Kaum Muslim, Ibarat Buruk Wajah (tapi) Cermin (yang) Dibelah
Standar Ganda Kaum Muslim yang Serba Mau Menang Sendiri
Question: Saya sering mengamati, betapa kaum muslim maunya “menang sendiri” secara membuta, parsial, serta berstandar-ganda. Kaum muslim beralibi, bahwa Israel membuat serangan-balasan secara tidak proporsional. Pertanyaannya, Israel adalah negara yang teritori luas tanahnya sangat amat kecil, lalu dikeroyok oleh Hamas, Iran, dan Yaman, dan sejak dahulu kala berita mewartakan kabar bahwa Israel yang diserang terlebih dahulu oleh mereka lewat rudal peledak. Bagaimana mungkin, negara dengan teritori kecil, disebut membuat serangan-balasan secara tidak proposional terhadap negara-negara yang mengeroyokinya? Menabuh genderang peperangan, salah siapa jika yang kemudian “babak-belur” ialah si penabuh genderang perang? Mereka tidak mau belajar dengan selalu mengulangi hal serupa, seolah menyerang negara orang lain ialah “iseng-iseng berhadiah” tanpa kosekuensi apapun, lalu “cengeng” dengan bermain “playing victim”.
Brief
Answer: Dimana letak
proporsionalnya, sekalipun betul klaim para muslim bahwa nonmuslim yang
terlebih dahulu menyerang mereka:
-
Hadist Tirmidzi No. 2533 : Saya diperintahkan untuk memerangi manusia
hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA
TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami,
memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka
melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan
MERAMPAS HARTA mereka.
-
QS 9:14. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka
dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan
menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,
-
QS 66:9. Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang
munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka
Jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
-
QS 2:191. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan
usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu
lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di
Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka
memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi
orang-orang kafir.
-
QS 5:33. Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah
dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh
atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik,
atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai)
suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan
yang besar.
-
QS 8:12. Ingatlah, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka
teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman. Kelak aku akan jatuhkan
rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka PENGGALLAH KEPALA
MEREKA dan PANCUNGLAH TIAP-TIAP UJUNG JARI MEREKA.
-
QS 9:5. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah
orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah
mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian.
PEMBAHASAN:
Bukanlah nonmuslim yang hendak berselisih dengan muslim, namun muslim
yang selalu meresahkan dan menyulut api konflik terhadap kaum “NON”, seolah-olah
mereka tidak bisa hidup tanpa menggangggu kaum “NON”, sebagaimana disinggung
lewat khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara
Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh
Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015
oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
44 (4) Kusinārā
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kusinārā, di hutan
belantara pengorbanan. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para
bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, seorang
bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus memeriksa dirinya sendiri
sehubungan dengan lima hal dan menegakkan lima hal dalam dirinya sebelum ia
menegur orang lain.
Sehubungan dengan lima hal apakah ia harus memeriksa dirinya sendiri?
(1) “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus
memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Apakah
perilaku jasmaniku murni? Apakah aku memiliki perilaku jasmani yang murni,
tanpa cacat, dan tidak dapat ditegur? Apakah kualitas ini ada padaku atau
tidak?’ Jika
perilaku jasmani bhikkhu tersebut tidak murni, dan ia tidak memiliki perilaku
jasmani yang murni, tanpa cacat, dan tidak dapat ditegur, maka akan ada yang
berkata kepadanya: ‘Latihlah
perilaku jasmanimu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.
(2) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus
memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Apakah
perilaku ucapanku murni? Apakah aku memiliki perilaku ucapan yang murni, tanpa
cacat, dan tidak dapat ditegur? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika perilaku ucapan bhikkhu tersebut tidak murni,
dan ia tidak memiliki perilaku ucapan yang murni, tanpa cacat, dan tidak dapat
ditegur, maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Latihlah
perilaku ucapanmu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya. [80]
(3) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus
memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Sudahkah
aku menegakkan pikiran cinta-kasih tanpa kekesalan pada teman-temanku para
bhikkhu? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika bhikkhu tersebut belum menegakkan pikiran
cinta-kasih tanpa kekesalan pada teman-temannya para bhikkhu, maka akan ada yang
berkata kepadanya: ‘Tegakkanlah
pikiran cinta-kasih terhadap teman-temanmu para bhikkhu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.
(4) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus
memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Apakah
aku terpelajar, dan apakah aku mengingat dan melestarikan apa yang telah
kupelajari? Sudahkah aku banyak mempelajari ajaran-ajaran itu yang baik di
awal, baik di pertengahan, dan baik di akhir, dengan makna dan frasa yang
benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang murni dan lengkap sempurna?
Sudahkah aku mengingatnya, melafalkannya secara lisan, menyelidikinya dalam
pikiran, dan menembusnya dengan baik melalui pandangan? Apakah kualitas ini ada
padaku atau tidak?’ Jika
bhikkhu tersebut tidak terpelajar … dan belum menembusnya dengan baik melalui pandangan,
maka akan ada yang berkata kepadanya: ‘Pelajarilah
warisan itu terlebih dulu.’ Akan ada yang berkata demikian kepadanya.
(5) “Kemudian, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus
memeriksa dirinya sendiri sebagai berikut: ‘Sudahkah kedua Pātimokkha
disampaikan dengan baik kepadaku secara terperinci, dianalisis dengan baik,
dikuasai dengan baik, dipastikan dengan baik dalam hal aturan-aturan dan
penjelasan terperincinya? Apakah kualitas ini ada padaku atau tidak?’ Jika
kedua Pātimokkha [81] belum disampaikan dengan baik kepadanya secara terperinci
… dalam hal aturan-aturan dan penjelasan terperincinya, dan jika, ketika
ditanya: ‘Di
manakah Sang Bhagavā menyatakan hal ini?’ ia tidak mampu menjawab, maka akan
ada yang berkata kepadanya: ‘Pelajarilah disiplin terlebih dulu.’ Akan ada yang
berkata demikian kepadanya.
“Adalah sehubungan dengan kelima hal ini maka ia harus memeriksa dirinya
sendiri.
“Dan apakah
lima hal yang harus ditegakkan dalam dirinya sendiri? [Ia harus mempertimbangkan:] ‘(6) Aku akan berbicara pada
waktu yang tepat, bukan pada waktu yang tidak tepat; (7) aku
akan berbicara secara jujur, bukan dengan berbohong; (8) aku
akan berbicara dengan lembut, bukan dengan kasar; (9) aku
akan berbicara dengan cara yang bermanfaat, bukan dengan cara yang berbahaya; (10) aku
akan berbicara dengan pikiran cinta-kasih, bukan ketika sedang memendam
kebencian.’ Ini adalah
lima hal yang harus ia tegakkan dalam dirinya.
“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang ingin menegur orang lain harus
memeriksa dirinya sendiri sehubungan dengan kelima hal itu dan menegakkan
kelima hal ini dalam dirinya sebelum ia menegur orang lain.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]