Agama Samawi Bukanlah Agama yang Normal, namun MENORMALISASI YANG MENYIMPANG

MULUT-BESAR para Muslim yang Notabene PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA, “KORUPTOR DOSA” yang Hendak Menceramahi Kaum Lain tentang Hidup Jujur, Bersih, dan Lurus?

Delusi Kaum Muslim yang Paling Delusif, Bangga Memamerkan Bobrok-Moral “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA” alih-alih Merasa Malu dan Tabu Bersikap PENGECUT yang Tidak Berani Mengambil Tanggung-Jawab / Konsekuensi Atas Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri

Question : Banyak umat muslim, yang mengklaim dengan penuh kebanggaan, bahwa norma agama mereka, yakni islam, lebih tinggi derajatnya daripada norma hukum. Adapun sepengetahuan saya ialah, dogma-dogma agama islam menghalalkan segala jenis kejahatan (dosa-dosa) maupun maksiat, karena meski “ini dan itu disebut haram”, “ini dan itu disebut dilarang”, “ini dan itu disebut dosa”, akan tetapi kemudian dinegasikan sendiri oleh dogma agama islam itu sendiri lewat iming-iming korup semacam “pengampunan dosa”, “dosa-dosa setahun dihapuskan lewat puasa-ramadhan (meski konsumsi meningkat dan kerja malas-malasan)”, “dosa-dosa sebelumnya dihapuskan bila berangkat umroh / haji ke Mekkah”.

Bukankah berbahaya, bila hukum negara diintervensi ataupun dikeruhkan oleh norma agama yang mengkampanyekan “penghapusan dosa” bagi kalangan penjahat (pendosa) alih-alih mempromosikan gaya hidup higienis dari dosa-dosa maupun maksiat? Apa jadinya bila hakim di pengadilan, meniru sifat Allah yang lebih PRO kepada pendosa dengan merampas hak korban atas keadilan. Adalah percuma melapor atau mengadu kepada Allah, karena Allah lebih berpihak kepada “koruptor dosa”, dimana dosa-dosa pun mereka korupsi.

Brief Answer : Bila memang umat agama samawi-abrahamik seperti muslim, adalah betul se-superior itu yang membangga-banggakan agamanya yang “penuh kompromistik terhadap dosa dan maksiat, akan tetapi intoleran terhadap kaum yang berbeda keyakinan”, maka mengapa tiada satupun umat muslim yang mampu mencela satu buah pun ajaran maupun teladan hidup Sang Buddha dalam Tipitaka, sumber otentik Agama Buddha? Justru yang terjadi selama ini dan sejauh ini ialah, penulis kerap mengolok-olok dan menjadikan dogma-dogma agama islam dalam sumber otentiknya, yakni alquran maupun hadist-sahih, dan menjadikannya “bulan-bulanan” sehingga rasa bangga dan delusi superior mereka berbalik menjadi bumerang bagi kaum mereka sendiri. Di zaman era Sang Buddha, juga ada kaum yang begitu menyerupai kaum muslim yang berdelusi paling superior:

“Aku tidak melihat ada petapa atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari suatu kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan sempurna, yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya berkeringat jika ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku berdebat dengan tiang yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan gemetar jika tiang terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?”

Mencoba menantang berdebat kaum Buddhist yang betul-betul memahami dan mempraktekkan Dhamma, sama artinya mempermalukan agama samawi yang mereka peluk sendiri. Akibat delusi, mereka merasa sebagai kaum paling superior yang berhak untuk menceramahi, menggurui, serta menghakimi kaum lainnya, akan tetapi disaat bersamaan mereka gagal mengawasi dan mendidik diri mereka sendiri yang telah masuk dalam taraf akut yakni mabuk dan kecanduan-berat iming-iming KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA”.

Sekujur tubuh mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, ditutup busana, “aurat berjalan” kata mereka. Namun, tanpa tabu ataupun malu mereka dengan bangga mengumbar secara vulgar-seronok kepada publik lewat speaker pengeras suara masjid, “AURAT TERBESAR” berupa doa-doa “PENGHAPUSAN DOSA”. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa antara “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” dan “DOGMA KORUP PENGHAPUSAN DOSA” adalah saling bundling ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang saling komplomenter satu sama lainnya, tanpa dapat dipisahkan. Para umat agama samawi, kemungkinan besar akan membuat dalil sebagai berikut ketika mencoba mendebat umat Buddhist:

“Seseorang memiliki bentuk materi sebagai diri, dan berlandaskan pada bentuk materi itu ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki perasaan sebagai diri, dan berlandaskan pada perasaan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki persepsi sebagai diri, dan berlandaskan pada persepsi ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki bentukan-bentukan sebagai diri, dan berlandaskan pada bentukan-bentukan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki kesadaran sebagai diri, dan berlandaskan pada kesadaran ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.”

Para “PENDOSA PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA” tersebut-lah, yang sepatutnya dihukum dan dijebloskan ke penjara maupun ke neraka, alih-alih berdelusi berhak menceramahi dan menghakimi orang lainnya. Mereka adalah kaum paling hina-rendah-dangkal-tercela, PEMALAS yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa depan, dan merupakan PENGECUT yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab terhadap perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, baik perbuatan yang kecil maupun yang besar.

Ambil contoh kaum muslim yang kerap mencerahami kaum LGBT, dipandang sebagai “penyimpangan seksuil”. Tapi pernahkah mereka bercermin-diri, para kiai / ustad di berbagai pesantren memperdaya belasan santriwatinya yang masih “dibawah-umur” hingga hamil, dimana setiap tahunnya pemberitaan serupa terus bermunculan, dengan korban-korban yang terus berjatuhan, apakah sikap “pedofil!a” demikian bukanlah sebentuk “penyimpangan seksuil” di dalam tubuh institusi agama islam itu sendiri bahkan yang diberikan teladannya oleh nabi mereka yang menggauli Aisyah yang masih berusia 9 tahun? Memiliki empat hingga belasan istri pada waktu yang bersamaan, disebut “normal” ataukah “menormalkan yang menyimpang”?

Bila mereka sendiri gagal mendidik kaum mereka, maka atas dasar delusi apakah mereka bersikap seolah sebagai kaum paling superior yang berhak menghakimi kaum lainnya? Mereka hanyalah “PENDOSA PECANDU-BERAT PENGHAPUSAN DOSA”, kaum paling hina-bejat-kotor-dangkal-tercela, yang bahkan gagal untuk mendisiplinkan diri mereka sendiri. Mereka lebih patut dijadikan objek tertawaan alih-alih dipandang sebagai “ksatria moral”, para pecundang-kehidupan yang cacat penuh cela “standar moral”-nya.

PEMBAHASAN:

Agama samawi membangun hegemoni “mayoritas”-nya diatas pilar rapuh bernama delusi, sebagaimana dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 35

asaccaka Sutta : Khotbah Pendek kepada Saccaka

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Vesālī di Hutan Besar di Aula Beratap Lancip.

2. Pada saat itu Saccaka putra Nigaṇṭha sedang menetap Di Vesālī, seorang pendebat dan pembicara cerdas yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci. Ia membuat pernyataan di hadapan kumpulan orang-orang Vesālī: “Aku tidak melihat ada petapa atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari suatu kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan sempurna, yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya berkeringat jika ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku berdebat dengan tiang yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan gemetar jika tiang terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?”

[Kitab Komentar : Saccaka adalah putra dari orangtua penganut Nigaṇṭha (penganut paham Jainisme) yang mana kedua orangtuanya mahir dalam debat filosofis. Ia telah mempelajari seribu doktrin dari orangtuanya dan banyak lagi sistem filosofi dari orang lain. Dalam pembahasan di bawah ia dipanggil dengan nama sukunya, Aggivessana.]

3. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Assaji merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Ketika Saccaka putra Nigaṇṭha sedang berjalan sambil berolah-raga di Vesālī, [228] dari jauh ia melihat kedatangan Yang Mulia Assaji dan mendatanginya dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, Saccaka putra Nigaṇṭha berdiri di satu sisi dan berkata kepadanya:

[Kitab Komentar : Yang Mulia Assaji adalah salah satu dari lima siswa pertama Sang Buddha.]

4. “Guru Assaji, bagaimanakah Petapa Gotama mendisiplinkan para siswaNya? Dan bagaimanakah instruksi Petapa Gotama biasanya disampaikan kepada para siswaNya?”

“Beginilah Sang Bhagavā mendisiplinkan para siswaNya, Aggivessana, dan beginilah instruksi Sang Bhagavā biasanya disampaikan kepada para siswaNya: ‘Para bhikkhu, bentuk materi adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, persepsi adalah tidak kekal, bentukan-bentukan [kehendak] adalah tidak kekal, kesadaran adalah tidak kekal. Para bhikkhu, bentuk materi adalah bukan-diri, perasaan adalah bukan-diri, persepsi adalah bukan-diri, bentukan-bentukan [kehendak] adalah bukan-diri, kesadaran adalah bukan-diri. Segala bentukan adalah tidak kekal; segala sesuatu adalah bukan-diri.’ Demikianlah Sang Bhagavā mendisiplinkan para siswaNya, dan demikianlah instruksi Sang Bhagavā biasanya disampaikan kepada para siswaNya.”

[Kitab Komentar : Ringkasan doktrin yang disebutkan oleh Yang Mulia Assaji, mengabaikan karakteristik ke-dua dari tiga karakteristik, dukkha atau penderitaan. Beliau mengabaikan ini untuk menghindari memberikan kesempatan kepada Saccaka untuk membuat penilaian secara tidak proporsional terhadap doktrin Sang Buddha, ataukah memang Beliau sengaja agar Saccaka putra Nigaṇṭha terdorong niat-batinnya untuk bertemu langsung dengan Sang Buddha.]

“Jika itu adalah apa yang Petapa Gotama tegaskan, kami sungguh telah mendengar apa yang tidak menyenangkan. Mungkin suatu saat kami dapat bertemu dengan Guru Gotama dan berdiskusi dengan Beliau. Mungkin kami dapat melepaskanNya dari pandangan sesat itu.”

5. Pada saat itu lima ratus Licchavi berkumpul di dalam sebuah aula pertemuan untuk suatu urusan. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha mendatangi mereka dan berkata: “Marilah, para Licchavi yang baik, datanglah! Hari ini akan ada suatu perdebatan antara aku dan Petapa Gotama. Jika Petapa Gotama mempertahankan di depanku apa yang telah dipertahankan di depanku oleh salah satu siswa terkenalNya, bhikkhu bernama Assaji, maka bagaikan seorang kuat dapat mencengkeram seekor domba jantan berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat dapat melemparkan sebuah saringan minuman besar ke dalam tangki air yang dalam, dan dengan memegang salah satu ujungnya, menariknya ke sana dan menariknya ke sini dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menarikNya berputar. Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat [229] dapat memegang tepi saringan dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas dan membantingnya ke segala arah, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa Gotama ke atas dan mengguncang Beliau ke bawah dan membanting Beliau ke segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun mencebur ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku akan menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama. Marilah, para Licchavi yang baik, datanglah! Hari ini akan ada suatu perdebatan antara aku dan Petapa Gotama.”

[Kitab Komentar : Orang-orang memainkan permainan ini ketika mempersiapkan kain rami. Mereka mengikat segenggam rami kasar, merendamnya dalam air, dan memukulnya di atas papan di sebelah kiri, kanan, dan tengah. Seekor gajah besar melihat permainan ini, dan mencebur ke dalam air, ia mengambil air dengan belalainya dan menyemprotkannya ke perutnya, ke tubuhnya, di kedua sisi, dan selangkangannya.]

6. Kemudian beberapa Licchavi berkata: “Siapakah Petapa Gotama sehingga Ia mampu membantah pernyataan Saccaka putra Nigaṇṭha? Sebaliknya, Saccaka putra Nigaṇṭha akan membantah pernyataan Petapa Gotama.” Dan beberapa Licchavi berkata: “Siapakah Saccaka putra Nigaṇṭha sehingga ia mampu membantah pernyataan Petapa Gotama? Sebaliknya, Petapa Gotama akan membantah pernyataan Saccaka putra Nigaṇṭha.” Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha pergi dengan lima ratus Licchavi menuju Aula Beratap Lancip.

7. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang [bermeditasi] berjalan mondar-mandir di ruang terbuka. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha mendatangi mereka dan bertanya: “Di manakah Guru Gotama menetap saat ini, tuan-tuan? Kami ingin bertemu dengan Guru Gotama.”

“Sang Bhagavā telah pergi ke Hutan Besar, Aggivessana, dan sedang duduk di bawah sebatang pohon untuk melewatkan hari.”

8. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha, bersama dengan banyak pengikut dari Licchavi, memasuki Hutan Besar dan menjumpai Sang Bhagavā. Ia bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan setelah ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Beberapa Licchavi bersujud kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini berakhir, duduk di satu sisi; beberapa lainnya merangkapkan tangan sebagai penghormatan terhadap Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya menyebutkan nama dan suku mereka di hadapan Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi; beberapa lainnya berdiam diri dan duduk di satu sisi.

9. Ketika Saccaka putra Nigaṇṭha telah duduk, ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Aku ingin mengajukan pertanyaan kepada Guru Gotama mengenai hal tertentu, jika Guru Gotama berkenan menjawab pertanyaan ini.”

“Tanyakanlah apa yang engkau ingin tanyakan, Aggivessana.” [230]

“Bagaimanakah Guru Gotama mendisiplinkan para siswaNya? Dan bagaimanakah instruksi Guru Gotama biasanya disampaikan kepada para siswaNya?”

“Beginilah Aku mendisiplinkan para siswaKu, Aggivessana, dan beginilah instruksiKu biasanya disampaikan kepada para siswaKu: ‘Para bhikkhu, bentuk materi adalah tidak kekal, perasaan adalah tidak kekal, persepsi adalah tidak kekal, bentukan-bentukan [kehendak] adalah tidak kekal, kesadaran adalah tidak kekal. Para bhikkhu, bentuk materi adalah bukan-diri, perasaan adalah bukan-diri, persepsi adalah bukan-diri, bentukan-bentukan [kehendak] adalah bukan-diri, kesadaran adalah bukan-diri. Segala bentukan adalah tidak kekal; segala sesuatu adalah bukan-diri; demikianlah Aku mendisiplinkan para siswaKu, dan demikianlah instruksiKu biasanya disampaikan kepada para siswaKu.”

10. “Sebuah perumpamaan muncul padaku, Guru Gotama.”

“Jelaskanlah, Aggivessana,” Sang Bhagavā berkata.

“Seperti halnya ketika benih dan tanaman, apapun jenisnya, tumbuh, berkembang, dan matang, semuanya terjadi dengan bergantung pada tanah, berlandaskan pada tanah; dan seperti halnya pekerjaan keras, apapun jenisnya, yang dilakukan, semua dilakukan dengan bergantung pada tanah, berlandaskan pada tanah – demikian pula, Guru Gotama, seseorang memiliki bentuk materi sebagai diri, dan berlandaskan pada bentuk materi itu ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki perasaan sebagai diri, dan berlandaskan pada perasaan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki persepsi sebagai diri, dan berlandaskan pada persepsi ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki bentukan-bentukan sebagai diri, dan berlandaskan pada bentukan-bentukan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki kesadaran sebagai diri, dan berlandaskan pada kesadaran ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.”

11. “Aggivessana, apakah engkau mengatakan bahwa: ‘Bentuk materi adalah diriku, perasaan adalah diriku, persepsi adalah diriku, bentukan-bentukan [kehendak] adalah diriku, kesadaran adalah diriku.’”

“Aku mengatakan demikian, Guru Gotama: ‘Bentuk materi adalah diriku, perasaan adalah diriku, persepsi adalah diriku, bentukan-bentukan adalah diriku, kesadaran adalah diriku.’ Dan demikian pula dengan banyak orang ini.”

[Kitab Komentar : Dalam menegaskan kelima kelompok unsur kehidupan sebagai “diri” (attā), ia tentu saja secara langsung menentang ajaran Buddha tentang anattā, “tiada aku” atau “tanpa diri”. Ia mengatakan pandangannya berasal dari “banyak orang” dengan pikiran bahwa “mayoritas tidak mungkin salah.”]

Apakah hubungannya banyak orang ini denganmu, Aggivessana? Mohon batasi pernyataanmu hanya pada dirimu sendiri.”

“Kalau begitu, Guru Gotama, aku mengatakan: ‘Bentuk materi adalah diriku, perasaan adalah diriku, persepsi adalah diriku, bentukan-bentukan adalah diriku, kesadaran adalah diriku.’”

12. “Maka, Aggivessana, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai jawaban. Jawablah dengan apa yang menurutmu benar. [231] Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah seorang raja agung yang sah – misalnya, Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha – akan menjalankan kekuasaannya untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir?

“Guru Gotama, seorang raja agung yang sah – misalnya, Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha – akan menjalankan kekuasaannya untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir. Karena bahkan komunitas dan masyarakat [oligarki] seperti para Vajji ini dan para Malla menjalankan menjalankan kekuasaannya di wilayah mereka untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir; apalagi raja mulia yang sah seperti Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha. Ia akan menjalankannya, Guru Gotama, dan ia selayaknya menjalankannya.”

13. “Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Bentuk materi adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas bentuk materi itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah bentukku seperti demikian; biarlah bentukku tidak seperti demikian’?

[Kitab Komentar : Bila ada yang bernama “kekuasaan atas tubuh” berwujud “tubuh aku” atau “tubuh milik aku”, maka adalah niscaya, bukan mustahil, bagi setiap individu untuk “Biarlah bentukku seperti demikian; biarlah bentukku tidak seperti demikian”. Sang Buddha di sini mengatakan bahwa kelompok-kelompok unsur kehidupan bukanlah diri karena tidak memiliki satu karakteristik penting dari “diri” – dapat dikuasai. Apa yang tidak dapat dikuasai atau dikendalikan sepenuhnya tidak dapat diidentifikasikan sebagai “diriku”.]

Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha berdiam diri. Untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā mengajukan pertanyaan yang sama, dan untuk ke dua kalinya Saccaka putra Nigaṇṭha berdiam diri. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:

Aggivessana, jawablah sekarang. Sekarang bukan waktunya untuk berdiam diri. Jika siapapun, ketika ditanya dengan pertanyaan yang sewajarnya oleh Sang Tathāgata untuk ke tiga kalinya, masih tidak menjawab, maka kepalanya akan pecah menjadi tujuh keping pada saat itu dan di tempat itu juga.”

14. Pada saat itu sesosok makhluk bersenjatakan halilintar memegang sebuah halilintar besi yang terbakar, menyala dan berpijar, muncul di udara di atas Saccaka putra Nigaṇṭha, dengan berpikir: “Jika Saccaka putra Nigaṇṭha ini, ketika ditanya dengan pertanyaan yang sewajarnya oleh Sang Bhagavā sampai tiga kali, masih tidak menjawab, maka aku akan memecahkan kepalanya menjadi tujuh keping di sini dan saat ini.

[Kitab Komentar mengidentifikasikan makhluk (yakkha) ini sebagai Sakka, penguasa para dewa.]

Sang Bhagavā melihat makhluk bersenjatakan halilintar itu dan demikian pula dengan Saccaka putra Nigaṇṭha. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha ketakutan, gelisah, dan ngeri. [232] Untuk mencari naungan, suaka, dan perlindungan dari Sang Bhagavā, ia berkata: “Tanyakanlah padaku, Guru Gotama, aku akan menjawab.”

15. “Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Bentuk materi adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas bentuk materi itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah bentukku seperti demikian; biarlah bentukku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

16. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Perasaan adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas perasaan itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah perasaanku seperti demikian; biarlah perasaanku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

17. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Persepsi adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas persepsi itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah persepsiku seperti demikian; biarlah persepsiku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

18. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Bentukan-bentukan [kehendak] adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas bentukan-bentukan itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah bentukan-bentukanku seperti demikian; biarlah bentukan-bentukanku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

19. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika engkau mengatakan: ‘Kesadaran adalah diriku,’ apakah engkau menjalankan kekuasaan apapun atas kesadaran itu sehingga dapat mengatakan: ‘Biarlah kesadaranku seperti demikian; biarlah kesadaranku tidak seperti demikian’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

20. “Berhati-hatilah, Aggivessana, berhati-hatilah bagaimana engkau menjawab! Apa yang engkau katakan sebelumnya tidak selaras dengan apa yang engkau katakan belakangan, juga apa yang engkau katakan belakangan tidak selaras dengan apa yang engkau katakan sebelumnya. Bagaimana menurutmu, Aggivessana, apakah bentuk materi adalah kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku, [233] ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah perasaan kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah persepsi kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah bentukan-bentukan [kehendak] kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

“Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah kesadaran kekal atau tidak kekal?” – “Tidak kekal, Guru Gotama.” – “Apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau kebahagiaan?” – “Penderitaan, Guru Gotama.” – “Apakah yang merupakan penderitaan, dan tunduk pada perubahan layak dianggap: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

21. “Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Ketika seseorang terikat pada penderitaan, mendatangi penderitaan, menggenggam penderitaan, dan menganggap penderitaan sebagai: ‘ini milikku, ini aku, ini diriku.’ Dapatkah ia sepenuhnya memahami penderitaan oleh dirinya sendiri atau berdiam dengan penderitaan yang dihancurkan sepenuhnya?

“Bagaimana mungkin, Guru Gotama? Tidak, Guru Gotama.”

Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Kalau begitu, apakah engkau tidak terikat pada penderitaan, mendatangi penderitaan, menggenggam penderitaan, dan menganggap penderitaan sebagai: ‘ini milikku, ini aku, ini diriku.’” “Bagaimana aku tidak, Guru Gotama? Benar, Guru Gotama.”

[Kitab Komentar : Kelima kelompok unsur kehidupan di sini disebut penderitaan, karena tidak kekal dan tidak dapat dikuasai.]

22. “Ini seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, membawa kapak tajam dan memasuki hutan, dan di sana ia melihat sebatang pohon pisang besar, lurus, muda, tanpa tandan buah. Kemudian ia menebangnya pada akarnya, memotong pucuknya, dan mengelupas pelepah daunnya; tetapi ketika ia terus mengelupasi pelepah daunnya, ia tidak menemukan bahkan kayu lunaknya, apalagi inti kayu. Demikian pula, Aggivessana, ketika engkau ditekan, ditanya, dan didebat olehKu mengenai pernyataanmu sendiri, engkau terbukti, kosong, hampa, dan keliru. Tetapi adalah engkau yang membuat pernyataan ini di depan para penduduk Vesālī: ‘Aku tidak melihat ada petapa atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari suatu kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan sempurna, yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya berkeringat jika ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku berdebat dengan tiang yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan gemetar jika tiang terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?’ Sekarang ada butiran keringat di keningmu dan keringat itu telah membasahi jubah atasmu dan menetes ke tanah. Tetapi tidak ada keringat pada tubuhKu saat ini.” Dan Sang Bhagavā membuka tubuhnya yang berwarna keemasan di depan kelompok itu. [234] Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha duduk diam, dengan bahu terkulai dan kepala tertunduk, muram, dan tanpa reaksi.

23. Kemudian Dummukha, putra Licchavi, melihat Saccaka putra Nigaṇṭha dalam keadaan demikian, berkata kepada Sang Bhagavā: “Sebuah perumpamaan muncul padaku, Guru Gotama.”

“Jelaskanlah, Dummukha.”

“Misalkan, Yang Mulia, tidak jauh dari sebuah desa atau pemukiman terdapat sebuah kolam dengan seekor kepiting di dalamnya. Dan kemudian sekelompok anak-anak laki-laki dan perempuan pergi dari pemukiman atau desa itu menuju kolam tersebut, masuk ke air, dan menarik kepiting itu keluar dari air dan meletakkannya di atas tanah kering. Dan ketika kepiting itu menjulurkan kakinya, mereka memotongnya, mematahkannya, dan memukulnya dengan tongkat dan batu, sehingga kepiting itu dengan semua kakinya putus, patah, dan hancur, tidak mampu kembali ke kolam seperti sebelumnya. Demikian pula, semua dalih, geliat, dan kebimbangan Saccaka putra Nigaṇṭha telah diputuskan, dipatahkan, dan dihancurkan oleh Sang Bhagavā, dan sekarang ia tidak mampu berada di dekat Sang Bhagavā lagi untuk berdebat.”

24. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha berkata kepadanya: “Tunggu, Dummukha, tunggu! Kami tidak berbicara denganmu, di sini kami sedang berbicara dengan Guru Gotama.”

[Kemudian ia berkata:] “Biarlah pembicaraan kita, Guru Gotama. Seperti halnya para petapa dan brahmana biasa. Hanya sekadar obrolan santai, aku pikir. Tetapi dengan cara bagaimanakah seorang siswa Petapa Gotama menjadi seorang yang melaksanakan instruksi Beliau, yang menanggapi nasihat Beliau, yang telah melampaui keragu-raguan, menjadi bebas dari kebingungan, memperoleh keberanian, dan menjadi tidak bergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru?”

[Kitab Komentar : Itu adalah karakteristik-karakteristik seorang sekha. Arahant, sebaliknya, tidak hanya memiliki pandangan benar “tanpa-diri” (anattā), tetapi juga menggunakannya untuk melenyapkan segala kemelekatan seperti dijelaskan oleh Sang Buddha pada paragraf nomor ke-25.]

“Di sini, Aggivessana, segala jenis bentuk materi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ [235]

Segala jenis perasaan apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

 Segala jenis persepsi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

Segala jenis bentukan-bentukan [kehendak] apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswaKu melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

Segala jenis kesadaran apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang siswaKu melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dengan cara inilah seorang siswaKu menjadi seorang yang melaksanakan instruksiKu, yang menanggapi nasihatKu, yang telah melampaui keragu-raguan, menjadi bebas dari kebingungan, memperoleh keberanian, dan menjadi tidak bergantung pada orang lain dalam Pengajaran Sang Guru.”

25. “Guru Gotama, Bagaimanakah seorang bhikkhu menjadi seorang Arahant dengan noda-noda dihancurkan, seorang yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir?”

[Komentar : “belenggu-belenggu penjelmaan” ialah keinginan untuk kembali-terlahir, baik di alam yang lebih tinggi, alam yang lebih rendah, maupun kembali-terlahir ke alam manusia. Keinginan untuk terlahir-kembali sebagai dewa di alam dewa, merupakan “belenggu penjelmaan”. Bersekutu dan tertarik pada makhluk arwah dari alam arwah, sehingga kecondongannya akan terlahir-kembali ke alam rendah, juga merupakan “belenggu penjelmaan”. Tidak terkecuali keinginan untuk kembali-terlahir sebagai manusia di alam manusia, merupakan “belenggu penjelmaan”, akar dari dukkha : lahir, tua, sakit, meninggal dunia.]

“Di sini, Aggivessana, segala jenis bentuk materi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah melihat segala bentuk materi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan ia terbebaskan.

“Segala jenis perasaan apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah melihat segala jenis perasaan sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan ia terbebaskan.

Segala jenis persepsi apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah melihat segala jenis persepsi sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan ia terbebaskan.

 “Segala jenis bentukan-bentukan [kehendak] apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah melihat segala jenis bentukan-bentukan [kehendak] sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan ia terbebaskan.

Segala jenis kesadaran apapun, apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat – seorang bhikkhu telah melihat segala kesadaran sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Dan melalui ketidak-melekatan ia terbebaskan. Dengan cara inilah seorang bhikkhu menjadi seorang Arahant dengan noda-noda dihancurkan, seorang yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebaskan melalui pengetahuan akhir.

26. “Ketika pikiran seorang bhikkhu terbebaskan demikian, ia memiliki tiga kualitas yang tidak terlampaui: penglihatan yang tidak terlampaui, praktik sang jalan yang tidak terlampaui, dan kebebasan yang tidak terlampaui. Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, ia masih menghormati, menghargai, dan memuliakan Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā telah tercerahkan dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk mencapai pencerahan. Sang Bhagavā telah jinak dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk menjinakkan diri sendiri. Sang Bhagavā dalam kondisi damai dan Beliau mengajarkan Dhamma demi kedamaian. Sang Bhagavā telah menyeberang dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk menyeberang. Sang Bhagavā telah mencapai Nibbāna dan Beliau mengajarkan Dhamma untuk mencapai Nibbāna.’”

[Kitab Komentar memberikan beberapa penjelasan alternatif atas ketiga kalimat “penglihatan yang tidak terlampaui, praktik sang jalan yang tidak terlampaui, dan kebebasan yang tidak terlampaui”. Yaitu kebijaksanaan, praktik, dan kebebasan baik lokiya maupun lokuttara. Atau seluruhnya lokuttara: pertama adalah pandangan benar pada jalan Kearahantaan, ke dua adalah ketujuh faktor lainnya, ke tiga adalah buah tertinggi (Kearahantaan). Atau pertama adalah penglihatan pada Nibbāna, ke dua adalah faktor-faktor sang jalan, ke tiga adalah buah tertinggi.]

27. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putra Nigaṇṭha [236] menjawab: “Guru Gotama, kami sungguh berani dan lancang berpikir bahwa kami dapat menyerang Guru Gotama dalam perdebatan. Seseorang dapat menyerang seekor gajah gila dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. Seseorang dapat menyerang kobaran api yang menyala-nyala dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. Seseorang dapat menyerang seekor ular berbisa yang mengerikan dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. kami sungguh berani dan lancang berpikir bahwa kami dapat menyerang Guru Gotama dalam perdebatan.

“Sudilah Sang Bhagavā bersama dengan Sagha para bhikkhu menyetujui untuk menerima persembahan makanan dariku besok.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri.

28. Kemudian, mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah menyetujui, Saccaka putra Nigaṇṭha berkata kepada para Licchavi: “Dengarkan aku, para Licchavi. Petapa Gotama bersama dengan Sagha para bhikkhu telah menerima undanganku untuk makan besok. Kalian boleh membawa kepadaku apapun yang kalian anggap layak untuk Beliau.”

29. Kemudian, ketika malam berakhir, para Licchavi membawa lima ratus hidangan upacara berupa nasi susu sebagai persembahan makanan. Kemudian Saccaka putra Nigaṇṭha mempersiapkan makanan-makanan baik berbagai jenis di tamannya sendiri dan pada waktunya mengumumkan kepada Sang Bhagavā: “Sudah waktunya, Guru Gotama, makanan telah siap.”

30. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubahNya, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, Beliau pergi bersama Sagha para bhikkhu menuju taman Saccaka putra Nigaṇṭha dan duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian, dengan tangannya sendiri, Saccaka putra Nigaṇṭha melayani dan memuaskan Sagha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Bhagavā dengan berbagai jenis makanan baik. Ketika Sang Bhagavā telah selesai makan dan telah menggeser mangkukNya ke samping, Saccaka putra Nigaṇṭha mengambil tempat duduk yang rendah, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, semoga jasa dan buah jasa besar dari persembahan ini adalah demi kebahagiaan si pemberi.”

[Komentar : Menjadi makhluk suci, merupakan tugas utama bhikkhu-monastik, tidak lain tidak bukan untuk memberi kesempatan kepada umat awam perumah-tangga untuk menanam jasa baik pada “ladang menanam jasa yang baik dan subur”.]

“Aggivessana, apapun yang dihasilkan dari tindakan memberi kepada penerima seperti engkau – seorang yang belum terbebas dari nafsu, belum terbebas dari kebencian, belum terbebas dari delusi – [237] itu adalah untuk si pemberi. Dan apapun yang dihasilkan dari tindakan memberi kepada penerima seperti Aku – seorang yang telah terbebas dari nafsu, terbebas dari kebencian, terbebas dari delusi – itu adalah untuk engkau.”

[Kitab Komentar : Walaupun Saccaka mengaku kalah dalam debat, namun ia tetap masih menganggap dirinya sebagai orang suci, dan dengan demikian ia tidak terdorong untuk memohon perlindungan pada Tiga Permata. Juga, karena ia tetap menganggap dirinya sebagai orang suci, maka ia merasa tidaklah selayaknya baginya untuk mempersembahkan jasa persembahan itu kepada dirinya, dan dengan demikian ia ingin mempersembahkan jasa itu kepada para Licchavi. Tetapi Sang Buddha menjawab bahwa para Licchavi akan memperoleh jasa karena memberikan makanan kepada Saccaka untuk dipersembahkan kepada Sang Buddha. Jasa persembahan itu berbeda secara kualitas menurut kemurnian penerimanya, seperti dijelaskan pada Majjhima Nikāya 142.6.]

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, umat agama samawi membangun “rasa superior”-nya berlandaskan pada ilusi-delusif yang menyerupai fatamorgana, mengingat fakta realitanya mereka merupakan kaum yang penuh keserakahan, dibutakan oleh nafsu, dikuasai oleh ideologi kebencian dan permusuhan, gemar menumpahkan-darah orang lain, disamping “pengecut-tulen” yang sama sekali jauh dari sifat seorang ksatria yang berani mengambil tanggung-jawab atas konsekuensi perbuatan-perbuatannya sendiri, karenanya umat agama samawi lebih patut didudukkan sebagai “kasta” paling rendah dan paling hina—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, silahkan nilai dengan nurani serta akal-sehat maupun pikiran-jernih Anda sendiri, apakah sang “nabi rasul Allah” sudah terbebas dari nafsu, terbebas dari kebencian, serta telah terbebas dari delusi ataukah justru sebaliknya, dan apakah ada faedahnya memberi kepada manusia PENDOSA-BERAT yang karenanya MENCANDU-BERAT “PENGHAPUSAN DOSA”. PENDOSA-BERAT, namun hendak menceramahi dan menghakimi kaum lainnya? Ibarat “ORANG BUTA” yang hendak menuntun jalan bagi para pengikutnya, “neraka” pun diyakini sebagai “surga”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]