Kebebasan Berpikir adalah Kekuatan yang dapat Membuat Umat Manusia Tidak Terjajah oleh Allah dan Terbebas dari Tumimbal-Lahir (Dukkha “Kelahiran Kembali”, “Sakit Kembali”, dan “Meninggal Kembali”)

Jangan Bersikap seolah-olah Tidak Bisa Hidup Tanpa menjadi PENGECUT (PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA)

KORUPTOR DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi, AGAMA DOSA

Question: Mengapa saya merasa, bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia adalah berwatak pesimistik, terlihat dari doa-doa dan ritual mereka yang secara vulgar, bahkan mempromosikannya tanpa rasa malu ataupun tabu lewat pengeras suara ke publik luas, yang terkesan “tidak bisa hidup tanpa mencandu dan mabuk pengampunan dosa”? Apakah tidak bisa, kita hidup secara bertanggung-jawab dan berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan kita sendiri, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk, juga baik perbuatan yang kecil maupun yang besar?

Brief Answer: Itulah bukti, agama samawi adalah agama yang pesimistik bagi orang-orang yang pesimistis dalam melihat hidup dan dalam menjalani kehidupannya. Masalah kedua dan yang tampaknya yang terutama dari watak orang-orang dungu yang tunduk pada penjajahan agama samawi ialah, mereka tidak menyadari adanya “faktor kebebasan” yang bersifat potensial dalam diri masing-masing individu,

PEMBAHASAN:

“Kebebasan” adalah kekuatan, sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID V”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

58 (8) Akar

“Para bhikkhu, para pengembara sekte lain mungkin bertanya kepada kalian: (1) ‘Dalam apakah, teman-teman, segala sesuatu berakar? (2) Melalui apakah segala sesuatu itu menjadi ada? (3) Dari apakah segala sesuatu itu berasal-mula? (4) Di manakah segala sesuatu itu bertemu? (5) Oleh apakah segala sesuatu itu dipimpin? (6) Apakah yang mengendalikan kekuasaan atasnya? (7) Apakah yang menjadi pengawasnya? (8) Apakah intinya? (9) Dalam apakah segala sesuatu itu memuncak? (10) Apakah yang menjadi kesempurnaannya?’ Jika kalian ditanya demikian, bagaimanakah kalian akan menjawabnya?”

“Bhante, ajaran kami berakar pada Sang Bhagavā, dituntun oleh Sang Bhagavā, dilindungi oleh Sang Bhagavā. Baik sekali jika Sang Bhagavā sudi menjelaskan makna dari pernyataan ini. Setelah mendengarnya dari Beliau, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, para bhikkhu, dan perhatikanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”

“Baik, Bhante,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, jika para pengembara sekte lain bertanya kepada kalian: ‘Dalam apakah, teman-teman, segala sesuatu berakar? … [107] … Apakah yang menjadi kesempurnaannya?’ maka kalian harus menjawabnya sebagai berikut.

“‘Teman-teman, (1) segala sesuatu berakar dalam keinginan. (2) Segala sesuatu menjadi ada melalui pengamatan. (3) Segala sesuatu berasal-mula dari kontak. (4) Segala sesuatu itu bertemu pada perasaan. (5) Segala sesuatu dipimpin oleh konsentrasi. (6) Perhatian mengendalikan kekuasaan atasnya. (7) Kebijaksanaan adalah pengawasnya. (8) Kebebasan adalah intinya. (9) Segala sesuatu memuncak dalam tanpa-kematian. (10) Kesempurnaannya adalah nibbāna.’

[Kitab Komentar : Sebuah paralel versi Mandarin, memberikan pernyataan berikut: “Segala sesuatu berakar pada keinginan; semuanya muncul dalam kontak; semuanya bertemu dalam perasaan; semuanya berasal-mula dari pengamatan; semuanya terhenti oleh perhatian; semuanya dipimpin oleh konsentrasi; kebijaksanaan berada di atas semuanya; kebebasan adalah kebenaran (atau inti) dari semuanya; semuanya memiliki nibbāna sebagai kesempurnaannya.”]

“Jika kalian ditanya demikian, para bhikkhu, dengan cara demikianlah kalian harus menjawab para pengembara sekte lain itu.”

59 (9) Pelepasan Keduniawian

“Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiran kami akan diperkuat sesuai dengan [semangat] pelepasan keduniawian kami, dan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul tidak akan menguasai pikiran kami.

[Kitab Komentar : Na c’uppannā pāpakā akusalā dhammā citta pariyādāya hassanti. Teks tampaknya mengatakan bahwa kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu memang muncul tetapi tidak mengendalikan pikiran si bhikkhu. Akan tetapi, adalah mungkin bahwa maksud dari pernyataan ini adalah bahwa kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat itu tidak muncul dan tidak mengendalikan pikirannya.]

(1) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi ketidak-kekalan.

(2) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi tanpa-diri.

(3) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi ketidak-menarikan.

(4) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi bahaya.

(5) Kami akan mengetahui jalan yang rata dan jalan yang tidak rata di dunia, dan pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi ini.

[Kitab Komentar : Perbuatan baik dan perbuatan buruk di dunia makhluk-makhluk (sattalokassa sucaritaduccaritāni).]

(6) Kami akan mengetahui kemunculan dan kemusnahan dunia, dan pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi ini.

[Kitab Komentar : Lokassa bhavañca vibhavañca. Penerjemah lain mengemas sebagai “kemajuan dan kehancurannya, juga keberhasilan dan kegagalan.”]

(7) Kami akan mengetahui asal-mula dan lenyapnya dunia, dan pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi ini.

(8) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi meninggalkan.

(9) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi kebosanan.

(10) Pikiran kami akan diperkuat dalam persepsi lenyapnya.’ [108] Dengan cara demikianlah kalian harus berlatih.

“Ketika pikiran seorang bhikkhu telah diperkuat sesuai dengan [semangat] pelepasan keduniawian¸ dan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul tidak menguasai pikirannya – ketika pikirannya telah diperkuat dalam persepsi ketidak-kekalan … ketika pikirannya telah diperkuat dalam persepsi lenyapnya – maka salah satu dari dua buah menantinya: apakah pengetahuan akhir dalam kehidupan ini atau, jika masih ada sisa yang tertinggal, yang-tidak-kembali.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]