Kenikmatan Indria adalah Umpan “Māra si Jahat”, yang Melekat dan Gagal Melihat Bahaya Dibalik Kenikmatan Indria maupun Keinginan Kenikmatan Indria akan Terjerat Jaring “Māra si Jahat”

Mengapa Meng-Haram-kan Kenikmatan Indria yang Allah Ciptakan dan Halal-kan? Para Umat Agama Samawi pun Terjebak dalam Kemelekatan dan menjadi Budak Kenikmatan Indria yang Semakin Haus Akan Kenikmatan Indria yang Menenggelamkan dan Menjerumuskan

Ada, Sukacita dan Kenikmatan yang Muncul dari “Keterasingan dari Kenikmatan Indria”

Truth, Always BITTER. Kebenaran, Selalu PAHIT

Question : Banyak umat agama samawi, terjebak oleh dogma agamanya sendiri, bahwa kenikmatan duniawi maupun kenikmatan indria adalah pemberian “nikmat” dari Allah, sehingga mengapa di-haram-kan? Jadilah mereka tidak pernah mampu melihat adanya bahaya dibalik kenikmatan indria, lalu melekat padanya, memiliki kerinduan terhadapnya, keinginan secara serakah ingin memiliki / menguasainya, demam terhadapnya, hingga taraf kecanduan, dimana bahkan racun-adiktif paling beracun berupa dogma KORUP semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” dipandang sebagai “halal” serta dipromosikan sebagai “halal lifestyle”.

Bukankah itu berkebalikan secara total dengan ajaran Sang Buddha, yang mengajarkan kita untuk melihat bahaya dibalik kenikmatan indria, keinginan akan kenikmatan indria, kemelekatan terhadapnya, sehingga memotivasi para siswa Beliau agar terasing dari kenikmatan indria maupun kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat. Bukankah itu bukti bahwa ajaran Buddha sungguh bertolak-belakang dengan dogma-dogma agama samawi? Tidak heran, banyak orang yang mengejar dan mabuk kenikmatan indria, akhirnya berbondong-bondong memeluk agama samawi, sekalipun mereka tenggelam dan hanyut dalam derita akibat kemelekatan.

Brief Answer : Itulah sebabnya, Buddhisme dapat dijuluki sebagai ajaran yang “melawan arus”, karena memang Sang Buddha mengajarkan para Siswa-Nya untuk “melawan arus”. Sang Buddha dalam berbagai khotbahnya menyatakan secara eksplisit bahwa kenikmatan-kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan dan kesengsaraan, dan bahwa bahaya di dalamnya lebih banyak lagi. Perhatikan kutipan sabda Sang Buddha berikut, terang-terangan menunjuk hidung “Māra  si jahat” dibalik perangkap bernama kenikmatan indria:

“Para bhikkhu, kenikmatan indria adalah tidak kekal, kosong, palsu, menipu; kenikmatan indria adalah ilusi, ocehan orang-orang dungu. Kenikmatan indria di sini dan saat ini dan kenikmatan indria pada kehidupan-kehidupan mendatang, persepsi indria di sini dan saat ini dan persepsi indria pada kehidupan-kehidupan mendatang – keduanya adalah alam Māra, wilayah Māra, umpan Māra, tanah perburuan Māra. Oleh karenanya, kondisi-kondisi batin buruk yang tidak bermanfaat ini seperti ketamakan, permusuhan, dan anggapan muncul, dan merupakan rintangan bagi seorang siswa mulia yang dalam latihan di sini.”

“Dan di manakah Māra dan pengikutnya tidak dapat mendatangi? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Bhikkhu ini dikatakan telah membutakan Māra, menjadi tidak terlihat oleh si Jahat dengan mencabut mata Māra dari kesempatannya.”

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1)  Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2)  Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.”

Lalu, apakah yang dituju oleh Buddhisme? Dengan memahami bahwa “Ini adalah dukkha dan ini adalah asal-mula dari dukkha”, maka kita barulah dapat menempuh “jalan menuju akhir dari dukkha karena ada akhir dari dukkha” sebagaimana telah dicapai / direalisasi oleh Sang Buddha. Ada, sukacita dan kenikmatan yang muncul dari “keterasingan dari kenikmatan indria”, dan jalan itulah yang tepatnya diajarkan / ditunjukkan oleh Sang Buddha kepada para siswa-Nya.

PEMBAHASAN:

Sang Buddha pernah bersabda, bahwa apa yang dianggap sebagai kesenangan / kenikmatan di mata orang awam kebanyakan, adalah dukkha di mata seorang Buddha. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

 ~ SUTTA 138 ~

Uddesavibhanga Sutta : Penjelasan suatu Ringkasan

[223] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian suatu ringkasan dan penjelasan. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

3. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu harus memeriksa segala sesuatu sedemikian sehingga ketika ia sedang memeriksanya, kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak. Jika kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan jika dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak, maka baginya tidak ada asal-mula penderitaan – kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan.

4. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan hal ini, Yang Sempurna bangkit dari duduknya dan memasuki kediamanNya.

[Kitab Komentar : Agak janggal bahwa Sang Buddha, setelah mengatakan bahwa Beliau akan mengajarkan ringkasan dan penjelasan, hanya membabarkan ringkasan dan pergi tanpa membabarkan penjelasan. Walaupun di tempat lain Sang Buddha pergi mendadak setelah memberikan pernyataan yang membingungkan (seperti, pada Majjhima Nikāya 18), pada peristiwa-peristiwa itu Beliau sebelumnya memang tidak menyatakan niatnya untuk memberikan penjelasan. Kitab Komentar tidak memberikan penjelasan.]

5. Kemudian, segera setelah Sang Bhagavā pergi, para bhikkhu berpikir: “Sekarang, teman-teman, Sang Bhagavā telah bangkit dari dudukNya dan masuk ke dalam kediamanNya setelah memberikan ringkasan singkat tanpa menjelaskan makna terperinci. Sekarang siapakah yang akan menjelaskan secara terperinci?” Kemudian mereka berpikir: “Yang Mulia Mahā Kaccāna dipuji oleh Sang Guru dan dihargai oleh teman-temannya yang bijaksana dalam kehidupan suci. Ia mampu menjelaskan maknanya secara terperinci. Bagaimana jika kita mendatanginya dan menanyakan makna dari hal ini.”

6. Kemudian para bhikkhu mendatangi Yang Mulia Mahā Kaccāna dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, mereka duduk di satu sisi dan memberitahunya tentang apa yang telah terjadi, dan menambahkan: “Sudilah Yang Mulia Mahā Kaccāna menjelaskannya kepada kami.”

7. [Yang Mulia Mahā Kaccāna menjawab:] “Teman-teman, ini seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, berpikir bahwa inti kayu harus dicari di antara dahan dan dedaunan dari sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, setelah ia melewatkan akar dan batang. Dan demikian pula dengan kalian, para mulia, bahwa kalian berpikir bahwa aku dapat ditanya tentang makna dari hal ini, setelah kalian melewati Sang Bhagavā ketika kalian berhadapan dengan Sang Guru. Dalam hal mengetahui, Sang Bhagavā tahu; dalam hal melihat, Beliau melihat; Beliau adalah penglihatan, Beliau adalah pengetahuan, Beliau adalah Dhamma, Beliau adalah yang suci; Beliau adalah yang mengucapkan, yang menyatakan, pembabar makna, pemberi Tanpa-Kematian, Raja Dhamma, Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kalian seharusnya menanyakan maknanya kepada Sang Bhagavā. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kalian harus mengingatnya.”

8. “Tentu saja, teman Kaccāna, Dalam hal mengetahui, Sang Bhagavā mengetahui; dalam hal melihat, Beliau melihat; Beliau adalah penglihatan … Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kami seharusnya menanyakan maknanya kepada Sang Bhagavā. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kami harus mengingatnya. Namun Yang Mulia Mahā Kaccāna dipuji oleh Sang Guru dan dihargai oleh teman-temannya yang bijaksana dalam kehidupan suci. Yang Mulia Mahā Kaccāna mampu menjelaskan makna secara terperinci dari ringkasan singkat yang diberikan oleh Sang Bhagavā tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci. Sudilah Yang Mulia Mahā Kaccāna menjelaskannya tanpa menganggapnya merepotkan.”

9. “Maka dengarkanlah, Teman-teman, dan perhatikanlah pada apa yang akan aku katakan.”

“Baik, Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Mahā Kaccāna berkata sebagai berikut:

10. “Bagaimanakah, Teman-teman, kesadaran disebut ‘teralihkan dan berhamburan secara eksternal’? Di sini, ketika seorang bhikkhu telah melihat suatu bentuk dengan mata, jika kesadarannya mengikuti gambaran bentuk, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, maka kesadarannya disebut ‘teralihkan dan berhamburan secara eksternal.’

[Kitab Komentar : Kesadaran adalah “teralihkan dan berhamburan secara eksternal,” yaitu, di antara objek-objek eksternal, ketika muncul melalui keterikatan pada objek eksternal.

Bentuk itu sendiri disebut gambaran bentuk (rūpanimitta) dalam hal bahwa bentuk itu menjadi penyebab bagi munculnya kekotoran. Seseorang yang “mengikutinya” melalui nafsu.]

Ketika ia telah mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, jika kesadarannya mengikuti gambaran objek pikiran, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, maka kesadarannya disebut ‘teralihkan dan berhamburan secara eksternal.’

11. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, kesadaran disebut ‘tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal’? Di sini, ketika seorang bhikkhu telah melihat suatu bentuk dengan mata, jika kesadarannya tidak mengikuti gambaran bentuk, tidak terikat dan tidak terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, tidak terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran bentuk, maka kesadarannya disebut ‘tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal.’ [226]

Ketika ia telah mendengar suatu suara dengan telinga … mencium suatu bau dengan hidung … mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan … mengenali suatu objek pikiran dengan pikiran, jika kesadarannya tidak mengikuti gambaran objek pikiran, tidak terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam gambaran objek pikiran, maka kesadarannya disebut ‘tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal.’

12. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, pikiran disebut ‘terpaku secara internal’? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Jika kesadarannya mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, terbelenggu oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan maka pikirannya disebut ‘terpaku secara internal.’

[Kitab Komentar : Pikiran “terpaku secara internal” melalui kemelekatan pada objek internal. Teks sutta itu sendiri bergeser dari viññāa dalam ringkasan oleh Sang Buddha menjadi citta dalam penjelasan oleh Mahā Kaccāna.]

13. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Jika kesadarannya mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, maka pikirannya disebut ‘terpaku secara internal.’

14. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan dengan penuh perhatian dan kewaspadaan penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Jika kesadarannya mengikuti keseimbangan, terikat dan terkekang oleh keseimbangan, maka pikirannya disebut ‘terpaku secara internal.’

15. “Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya dari kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Jika kesadarannya mengikuti gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, maka kesadarannya disebut ‘terpaku secara internal.’ Itu adalah bagaimana pikiran disebut ‘terpaku secara internal.’ [227]

16. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, pikiran disebut ‘tidak terpaku secara internal’? Di sini, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama … Jika kesadarannya tidak mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, tidak terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan maka pikirannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

[Komentar : Ada kenikmatan yang muncul dari “keterasingan dari kenikmatan indria”, dimna pada sutta lainnya dari Majjhima Nikāya Sang Buddha menyebutnya sebagai “kenikmatan yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria”, semisal kenikmatan yang muncul dari konsentrasi, suatu kondisi-batin berupa “bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan”, keseimbangan-batin, kenikmatan pada pencerapan-perhatian penuh pada jasmani, maupun “kebahagiaan dalam moralitas dengan merenungkan bahwa dirinya bersih tanpa noda”.]

17. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua … Jika kesadarannya tidak mengikuti sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi … maka pikirannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

18. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam … masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga … Jika kesadarannya tidak mengikuti keseimbangan … maka pikirannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

19. “Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan … seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat … Jika kesadarannya tidak mengikuti gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, tidak terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, tidak terbelenggu oleh belenggu kepuasan dalam gambaran bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan, maka kesadarannya disebut ‘tidak terpaku secara internal.’ Itu adalah bagaimana pikiran disebut ‘tidak terpaku secara internal.’

20. “Bagaimanakah, Teman-teman, terjadinya gejolak karena kemelekatan? Di sini seorang biasa yang tidak terpelajar, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Bentuk materinya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan bentuk materi dan bentuk materi yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya terlena dengan perubahan bentuk materi itu. Kondisi-kondisi pikiran yang bergejolak yang muncul dari keterlenaan pada perubahan bentuk materi muncul bersama-sama dan menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena kemelekatan ia menjadi bergejolak. [228]

[Kitab Komentar : Perihal istilah “gejolak karena kemelekatan”, gejolak muncul dari kemelekatan, dan lenyap dengan lenyapnya kemelekatan. Sebuah sutta dalam Sayutta Nikāya (SN 22:7/iii,16) identik dengan paragraf ini dari Majjhima Nikāya 138, tertulis upādā paritassanā, “gejolak karena kemelekatan”.

Kitab Komentar menjelaskan frasa tidak umum paritassanā dhammasamuppādā sebagai “gejolak keinginan dan munculnya kondisi-kondisi tidak bermanfaat (lainnya).”

Gejolak yang diakibatkan oleh kemelekatan demikian berakibat dari ketiadaan inti yang kekal dalam segala sesuatu yang dapat memberikan perlindungan dari penderitaan yang diendapkan oleh perubahan dan ketidak-stabilannya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, “tidak dapat digenggam erat”]

Ia menganggap perasaan sebagai diri … Ia menganggap persepsi sebagai diri … Ia menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri … Ia menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Kesadarannya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan kesadaran dan kesadaran yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya terlena dengan perubahan kesadaran itu. Kondisi-kondisi pikiran yang bergejolak yang muncul dari keterlenaan pada perubahan kesadaran muncul bersama-sama dan menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya dikuasai, ia menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena kemelekatan ia menjadi bergejolak. Itu adalah bagaimana terjadinya gejolak karena kemelekatan.

21. “Dan bagaimanakah, Teman-teman, terjadinya ketiadaan-gejolak karena ketidak-melekatan? Di sini seorang siswa mulia yang terpelajar, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, tidak menganggap bentuk materi sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk materi, atau bentuk materi sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk materi. Bentuk materinya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan bentuk materi dan bentuk materi yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya tidak terlena dengan perubahan bentuk materi itu. Kondisi-kondisi pikiran yang terganggu yang muncul dari keterlenaan pada perubahan bentuk materi tidak muncul bersama-sama dan tidak menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya tidak dikuasai, ia tidak menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena ketidak-melekatan ia menjadi tidak bergejolak.

[Kitab Komentar : Frasa “ketidak-melekatan” dari kalimat “terjadinya ketiadaan-gejolak karena ketidak-melekatan” ini adalah identik baik dalam versi Majjhima maupun Sayutta.]

Ia tidak menganggap perasaan sebagai diri … Ia tidak menganggap persepsi sebagai diri … Ia tidak menganggap bentukan-bentukan [kehendak] sebagai diri … Ia tidak menganggap kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran. Kesadarannya itu berubah dan menjadi sebaliknya. Dengan perubahan kesadaran dan kesadaran yang menjadi sebaliknya itu, maka kesadarannya tidak terlena dengan perubahan kesadaran itu. Kondisi-kondisi pikiran yang terganggu yang muncul dari keterlenaan pada perubahan kesadaran tidak muncul bersama-sama dan menetap di sana menguasai pikirannya. Karena pikirannya tidak dikuasai, ia tidak menjadi gelisah, sedih, dan cemas, dan karena ketidak-melekatan ia menjadi tidak bergejolak. Itu adalah bagaimana terjadinya ketiadaan-gejolak karena ketidak-melekatan.

22. “Teman-teman, ketika Sang Bhagavā bangkit dari dudukNya dan memasuki kediamanNya setelah memberikan ringkasan singkat tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, yaitu: ‘Para bhikkhu, seorang bhikkhu harus memeriksa segala sesuatu sedemikian sehingga ketika ia sedang memeriksanya, kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak. Jika kesadarannya tidak teralihkan dan tidak berhamburan secara eksternal juga tidak terpaku secara internal, dan jika dengan ketidak-melekatan ia tidak menjadi bergejolak, maka baginya tidak ada asal-mula penderitaan – kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan,’ aku memahami maknanya secara terperinci seperti demikian. [229] Sekarang, Teman-teman, jika kalian menghendaki, temuilah Sang Bhagavā dan tanyakan kepada Beliau tentang makna ini. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kalian harus mengingatnya.”

23. Kemudian para bhikkhu, dengan merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Yang Mulia Mahā Kaccāna, bangkit dari duduk dan mendatangi Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan memberitahu Sang Bhagavā segalanya yang telah terjadi setelah Beliau pergi, dengan menambahkan: “Kemudian, Yang Mulia, kami mendatangi Yang Mulia Mahā Kaccāna dan bertanya kepadanya tentang makna ini. Yang Mulia Mahā Kaccāna menjelaskan makna ini kepada kami dengan kata-kata, kalimat-kalimat, dan frasa-frasa ini.”

24. “Mahā Kaccāna adalah seorang bijaksana, Para Bhikkhu, Mahā Kaccāna memiliki kebijaksanaan tinggi. Jika kalian bertanya kepadaKu tentang makna ini, maka Aku akan menjelaskannya kepada kalian dengan cara yang sama seperti yang telah dijelaskan oleh Mahā Kaccāna. Demikianlah maknanya, dan demikianlah kalian harus mengingatnya.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, ajaran agama samawi justru membuat kesadaran umat pemeluknya “teralihkan dan berhamburan secara eksternal”, dengan kemelekatan mereka menjadi bergejolak-hebat, yang karenanya dicengkram serta tercengkram oleh penderitaan karena kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silakan nilai dengan akal-sehat serta nurani maupun pikiran-jernih Anda sendiri, betapa kesadaran sang “nabi rasul Allah” mengikuti gambaran objek pikiran, terikat dan terkekang oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, terbelenggu oleh kepuasan dalam gambaran objek pikiran, yang tidak terasing dari kenikmatan indria juga tidak terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat—masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]