
perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa dan brahmana baik itu,
maka mereka seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.
“‘Para petapa dan brahmana yang terbebas
dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan suara-suara yang dikenali
oleh telinga … sehubungan dengan bau-bauan yang dikenali oleh hidung …
sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … sehubungan dengan
objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan … sehubungan dengan objek-objek
pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang damai dalam batin, dan yang
berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran … seharusnya dihormati … Karena kami melihat adanya perilaku baik yang
lebih tinggi di pihak para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya
dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.’ Jika ditanya demikian, para
perumah-tangga, maka kalian harus menjawab para pengembara sekte lain itu
dengan cara seperti ini.”
PEMBAHASAN:
Mereka
yang masih penuh kekotoran-batin, namun hendak menjadi “polisi moral” dan menghakimi
kaum lainnya, tidak lebih dari seorang “badut” yang layak ditertawakan, alih-alih
dihormati ataupun dimuliakan. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 150 ~
Nagaravindeyya
Sutta : Kepada penduduk Nagaravinda
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
mengembara di negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu, dan akhirnya sampai di sebuah desa Kosala bernama
Nagaravinda.
2. Para brahmana perumah-tangga dari Nagaravinda mendengar: “Petapa
Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah
mengembara di Negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Saṅgha para bhikkhu [291] dan telah sampai di Nagaravinda. Sekarang berita
baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna,
telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku,
mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang
yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan dunia ini bersama dengan para
dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini dengan para petapa dan brahmana, para
pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh diriNya sendiri dengan
pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma
yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan
suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.’ Sekarang adalah baik sekali jika dapat menemui
para Arahant demikian.”
3. Kemudian para brahmana perumah-tangga dari Nagaravinda pergi menemui
Sang Bhagavā. Beberapa bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi;
beberapa lainnya saling bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini
berakhir, duduk di satu sisi; beberapa lainnya merangkapkan tangan sebagai
penghormatan kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya
menyebutkan nama dan suku mereka di hadapan Sang Bhagavā dan duduk di satu
sisi; beberapa lainnya hanya berdiam diri dan duduk di satu sisi.
4. “Para
perumah-tangga, jika para mengembara sekte lain menanyakan kepada kalian
sebagai berikut: ‘Para perumah-tangga, petapa dan brahmana seperti apakah yang
seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan?’ maka kalian harus
menjawab: ‘Para petapa dan brahmana yang belum terbebas dari nafsu, kebencian,
dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang tidak
damai dalam batin, dan yang perilakunya dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang
baik dan kadang-kadang buruk – petapa dan brahmana demikian seharusnya tidak
dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Mengapakah? Karena kami sendiri
belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk
yang dikenali oleh mata, kami tidak damai dalam batin, dan perilaku kami dalam
jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Karena
kami tidak melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa
dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya tidak dihormati, dihargai,
dipuja, dan dimuliakan.
“‘Para
petapa dan brahmana yang belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi
sehubungan dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga … sehubungan dengan
bau-bauan yang dikenali oleh hidung … sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali
oleh lidah … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan …
sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang tidak
damai dalam batin, dan yang perilakunya dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang
baik dan kadang-kadang buruk … seharusnya tidak dihormati … [292] … Karena kami
tidak melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak para petapa dan
brahmana baik itu, maka mereka seharusnya tidak dihormati, dihargai, dipuja,
dan dimuliakan.’ Jika ditanya demikian, para perumah-tangga, maka kalian harus
menjawab para pengembara sekte lain itu dengan cara seperti ini.
5. “Tetapi, Para perumah-tangga, jika para mengembara sekte lain
menanyakan kepada kalian sebagai berikut:
‘Para perumah-tangga, petapa dan brahmana seperti apakah yang seharusnya dihormati,
dihargai, dipuja, dan dimuliakan?’ maka kalian harus menjawab: ‘Para petapa dan
brahmana yang terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan
bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, yang damai dalam batin, dan yang
berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran – petapa dan brahmana demikian
seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Mengapakah? Karena kami
sendiri belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan dengan
bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, kami tidak damai dalam batin, dan
perilaku kami dalam jasmani, ucapan, dan pikiran kadang-kadang baik dan
kadang-kadang buruk. Karena kami melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi
di pihak para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya dihormati,
dihargai, dipuja, dan dimuliakan.
“‘Para
petapa dan brahmana yang terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi sehubungan
dengan suara-suara yang dikenali oleh telinga … sehubungan dengan bau-bauan
yang dikenali oleh hidung … sehubungan dengan rasa kecapan yang dikenali oleh
lidah … sehubungan dengan objek-objek sentuhan yang dikenali oleh badan …
sehubungan dengan objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, yang damai
dalam batin, dan yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran … seharusnya
dihormati … Karena kami melihat adanya perilaku baik yang lebih tinggi di pihak
para petapa dan brahmana baik itu, maka mereka seharusnya dihormati, dihargai,
dipuja, dan dimuliakan.’ Jika ditanya demikian, para perumah-tangga, maka kalian harus menjawab
para pengembara sekte lain itu dengan cara seperti ini.
6. “Para perumah-tangga, jika para pengembara sekte lain menanyakan
kepada kalian sebagai berikut: ‘Tetapi apakah alasan kalian dan apakah bukti
kalian sehubungan dengan para mulia itu yang karenanya kalian mengatakan
tentang mereka: “Pasti
para mulia ini [293] telah terbebas dari nafsu atau sedang berlatih untuk
melenyapkan nafsu; mereka telah terbebas dari kebencian atau sedang berlatih
untuk melenyapkan kebencian; mereka telah terbebas dari delusi atau sedang
berlatih untuk melenyapkan delusi”?’ – jika ditanya demikian, kalian harus menjawab para pengembara itu
sebagai berikut: ‘Adalah karena para mulia itu bertempat tinggal di hutan-hutan
belantara yang terpencil. Karena tidak ada bentuk-bentuk yang dapat dikenali oleh
mata dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka lihat. Karena tidak
ada suara-suara yang dapat dikenali oleh telinga dari jenis yang dapat mereka
senangi yang dapat mereka dengar. Karena tidak ada bau-bauan yang dapat
dikenali oleh hidung dari jenis yang dapat mereka senangi yang dapat mereka
cium. Karena tidak ada rasa kecapan yang dapat dikenali oleh lidah dari jenis
yang dapat mereka senangi yang dapat mereka kecap. Karena tidak ada objek-objek
sentuhan yang dapat dikenali oleh badan dari jenis yang dapat mereka senangi yang
dapat mereka sentuh. Ini adalah alasan kami, Sahabat-sahabat, ini adalah bukti
kami yang karenanya kami mengatakan tentang para mulia itu: “Pasti para mulia
ini telah terbebas dari nafsu, kebencian, dan delusi atau sedang berlatih untuk
melenyapkannya.”’ Jika ditanya demikian, Para perumah-tangga, maka kalian harus
menjawab para pengembara sekte lain itu dengan cara seperti ini.”
7. Ketika hal ini dikatakan, para brahmana perumah-tangga dari
Nagaravinda berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama!
Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai
cara,
seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang
tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam
kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Kami berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma
dan pada Saṅgha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama
menerima kami sebagai umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, orang jahat yang tidak
mencandu dogma KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA”, namun siap menanggung
konsekuensinya tersiksa di neraka sebagai hukuman yang harus ia tanggung,
sejatinya masih lebih patut dikagumi ketimbang para “manusia-manusia SAMPAH-PENGECUT”
berikut—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” seharusnya dihormati, dihargai, dipuja,
dan dimuliakan ataukah tidaknya, yang sama sekali belum terbebas dari nafsu,
kebencian, dan delusi sehubungan dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata,
yang tidak damai dalam batin, dan yang perilakunya dalam jasmani, ucapan, dan
pikiran sangat kotor dan buruk, mengingat kita tidak melihat adanya perilaku
baik yang lebih tinggi dari sang “nabi rasul Allah”, maka apakah masih patut ia
dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan sebagaimana prakteknya selama ini—juga
masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]