MULUT-BESAR para Muslim yang Notabene PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA, “KORUPTOR DOSA” yang Hendak Menceramahi Kaum Lain tentang Hidup Jujur, Bersih, dan Lurus?
Delusi Kaum Muslim yang Paling Delusif, Bangga Memamerkan Bobrok-Moral
“KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih Merasa Malu dan Tabu Bersikap PENGECUT
yang Tidak Berani Mengambil Tanggung-Jawab / Konsekuensi Atas
Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri
Question : Banyak umat muslim, yang mengklaim dengan penuh kebanggaan, bahwa norma agama mereka, yakni islam, lebih tinggi derajatnya daripada norma hukum. Adapun sepengetahuan saya ialah, dogma-dogma agama islam menghalalkan segala jenis kejahatan (dosa-dosa) maupun maksiat, karena meski “ini dan itu disebut haram”, “ini dan itu disebut dilarang”, “ini dan itu disebut dosa”, akan tetapi kemudian dinegasikan sendiri oleh dogma agama islam itu sendiri lewat iming-iming korup semacam “pengampunan dosa”, “dosa-dosa setahun dihapuskan lewat puasa-ramadhan (meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan)”, “dosa-dosa sebelumnya dihapuskan bila berangkat umroh / haji ke Mekkah”.
Bukankah berbahaya, bila hukum negara diintervensi ataupun dikeruhkan
oleh norma agama yang mengkampanyekan “penghapusan dosa” bagi kalangan penjahat
(pendosa) alih-alih mempromosikan gaya hidup higienis dari dosa-dosa maupun
maksiat? Apa jadinya bila hakim di pengadilan, meniru sifat Allah yang lebih
PRO kepada pendosa dengan merampas hak korban atas keadilan. Adalah percuma
melapor atau mengadu kepada Allah, karena Allah lebih berpihak kepada “koruptor
dosa”, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi.
Brief
Answer : Bila memang umat agama
samawi-abrahamik seperti muslim, adalah betul se-superior itu yang
membangga-banggakan agamanya yang “penuh kompromistik terhadap dosa dan
maksiat, akan tetapi intoleran terhadap kaum yang berbeda keyakinan”, maka
mengapa tiada satupun umat muslim yang mampu mencela satu buah pun ajaran
maupun teladan hidup Sang Buddha dalam Tipitaka, sumber otentik Agama Buddha?
Justru yang terjadi selama ini dan sejauh ini ialah, penulis kerap
mengolok-olok dan menjadikan dogma-dogma agama islam dalam sumber otentiknya,
yakni alquran maupun hadist-sahih, dan menjadikannya “bulan-bulanan” sehingga
rasa bangga dan delusi superior mereka berbalik menjadi bumerang bagi kaum
mereka sendiri. Di zaman era Sang Buddha, juga ada kaum yang begitu menyerupai
kaum muslim yang berdelusi paling superior:
“Aku tidak melihat ada
petapa atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari
suatu kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan
sempurna, yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya berkeringat
jika ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku berdebat dengan
tiang yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan gemetar jika tiang
terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?”
Mencoba
menantang berdebat kaum Buddhist yang betul-betul memahami dan mempraktekkan
Dhamma, sama artinya mempermalukan agama samawi yang mereka peluk sendiri.
Akibat delusi, mereka merasa sebagai kaum paling superior yang berhak untuk
menceramahi, menggurui, serta menghakimi kaum lainnya, akan tetapi disaat
bersamaan mereka gagal mengawasi dan mendidik diri mereka sendiri yang telah
masuk dalam taraf akut yakni mabuk dan kecanduan-berat iming-iming KORUP
bernama “PENGHAPUSAN DOSA”.
Sekujur
tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, ditutup busana, “aurat
berjalan” kata mereka. Namun, tanpa tabu ataupun malu mereka dengan bangga mengumbar
secara vulgar-seronok kepada publik lewat speaker pengeras suara masjid, “AURAT
TERBESAR” berupa doa-doa “PENGHAPUSAN DOSA”. Sudah menjadi pengetahuan umum,
bahwa antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “DOGMA KORUP PENGHAPUSAN
DOSA” adalah saling bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling
komplomenter satu sama lainnya, tanpa dapat dipisahkan. Para umat agama samawi,
kemungkinan besar akan membuat dalil sebagai berikut ketika mencoba mendebat
umat Buddhist:
“Seseorang memiliki bentuk
materi sebagai diri, dan
berlandaskan pada bentuk materi itu ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.
Seseorang memiliki perasaan
sebagai diri, dan
berlandaskan pada perasaan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang
memiliki persepsi
sebagai diri, dan
berlandaskan pada persepsi ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang
memiliki bentukan-bentukan
sebagai diri, dan
berlandaskan pada bentukan-bentukan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.
Seseorang memiliki kesadaran
sebagai diri, dan
berlandaskan pada kesadaran ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.”
Para
“PENDOSA PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA” tersebut-lah, yang sepatutnya dihukum
dan dijebloskan ke penjara maupun ke neraka, alih-alih berdelusi berhak
menceramahi dan menghakimi orang lainnya. Mereka adalah kaum paling
hina-rendah-dangkal-tercela, PEMALAS yang begitu pemalas untuk menanam
benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa depan,
dan merupakan PENGECUT yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab terhadap
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, baik perbuatan yang kecil maupun yang
besar.
Ambil
contoh kaum muslim yang kerap mencerahami kaum LGBT, dipandang sebagai
“penyimpangan seksuil”. Tapi pernahkah mereka bercermin-diri, para kiai / ustad
di berbagai pesantren memperdaya belasan santriwatinya yang masih
“dibawah-umur” hingga hamil, dimana setiap tahunnya pemberitaan serupa terus
bermunculan, dengan korban-korban yang terus berjatuhan, apakah sikap
“pedofil!a” demikian bukanlah sebentuk “penyimpangan seksuil” di dalam tubuh
institusi agama islam itu sendiri bahkan yang diberikan teladannya oleh nabi
mereka yang menggauli Aisyah yang masih berusia 9 tahun? Memiliki empat hingga belasan
istri pada waktu yang bersamaan, disebut “normal” ataukah “menormalkan yang
menyimpang”?
Bila
mereka sendiri gagal mendidik kaum mereka, maka atas dasar delusi apakah mereka
bersikap seolah sebagai kaum paling superior yang berhak menghakimi kaum
lainnya? Mereka hanyalah “PENDOSA PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA”, kaum paling
hina-bejat-kotor-dangkal-tercela, yang bahkan gagal untuk mendisiplinkan diri
mereka sendiri. Mereka lebih patut dijadikan objek tertawaan alih-alih
dipandang sebagai “ksatria moral”, para pecundang-kehidupan yang cacat penuh
cela “standar moral”-nya.
PEMBAHASAN:
Agama
samawi membangun hegemoni “mayoritas”-nya diatas pilar rapuh bernama delusi,
sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of
the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli
to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
35
Cūḷasaccaka Sutta : Khotbah
Pendek kepada Saccaka
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip.
2. Pada saat itu Saccaka putra Nigaṇṭha sedang menetap Di Vesālī, seorang pendebat dan
pembicara cerdas yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci. Ia membuat
pernyataan di hadapan kumpulan orang-orang Vesālī: “Aku tidak melihat ada petapa
atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari suatu
kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan sempurna,
yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya berkeringat jika
ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku berdebat dengan tiang
yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan gemetar jika tiang
terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?”
[Kitab Komentar : Saccaka adalah putra dari orangtua
penganut Nigaṇṭha (penganut paham Jainisme) yang mana kedua orangtuanya mahir dalam
debat filosofis. Ia telah mempelajari seribu doktrin dari orangtuanya dan
banyak lagi sistem filosofi dari orang lain. Dalam pembahasan di bawah ia
dipanggil dengan nama sukunya, Aggivessana.]
3. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Assaji merapikan jubah, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Vesālī untuk menerima dana
makanan. Ketika Saccaka putra Nigaṇṭha sedang berjalan sambil berolah-raga di Vesālī,
[228] dari jauh ia melihat kedatangan Yang Mulia Assaji dan mendatanginya dan
saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, Saccaka putra
Nigaṇṭha berdiri di satu sisi dan berkata kepadanya:
[Kitab Komentar : Yang Mulia Assaji adalah salah
satu dari lima siswa pertama Sang Buddha.]
4. “Guru Assaji, bagaimanakah Petapa Gotama mendisiplinkan para siswaNya?
Dan bagaimanakah instruksi Petapa Gotama biasanya disampaikan kepada para
siswaNya?”
“Beginilah Sang Bhagavā mendisiplinkan para siswaNya, Aggivessana, dan
beginilah instruksi Sang Bhagavā biasanya disampaikan kepada para siswaNya:
‘Para bhikkhu, bentuk
materi adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, persepsi adalah tidak
kekal, bentukan-bentukan [kehendak] adalah tidak kekal, kesadaran adalah tidak
kekal. Para bhikkhu, bentuk materi adalah bukan-diri, perasaan adalah
bukan-diri, persepsi adalah bukan-diri, bentukan-bentukan [kehendak] adalah
bukan-diri, kesadaran adalah bukan-diri. Segala bentukan adalah tidak kekal;
segala sesuatu adalah bukan-diri.’ Demikianlah Sang Bhagavā mendisiplinkan para siswaNya, dan demikianlah
instruksi Sang Bhagavā biasanya disampaikan kepada para siswaNya.”
[Kitab Komentar : Ringkasan doktrin yang disebutkan
oleh Yang Mulia Assaji, mengabaikan karakteristik ke-dua dari tiga
karakteristik, dukkha atau penderitaan. Beliau mengabaikan ini untuk
menghindari memberikan kesempatan kepada Saccaka untuk membuat penilaian secara
tidak proporsional terhadap doktrin Sang Buddha, ataukah memang Beliau sengaja
agar Saccaka putra Nigaṇṭha terdorong niat-batinnya untuk bertemu langsung
dengan Sang Buddha.]
“Jika itu adalah apa yang Petapa Gotama tegaskan, kami sungguh telah
mendengar apa yang tidak menyenangkan. Mungkin suatu saat kami dapat bertemu
dengan Guru Gotama dan berdiskusi dengan Beliau. Mungkin kami dapat melepaskanNya
dari pandangan sesat itu.”
5. Pada saat itu lima ratus Licchavi berkumpul di dalam sebuah aula
pertemuan untuk suatu urusan. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha mendatangi mereka dan berkata: “Marilah, para Licchavi yang baik,
datanglah! Hari
ini akan ada suatu perdebatan antara aku dan Petapa Gotama. Jika Petapa Gotama mempertahankan di depanku apa
yang telah dipertahankan di depanku oleh salah satu siswa terkenalNya, bhikkhu
bernama Assaji, maka bagaikan seorang kuat dapat mencengkeram seekor domba
jantan berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam
perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke
sini dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat
dapat melemparkan sebuah saringan minuman besar ke dalam tangki air yang dalam,
dan dengan memegang salah satu ujungnya, menariknya ke sana dan menariknya ke
sini dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan
menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya
berputar. Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat [229] dapat
memegang tepi saringan dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas
dan membantingnya ke segala arah, demikian pula dalam
perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa Gotama ke atas dan mengguncang
Beliau ke bawah dan membanting Beliau ke segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun
mencebur ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku
akan menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama. Marilah, para
Licchavi yang baik, datanglah! Hari
ini akan ada suatu perdebatan antara aku dan Petapa Gotama.”
[Kitab Komentar : Orang-orang memainkan permainan
ini ketika mempersiapkan kain rami. Mereka mengikat segenggam rami kasar,
merendamnya dalam air, dan memukulnya di atas papan di sebelah kiri, kanan, dan
tengah. Seekor gajah besar melihat permainan ini, dan mencebur ke dalam air, ia
mengambil air dengan belalainya dan menyemprotkannya ke perutnya, ke tubuhnya,
di kedua sisi, dan selangkangannya.]
6. Kemudian beberapa Licchavi berkata: “Siapakah
Petapa Gotama sehingga Ia mampu membantah pernyataan Saccaka putra Nigaṇṭha? Sebaliknya, Saccaka
putra Nigaṇṭha akan membantah
pernyataan Petapa Gotama.” Dan beberapa Licchavi berkata: “Siapakah Saccaka putra Nigaṇṭha sehingga ia mampu membantah pernyataan Petapa Gotama? Sebaliknya,
Petapa Gotama akan membantah pernyataan Saccaka putra Nigaṇṭha.” Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha pergi dengan lima ratus Licchavi menuju Aula
Beratap Lancip.
7. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang [bermeditasi] berjalan mondar-mandir
di ruang terbuka. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha mendatangi mereka dan bertanya: “Di manakah Guru Gotama menetap saat
ini, tuan-tuan? Kami ingin bertemu dengan Guru Gotama.”
“Sang Bhagavā telah pergi ke Hutan Besar, Aggivessana, dan sedang duduk
di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.”
8. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha, bersama dengan banyak pengikut dari Licchavi,
memasuki Hutan Besar dan menjumpai Sang Bhagavā. Ia bertukar sapa dengan Sang Bhagavā,
dan setelah ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Beberapa Licchavi
bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya bertukar
sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini berakhir, duduk di satu sisi;
beberapa lainnya merangkapkan tangan sebagai penghormatan terhadap Sang Bhagavā
dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya menyebutkan nama dan suku mereka di
hadapan Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya berdiam diri dan
duduk di satu sisi.
9. Ketika Saccaka putra Nigaṇṭha telah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku
ingin mengajukan pertanyaan kepada Guru Gotama mengenai hal tertentu, jika Guru
Gotama berkenan menjawab pertanyaan ini.”
“Tanyakanlah apa yang engkau ingin tanyakan, Aggivessana.” [230]
“Bagaimanakah Guru Gotama mendisiplinkan para siswaNya? Dan bagaimanakah
instruksi Guru Gotama biasanya disampaikan kepada para siswaNya?”
“Beginilah Aku mendisiplinkan para siswaKu, Aggivessana, dan beginilah
instruksiKu biasanya disampaikan kepada para siswaKu: ‘Para bhikkhu, bentuk materi adalah
tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, persepsi adalah tidak kekal, bentukan-bentukan
[kehendak] adalah tidak kekal, kesadaran adalah tidak kekal. Para bhikkhu, bentuk
materi adalah bukan-diri, perasaan adalah bukan-diri, persepsi adalah
bukan-diri, bentukan-bentukan [kehendak] adalah bukan-diri, kesadaran adalah
bukan-diri. Segala bentukan adalah tidak kekal; segala sesuatu adalah
bukan-diri; demikianlah Aku
mendisiplinkan para siswaKu, dan demikianlah instruksiKu biasanya disampaikan
kepada para siswaKu.”
10. “Sebuah perumpamaan muncul padaku, Guru Gotama.”
“Jelaskanlah, Aggivessana,” Sang Bhagavā berkata.
“Seperti halnya ketika benih dan tanaman, apapun jenisnya, tumbuh,
berkembang, dan matang, semuanya terjadi dengan bergantung pada tanah,
berlandaskan pada tanah; dan seperti halnya pekerjaan keras, apapun jenisnya,
yang dilakukan, semua dilakukan dengan bergantung pada tanah, berlandaskan pada
tanah – demikian pula, Guru Gotama, seseorang memiliki bentuk materi sebagai
diri, dan berlandaskan pada bentuk materi itu ia menghasilkan kebajikan atau
kejahatan. Seseorang memiliki perasaan sebagai diri, dan berlandaskan
pada perasaan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang
memiliki persepsi sebagai diri, dan berlandaskan pada persepsi ia menghasilkan
kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki bentukan-bentukan sebagai
diri, dan berlandaskan pada bentukan-bentukan ia menghasilkan kebajikan atau
kejahatan. Seseorang memiliki kesadaran sebagai diri, dan berlandaskan pada
kesadaran ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.”
11. “Aggivessana, apakah engkau mengatakan bahwa: ‘Bentuk materi adalah
diriku, perasaan adalah diriku, persepsi adalah diriku, bentukan-bentukan
[kehendak] adalah diriku, kesadaran adalah diriku.’”
“Aku mengatakan demikian, Guru Gotama: ‘Bentuk
materi adalah diriku, perasaan adalah diriku, persepsi adalah diriku, bentukan-bentukan
adalah diriku, kesadaran adalah diriku.’ Dan demikian pula dengan banyak orang ini.”
[Kitab Komentar : Dalam menegaskan kelima kelompok
unsur kehidupan sebagai “diri” (attā), ia tentu saja secara langsung
menentang ajaran Buddha tentang anattā, “tiada aku” atau “tanpa diri”.
Ia mengatakan pandangannya berasal dari “banyak orang” dengan pikiran bahwa “mayoritas tidak mungkin salah.”]
“Apakah hubungannya banyak orang ini denganmu, Aggivessana? Mohon
batasi pernyataanmu hanya pada dirimu sendiri.”
“Kalau begitu, Guru Gotama, aku mengatakan: ‘Bentuk materi adalah diriku,
perasaan adalah diriku, persepsi adalah diriku, bentukan-bentukan adalah
diriku, kesadaran adalah diriku.’”
12. “Maka,
Aggivessana, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai jawaban. Jawablah dengan apa yang menurutmu benar. [231]
Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah
seorang raja agung yang sah – misalnya, Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja
Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha – akan menjalankan kekuasaannya untuk
mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum,
dan mengusir mereka yang harus diusir?”
“Guru Gotama, seorang raja agung yang sah – misalnya, Raja Pasenadi dari
Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha – akan menjalankan
kekuasaannya untuk mengeksekusi
mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir
mereka yang harus diusir. Karena bahkan komunitas dan masyarakat [oligarki]
seperti para Vajji ini dan para Malla menjalankan menjalankan kekuasaannya di
wilayah mereka untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum
mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir; apalagi
raja mulia yang sah seperti Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta
dari Magadha. Ia akan menjalankannya, Guru Gotama, dan ia selayaknya
menjalankannya.”
13. “Bagaimana
menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Bentuk materi adalah
diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas bentuk materi itu
sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah bentukku seperti demikian; biarlah bentukku
tidak seperti demikian’?”
[Kitab Komentar : Bila ada yang bernama “kekuasaan
atas tubuh” berwujud “tubuh aku” atau “tubuh milik aku”, maka adalah niscaya,
bukan mustahil, bagi setiap individu untuk “Biarlah
bentukku seperti demikian; biarlah bentukku tidak seperti demikian”. Sang Buddha di sini mengatakan bahwa
kelompok-kelompok unsur kehidupan bukanlah diri karena tidak memiliki satu
karakteristik penting dari “diri” – dapat dikuasai. Apa
yang tidak dapat dikuasai atau dikendalikan sepenuhnya tidak dapat
diidentifikasikan sebagai “diriku”.]
Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha berdiam diri. Untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā mengajukan
pertanyaan yang sama, dan untuk ke dua kalinya Saccaka putra Nigaṇṭha berdiam diri. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
“Aggivessana,
jawablah sekarang. Sekarang bukan waktunya untuk berdiam diri. Jika siapapun,
ketika ditanya dengan pertanyaan yang sewajarnya oleh Sang Tathāgata untuk ke
tiga kalinya, masih tidak menjawab, maka kepalanya akan pecah menjadi tujuh
keping pada saat itu dan di tempat itu juga.”
14. Pada
saat itu sesosok makhluk bersenjatakan halilintar memegang sebuah halilintar
besi yang terbakar, menyala dan berpijar, muncul di udara di atas Saccaka putra
Nigaṇṭha, dengan berpikir:
“Jika Saccaka putra Nigaṇṭha ini, ketika ditanya
dengan pertanyaan yang sewajarnya oleh Sang Bhagavā sampai tiga kali, masih
tidak menjawab, maka aku akan memecahkan kepalanya menjadi tujuh keping di sini
dan saat ini.”
[Kitab Komentar mengidentifikasikan makhluk (yakkha)
ini sebagai Sakka, penguasa para dewa.]
Sang Bhagavā melihat makhluk bersenjatakan halilintar itu dan demikian
pula dengan Saccaka putra Nigaṇṭha. Kemudian
Saccaka putra Nigaṇṭha ketakutan, gelisah,
dan ngeri. [232] Untuk
mencari naungan, suaka, dan perlindungan dari Sang Bhagavā, ia berkata:
“Tanyakanlah padaku, Guru Gotama, aku akan menjawab.”
15. “Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Bentuk materi adalah
diriku,’ apakah
engkau menjalankan kekuasaan apapun atas bentuk materi itu sehingga dapat
mengatakan: ‘Biarlah
bentukku seperti demikian; biarlah bentukku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
16. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau
menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang
engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Ketika engkau mengatakan: ‘Perasaan
adalah diriku,’ apakah
engkau menjalankan kekuasaan apapun atas perasaan itu sehingga dapat mengatakan:
‘Biarlah
perasaanku seperti demikian; biarlah perasaanku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
17. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau
menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang
engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Ketika engkau mengatakan: ‘Persepsi
adalah diriku,’ apakah
engkau menjalankan kekuasaan apapun atas persepsi itu sehingga dapat mengatakan:
‘Biarlah
persepsiku seperti demikian; biarlah persepsiku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
18. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau
menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang
engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Ketika engkau mengatakan: ‘Bentukan-bentukan
[kehendak] adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas bentukan-bentukan
itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah
bentukan-bentukanku seperti demikian; biarlah bentukan-bentukanku tidak seperti
demikian’?” – “Tidak,
Guru Gotama.”
19. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau
menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang
engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana?
Ketika engkau mengatakan: ‘Kesadaran
adalah diriku,’ apakah
engkau menjalankan kekuasaan apapun atas kesadaran itu sehingga dapat
mengatakan: ‘Biarlah
kesadaranku seperti demikian; biarlah kesadaranku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
20. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau
menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang
engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak
selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana,
apakah bentuk materi adalah kekal atau tidak kekal?” – “Tidak
kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal
adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan,
Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan
penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku,
[233] ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah
perasaan kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah
penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang
merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku,
ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah
persepsi kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah
penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang
merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku,
ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah
bentukan-bentukan [kehendak] kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak
kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” –
“Apakah yang merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap:
‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah
kesadaran kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah
penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan
penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku,
ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”
21. “Bagaimana
menurutmu, Aggivessana? Ketika seseorang terikat pada penderitaan, mendatangi
penderitaan, menggenggam penderitaan, dan menganggap penderitaan sebagai: ‘ini
milikku, ini aku, ini diriku.’ Dapatkah ia sepenuhnya memahami penderitaan oleh
dirinya sendiri atau berdiam dengan penderitaan yang dihancurkan sepenuhnya?”
“Bagaimana mungkin, Guru Gotama? Tidak,
Guru Gotama.”
“Bagaimana
menurutmu, Aggivessana? Kalau begitu, apakah engkau tidak terikat pada
penderitaan, mendatangi penderitaan, menggenggam penderitaan, dan menganggap
penderitaan sebagai: ‘ini milikku, ini aku, ini diriku.’” “Bagaimana aku tidak, Guru Gotama? Benar, Guru Gotama.”
[Kitab Komentar : Kelima kelompok unsur kehidupan di
sini disebut penderitaan, karena tidak kekal dan tidak dapat dikuasai.]
22. “Ini seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu,
berkeliling mencari inti kayu, membawa kapak tajam dan memasuki hutan, dan di
sana ia melihat sebatang pohon pisang besar, lurus, muda, tanpa tandan buah.
Kemudian ia menebangnya pada akarnya, memotong pucuknya, dan mengelupas pelepah
daunnya; tetapi ketika ia terus mengelupasi pelepah daunnya, ia tidak menemukan
bahkan kayu lunaknya, apalagi inti kayu. Demikian pula, Aggivessana, ketika
engkau ditekan, ditanya, dan didebat olehKu mengenai pernyataanmu sendiri,
engkau terbukti, kosong, hampa, dan keliru. Tetapi adalah engkau yang
membuat pernyataan ini di depan para penduduk Vesālī: ‘Aku tidak melihat ada
petapa atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari
suatu kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan
sempurna, yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya
berkeringat jika ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku
berdebat dengan tiang yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan
gemetar jika tiang terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?’ Sekarang ada butiran
keringat di keningmu dan keringat itu telah membasahi jubah atasmu dan menetes
ke tanah. Tetapi tidak ada keringat pada tubuhKu saat ini.” Dan Sang Bhagavā membuka tubuhnya yang berwarna
keemasan di depan kelompok itu. [234] Ketika
hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha
duduk diam, dengan bahu terkulai dan kepala tertunduk, muram, dan tanpa reaksi.
23. Kemudian Dummukha, putra Licchavi, melihat Saccaka putra Nigaṇṭha dalam keadaan demikian, berkata kepada Sang Bhagavā: “Sebuah
perumpamaan muncul padaku, Guru Gotama.”
“Jelaskanlah, Dummukha.”
“Misalkan, Yang Mulia, tidak jauh dari sebuah desa atau pemukiman
terdapat sebuah kolam dengan seekor kepiting di dalamnya. Dan kemudian
sekelompok anak-anak laki-laki dan perempuan pergi dari pemukiman atau desa itu
menuju kolam tersebut, masuk ke air, dan menarik kepiting itu keluar dari air
dan meletakkannya di atas tanah kering. Dan ketika kepiting itu menjulurkan
kakinya, mereka memotongnya, mematahkannya, dan memukulnya dengan tongkat dan
batu, sehingga kepiting itu dengan semua kakinya putus, patah, dan hancur,
tidak mampu kembali ke kolam seperti sebelumnya. Demikian pula, semua dalih,
geliat, dan kebimbangan Saccaka putra Nigaṇṭha telah diputuskan, dipatahkan, dan dihancurkan oleh Sang Bhagavā, dan
sekarang ia tidak mampu berada di dekat Sang Bhagavā lagi untuk berdebat.”
24. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha berkata kepadanya: “Tunggu, Dummukha, tunggu! Kami tidak berbicara denganmu,
di sini kami sedang berbicara dengan Guru Gotama.”
[Kemudian ia berkata:] “Biarlah pembicaraan kita, Guru Gotama. Seperti
halnya para petapa dan brahmana biasa. Hanya sekadar obrolan santai, aku pikir.
Tetapi dengan cara bagaimanakah seorang siswa Petapa Gotama menjadi seorang yang
melaksanakan instruksi Beliau, yang menanggapi nasihat Beliau, yang telah
melampaui keragu-raguan, menjadi bebas dari kebingungan, memperoleh keberanian,
dan menjadi tidak bergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru?”
[Kitab Komentar : Itu adalah
karakteristik-karakteristik seorang sekha. Arahant, sebaliknya, tidak hanya
memiliki pandangan benar “tanpa-diri” (anattā), tetapi juga
menggunakannya untuk melenyapkan segala kemelekatan seperti dijelaskan oleh
Sang Buddha pada paragraf nomor ke-25.]
“Di sini, Aggivessana, segala
jenis bentuk materi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan
benar sebagai berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ [235]
“Segala
jenis perasaan apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan
benar sebagai berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’
“Segala
jenis persepsi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan
benar sebagai berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’
“Segala
jenis bentukan-bentukan [kehendak] apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa
sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau
dekat – seorang siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan
kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’
“Segala
jenis kesadaran apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
siswaKu melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai
berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dengan cara inilah seorang siswaKu menjadi
seorang yang melaksanakan instruksiKu, yang menanggapi nasihatKu, yang telah
melampaui keragu-raguan, menjadi bebas dari kebingungan, memperoleh keberanian,
dan menjadi tidak bergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru.”
25. “Guru
Gotama, Bagaimanakah seorang bhikkhu menjadi seorang Arahant dengan noda-noda
dihancurkan, seorang yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa
yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah
menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui
pengetahuan akhir?”
[Komentar : “belenggu-belenggu penjelmaan” ialah
keinginan untuk kembali-terlahir, baik di alam yang lebih tinggi, alam yang
lebih rendah, maupun kembali-terlahir ke alam manusia. Keinginan untuk
terlahir-kembali sebagai dewa di alam dewa, merupakan “belenggu penjelmaan”.
Bersekutu dan tertarik pada makhluk arwah dari alam arwah, sehingga
kecondongannya akan terlahir-kembali ke alam rendah, juga merupakan “belenggu
penjelmaan”. Tidak terkecuali keinginan untuk kembali-terlahir sebagai manusia
di alam manusia, merupakan “belenggu penjelmaan”, akar dari dukkha :
lahir, tua, sakit, meninggal dunia.]
“Di sini, Aggivessana, segala
jenis bentuk materi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah
melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar
sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui
ketidak-melekatan ia terbebaskan.
“Segala jenis
perasaan apapun, apakah
di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal,
kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah
melihat segala jenis perasaan sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar
sebagai berikut:
‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui
ketidak-melekatan ia terbebaskan.
“Segala
jenis persepsi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
bhikkhu telah melihat segala jenis persepsi sebagaimana adanya dengan
kebijaksanaan benar sebagai berikut:
‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui
ketidak-melekatan ia terbebaskan.
“Segala jenis bentukan-bentukan
[kehendak] apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang,
internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
bhikkhu telah melihat segala jenis bentukan-bentukan [kehendak] sebagaimana
adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku,
ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan ia terbebaskan.
“Segala
jenis kesadaran apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal
atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang
bhikkhu telah melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan
benar sebagai berikut: ‘Ini
bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan
ia terbebaskan. Dengan cara inilah seorang bhikkhu menjadi seorang Arahant
dengan noda-noda dihancurkan, seorang yang telah menjalani kehidupan suci,
telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah
mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan
sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir.
26. “Ketika
pikiran seorang bhikkhu terbebaskan demikian, ia memiliki tiga kualitas yang
tidak terlampaui: penglihatan yang tidak terlampaui, praktik sang jalan yang
tidak terlampaui, dan kebebasan yang tidak terlampaui. Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, ia
masih menghormati, menghargai, dan memuliakan Sang Tathāgata sebagai berikut:
‘Sang Bhagavā telah tercerahkan dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk mencapai
pencerahan. Sang Bhagavā telah jinak dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk
menjinakkan diri sendiri. Sang Bhagavā dalam kondisi damai dan Beliau
mengajarkan Dhamma demi kedamaian. Sang Bhagavā telah menyeberang dan Beliau mengajarkan
Dhamma untuk menyeberang. Sang Bhagavā telah mencapai Nibbāna dan Beliau mengajarkan
Dhamma untuk mencapai Nibbāna.’”
[Kitab Komentar memberikan beberapa penjelasan
alternatif atas ketiga kalimat “penglihatan yang tidak terlampaui, praktik sang
jalan yang tidak terlampaui, dan kebebasan yang tidak terlampaui”. Yaitu
kebijaksanaan, praktik, dan kebebasan baik lokiya maupun lokuttara.
Atau seluruhnya lokuttara: pertama adalah pandangan benar pada jalan
Kearahantaan, ke dua adalah ketujuh faktor lainnya, ke tiga adalah buah
tertinggi (Kearahantaan). Atau pertama adalah penglihatan pada Nibbāna, ke dua
adalah faktor-faktor sang jalan, ke tiga adalah buah tertinggi.]
27. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha [236] menjawab: “Guru
Gotama, kami sungguh berani dan lancang berpikir bahwa kami dapat menyerang
Guru Gotama dalam perdebatan. Seseorang dapat menyerang seekor gajah gila dan selamat,
namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. Seseorang dapat
menyerang kobaran api yang menyala-nyala dan selamat, namun ia tidak dapat
menyerang Guru Gotama dan selamat. Seseorang dapat menyerang seekor ular berbisa
yang mengerikan dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan
selamat. kami sungguh berani dan lancang berpikir bahwa kami dapat menyerang
Guru Gotama dalam perdebatan.
“Sudilah Sang Bhagavā bersama dengan Saṅgha para bhikkhu menyetujui untuk menerima persembahan makanan dariku
besok.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri.
28. Kemudian, mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah menyetujui, Saccaka
putra Nigaṇṭha berkata kepada para Licchavi: “Dengarkan aku,
para Licchavi. Petapa Gotama bersama dengan Saṅgha para bhikkhu telah menerima undanganku untuk makan besok. Kalian
boleh membawa kepadaku apapun yang kalian anggap layak untuk Beliau.”
29. Kemudian, ketika malam berakhir, para Licchavi membawa lima ratus
hidangan upacara berupa nasi susu sebagai persembahan makanan. Kemudian Saccaka
putra Nigaṇṭha mempersiapkan makanan-makanan baik berbagai jenis
di tamannya sendiri dan pada waktunya mengumumkan kepada Sang Bhagavā: “Sudah
waktunya, Guru Gotama, makanan telah siap.”
30. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubahNya, dan
dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, Beliau pergi bersama Saṅgha para bhikkhu menuju taman Saccaka putra Nigaṇṭha dan duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian, dengan tangannya
sendiri, Saccaka putra Nigaṇṭha melayani dan memuaskan Saṅgha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Bhagavā dengan berbagai jenis
makanan baik. Ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menggeser
mangkukNya ke samping, Saccaka putra Nigaṇṭha mengambil tempat duduk yang rendah, duduk di satu
sisi, dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru
Gotama, semoga jasa dan buah jasa besar dari persembahan ini adalah demi
kebahagiaan si pemberi.”
[Komentar : Menjadi makhluk suci, merupakan tugas
utama bhikkhu-monastik, tidak lain tidak bukan untuk memberi kesempatan kepada umat
awam perumah-tangga untuk menanam jasa baik pada “ladang menanam jasa yang baik
dan subur”.]
“Aggivessana, apapun
yang dihasilkan dari tindakan memberi kepada penerima seperti engkau – seorang
yang belum terbebas dari nafsu, belum terbebas dari kebencian, belum terbebas
dari delusi – [237] itu adalah untuk si pemberi. Dan apapun yang dihasilkan
dari tindakan memberi kepada penerima seperti Aku – seorang yang telah terbebas
dari nafsu, terbebas dari kebencian, terbebas dari delusi – itu adalah untuk
engkau.”
[Kitab Komentar : Walaupun Saccaka mengaku kalah
dalam debat, namun ia tetap masih menganggap dirinya sebagai orang suci, dan
dengan demikian ia tidak terdorong untuk memohon perlindungan pada Tiga
Permata. Juga, karena ia tetap menganggap dirinya sebagai orang suci, maka ia
merasa tidaklah selayaknya baginya untuk mempersembahkan jasa persembahan itu
kepada dirinya, dan dengan demikian ia ingin mempersembahkan jasa itu kepada
para Licchavi. Tetapi Sang Buddha menjawab bahwa para Licchavi akan memperoleh
jasa karena memberikan makanan kepada Saccaka untuk dipersembahkan kepada Sang
Buddha. Jasa persembahan
itu berbeda secara kualitas menurut kemurnian penerimanya, seperti dijelaskan pada Majjhima Nikāya 142.6.]
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi membangun
“rasa superior”-nya berlandaskan pada ilusi-delusif yang menyerupai
fatamorgana, mengingat fakta realitanya mereka merupakan kaum yang penuh keserakahan,
dibutakan oleh nafsu, dikuasai oleh ideologi kebencian dan permusuhan, gemar
menumpahkan-darah orang lain, disamping “pengecut-tulen” yang sama sekali jauh
dari sifat seorang ksatria yang berani mengambil tanggung-jawab atas konsekuensi
perbuatan-perbuatannya sendiri, karenanya umat agama samawi lebih patut
didudukkan sebagai “kasta” paling rendah dan paling hina—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda
sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” sudah terbebas dari nafsu, terbebas
dari kebencian, serta telah terbebas dari delusi ataukah justru sebaliknya, dan
apakah ada faedahnya memberi kepada manusia PENDOSA-BERAT yang karenanya MENCANDU-BERAT
“PENGHAPUSAN DOSA”. PENDOSA-BERAT, namun hendak menceramahi dan menghakimi kaum
lainnya? Ibarat “ORANG BUTA” yang hendak menuntun jalan bagi para pengikutnya, “neraka”
pun diyakini sebagai “surga”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]