Puisi tentang Dua Tipe Kepribadian Manusia yang Saling Berseberangan

HERY SHIETRA, Puisi tentang Dua Tipe Kepribadian Manusia yang Saling Berseberangan

Semua orang sanggup mengikuti arus,

Namun tidak semua orang sanggup melawan arus.

Semua orang sanggup “tabrak lari”,

Namun tidak semua orang sanggup bertanggung-jawab.

Semua orang sanggup berbuat jahat,

Namun tidak semua orang sanggup berbuat kebaikan.

Semua orang sanggup tunduk pada kenikmatan inderawi,

Namun tidak semua orang sanggup mengasingkan diri dan terasing dari kesenangan duniawi.

Semua orang sanggup mencandu ritual “penghapusan dosa” yang begitu adiktif,

Namun tidak semua orang sanggup menjalani gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat.

Semua orang sanggup berkata dusta,

Namun tidak semua orang sanggup bersikap jujur.

Semua orang sanggup melakukan korupsi,

Namun tidak semua orang sanggup menolak korupsi.

Semua orang sanggup merampas hak orang lain,

Namun tidak semua orang sanggup menghormati dan menghargai hak-hak orang lain.

Semua orang sanggup mencelakai orang lain,

Namun tidak semua orang sanggup menolong dan berempati terhadap orang lain.

Semua orang sanggup bersikap hewanis dan premanis,

Namun tidak semua orang sanggup bersikap humanis terlebih mulia.

Semua orang sanggup menjadi iblis,

Namun tidak semua orang sanggup menjalani jalan kesucian yang sunyi dan sepi.

Semua orang sanggup bersikap kejam dan keji,

Namun tidak semua orang sanggup berbelas-kasih.

Semua orang sanggup menyakiti dan melukai baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain,

Namun tidak semua orang sanggup bersikap ahimsa.

Semua orang sanggup menyembelih hewan yang lebih lemah dari kita,

Namun tidak semua orang sanggup mengakui keinginan dan hak untuk hidup dari para makhluk-makhluk malang tersebut.

Semua orang sanggup merusak,

Namun tidak semua orang sanggup membangun dan merawat.

Semua orang sanggup mengingkari janji,

Namun tidak semua orang sanggup menepati apa yang telah diucapkan dan disepakati.

Semua orang sanggup mengaku-ngaku memiliki hak tanpa kewajiban,

Namun tidak semua orang sanggup mengakui hak dan kewajiban dirinya sendiri.

Semua orang sanggup tidak melunasi hutang,

Namun tidak semua orang sanggup menumbuhkan rasa tanggung-jawab dalam dirinya.

Semua orang sanggup bersikap arogan dan otoriter,

Namun tidak semua orang sanggup mengontrol diri untuk tidak menyalah-gunakan kekuatan dan kekuasaannya.

Semua orang sanggup menyombongkan diri,

Namun tidak semua orang sanggup bersikap rendah hati.

Semua orang sanggup mengambil,

Namun tidak semua orang sanggup memberi.

Semua orang sanggup tunduk dan menyembah Tuhan karena rasa takut atas ancaman-ancaman dogmatik,

Namun tidak semua orang sanggup menumbuhkan keberanian serta tekad untuk melawan diktatoriat Tuhan.

Semua orang sanggup banyak bicara,

Namun tidak semua orang sanggup untuk mau mendengarkan dan hidup dalam keheningan.

Semua orang sanggup dipuja dan dipuji,

Namun tidak semua orang sanggup disalah-mengerti dan disalah-pahami.

Semua orang sanggup merundung yang lemah,

Namun tidak semua orang sanggup melindungi yang lemah.

Semua orang sanggup menertawakan kemalangan orang lain,

Namun tidak semua orang sanggup membantu orang lain.

Semua orang sanggup bersikap kasar baik secara tersurat maupun secara terselubung,

Namun tidak semua orang sanggup bersikap lembut dan ramah.

Semua orang sanggup bersikap egoistik,

Namun tidak semua orang sanggup berjiwa altruistik.

Semua orang sanggup memerangi pihak lain,

Namun tidak semua orang sanggup menaklukkan dirinya sendiri.

Semua orang sanggup mengkritik serta menghakimi pihak lain,

Namun tidak semua orang sanggup mengawasi perilakunya sendiri.

Semua orang sanggup memiliki banyak keinginan,

Namun tidak semua orang sanggup menginginkan sedikit keinginan.

Semua orang sanggup mengoleksi banyak pacar dan istri,

Namun tidak semua orang sanggup hidup selibat.

Semua orang sanggup mengambil keuntungan diatas derita pihak lain,

Namun tidak semua orang sanggup untuk melakukan pertukaran yang setara.

Semua orang sanggup memanipulasi orang lain,

Namun tidak semua orang sanggup berkata apa adanya.

Semua orang sanggup meminta dan memohon kepada langit,

Namun tidak semua orang sanggup merepotkan diri untuk menanam dengan tangan sendiri.

Semua orang sanggup melarikan diri,

Namun tidak semua orang sanggup menghadapi konsekuensi.

Semua orang sanggup menegur dan menyalahkan,

Namun tidak semua orang sanggup menerima teguran, mengakuinya, serta introspeksi diri dalam rangka perbaikan diri.

Siaspakah diantara mereka,

Yang akan lebih mungkin masuk ke surga setelah kematian,

Dan siapakah yang akan masuk neraka setelah ajal menjemput mereka?

© Hak Cipta HERY SHIETRA.